Gereja memperingati Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria (setiap 8 September), Bunda Yesus Kristus yang menyelamatkan umat-Nya dari segala dosa mereka (Mat 1:21). Artinya kita diajak untuk meneladani Bunda Maria dalam ketaatannya pada kehendak Allah. Bersama Bunda Maria kita diajak untuk mampu mengatakan "Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu" (Luk 1:38).
Kita sebagai orang beriman, tidak boleh berdiam diri menyaksikan kesusahan, kepedihan, dan penderitaan yang diderita oleh sesama. Melalui perbuatan-perbuatan sederhana yang menunjukkan cinta kasih, kita telah berusaha menjadi rekan sekerja Allah dalam mewujudkan Kerajaan-Nya di dunia ini. Dengan demikian, kita dipanggil untuk menjadi komunitas yang menjadi penggerak perubahan tata kehidupan, yang memperjuangkan perdamaian dan keadilan dalam suasana cinta kasih persaudaraan.
Dunia sekarang ini membutuhkan orang-orang yang mau mengulurkan tangannya bagi saudaranya yang dirundung kesusahan. Karya cinta kasih kita dan doa-doa kita amat berarti bagi saudara kita yang kecil, miskin dan terpinggirkan.
Di tengah situasi zaman yang semakin sulit ini, sudahkah kita berkenan menjadi penggerak perubahan dengan membagikan rahmat yang kita terima dari Allah kepada sesama kita yang berkekurangan? Sebagai orang beriman, kita dituntut untuk mampu mencintai Allah dan sesama seperti kita mencintai diri sendiri. Cinta itu harus kita wujudkan dalam tindakan nyata yang mampu dirasakan buahnya. (SLAM)
Diambil dari: AGGIORNAMENTO, Seminari Tinggi Interdiosesan Beato Giovanni XXIII