VIEW FULL VERSION: Link
Subject: YESUS DAN KERAJAAN ALLAH (Pdt. Thomy J. Matakupan, M.Div.)
Content: [CENTER][B][SIZE="6"][FONT="Courier New"][COLOR="DarkRed"]Yesus dan Kerajaan Allah[/COLOR][/FONT][/SIZE][/B] oleh: [SIZE="5"][FONT="Garamond"][COLOR="Green"][B]Pdt. Drs. Thomy J. Matakupan, S.Th., M.Div.[/B][/COLOR][/FONT][/SIZE][/CENTER] [SIZE="4"][FONT="Franklin Gothic Medium"]PENDAHULUAN “Bertobatlah Kerajaan sorga telah datang” (Mat. 4:17) adalah seruan yang disampaikan Yesus diawal pelayanan-Nya. namun Ia pada mulanya tidak memberikan penjelasan tentang apakah yang dimaksud dengan istilah “Kerajaan Sorga” tersebut. Nampaknya ada anggapan bahwa para pendengar-Nya saat itu mengenal dengan jelas arti istilah itu oleh karena konsep tentang Kerajaan ini merupakan bagian nubuatan yang tercatat di dalam Perjanjian Lama, yaitu berkenaan dengan pemerintahan Allah; bahwa Allah akan menegakkan kebenarannya di dalam setiap aspek dari pengalaman manusia. PENGERTIAN ISTILAH Pada mulanya konsep tentang Kerajaan Allah ini bersifat eskatologis yang dikaitkan dengan Kerajaan Israel. The Kingdom of God was still another basic topic of Jesus teaching. Whereas this kingdom had traditionally been understood as a future earthly reign of Christ which would be established by His dramatic second coming[1] Secara etimologi, istilah “Kerajaan” baik di dalam bahasa Yunani basileia, “Basileia”[2] yang berarti tingkatan, kekuasaan, kedaulatan yang dimiliki seorang raja. Jadi suatu basileia berarti suatu wilayah yang atasnya seorang raja menggunakan kekuasaannya.[3] Jika kata ini berarti “Kerajaan Allah,” maka artinya adalah pemerintahan Allah, kekuasaan Allah, kedaulatan Allah dan bukan wilayah berlakunya pemerintahan itu.[4] Sementara itu di dalam Perjanjian Lama, istilah yang dipakai adalah twklm, “Malkuth” berarti “Kerajaan,” “pemerintahan,” “peraturan” menunjukkan pengertian (1). “daerah kekuasaan sebuah Kerajaan” (Est. 1:4), “pengangkatan ke atas tahta” (Est. 4:14), “masa pemerintahan” (Est. 2:16). Istilah lain yang dipergunakan di dalam Perjanjian Lama adalah hklmam, “Mamlakah” yang memiliki arti yang sama, namun arti dasarnya adalah daerah dan sekelompok orang yang membentuk sebuah Kerajaan. Dalam kaitannya dengan Israel, istilah ini secara khusus menunjuk Israel sebagai Kerajaan Allah (Kel. 19:6, bdk. 2Sam. 7:16; Yeh. 37:22). juga menunjuk kepada seorang raja tertentu yang memerintah sebuah Kerajaan (bdk. 1Sam. 28:17). Secara umum di dalam Perjanjian Lama memberikan pengertian tentang “Kerajaan” ini sebagai ekspresi dari peraturan pemerintahan dan kaitannya dengan seorang raja tertentu, yaitu ditandai dengan adanya “tahta” (Ul. 17:18), suatu kota pemeritahan (1Sam. 27:5). Perjanjian Lama sangat menekankan konsep pemerintahan Allah ini; Tuhan memerintah sebagai Raja atas umat-Nya Israel (1Taw. 29:11). Dengan kemurahan-Nya Ia memerintah atas umat-Nya mulai dari Daud sampai kepada masa pembuangan (2Taw. 13:5).[5] Basic to the thought of the kingdom of God, therefore, is its Divine origination and operation, though it comes to earthly and visible expression in the world. In redemption God may choose a people, subdue them unto Himself, rule over them as their King, call them unto the previleges of His rule and the duties of their high calling (Exodus 19:5-6; 1Peter 2:9-10).[6] Ungkapan “Kerajaan Sorga” di dalam pengharapan orang Yahudi sesudah pembuangan mengandung unsur campur tangan Allah yang sungguh diharapkan Israel, untuk memulihkan kebahagiaan umat-Nya dan membebaskannya dari kuasa musuh. Kedatangan Kerajaan Allah adalah perspektif masa depan yang dipersiapkan oleh kedatangan Mesias dalam meratakan jalan bagi Kerajaan Allah.[7] Pemberitaan yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis dan Yesus ini memberikan pengertian yang universal dan menimbulkan kerinduan yang tinggi akan sejarah yang lama dinanti-nantikan, yaitu campur tangan Allah untuk memulihkan segala sesuatu. Berkhof memberikan pengertian tentang Kerajaan Allah sebagai pemerintahan Allah yang ditetapkan dan diterima dalam hati orang berdosa melalui kuasa dan yang melahirbarukan dari Roh Kudus yang menjamin mereka memperoleh berkat-berkat keselamatan yang tidak terkirakan.[8] Jadi pengertian di sini lebih bersifat spiritual dan tidak nampak. Yesus sendiri memegang konsep eskatologis ini dan mengajarkan pengertian ini di dalam pengajaran-Nya, bahwa pernyataan Kerajaan Allah itu bersifat spiritual dan memiliki karakter universal. Ia juga mengajarkan konsep Kerajaan Allah ini berbeda dengan konsep yang diterima sebelumnya oleh orang Yahudi dan mengkaitkannya dengan aspek masa kini dan pengharapan akan berkat-berkatnya pada masa mendatang.[9] Tema tentang kedatangan Kerajaan sorga adalah inti kedatangan Yesus di dalam inkarnasi-Nya. Kemudian datanglah Yesus orang Nazaret dengan membawa berita, “Bertobatlah sebab Kerajaan Surga sudah dekat” (Mat. 4:17). Bagaimana manusia dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (Mat. 5:20; 7:21). Karya-karya-Nya membuktikan bahwa Kerajaan sorga sudah datang (Mat. 12:28). Perumpamaan-perumpamaan yang diajarkan-Nya memberikan gambaran tentang kebenaran Kerajaan sorga (Mat. 13:11). Doa yang diajarkan kepada para murid mengajarkan tentang pengharapan kedatangan Kerajaan sorga (Mat. 6:10). Pada malam sebelum kematian-Nya, Ia berjanji kepada para murid bahwa Ia akan menikmati kebahagiaan dan persekutuan di dalam Kerajaan itu bersama dengan mereka (Luk. 22:29-30). Ia juga berjanji akan membawa berkat Kerajaan itu kepada orang-orang yang bagi mereka semua itu telah disediakan (Mat. 25:31, 34). LATAR BELAKANG PERJANJIAN LAMA Oleh karena konsep tentang “Kerajaan Sorga” ini berkaitan dengan masa depan Israel, maka harus ditelusuri terlebih dahulu hal apakah yang menjadi catatan di dalam Perjanjian Lama, khususnya berkaitan dengan pengharapan umat Israel akan kedatangan Mesias yang akan menegakkan Kerajaan-Nya di dalam dunia ini. Bagi orang Israel makna “Kerajaan” ini mempunyai tempat yang penting sekali di dalam kehidupan dan pengharapan mereka. Wawasan tentang hal ini dapat dilihat beberapa kali di dalam berita Perjanjian Lama.[10] Berita tentang “Kerajaan” ini juga menjadi tujuan pengajaran para nabi bahwa akan ada suatu Kerajaan Ilahi di mana Allah dilukiskan sebagai Raja, baik atas Israel maupun atas seluruh umat manusia (Kel. 15:18; Ul. 33:5; Yes 43:15; Yer 46:18). Dwight Pantecost membagi aspek Kerajaan Allah ini di dalam dua kategori, “eternal kingdom” dan “theocratic kingdom”[11] Kerajaan yang bersifat Teokratis ini dapat ditelusuri dari Taman Eden, periode pemerintahan manusia di dalam masa Nuh, periode para Patriakh, Kerajaan di dalam masa hakim-hakim, dan terakhir di dalam masa para nabi.[12] Melalui kitab Yesaya terlihat konsep tentang Kerajaan ini, khususnya berkenaan dengan masa depan Kerajaan yang berkaitan dengan Yerusalem dan dengan Yehuda. Misalnya: (1). di dalam pasal 4:2-4 menyatakan bahwa Allah akan hadir sebagai hakim pada “hari-hari yang terakhir.” (2). Dalam kaitannya dengan kelahiran Kristus di dalam pasal 9:6-7. Sekali lagi bagian ini menyatakan pemerintahan Allah yang ada di dalam dunia yang ditandai dengan beberapa faktor, seorang anak akan lahir; tahtanya akan disebutkan tahta Daud, pemerintahannya akan dijalankan dengan keadilan dan kebenaran dan semuanya akan digenapi di dalam kuasa Allah. (3). Pasal 11:1-9 adalah bagian yang sangat jelas mengungkapkan kedatangan Kristus dan karakteristik dari pemerintahan-Nya di dalam dunia. Demikian juga di dalam kitab Yeremia terlihat adanya prediksi yang dilakukannya, bukan saja akhir dari masa pembuangan setelah 70 tahun (Yer 29:10) melainkan juga penggenapan restorasi Israel (Yer 23:5-8). Penggenapan nubuatan ini terjadi pada saat kembalinya bangsa ini kepada tanah mereka dan juga di dalam penegakkan kembali keadilan dan kebenaran oleh Allah yang sama yang pernah membawa mereka keluar dari perbudakan di Mesir. Sementara itu di dalam kitab Yehezkiel, konsep “Kerajaan” digambarkan berkenaan dengan penghakiman terhadap Israel pada masa kedatangan Kristus kembali dan hanya mereka yang taat dan percaya kepada-Nya yang akan diselamatkan dan memasuki tanah perjanjian. (Yeh. 20:34-38, 42). Meskipun berita tentang Kerajaan Allah di dalam Perjanjian Lama pada hakekatnya yang persis sulit untuk dijelaskan, namun memberikan kesan Kerajaan itu sudah ada dan juga masih akan datang. Para nabi menyampaikan berita bahwa Allah memerintah berdasarkan kedaulatan-Nya sendiri. Mereka juga memandang ke depan, yaitu pada suatu masa di mana Allah memerintah di tengah umat-Nya dan hal ini menjadi nyata bagi semua orang (Bdk. Yes 24:23). Bahwa gagasan tentang pemulihan Kerajaan Daud sebagai sarana yang digunakan Allah untuk tampil sebagai raja Israel. Penting juga untuk diperhatikan di sini adalah konsep tentang Apokaliptik yaitu adanya jenis kerajaan yang bersifat sorgawi. Dengan demikian ada dua berita, Kerajaan yang bersifat fisik dan Kerajaan yang bersifat rohani (bdk. Dan. 7). Donald Guthrie mengatakan bahwa keterangan tentang adanya kedua aspek ini menunjukkan bahwa keduanya tidak dibeda-bedakan secara tajam. Masa antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru hanya mengembangkan gagasan yang bersifat ganda itu.[13] Nampaknya kedua aspek ini saling bercampur satu sama lain. Pada masa ini keyakinan bahwa Kerajaan Allah akan diwujudkan di bumi dikaitkan dengan sikap pesimis mengenai pemulihan kerajaan Daud. Memang ada kecenderungan menempatkannya pada masa mendatang karena mungkin sekali orang Yahudi hanya memikirkan tentang Kerajaan yang diharapkan akan segera datang. Di sinilah pengertian pemberitaan Yohanes pembaptis dapat dipahami. “KERAJAAN ALLAH” DI DALAM PENGAJARAN TUHAN YESUS Konsep tentang Kerajaan Allah muncul di dalam pelayanan Tuhan Yesus berkaitan dengan pengajaran di dalam Perjanjian Lama, secara khusus berkenaan dengan konsep Apokaliptik Yudaisme. C. C. Caragounis mengatakan ada beberapa aspek penting di dalamnya, yaitu bahwa konsep ini lebih kepada hal yang bersifat dinamis daripada menunjuk kepada hal yang bersifat geografis, berhubungan dengan Anak Manusia, tidak berkaitan dengan konsep perjanjian dan merupakan pengharapan di masa mendatang.[14] Di dalam Injil Sinoptik, berita yang disampaikan oleh Tuhan Yesus adalah bahwa Kerajaan Allah itu sudah datang; bahwa janji Allah tentang Kerajaan-Nya ini sudah digenapi dan harus ada suatu keputusan yang diambil.[15] Lebih lanjut Caragounis mengatakan bahwa Kerajaan Allah ini dinyatakan di dalam dua hal: (1). Inti utama dari pengajaran Tuhan Yesus dan (2). Dikonfirmasikan melalui pekerjaan-pekerjaan-Nya yang ajaib (bdk. Mat. 4:23; 9:35). Komponen yang ketiga dihubungkan dengan pribadi Tuhan Yesus sebagai Anak manusia.[16] 1. Tuntutan Kerajaan Allah Di dalam pengajaran-Nya Yesus mengungkapkan tentang pengharapan dan kondisi tentang Kerajaan Allah. Ia mengajarkan bahwa hal memasuki Kerajaan tersebut diperlukan pertobatan dan percaya kepada Injil Tuhan (Mat. 4:17; Mrk. 1:15). Di bagian lain, Yesus mengatakan diperlukan iman seperti seorang anak kecil (Mat. 18:3; Mrk. 10:14). Perihal tentang Kerajaan Allah ini juga nampak sebagai hal yang sangat radikal, misalnya diperlukan hati yang tidak bercabang dan hanya tertuju kepada-Nya. Ia mengatakan bahwa mereka yang siap membajak tetapi menoleh ke belakang, ia tidak layak untuk Kerajaan Allah (Luk. 9:62); bahkan seseorang harus mengorbankan semua yang dimilikinya, harta, keluarga, pernikahan (Mat. 19:12; Mrk. 10:21-27). Namun Yesus juga mengatakan bahwa semua orang yang melakukan semua itu akan menerima balasan berkali lipat (Mrk. 10:29-31). 2. Etika Kerajaan Allah Etika Kerajaan Allah dapat dikatakan sebagai tuntutan etika Allah sendiri terhadap setiap orang yang telah ditetapkan-Nya untuk melakukan kehendak-Nya yang sempurna. Pengajaran tentang etika Kerajaan Allah ini secara khusus diajarkan oleh Yesus di atas bukit (lih: Mat. 5-7; Luk. 6:17-49).[17] Dan merupakan kesinambungan dari pengajaran tentang etika di dalam Perjanjian Lama walaupun di dalamnya Ia juga memberikan berbagai macam pengoreksian dan penjelasan maksud yang sebenarnya dari setiap tuntutan etika Allah terhadap umat-Nya. Hal ini ternyata dari perkataan-Nya, yaitu ketika Ia mengatakan, “Kamu telah mendengarkan yang difirmankan kepada nenek moyang kita … tetapi Aku berkata kepadamu …” (lih. Mat. 5:21, 27, 31, 33, 38, 43, dsb). Khotbah di bukit ini merupakan “Didakhe” yang mengungkapkan standard kehidupan bagi orang-orang percaya yang berada di dalam Kerajaan Allah, atau merupakan penjelasan Tuhan Yesus tentang watak dari mereka yang sudah berada di dalam Kerajaan Allah dan sekaligus merupakan keterangan sifat kesusilaan yang diharapkan dari mereka. Jadi, Khotbah di Bukit lebih berarti “Intisari Kehidupan Kristen.”[18] Isi dari Khotbah di bukit yang diajarkan Tuhan Yesus ini bukanlah merupakan suatu peraturan yang baru, melainkan suatu penegasan tentang dasar kehidupan etika dan pengaruhnya di dalam kehidupan orang-orang yang berada di dalam Kerajaan Allah, yaitu mereka yang telah mengalami penebusan-Nya. Penggenapan semua yang menjadi isi Khotbah ini adalah sesuatu hal yang mungkin terjadi apabila Allah menjadi Raja, “menjadi semua di dalam semua” di dalam kehidupan orang percaya (Bdk. 1Kor. 15:28). 3. Aspek Waktu Kerajaan Allah Seperti disebutkan di atas bahwa konsep tentang Kerajaan Allah merupakan inti pengajaran Tuhan Yesus. Ia menggambarkan Kerajaan itu sudah datang dan dinyatakan di dalam diri dan pekerjaan Tuhan Yesus sendiri. Inilah yang kerap dipahami sebagai aspek masa kini Kerajaan Allah. Hal ini dapat terlihat dari mujizat yang dilakukan-Nya sebagai bukti kedatangan Kerajaan Tuhan,[19] misalnya dari pekerjaan Tuhan di dalam penyembuhan orang yang kerasukan setan (Luk. 11:20, bdk. Mat. 12:29), perbuatan ajaib berkenaan dengan penggenapan nubuat, orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta ditahirkan, orang mati dibangkitkan, dan kabar kesukaan diberitakan kepada orang miskin (Mat. 11:2 dst; Luk. 7:18 dst). Kerajaan Allah itu telah datang di dalam Dia dan dengan Dia. Dialah “auto-basilea.” Selain itu ternyata konsep Kerajaan Allah ini juga memiliki aspek yang tersembunyi. Yesus mengajarkan hal ini kepada para murid-Nya bahwa ada kemungkinan timbulnya kekecewaan di dalam diri manusia dan pada akibatnya menolak Yesus oleh karena berhadapan dengan aspek yang tersembunyi ini. Bahwa Kerajaan Allah itu sudah datang di dalam diri Yesus adalah benar, namun belum mencapai penggenapannya yang sempurna. 4. Problema “Ephthasen” (Mat. 12:28; Luk. 11:20) Di dalam Injil Sinoptik ada dua ayat yang mengatakan bahwa Kerajaan Allah sudah datang dan hal ini ditandai dengan pekerjaan Tuhan Yesus mengusir setan dengan kuasa Roh Allah. Permasalahan segera timbul berkenaan dengan pernyataan dan pelayanan Tuhan Yesus yang lain yang dicatat di dalam Sinoptik, misalnya bagaimanakah kaitannya dengan “sisa” kehidupan dan pelayanan Tuhan dan begaimana dengan “kewajiban” Anak Manusia yang menyerahkan nyawanya untuk menjadi tebusan bagi banyak orang? Apakah signifikasi kematian-Nya dan bagaimanakah Tuhan Yesus menghubungkan antara kematian-Nya dengan konsep Kerajaan Allah tersebut. 5. Problema “Entos Hymon Estin” (Luk. 17:21) Ini adalah masalah lain berkenaan dengan kehadiran Kerajaan Allah. Di dalam ayat ini Yesus sedang menjawab pertanyaan para Farisi tentang kedatangan Kerajaan Allah; bahwa perihal Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: ‘lihat ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu,’ (entos hymon estin). “Entos” berarti “inside,” “within” Kata ini digabungkan dengan “hymon” dalam pengertian “di tengah-tengah kamu,” “di dalam genggamanmu,” dsb. Penggunaan istilah ini oleh Lukas nampaknya untuk mengkontraskannya dengan “meta paratereseos” (dengan tanda-tanda yang dapat diamati),[20] maksudnya para Farisi ketika melihat semua tanda-tanda yang dilakukan oleh Yesus akan bertanya apakah Ia Mesias yang akan datang untuk mendirikan Kerajaan itu? Yesus menjawab mereka bahwa hal itu bukanlah tanda-tanda kedatangan Kerajaan Allah dan mengajarkan mereka jangan mengandalkan tanda-tanda itu untuk memberi kepastian. Geldenhuys mengatakan bahwa ada dua alasan yaitu pertama, kedaulatan Allah bahwa hal “telah datang” adalah di dalam diri Yesus Kristus berkenaan dengan penyelamatan-Nya di mana Ia dikenal sebagai Mesias dan berkenaan dengan penghakiman-Nya kepada mereka yang menolak-Nya. Kedua, bahwa kedatangan Kerajaan-Nya bersifat tiba-tiba dan tidak diharapkan sehingga tidak ada seorangpun yang dapat memperkirakannya secara tepat ketika saat itu tiba.[21] PERUMPAMAAN TENTANG KERAJAAN ALLAH Yesus juga mengajar dengan menggunakan berbagai macam perumpamaan untuk melukiskan realita Kerajaan Allah. Setiap perumpamaan melukiskan berbagai aspek yang berbeda dari Kerajaan Allah itu, misalnya perumpamaan tentang seorang penabur melukiskan tanggapan setiap orang terhadap berita tentang Kerajaan Allah (Mat. 13:3-9; Mrk. 4:3-9). Di dalam Perjanjian Baru ada tujuh buah perumpamaan yang menjelaskan arti realita, karakteristik yang berbeda dan juga aspek-aspek yang berbeda dari Kerajaan Allah. (1). Penabur dan Benih, (2). Musuh yang Menabur Lalang, (3). Biji Sesawi, (4). Ragi, (5). Harta Terpendam, (6). Mutiara yang Indah dan (7). PukatPerumpamaan pertama mengenai asal-usul Kerajaan, perumpamaan kedua sampai ke tiga menggambarkan usaha dan keinginan Iblis untuk menghambat dan merintangi pertumbuhan Kerajaan, perumpamaan kelima dan keenam menunjukkan sikap orang yang mencari Kerajaan itu walaupun ada tipu muslihat Iblis dan perumpamaan terakhir menggambarkan kesempurnaan Kerajaan itu. Kalau digabungkan maka semua perumpamaan itu menunjuk kepada sifat, asal-usul, halangan dan kemenangan pekerjaan Kristus dalam memberitakan Injil-Nya melalui pada utusan-Nya antara waktu kedatangan-Nya yang pertama dan kedatangan-Nya yang kedua kali. 1. Perumpamaan Benih dan Tanah (Matius 13:1-23) Perumpamaan ini menekankan perihal bermacam-macamnya jenis hati orang dan reaksi mereka terhadap firman, apakah akan menerima atau menolaknya. Boice memberikan pembagian hati ini sebagai : (1). hati yang keras yang ditandai dengan gambaran tanah yang keras). Tanah itu menjadi keras karena terus-menerus terinjak orang sehingga benih yang jatuh di atasnya tidak akan dapat masuk ke dalamnya. Kemudian datanglah burung-burung (yang dibandingkan oleh Kristus sebagai Iblis atau pekerjaan jahat memakan benih tersebut. Inilah gambaran dari hati yang menolak kebenaran firman yang datang kepada mereka oleh karena dosa. Dosa mengakibatkan orang selalu menolak kebenaran firman Tuhan, menolak kebenaran Allah.[22] (2). Hati yang dangkal yang digambarkan sebagai tanah yang tipis dan berbatu. Memang benih itu masuk ke dalam tanah ketika ditaburkan, tetapi hanya sedikit saja. Benih itu segera tumbuh, namun juga cepat layu kena panas matahari sebab tidak berakar. Yesus menerangkan arti gambaran ini sebagai orang yang mendengar firman, segera menerimanya tetapi tidak berakar dan hanya sebentar saja bertahan. Penindasan dan penganiayaan akan firman akan mengakibatkan mereka murtad. Secepat mereka percaya, secepat itu pulalah mereka murtad karena mereka sebenarnya tidak pernah sungguh-sungguh dilahirkan kembali. (3). Hati yang terhimpit digambarkan sebagai benih yang terjatuh di antara semak duri. Inilah gambaran dari orang yang telah mendengar firman lalu kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan menghimpitnya firman itu sehingga tidak berbuah. Menarik sekali, Yesus memberikan penjelasan tentang kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan mempunyai kuasa untuk menghimpit kebenaran firman sehingga tidak berbuah sebagaimana mestinya. Untuk masalah ini Yesus pernah memperingatkannya, misalnya Ia mengatakan tentang sukarnya orang kaya masuk ke dalam Kerajaan Sorga (Mat. 19:23, bdk. Mrk. 10:25), celakalah mereka yang kaya (Luk. 6:24). Permintaan-Nya terhadap anak muda yang kaya untuk menjual hartanya dan mengikuti Dia (Luk. 18:23). Hal ini tidak berarti orang percaya tidak boleh memiliki harta dan menjadi kaya, namun apakah kekayaannya itu mendominasi sedemikian rupa sehingga menghimpit imannya kepada Tuhan. (4). Hati yang terbuka yang diibaratkan seperti tanah yang baik di mana benih yang jatuh akan masuk, berakar dan bertumbuh di dalamnya sehingga berbuah seratus kali lipat, enam puluh kali lipat, tiga puluh kali lipat (ay. 23). Inilah gambaran dari orang yang menerima firman dan menghasilkan buah rohani. Hanya hati yang terbuka sajalah yang akan menerima faedah keuntungan pemberitaan Injil dan diselamatkan. 2. Perumpamaan tentang Lalang (Mat. 13:24-43) Bagian ini menggambarkan sikap musuh yang menabur benih lalang pada waktu malam hari di ladang milik petani. Benih lalang itu tumbuh bersama dengan benih gandum sehingga tidak dapat dibedakan sampai pada masa penuaian tiba. Benih lalang akan dikumpulkan dan dibakar sementara benih gandum akan dituai dan dibawa ke dalam lumbung. Yesus sendiri memberikan arti terhadap perumpamaan ini bahwa orang yang menabur benih yang baik adalah Anak Manusia, ladang adalah dunia, musuh petani adalah Iblis. Dengan kata lain, perumpamaan ini memberikan gambaran tentang perlawanan dari Iblis yang aktif menentang perluasan Kerajaan Allah di bumi ini. Boice mengatakan bahwa maksud perumpamaan ini semata-mata hendak memberitahukan bahwa Iblis akan menyodorkan orang-orang (entah di dalam gereja atau di luar gereja) yang menyerupai orang-orang Kristen sejati, tetapi bukan Kristen yang sesungguhnya sehingga bahkan para hamba Allahpun tidak dapat membedakannya.[23] Dapat dikatakan isi perumpamaan ini mirip juga dengan perumpamaan lain disampaikan-Nya - walaupun tidak dijelaskan artinya - di dalam perumpamaan tentang biji sesawi yang tumbuh menjadi pohon besar dan tentang ragi yang dicampurkan ke dalam adonan. 3. Perumpamaan Biji Sesawi dan Ragi (Mat. 13:31-33) Kedua perumpamaan ini mempunyai kaitan yang sangat erat dan melukiskan perkembangan dan pertumbuhan Kerajaan Allah sampai pada waktunya akan memenuhi seluruh dunia dan kaitannya dengan pekerjaan Iblis. Perumpamaan tentang Biji Sesawi mengajarkan bahwa Kerajaan Allah dimulai dari sesuatu yang kecil yang kemudian bertumbuh menjadi besar sementara perumpamaan tentang ragi mengajarkan pengaruh dari Kerajaan Allah yang bekerja secara diam-diam namun pasti.[24] Ada banyak penafsiran terhadap perumpamaan ini, misalnya jika dikaitkan dengan beberapa pandangan tentang Eskatologi, baik itu Postmillenium maupun Amillenium menyatakan bahwa pada akhirnya Kerajaan Allah akan mencapai kemenangannya di bumi, yaitu pada saat kedatangan Tuhan Yesus kali yang kedua. Sementara itu Arno C. Gaebelein mengemukakan hal yang lain lagi. Ia mengatakan bahwa perumpamaan ini menerangkan tentang perluasan yang aneh dan berbahaya serta bersifat birokratis dari gereja dan pekerjaan Iblis yang merongrong seperti ragi. Ia mengatakan, “Semua perumpamaan ini memperlihatkan pertumbuhan kejahatan dan merupakan nubuatan untuk seluruh zaman di mana kita hidup.[25] Penulis sendiri lebih menyetujui pandangan dari James M. Boice. Ia mengatakan bahwa kedua perumpamaan ini menyatakan pekerjaan Iblis dengan beberapa alasan: (1). Pertumbuhan biji sesawi menjadi pohon adalah tidak wajar karena seharusnya biji ini bertumbuh menjadi semak-semak. Jadi di sini Kristus sedang berbicara tentang pertumbuhan yang aneh dari biji sesawi dan para pendengar-Nya akan segera menyadari ada yang tidak beres di sini. (2). Konteks Matius 13 menggambarkan burung disamakan dengan Iblis atau pekerjaan jahat sehingga mengubahnya menjadi hal yang sebaliknya menunjukkan ketidakkonsistenan mengerti konteks. Boice mengatakan, “… benar-benar aneh apabila suatu unsur (burung-burung) yang melambangkan si jahat pada permulaan pasal ini akan berubah artinya sama sekali pada hanya tiga belas ayat sesudahnya.” (3). Di dalam Perjanjian Lama, ragi adalah gambaran kejahatan. Di dalam hukum orang Israel ragi tidak boleh ada pada korban yang dipersembahkan kepada Tuhan dengan dibakar. Pada waktu hari raya roti tidak beragi, setiap orang Yahudi yang setia harus memeriksa rumahnya kalau-kalau ada ragi dan memusnahkannya. Yesuspun berbicara tentang bahaya ragi orang Farisi dan Saduki yang berarti pengaruh jahat mereka (Mat. 16:12; Mrk. 8:15).[26] Jadi ragi di sini sebenarnya memberikan arti simbolis segala sesuatu yang jahat daripada yang baik sehingga bagaimana pengertian ini dimengerti sebaliknya.[/FONT][/SIZE]