VIEW FULL VERSION: Link
Title: Berbuah Yang Lebat (1)
Tags:
Blog Entry: Pohon Ara yang Tidak Berbuah Markus 11:14 Keesokan harinya sesudah Yesus dan kedua belas murid-Nya meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar. Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara. Maka kata-Nya kepada pohon itu: “Jangan lagi seorangpun makan buahmu selama-lamanya!” Dan murid-murid-Nyapun mendengarnya. Tuhan Yesus mengutuk pohon ara yang tidak berbuah. Setelah pelayanan-Nya di Betania yang melelahkan ditambah perjalanan yang jauh ke Yerusalem Tuhan Yesus merasa lapar. Lalu Ia mendekati sebuah pohon Ara berdaun lebat yang telah di lihat-Nya dari jauh, dan Ia berharap dapat menemukan buah untuk dimakan dari pohon yang tampaknya sangat sehat itu. Akan tetapi betapa kecewanya Tuhan Yesus karena Ia tidak mendapatkan buah yang dapat dimakan-Nya, dan akhirnya Tuhan Yesus mengutuk pohon ara tersebut. Mengapa Tuhan Yesus begitu marah kepada pohon ara tersebut? Mengapa Ia mengutuk pohon yang tidak berbuah padahal memang saat itu bukan musim berbuah? Saudara, pelajaran terutama yang Tuhan Yesus ajarkan dari kejadian ini bukanlah kepada pohon ara, akan tetapi kepada manusia, pertama-tama pelajaran yang ditujukan kepada bangsa Israel dan kemudian pelajaran bagi kita anak-anak-Nya. Allah atau Yahweh sering digambarkan sebagai pemilik kebun anggur (Yes 5:7, Mt 20:1, 21:33, 21:41, Mrk 12:1, Lk 20:9), dan pohon ara menggambarkan bangsa Israel (Hosea 9:10, Yer 8:13). Bangsa Israel adalah umat pilihan Allah sendiri mengingat janji Allah sendiri kepada Abraham. Akan tetapi Allah tidak melihat buah yang dihasilkan oleh bangsa Israel – bahkan hingga saat ini – sang pemilik kebun tidak melihat buah pada pohon ara-nya. Sekalipun Allah telah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, membuat berbagai mujizat di depan mata mereka, memberi mereka perlindungan oleh tiang awan dan tiang api, memberi mereka makanan sorgawi yaitu manna setiap hari, mengirimkan mereka air dan burung puyuh untuk di makan namun balasan mereka adalah sungut-sungut, mencobai Tuhan dan menyembah berhala berupa anak lembu tuangan dari emas. Mengenai bangsa ini Allah berkata, “Dengarlah, hai langit, dan perhatikanlah, hai bumi, sebab TUHAN berfirman: Aku membesarkan anak-anak dan mengasuhnya, tetapi mereka memberontak terhadap Aku. Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umatKu tidak memahaminya.” (Yes 1:2-3) Akan tetapi saat ini yang dimaksud dengan pohon ara-Nya adalah Saudara dan saya, yaitu semua orang percaya yang telah lahir baru di dalam Tuhan Yesus, sebab kita adalah Israel secara rohani (Efesus 2:11-22). Tuhan sangat menantikan buah-buah dihasilkan dari anak-anak-Nya. Orang Kristen tidak boleh menjadi pohon tanpa buah-buah yang lebat. Tuhan sangat serius dalam hal menantikan buah dari anak-anak-Nya. Bukankah saat itu belum musim berbuah? “Dari jauh Ia melihat sebatang pohon ara yang daunnya lebat. Jadi Ia pergi ke pohon itu untuk melihat apakah ada buahnya. Tetapi ketika Ia sampai di pohon itu, Ia tidak menemukan apa-apa, kecuali daun-daun saja, sebab pada waktu itu belum musim buah ara.” (Markus 11:13)  Sepertinya ada ketidakadilan yang dilakukan Tuhan Yesus dalam kejadian ini, sebab Ia mengutuk pohon ara karena tidak berbuah padahal pada saat itu memang bukan musim berbuah bagi pohon ara tersebut. Apakah Tuhan Yesus adil dalam hal ini ? Jika kita selidiki karakteristik pohon ara dan geografis kejadiannya maka apa yang Tuhan Yesus lakukan tidaklah berlebihan, namun memiliki kandungan arti rohani yang dalam. Perhatikan dua penjelasan berikut ini: Pertama, karakteristik pohon ara (Ficus Carica): Pohon ara kerapkali berbuah mendahului daunnya, total pohon ara berbuah selama satu tahun adalah 10 bulan, pohon ara dapat tumbuh di tanah berbatu dan tanpa bantuan pemupukan. Jadi pada waktu Tuhan Yesus melihat pohon ara tersebut berdaun lebat maka seharusnya pohon tersebut memiliki buah, sebab pohon ara berbuah dahulu baru mengeluarkan daun. Secara rohani kejadian ini bermakna bahwa, Saudara dan saya harus menghasilkan buah di setiap saat, walaupun keadaan kita dan keadaan di  sekitar kita tidak memungkinkan untuk kita menghasilkan buah, anak-anak Tuhan harus berbeda dengan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Disaat orang lain hidup dalam kenyamanan (berada pada musim tidak berbuah) namun Saudara dan saya harus bisa menghasilkan buah-buah yang lebat, seperti tertulis dalam Roma 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Tuhan Yesus menginginkan kita untuk tetap dapat berbuah sekalipun disaat orang lain tidak dapat menghasilkan, Saudara dan saya harus melawan arus dunia ini. Kedua, Letak geografis pohon ara : Yesus sedang dalam perjalanan dari Betania ke Yerusalem. Betania terletak di sebelah timur Yerusalem. Perjalanan dari Betania ke Yerusalem harus mengelilingi Bukit Zaitun, melalui jalur selatan Bukit Zaitun, turun ke Lembah Kidron, lalu naik ke Yerusalem. Jadi, Yesus keluar dari Betania, yang terletak di sisi lain Bukit Zaitun, dan berjalan sepanjang jalur selatan dari Bukit Zaitun menuju ke Yerusalem. Jadi Pohon Ara tersebut tumbuh di sebelah selatan bukit Zaitun, dan dengan demikian ia terlindung dari dinginnya angin utara. Ia mendapatkan segala kehangatan sinar matahari dari sebelah selatan. Jadi tidak terlalu mengherankan jika, berdasarkan pengetahuan kita tentang keadaan geografis di sana, pohon ini akan berbuah lebih awal ketimbang pohon ara yang lainnya. Pohon ara tidak berbuah secara bersamaan, meski ditanam di tempat yang sama dan dengan waktu penanaman yang sama sekalipun, perkembang-an pohon dipengaruhi berbagai faktor. Dalam perjalanan Yesus dan murid-murid-Nya Ia tertarik kepada satu pohon, yaitu pohon yang berdaun lebat. Sebab jika pohon itu sudah berdaun lebat seharusnya terdapat buah, paling tidak beberapa buah yang masih terdapat di pohon itu. Maka dapat ditarik kesimpulan arti rohani dari penjelasan secara geografis ini adalah, bahwa anak-anak Tuhan yang hidupnya diantara anak-anak Tuhan dan lingkungan Gereja yang baik, seharusnya cepat menghasil-kan buah, karena mereka sebagai pohon ara berada di tempat yang subur. Saudara dapat bayangkan jika ada seorang Kristen yang hidup dalam Gereja yang dipenuhi oleh Roh Kudus, selalu dipenuhi oleh Firman Tuhan, memiliki teman-teman yang takut akan Tuhan tapi kehidupannya tidak mencerminkan bahwa ia adalah orang Kristen sejati. Ia tetap memiliki kehidupan lamanya, masih merokok, berkata kasar dan tidak mau melayani. Orang seperti inilah yang dimaksud sebagai pohon ara yang tidak berbuah padahal pohon tersebut berada di tanah yang subur dan lingkungan geografis yang baik. Berbuahlah Sekarang kita tahu bahwa Tuhan sangat menantikan buah dari kita anak-anak-Nya, buah apa yang Tuhan Yesus nantikan dari setiap orang percaya? Setidaknya ada 5 buah yang Tuhan nantikan dalam kehidupan Saudara dan saya, yaitu : Buah Pertobatan “Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.”   (Mat 3:8) Orang Israel sangat bangga bahwa mereka adalah keturunan Abraham dan bangga bahwa mereka itu adalah umat pilihan Tuhan. Itu memang benar, mereka adalah umat perjanjian Allah seperti Allah sendiri janjikan kepada Abraham. Tapi itu tidak cukup untuk mereka bisa mengenal Allah-nya, Yohanes Pembaptis ingatkan bahwa keselamatan tidak didasarkan oleh jalur keturunan, akan tetapi dari pertobatan. Inipun berlaku bagi kita orang-orang Kristen, kita tidak bisa bangga karena kita dilahirkan dari keluarga Kristen, atau telah lama menjadi Kristen, itu semua tidak menjamin bahwa kita akan selamat. Keselamatan datangnya dari pertobatan. Oleh sebab itu hasilkanlah buah-buah pertobatan, sehingga kita dapat luput dari kapak yang telah disediakan yang digunakan untuk menebang anak-anak-Nya yang tidak menghasilkan buah. Buah Roh “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.” (Gal 5:22) Buah selanjutnya yang mengikuti buah pertobatan adalah menghasilkan buah Roh. Buah Roh menunjukkan perbedaan kontras antara gaya hidup anak-anak Tuhan yang telah dipimpin oleh Roh Kudus dengan gaya hidup orang-orang dunia yang dipimpin oleh tabiat dosa. Tuhan Yesus menuntut kita anak-anak-Nya menghasilkan buah yang satu ini, sebab dari buah ini kita dapat menjadi saksi bagi orang yang belum percaya. Buah-buah kebenaran “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai.” (Yak 3:17) Buah-buah Pelayanan “sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah” (Kol 1:10) Sudah berapa lama kita menjadi Kristen? Apakah dari awal kekristenan hingga kini kita masih menjadi jemaat saja. Tuhan Yesus tidak memanggil kita hanya untuk menjadi jemaat saja akan tetapi agar kita melayani Tuhan, Ibr 5:12  berkata “Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.” Suatu saat Tuhan akan mendatangi pohon-pohon-Nya (Saudara dan saya) untuk melihat apakah terdapat buah pelayanan, atau hanya didapati daun-daun yang segar dan lebat saja. Banyak diantara anak-anak Tuhan hanya mau menerima Firman tanpa mau melangkah untuk melakukan, seringkali kita rajin ke gereja, mendengarkan Firman, sangat suka untuk dilayani, atau dikunjungi oleh pekerja gereja akan tetapi tidak mau untuk melayani. Orang seperti ini ibarat pohon yang selalu disiram, dipupuk dan dibersihkan namun tidak menghasilkan buah, bukankah pohon seperti ini hanya berguna untuk kayu bakar... Ayo, kita mulai melayani Tuhan dalam pekerjaan-Nya, mulailah dengan pelayanan yang sederhana, mungkin sebagai penerima tamu di ibadah gereja, menghibur sesama yang sedang berkesusahan, mendoakan orang lain, menceritakan kebaikan Tuhan atas diri kita kepada orang lain dll. Buah Jiwa-jiwa I Kor 1:9 “Bukankah aku rasul? Bukankah aku orang bebas? Bukankah aku telah melihat Yesus, Tuhan kita? Bukankah kamu adalah buah pekerjaanku dalam Tuhan?” Inti dari semua buah yang disebut diatas pada akhirnya akan menghasilkan buah jiwa-jiwa bagi kemuliaan-Nya. Pesan terakhir Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya sebelum Ia terangkat ke Surga, Ia memberika Amanat Agung-Nya berupa perintah untuk membawa orang-orang yang masih terikat dosa untuk berbalik dari jalannya yang salah dan menjadikan mereka murid-murid Kristus, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat 28:19-20) “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, ... Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu.” (I Pet 5:2-4)  Selain itu buah jiwa-jiwa berarti juga memelihara domba-domba-Nya, mulailah di Cool, di tempat itu Saudara dan saya adalah gembala yang memelihara jiwa-jiwa-Nya (domba-domba-Nya). Pembahasan kita tentang berbuah yang lebat belum selesai, artikel berikutnya, akan dijelaskan tentang arti rohani “daun yang lebat” pada pohon ara, dan hubungan pohon ara yang di kutuk Tuhan dengan pengusiran para pedagang di Bait Allah. Tuhan Yesus memberkati. (BERSAMBUNG) Pustaka : – Perumpamaan tentang Pohon Ara 1:   Studi tentang hakekat iman, Pendeta Eric Chang. – Ensiklopedi Alkitab masa kini, YKBK – Tafsiran Injil Markus, Matthew Henry, Momentum