Title: Cinta Itu Begitu Indah Jika kita Tulus
Tags:
Blog Entry: Ada sebuah cerita: Ada seorang wanita yang mempunyai suami seorang insinyur, ia mencintai sifatnya yang alami dan ia menyukai perasaan hangat yang muncul di hatinya ketika ia bersandar di bahu suaminya yang bidang. Tiga tahun dalam masa perkenalan dan dua tahun dalam masa pernikahan, ia mulai merasa lelah. Alasan-2 ia mencintai suaminya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Ia seorang wanita yang sentimentil dan benar-2 sensitif serta berperasaan halus. Ia merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah ia dapatkan. Suaminya jauh berbeda dari yang ia harapkan. Baginya rasa sensitif suaminya kurang, dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan telah mementahkan semua harapannya akan cinta yang ideal. Suatu hari sang istri memberanikan diri untuk mengatakan keputusannya kepada sang suami, bahwa ia menginginkan perceraian. "Mengapa?", sang suami bertanya dengan terkejut. "Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan", kata sang istri Sang suami terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak. Kekecewaan sang istri semakin bertambah, ketika melihat suaminya yang dia harapkan berjiwa tegas dan tegar bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya "apalagi yang bisa saya harapkan darinya?", pikir sang istri Dan akhirnya sang suami bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?". Sang istri terdiam dan menatap mata suaminya dalam-dalam dan kemudian menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya: Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?" Sang suami termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok." Hati sang istri langsung gundah mendengar responnya. Keesokan paginya, sang istri melihat sang suami tidak ada dirumah, dan kemudian dia menemukan selembar kertas dengan oret-2an tangan sang suami dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan.... "Sayang, maafkan saya. Saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya." Kalimat pertama itu menghancurkan hati saya, tetapi saya tetap mencoba untuk melanjutkan membaca kertas itu.. "Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor. kemudian saya datang dengan memberikan jari-2 saya supaya bisa membantumu memperbaiki programnya." "Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah. Dan saya datang memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu itu untukmu ketika pulang.". "Kamu suka jalan-2 ke luar kota , tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi. Saya harus menunggu di rumah sambil membaca peta agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu." "Kamu selalu pegal-2 pada waktu 'teman baikmu' datang setiap bulannya, dan saya selalu memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal." "Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi 'aneh'. Dan saya selalu membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami." "Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu. Saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu." "Tanganku akan memegang tanganmu. Membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-2 bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu". "Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku." "Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu." "Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, dan seluruh tubuhku tidak cukup untuk membahagiakan mu. Aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu." Air mata sang istri jatuh ke atas tulisan sang suami dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi sang istri tetap berusaha untuk membacanya. "Dan sekarang, sayangku, kamu telah selesai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita. Saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu." "Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu lagi. Percayalah, kebahagianku yang terbesar adalah ketika melihat engkau dan bibir manismu tersenyum dan bahagia.". Sang istri segera berlari membuka pintu dan dilihatnya sang suami berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaan sang istri. Kini sang istri tahu, tidak ada orang yang pernah mencintainya lebih dari sang suami mencintainya. Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu. Karena cinta tidak selalu harus berwujud "bunga". "Janganlah mengharapkan sesuatu yang lebih dari pasangan kita untuk membuktikan cintanya, karena kita tidak pernah menyadari bahwa yang telah dilakukannya selama ini merupakan wujud cintanya kepadanya. [ email dari seorang temen ]
VIEW FULL VERSION: Link