Anaknya cakep. Putih. Berambut panjang melewati bahu. Matanya berkilau, agak kecoklat2an. Kalo tertawa, matanya makin berkilau.
Suatu hari kita berdua ngobrol. Ngobrolin soal pacaran. Terutama waktu dia bilang betapa dia bangga dengan pacarnya. Tajir. Pintar. Datang dari keluarga kaya, berpendidikan. Lalu dia bercerita bahwa pacarnya juga bangga dengan dia, karena dia rohani, bijaksana, 'cantik di luar cantik di dalam' begitu istilah pacarnya mengenai dirinya. Dia tertawa lebar seakan menikmati hidup dia yang begitu sempurna.
Lalu aku bertanya ke dia, "Gimana kalo elu ternyata selingkuh?"
Dia dengan cepat menjawab, "Gak mungkin banget lah. Gue sayang banget sama cowok gue. Lagian gue emangnya cewek apaan gak tau diri setelah dapet cowok yang kaya gitu baeknya."
Aku cuma nganguk2 aja.
Lalu aku bertanya lagi ke dia, "Gimana kalo ternyata dia yang selingkuh?"
Dia juga menukas sambil menggelengkan kepalanya,"Sama aja. Gak bakal deh. Gak mungkin."
Aku menganguk2 lagi.
Kita ngobrol2 lagi. Kali ini tentang ekonomi, tentang seleb Hollywood, tentang lingkungan, tentang minyak. Semuanya kita obrolin.
Tidak terasa kita berdua duduk semakin dekat. Lalu perlahan aku dekati dia.
Kita berdua diam.
Karena aku mencium bibirnya.
Lima enam detik berlalu. Pada detik pertama dia terkejut. Mencoba menghindar. Tapi kalah cepat. Detik kelima, dia mengalungkan tangannya di leherku. Detik ke tujuh, nafasnya mulai tak teratur. Detik ke delapan, aku buka mataku dan kulihat matanya terpejam. Detik ke sembilan, dia merengkuh ketika aku peluk pinggangnya. Detik ke sepuluh, kita berdua menikmati detik tersebut. Detik kesebelas, aku tarik kepalaku dari kepalanya.
Dia tertunduk. Lalu mengangkat dagunya. Menatapku dengan pandangan bingung.
Aku menatap matanya. Lalu tersenyum. Dan dia pun tersenyum. Aku dekati kepalanya lagi. Dia mendongak seperti ingin melanjutkan kejadian tadi. Tapi aku beralih ke lehernya, daripada mulutnya. Mungkin dia pikir aku akan mencium lehernya. Dia salah besar.
Karena aku berbisik tepat di telinganya, "Anything is possible. Elu baru aja selingkuh."
Dan aku melangkah meninggalkan dia, tanpa peduli oleh isak tangisnya.
Tags: Behaviour Renungan