VIEW FULL VERSION: Link
Title: Heboh Bahasa Roh, episode 2
Tags:
Blog Entry: Heboh Masalah Bahasa Roh   oleh: Suster Maria Andrea, P.Karm   Karunia berbicara dalam bahasa roh Setelah melihat perbedaan kedua macam karunia bahasa roh, kiranya mudah dimengerti bahwa tidak ada masalah untuk memakai karunia berbicara dalam bahasa roh dalam peretemuan jemaat, asalkan kita memohon Tuhan memberikan karunia tafsirannya . Karena karunia berbicara dalam bahasa roh yang disertai karunia tafsirannya mempunyai nilai yang sama dengan karunia nubuat seperti yang dikatakan oleh St.Paulus : "... Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun." ( 1 Kor 14:5 ) "Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya." ( 1 Kor 14:13 ) "Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya." ( 1 Kor 14:27 ) Karunia tafsiran ini (bandingkan 1 Kor 12:10.30) bisa Tuhan berikan kepada orang yang berbicara dalam bahasa roh  maupun kepada orang lain yang hadir di situ. Karunia berbicara dalam bahasa roh ini maupun karunia tafsirannya hendaknya disampaikan satu per satu . Sehingga tidak kacau dan orang bisa mendengar dengan jelas apa pesan Tuhan. Mungkin kita jadi bertanya "Mengapa Tuhan menyampaikan pesannya melalui karunia berbicara dalam bahasa roh dulu, baru kemudian memberi karunia tafsirannya? Mengapa Tuhan tidak langsung saja memberikan karunia nubuat? Apa manfaatnya menyampaikan pesan melalui  karunia berbicara dalam bahasa roh lebih dulu?" Karunia berbicara dalam bahasa roh kadang-kadang diperlukan karena; Seseorang menahan nubuatnya karena rasa takut atau tidak yakin . Karunia berbicara dalam bahasa roh ini menggerakkannya untuk menyampaikan pesan Tuhan itu. Karunia berbicara dalam bahasa roh mendorong keluarnya nubuat yang sebenarnya sudah ada tetapi tidak/belum dikenali . Karunia berbicara dalam bahasa roh menyiapkan jemaat untuk mencari dan mendengarkan pesan Tuhan . Karunia berdoa dalam bahasa roh Diskusi kita sekarang lebih terfokus ke karunia berdoa dalam bahasa roh , yang memang tidak dapat dimengerti . Benarkah karunia berdoa dalam bahasa roh tidak berguna dalam pertemuan jemaat atau dalam acara doa bersama? Dalam  1 Korintus 14:1-25 St.Paulus banyak membahas tentang karunia bahasa roh dan membandingkannya dengan karunia nubuat . Dibandingkan dengan karunia nubuat ataupun karunia-karunia lain dari Roh Kudus (seperti karunia penyembuhan, karunia mujizat, karunia sabda pengetahuan, dan lain-lain), nilai karunia bahasa roh tampak "lebih kecil" karena memang manfaatnya bagi jemaat tidaklah "selangsung" dan "sejelas" karunia-karunia lain itu , kecuali karunia berbicara dalam bahasa roh yang disertai karunia tafsirannya. Alasannya sudah kita singgung sebelumnya: karunia berdoa dalam bahasa roh tidak bisa kita mengerti artinya . Walaupun nilai karunia berdoa dalam bahasa roh --khususnya dalam pertemuan jemaat-- tidak seutama/sebesar karunia nubuat ataupun karunia-karunia lainnya, St.Paulus tidak melarang orang untuk memakai karunia bahasa roh (baik karunia berdoa dalam bahasa roh maupun karunia berbicara dalam bahasa roh ), baik secara pribadi maupun dalam pertemuan jemaat . Karena di akhir semua uraiannya tadi, St.Paulus mengatakan: "Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun."  ( 1 Kor 14:26 ) dan "Karena itu, saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh. Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur." ( 1 Korintus 14:39-40  ) Namun, tentu saja St.Paulus tidak tidak membenarkan jika dalam pertemuan jemaat hanya dipakai bahasa roh : "Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku. Sebab, jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan "amin" atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan?" ( 1 Korintus 14:14-16  ) to be continued... Diambil dari : Hidup dalam Roh , majalah rohani   Katolik , Lembah Karmel