|
BLOGS
|
|
WRITE NEW BLOG
|
|
EDIT BLOGS
|
|
|
|
|
|
Heboh Bahasa roh, episode 4
Posted On 10/08/2008 04:14:49 by dabukke
|
Heboh Masalah Bahasa Roh
oleh: Suster Maria Andrea, P.Karm
II. Apakah artinya bahasa roh adalah tanda untuk orang yang tidak beriman?
Jelas yang dipertanyakan di sini adalah tulisan St.Paulus dalam 1 Kor 14:22 yang berbunyi:
- "Karena itu karunia bahasa roh adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman; sedangkan karunia untuk bernubuat adalah tanda, bukan untuk orang yang tidak beriman, tetapi untuk orang yang beriman." (1 kor 14:22)
Orang yang berbahasa roh tidak beriman?
Ada yang beranggapan bahwa ayat tersebut berarti bahasa roh adalah tanda bahwa orang yang menggunakannya adalah orang yang tidak beriman dan bahawa bahasa roh akan memperlemah imannya.
Benarkah demikian?
Dengan mudah kita menjawab "Tidak!", karena bukti-bukti yang menyangkal hal ini jelas. Bukti-bukti itu antara lain kita temukan dalam diri St.Paulus. St.Paulus sendiri menggunakan bahasa roh bahkan ia mengatakan bahwa dialah yang berbahasa roh lebih daripada yang lain (lihat 1 Kor 14:18 ). Namun kita tahu bahwa St.Paulus bukanlah orang yang tidak beriman. justru dia adalah orang yang sangat beriman sehingga berani dibnunuh demi imannya. Begitupun para rasul. Mereka (para Rasul) berbahasa roh dan mereka berani mati demi iman dan cinta kasihnya kepada Tuhan Yesus.
Selain itu St.Paulus mengatakan:
- "Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua." (1 Kor 14:18)
dan
- "Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, ..." (1 Kor 14:5)
Jika bahasa roh itu menyebabkan orang yang menggunakannya menjadi kehilangan iman atau setidaknya mundur dalam imannya, tentulah St.Paulus tidak akan bersyukur kepada Tuhan bahwa ia berbahasa roh dan ia juga tidak akan suka orang lain berbahasa roh. Ini juga berarti St.Paulus tidak merendahkan nilai karunia bahasa roh.
Peneguhan yang lain bahwa bahasa roh bukanlah tanda bahwa orang yang menggunakannya adalah orang yang tidak beriman; dan juga bahwa bahasa roh tidak menyebabkan iman orang tersebut hilang ataupun mundur adalah pengalaman-pengalaman kita sendiri dalam menggunakan karunia ini. Banyak orang yang mengalami bahwa ketika mereka dalam keadaan sedih/murung/putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa, bahkan tak sanggup menyusun kata-kata untuk berdoa, lalu mereka berdoa dalam bahasa roh maka mereka pun perlahan-lahan mengalami kelegaan, ketenangan, dan suka cita. Semangat hidup dan harapan tumbuh kembali karena mereka mulai bisa mengarahkan hati dan pikiran kepada Tuhan. Awan kelam (penghambat iman dan harapan) diusir dari jiwanya. Sebetulnya hal ini bukan hal yang mengherankan. Ketikan orang berdoa dalam bahasa roh, Roh Kudus membantu rohnya untuk berdoa dengan keluhan-keluhan yang tak terucapkan (bandingkan Rm 8:26 ).
Mungkin masih ada banyak bukti lain sehubungan dengan jawaban "Tidak!" atas pertanyaan tersebut, namun kiranya bukti yang sangat mendasar kita dapatkan dari hakikat bahasa roh itu sendiri. Bahasa roh adalah karunia dari Tuhan (karunia Roh Kudus):
- "Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu." (1 Kor 12:10)
Tidak mungkin Roh Kudus memberikan karunia untuk menjauhkan orang dari Tuhan, untuk mengurangi/menghilangkan imannya, ataupun sekedar untuk men-stempel (memberi tanda) bahwa ia adalah orang yang tidak beriman.
St.Paulus mengatakan:
- "Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: "Terkutuklah Yesus!" dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: "Yesus adalah Tuhan", selain oleh Roh Kudus." (1 Kor 12:3)
Apa maksud St.Paulus?
Jika "bahasa roh adalah tanda untuk orang yang tidak beriman" tidak berarti bahasa roh adalah tanda bahwa orang yang menggunakannya adalah orang yang tidak beriman. Lalu apa maksud St.Paulus dengan ayat 1 Kor 4:22? Sebelum mendiskusikannya, sebaiknya Anda membaca 1 Kor 14:21-25. Dalam 1 Kor 14:21-25 St.Paulus sepertinya mengumpamakan karunia ini sebagai "bahasa asing" karena karunia ini tidak bisa dimengerti. Seandainya kita datang dan berbicara dalam bahasa Indonesia kepada orang Jepang yang tidak bisa berbahasa Indonesia, tentulah dia tidak bisa mengerti apa yang kita katakan kepadanya. Begitupun St.Paulus mengatakan: jika Tuhan datang dan berbicara kepada seseorang dengan memakai bahasa (yang) asing bagi orang orang itu. Tentulah orang tersebut tidak akan mengerti dan karenanya juga ia tidak akan percaya (bandingkan 1 Kor 14:21 yang mengutip Yesaya 28:11-12). St.Paulus memperjelas hal ini dalam ayat 23-25. Misalkan seorang yang tidak beriman --sebut saja si A-- datang ke suatu acara doa bersama, lalu ada nubuat yang menyentuh hatinya, maka ia akan percaya kepada Tuhan (lihat 1 Korintus 14:24-25 ). Di sini kita lihat bahwa bagi si A, nubuat ini merupakan "sesuatu" atau merupakan "tanda" yang membuat dia percaya kepada Tuhan. Seandainya si A dalam acara doa tersebut hanya mendengar bahasa roh yang tidak dimengertinya, mungkin dia akan menganggap orang-orang di situ gila dan karenanya dia tetap tidak percaya (lihat 1 Kor 14:23). Jika demikian, bagi si A bahasa roh merupakan "sesuatu" atau merupakan "tanda" yang membuat dia tidak percaya kepada Tuhan. Jadi, dalam konteks inilah kata-kata St.Paulus bahwa "bahasa roh adalah tanda ... untuk orang yang tidak beriman" (lihat 1 Kor 14:22 ) Penutup
Dari semua pembahasan di atas, kiranya jelas bahwa St.Paulus tidak melarang orang memakai bahasa roh dalam acara doa bersama. Yang penting semuanya didasari oleh Kasih dan tidak kacau: "segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur." (1 Kor 14:40 ) Suatu hal, kecil mungkin, tetapi bisa dikatakan merupakan peneguhan dari Roh Kudus bahwa karunia berdoa dalam bahasa roh boleh dipakai dalam pertemuan jemaat adalah keserasian dalam senandung roh. Pernah ada yang baru pertama kali mendengar senandung roh ini bertanya "Lagu apakah tadi? Bisakah membeli buku lagu dan kasetnya?" Roh Kudus sendirilah yang menjadi dirigent-nya sehingga tanpa buku lagu bisa tercipta suatu simfoni yang indah dan serasi, dan bukan kekacauan. Diambil dari: Hidup dalam Roh, majalah rohani Katolik, Lembah Karmel
|
|
 |
[-] |
|
|
|
|