Coming Soon ...
 
Coming Soon ...
 
Coming Soon ...
 

+ Reply to Thread
Page 1 of 2
1 2 LastLast
Results 1 to 20 of 26

Thread: Yesus Kristus Adalah Tuhan

  1. Yesus Kristus Adalah Tuhan

    [size=5]YESUS KRISTUS ADALAH TUHAN[/size]



    [size=4]1. Etimologi :[/size]


    Dalam Alkitab terjemahan LAI: Kata "Tuhan" dengan huruf "T" kapital diterjemahkan dari kata Ibrani "'adõn", 'âlef-dâlet-vâv-nûn dan kata "'adonâi", 'âlef-dâlet-nûn-yõd. Kata ini di samping bermakna Tuhan, juga berarti tuan, majikan, induk semang, bahasa kerennya "boss".

    Kata Adonai sepadan dengan kata Yunani untuk 'kurios'. Bahasa Inggris (King James Version) menerjemahkannya dengan Lord dan lord. Dalam bahasa jawa 'Gusti'. "Kurios" adalah salah satu gelar Yesus Kristus, yang dalam Alkitab Perjanjian Baru diterjemahkan khusus untuk Yesus Kristus dengan kata Indonesia "Tuhan". Pengucapan Tuhan Yesus Kristus dalam bahasa Yunani adalah 'kurios iêsous christos', dalam bahasa Ibrani disebut "'adonâi yehõshûa' hamashiakh" atau "rebbe melekh hamoshiakh yehõshua'".

    Kata "Kurios" berasal dari kata "kuros", supremasi, keunggulan; dan kata "Kurios" itu ditujukan kepada pribadi yang memiliki orang atau benda sehingga pribadi itu memiliki kuasa untuk mengatur orang atau benda yang menjadi miliknya.


    Berikut ini macam-macam penjelasan makna "kurios" dari beberapa Kamus Yunani :


    Sumber: Online Bible Greek Lexicon :


    KURIOS, from KUROS (supremacy); noun masculine

    Authorized Version - Lord 667, lord 54, master 11, sir 6, Sir 6, misc
    4; 748 words

    1) he to whom a person or thing belongs, about which he has power of deciding; master, lord

    1a) the possessor and disposer of a thing

    1a1) the owner; one who has control of the person, the master

    1a2) in the state: the sovereign, prince, chief, the Roman emperor

    1b) is a title of honour expressive of respect and reverence, with which servants greet their master

    1c) this title is given to: God, the Messiah



    -----


    Sumber:
    A Greek-English Lexicon of the New Testament and Early Christian Literature, Third Edition, Revised and Edited by Frederick William Danker, © 2000 The University of Chicago.



    KURIOS, KURIA, KURION, adverb from KURIOS. The primary meaning relates to possession of power or authority, in various senses: strong, authoritative, valid, ruling; then to that which is preeminently important principal, essential.

    KURIOS, KURIOU, KURIÔ (the masculine form of the substantive adjective KURIOS, feminine KURIA), generally lord, master.

    1. one who is in charge by virtue of possession, owner, of one who has come of age and controls his own property.

    a. of things with impersonal object: KURIOS TOU AMPELÔNOS, owner of the vineyard; KURIOS TÊS OIKIAS, the master of the house. The meaning owner
    easily passes into that of lord, master, one who has full control of something: TOU KURIOU TOU THERISMOU OPHÔS, the Lord of the harvest; KURIOS TOU SABBATOU, Lord of the Sabbath.

    b. with a personal object: opposed to DOULOS. HO KURIOS TOU DOULOU, the lord of that servant.

    2. one who is in a position of authority, lord, master

    a. of earthly beings, as a designation of any persons of high position: of husband in constrast to wife; of father by his son; of an official in high position, by those who have dealings with him.

    b. of transcendent beings

    c. as adesignation of God where it frequently replaces the name YHVH in the Masoretic Text. Without the article, like a personal name: AGGELOS KURIOU, DOXA KURIOU, DOULÊ KURIOS, NOMOS KURIOS, TO ONOMA KURIOS, PNEUMA KURIOS, TO RHÊMA KURIOS, PHÔNÊ KURIOS, KHEIR KURIOS, HO KRISTOS KURIOU.

    d. With the sphere of his lordship more definitely expressed KURIOS TOU OURANOU KAI TÊS GÊS, Lord of heaven and earth; KURION TÔN KURIEUONTÔN, Lord of lords; KURIOS HO THEOS, The Lord God; KURIOS HO THEOS ISRAÊL, the Lord God of Israeli.

    e. Closely connected with the custom of applying the term KURIOS to deities is that of honoring (deified) rulers with the same title.

    f. KURIOS is also used in reference to Jesus.

    g. In Old Testament quotations, where it is understood of the Lord of the new community,

    h. Apart from Old Testament quotation, Matthew and Marks speak Jesus as KURIOS only in one passive (words of Jesus himself), but they record that he was addressed as KURIE. Luke refers to Jesus much more frequently as HO KURIOS.

    i. Even in the passages already mentioned the use of the word KURIOS raises Jesus above the human level.

    j. In some places it is not clear whether God or Christ is meant, Acts 9:31; 1 Corinthians 4:19, etc.

    k. Of other transcendent beings;

    l. An angel

    m. In contrast to the one KURIOS of the Christians there are THEOI POLLOI KAI KURIOI POLLOI, many gods and many lords.



    -----


    Sumber:
    Shorter Lexicon of the Greek New Testament, F. Wilbur Gingrich, © 1983 The University of Chicago



    KURIOS, KURIOU, KURIÔ, lord, Lord, master

    1. generally:

    a. owner, master, lord, one who has full control of someting

    b. as a respectful designation used in addressing persons of varying sosial or political rank, often equivalent to our sir

    2. in specialized usage:

    a. as a designation of God

    b. as a designation of the Roman emperor

    c. as a designation of Jesus Christ, with emphasis on his authority and frequently in contract to DOULOS. Because of the editorial interests of the evangelists it is difficult to determine the precise level of social recognition or status awareness in reported dialogue.

    d. In some passages it is not clear whether God or Christ is meant

    e. as designation of a divine messenger

    f. in general of beings or persons who elicit devotion appropriate to deity (deities).



    -----


    Alkitab sering menggunakan 'lawan kata' dalam menjelaskan makna suatu kata. Jika kita tidak memahami kata "gelap", tetapi memahami kata "terang", maka dengan mengatakan bahwa "gelap" adalah lawan dari "terang", maka kita akan mendapat pemahaman itu. Demikian pula "murid" vs "guru"; "laki-laki" vs "perempuan"; "tua" vs "muda", dan seterusnya.

    Perlu diketahui bahwa kata 'Kurios' (Tuhan atau tuan) itu senantiasa dipertentangkan (antonym) dengan kata 'doulos' (hamba) sedangkan kata 'theos' (Allah) senantiasa dipertentangkan (antonym) dengan 'anthropos' (manusia).


    Lawan dari kata "Allah" (Ibrani: 'êl, 'êloah, dan 'elohïm; Yunani: 'theos') adalah kata "manusia" dan/atau "dunia", dan lain-lain.

    Kita perhatikan ayat-ayat dibawah ini :


    * Hakim-hakim 9:13
    Tetapi jawab pohon anggur itu kepada mereka: Masakan aku meninggalkan air buah anggurku, yang menyukakan hati Allah (ELOHIM) dan manusia (ANASHIM), dan pergi melayang di atas pohon pohon?

    KJV, And the vine said unto them, Should I leave my wine, which cheereth God and man, and go to be promoted over the trees?
    Hebrew Translit, VATO'MER LAHEM HAGEFEN HEKHODALTI ET-TIROSHI HAMESAMEAKH ELOHIM VA'ANASHIM VEHALAKHTI LANUA AL-HA'ETSIM


    * Kisah Para Rasul 24:16
    Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah (theos) dan manusia (anthrôpos).

    KJV, And herein do I exercise myself, to have always a conscience void to offence toward God, and toward men.
    TR Translit, en toutô de autos askô aproskopon suneidêsin echein pros ton theon kai tous anthrôpous diapantos


    Lawan dari kata "Tuhan" dan "tuan" (Ibrani: 'adonâi ; Yunani: 'kurios') adalah "hamba". Jadi, yang dimaksud dengan "Tuhan" adalah "bukan-hamba".

    Kita perhatikan ayat-ayat dibawah ini :


    * Maleakhi 1:6
    Seorang anak (BEN) menghormati bapanya ('AV) dan seorang hamba ('EVED) menghormati tuannya ('ADÕN). Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: 'Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?'

    KJV, A son honoureth his father, and a servant his master: if then I be a father, where is mine honour? and if I be a master, where is my fear? saith the LORD of hosts unto you, O priests, that despise my name. And ye say, Wherein have we despised thy name?
    Hebrew Translit, BEN YEKHABED AV VE'EVED ADONAV VE'IM-AV ANI AYEH KHEVODI VE'IM-ADONIM ANI AYEH MORAI AMAR YEHOVAH TSEVA'OT LAKHEM HAKOHANIM BOZEI SHEMI VA'AMARTEM BAMEH VAZINU ET-SHEMEKHA


    * Matius 10:24
    "Seorang murid ('mathêtês') tidak lebih dari pada gurunya ('didaskalos'), atau seorang hamba ('doulos') dari pada tuannya ('kurios')."

    KJV, The disciple is not above his master, nor the servant above his lord.
    TR Translit, ouk estin mathêtês uper ton didaskalon oude doulos uper ton kurion autou



    Bentuk lain panggilan "kurios"


    Istilah lainnya yang penuh penghormatan adalah "kurie", bentuk panggilan dari "kurios". Dalam kitab-kitab Injil barangkali kata ini adalah padanan kata Aram "rabbi" atau "mari" (Tuanku), yang dipakai sebagai gelar yang mengandung penghormatan besar :


    * Matius 8:2
    Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.

    KJV, And, behold, there came a leper and worshipped him, saying, Lord, if thou wilt, thou canst make me clean.
    TR Translit, kai idou lepros elthôn prosekunei autô legôn kurie ean thelês dunasai me katharisai


    * Matius 8:8
    Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh

    KJV, The centurion answered and said, Lord, I am not worthy that thou shouldest come under my roof: but speak the word only, and my servant shall be healed.
    TR Translit, kai apokritheis ho ekatontarchos ephê kurie ouk eimi ikanos hina mou hupo tên stegên eiselthês alla monon eipe logon kai iathêsetai ho pais mou


    Panggilan "kurie" tersebut merujuk kepada Yesus sebagai "Guru" yang patut dihormati, ada kalanya Yesus disapa dengan cara ini karena Ia mempunyai kuasa ajaib. Dan perhatikan terjemahan KJV, menterjemahkannya dengan "Lord" dengan awalan huruf kapital, yang bermakna "Tuhan".
    I put no stock in religion. By the word "religion" I've seen the lunacy of fanatics of every denomination be called 'the will of God'.
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  2. [size=4]2. Permasalahan terjemahan "kurios" dalam bahasa Indonesia:[/size]



    Penerjemahan kata "kurios" dalam Alkitab seringkali dipermasalahkan oleh kalangan non-Kristiani dan kalangan dari Unitarian/SSY. Memang, istilah "kurios" tidak menunjuk pada atribut apakah dia manusia atau Allah (bandingkan dengan kara arab "RABB"). Kata "kurios" itu menunjuk kepada kuasa, kedaulatan. Jadi bisa dipakai untuk manusia bisa juga buat Allah. (Baca selengkapnya Study kata "KURIOS" di http://www.sarapanpagi.org/viewtopic.php?p=4#4 )

    Dalam Alkitab Perjanjian Baru (PB), penerjemah Alkitab bahasa Indonesia lebih banyak menterjemahkan kata "kurios" dengan kata "Tuhan" daripada "Tuan" untuk Yesus (tergantung konteks), ini bukanlah suatu terjemahan yang plin-plan. Penggunaan kata "Tuhan" untuk Yesus Kristus di seluruh PB justru konsisten pada kepercayaan Kristianitas. Pemilihan ini adalah untuk menekankan segi ilahi Yesus Kristus. Tapi bukan atas dasar itu maka orang kristen menganggap Yesus itu ilahi. Tidak masalah kalau semua kata "Tuhan" (terjemahan kata "Kurios") diganti "Tuan", karena Yesus tetap hakekatnya adalah Allah sebagaimana dijelaskan dalam artikel YESUS KRISTUS ADALAH ALLAH di http://www.sarapanpagi.org/viewtopic.php?p=80#80

    Permasalahan terjemahan "kurios" sebagai "Tuhan" dalam Alkitab LAI yang ditujukan kepada Yesus Kristus, itu dipersoalkan karena bobot kata "Tuhan" dalam bahasa Indonesia adalah lebih dari sekedar "tuan". Karena kata "Tuhan" ini lebih bermakna "Tuan yang ilahi" atau gelar "Tuan" yang ditujukan untuk Allah, yaitu Tuan dari segala tuan.


    Namun, penerjemahan-penerjemahan kata "kurios" sebagai "Tuhan" kepada Yesus Kristus adalah tepat. Karena Yesus Kristus memiliki kedua hakekat dalam diriNya, Allah dan manusia. Sebagai manusia, Dia lapar, haus, menderita, dan lain-lain. Sebagai Allah, Yesus Kristus itu 'pra-eksistensi', silahkan kaji ayat-ayat dibawah ini :


    * Yohanes 8:58
    Kata Yesus kepada mereka: 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.'

    KJV, Jesus said unto them, Verily, verily, I say unto you, Before Abraham was, I am.
    TR Translit, eipen autois ho iêsous amên amên legô humin prin abraam genesthai egô eimi


    Note:
    Kata kerja 'genestai', "ada", "menjadi", "eksis" ditulis dalam second aorist, mirip dengan simple past tense, sedangkan "Aku telah ada", egô eimi, seharusnya "Aku ada" ditulis dalam bentuk Present Tense. Menurut kaidah tata bahasa, perbedaan kedua kata kerja ini menunjukkan bahwa Yesus Kristus itu 'timeless being'.


    Silahkan perhatikan ayat Yohanes 8:58 dalam The Orthodox Jewish Brit Chadasha (OrthJBC) :

    "Rebbe, Melech HaMoshiach said to them, 'Omein, omein, I say to you, before Avraham came into being, Ani hu.'"


    Note:
    Ungkapan Ibrani, "ANI HU" dalam Perjanjian Lama hanya digunakan oleh TUHAN Allah, tidak pernah digunakan oleh manusia.

    (Baca artikel terkait, YESUS ADA SEBELUM ABRAHAM, di http://www.sarapanpagi.org/viewtopic.php?p=1439#1439 )



    Maka, jika seorang Kristiani mengatakan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan ("kurios") maka Dia adalah "boss", penguasa, majikan, pemilik. Namun bagi seorang Kristiani, bukan hanya itu saja. Kata itu dipakai sebagai gelar bagi Yesus bahwa Dia adalah Tuhan ("Tuan yang ilahi" atau "Tuan diatas segala tuan"). Karena Kristianitas mengimani YESUS KRISTUS ADALAH ALLAH (Theos).
    I put no stock in religion. By the word "religion" I've seen the lunacy of fanatics of every denomination be called 'the will of God'.
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  3. [size=4]3. Gelar "kurios" kepada Yesus Kristus : [/size]



    a. Gelar 'kurios', Tuhan, dinyatakan pertama kali diucapkan kepada pribadi yang bernama Yesus, oleh Malaikat Gabriel :


    * Lukas 2:11
    Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.

    KJV, For unto you is born this day in the city of David a Saviour, which is Christ the Lord.
    TR Translit, hoti etechthê humin sêmeron sôtêr hos estin christos kurios en polei dabid


    * Lukas 1 :33
    dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."

    KJV, And he shall reign over the house of Jacob for ever; and of his kingdom there shall be no end.
    TR Translit, kai basileusei epi ton oikon iakôb eis tous aiônas kai tês basileias autou ouk estai telos


    Gelar Rajawi semesta alam, di dunia dan di akhirat dengan kuasa yang tidak terbatas dan kekal, karena "KerajaanNya tidak akan berkesudahan" (Lukas 1:33). Secara ajaib, ini telah pula dirujukkan Perjanjian Lama ini :


    * Yesaya 9:5,6
    9:5 Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.
    KJV, For unto us a child is born, unto us a son is given: and the government shall be upon his shoulder: and his name shall be called Wonderful, Counsellor, The mighty God, The everlasting Father, The Prince of Peace.
    Hebrew Translit, KI-YELED YULAD-LANU BEN NITAN-LANU VATEHI HAMISRA AL-SHIKHMO VAYIKRA SHEMO PELE YO'ETS EL GIBOR AVI-AD SARO-SHALOM

    9:6 Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.
    KJV, Of the increase of his government and peace there shall be no end, upon the throne of David, and upon his kingdom, to order it, and to establish it with judgment and with justice from henceforth even for ever. The zeal of the LORD of hosts will perform this.
    Hebrew Translit, LEMARBE LEMARBE HAMISRA ULESHALOM EIN-KETS AL-KISE DAVID VEAL-MAMLAKHTO LEHAKHIN OTA ULESA'ADA BEMISHPAT UVITSDAKA MEATA VEAD-OLAM KINAT YEHOVAH TSEVA'OT TA'ASE-ZOT


    Bagi sosok ANAK yang mempunyai "lambang pemerintahan" diatas bahuNya.... Dengan kekuasaan besar, damai sejahtera yang tidak berkesudahan.... Dengan keadilan dan kebenaran sampai selama-lamanya. Maka dengan jelas sekali Alkitab menyatakan Yesus Kristus sebagai Penguasa ("kurios").



    b. Kedudukan Yesus sebagai Tuhan atas semesta alam juga diteguhkan oleh Dia sendiri :



    * Yohanes 13:13-14
    13:13 Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan
    KJV, Ye call me Master and Lord: and ye say well; for so I am.
    TR Translit, humeis phôneite me ho didaskalos kai ho kurios kai kalôs legete eimi gar

    13:14 Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu;
    KJV, If I then, your Lord and Master, have washed your feet; ye also ought to wash one another's feet.
    TR Translit, ei oun egô enipsa umôn tous podas ho kurios kai ho didaskalos kai humeis opheilete allêlôn niptein tous podas


    * Matius 28:20
    dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.

    KJV, Teaching them to observe all things whatsoever I have commanded you: and, lo, I am with you alway, even unto the end of the world. Amen.
    TR Translit, didaskontes autous têrein panta osa eneteilamên humin kai idou egô meth humôn eimi pasas tas êmeras eôs tês sunteleias tou aiônos amên


    Lukas sering menyebut Yesus "kurios" dalam artian 'Tuhan' bukan 'Tuan' biasa, dengan kata sandang "ho kurios" bila berceritera :


    * Lukas 7:13
    Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: "Jangan menangis!

    KJV, And when the Lord saw her, he had compassion on her, and said unto her, Weep not.
    TR Translit, kai idôn autên ho kurios esplagchnisthê ep autê kai eipen autê mê klaie


    * Lukas 10:1
    Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya.

    KJV, After these things the LORD appointed other seventy also, and sent them two and two before his face into every city and place, whither he himself would come.
    TR : meta de tauta anedeixen ho kurios kai eterous ebdomêkonta kai apesteilen autous ana duo pro prosôpou autou eis pasan polin kai topon emellen autos erchesthai

    Dan ayat-ayat lain di Injil Lukas.


    Penggunaan gelar ho kurios itu mengisyaratkan bahwa Lukas benar-benar menyadari bahwa arti lengkap gelar ini tidak dipahami sebelum kebangkitan. Tetapi Lukas ingin menunjukkan bahwa selama hidupNya dalam pelayananNya di dunia ini, Yesus bertindak dengan otoritas yang sama yang dimilikiNya baik sebelum dan sesudah kebangkitanNya.


    Lebih jelas dalam ayat-ayat dibawah ini Yesus merujuk bahwa diriNya "kurios" yang ilahi, Tuhan, Tuan diatas segala tuan :


    * Matius 7:21-23
    7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
    KJV, Not every one that saith unto me, Lord, Lord, shall enter into the kingdom of heaven; but he that doeth the will of my Father which is in heaven.
    TR Translit, hou pas ho legôn moi kurie kurie eiseleusetai eis tên basileian tôn ouranôn all ho poiôn to thelêma tou patros mou tou en ouranois

    7:22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
    KJV, Many will say to me in that day, Lord, Lord, have we not prophesied in thy name? and in thy name have cast out devils? and in thy name done many wonderful works?
    TR Translit, polloi erousin moi en ekeinê tê hêmera kurie kurie hou tô sô onomati proephêteusamen kai tô sô onomati daimonia exebalomen kai tô sô onomati dunameis pollas epoiêsamen

    7:23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"
    KJV, And then will I profess unto them, I never knew you: depart from me, ye that work iniquity.
    TR Translit, kai tote omologêsô autois hoti oudepote egnôn humas apochôreite ap emou hoi ergazomenoi tên anomian


    Perhatikan ayat 21 diatas, Yesus jelas menyatakan dirinya adalah "kurios", "Tuan, Penguasa, Pemilik" atas Kerajaan Surga. Dan pemilik dan penguasa Kerajaan Surga tidak lain adalah Allah sendiri.


    Banyak sekali rujukan-rujukan dalam Alkitab, yang menyatakan secara jelas bahwa Yesus adalah "kurios" : "Tuhan", Pencipta, yang berkedudukan sebagai "Tuan, Penguasa, Pemilik", diantaranya sebagai berikut :



    * Yohanes 1:3
    Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

    KJV, All things were made by him; and without him was not any thing made that was made.
    TR Translit, panta di autou egeneto kai chôris autou egeneto oude en ho gegonen


    * Kolose 1:16
    karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.

    KJV, For by him were all things created, that are in heaven, and that are in earth, visible and invisible, whether they be thrones, or dominions, or principalities, or powers: all things were created by him, and for him:
    TR Translit, oti en autô ektisthê ta panta ta en tois ouranois kai ta epi tês gês ta orata kai ta aorata eite thronoi eite kuriotêtes eite archai eite exousiai ta panta di autou kai eis auton ektistai



    Seseorang yang telah mendapat jamahan dari Roh Kudus-lah yang dapat mengaku 'Yesus adalah Tuhan' :


    * 1 Korintus 12:3
    Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: 'Terkutuklah Yesus!' dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: 'Yesus adalah Tuhan', selain oleh Roh Kudus.

    KJV, Wherefore I give you to understand, that no man speaking by the Spirit of God calleth Jesus accursed: and that no man can say that Jesus is the Lord, but by the Holy Ghost.
    TR Translit, dio gnôrizô umin oti oudeis en pneumati theou lalôn legei anathema iêsoun kai oudeis dunatai eipein kurion iêsoun ei mê en pneumati agiô



    Yesus Kristus adalah Tuhan ("kurios"), Dia juga adalah Allah ("theos"), perhatikan pengakuan Tomas dalam ayat ini :


    * Yohanes 20:28
    Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!"

    KJV, And Thomas answered and said unto him, My LORD and my God.
    TR Translit, kai apekrithê ho thômas kai eipen autô ho kurios mou kai ho theos mou



    Yesus Kristus adalah Sang Firman yang menjadi manusia, Allah yang menyatakan diri-Nya dalam wujud manusia :


    * Yohanes 1:14
    Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

    KJV, And the Word was made flesh, and dwelt among us, (and we beheld his glory, the glory as of the only begotten of the Father,) full of grace and truth.
    TR Translit, kai ho logos sarx egeneto kai eskênôsen en hêmin kai etheasametha tên doxan autou doxan hôs monogenous para patros plêrês charitos kai alêtheias


    * 1 Timotius 3:16
    Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: 'Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan.

    KJV, And without controversy great is the mystery of godliness: God was manifest in the flesh, justified in the Spirit, seen of angels, preached unto the Gentiles, believed on in the world, received up into glory.
    TR Translit, kai omologoumenôs mega estin to tês eusebeias mustêrion theos ephanerôthê en sarki edikaiôthê en pneumati ôphthê aggelois ekêruchthê en ethnesin episteuthê en kosmô anelêphthê en doxê



    Amin.




    Blessings in Christ,
    BP
    August 28, 2006





    Artikel terkait :

    - Study kata 'KURIOS', di http://www.sarapanpagi.org/viewtopic.php?p=4#4

    - YESUS KRISTUS ADALAH ALLAH (Theos), di http://www.akupercaya.com/forum/showthread.php?p=96507#post96507

    - ADAKAH YESUS MERASA DIRINYA ALLAH?, di http://www.akupercaya.com/forum/belajar-alkitab/2783-yesus-kristus-adalah-allah.html#post319314

    - YESUS ADALAH YHVH, di http://www.akupercaya.com/forum/showthread.php?t=2787

    - KRISTOLOGI : INKARNASI (PENJELMAAN), di http://www.akupercaya.com/forum/pendalaman-alkitab/4145-kristologi-inkarnasi.html#post165132



    Sumber:
    - Online Bible Greek Lexicon :
    - A Greek-English Lexicon of the New Testament and Early Christian Literature, Third Edition, Revised and Edited by Frederick William Danker, © 2000 The University of Chicago.
    - Shorter Lexicon of the Greek New Testament, F. Wilbur Gingrich, © 1983 The University of Chicago
    - Yohannes/ Biblika
    - Ensikloperdi Alkitab Masa Kini, p 39.
    Dan beberapa sumber lain.
    I put no stock in religion. By the word "religion" I've seen the lunacy of fanatics of every denomination be called 'the will of God'.
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  4. Join Date
    Dec 2004
    Location
    Batavia Kota "Edan"
    Posts
    1,639
    Rep Power
    13

    Bang .. Kok dibuat thread khusus???
    [CENTER][COLOR="Blue"][B][I]"Bukan berlimpahnya pengetahuan,
    melainkan merasakan dan mencecap dalam-dalam kebenaran,
    itulah yang memperkenyang dan memuaskan jiwa"[/I]
    (Catatan Pendahuluan L.R. 2)[/B][/COLOR][/CENTER]
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  5. Join Date
    Dec 2004
    Location
    Batavia Kota "Edan"
    Posts
    1,639
    Rep Power
    13

    YESUS ITU TUHAN
    SEBUAH REFLEKSI KRITIS
    (Bagian 1)

    Ioanes Rakhmat

    “Sebab sungguhpun ada yang disebut allah-allah, baik di sorga maupun di bumi – dan memang benar ada banyak allah dan banyak tuhan – namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu sang Bapa, yang daripada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang melalui-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang oleh-Nya kita hidup.”
    (1 Korintus 8:5-6)

    1. Pendahuluan

    Kajian eksegetis dan perenungan tentang Yesus sebagai Tuhan dapat bertolak dari banyak teks dalam Perjanjian Baru. Orang bisa memulainya dari sebuah madah kristologis pra-Paulinis Filipi 2:6-11; dalam madah ini dinyatakan bahwa Allah dimuliakan karena Ia telah “meninggikan” Yesus yang telah mati disalibkan, dan telah memberi-Nya “nama di atas segala nama” supaya segala lidah mengaku bahwa “Yesus Kristus adalah Tuhan (kyrios).” Atau orang bisa juga bertolak dari teks yang lebih kemudian, seperti Kisah 2:36 yang berisi suatu pengakuan tua bahwa melalui kebangkitannya Allah telah membuat (epoiēsen ho theos) Yesus itu “Tuhan dan Kristus.” Atau, untuk kebutuhan yang sama, orang dapat berpaling kepada surat-surat Paulinis.

    Di dalam surat-surat Paulinis gelar “Tuhan” (kyrios) bagi Yesus Kristus muncul sebanyak dua ratus tiga puluh kali (note 1); angka ini menunjukkan sangat pentingnya gelar tersebut dalam kristologi Paulinis. Beberapa teks dapat disebutkan. Dalam 1 Korintus 12:3, misalnya, dinyatakan bahwa tidak ada seorangpun “dapat berkata (dunatai eipein) Yesus adalah Tuhan” kecuali oleh Roh Kudus (note 2). Atau Roma 10:9, di mana Rasul Paulus menyatakan bahwa kepercayaan pada kebangkitan Yesus Kristus harus eksplisit diungkapkan dalam suatu pengakuan lisan (bisa jadi dalam sakramen pembaptisan) bahwa “Yesus adalah Tuhan” sehingga orang diselamatkan. Atau 2 Korintus 4:5 (bdk. Kolose 2:6) di mana Rasul Paulus mengikhtisarkan seluruh pemberitaannya sebagai pemberitaan tentang “Yesus Kristus sebagai Tuhan.”

    Dalam kesempatan ini, penulis memilih teks 1 Korintus 8:5-6 sebagai titik tolak perenungannya. Pilihannya ini didasarkan pada beberapa alasan. Pertama, pengakuan dalam teks ini bahwa hanya ada “satu Tuhan saja (heis kyrios), yaitu Yesus Kristus” ditempatkan oleh Paulus dalam suatu konteks dunia kuno Laut Tengah yang ditandai oleh kemajemukan klaim keilahian (“ada yang disebut allah-allah [legomenoi theoi]”; “ada banyak allah” [theoi polloi]; dan “ada banyak tuhan” [kyrioi polloi]). Kedua, pengakuan hanya ada “satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus” tidak dipisahkan dari kepercayaan monoteistik Yahudi bahwa hanya ada “satu Allah saja (heis theos), yaitu sang Bapa (ho patēr).” Ketiga, pengakuan hanya ada “satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus” adalah juga pengakuan bahwa Yesus Kristus terlibat dalam penciptaan “segala sesuatu” (ta panta) dan dialah pemberi hidup.

    Uraian selanjutnya dibagi dalam beberapa pokok: 1) 1 Korintus 8:5-6 dalam konteks sastranya; 2) Pluralitas klaim keilahian dalam dunia Yunani-Romawi; 3) Monoteisme dan kepercayaan pada Yesus sebagai heis kyrios; 4) Refleksi.

    2. 1 Korintus 8:5-6 dalam Konteks Sastranya

    1 Korintus 8:5-6 muncul dalam konteks perbincangan Paulus mengenai makan daging yang sudah dipersembahkan kepada berhala (eidōlon) (1 Korintus 8:1-13). Dalam konteks ini, Paulus melihat ada dua golongan orang di dalam jemaat Korintus. Pada satu pihak, ada orang-orang yang “kuat” (nuraninya) dan memiliki “pengetahuan” (bahwa “tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa” [ayat 4]), dan, karenanya, memiliki “kebebasan” (hē eksousia; ayat 9). Pada pihak lain, ada orang-orang yang “lemah nuraninya” (ayat-ayat 7, 9, 11,12) dan “masih terus terikat pada berhala-berhala” (ayat 7) (note 3).

    Persoalan muncul ketika orang-orang yang memiliki “pengetahuan” itu memakan daging yang sudah dipersembahkan kepada berhala di kuil berhala tanpa memperhatikan bahwa saudara-saudaranya yang “lemah”, yang karena melihat mereka sedang makan, terdorong untuk makan juga (ayat 10). Ini menjadi masalah, karena orang-orang yang “lemah” ini, yang masih terus terikat kepada berhala-berhala, ketika mereka makan daging yang sudah dipersembahkan kepada berhala, mereka memandang daging itu bukan sebagai makanan yang berasal dari Allah yang esa (“sumber dari segala sesuatunya”), tetapi sebagai daging yang sudah diberikan kepada berhala (ayat 7). Dengan demikian, mereka, karena makan daging, semakin terikat kembali kepada berhala-berhala, dan semakin dijauhkan dari kepercayaan pada “Allah yang satu” dan “Tuhan yang satu.” Atau, memakai kata-kata Paulus, karena makan daging, hati nurani mereka yang lemah itu “dinodai” (ayat 7) dan “dilukai” (ayat 12), atau mereka “menjadi binasa” (ayat 11). Sedangkan, orang-orang yang mempunyai “pengetahuan” telah menjadi “batu sandungan” bagi mereka yang “lemah” (ayat 9), telah “berdosa” terhadap mereka, dan, pada hakikatnya, telah berdosa terhadap Kristus (ayat 12).

    Fungsi teks 1 Korintus 8:5-6 bagi persoalan makan daging tentu lebih dari sekadar untuk memberi suatu penegasan teologis bahwa tidak ada sesuatu apapun, termasuk daging hewan, yang tidak berasal dari Allah yang esa (ayat 6b). Paulus menegaskan, seperti sudah dicatat, bahwa berdosa terhadap orang-orang yang “lemah” dalam komunitas sama dengan berdosa terhadap Kristus. Jadi, ada relasi antara apa yang terjadi pada tatanan realitas sosial (yakni, terpecahnya komunitas karena anggota-anggotanya yang “lemah” ternodai, terlukai dan terbinasakan) dan “dunia simbolik” (teologi; yakni kepercayaan pada Kristus). Begitu juga, harus ada korelasi antara (dunia simbolik) kepercayaan pada “satu Allah dan satu Tuhan” (1 Korintus 8:5-6) dan tatanan realitas sosial (komunitas atau jemaat Korintus). Kepercayaan pada “satu Allah dan satu Tuhan” bagaimana pun juga harus diekspresikan secara sosial dalam bentuk terbangunnya satu komunitas yang utuh, yang tidak terdisintegrasi. Jerome H. Neyrey menulis, “One, true God corresponds to one, authentic people” (note 4). Rasul Paulus, dalam 1 Korintus 12 dengan eksplisit menyatakan: kepercayaan pada “satu Allah” dan “satu Tuhan” (dan “satu Roh”) harus menghasilkan “satu tubuh,” hen sōma (ayat 4,5,6,13). Jadi, dalam konteks komunitas Korintus, sudah seharusnya orang-orang yang “kuat” itu, karena kepercayaan mereka pada “satu Allah dan satu Tuhan”, mengupayakan dan mempertahankan kesatuan dan keutuhan komunitas mereka.

    Kalau komunitas sampai terpecah, maka pasti ada sesuatu yang salah sebagai penyebabnya. Yang salah jelas bukan dunia simbolik mereka (kepercayaan teologis tentang satu Allah dan satu Tuhan), tetapi sesuatu yang lain. Paulus melihat penyebabnya ada pada ketidakmampuan orang-orang yang “kuat” itu untuk mengendalikan tubuh fisikal mereka, lubang mulut mereka; ini berakibat pada disintegrasi “tubuh sosial” (komunitas). Mereka hanya mau memenuhi kebutuhan tubuh fisikal (“mikro kosmos”), tanpa mau peduli pada keutuhan “tubuh sosial” (“makro kosmos”, komunitas). Tiadanya kendali pada tubuh fisikal individual, telah menimbulkan disintegrasi pada tubuh sosial. Kalau mereka mengalami masalah dengan tubuh fisikal mereka (yakni, ketidakmampuan mengendalikan lubang mulut), maka hal ini menjadi suatu ancaman serius bagi tubuh sosial; tubuh sosial akan terpecah (note 5). Untuk mempertahankan dan melindungi keutuhan tubuh sosial (komunitas), Paulus meminta orang-orang yang “kuat” itu mengendalikan tubuh fisikal mereka, lubang mulut mereka: “Jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah” (ayat 9); dan, dengan memakai contoh dirinya sendiri, ia menasihati mereka yang “kuat” untuk tidak menjadi batu sandungan dengan cara tidak makan daging lagi: “Apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku” (ayat 13).

    Pendek kata, kepercayaan pada “satu Allah dan satu Tuhan” harus menghasilkan “satu tubuh sosial” (komunitas) yang utuh dan bersatu. Supaya keutuhan ini tercipta, orang harus mampu mengendalikan dan mengatur fungsi-fungsi tubuh fisikal.

    3. Pluralitas Klaim Keilahian dalam Dunia Yunani-Romawi

    Dunia sosiokultural, religius dan politis Yunani-Romawi kuno yang menjadi konteks historis-kultural kehidupan komunitas-komunitas Kristen yang didirikan oleh Paulus ditandai oleh “pluralisme” dan toleransi yang ramah di dalam kehidupan kultis keagamaan. Di provinsi-provinsi kekaisaran Romawi sebelah timur, tidak ada satu “agama” kekaisaran yang resmi diterima. Praktek-praktek kultis keagamaan yang berbagai jenis diterima dengan toleran (note 6). Bagi orang-orang Yahudi di kota-kota dunia Yunani-Romawi, desakan-desakan untuk menandingi dan juga untuk mengambil keuntungan dari toleransi umum ini sangat besar. Kepercayaan monoteistik Yudaisme menghasilkan praktek-praktek khas yang mempertahankan integritas komunal mereka sebagai suatu umat yang unik di tengah dunia yang toleran dan pluralistik (note 7).

    Kekristenan juga mengambil sikap yang serupa. Seperti dalam semua bentuk Yudaisme, di dalam kekristenan yang didirikan Paulus, ditegaskan suatu pengakuan monoteistik bahwa “Allah itu satu”(note 8). Oleh Paulus, dunia dibagi menjadi dua golongan, yakni dunia Kristen yang percaya pada “Allah yang hidup dan yang benar”, dan dunia bangsa-bangsa yang menyembah berhala-berhala (1 Tesalonika 1:9). Bagi Paulus, kepercayaan kepada Allah yang esa harus diekspresikan secara sosial dalam bentuk kesatuan eksklusif dari para anggota komunitas, kesatuan yang memiliki batas-batas kuat dan tegas yang memisahkan mereka dari kultus-kultus religius lainnya (note 9). Pada masa Paulus aktif dengan kegiatan-kegiatan misioner evangelistiknya (34-64) di kawasan-kawasan Laut Tengah utara, khususnya di Asia Kecil, Masedonia dan Akhaia, kekristenan di dunia Yunani-Romawi dapat cepat berkembang tanpa hambatan dari pihak pemerintah Roma (note 10). Selain harus mempertahankan kesatuan internal yang kokoh, yang diikat oleh suatu pengakuan atas Allah yang satu dan Tuhan yang satu, kekristenan yang tumbuh sebagai suatu kultus di tengah dunia religius yang majemuk juga harus terlibat persaingan untuk memperebutkan anggota-anggota baru dengan kultus-kultus keagamaan lainnya (note 11).

    Kalau Paulus mengatakan ada banyak allah dan ada banyak tuhan (1 Korintus 8:5-6), ia tentu dapat diandaikan sedang merujuk bukan hanya kepada dewa-dewa tradisional Yunani (note 12) atau kepada dewa-dewa yang resmi diakui negara dan yang disembah dalam kultus-kultus lokal, atau kepada dewa-dewi dalam kultus-kultus keluarga (Penates, Lares, dan “genius”/“malaikat pelindung”), tetapi juga kepada dewa-dewi yang disembah dalam pelbagai jenis agama atau kultus misteri dan kepada tokoh-tokoh adi-insani (“superhuman”) yang telah diilahikan, dideifikasi (apotheōsis), menjadi allah dan tuhan atau “manusia ilahi” yang disembah dalam pelbagai kultus dan yang (sebagian) dijadikan allah-allah negara.

    3.1 Dewa-dewi dalam Agama-agama Misteri

    3.1.1 Kultus Isis (& Osiris)

    Di dalam kultus Isis yang berasal dari Mesir, yang sudah dikenal di luar Mesir sejak abad 5 s.M., dan tetap bertahan sampai abad 4 M di dunia Yunani-Romawi, Dewi Isis (bersuamikan Osiris) disembah sebagai “Ibu atas Segala Sesuatu” (note 13); ia ditinggikan sebagai “Ratu sorga”, “Dewi Penyembuh” yang memiliki obat untuk hidup kekal; ia menyatakan diri sebagai Penguasa daratan, yang memisahkan bumi dari sorga: “Akulah Isis (egō eimi Isis), penguasa seluruh daratan, Akulah dia yang telah menemukan buah-buahan untuk umat manusia, Akulah dia yang memisahkan bumi dari sorga....” (note 14). Di dalam buku Metamorphoses (11.5:1-3) yang ditulis Apuleius (lahir 123 M.), dimuat aretalogi penyataan diri Isis: “... Akulah Ibu dari alam semesta, Ibu segala unsur, Yang sulung dari segala dunia, Yang tertinggi dari semua allah, Ratu alam maut, Yang pertama dari segala yang ada di sorga, Bentuk tunggal yang menyerap semua allah,.... Akulah Allah yang tunggal yang disembah oleh seluruh dunia melalui pelbagai macam cara, melalui ritus-ritus, dan dengan banyak nama ....” Isis diakui sebagai “Juru selamat yang kekal dan paling kudus untuk umat manusia” (note 15). Aretalogi ini jelas condong menempatkan Dewi Isis dalam kerangka universalisme dan monoteisme (note 16).

    3.1.2 Kultus Sarapis

    Di dalam kultus Sarapis, yang juga berasal dari Mesir dan bersama dengan kultus Isis menyebar keluar Mesir, Dewa Sarapis, melalui perantara manusia, mengundang para penyembahnya untuk datang mengikuti perjamuan suci: “Sang Dewa mengundang anda ke perjamuannya yang akan diselenggarakan di kuil Thoeris, besok pada jam yang kesembilan” (note 17).

    3.1.3 Dewa Mithras

    Penyembahan kepada Dewa Matahari agung Persia yang bernama Mithras (“perjanjian”) melahirkan kultus Mithras (para anggotanya eksklusif kaum pria) yang berkembang di Roma dan tempat-tempat lain. Pada akhir abad 3 M., Mithras dijadikan Allah resmi kekaisaran Roma (note 18). Para anggota kultus ini menantikan kedatangan kembali dewa Mithras pada akhir zaman (note 19). Di dalam kultus ini, ketika diadakan acara penyambutan kepada anggota baru, diselenggarakan suatu perjamuan yang unsur-unsurnya sama dengan unsur-unsur yang terdapat di dalam ekaristi Kristen: roti, anggur dan kata-kata yang mengiringi (note 20).

    3.1.4 Kultus Asklepios

    Di dalam Himne Homerik (abad 5 s.M.) dinyatakan bahwa Asklepios adalah manusia setengah dewa dan setengah manusia, dilahirkan dari perkawinan Dewa Apollo dengan Puteri Koronis dari Tesalonika. Setelah kematiannya, ia diangkat menjadi seorang Hero, dan akhirnya mendapat status Allah. Ia (bersama puterinya, Hygieia, personifikasi kesehatan dan kesejahteraan) disembah sebagai Dewa penyembuh; dan dipandang sebagai Dewa yang paling bersimpati dengan manusia yang menderita dan berkenan menyembuhkan mereka. Kuil-kuil pemujaan terhadap Dewa Asklepios didirikan di banyak tempat, seperti di Athena, Pergamum dan Cos; tetapi pusatnya terdapat di Epidauros. Pada masa Hellenistik, jumlah kuil Asklepios mencapai 300 buah; angka ini menandakan keberhasilan kultus ini dalam berpropaganda (note 21). Penggalian di kota Korintus memperlihatkan adanya kuil Asklepios di kota ini, lengkap dengan ruang-ruang makan untuk para pengunjung dan pasien yang mencari kesembuhan dari sang Dewa. Peringatan Paulus di dalam 1 Korintus 8:10 untuk tidak makan daging di kuill berhala tentu mengacu ke kuil Asklepios ini. Suatu kali, sehabis terjadi suatu kesembuhan, suatu pujian diangkat untuk Dewa Asklepios: “O Tuhan dan Allah, betapa besar kuasamu” (note 22). Seorang penulis kuno menaikkan pujian kepada Asklepios: “Aku mau memberitakan penampakan-penampakannya yang ajaib, keagungan kuasanya dan manfaat dari karunia-karunianya” (note 23).

    3.1.5 Manusia ilahi (theios anēr)

    Apollonius dari Tyana (sebuah kota kecil di Asia Kecil, di provinsi Kappadokia), hidup pada abad 1 (antara 4-96), adalah seorang filsuf Pythagorean, seorang pengkotbah keliling yang menyampaikan hikmat rahasia dari Timur (ia berguru antara lain di Babilonia, Mesir dan India), seorang pembaru agama, dan seorang pembuat mujizat. Biografi tentang dirinya (berjudul Vita Apollonii) ditulis lebih dari satu abad kemudian oleh Flavius Philostratus (hidup antara 170 dan 245), lengkap ditulis pada tahun 222. Pada tahun-tahun awal kegiatannya, Apollonius banyak menghabiskan waktunya di kuil Asklepios di Aegae; ini menyiapkan dirinya menjadi penyembuh. Di dalam Vita Apollonii 2.17 dan 8.15, Apollonius dari Tyana disebut sebagai seorang “manusia ilahi”, theios anēr; dan di dalam 5.24 dinyatakan bahwa kerumunan orang banyak di Mesir memandangnya “seperti memandang Allah (theos).” Kata-kata sifat theios (“ilahi”) dan daimonios (“bersifat ilahi”) sering dipakai untuknya (Vita Apollonii 1.2).

    Di dalam biografi Philostratus itu, kelahiran dan akhir hidup Apollonius dari Tyana digambarkan penuh dengan peristiwa-peristiwa ajaib: suatu Dewa Mesir berbicara kepada ibunya di dalam suatu mimpi; ketika ia dilahirkan angsa-angsa bernyanyi, dan kilat menyambar dari angkasa ke bumi sehingga penduduk memproklamirkan dia sebagai Anak Dewa Zeus (paida tou Dios). Ketika usianya sudah cukup, ia masuk sekolah, dan semua orang heran atas daya ingatnya yang luar biasa dan atas parasnya yang rupawan. Di akhir hidupnya tidak dinyatakan bahwa ia mati, tetapi ia raib, menghilang, namun tidak jelas bagaimana caranya. Kuburannya tidak ada; tetapi ia menampakkan diri kembali kepada seorang muridnya yang tidak percaya. Pengangkatannya ke sorga diceritakan berlangsung dari sebuah kuil, dengan diiringi nyanyian gadis-gadis: “Meninggalkan bumi dan masuk ke sorga.” Aktivitasnya digambarkan sepenuhnya paralel dengan aktivitas Yesus: hidup berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya, mengajar, membuat mujizat-mujizat, mengusir setan-setan (Vita Apollonii 4.20; 2.4; 3.8; 4.10,25; 6.27), dan membangkitkan orang mati (Vita Apollonii 4.45). Di sekitarnya terbentuk ikatan para murid. Karena itu tidaklah mengejutkan jika pada abad 4 Apollonius dari Tyana dipandang sebagai figur tandingan Yesus Kristus (note 24).
    [CENTER][COLOR="Blue"][B][I]"Bukan berlimpahnya pengetahuan,
    melainkan merasakan dan mencecap dalam-dalam kebenaran,
    itulah yang memperkenyang dan memuaskan jiwa"[/I]
    (Catatan Pendahuluan L.R. 2)[/B][/COLOR][/CENTER]
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  6. Join Date
    Dec 2004
    Location
    Batavia Kota "Edan"
    Posts
    1,639
    Rep Power
    13

    YESUS ITU TUHAN
    SEBUAH REFLEKSI KRITIS
    (Bagian 2)

    Ioanes Rakhmat

    3.2 Apotheōsis (Pengilahian/Deifikasi Manusia)
    dalam Kultus Penguasa, Kultus hero dan Kultus Kaisar

    3.2.1 Kultus Penguasa (note 25)

    Lysander (seorang jendral Sparta dalam Perang Peloponnesia [431-404 s.M.]) adalah orang Yunani pertama yang untuknya, ketika ia masih hidup dan perang hampir berakhir (404 s.M.), kota-kota membangun altar-altar dan memberikan kurban-kurban; dan yang untuknya juga madah-madah keagamaan digubah dan dinyanyikan. Kultus dirinya ini didirikan sebagai suatu bentuk penghormatan atas kemenangan-kemenangannya melawan orang-orang Athena, sehingga orang-orang Sparta memperoleh kembali negeri, kedaulatan dan harta milik mereka.

    Pelbagai penghormatan ilahi (berupa kurban-kurban syukur, kompetisi atletik, altar, citra kultis) diberikan kepada Antigonus I (orang Masedonia, seorang jendral dari Aleksander Agung) pada tahun 311 s.M., karena ia telah membawa kabar baik (euaggelion) kepada penduduk kota Skepsis (dekat Troy, sebelah barat laut Asia Kecil) bahwa ia telah membuat perjanjian damai dengan para jendral lainnya dan bahwa “semua pihak yang mengadakan perjanjian itu” menjamin adanya “kebebasan dan otonomi bagi semua negara bagian”.

    Pada tahun 307 s.M., Demetrius yang diberi gelar Poliorketēs (“penakluk kota-kota”), putera tertua dari dua putera Antigonus, membebaskan kota Athena dari seorang penguasa tiran dan dari pendudukan orang-orang Masedonia. Sejak itu orang-orang Athena memberi penghormatan kepadanya; dan pada kunjungan keduanya di kota Athena (tahun 304 s.M.) tempat ia berpijak setelah turun dari kereta perangnya dinyatakan sebagai tempat kudus dari “Allah yang turun”, dan sebuah altar dibangun di situ. Suatu madah kultis digubah untuk memujanya. Dalam madah ini dinyatakan antara lain bahwa ia adalah “Yang terbesar dari para allah, yang sedang datang masuk (pareisin) ke kota kami”; “Anak dari Dewa perkasa Poseidon dan Dewi Aphrodite”; dan bahwa, berbeda dari dewa-dewa lain yang jauh dari umat, tuli, atau tidak ada, atau tidak memedulikan mereka, ia “berada di tengah kami bukan dalam bentuk kayu atau batu tetapi secara jasmaniah, karena itu kami berdoa kepadamu”; bahwa ia “membawa perdamaian karena engkau adalah Tuhan (kyrios).”

    3.2.2 Kultus Hero (note 26)

    Kultus hero adalah pemujaan atas orang yang sudah meninggal, yang semasa hidupnya telah melakukan tindakan-tindakan heroik luar biasa, dan yang dipercaya masih tetap memiliki kuasa setelah kematiannya. Orang mati yang telah dinyatakan sebagai “hero” dapat naik statusnya menjadi semacam “demigod”, manusia setengah dewa, atau lebih tinggi lagi menjadi daimōn, dan yang pada akhirnya dapat menjadi Allah. Pusat kultus dirinya adalah kuburannya yang berisi tulang-belulangnya. Orang-orang Athena mendirikan kultus hero untuk Theseus, pendiri demokrasi Athena yang legendaris, karena dilaporkan bahwa ia telah “menampakkan diri kembali” setelah kematiannya dalam pakaian perang lengkap di kota Marathon, ketika berlangsung perang melawan orang-orang Persia. Setelah Perang Persia berakhir, atas petunjuk suatu orakel (wangsit) Delphik (476/5 s.M.), tulang-belulangnya dipindahkan ke Athena dan dikuburkan kembali di tempat terhormat. Tempat keramat kuburannya menjadi tempat pelarian para budak dan orang-orang kebanyakan yang takut terhadap orang-orang yang lebih berkuasa dari mereka. Semasa hidupnya Theseus memang dikenal sebagai orang yang memberikan perlindungan dan bantuan kepada orang-orang tertindas.

    3.2.3 Deifikasi Alexander Agung (note 27)

    Kemahabesaran Alexander Agung (356-323 s.M.) telah melahirkan banyak mitos dan legenda tentang dirinya. Peristiwa kelahirannya dituangkan dalam suatu mitos. Konsepsi dirinya dalam kandungan ibunya (Olympias) digambarkan sebagai akibat penetrasi kekuatan supranatural dari dunia ilahi. Sebelum ibu dan ayahnya (raja Philip II dari Masedonia) memasuki malam pengantin, sang ibu bermimpi terjadi “guntur menggelegar dan kilat masuk ke dalam tubuhnya; kilat ini menimbulkan api besar yang berkobar-kobar dan menyebar ke segala arah.” Beberapa waktu kemudian, setelah perkawinan, Philip bermimpi pula. Dalam mimpinya ia membubuhi sebuah segel ke tubuh isterinya, dan tampak kepadanya bahwa ukiran pada segel itu menampilkan gambar seekor singa. Mimpi-mimpi ini ditafsirkan. Ukiran singa pada segel menunjukkan bahwa akan dilahirkan seorang anak laki-laki yang “gagah berani dan penuh gairah seperti seekor singa”; dan “api besar yang berkobar-kobar dan menyebar ke segala arah” menandakan bahwa anak yang dikandung itu akan menjadi penakluk dunia. Juga diceritakan bahwa suatu saat, ketika ratu Olympias sedang tidur, “tampak seekor ular menjalar, meliliti tubuhnya”; ini diartikan bahwa yang menjadi ayah Alexander Agung bukanlah Philip, tetapi Dewa Zeus-Ammon, yang datang sebagai seekor ular yang mengadakan hubungan seksual dengan Olympias. Alexander Agung sendiri percaya bahwa dirinya adalah “anak Zeus” (pai Dios) karena ia disapa dengan nama itu oleh imam di oasis Siva di padang gurun Lybia, ketika ia mencari wangsit dari Zeus-Ammon.

    Ketika Alexander Agung benar-benar berhasil menjadi penakluk dunia, beberapa kota Yunani di Asia Kecil memujanya sebagai Allah. Kultus pemujaan terhadap Aleksander Agung ini didirikan ketika ia masih hidup, yakni ketika ia melakukan kampanye militernya di Asia Kecil (334-333 s.M.) untuk membebaskan orang-orang Yunani di situ dari penindasan Persia. Kultus ini dibangun sebagai suatu penghormatan ilahi terhadap dirinya. Di Efesus terdapat sebuah kuil untuk kultus Alexander Agung lengkap dengan imamnya (dari 102-116 M).

    Lain halnya bagi penduduk kota-kota di Yunani sendiri. Pada tahun 324 s.M., di Athena dan Sparta timbul diskusi mendalam tentang apakah Alexander Agung harus dideifikasikan. Diskusi ini melahirkan sebuah keputusan untuk memberikan gelar ilahi bagi Alexander Agung. Utusan-utusan dari Yunani mendatangi Alexander yang sedang berada di Babilonia untuk menganugerahkannya penghormatan ilahi; mereka datang dengan memakai mahkota-mahkota yang hanya cocok dipakai ketika orang datang menghadap Allah. Alexander Agung sendiri memang menginginkan suatu penghormatan ilahi diberikan kepadanya, mengingat keberhasilannya dalam memikul tugas besar yang adi-insani dan kedudukannya yang tinggi. Dengan meminta dirinya di-“apotheosis”-kan, Alexander Agung telah membuka jalan untuk para pemimpin lainnya melakukan hal yang sama. Pada tahun 323 s.M. Alexander Agung terserang demam yang membawanya pada kematian di Babilonia pada usia yang masih muda, kurang dari 33 tahun.

    3.2.4 Deifikasi Kaisar-kaisar Roma dalam Kultus-kultus Kaisar

    Dalam masa pemerintahannya, Julius Kaisar sudah diberikan penghormatan-penghormatan kultis: silsilah mitis disusun untuknya bahwa ia adalah anak dari Dewa Ares/Mars dan Dewi Aphrodite/Venus; patung dirinya dibangun di dalam kuil Dewa Quirinus; nama “Juli” dijadikan nama suatu bulan; sebuah kuil dibangun untuk dirinya dengan imamnya Mark Antony. Di dalam sebuah inskripsi/prasasti dari Efesus (berasal dari tahun 49 s.M.), tentang dirinya antara lain dikatakan bahwa ia adalah “Allah yang telah menampakkan diri (tēs theon epifanē) dan penyelamat kehidupan manusia (tou anthrōpinou biou sōtēra).” Sebuah inskripsi lain dari tahun yang sama, dari Demetrias di Thessaly, menyatakan “Gaius Julius Caesar, Imperator, Allah.” Setelah kematiannya (dibunuh, tahun 44 s.M.), berdasarkan suatu kesaksian bahwa rohnya telah naik ke sorga dari tumpukan perapian yang bernyala-nyala, Julius Kaisar resmi di-apotheosis-kan, dan ia dinyatakan sebagai salah satu Allah negara. Suetonius menceritakan bahwa selama kompetisi atletik pertama yang diselenggarakan Augustus (Oktavianus) dalam rangka menghormati Julius Kaisar, sebuah komet muncul pada jam yang kesebelas dan menerangi angkasa selama tujuh hari; orang percaya bahwa “ini adalah roh Kaisar, yang telah diangkat ke sorga” (Divus Julius 88) (note 28).

    Oktavianus diberi suatu gelar kehormatan “Augustus” (= “dikuduskan”, “tidak dapat digugat”, “patut dimuliakan”, “ditinggikan”; Yunani: sebastos) pada 27 s.M. Pada tahun 29 s.M., sang Kaisar mengizinkan dibangunnya sebuah kuil untuk Dea Roma dan Divus Julius di Efesus, dan pada waktu yang sama ia memperbolehkan pembangunan sebuah kuil di Pergamum bagi Dewi Roma dan bagi dirinya sendiri. Penduduk kota Mytilene merayakan hari kelahiran sang Kaisar (23 September) pada tahun 25.s.M.; dalam konteks inilah muncul prasasti-prasasti di Asia Kecil yang menyebut Augustus sebagai penyelamat ilahi bagi umat manusia dan sebagai pencipta perdamaian. Pax Romana dipandang sebagai prestasi besar pemerintahan Augustus; keadaan damai inilah yang menjadi alasan untuk memuliakan Augustus. Sebuah inskripsi yang memuat dekrit Majelis Provinsial Asia (9 s.M.), yang berasal dari kota Priene di Ionia, menyatakan bahwa “hari kelahiran Kaisar yang ilahi telah mendatangkan lebih banyak suka cita, atau lebih banyak kebaikan”, bahwa hari kelahirannya adalah “permulaan (arkhē) segala sesuatu”, “permulaan kehidupan dan eksistensi”; bahwa dialah “sang penyelamat bagi kami dan keturunan kami”, “orang yang telah mengakhiri perang dan menciptakan perdamaian”; dan bahwa “hari lahir allah [Augustus] bagi seluruh dunia telah menjadi permulaan kabar baik (euaggeliōn) tentang dirinya” (note 29). Setelah kematiannya, Senat memutuskan (17 September 14 s.M.) untuk meng-apotheosis-kan dirinya dan memberikannya tempat di antara para Allah negara. Seorang bekas praetor bersumpah telah melihat figur Augustus naik ke sorga pada waktu ia dikremasi.

    Seperti pada Alexander Agung, mitos-mitos dan legenda di sekitar kelahiran dan kematian Augustus berkembang. Dikisahkan (oleh Suetonius, Augustus 94.1-7) bahwa Atia (ibunya) pergi pada suatu tengah malam ke ritus suci Dewa Apollo; di kuil itu ia memasang tandunya. Ketika perempuan-perempuan lainnya sudah tidur, ia pun terlelap. Tiba-tiba seekor ular merayap menuju dirinya; melilitinya lalu segera meninggalkan dirinya kembali. Ketika ia bangun, ia menyucikan dirinya seperti lazimnya dilakukan kaum perempuan sehabis berhubungan seks dengan seorang pria. Segera pada tubuhnya muncul suatu tanda berwarna seperti seekor ular, dan tanda ini tidak bisa dihilangkannya. Karena itu ia selalu menghindar dari tempat pemandian umum. Augustus dilahirkan pada bulan yang kesepuluh setelah peristiwa itu, dan karena peristiwa itu ia dipandang sebagai anak Apollo. Sebelum kelahirannya, Atia bermimpi rahimnya di bawa ke atas menuju bintang-bintang lalu disebar ke seluruh bentangan langit dan bumi. Ayahnya, Oktavius, juga bermimpi seberkas cahaya matahari memancar keluar dari rahim Atia (note 30).

    Kultus Kaisar Tiberius (memerintah 14-37 M) berkembang di tujuh kota di Asia Kecil; di sana untuknya didirikan kuil, lengkap dengan imam-imamnya. Sebuah prasasti dari kota Myra di Lycia memuat pernyataan berikut: “Rakyat Myra (memberi penghormatan kepada) Kaisar Tiberius, Allah yang dimuliakan, anak dari para allah yang ditinggikan, Tuhan atas daratan dan lautan, sang pelindung dan penyelamat seluruh dunia” (note 31).

    Kaisar Kaligula (memerintah 37-41 M) pada satu pihak adalah seorang pemimpin yang dipuja-puja, tetapi di lain pihak dia adalah seorang pemimpin dengan reputasi buruk karena kesewenang-wenangannya. Tentang Kaligula, Philo pada satu pihak menulis bahwa “ia akan mencurahkan aliran-aliran berkat baru bagi Asia dan Eropa sebagai penyelamat dan pelindung (sōtēr kai euergetēs), dengan mendatangkan nasib baik yang langgeng bagi semua orang dan bagi setiap orang perorangan” (Legatio ad Gaium 22). Tetapi pada pihak lain, Philo menyebut Kaligula sebagai seekor “binatang yang kejam” (Legatio ad Gaium 22); demikian juga Suetonius menyebutnya sebagai “monster” (Caligula 22:1). Sebutan semacam ini muncul karena Kaligula membangun persaingan dengan allah-allah tradisional, khususnya terhadap Dewa Zeus Olympus. Ketika Philo pribadi muncul di hadapan Kaisar Kaligula untuk membela kepentingan orang-orang Yahudi di Alexandria, sang Kaisar menyalami Philo, “Jadi Saudara-saudara adalah orang-orang yang merendahkan allah-allah, orang-orang yang tidak percaya bahwa akulah Allah” (Legatio ad Gaium 353) (note 32). Sebuah prasasti yang dibangun oleh Majelis kota Efesus di Asia Kecil sekitar tahun 38 M untuk memuliakan Gaius Julius Caesar Germanicus (atau Kaisar Kaligula) memuat tulisan ini: “Majelis dan penduduk kota-kota (Efesus dan Yunani), yang tinggal di Asia dan bangsa-bangsa (mengakui) Gaius Julius, anak dari Kaisar Gaius, sebagai Imam Besar dan Penguasa Absolut, ... Allah yang kelihatan yang dilahirkan dari (dewa-dewa) Ares dan Aphrodite, sang Penyelamat kehidupan manusia seluruhnya” (note 33). Kaligula tidak dideifikasikan setelah kematiannya.

    Untuk Kaisar Klaudius (memerintah 41-54 M), hanya setelah kematiannya dibangun sebuah altar dan kuil di Kamulodunum di Britania Raya; di situ ia dipuja sebagai Allah. Sebelumnya di tempat itu berdiri sebuah altar untuk Dewi Roma dan Allah Augustus (note 34). Tentang Kaisar Vespasianus (69-79 M) dikatakan bahwa ketika ia sedang menanti ajal, berkatalah ia, “Celakalah! Saya kira saya sedang menjadi suatu Allah” (Suetonius, Vespasian 23.4). Menurut Suetonius (Domitianus 13.2), Kaisar Domitianus memakai ungkapan Dominus et deus noster, “Tuhan dan Allah kita”, ketika mengacu kepada dirinya sendiri pada waktu ia menulis surat dan mengeluarkan edik.

    4. Monoteisme dan Kepercayaan pada Yesus sebagai Heis Kyrios

    Jelaslah bahwa ketika Paulus menyatakan ada “banyak allah dan banyak tuhan” (1 Korintus 8:5), ia memang sedang mengacu kepada realitas dunia keagamaan Yunani-Romawi yang majemuk. Ia mengakui ada “banyak allah dan banyak tuhan” (pengakuannya ini diulang sampai dua kali). Allah-allah dan tuhan-tuhan bangsa-bangsa tidak disingkirkan olehnya begitu saja sebagai sesuatu yang tidak ada dan, karenanya, tidak relevan untuk kehidupan moral. Tetapi Paulus dan komunitas Kristennya tidak memilih untuk menyembah, atau mengikatkan diri pada, allah-allah dan tuhan-tuhan itu. Ia hanya menerima monoteisme Yahudi dengan memasukkan ke dalamnya suatu pandangan kristologinya: “Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu sang Bapa,... dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang melalui-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang melaluinya-Nya kita hidup” (ayat 6). Pada ayat 6 ini Paulus melakukan suatu redefinisi Kristen atas pengakuan iman Yahudi, syema” (note 35) (Ulangan 6:4, “Dengarlah [syema], hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita [LXX: kurios ho theos hēmōn], TUHAN itu esa [LXX: kurios heis estin]!”).

    Ada dua hal yang harus diangkat. Pertama, dapatkah, dalam bingkai monoteisme Yudaisme, seorang (seperti Paulus) mempercayai adanya allah-allah dan tuhan-tuhan lain? Kedua, bagaimana memahami hubungan antara suatu kristologi yang memandang Yesus sebagai kyrios dan monoteisme Yahudi, seperti dinyatakan dalam 1 Korintus 8:6?

    4.1 Monoteisme dan Allah-allah

    Sebetulnya agama Yahudi membuka diri pada adanya allah-allah (theoi), selain adanya Allah yang esa (ho theos; kurios heis estin). Teks-teks berikut memperli-hatkan hal ini. Mazmur 82:1 (LXX: 81:1), “Allah (LXX: ho theos) berdiri dalam sidang ilahi (LXX: en sunagōge theōn; “dalam perkumpulan para allah”), di antara para allah (en mesō theous) Ia menghakimi.” Mazmur 82:6 (LXX: 81:6), “Aku sendiri telah berfirman: ‘Kamu adalah allah-allah (theoi).’” Yesaya 9:5, “... dan namanya disebutkan orang: penasihat ajaib, Allah yang perkasa (MT: el gibor; LXX: megalēs aggelos)....” Keluaran 7:1, “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Lihat, Aku menjadikan engkau Allah (MT: elohim; LXX: theos) bagi Firaun.’” Keluaran 4:16, “Engkau (Musa) akan menjadi seperti Allah (MT: le lohim; LXX: pros ton theon) baginya (Harun).” Agama Yahudi mengenal malaikat-malaikat dan malaikat-malaikat kepala, dan juga makhluk-makhluk sorgawi yang disebut sebagai “kerubim” dan “serafim”.

    Dalam Antiquitates Judaicae 3.180-181, Josephus menyebut Musa sebagai theios anēr, “manusia ilahi”; dan dalam kitab yang sama pasal 4.207, ia mengingatkan, “Janganlah seorangpun menghujat allah-allah yang dipuja kota-kota lain” (bdk. Contra Apionem 2.237). Philo dari Alexandria (ca. 30 s.M. – 50 M.) menyebut Musa Allah: “(Musa) disebut Allah dan raja atas seluruh umat, sebab tentangnya dikatakan bahwa ia telah memasuki awan gelap di mana Allah berada” (Life of Moses1.158) (note 36). Keluaran 22:28 dalam Septuaginta (22:27) berbunyi “Janganlah engkau mencerca allah-allah” (theous ou kakologēseis) (note 37).

    Jadi, sebetulnya monoteisme Yahudi dipertahankan bukan dengan cara menolak keberadaan allah-allah atau hakikat-hakikat ilahi (divine beings) lainnya di samping Allah yang esa; tetapi dengan cara menaklukkan allah-allah lainnya itu di bawah kekuasaan dan kedaulatan Allah yang esa, dan, dengan demikian, tidak memandang allah-allah lain itu sebagai allah-allah yang sehakikat dengan Allah yang esa. Tidak ada dua kekuatan, two powers, yang setara di sorga. Yang ada hanya satu. Akibatnya, sebagai cara kedua mempertahankan monoteisme, allah-allah lain itu sama sekali tidak disembah oleh orang-orang Yahudi (note 38); mereka tidak membangun ikatan perjanjian dengan para allah, tetapi hanya dengan Allah yang esa, Allah Israel yang bekerja dalam sejarah mereka. Obyek penyembahan mereka hanya satu, yaitu Allah Israel, Allah yang esa, Allah Pencipta langit dan bumi, Allah yang mahasuci yang namanya tidak boleh disebut dengan sembarangan. Musa adalah figur yang dipandang tersuci dalam agama Yahudi, yang pernah berdiri berhadap-hadapan dengan Allah, bahkan disebut, seperti sudah ditulis di atas, sebagai “Allah” atau sebagai “manusia ilahi”, yang pada akhir hidupnya konon “diangkat ke sorga” (lihat kitab apokrif The Assumption of Moses). Meskipun demikian, orang-orang Yahudi tetap menempatkan Musa di bawah Allah Israel yang esa dan tidak menyembahnya. Meskipun keberadaan malaikat-malaikat diakui, tetapi orang-orang Yahudi tidak menyembah malaikat-malaikat. Meskipun dalam dunia bangsa-bangsa lain di dunia Yunani-Romawi yang dikuasai kepercayaan pada banyak allah dan tuhan ditemukan juga monoteisme (note 39), orang-orang Yahudi tidak menyembah “Allah yang esa” yang disembah bangsa-bangsa lain atau yang dipercaya oleh para filsuf.

    Pendek kata, bukanlah hal yang mengejutkan jika Paulus bisa mengakui adanya allah-allah dan tuhan-tuhan. Sudah dikatakan di atas, Philo dan Josephus juga mengakui adanya allah-allah tanpa harus melepaskan monoteisme mereka. Meskipun Paulus mengakui keberadaan allah-allah dan tuhan-tuhan, ia tidak mengikatkan dirinya kepada allah-allah dan tuhan-tuhan itu, apalagi menyembah mereka. Ia hanya mengikatkan diri kepada “satu Allah saja, yaitu sang Bapa” dan kepada “satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus”.

    4.2 Monoteisme, dan Yesus sebagai “Heis Kyrios”

    Seperti halnya tidak sulit sama sekali bagi Paulus untuk mengakui adanya allah-allah dan tuhan-tuhan, ia, sebagai seorang penganut monoteisme (lihat di atas), juga tentu tidak akan mengalami kesukaran untuk menyebut atau mengakui Yesus itu “Tuhan.” Tetapi ada perbedaan sikap dan pandangan Paulus terhadap adanya tuhan-tuhan dan allah-allah dan terhadap adanya satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus (note 40). Paulus mengikatkan dirinya bukan kepada tuhan-tuhan dan allah-allah lain, tetapi hanya kepada Yesus sebagai hambanya (doulos Khristou) atau pelayannya (hypēretēs Khristou) (lihat a.l. Roma 1:1; Filipi 1:1; 1 Korintus 4:1); ia berdoa dan berseru kepadanya (note 41) serta menyembah dan memujinya, misalnya melalui madah-madah kristologis (Filipi 2:6-11 [note 42]; Kolose 1:15-20) dan doksologi seperti Roma 9:5 (note 43). Suatu pertanyaan penting: Bagaimana pengikatan diri, pemanggilan, seruan doa, penyembahan dan devosi Paulus kepada Yesus Kristus ini tetap dapat ditempatkan dalam bingkai monoteisme?

    Ada juga teks-teks Paulinis yang menunjukkan bahwa Yesus begitu saja disamakan dengan Yahweh. Di sejumlah tempat dalam surat-suratnya kata “kyrios” dipakai Paulus untuk menerjemahkan nama YHWH apabila ia mengutip teks Kitab Suci Ibrani dan tanpa ragu-ragu menerapkan nama itu kepada Yesus. Dalam Roma 10:13 ia mengutip Yoel 2:32 (“Barangsiapa berseru kepada nama Tuhan [to onoma kyriou] akan diselamatkan”); dalam teks Yoel, nama “Tuhan” itu mengacu kepada Yahweh, tetapi di dalam konteks teks Roma (10:9-10) Paulus jelas menerapkannya kepada Yesus. Yesaya 40:13 dikutipnya dalam 1 Korintus 2:16 (“Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan [noun kyriou], sehingga ia dapat menasihati Dia?”); dari ayat 14 kita tahu Paulus menerapkan kyrios kepada Yesus: “Tetapi kami memiliki pikiran Kristus (noun Khristou).”

    Yang penting sekali untuk dicatat adalah bagian madah kristologis Filipi 2:10-11 yang berbunyi “supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada ... dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan’...”; teks Filipi ini menggemakan teks Yesaya 45:22-23 sebagai salah satu teks Ibrani yang paling kuat menegaskan monoteisme Yahudi di dalam seluruh Kitab Suci (“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain. Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah,... ‘Kepada-Ku setiap lutut akan bertekuk lutut, dan setiap lidah akan bersumpah’”) (note 44). Pertanyaan penting yang muncul tetap sama: Bagaimana penyamaan Yesus dengan Yahweh ini dapat tetap ditempatkan dalam bingkai monoteisme?

    4.3 Allah dan Yesus: Kontinuitas dan Diskontinuitas

    Teks 1 Korintus 8:5-6 harus kita analisis. Dalam teks ini monoteisme dipertahankan: hanya ada satu Allah saja, yaitu sang Bapa, Pencipta alam semesta (“yang daripada-Nya berasal segala sesuatu”). Tetapi ada juga satu Tuhan, yaitu Yesus Kristus, “yang melalui-Nya segala sesuatu telah dijadikan.” Satu Allah, yaitu Bapa, dan satu Tuhan, yaitu Yesus Kristus ― ini berarti tidak ada peleburan di antara keduanya; atau, lebih tepat, Yesus Kristus tidak diserap sehingga lebur atau lenyap dalam diri Allah yang esa, Sang Bapa. Ada pembedaan di antara keduanya. Masing-masing memiliki integritas, keutuhan, dan keunikannya: yang satu ho Theos (sang Allah, the God) yang juga ho patēr (sang Bapa, the Father), yang lainnya ho kyrios (sang Tuhan, the Lord). Pembedaan ini juga nyata dalam gambaran tentang peran masing-masing dalam penciptaan alam semesta (penciptaan “segala sesuatunya”, ta panta). Allah yang esa, sang Bapa, adalah “asal segala sesuatu”; atau “daripada-Nya berasal segala sesuatu” (eks hou ta panta) ― dengan demikian Allah adalah Pelaku Utama penciptaan. Sedangkan tentang Yesus Kristus tidak dikatakan demikian, melainkan bahwa “melalui-Nya segala sesuatu ada” (di’ hou ta panta) ― ini berarti Yesus Kristus ikut serta dalam penciptaan, tetapi bukan pelaku utama. Untuk Allah dipakai kata depan “eks”; untuk Yesus kata depan “dia”.

    Karena adanya pembedaan ini, monoteisme dapat dipertahankan hanya apabila Yesus Kristus dipikirkan sebagai suatu dimensi di dalam hakikat Allah yang esa, yang, karena ikut serta dalam penciptaan, memiliki praeksistensi, kepraadaan. Dengan demikian, ada pembedaan tetapi ada juga kesamaan. Allah yang satu memiliki pluralitas di dalam diri-Nya (plurality in singularity). Tetapi, karena Yesus Kristus bagi Paulus juga adalah “wujud seorang budak/hamba” (morfē doulou) dan “(dalam) rupa seorang manusia” (en homoiōmati anthrōpōn) (Filipi 2:7), yaitu manusia Yesus dari Nazareth, maka dimensi yang pra-eksisten itu haruslah telah berinkarnasi, telah menjadi manusia (note 45). “Dimensi praeksisten yang berinkarnasi” (entitas 1) ini tidak dapat begitu saja disamakan dengan “hasil inkarnasi” (entitas 2), yaitu manusia (atau budak/hamba) Yesus dari Nazareth. Peristiwa inkarnasi menyebabkan kedua entitas itu memiliki kontinuitas, keberlanjutan, sekaligus diskontinuitas, keterputusan, kesenjangan. Yang pertama Roh Allah, tak terbatas, maha hadir, maha menjelma; yang kedua manusia, terbatas, terikat pada ruang dan waktu, tidak maha hadir, suatu penjelmaan. Yesus Kristus adalah sekaligus kontinuitas dan diskontinuitas Allah sendiri; “Yin” dan “Yang” Allah sekaligus; kemahahadiran dan ketidakmahadiran Allah sekaligus. Memang Paulus tidak menyebut dimensi yang pra-eksisten itu sebagai “sang Firman” (ho logos) seperti halnya dalam prolog Injil Yohanes (note 46); tetapi pemikiran keduanya tampak bisa sejajar kendatipun pemikiran kristologis “dari atas” (high christology) dari prolog Injil Yohanes telah jauh lebih berkembang, dan telah dituangkan dalam suatu bingkai naratif biografis Injil, sesuatu yang tidak ditemukan dalam tulisan-tulisan Paulus.
    [CENTER][COLOR="Blue"][B][I]"Bukan berlimpahnya pengetahuan,
    melainkan merasakan dan mencecap dalam-dalam kebenaran,
    itulah yang memperkenyang dan memuaskan jiwa"[/I]
    (Catatan Pendahuluan L.R. 2)[/B][/COLOR][/CENTER]
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  7. Join Date
    Dec 2004
    Location
    Batavia Kota "Edan"
    Posts
    1,639
    Rep Power
    13

    YESUS ITU TUHAN
    SEBUAH REFLEKSI KRITIS
    (Bagian 3)

    Ioanes Rakhmat

    5. R e f l e k s i K r i t i s

    Pengakuan bahwa Yesus itu Tuhan bisa bertolak dari eskatologi, maksudnya dari suatu pengakuan bahwa ia telah dibangkitkan dari antara orang mati sebagai tanda kemenangan atas maut dan permulaan zaman baru, mengakhiri zaman lama. Mengapa percaya bahwa Yesus itu Tuhan? Ya, karena ia oleh Allah telah dijadikan Tuhan (dan Kristus) melalui kebangkitannya. Apa itu kebangkitan, dan bagaimana ini harus dipahami pada abad pertama di dunia Yunani-Romawi, dan dalam surat-surat Paulus dan tuturan Injil-injil, dan bagaimana ini dapat dipahami dalam zaman sekarang, jelas merupakan pertanyaan-pertanyaan berat dan menarik yang perlu dibicarakan lain kali. Yang jelas, setelah kematiannya, murid-murid perdana Yesus tetap terus mengalami penguatan darinya. Paskah berlangsung terus; tidak hanya satu kali.

    Pengakuan bahwa Yesus itu Tuhan bisa juga bertolak dari protologi, maksudnya dari suatu pengakuan bahwa Yesus Kristus itu memiliki pra-eksistensi, yaitu kehidupan sebelum segala sesuatunya tercipta, kehidupan yang dimiliki “pada mulanya” (en arkhē; in principio). Mengapa mengakui Yesus itu Tuhan? Ya, karena ia memiliki pra-eksistensi. Bahwa Yesus Kristus itu memiliki pra-eksistensi, adalah suatu pengakuan, suatu confessional language, suatu kredo, suatu pengakuan dan kepercayaan dari antara sekian pengakuan dan kepercayaan Kristen lainnya. Bukan suatu pernyataan matematis atau suatu rumusan kimiawi yang dapat dibuktikan kebenaran atau kesalahannya melalui metode-metode pembuktian ilmiah yang eksak. Kekristenan itu adalah suatu agama; dan setiap agama memerlukan confessional language dalam kaitan dengan dunia supranatural dan dunia natural, sebagai salah satu pilar rancangbangunnya yang tidak dapat ditiadakan. Setiap pengakuan keagamaan adalah suatu pernyataan kepercayaan, pernyataan iman, yang nilainya dapat diuji berdasarkan manfaat dan dampaknya pada suatu gaya hidup manusia untuk suatu kurun waktu dan tempat tertentu.

    Titik tolak dari protologi membuka kemungkinan untuk mengakui Yesus itu ho kyrios sambil tetap mempertahankan bahwa Allah yang esa, ho Theos, tidak habis di dalam diri Yesus; Allah, the God, ho theos, melalui dimensi ekspresif dan komunikatif dalam diri-Nya (theos, ho logos, hē sophia), membuka hubungan-hubungan dengan umat manusia melalui lebih dari satu inkarnasi. Setiap teologi inkarnasional tidak dapat mengelakkan diri dari pluralitas inkarnasi Allah; sebab Allah yang tidak terbatas itu tidak mungkin habis di dalam hanya satu inkarnasi, satu pembatasan diri Allah. Karena Allah itu tidak terbatas, maka Ia membutuhkan inkarnasi-inkarnasi, pembatasan-pembatasan diri, yang jumlah, lokasi dan waktu terjadinya tidak bisa dibatasi manusia Dialog antar umat-umat beragama berupaya menemukan inkarnasi-inkarnasi unik ilahi ini di dalam sejarah manusia, untuk menemukan interrelasi di antara semua inkarnasi. Relational uniqueness! Bukan exclusive uniqueness!

    Monoteisme yang dipertahankan kekristenan adalah monoteisme kristologis: ho theos dikenal oleh orang Kristen melalui dan di dalam Yesus Kristus, bukan di dalam dan melalui nama-nama lain. “Allah yang esa” bagi seorang Kristen adalah Allah di dalam Yesus Kristus. Namun, dengan monoteisme kristologis nama-nama lain itu, inkarnasi-inkarnasi lain itu, diajak bercakap-cakap bukan untuk dengan programatis menghasilkan petobat-petobat baru melalui praktek-praktek terselubung atau terang-terangan proselitisme, tetapi untuk bersama-sama makin dapat mengungkapkan “kepenuhan” (plērōma) Allah yang esa, yang tidak akan bisa habis dicerna oleh akal budi, perasaan, batin manusia dan kesadaran sejarah.

    Apa akibat dari butir-butir refleksi ini bagi pendidikan teologi Kristen di tengah pergulatan bangsa Indonesia? Butir-butir refleksi ini tentu dapat digugat. Meskipun demikian, pemkiran-pemikiran yang diajukan di dalamnya menantang setiap komunitas teologis kristiani mana pun untuk dapat membina diri, bertumbuh dan berkembang sebagai komunitas-komunitas terpelajar yang beriman pada satu Allah yang esa, sang Bapa, pada Yesus Kristus sang Tuhan, dan, dalam menanggapi karya Allah dalam Roh yang tidak pernah terhenti, terbuka pada banyak penjelmaan Allah di dalam dunia ini yang semuanya, dalam keunikan masing-masing, saling berkaitan dan membutuhkan. Dengan perspektif ekumenis-religius dan pluralis semacam ini, kekristenan di Indonesia tidak akan menjadi suatu sumber bencana, tetapi suatu sumber pencerahan, pembebasan dan kebahagiaan semesta.◊

    Jakarta, 4 Desember 2004



    Notes

    (1) James D.G. Dunn, The Partings of the Ways between Christianity and Judaism and Their Significance for the Character of Christianity (London/ Philadelphia: SCM Press/ Trinity Press Intenational, 1991) 188.

    (2) Tentu maksud Paulus bukanlah bahwa tanpa inspirasi dari Roh Kudus orang tidak bisa berkata “Yesus adalah Tuhan”; tentu saja setiap orang bisa berkata demikian. Maksudnya tentu adalah bahwa tanpa dorongan Roh Kudus orang tidak bisa mengalami pertobatan dan dibaptis, pada waktu mana ia mengaku bahwa “Yesus adalah Tuhan” (bdk. Roma 10:9).

    (3) Tentang siapa yang dimaksud dengan orang-orang yang “kuat” dan orang-orang yang “lemah”, dan apa status sosial dan orientasi ideologis mereka masing-masing, lihat Gerd Theissen, The Social Setting of Pauline Christianity. Essays on Corinth (Philadel-phia: Fortress Press, 1982) 121-143.

    (4) Jerome H. Neyrey, Paul, In Other Words: A Cultural Reading of His Letters (Louis-ville, Kentucky: Westminster/John Knox Press, 1990) 59. Lihat juga Wayne A. Meeks, The First Urban Christians: The Social World of the Apostle Paul (New Haven and London: Yale University Press, 1983) 165-169.

    (5) Neyrey, Paul, In Other Words, 123-128.

    (6) Meeks, “Breaking Away: Three New Testament Pictures of Christianity’s Separation from the Jewish Communities.” In Jacob Neusner and Ernest S. Frerichs, eds., “To See Ourselves As Others See Us”: Christians, Jews, “Others” in Late Antiquity (Chico, California: Scholars Press, 1985) 104; Bart D. Ehrman, The New Testament: A Historical Introduction to the Early Christian Writings (New York, Oxford: Oxford University Press, 20043) 30-33.

    (7) Meeks, The First Urban Christians, 165.

    (8) Lihat 1 Tesalonika 1:9 (ho theos); Galatia 3:20 (ho theos heis estin); Roma 3:30 (heis ho Theos); 1 Korintus 8:4-6; bdk. 1 Korintus 11:12 (ta panta ek tou theou); 15:28 (ho theos ta panta en pasin); 2 Korintus 5:18 (ta panta ek tou theou); lihat juga Efesus 4:6 (heis theos kai patēr pantōn).

    (9) Meeks, The First Urban Christians, 166f.

    (10) Penganiayaan atas orang-orang Kristen di kota Roma atas perintah Nero (54-68) terjadi bukan karena mereka beragama Kristen, tetapi karena mereka dijadikan kambing hitam atas peristiwa kebakaran besar selama sembilan hari yang melanda kota Roma pada Juli 64 (Tacitus, Annals 15.44). Lihat: Lester L. Grabbe, Judaism from Cyrus to Hadrian. Vol. 2: The Roman Period (Minneapolis: Fortress Press, 1992) 2.445; Bart D. Ehrman, The New Testament, 430.

    Sejauh terdokumentasi, reaksi resmi pertama dari kekaisaran Roma terhadap kekristenan muncul dari Pliny (yang lebih muda), gubernur Roma untuk propinsi Bithynia-Pontus di Asia Kecil, ketika ia pada tahun 111 menulis surat kepada Kaisar Trajanus (98-117), Surat Pliny kepada Trajanus (10.96). Di dalam suratnya ini, Pliny meminta pendapat dan petunjuk sang Kaisar perihal bagaimana ia telah dan harus menangani suatu agama baru, kekristenan. Di dalam suratnya ini, ia menceritakan usaha-usaha yang telah dilakukannya untuk menghambat orang-orang Kristen menghayati agama mereka, dan perihal bagaimana ia dapat memaksa mereka berpaling meninggalkan Kristus untuk menyembah dewa-dewa Romawi dan sang Kaisar sendiri, dan perihal bagaimana ia mengeksekusi mereka yang membangkang. Ia berprasangka bahwa kekristenan sebagai suatu gerakan keagamaan yang baru adalah suatu “perhimpunan politik” yang dengan cepat dapat menjadi suatu ancaman bagi kekuasaan pemerintahan Romawi yang sah. Tetapi ia tidak dapat membuktikan hal ini; yang ia temukan justru kekristenan, dalam penilaiannya, sebagai suatu bentuk “tahyul yang berlebihan dan bejat.” Lihat Luther H. Martin, Hellenistic Religions: An Introduction (New York Oxford: Oxford University Press, 1987) 124-125; Helmut Koester, Introduction to The New Testament. Vol. 1: History, Culture and Religion of The Hellenistic Age (New York - Berlin: Walter De Gruyter, 1987 [1982]) 370-71; Vol. 2: History and Literature of Early Christianity, 334ff.; Ehrman, The New Testament, 430-431.

    (11) Jack T. Sanders, Schismatics, Sectarians, Dissidents, Deviants. The First One Hundred Years of Jewish-Christian Relations (London: SCM Press, 1993) 255.

    (12) Zeus/Jupiter sebagai Dewa tertinggi, lalu menyusul dewa-dewi lainnya: Poseidon/ Neptune, Hera/Juno, Aphrodit/Venus, Artemis/Diana, Dionysus/ Bacchus, Ares/ Mars.

    (13) Martin, Hellenistic Religions, 72, 76.

    (14) Hans-Josef Klauck, The Religious Context of Early Christianity: A Guide to Graeco-Roman Religions (Edinburgh: T&T Clark, 2000) 132.

    (15) David R. Cartlidge & David L. Dungan, eds., Documents for the Study of the Gospels (Minneapolis: Fortress Press, 19942) 165-168.

    (16) Helmut Koester, Introduction to The New Testament, 1.188.

    (17) Klauck, The Religious Context, 139.

    (18) Koester, Introduction to The New Testament, 1. 372.

    (19) Klauck, The Religious Context, 140.

    (20) Klauck, The Religious Context, 141-142. Bdk. Martin, Hellenistic Religion, 117.

    (21) Koester, Introduction to The New Testament. 1.174.

    (22) Klauck, The Religious Context, 156-157, 159.

    (23) David R. Cartlidge & David L. Dungan, eds., Documents for the Study, 124.

    (24) Lebih jauh tentang Apollonius dari Tyana, lihat Klauck, The Religious Context, 168-177; David R. Cartlidge & David L. Dungan, eds., Documents for the Study, 203-238.

    (25) Tentang ini, lihat Klauck, The Religious Context, 253-261.

    (26) Klauck, The Religious Context, 261-262.

    (27) Lebih jauh, lihat Klauck, The Religious Context, 266-274; juga Koester, Introduction to The New Testament, 1.6-12; David R. Cartlidge & David L. Dungan, eds., Documents for the Study, 131-132.

    (28) Klauck, The Religious Context, 289-294.

    (29)Tentang kaitan prasasti tentang kelahiran Kaisar Augustus ini dengan kisah kelahiran Yesus dalam Injil Lukas, lihat Richard A. Horsley, The Liberation of Christmas: The Infancy Narratives in Social Context (New York: Crossroad, 1989) 27ff.

    (30) Lihat Klauck, The Religious Context, 294-301; David R. Cartlidge & David L. Dungan, eds., Documents for the Study, 132-133.

    (31) Klauck, The Religious Context, 302.

    (32) Klauck, The Religious Context, 303-304.

    (33) Ehrman, The New Testament, 30.

    (34) Klauck, The Religious Context, 305.

    (35) N.T. Wright, The Climax of the Covenant: Christ and the Law in Pauline Theology (Minneapolis: Fortress Press, 1991) 121, 129. Kalau diperhatikan, pada ayat 3 Paulus sebenarnya sudah bersiap diri untuk masuk ke dalam syema Yahudi (ayat 6a); pada ayat ini ia menyatakan, “Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal Allah”. Jelas nas ini merujuk Ulangan 6:5 (lanjutan dari syema): ‘Kasihilah TUHAN Allahmu.”

    (36) Lihat David R. Cartlidge & David L. Dungan, eds., Documents for the Study, 265 [247-283].

    (37) Oleh Philo teks Keluaran 22:28 ini dipandang sebagai suatu peringatan agar orang-orang Yahudi tidak menghina allah-allah bangsa-bangsa lain. Sikap Philo yang semacam ini bukan ditimbulkan oleh keinginannya untuk mengembangkan toleransi religius terhadap bermacam-macam kultus di lingkungan sekitarnya, atau menandakan ia telah mengompromikan monoteisme Yahudi. Tetapi untuk, pertama, mencegah orang-orang Yahudi meneruskan kebiasaan mereka mencerca “ilah-ilah” dengan mencerca Allah yang esa itu sendiri, Allah bangsa Yahudi, dan, kedua, untuk mempertahankan ikatan kesatuan komunitas bangsa Yahudi dengan para proselit, sebagai satu umat di bawah kedaulatan Allah Yang Esa. “Orang asing” dari MT Keluaran 22:20 (“ger”) di dalam LXX (dan Yudaisme Palestina) telah menjadi proselit (prosēlutos). Bagi Philo, para proselit itu harus menerima “persahabatan istimewa” karena, ia tekankan, mereka telah meninggalkan negeri mereka, kaum keluarga mereka dan sahabat-sahabat mereka demi kebajikan dan agama. Dalam situasi ini, ikatan yang tidak terputuskan, yang dapat mempertahankan kesatuan mereka dengan orang-orang Yahudi, adalah penghormatan terhadap Allah yang esa (Philo, De Specialibus Legibus 1.51,52; Life of Moses 1.203-05).

    (38) Bdk. Ehrman, The New Testament, 36.

    (39) Misalnya dalam kultus Isis, atau dalam pantheon Olympus Yunani dengan Dewa Zeus sebagai Allah tertinggi, atau dalam kepercayaan para filsuf seperti Sokrates misalnya yang menyebut “yang ilahi” dengan nama tunggal ho theos (lihat Apology 19, 21-23).

    (40) Dalam surat tertua Paulus, 1 Tesalonika (1:9), ia membuat suatu pertentangan tajam antara “berhala-berhala” yang dipuja bangsa-bangsa dan “Allah yang hidup dan yang benar” yang dipercaya orang Kristen.

    (41) 2 Korintus 12:8; 1 Korintus 16:22; Roma 1:8; 7:25; 2 Korintus 1:20; Kolose 3:17 [tiga teks terakhir berisi pengertian Paulus mengenai doa sebagai doa kepada Allah melalui Yesus Kristus (dia Iesou Khristou). Kata depan “melalui” (dia) tidak menjadikan Yesus pasif dalam setiap doa Kristen; tetapi dia berperan aktif sebagai pengantara doa]; Roma 1:7; 1 Korintus 1:3; 2 Korintus 1:2; Galatia 1:3-4; Filipi 1:2; Philemon 2; 2 Korintus 13:14; 1 Tesalonika 3:11-13. Teks-teks ini memperlihatkan tahap-tahap awal devosi Kristen terhadap Kristus yang dimuliakan, yang sedang berkembang menuju suatu bentuk ibadah yang sepenuhnya (Dunn, The Partings of the Ways, 205).

    (42) Berbeda dari Dunn, menurut hemat penulis meskipun madah-madah kristologis itu betul madah-madah tentang Kristus, dan bukan madah-madah yang ditujukan kepada Kristus (lihat Dunn, The Partings of the Ways, 204), tetap saja penyembahan kepada Kristus tidak dapat dilepaskan dari orang-orang yang mendendangkannya. Misalnya ketika madah kristologis Filipi 2:6-11 diangkat, orang atau komunitas yang menaikkannya pasti akan memasukkan dirinya/diri mereka ke dalam orang-orang yang dinyatakan akan “bertekuk lutut dalam nama Yesus” (ayat 10).

    (43) Dunn, The Partings of the Ways, 203.

    (44) Dunn, The Partings of the Ways, 190.

    (45) Bdk. Wright, The Climax of the Covenant, 131.

    (46) Yohanes 1:1 menyatakan “ho logos (sang Firman) bersama-sama dengan ho theos (sang Allah) dan ho logos itu adalah theos (Allah).” Frasa “bersama-sama” (ēn pros) menandakan adanya perbedaan; ho logos memiliki kekhasan, individualitas, sendiri; frasa “adalah theos” menyatakan kesamaan antara keduanya.

    Sumber: [url]http://www.sttjakarta.ac.id/umum_artikel/041202_ioanes_yesusitutuhan_03.htm[/url]
    [CENTER][COLOR="Blue"][B][I]"Bukan berlimpahnya pengetahuan,
    melainkan merasakan dan mencecap dalam-dalam kebenaran,
    itulah yang memperkenyang dan memuaskan jiwa"[/I]
    (Catatan Pendahuluan L.R. 2)[/B][/COLOR][/CENTER]
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  8. Temans, boleh gak merecommend sebuah link untuk buku-buku tentang Tuhan Yesus disini ya?

    There are many good books disini tentang Tuhan Yesus: http://lilinkecil.com/index.php?cPath=53

    Seperti:

    Apa Yang Telah Mereka Lakukan Pada Yesus (Ben Witherington) --> meresponi berbagai serangan terhadap Ketuhanan Kristus belakangan ini, seperti Da Vinci Code, dll

    Bagaimana Jika Yesus Tidak Pernah Lahir (James Kennedy) --> a very popular book

    Bagaimana Kita Mengetahui Yesus adalah Tuhan (Ralph Muncaster)

    Benarkah Yesus itu Allah? (Josh Mc Dowell) --> Josh McDowell is among the best apologist

    Mengasihi Yesus - Loving Jesus (Bunda Teresa) --> Bunda Teresa berbagi hati Yesus dengan cara yang luar biasa, yang akan membangkitkan semangat Anda untuk menyayangi mereka yang terlupakan dan terlantarkan – tak peduli dimanapun mereka tinggal.

    Pembuktian Atas Kebenaran Kristus (Lee Strobel)

    Supremasi Kristus (Ajith Fernando)

    Tuhan Yesus Memang Khas Unik (Chris Wright)

    Dll
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  9. supernis Guest

    ada gak buku yang mengupas tentang bagaimana kalau Yesus ternyata memang bener2 Tuhan?
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  10. Join Date
    Nov 2006
    Location
    Beyond the earth and sky
    Age
    23
    Posts
    901
    Rep Power
    0

    Quote Originally Posted by supernis View Post
    ada gak buku yang mengupas tentang bagaimana kalau Yesus ternyata memang bener2 Tuhan?
    ada bro... nama buku nya "ALKITAB"
    kunci nya gini bro..
    pahami dlo kalo Yesus adalah Juru Selamat maka kamu akan mengerti Ke Tuhanan Yesus
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  11. supernis Guest

    ga seru kalo alkitab (lagian ini sih udah sedikit bosen bacanya).
    gue pengen tau implikasi apa yang kira2 timbul atau adakah sesuatu yang bisa dihilangkan atau diabaikan bila Yesus bener2 Tuhan dan semua orang ga perlu pake iman lagi untuk membuktikan ketuhanan Yesus.
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  12. Join Date
    Nov 2006
    Location
    Beyond the earth and sky
    Age
    23
    Posts
    901
    Rep Power
    0

    ga seru kalo alkitab (lagian ini sih udah sedikit bosen bacanya).
    bahaya tuh
    gue pengen tau implikasi apa yang kira2 timbul atau adakah sesuatu yang bisa dihilangkan atau diabaikan bila Yesus bener2 Tuhan dan semua orang ga perlu pake iman lagi untuk membuktikan ketuhanan Yesus.
    bisa di kasi contoh ?
    Last edited by Pau; 2nd September 2008 at 11:58 AM.
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  13. supernis Guest

    entahlah, justru itulah yang gue pengen tau, makanya tadi gue nanya, ada atau nggak bukunya
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  14. Join Date
    Jan 2006
    Location
    Hvar
    Posts
    12,690
    Blog Entries
    1
    Rep Power
    30

    Quote Originally Posted by supernis View Post
    entahlah, justru itulah yang gue pengen tau, makanya tadi gue nanya, ada atau nggak bukunya
    Man, selama Yesus itu ada di dalam paradigma iman, Tuhan dan kekristenan, there's no such thing (buku yang elu tanyain itu). Lain misalnya kalo elu nanyain soal SBY, apakah benar SBY adalah Presiden RI? Iya benar, itu gak usah pake buku, apalagi pake iman. Hidupin aja TV ntar juga keliatan dia ngomong sebagai Presiden RI.
    "There is a style of mind that is far from new and that is not necessarily right-wind. I call it the paranoid style simply because no other word adequately evokes the sense of heated exaggeration, suspiciousness, and conspiratorial fantasy that I have in mind."

    - Richard Hofstadter on American Politics, or politics in general
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  15. supernis Guest

    yup kalo lo berbicara tentang sesuatu yang exact; yang perlu pembuktian. sedang yang gue harapkan cuma suatu buku yang berbicara tentang kemungkinan2 yang valid (dalam artian ga dibikin secara ngasal), pasti menarik tuh kalo ada buku kayak gitu
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  16. Join Date
    Jan 2006
    Location
    Hvar
    Posts
    12,690
    Blog Entries
    1
    Rep Power
    30

    Quote Originally Posted by supernis View Post
    yup kalo lo berbicara tentang sesuatu yang exact; yang perlu pembuktian. sedang yang gue harapkan cuma suatu buku yang berbicara tentang kemungkinan2 yang valid (dalam artian ga dibikin secara ngasal), pasti menarik tuh kalo ada buku kayak gitu
    OK, let's expand it.

    Dulu gue juga mikir hal yang sama. It's gonna be much better kalo ada something (kalo elu, that'd be a book) yang bisa jadi solid facts, crystal clear evidences yang describes that Jesus is really God, so solid and so crystal clear that nobody would be able to rebuke it.

    But then I was thinking, the only deductive things left is only one thing, Jesus himself. He's the most solid fact and the most crystal clear evidence that he is himself *whatever he is, sebelum sampe ke konklusi bahwa dia adalah nabi, guru or even greater, GOD*

    Dan kapan dan di mana Dia bisa berada untuk kasih pembuktian tentang diri dia, or in other words, kasih diri dia sendiri sebagai bukti tak terbantahkan? Yup yup, 2000 tahun yang lalu (mungkin bakal ada yang bilang "oh it's possible that you pray to ask God revealing Himself, he'd show himself to you like he always does to thousands other people -in dream, during freaking hot days, at night, in visions-*, but let's skip that part cuz that's not my point.)

    Well, talking about him being alive 2000 years ago, berarti bukti sekunder paling kuat adalah catatan2 mengenai diriNya, misalnya Injil. I'm not referring Injil in this case as an evidence, but cuma sebagai tool. Alat untuk ngeliat, bahwa pada waktu Yesus hidup, even semua bukti dan kejadian dan kenyataan udah diperlihatkan Yesus ke banyak orang. Bukan cuma 1-2 hari, bahkan 3 tahun lebih on daily basis. But still, Injil mencatat bahwa orang yang gak percaya Dia lumayan banyak. Dari kelompok pengikut2 setia Yesus, ada juga yang ragu dan akhirnya disbelieve. Bahkan Yohanes Pembaptis juga ragu sampe ngirim muridnya untuk nanya Yesus apa bener "He is the one"? Bahkan dari 12 murid, ada juga yang ragu.

    So I came up to a conclusion, walaupun catatan sejarah, Injil, data2, bukti, kubur kosong, kain kafan, cawan Yesus, tombak yang dipake untuk nusuk Yesus, kayu salib, bahkan lubang tangan dan lubang lambung Yesus sendiri, jika ditampilkan ke seorang yang gak percaya, gue percaya orang tersebut tetap gak bakal percaya kalo bukan Roh Kudus yang kerja (sounds cliche, but it's true).

    Seperti kata Paulus, iman itu adalah anugrah.
    "There is a style of mind that is far from new and that is not necessarily right-wind. I call it the paranoid style simply because no other word adequately evokes the sense of heated exaggeration, suspiciousness, and conspiratorial fantasy that I have in mind."

    - Richard Hofstadter on American Politics, or politics in general
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  17. Join Date
    Nov 2006
    Location
    Beyond the earth and sky
    Age
    23
    Posts
    901
    Rep Power
    0

    Quote Originally Posted by supernis View Post
    yup kalo lo berbicara tentang sesuatu yang exact; yang perlu pembuktian. sedang yang gue harapkan cuma suatu buku yang berbicara tentang kemungkinan2 yang valid (dalam artian ga dibikin secara ngasal), pasti menarik tuh kalo ada buku kayak gitu
    nah gua uda kasi rekomend buku

    ada bro... nama buku nya "ALKITAB"
    kunci nya gini bro..
    pahami dlo kalo Yesus adalah Juru Selamat maka kamu akan mengerti Ke Tuhanan Yesus
    tapi u jawab
    ga seru kalo alkitab (lagian ini sih udah sedikit bosen bacanya).
    pahami dlo hal yang simpel dlo... baru bisa tau kalo Tuhan = Yesus. gua aja membutuhkan waktu yang lama untuk bisa tau
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  18. Quote Originally Posted by supernis View Post
    ga seru kalo alkitab (lagian ini sih udah sedikit bosen bacanya).
    gue pengen tau implikasi apa yang kira2 timbul atau adakah sesuatu yang bisa dihilangkan atau diabaikan bila Yesus bener2 Tuhan dan semua orang ga perlu pake iman lagi untuk membuktikan ketuhanan Yesus.
    Maksudnya buku seperti ini ya: Bagaimana Jika Yesus Tidak Pernah Lahir (James Kennedy)

    Cek disini: http://lilinkecil.com/product_info.php?cPath=35&products_id=132

    Ketika Yesus dinyatakan di hadapan segala bangsa sebagai Tuhan (di Kitab Wahyu), semua bangsa akan bertekuk lutut.

    Pada saat akhirnya Allah menyatakan diri, semua bangsa akan gemetaran kok, baik yang ateis merasa paling hebat di dunia atau yang tidak ateis tapi berani melakukan kejahatan seolah-olah Allah tidak bisa berbuat apa-apa seperti tertulis di Mazmur 2: http://sabda.org/sabdaweb/bible/chapter/?b=19&c=2&version=tb&lang=indonesia&theme=clearsky

    Sekarang ini manusia banyak yang tidak menyadari kebesaran Allah saja, sehingga merasa diri hebat.

    Sedikit perasaan melihat kebesaran Allah adalah ketika naik kapal laut dan di tengah laut (apalagi malam-malam) coba melihat luasnya laut, perasaannya luarbiasa sekali memandang kebesaran laut itu. Itu hanya bagian sangat kecil dari ciptaan Allah. Apalagi ketika nanti ketemu Yang Menciptakan, pasti tidak ada yang sanggup berdiri ketika Sang Penguasa itu sendiri menyatakan diri.

    Cek 2 buku ini:
    1) Knowing God (JI Packer)
    2) Ketika Manusia Dianggap Besar dan Allah Kecil (Edwards T. Welch)

    Maksudnya begitu bukan?
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  19. Join Date
    Aug 2006
    Location
    Between Venus and Mars
    Posts
    3,308
    Rep Power
    15

    Gua berfikir dengan otak gua yang cuma segede bakpao, orang2 sibuk memberi bukti kalau Yesus itu Tuhan, sama halnya ada kelompok lain juga yang sibuk memberi bukti kalau Yesus bukan Tuhan. Yesus sendiri nggak pernah ngomong kalo diriNya Tuhan. Bahkan (some of) "pengikut" yang men-Tuhan-kan Yesus sulit memberi bukti kalau Yesus itu Tuhan. NamaNya "tenggelam" di arus kebudayaan, tradisi, agama lain, bahkan "alam".

    Sometimes gua bingung, kenapa Yesus gak pake cara gampang aja, tinggal bilang I am God. Hal-hal besar "sebagian besar" terjadi dalam NamaNya, "In The Name of Jesus!" then the sun comes up & cloud stop crying, "In The Name of Jesus!" orang yang menghina NamaNya tersungkur, "In The Name of Jesus!" no more pain & sickness. Mengapa pawang hujan & lamaran "Mama Lauren" lebih "berkuasa". Bahkan Dia membiarkan diriNya tidak di-Tuhan-kan & membiarkan Namanya sering dipermalukan, sejak Dia lahir sampai sekarang.
    [SIZE="2"]Transformation doesn't happen unless your willing; it's your choice
    (Oprah Winfrey)[/SIZE]
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  20. supernis Guest

    Quote Originally Posted by PlainBread View Post
    Dulu gue juga mikir hal yang sama. It's gonna be much better kalo ada something (kalo elu, that'd be a book) yang bisa jadi solid facts, crystal clear evidences yang describes that Jesus is really God, so solid and so crystal clear that nobody would be able to rebuke it.
    Nope, lo salah memahami dasar pertanyaan gue tentang 'buku' tadi. gue ga mencari buku yang bisa membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan.

    yang gue cari adalah buku yang kira2 isinya gini:

    [1] bab 1: penjelasan tentang asumsi yang berlaku di buku itu. asumsinya adalah Yesus pasti Tuhan. ga perlu ditanya lagi dan berlaku untuk semua pembahasan di bab2 berikutnya.
    [2] bab2 selanjutnya: masing2 bab menjelaskan 'kasus', hal2 apa yang bisa diabaikan atau sebaliknya makin dikuatkan karena asumsi dasar di bab 1 tadi. juga alasan nya, kenapa hal itu bisa diabaikan atau dikuatkan karena asumsi dasar tadi.

    jadi, isi buku itu bukan menjelaskan kenapa Yesus adalah Tuhan, tapi, kalo Yesus bener2 Tuhan (atau pasti Tuhan), kira2 seperti apakah dunia kita? apakah akan berubah secara drastis? ato biasa2 aja? ato gimana?


    ps.
    buku ini bukan buku dimana lo perlu ber-apologetika. buku ini adalah buku abstract yang isinya paling cuma berandai2, tapi dilakukan dengan cara2 yang lebih bisa dipertanggung-jawablan.
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

+ Reply to Thread
Page 1 of 2
1 2 LastLast

Similar Threads

  1. kepercayaan suku batak
    By iyan in forum Ilmu Pengetahuan, Adat Istiadat dan Ajaran Kristen
    Replies: 389
    Last Post: 11th November 2009, 02:14 AM
  2. Bible...truth Or ??
    By Judas_b my guide in forum Jawaban Kristen
    Replies: 97
    Last Post: 6th February 2009, 07:49 PM
  3. KURIOS - Study Kata
    By SarapanPagi in forum Pengajaran Alkitab
    Replies: 27
    Last Post: 11th July 2005, 09:15 PM

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts

Search Engine Friendly URLs by vBSEO 3.5.0 RC1 PL1