Welcome Guest Login or Signup
LIVE CHAT | INSTANT MESSENGER | BOOKMARK
| LANGUAGE:

BLOGS   WRITE NEW BLOG   EDIT BLOGS  
 
RSS
Kurangi Sifat Konsumtif
Posted On 08/19/2008 09:01:23 by hendra_tambunan

KONSUMTIF

 

Siapapun pasti mengetahui arti kata ‘Guna’ dan frase kata persamaan lainnya seperti ‘fungsi, manfaat, faedah dan bentuk frase kata lainnya. Dewasa ini setiap kreasi benda hidup dan mati yang ada dan tercipta di bumi kita ini, pasti memiliki guna atau manfaat tersendiri yang lebih bersifat selayaknya benda. Tetapi dewasa ini juga sering terjadi peristiwa atau kejadian-kejadian yang bersifat bahkan selayaknya tidak harus terjadi menjadi nyata terjadi ditengah sosial kehidupan masyarakat umum. Kejadian-kejadian yang tidak layak terjadi ini memicu juga banyak perbedaan pendapat ditengah masyarakat, sebahagian orang menyatakan layak terjadi bahkan ada pula yang menyatakan hal kejadian dimaksud adalah sudah termasuk pada hal yang gila (tidak sewajarnya) terjadi. Tak heran ada orang yang beranggapan itu “misteri Illahi, sudah kehendak-Nya dan lain-lain” bahkan ada juga orang sampai tidak waras karena daya kemampuan otak orang dimaksud sudah tidak sanggup lagi berimprovisasi untuk berusaha kepada suatu pemikiran yang lebih positif dan lebih berguna bagi orang-orang banyak lainnya pada yang akan terkena permasalahan yang sama pada masa yang sama dimasa-masa selanjutnya (masa depan).

Di pelbagai belahan daerah di dunia kita telah banyak contoh-contoh peristiwa yang terkadang kita sendiripun terheran-heran dalam menanggapinya sampai tidak habis fikir bahkan pula tak lama terjadi peristiwa tersebut terulang kembali bahkan disekitar kita atau bahkan menimpa kita sendiri.

Akan saya coba paparkan secara singkat mengapa peristiwa aneh itu terjadi, agar kita (masyarakat banyak) tidak hanya beranggapan ‘Semua itu merupakan bahagian dari suatu rencana Sang Pencipta kita’ dan lebih berusaha supaya peristiwa yang serupa terjadi bahkan disadari dan merupakan tidak lain adalah efek ‘sebab dan akibat’ artinya suatu peristiwa terjadi merupakan akibat dari sesuatu hal yang sadar atau tidak sadar telah terjadi mendahului peristiwa tersebut (dan bukan fenomena alam semata).

Sebenarnya semua peristiwa pasti berpotensi terjadi dimana saja dan kapan saja waktunya, tidak terkecuali negara adidaya atau negara termiskin sekalipun. Hal itu dipicu oleh akibat pelopor peristiwanya sendiri yaitu ‘Manusia’ yang diposisikan sebagai mahluk yang memiliki sosial integritas yang sama pada kaumnya dan yang melebihi integritas sosial dari mahluk hidup lainnya di dunia kita ini.

Dari berbagai aspek-aspek yang mendampingi kelangsungan peristiwa kehidupan yang dihadapi satu orang manusia ternyata tanpa disadari telah mengahasilkan suatu hal bersifat konstan yang mendasari suatu perbuatan satu manusia dalam bertindak dan dalam hal ini ternyata sangat telak nilai dan arti aspek tersebut terhadap nilai dari aspek pendukung dan pendamping sosial manusia-manusia lainnya. Hal tersebut menghasilkan satu pemahaman yang diyakini merupakan solusi tindakan dan dasar dari perbuatan yang bersifat nyata ditengah kehidupan pribadi dan umumnya manusia dan hal itu disebut sebagai Karakter atau Sifat manusia.

Tentunya saudara/i sudah mengetahui banyak hal tentang sifat dan karakter yang mendasari manusia termasuk diri pribadi. Intinya setiap karakter tersebut pasti menghasilkan suatu peristiwa-peristiwa yang lazim kita rasakan ataupun bahkan peristiwa tersebut termasuk baru dan bisa dinyatakan sebagai pembelajaran sebagai peristiwa baru yang kita alami dalam menjalani kesaharian kita sebagai manusia yang bersosial integritas dengan manusia lainnya.

Sebagai contoh salah satu yang saya lebih tekankan disini adalah sifat manusia yang egois dan lebih tepatnya menghasilkan peristiwa secara bersamaan yaitu kebiaasan ‘konsumtif’ terhadap hal-hal yang bersifat hoby atau kesukaan. Sangat tidak heran bila kita mengkonsumsi atau menikmati secara pribadi setiap hal-hal yang kita hendaki dalam kehidupan kita. Tetapi perlu disadari lebih teliti lagi sekalipun hal-hal yang kita konsumsi tersebut telah dinyatakan banyak orang adalah merupakan sebagai hal yang positif untuk di konsumsi pada diri pribadi atau manusia lainnya. Mengapa demikian?, jawabannya adalah cukup sederhana yaitu ‘dikarenakan kita adalah manusia yang bersifat sosial ditengah kehidupan berbangsa dan bernasional’. Bukankah alangkah lebih baiknya jika negara ini lebih makmur dan lebih bersahaja secara langsung dan ataupun tidak langsung oleh akibat perbuatan kita semua manusia-manusia yang sebelumnya telah mendukung setiap perbuatan-perbuatan budi perkerti para leluhur yang mendahului kita.

Dapat dibayangkan jika karakter satu manusia yang konsumtif terhadap sesuatu hal yang manusia dimaksud manusia tersebut bahkan sampai perlahan-lahan menghabiskan sumber daya alam lokal ditempat si manusia itu berada. Sebut saja penebangan hutan, pembakaran lahan, perburuan liar dan hal-hal lainnya, kesemuanya itu merupakan efek sebab akibat secara tidak langsung adalah karakter dari satu orang satu manusia yang lebih mengarah kepada suatu kebiasaan konsumtif. Tidak ditutup kemungkinan manusia itu tidak memiliki kesadaran dini terhadap karakter si manusia dimaksud.

Untuk itu biarlah kita manusia sumber daya nasional bangsa indonesia menyadari setiap karakter dari perbuatan-perbuatan kita yang konsumtif baik langsung ataupun tidak langsung yang kita lakukan. Biarlah kita juga tidak cuma hanya saling menyalahkan sesama bahkan kita harus saling introspeksi terhadap diri kita pribadi dan siap untuk dikritisi setiap manusia-manusia lainnya terhadap setiap perbuatan yang kita lakukan secara positif.

Intinya setiap karakter yang menghasilkan perbuatan konsumtif pasti memberi dampak dan akibat terhadap makmur atau tidaknya bangsa Indonesia kita ini.

Tags: Konsumtif



Bookmark:




*** www.AkuPercaya.com ***
Powered by phpFoX Version 1.6
FREE FORUM HOSTING - JAPANESE BAGS