Welcome Guest Login or Signup
LIVE CHAT | INSTANT MESSENGER | BOOKMARK
| LANGUAGE:

BLOGS   WRITE NEW BLOG   EDIT BLOGS  
 
RSS
AXIS GSM setankah?
Posted On 05/09/2008 07:54:37 by dolfy
Ok kalo anda orang Kristen yang penasaran akan ini coba lihat sisi ini ? n baru kita comment Karyawan NTS (PT.Natrindo Telepon Seluler sekarang jadi AXIS) Says: Mei 5, 2008 at 7:59 am ALL, ini historynya kenapa AXIS itu brand lama yang nyomot dari kata MAXIS (dulu majority share holder)dan ini udah digodok dari awal taun 2006, oleh ceo, cmo dan cto yang campuran orang kristen, islam, bahkan ada hindunya (india) singkatnya brand ini mo nerusin kata MAXIS tapi cukup 4 hurup aja, biar mudah diinget,jadi gak mungkin AXIS=antri chist or whatsoever you said nah begitu saudi telecom masuk bulan nov 2007, ini perusahaan dah gak sempet lagi re-branding, karena dah dikejar2 pemerintah disuruh launching, yang jadi fokus adalah berbenah network dan keep maintain program marketing, jadilah AXIS diteruskan terus kenapa angka 6?, dulu waktu pake kartu NTS, tarif voice NTS adalah Rp 1/detik, jauh sebelum XL mengenalkan Rp1/detiknya…nah kita mau meneruskan tarif tersebut, tapi dengan charging block setiap 15 detik, jadilah dirubah ke Rp 60/menit sama saja toh, bedanya axis dapet pemasukan yang lebih dikit…lha terus kenapa yang laen 600 juga, ini cuma strategi marketing aja biar mudah diinget..thats all nothing less or more! jadi kalo warga kristiani yang freak ketakutan ama angka2 tersebut, berfikirlah realistis dan rasional, jangan ada anggapan ini kartu setan atau apalah, semua equipment ini ada equipment elektronik sama dengan operator laen, nothing fancy dan bukan buatan setan, semua bisa dijelaskan dengan sangat ilmiah tidak ada yang tau2 nelpon tengah malam dari nomer2 aneh yang notabene bukan prefix kita, karena tidak mungkin, msc kita tidak mengenal prefix tersebut kita jualan gsm dengan niat baik, toh dikantor kami juga banyak karyawan non-muslim nya (dulu ex lippo telecom) mereka fine2 aja, bahkan sebagian ada di marketing yang mendefine program ini axis berusaha memberikan layanan yang baik, dan juga telah memberikan lapangan kerja yang sangat layak buat ratusan karyawannya baik muslim, kristen maupun hindu, budha ada semua disini, yang semuanya bekerja secara profesional kalo masalah bagian dari promo, yang pasti bukan, manalah mau kita berpromo seperti itu, ada-ada aja..so..hentikan lah polemik ini, tidak berdasar, tidak masuk akal dan tidak “baik” dilanjutkan axis - gsm yang baik Iwan saja Says: April 2, 2008 at 2:50 am Saya baca berita somewhere di internet STC siapin dana 15 Billion USD ( 140 TRILYUN) buat ekspansi keluar … AXIS dapat jatah berapa yah ?? kayaknya anak usaha STC di luar cuman MAXIS dan AXIS saja … wah kalo bisa dapet separonya saja bisa klenger TELKOMSEL dan INDOSAT, sementara mereka jadi sapi perahan buat bayar dividen yg besar ke investor .. STC malah ngga mau dividen … maunya buang duit .. mungkin daripada beli CITIBANK CS. yg di protes mulu sama Politisi Amrik. Senin, 17/03/2008 09:49 WIB Natrindo Axis Harus Bisa Kejar XL di 2009 Achmad Rouzni Noor II - detikinet Jakarta - Pemerintah memberi tenggat waktu kepada Natrindo Telepon Seluler sampai 2009 agar bisa menyamai jumlah infrastruktur jaringan seperti yang dimiliki Excelcomindo Pratama (XL) saat ini. Kabag Umum dan Humas Ditjen Postel Gatot S Dewa Broto menandaskan, setidaknya target pembangunan minimal 10 ribu base transceiver station (BTS) tersebut paling lambat sudah harus dipenuhi penyelenggara seluler Axis itu pada 2010. "Kami akan terus memantau perkembangannya setiap enam bulan sekali, apakah arahnya ke sana atau tidak. Jika tidak, maka kami tak segan memberi sanksi. Kami sekarang sangat keras," ujarnya kepada detikINET, Senin (17/3/2008). Alasan Natrindo harus mengejar jumlah pembangunan seperti XL tak lain karena besaran frekuensi yang dimiliki kedua operator tersebut serupa. Namun, XL saat ini telah memiliki hampir 12 BTS dengan pelanggan lebih dari 16 juta. Berbeda dengan XL, Natrindo yang diakui Gatot telah mengantungi lisensi seluler sejak 8 tahun yang lalu, dinilai belum cukup optimal menggunakan frekuensinya. Pelanggan yang dimiliki tak lebih dari 20 ribu. Prestasi yang dicatat operator ini lebih menyoal pergantian kepemilikannya saja. Natrindo yang sebelumnya dikuasai grup Lippo, telah dilego 95% sahamnya ke operator asing milik Malaysia, Maxis Communication Berhad. Sampai akhirnya, kepemilikan itu berganti lagi dengan masuknya Saudi Telecom Company yang mengakuisisi Maxis (kini 45%) dan kemudian mendominasi Natrindo (51%). ( rou / rou ) Selasa, 01/04/2008 NTS optimistis bisa pertahankan frekuensi Cetak BANDUNG: PT Natrindo Telepon Seluler (NTS) optimistis pemerintah tetap akan mempertahankan alokasi frekuensi seluler bagi operator GSM generasi ketiga (3G) itu karena layanan telepon seluler dengan merek Axis terus digelar. Chief Executive Officer PT NTS Erik Aas mengungkapkan pihaknya sudah menjalin komunikasi intensif dengan pemerintah mengenai ancaman pencabutan frekuensi akibat lambatnya implementasi layanan. "Kami membaca berbagai polemik di surat kabar tentang ancaman pencabutan frekuensi. Akan tetapi kami sudah dialog dengan Dirjen Postel dan optimistis frekuensi tetap dipertahankan," katanya di Bandung, akhir pekan lalu. Sebelumnya, desakan pencabutan datang dari berbagai elemen masyarakat seperti Ketua Komite Nasional Telekomunikasi Indonesia (KNTI) Srijanto Tjokrosudarmo dan Wakil Ketua Pokja Infokom Komisi I DPR RI Dedi Djamaludin Malik.� Ketua KNTI mengungkapkan penguasaan frekuensi 15 MHz sejak 2002, seharusnya membuat layanan NTS dioptimalkan sejak dulu sehingga pemerintah bisa mencabutnya jika operator tak serius beroperasi. Erik melanjutkan pihaknya sangat berkomitmen dengan frekuensi yang telah mereka kantongi, terbukti dengan rentang periode penggelaran layanan di Jawa Timur dan Jawa Barat yang hanya berbeda satu bulan.�������� Dia mengklaim menara telekomunikasi miliknya di dua provinsi itu masing-masing mencapai 300 unit dan 200 unit dengan sistem kepemilikan terbagi merata antara milik sendiri dan menyewa ke operator lain. "Bahkan, rencana belanja modal pada tahun ini akan mencapai US$500 juta guna membangun sekitar 3.000 menara. Pembangunan dilakukan di Jawa, Bali, Lombok, dan Sumatra bagian utara," sambungnya. Akhir April Pemilik merek dagang Axis itu juga berencana menggelar layanan secara resmi (grand launching) di Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tagerang, Bekasi) pada akhir April 2008 dengan jumlah menara lebih banyak dari Jatim dan Jabar.� Erik menambahkan jumlah pelanggan diperkirakan bisa melampaui angka satu juta nomor� setelah satu tahun gelaran layanan. Mantan petinggi Graemeen Phone, Bangladesh, itu mengungkapkan masyarakat pasti tertarik menggunakan layanannya karena pihaknya menawarkan tarif murah tanpa syarat dan ketentuan berlaku. "Skema tarif kami mudah diingat gampang dimengerti. Tarif pesan singkat Rp 60 per SMS ke seluruh operator, biaya percakapan Rp 60 per menit ke sesama Axis, dan Rp 600 per menit untuk percakapan ke operator lain." Sekalipun tarif terjangkau, pihaknya menjanjikan kualitas layanan terbaik berkat dukungan dua vendor ternama pada infrastruktur mereka yakni Huawei, China, dan Ericsson, Swedia. Perusahaan yang dulunya dimiliki Lippo Group ini juga percaya sokongan Saudi Telecom Company dan Maxis Communication Berhad akan membuat operasional perusahan terus bergerak. NTS diberi tenggat waktu sampai akhir tahun ini untuk segera mengoptimalkan izin penggunaan frekuensi karena bila tidak, pemerintah bisa mengambilnya kembali. Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar menegaskan hal itu sangat mungkin terjadi karena frekuensi merupakan sumber daya yang terbatas dan dimiliki oleh negara. "Secara mandatory pemerintah memiliki wewenang untuk melakukan intervensi," tegasnya baru-baru ini. Beberapa waktu lalu, pemerintah memberikan peringatan kepada NTS karena dinilai kurang optimal dalam menggunakan frekuensi radio sehingga terancam terkena pengurangan alokasi lebar pita. Berdasarkan surat No. 308/ DJPT.4/KOMINFO/8/2008 tertanggal 29 Februari, Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi Depkominfo mengingatkan NTS untuk menggunakan pita frekuensi yang dialokasikan kepadanya secara optimal. Kabag Umum dan Humas Ditjen Postel Gatot S. Dewa Broto ketika itu mengungkapkan pemerintah mengancam akan melakukan evaluasi kembali terhadap penggunaan pita frekuensi yang telah ditetapkan kepada operator itu, bahkan tidak menutup kemungkinan akan mengurangi atau mencabut sumber daya alam yang terbatas tersebut dari NTS. "Jumlah BTSyang dibangun oleh NTS tidak sebanding dengan lebar pita yang diterapkan dan BHP Frekuensi Radio yang dibayarkan ke Kas Negara," ujarnya waktu itu. Ditjen Postel mengingatkan frekuensi radio tersebut sangat eksklusif dan sangat terbatas, sehingga apabila NTS tidak melakukan pembangunan BTS secara optimal, Ditjen Postel akan melakukan pengurangan terhadap lebar pita yang telah ditetapkan. Ketua Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia Merza Fachys berpendapat agar berbagai pihak jangan terburu-buru menyamakan polemik frekuensi NTS dengan konteks migrasi frekuensi beberapa waktu lalu. Meskipun demikian, mekanisme musyawarah sebagai solusi pada saat migrasi frekuensi yang lalu bisa ditiru untuk mengatasi masalah NTS jika operator itu dianggap belum optimal menggunakan frekuensinya.� (07/Roni Yunianto) (redaksi@bisnis.co.id) pendapat anda bagaimana sementara ini ?

Tags: AXIS



Bookmark:



Viewing 1 - 1 out of 1 Comments

05/09/2008 07:55:57
ayoooooo kawan2 kami butuh comment anda ?




*** www.AkuPercaya.com ***
Powered by phpFoX Version 1.6
FREE FORUM HOSTING - JAPANESE BAGS