Title: Siapa yang bermasalah, dia, aku atau engkau?
Tags:
Blog Entry: Dia cantik dan menarik. Dia sangat polos, itu kesan pertamaku, ketika aku bertemu dengannya di sebuah perkumpulan gereja. Kantorku pindah lokasi, bersebelahan dengan kantornya. Kalau berpapasan, dia akan menyapaku dengan ramah dan senyum yang kekanak-kanakan. Kadang dia datang ke gym, dimana aku menghabiskan jam makan siang. Dia akan melihatku dengan mata terkagum-kagum dan akan bertanya, mengapa aku berolahraga, sedangkan aku tidak gemuk. Mungkin dibenaknya harnya orang gemuk yang butuh olahraga. Esok harinya dia akan datang lagi, kadang hanya mononton atau menirukan gerakan yang kulakukan. Dengan senang hati akan kuterangkan padanya apa dan mengapa. Dia akan mengangguk-angguk seolah mengerti. Minggu demi minggu dan bulan berlalu. Kadang kulihat dia bersenda gurau dengan teman sekerjanya atau ‘tetangga’ kerjanya. Kadang kupikir orang mengambil kesempatan akan kepolosannya. Di kafetaria, tempatku sarapan dan makan siang, terkadang topik pembicaraan mengenai dirinya akan mengundang tawa. Apalagi kalau bertepatan dia lewat, maka akan banyak muka dengan senyum tertahan-tahan. Suatu hari kulihat dia berjalan ke tempat mandi umum dengan sandal bertumit tinggi, tentunya dengan peralatan mandi. Lagi lagi membuat orang senyam-senyum. Akhirnya, aku tak tahan lagi. Suatu saat, kupanggil dia dan kuajak dia bicara. Tentu dengan jabatan yang kupangku, akan sulit menolak baginya. Basa basi sebelum masuk ke permasalahan, kucoba membaca isi kepalanya. Berdasarkan kata-katanya, sepertinya dia tidak akan tersinggung kalau aku utarakan pendapat orang-orang tentang dia. Yah, terus terang saja, people think that she is retarded ! Sebagian orang bertanya, bagaimana sikap suaminya terhadad dirinya. Singkat cerita, kukasih tahu permasalahan. Dia, wanita yang dianggap polos dan retarded, menjawab dengan rasa percaya diri dan dengan aksen kental negara asalnya, Republik Dominika,”Aku tidak perduli dengan pendapat orang tentang aku, sebab aku tahu siapa aku, dan aku bahagia dengan keberadaanku.” Aku terperangah. Belum pernah kulihat dia berbicara seperti itu. Kesan 'dumb' sama sekali tidak ada. Dia tidak bermasalah. Barangkali aku dan orang lain yang bermasalah. Dia bahagia dengan keberadaannya, meski dibilang ‘retarded’. Jadi, mengapa aku mesti perduli? Siapa yang bermasalah sekarang?
VIEW FULL VERSION: Link