Allah menciptakan segala sesuatu (alam semesta) ini dari tidak ada menjadi ada (creatio ex nihilo). Maka dari itu yang ‘ada’ adalah esensi yang menjadi core dari segalanya, sedangkan yang tidak ada adalah tidak adanya yang ‘ada’ itu. Mengapa jikalau kita tidak ada uang, kita merasa susah? Mengapa jikalau seseorang yang kita kasihi telah tiada atau meninggalkan dunia ini, kita merasa sedih / berdukacita? Dari hal ini saja bisa disimpulkan bahwa ada itu lebih besar dari tidak ada.
Akan tetapi setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa (fall), manusia yang seharusnya ber’ada’ atau mempunyai keberadaan itu diputarbalikkan menjadi tidak ada, bahkan jika bisa tidak ada sampai selamanya, seperti dalam filsafat New Age Movement. Oleh karena yang ada menjadi tidak ada, maka membuat manusia bukan hidup untuk Allah lagi, tetapi untuk dirinya sendiri. Sudah seharusnya yang ada harus tetap ada sampai selamanya, tetapi tidak sampai di situ saja harus terus-menerus berkembang.
Jikalau kita hidup hanya untuk menikmati hidup itu sendiri, maka hidup yang dijalankan tersebut perlahan-lahan akan terbuang sampai habis seperti air di dalam suatu wadah yang ada lubangnya, perlahan-lahan air itu akan mengalir keluar sampai habis. Itulah dari ada menjadi tidak ada. Itulah kehidupan manusia yang berdosa.
Justru ketika kita menyangkal diri kita, menaklukkan diri di bawah Sang Pencipta kita, memeras diri / menggunakan potensi kita untuk digunakan bagi Tuhan, maka kita di situ ada. Bahkan kita akan merasa puas hanya di dalam Dia dan tak kekurangan sesuatu apapun (Mazmur 23:1).
Diringkas dari Khotbah di FIRES (Fellowship of Indonesian Reformed Evangelical Students)