Hari ini gue ketemu kasus lucu tapi unik.
Ada sepasang suami istri. Yang satu bule (Caucasian), yang satu lagi Asia. Gue gak akan bilang which one which (siapa yang bule siapa yang asia) supaya gak mempengaruhi yang baca tulisan ini :)
Mereka punya masalah simple tapi bikin bingung mereka. Yaitu soal mengucapkan kata "I love You".
Si bule demen kalo mereka berdua bilang "I love you" on daily basis. Bahkan bukan itu aja, tapi setiap pelukan, setiap mau berangkat kerja, etc. Alasannya, in case something bad happens (misalnya setelah berangkat kerja trus tabrakan then meninggal), itu bakal jadi kalimat terakhir yang mereka ucapkan. Cieeh, romantis gak? :)
Sementara si asia demen kalo mereka berdua bilang "I love you" on occasional basis. Alasannya, supaya kata "I love you" gak jadi cheesy or cheap maknanya. Yang bikin worse, si asia ngaku kalo pasangannya bilang "I love you" terus2an malah bikin dia ngerasa eneq. Sementara si bule bilang dia sebel kalo pasangannya cuma bilang "I love you" sekali2 aja.
Yeah, mungkin elu mikir ah ini cuma cultural approach aja. Nope. Mereka ngaku bahwa ini bukan soal culture, bahkan bukan juga soal masa lalu mereka yang bikin mereka jadi kaya gitu. Si bule bilang dia jarang ngomong "I love you" ke brother and sister dia di keluarga, dan dia juga gak pernah nonton film atau ngalamin sesuatu seperti pacarnya ditabrak sampe mati sehingga bikin dia nyesel kenapa gak bilang "I love you". Sementara si asia bilang dia gak sungkan kok ngomong "I love you" ke ortu atau ke brother sisternya.
So, apa solusinya buat pasangan ini?
Tags: Relationship Love Philiosophy Work Behaviour