S.O.S
====
Berapa sih harganya untuk diselamatkan?
Kalau gua terapung2 sendirian di lautan berhari-hari. Kebetulan ada kapal lewat, gua akan bayar seberapapun harga yang mereka tawarkan walaupun itu artinya gua harus bekerja seumur hidup untuk membayar hutang itu. Ngga bakalan ada keberatan sedikitpun yang keluar dari mulut gua.
Misalnya orang itu murah hati banget dan menyelamatkan dengan gratis, gua bakalan berterima kasih banget. Gua bakalan consider seumur hidup gua berhutang nyawa sama dia.
Misalnya habis ditolong, sudah dikasih makan, sudah dikasih minum susu coklat, pakaian -semua gratis- beberapa hari setelahnya gua liat ada orang terapung2 di lautan, gak mungkin gua melakukan yang lain selain ngelempar pelampung ke orang itu. Pelampung yang sama yang baru menyelamatkan nyawa gua beberapa hari yang lalu. Ngga perlu nanya harga, Ngga perlu nanya apa dia pro Obama atau pro McCain. Ngga perlu nanya kalau dia orang kaya atau miskin atau gelarnya. Perlakuan yang sama yang sudah gua terima, itu juga yang akan gua lakukan dengan sama. Dibawa ke perahu, dikasih baju, makan, dibikinin susu coklat, semua bakalan gua lakukan tanpa mengeluh.
Bokap gua dulu bilang, orang jahat saja tahu terima kasih atau versi nyokap, anjing aja tahu balas budi. Menurut gua hampir kita semua disini setuju kalau yang kita gambarkan diatas itu adalah kelakuan yang reasonable. Ngga mungkin ada yang mikir sebaliknya.
Tapi kalau kita membahas soal keselamatan yang lebih penting dari keselamatan jiwa, kenapa kita malah berani pasang harga. Kita mulai berani bilang siapa yang layak. Kita mulai liat orang berdasarkan apa yang telah mereka lakukan. Kita liat type baju yang mereka pakai. Kita cek playlistnya di iPod. Kita mulai memfilter orang-orang. Kita mulai mendefinisikan orang2 yang sudah selamat dan apakah orang yang akan kita selamatkan itu bisa cocok apa tidak di kalangan yang sudah selamat. Menurut gua itu rada-rada menyeramkan.
Freely received, freely give.
Tags: Save Our Soul