Gara2 ada temen dateng ceritain dia mau bikin thesis yang hubungin antara "fake attentions" dengan culture, gue jadi inget dulu gue pernah kena di masalah itu. Waktu itu gue lagi sibuk, trus ada temen kuliah gue terus ngoceh dan gue cuma kasih attention sekilas aja, sesekali ngomong "I see" atau "Oh yeah?" padahal gue gak dengerin dia ngomong apa. Sampe akhirnya dia cemberut dan ninggalin gue. Gue teriak "Where are you going?", dia cuma jawab "You're not listening!". Tiap kali gue inget itu jadi suka malu sendiri.
"Fake attention" sering banget kita lakuin, mungkin dalam rangka sopan santun, norma, atau seperti yang temen gue bilang itu, ada hubungannya dengan culture. Temen gue itu juga bilang bahwa ada banyak kata atau kalimat yang bisa dijadiin respons atau signal bahwa kita being attentive, tapi at the same time itu juga bisa jadi signs bahwa kita cuma faking. Kata atau kalimat itu misalnya (gue lupa tadi temen gue bilang itu ada istilahnya di linguistics ):
- Oh yeah?
- I see
- You're kidding / you've gotta be kidding
- Really?
- Are you sure?
- Oh.
- Wow
- OK
- Hmm, interesting*
Gue sih akuin gue sering ngelakuin itu, apalagi kalo lawan bicara gue gagal membuat gue tertarik sama isi topik dia. Tapi gak bisa disalahin juga, karena menurut temen gue, pihak yang mendengarkan juga punya kewajiban untuk ngasih signs atau subtle clues bahkan straight forward statement bahwa dia gak mendengarkan atau topiknya gak menarik. Bahasa udah bukan sekedar tukar menukar informasi, tapi udah jadi ekspresi dan simbol. More complicated than it was (kesannya gue kaya Highlander yang udah hidup ratusan tahun hahaha).
* = Gue sering denger orang ngomong "hmm, interesting" ternyata maksudnya bukan beneran bahwa that thing is interesting, but lebih jadi pengganti kata "weird, strange, odd, least favorable". Untuk kesopanan? Mungkin gue harus tanya temen gue soal ini, kapan dan bagaimana proses pergeseran kata ini terjadi. Hmm, interesting.
Tags: Behaviour Language Culture