Title: Ada Apa dengan Dosa?
Tags:
Blog Entry: Ada Apa dengan Dosa? Yohanes Bosco Komang, Pr Beberapa bulan yang lalu ada satu acara di TV kita, sinetron dengan judul Ada Apa dengan Cinta ? Judul yang menarik dan merangsang penonton untuk berpikir apa itu cinta ? Judul yang sama saya arahkan ke sisi lain dari hidup ini: Ada Apa dengan Dosa? Kita semua sejak kecil telah diperkenalkan dengan dosa yang kerap dijelaskan dengan sisi gelap kehidupan. Lewat 10 Perintah Allah dan 5 Perintah Gereja , kita diarahkan untuk menjauhi dosa. Apa itu dosa? Pertanyaan ini pasti senantiasa dipertanyakan oleh semua Umat Allah yang baik. Penjelasan pasti telah banyak diberikan namun kerap semakin dijelaskan, apalagi dengan bahasa Teologi yang tinggi-tinggi, biasanya umat di kampung-kampun semakin tidak mengerti. Inilah fakta di lapangan. Kerap kali "metode cerita" banyak membantu dalam hal ini. Dosa, Suatu Cara Pandang ... Bagi saya, dosa pertama-tama adalah cara pandang , dengan "kaca mata" apa kita memandang sesuatu . Bila kaca mata itu buram, semua yang kita pandang pun buram, atau sebaliknya: kita memakai kaca mata bening, semuanya akan terang dan jelas. Adalah suatu kisah ... Di suatu kampung hiduplah petani dengan beberapa sapinya yang selalu menemaninya dalam mengerjakan sawah. Pada musim penghujan rumput menghijau, mendapat makanan sapi tidak menjadi soal bagi petani. Persoalan muncul bila musim kemarau tiba. Rumput yang dulu hijau kini kering dan coklat, tentu sapi tidak mau makan. Bisa dibayangkan kalau sampai lima hari sapi tidak makan, apa yang terjadi? Sapi akan kurus, tenaga tidak ada, dan pasti tidak bisa membajak ladang. Secara hitung-hitungan ilmu dagang, ini adalah suatu kerugian besar dan tentu tidak boleh terjadi! Petani memahami situasi ini, ia tidak kalah cerdas dalam mencari penyelesaian. Kepada semua sapi, ia kenakan "kaca mata hijau". Wow... Kayak kontes jadinya. Tapi petani berhasil, dengan kaca mata hijau rumput kering menjadi hijau. Dan sapi makan lahap semua rumput kering itu lantaran dilihatnya hijau... Alhasil, sapi tetap segar, kuat dan tangguh serta selalu siap membajak sawah sang majikan yang cerdas ini! Kecerdasan petani tersebut perlu dicontoh dalam hidup sehari-hari. Kita ibaratnya "sapi yang harus menjadi kurus" karena berbagai macam situasi yang menjadikan kita ibaratnya " memakai kaca mata buram " dalam memandang hidup ini. Semua gelap gulita, akhirnya kita sendiri masuk lubang karena tidak menemukan jalan keluar. Injil dengan sangat indah menggambar situasi ini dengan berbagai cerita menarik. Yesus senantiasa dihadapkan pada situasi pelik dan rumit serta harus memutuskan sesuatu. Yesus harus memilih "kaca mata" apa yang harus dipakai! Kaca Mata Yesus Dalam memandang dosa, patokan kita adalah "cara pandang Yesus". Tidak ada patokan selain itu. Dan Injil dengan sangat interesan mengulas hal itu dalam berbagai bentuk perumpamaan yang sederhana, menarik, mendalam, dan gampang diingat. Di antaranya: Domba yang Hilang, Dirham yang Hilang, Pekerja di Kebun Anggur , dan satu yang paling berkesan di hati saya yaitu Perempuan Berdosa yang Meminyaki Kaki Yesus (Lukas 7). Penginjil menciptakan situasi begitu bagus, situasi pesta . Lha, situasi di mana banyak orang hadir dari berbagai kalangan, muncullah seorang perempuan yang dikenal sebagai pendosa . Dan lebih hebat lagi di hadapan orang banyak, perempuan ini datang meminyaki kaki Yesus, menyekanya dengan rambutnya . Luar biasa! Adegan ini menimbulkan pertentangan dan perdebatan hebat: pandangan orang Yahudi versus pandangan Yesus tentang dosa . Lengkapnya perempuan yang dicap sebagai pendosa . Orang Yahudi melihat situasi ini dengan "kaca mata buram" sehingga kejadian itu adalah "bencana" atau "aib" yang besar, yang memalukan yang terjadi pada diri seorang yang bernama Yesus. Mereka melontarkan kritikan pedas: "Seandainya Dia Allah, pasti Dia tahu siapa wanita itu!" Cara pandang yang demikian sebenarnya menunjukkan hati orang Yahudi yang penuh dengan kegelapan. Mereka menciptakan "kambing hitam" untuk selalu mempersalahkan orang lain . Dalam hidup nyata, hal seperti ini senantiasa dan selalu terjadi. Ada sekelompok orang dalam Gereja yang selalu merasa diri "bersih" sehingga seolah-olah punya wewenang "menilai" orang lain (lewat gossip murahan) sebagai tidak bersih. Di sisi lain, Yesus menampilkan pandangan yang sama sekali berbeda. Dia menunjukkan Hati Bapa-Nya yang jerih dan selalu mencintai orang berdosa yang bertobat . Yang diungkapkan dalam bahasa perbandingan: "Jika dua orang berhutang, 50.000 dan 150.000. Karena tidak dapat membayar, kedua hutang orang tersebut dihapuskan. Siapa yang lebih mengasihi orang yang menghapuskan hutang itu?" Salah satu orang yang "berhutang lebih banyak" adalah wanita tersebut ! Itulah "kaca mata" Yesus, "kaca mata yang jernih dan bening" ! Dia senantiasa melihat kejernihan di mana saja. Inilah yang dibutuhkan di zaman ini agar wajah Gereja, wajah Keuskupan, wajah Paroki, dan lingkungan semakin menampilkan wajah Yesus ! Kecerdasan petani itu sebaikanya menjadi inspirasi dalam karya-karya Gereja, karya-karya kita. diambil dari: AGGIORNAMENTO , Seminari Tinggi Interdiosesan Beato Giovani XXIII
VIEW FULL VERSION: Link