Welcome Guest Login or Signup
LIVE CHAT | INSTANT MESSENGER | BOOKMARK
| LANGUAGE:

BLOGS   WRITE NEW BLOG   EDIT BLOGS  
 
RSS
Kehidupan ?
Posted On 04/13/2008 20:59:35 by Kelana

Bagaimana seseorang menceritakan kematian? Saya dibuat tertegun oleh Leo Tolstoy yang memberi judul sebuah karya pendeknya ‘The Death of Ivan Ilych’. Ketika pertama kali menemukan buku itu dan membaca judulnya, saya terlecut. Belum lagi mulai membaca, pikiran saya sudah bertanya-tanya. Bukankah itu sebuah kontradiksi? Cerita tentang kematian? Kematian diceritakan? Bukankah yang mengandung cerita itu Kehidupan? Tetapi, Kematian? Saya menjadi ragu akan pemahaman saya sendiri tentang Kehidupan dan Kematian yang selama itu tidak pernah saya usik. Dan, saya pun mulai membaca buku kecil itu. 

Apa itu Kehidupan, apa itu Kematian? Sekarang saya hidup. Kemarin saya hidup. Besok? Tidak tahu. Nanti? Tidak tahu. Satu menit kemudian? Tidak tahu. Dan ketika saya mengatakan ‘Sekarang saya hidup’ maka kata ‘sekarang’ di situ sebenarnya menunjuk pada sejangka waktu sependek-pendeknya satu detik yang lalu. Lalu, bagaimana dengan satu detik kemudian? Saya tidak tahu. Demikianlah saya lihat, bahwa ketika saya menyebut ‘saya hidup’ maka sesungguhnya saya sedang bernostalgia. Kehidupan yang selama ini dikenal oleh indera manusia hanyalah ‘sebuah kisah di masa lalu’. Dan, kisah itu musnah dalam sekejap dalam Kematian.

 Hidup terus melahirkan terus mati.

Yang terlahir terus hidup terus melahirkan terus mati.

Mati ke mati:

Matinya hidup.

 Oh, semua yang kita capai, semua yang kita dapatkan, dengan keringat, darah dan kreativitas, dengan cinta dan kebencian atau sekedar kemarahan; semua inspirasi dan aspirasi, yang terekspresikan dalam bentuk yang tak terhitung banyak dan macamnya; semua yang kita kerjakan, perjuangkan dan pertahankan dalam tanggungjawab dan penderitaan; semua, semua musnah dalam sekejap oleh Kematian. Semua rasa sukacita, dukacita, kepuasan dan kekecewaan, cemburu, harapan, sayang dan sakit hati; semua setiap perasaan yang muncul mendetil waktu demi waktu… apa jadinya itu semua ketika Kematian datang? Lalu, ketika setiap sensasi dan usaha dalam kehidupan kita pada akhirnya pasti musnah karena kita pasti mati, buat apa semuanya itu? Apa artinya semua itu? Apa makna kehidupan ini jika Kematian, cepat atau lambat, pasti datang?

Saya tidak mau arus gelombang sentimentalisme modern menerpa lamunan saya. Itu terlalu membosankan! Saya sudah terlalu bosan untuk menjadi lebih bosan! Jadi, bagaimana jika sekarang lamunan ini saya putar? Coba masuk ke jalan lain, di arah yang berlawanan, lewat ‘pintu’ yang satunya: Kematian.

Oh, apa artinya bila seseorang bersikeras mengatakan dan membuktikan bahwa ia hidup tetapi kemudian ia pasti mati? Lebih pas dan lebih jujur bila ia menggunakan istilah ‘dying’, sekarat. Dan, dalam ringkasan, bukankah itu sama saja dengan mati? Life is Death in slow-motion. Kehidupan di muka bumi ini adalah sebuah festival Kematian yang dirayakan dengan drama-drama tragi-komedi, dengan kita sebagai lakon-lakon yang ujung-ujungnya mati. Dan, sampai pada titik ini, hilang sudah kegusaran saya pada Tolstoy. Sebab, ya, ternyata kematian memang berkisah. Kematian sama dengan kehidupan, sebuah kisah kematian. Begitukah?

“Tetapi bagaimana mungkin!, “ sahut, katakanlah, seseorang yang protes pada pernyataan saya. “ Bagaimana mungkin semua ini cuma Kematian saja! Aku hidup! I am alive. This is life. What I feel now, right now. This can’t be Death. No, it can’t be! I know I am going to die. I know I am walking to that moment called Death and I know I know nothing about it for I’ve never been there. But, look, now I am here, at this moment, feeling it, breathing it, even touching it. Life ! This is how Life is. This must be it. Must be! But, Death? Oh, Death can wait. I’ll be there alright. Only right now I’m not talking about it. No, sir, not about it. It can wait, and it better waits! I’ll be there sooner or later. What I have in me now, being not-dead-yet, is this feeling of Life, a tester of Life, a trailer, and I am tasting it, watching it. But what’s these tears on my cheeks at this very moment and aches in my head and my chest? Knowing that I am going there, as you say, to Death for sure….Oh, what’s the meaning of it? What does it mean? What does it all signify? And what for?...Oh, how absurd!”

Saya tidak bisa membayangkan apa selajutnya yang terjadi pada orang ini. Tetapi yang jelas, perkataan orang itu mengungkapkan sebuah petunjuk tentang apa sebenarnya yang kita selama ini kita sebut ‘kehidupan’ di muka bumi ini.Dan saya pun berpikir tentang fiksi Kehidupan. 

Fiksi bukan kenyataan. Fiksi adalah rekayasa kenyataan, sebuah simulasi. Jadi, fiksi  Kehidupan bukanlah Kehidupan itu sendiri. Fiksi Kehidupan adalah simulasi dari Kehidupan. Di atas saya menunjukan bahwa pengenalan kita akan kehidupan sesungguhnya adalah sebuah nostalgia. Dan, bukankah nostalgia adalah sebuah fiksi? Sebuah komposisi karya pikiran yang mengingat-ingat? “Tetapi, tunggu! Semua itu begitu nyata!” orang tadi. Tetapi kenyataan yang diacu oleh orang itu adalah hal yang sebentar lagi turut musnah bersama dengannya dalam Kematian. Kenyataan yang selama ini ia pegang, dengar, lihat, cium, cicip dan rasakan tak lain adalah bagian dari fiksi Kehidupan! Maka tak heran bila sifatnya begitu plastis: ia dapat ditekuk, dibengkokkan, disembunyikan, dibongkar-pasang. Walau demikian, saya akui bahwa, seperti kata orang yang protes itu, sebagai manusia saya dapat merasakan, mencicipi dan memikirkan kehidupan sebagai sebuah antitesis dari Kematian, biarpun saya tetap tahu suatu saat nanti saya mati. (Alasan mengapa hal ini dapat terjadi merujuk pada natur manusia, yang mungkin tidak saya bahas sekarang). 

Sebuah petunjuk penting adalah logika tesis-antitesis yang senantiasa hadir dalam pengenalan saya akan Kehidupan dan Kematian. Tesis bukan antitesis, dan sebaliknya. Di dalam tesis tidak ada unsur antitesis, begitu juga sebaliknya. Kehidupan bukan Kematian, dan sebaliknya. Di dalam Kehidupan tidak ada unsur Kematian, begitu juga sebaliknya. Apabila ada suatu kehidupan yang di dalamnya ada unsur kematian, maka itu pasti bukan kehidupan yang sejati, seperti halnya kehidupan di muka bumi ini. Telah saya tunjukan di atas bahwa kehidupan di atas bumi ini lebih tepat disebut Death in slow-motion. 

“Lalu apakah itu berarti tidak ada kehidupan? Apakah Kehidupan, dengan ‘K’ besar, tidak ada? Apakah semua ini hanya Kematian?” tanya si tukang protes, dan saya pun kembali ke fiksi Kehidupan.

“Tidak juga. Justru karena Kematian itu ada begitu pasti maka Kehidupan itu juga ada dengan sama pastinya. Saya hanya menyebut apa yang telah kita lalui sampai saat ini sebagai fiksi kehidupan. Sebab, sebagai fiksi, ia hanya menghadirkan sekilas wajah Kehidupan yang dengan ‘K’ besar itu. Kehidupan kita sekarang adalah sebuah simulasi dan bukankah sebuah simulasi membutuhkan obyek riil yang ia simulasikan? Itulah Kehidupan. Dengan ‘K’ besar.”

            “Dan seperti apa wajah Kehidupan itu? Bagaimana kita dapat mengenalinya? Dapatkah kita memperolehnya?”

            “Wajah Kehidupan? Pertama, Kehidupan tidak terkoordinat dalam dimensi ruang dan waktu. Sebab, segala sesuatu yang ada dalam ruang dan waktu adalah obyek Kematian…. Anda tersenyum. Apakah Anda bertanya dari mana saya tahu itu?”

            “Tentu saja! Sebab, sepertinya kau mulai memaksakan sebuah proposisi di sini!”

            “Tidak ada yang sedang memaksa. Anda dapat mengujinya dengan pengalaman Anda sendiri. Saya bicara, lagi, tentang tesis-antitesis. Dan juga, tentang fiksi kehidupan.”

            “Apa hubungannya dengan tesis-antitesis dan fiksi kehidupan-mu itu?”

 
Sebelum saya melanjutkan lamunan komedi di atas, mungkin ada baiknya bila saya berempati sejenak pada rekan bicara saya itu. Ia tersenyum simpul ketika mendengar saya bicara tentang wajah Kehidupan. Saya dapat mengerti rasa sebal dibalik seyumnya itu karena pada umumnya sebuah proposisi yang diajukan dalam sebuah argumentasi bersifat keyakinan pribadi. Rekan saya itu sebal karena dia mengira saya sedang memaksakan keyakinan pribadi saya. Mungkin memang begitu. Mungkin dia benar, saya sedang memaksakan keyakinan saya. Tetapi, saya yakin bila saja ia sedikit bersabar (lagipula mengapa musti jadi gusar seperti itu?) dan mendengarkan seluruh penjelasan saya, maka dia akan melihat sendiri bahwa keyakinan saya sebenarnya adalah sesuatu yang ia miliki juga. Proposisi saya adala proposisinya juga.Tetapi saya tidak sedang membicarakan karakter orang di sini. Kembali ke adegan berikutnya. 

            “Hubungannya seperti ini. Kematian adalah antitesis dan Kehidupan tesisnya. Di dalam antitesis hanya ada unsur-unsur yang sifatnya berlawanan dengan unsur-unsur tesisnya. Nah, salah satu unsur Kematian adalah dimensi ruang dan waktu, mengingat Kematian di sini adalah kisah kehidupan kita di bumi ini. Dengan demikian di dalam tesisnya, yakni Kehidupan, tidak ada ruang dan waktu.”

            “…..”

            “…........”

            “…Emm….kembali ke soal wajah Kehidupan saja.”

            “…..Baiklah. Pertama tidak ada ruang dan waktu. Kedua, tidak ada Kematian. Setiap saat setiap hari selama kita masih bernafas secara instingtual kita tidak ingin mati. Kita ingin hidup dan hidup selamanya. Dan,..”

            “Ya, ya, aku tahu itu. Aku menyadari itu. Walau terkadang ada saat-saat tertentu aku ingin mati karena masalah-masalah yang terlalu berat rasanya, tetap saja di balik keinginan untuk mati itu ada harapan kalau saja semua tidak berjalan seperti itu dan aku dapat hidup tenang untuk selamanya.”

            “Ya, dan apa yang baru saja Anda katakan memberi petunjuk pada hal yang ketiga dari wajah Kehidupan, yaitu kebahagiaan. Dalam Kehidupan ada Kebahagiaan. Bahkan lebih tepat dikatakan, Kehidupan itu sendiri ekuivalen dengan kebahagiaan karena antitesisnya, Kematian, ekuivalen dengan sengsara, derita, kerja keras, kerja berat, kesusahan, seperti yang dialami oleh setiap orang yang bernafas di atas bumi ini sepanjang segala sejarah.”

            “Dan hal itu menunjukan sekali lagi bahwa kehidupan kita sekarang sebenarnya adalah Kematian in slow-motion, begitu?”

            “Begitu.”

            “Oh, fu*k you!”

 

Saya menyelesaikan komedi di atas di sini karena kemudian rekan saya itu kembali tersenyum, bahkan kemudian tertawa, dan pergi meninggalkan saya. Sebab, ketika ia menanyakan kapan kita menghidupi Kehidupan itu, saya menjawabnya, “Ketika kita benar-benar bertobat, dan percaya pada Yesus Kristus.” 

Orang masih dapat meragukan akan keberadaan Kehidupan. Apa yang terjadi di muka bumi ini membuat orang itu pesimis dan apatis. Lebih mudah baginya bila ia mengambil suatu tekad dan mengambil sikap pasrah dan menerima apa saja yang harus ia lalui di muka bumi ini, termasuk kematiannya kelak. Bukankah, Kematian tidak dapat diragukan, dihindari? Bagi saya, sikap seperti itu salah dan sebenarnya merupakan modifikasi dari mekanisme pertahanan-diri. Kematian tidak perlu diragukan atau dihindari. Kita semua sudah berada dalam Kematian itu. Orang senantiasa berpikir bahwa ia hidup dan kehidupannya itu bermula ketika ia dilahirkan. Padahal semua itu hanyalah fiksi, simulasi dari Kehidupan yang sejati. Sebagaimana kehidupan di bumi ini pasti dimulai dengan kelahiran, begitu pula Kehidupan yang sejati pasti bermula dari sebuah kelahiran. 

Tidak heran Yesus Kristus berkata pada Nikodemus, “sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Dan, Nikodemus merespon dengan “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua?” Di sini Yesus Kristus mengacu pada Kehidupan, sementara Nikodemus pada fiksi kehidupan, bernostalgia pada pengalaman-pengalaman yang ia saksikan di muka bumi dan menyimpulkan bahwa kelahiran hanyalah peristiwa biologis bayi keluar dari rahim ibu. 

Saya tidak tahu bagaimana meneruskan kisah orang yang meninggalkan saya di atas karena saya menyebut nama Yesus Kristus. Bisa saja saya mendeskripsikan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada dirinya kemudian, dan itu dapat menjadi sebuah kisah yang menarik hati khalayak ramai. Katakanlah, kisahnya dibukukan dan buku itu memuat ribuan halaman. Tetapi, bukankah buku yang ribuan halaman itu sebenarnya sebanding dengan satu kalimat “Ia lahir, lalu hidup, lalu mati.”?
 

Sampai di sini habis sudah lamunan saya pasca membaca karya pendek Tolstoy itu. Tetapi tidak lama kemudian, muncul sesuatu dalam pikiran saya. “Apa artinya semua ini buatku? “

 

Even if I must pass this labyrinth of signs,

On its slippery path of semantics,

In the valley of the shadow of Life,

I am not afraid of evil!

For you are with all of us,

O Death.



Bookmark:



Viewing 1 - 3 out of 3 Comments

04/14/2008 03:25:19

... ternyata kesia-siaan itu menyenangkan! Banyak hal jadi bisa dilakukan yang tadinya tidak bisa.

absolutely agree on this one.




04/14/2008 01:03:59

supernis wrote:

“Apa artinya semua ini buatku? “

tidak ada.

apakah yang bisa kamu lakukan kalau kamu tahu? apakah ayng tidak bisa kamu lakukan kalau kamu tidak tahu? semuanya adalah sia2. dan diberkatilah mereka yang tidak tahu apa2.


Ha ha ha.. Bung supernis betul juga! Terkadang saya juga berpikir seperti itu. Semuanya sia-sia. Tetapi, ternyata kesia-siaan itu menyenangkan! Banyak hal jadi bisa dilakukan yang tadinya tidak bisa.

 'diberkatilah mereka yang tidak tahu apa-apa'

Berkat itu...sia-sia juga bukan?




04/13/2008 21:57:39

“Apa artinya semua ini buatku? “

tidak ada.

apakah yang bisa kamu lakukan kalau kamu tahu? apakah ayng tidak bisa kamu lakukan kalau kamu tidak tahu? semuanya adalah sia2. dan diberkatilah mereka yang tidak tahu apa2.






*** www.AkuPercaya.com ***
Powered by phpFoX Version 1.6
free forum hosting