Secara terus-menerus, setiap waktu, manusia “menguji” nilai-hidup dan prinsip-hidup yang diyakini dan dimilikinya. Sejak masih anak-anak, kita sudah me-internalisasi-kan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang kita benarkan; dan kemudian kita jadikan nilai-nilai dan prinsip-prinsip itu sebagai “jiwa” dari seluruh pikiran, perkataan, kemauan, dan tindakan kita.
Seiring dengan pertumbuhan fisik kita, bertumbuh pula kemampuan psikologis dan lingkungan sosial kita; dengan demikian, sangat dimungkinkan terjadinya “gesekan” antara nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang telah diyakini dengan yang baru. Tetapi kita tidak perlu kawatir, karena kita manusia diberikan kemampuan oleh pencipta kita untuk menguji dan menguji (terus menerus menguji) kebenaran dari nilai-nilai dan prinsip-prinsip kita; dengan tujuan agar kita dapat bertahan-hidup (survive) di tempat kita tinggal.
Secara individu, seorang dengan seorang, walaupun dilahirkan kembar dari satu sel telur dan dibesarkan oleh orang tua yang sama, masing-masing individu tersebut mempunyai nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang berbeda. Perbedaan tersebut bisa terjadi karena adanya perbedaan dalam mempersepsi dan merespons kejadian (event) yang sama. Jadi, nilai-hidup dan prinsip-hidup orang per orang sebagai individu berbeda satu dengan lainnya. Istilah kerennya: individual differences.
Kelompok-sosial juga mempunyai andil dalam penetapan nilai-hidup dan prinsip-hidup anggota kelompoknya. Misalnya “anak-gelandangan (tidak-berumah)” akan berbeda dengan “anak-rumahan” dalam mempersepsi dan merespons kejadian yang sama. Demikian seterusnya hingga ke tingkat bangsa-negara; masing-masing bangsa memiliki nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang berbeda.
Pernah atau tidak, pembaca mengalami atau memikirkan hal ini. Kita sedang berbicara dengan seorang pemulung. Pada saat kita ajak berdiskusi dan berpikir tentang manfaat menabung, maka dia terlihat bingung (atau kurang mengerti). Ybs bingung karena tidak memahami nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang coba anda tawarkan kepadanya.
Nilai-nilai dan prinsip-prinsip tersebut kita susun sedemikian rupa (secara sistematis) menjadi cluster-cluster; semacam susunan katagori-spesies dalam ilmu biologi. Nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang kita ambil (internalisasikan) tidak tersebar dengan tidak teratur dalam diri kita. Mereka tersusun secara sistematis dan hierarkis. Contoh: terhadap pertanyaan “mengapa anda bekerja” yang diajukan oleh pewawancara, ada diantara kita yang menjawabnya “untuk memperoleh penghasilan”, atau “untuk punya pengalaman-kerja”, atau jawaban-jawaban lainnya. Bila ditanya lagi “mengapa anda memerlukan penghasilan”, ada yang menjawab “untuk menghidupi keluarga saya”, atau “untuk beli pakaian”, atau lainnya. Demikian seterusnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan hingga tiba pada puncaknya; istilah kerennya: core values.
Yang menarik, bila kita dapat mengetahui nilai-nilai dan prinsip-prinsip seseorang, maka kita dapat memprediksi dan menduga apa yang akan dilakukan, dikatakan, atau yang dipikirkannya. Misalnya: kita tahu bahwa si-A menempatkan anak-kandungnya sebagai yang berharga, maka kita dapat menebak tindakannya bila ybs dihadapkan pada situasi tertentu yang melibatkan keamanan anaknya tersebut.
Man is a scientist. Kita manusia ini telah diberi kemampuan yang demikian sempurna oleh pencipta kita dalam berhubungan (deal) dengan seluruh aspek yang ada di sekitar kita, maka selayaknya bila kita tidak boleh menyerah pada persoalan-persoalan hidup yang ada; semuanya tergantung pada apakah kita mau merubah nilai-hidup dan prinsip-hidup yang sekarang ada diri kita.