Saya lebih memilih (prefer) menyebut agama sebagai iman-kepercayaan (faith). Agama bukan hanya sekedar berisi upacara-upacara, aturan-aturan, larangan-larangan, perintah-perintah, dan janji-janji. Agama dalam pengertian iman-kepercayaan setidak-tidaknya berisi penjelasan dan pengajaran tentang: a) TUHAN, Allah yang benar; b) relasi antara manusia dan penciptanya; c) relasi antara manusia dan manusia; d) relasi manusia dengan ciptaan-lainnya; dan e) kehidupan selanjutnya (after death).
Agama harus dapat (shall) menjelaskan dan mengajarkan kepada pemeluknya bahwa ada hakekat (esensi) yang memiliki kuasa supra-natural di luar kendali manusia. (Catatan: saya memilih menggunakan kata “hakekat” terjemahan dari kata “essence”; bukan “zat” terjemahan dari kata “substance”). Bukan hanya menjelaskan tentang hakekat tersebut, tetapi agama juga harus dapat menjelaskan dan mengajarkan perbedaan antara “yang benar” dan “yang palsu.”
Agama harus dapat menjelaskan dan mengajarkan kepada pemeluknya tentang bagaimana manusia (dan ciptaan lainnya) ada. Selain itu, dalam kaitannya dengan manusia maka agama juga menjelaskan dan mengajarkan tentang: a) kenapa (atau tujuan) manusia itu ada; b) bagaimana relasi antara manusia dengan penciptanya; dan c) hidup dan mati, serta kelanjutannya. Demikian juga tentang ciptaan lainnya (seperti: bumi, matahari, dll) dan relasi manusia dengan mereka.
Saya tidak menolak (dan dapat menerima) bila dalam agama ada aturan-aturan dan larangan-larangan. Manusia sangat membutuhkan rambu-rambu untuk hidup-sendiri dan hidup-bersama dengan manusia lainnya di dunia ini. Saya juga tidak menolak bila agama juga mengajarkan agar kita mempunyai kewajiban untuk tunduk pada penguasa (pemimpin atau pemerintah), karena saya memahami bahwa pemerintahan mempunyai tugas dan peranan agar tercipta dan terjaga keteraturan di dunia ini. Agama sebaiknya dijadikan sumber dari semua nilai-hidup dan prinsip-hidup (values and beliefs) seseorang; atau nilai-hidup dan prinsip-hidup seseorang diambil (atau di-enternalisasi-kan) dari agama yang dipeluknya. Nilai-nilai dan prinsip-prinsip itu pada akhirnya tercermin dalam pikiran, kemauan, emosi-perasaan, perkataan, dan tindakan orang tersebut. Segala tindakan manusia, baik itu terlihat (overt) maupun tidak-terlihat (covert), mencerminkan nilai-hidup dan prinsip-hidup yang dimilikinya. Misalnya: seseorang memiliki nilai-hidup safety yang menghargai aspek-aspek keamanan dalam bekerja; tidaklah heran bila pada saat bekerja di ketinggian, maka yang terlebih dahulu dipikirkan dan disiapkan oleh pekerja itu adalah keamanan-kerjanya. Sebelum bekerja, ia akan mengamati (atau mengevaluasi bahaya-kerja) tempat-kerja dan sarana-kerjanya. Setelah itu, tindakannya adalah mengambil dan menggunakan peralatan-peralatan untuk mengamankan dirinya; dst. Contoh lain, misalnya: seseorang mempunyai perasaan dan pandangan yang kurang-enak tentang pesta --pesta tidak menyenangkan, maka wajar bila ia menolak ajakan dari teman atau orang lain untuk pergi ke pesta.
Seseorang bisa saja, hanya mengambil sebagian nilai-hidup dan prinsip-hidup dari iman-kepercayaannya dan sebagian dari pengalaman hidupnya. Misalnya: bagi seseorang kepercayaan-diri (self-esteem; dari psikologi) merupakan hal penting yang harus dimiliki.
Saya berpendapat bahwa agama yang dipeluk seseorang sebaiknya dijadikan sumber dari semua nilai-hidup dan prinsip-hidupnya (values and beliefs); dimana sebagai konsekwensinya, maka kita dapat melihat iman-kepercayaannya dari sikap, tindakan, tuturkata, dan keseluruhan hidupnya.