Welcome Guest Login or Signup
LIVE CHAT | INSTANT MESSENGER | BOOKMARK
| LANGUAGE:

BLOGS   WRITE NEW BLOG   EDIT BLOGS  
 
RSS
Berdoa kok Ngelantur !
Posted On 10/10/2008 22:29:55 by dabukke

Nuansa Karmel:

Pelanturan Dalam Doa

 

Oleh: Sr. Marie Alphonsa, P. Karm
 
 
 
Berdoa 
 


Seringkali saya mendengar keluhan-keluhan seperti ini, "Saya tidak bisa berdoa. Saya sudah mencoba memberikan waktu khusus untuk Tuhan, untuk menyerukan nama Tuhan Yesus, tetapi tidak pernah berhasil dengan baik." Timbul rasa ingin tahu dalam hati saya alasan mengapa merasa tidak berhasil dengan baik. Maka saya balik bertanya, "Mengapa kamu merasa tidak berhasil dalam doamu?" Dan jawaban yang diperoleh hampir sama, "Saya tidak bisa berkonsentrasi dengan baik, saya banyak sekali melantur. Mungkin dalam waktu 30 menit untuk doa, hanya 5 menit saja saya dapat konsentrasi, selebihnya pikiran saya melayang ke mana-mana. Sepertinya sia-sia saja saya berdoa."

Pelanturan pikiran merupakan hal yang biasa terjadi dalam hidup doa. Pikiran kita bisa diibaratkan seperti seekor monyet. Bila kita perhatikan seekor monyet, dia tidak pernah tinggal diam. Selalu saja bergerak: loncat sana-loncat sini, garuk sana-garuk sini, makan, dan lain-lain. Mungkin hanya saat dia tidur, dia bisa sedikit tenang. Begitu pula pikiran kita. Ketika kita mulai masuk dalam doa, kita mengarahkan seluruh pikiran kita pada Yesus, kita bisa menyerukan nama Yesus, tetapi beberapa detik kemudian, muncul pikiran lain menggantikan wajah Yesus. Muncul masalah pekerjaan yang harus diselesaikan secepatnya, belum selesai dengan masalah pekerjaan... sudah diingatkan lagi dengan masalah anak yang sakit, yang perlu dibawa ke dokter. Beberapa saat kemudian tersadar bahwa sedang berdoa, lalu mulai menyerukan nama Yesus kembali. Namun baru satu menit berlalu, sudah mulai pelanturan yang lain. Begitu terus menerus. Santa Teresa Avila juga mengakui bahwa otak kita penuh dengan berbagai pikiran.

Lalu apakah itu berarti bahwa waktu doa kita terbuang secara cuma-cuma? Apakah kita telah menyedihkan hati Yesus dengan pelanturan kita? Tentu saja tidak! Apabila motivasi kita dalam doa untuk mencintai Yesus, untuk menyenangkan hati-Nya, tidak ada yang sia-sia. Yesus melihat segala usaha yang telah kita lakukan. Dia mengenal kita, lebih daripada kita mengenal diri kita sendiri. Dia melihat kelemahan kita, terutama kelemahan dalam pikiran kita yang bercabang-cabang, sulit berkonsentrasi pada-Nya. Yesus tidak melihat hasil, tetapi Dia melihat kerinduan hati kita untuk mencintai dan melayani-Nya dalam doa. Dia melihat usaha-usaha kita untuk tetap setia dalam doa kita, apa pun yang terjadi dalam doa kita. Entah doa kita dipenuhi dengan pelanturan, entah penuh kekhusukan, atau penuh sukacita, kesedihan, dan lain-lain.

Menurut St. Teresa Avila hal yang sangat penting dalam doa adalah kasih dan persahabatan dengan Allah. Dalam doa kita bertemu dengan Seorang Pribadi, Seorang Sahabat, Seorang Kekasih yang kita tahu bahwa Dia sangat mencintai kita dan Dia merindukan kita untuk datang kepada-Nya. Maka dalam doa sangat perlu kita hadir membawa seluruh diri kita: perasaan, kehendak, ingatan, dan imajinasi kita. Maka Santa Teresa Avila menganjurkan demikian:

  • Melalui iman kita percaya bahwa Kristus hidup dan selalu memandang kita. "Aku selalu menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman." (bdk. Mat. 28,20b) Maka ketika kita mulai berdoa, sebaiknya kita menempatkan diri dalam kehadiran-Nya, menyadari kehadiran-Nya dengan mengajak-Nya berbicara, meminta kepada-Nya apa yang kita butuhkan, mengeluhkan apa yang terjadi dengan pekerjaan kita, dan berbagi sukacita ketika kita sedang bergembira, dan segala perasaan yang kita alami kita sampaikan kepada Tuhan.

 

Teresa menekankan bahwa penting bagi kita menyadari kehadiran Kristus, berelasi dengan Dia dan bersukacita atas kehadiran-Nya. Semua usaha ini bisa kita lakukan dalam hidup doa kita. Setiap pikiran harus digunakan sebagai alat untuk menjalin hubungan dengan Kristus. Hal ini bisa kita gunakan untuk menghindari pelanturan yang sering kita alami dalam doa.

Juga dalam tahap perkembangan doa selanjutnya, yaitu ketika kita dipanggil untuk masuk dalam doa yang lebih dalam (doa passive), pelanturan dalam pikiran dan imajinasi ini masih muncul. Teresa menganjurkan hal yang sama, yaitu untuk tidak memperhatikan semua pelanturan itu. Malahan bila merasa terganggu, marah, dan jengkel dengan itu semua akan membuat kita kehilangan sukacita yang akan kita peroleh. Lebih baik kita menyerahkan diri kita kepada tangan kasih Allah dan mengucapkan kata-kata cinta yang sederhana yang akan terus menyalakan secercah cahaya kasih Tuhan.

Apakah pelanturan akan terus terjadi dalam perkembangan hidup doa kita? Apakah kita tidak dapat mengontrol pikiran-pikiran kita?

 

Si Imut Berdoa
 

 

Bagi Teresa setiap pelanturan dalam doa merupakan suatu gangguan yang nyata. Betapapun besar usaha untuk mengatasinya, namun Teresa sendiri tak berhasil melakukannya. Akhirnya dia berkesimpulan bahwa tidak ada yang dapat dilakukan terhadapnya, maka biarkan saja tidak usah diperhatikan pelanturan-pelanturan itu. Bila tidak diperhatikan dan tidak diikuti, segala pelanturan dan imajinasi itu akan hilang sendiri. Kita tetap mengarahkan pikiran kita kepada kehadiran Yesus, menyerukan nama Yesus, merenungkan misteri kasih Allah, dan lain-lain. Hal ini bisa dibandingkan dengan hal lain dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya kita sedang konsentrasi bekerja di kantor, kemudian ada orang yang menyalakan radio. Pertama-tama memang suara radio itu mengganggu kita. Akan tetapi, ketika tidak memperhatikannya dan terus melanjutkan pekerjaan kita, maka suara radio itu tidak terdengar lagi, meski sebenarnya radio itu masih menyala. Sedangkan kalau kita merasa terganggu dan marah, maka suara radio itu akan terus terdengar dan semakin mengganggu kita.

Kita percaya bahwa dengan rahmat Tuhan, dan dengan bantuan Roh Kudus, segala sesuatu tidak ada yang mustahil. Apalagi bila Tuhan melihat kerinduan hati kita untuk bersatu dengan-Nya. St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma menulis, "Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan." (Rm. 8:26) Kita mau bekerja sama dengan Roh Kudus yang memimpin kehidupan rohani kita.

Dalam perkembangan doa yang lebih dalam lagi, seseorang akan dibawa kepada doa keheningan. Di dalam tahap ini jiwa merasakan bahwa Tuhan begitu dekat dan begitu hidup. Jiwa merasakan kedamaian dan sukacita karena dapat memandang sang Kekasihnya dari dekat, namun pikiran tetap bekerja dan melantur. Akan tetapi, pelanturan dan pikiran itu tidak mengganggu lagi karena jiwa sudah begitu asyik dengan Tuhan.

Dan bila pada saatnya jiwa dibawa kepada suatu perkawinan ilahi, yaitu ketika jiwa bersatu sedemikian rupa dengan Allah, seluruh keberadaan jiwa semuanya terserap kepada kasih Allah. Dalam tahap inilah pikiran yang melantur itu akan berhenti. Teresa menerangkan kondisi ini sebagai "keadaan terlelap terhadap segala sesuatu yang duniawi dan juga terhadap diri kita." Dalam keadaan persatuan ini, jiwa sungguh terserap ke dalam Allah, sehingga seolah-olah jiwa tidak memiliki kehendak, perasaan, pikiran, imajinasi. Semuanya ini bersatu terserap kepada Allah. Teresa mengatakan bahwa keadaan ini tidak berlangsung lama, paling lama 20 menit, namun efek yang dihasilkan dari persatuan ini sangat luar biasa bagi jiwa.

Tahap persatuan inilah yang kita ingin capai dalam hidup rohani kita, yaitu kita bisa bersatu dengan Allah. Persatuan jiwa dengan Allah ini bisa diibaratkan sebagai air yang berasal dari sungai yang mengalir ke laut. Ketika air sungai itu sampai di laut, kita tidak bisa membedakan mana air sungai dan mana air laut. Semuanya sudah bersatu sehingga menjadi satu tidak terpisahkan. Sehingga kita bisa berkata seperti St. Paulus, "Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Yesus yang hidup dalam diriku." (bdk. Gal. 2:20a)

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sekarang kita mengerti bahwa bila kita tetap setia dan tekun dalam doa kita, meskipun dengan berbagai macam pelanturan, maka pada suatu saat Allah sendiri akan menarik dan membawa kita kepada persatuan cintakasih dengan diri-Nya. Inilah rencana dan kehendak Allah bagi kita.

Sharing:

* Apakah motivasiku ketika berdoa?
* Apakah aku tetap setia dalam doa, juga bila terjadi banyak pelanturan dan imajinasi?
* Apakah yang aku lakukan selama ini bila terjadi pelanturan dan imajinasi?

Diperbolehkan copy paste,
dengan syarat
tetap menyertakan info SUMBER (SOURCE)-nya.
Sumber: Majalah Vacare Deo edisi Maret-April 2008,
Komunitas Tritunggal Mahakudus,
www.holytrinitycarmel.com



Bookmark:




*** www.AkuPercaya.com ***
Powered by phpFoX Version 1.6
FREE FORUM HOSTING - JAPANESE BAGS