|
BLOGS
|
|
WRITE NEW BLOG
|
|
EDIT BLOGS
|
|
|
|
|
|
Tulisan: Allah & Wong Cilik
|
ALLAH & WONG CILIK
Di dunia ini di mana ada orang kaya dan miskin, tidak sedikit dari mereka yang mempunyai kekayaan justru menarik keuntungan dari mereka yang mempunyai sedikit dan sering mendapat lebih banyak dengan cara merugikan orang miskin yang diperas (lih. Mzm 10:2,9-10; Yes 3:14-15; Yer 2:34; Am 2:6-7; 5:12-13; Yak 2:6). Alkitab berbicara banyak tentang bagaimana orang percaya harus memperlakukan orang miskin dan melarat. Dalam berbagai cara Allah telah mengungkapkan perhatian besar bagi orang miskin, yang kekurangan, dan tertindas. Tuhan Allah memperjuangkan kaum miskin dan kekurangan. Ia menyatakan diri-Nya sebagai tempat perlindungan mereka (Mzm 14:6; Yes 25:4), pertolongan mereka (Mzm 40:17; 70:5), pelepas mereka (1Sam 2:8; Mzm 12:6; 34:7; 35:10; 113:7; bdk. Luk 1:52-53) dan pemelihara mereka (Mzm 10:14; 68:11; 132:15). Di dalam Matius 11:5, Yesus mengindikasikan suatu hal yang sangat penting yaitu membangun pelayanan bagi orang-orang miskin. Itulah sebabnya hal Kerajaan Allah dikumandangkan. Yesus memakai perkataan Yesaya 61:1-2 mengatakan bahwa kabar baik telah disampaikan kepada orang-orang miskin: Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Luk 4:17-19). Yesus adalah pemberi spirit kepada siapapun yang memberitakan area baru dari keselamatan yang dibawa-Nya untuk jalani-Nya selaku Mesias yang diurapi (Yes 61:1-2; 58:6). Adapun natur dari misi-Nya itu ditandai oleh empat ekspresi yang bersifat infinitif: 1menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, 2memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, 3membebaskan orang-orang yang tertindas, 4memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.
Pada bagian ini Yesus jelas ingin berbicara, bahwa orang-orang miskin[1] yang menerima pemberitaan kabar baik itu mengacu kepada yang lebih umum, yaitu mereka yang kehilangan hak-haknya dan mereka yang tertolak di tengah-tengah masyarakat.[2] Kata-kata dalam teks di atas seperti memproklamirkan kemerdekaan, membebaskan, dan memberitahukan tahun rahmat Tuhan mempunyai arti yang jelas bagi bangsa Yahudi. Kata-kata ini bagi bangsa Yahudi merupakan gambaran dari pengharapan mesianik.[3] Maka sebagai Yang diurapi Roh, Ia menerangkan maksud pelayanan-Nya, yaitu: 1. Untuk menyampaikan kabar baik kepada orang miskin, papa, menderita, hina, patah semangat, hancur hati, dan mereka yang "gentar kepada firman-Nya" 2. Untuk mencelikkan mata rohani mereka yang dibutakan oleh dunia dan Iblis agar mereka dapat melihat kebenaran kabar baik Allah (bdk. Yoh 9:39). 3. Untuk menyembuhkan mereka yang memar dan tertindas. Penyembuhan ini meliputi segenap pribadi, baik jasmani maupun rohani. 4. Untuk memberitakan saat pembebasan dan penyelamatan yang sesungguhnya dari kuasa Iblis, dosa, ketakutan, dan rasa bersalah (bdk. Yoh 8:36; Kis 26:18). Dalam pelayanan Tuhan Yesus Kristus di dunia ini, Tuhan Yesus sering kali menyatakan belas kasihan-Nya kepada mereka yang miskin dan tertindas. Tuhan Yesus menyatakan “kabar baik” untuk orang miskin bukan perkataan saja, tetapi juga dengan tindakan-Nya untuk menyampaikan “kabar baik.” Tindakan-Nya adalah: menyembuhkan dua orang buta (Mat 9:27-31), orang bisu (Mat 9:32-34), orang yang sakit kusta (Luk 5:12-16), hamba seorang perwira di Kapernaum (Luk 7:1-10), seorang yang lumpuh (Luk 5:17-26), dua orang yang kerasukan (Luk 8: 26-39), dan masih banyak yang lain. Jadi dapat disimpulkn bahwa misi pelayann Tuhan Yesus Kristus, di satu pihak menjawab kebutuhan spiritual yang hanya bisa dipenuhi oleh Allah sendiri, akan tetapi di pihak lain Kristus juga datang untuk memenuhi kebutuhan material umat-Nya—khususnya yang miskin. Bagi-Nya tidak ada dualisme, manusia adalah satu kesatuan utuh baik secara rohani maupun jasmani. Dan menurut de Santa Ana: This is vital important to the Church which, in the light of Mathew 25:31-46, defines its faithfulness to Jesus Christ in accordance with its position in relation to challenge of the poor and poverty.[4] [1]John Stott, Isu-Isu Global (Yogyakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1994), 314-315, mengatakan: “yang dimaksud orang miskin di sini bukanlah orang miskin secara materi atau juga orang miskin secara jasmani saja. Tetapi orang miskin yang dimaksud di sini adalh kombinasi dari orang miskin secara jasmani maupun miskin secara rohani.” [2]Kostenberger dan O’Brien, 17. [3]Donald B. Kraybill, Kerajaan yang Sungsang (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), 78.
Tags: WongCilik
|
|
 |
[-] |
|
|
|
|