Coming Soon ...
 
Coming Soon ...
 
Coming Soon ...
 

+ Reply to Thread
Page 1 of 2
1 2 LastLast
Results 1 to 20 of 25

Thread: Keselamatan dan Keadilan

  1. Keselamatan dan Keadilan

    APers Yang Dikasihi Kristus,

    Menurut pendapat Kristen Injili kontemporer, seseorang diselamatkan dari dosa dan maut neraka apabila ia telah bertobat dan mengaku dengan mulut dan sepenuh hati bahwa Yesus adalah juru selamatnya yang telah mati dan bangkit untuk menebus dosanya. Jadi, selama seseorang masih hidup, kemudian bertobat dan menerima Yesus sebagai juru selamatnya, maka segala dosanya terhapuskan dan oleh karenanya terjamin masuk surga.

    Katakanlah, misalnya, Hitler yang telah membantai jutaan orang Yahudi, jika masih hidup, mengakui segala dosanya, bertobat, dan menerima Yesus sebagai juru selamatnya. Maka, berdasarkan definisi di atas, Hitler pasti terselamatkan dan masuk surga. Pertanyaannya: Apakah Allah ADIL dengan melupakan dan menghapuskan begitu saja segala kejahatan dan kebejatan si Hitler, yang sekarang telah "lahir baru", selama masa hidupnya?

    Atau, mengambil contoh lain, katakanlah, si A, salah seorang perusuh dan pemerkosa belasan wanita selama kerusuhan Mei '98, secara kebetulan menghadiri suatu KKR dan kemudian bertobat dan menerima Yesus. Secara definisi, A telah terhapuskan dosa-dosanya dan terselamatkan. Kemudian A meninggal dan, memang betul, ternyata ia masuk surga. Pada saat yang bersamaan A juga bertemu dengan para korban perkosaannya di surga, harus hidup berdampingan dengan mereka sepanjang masa kekal untuk selama-lamanya. Jika anda seorang wanita, dan termasuk salah seorang dari korban perkosaan oleh A, serta harus melihat A dan hidup bersama A di surga selama-lamanya, sanggupkah anda melakukannya? Apakah anda tidak akan mempertanyakan rasa keadilan Tuhan, yang dengan mudah menghapuskan begitu saja kesalahan-kesalahan berat A? Mungkin jika bukan anda, orang lain yang juga kebetulan berada di surga, akan bertanya-tanya: Adilkah Allah dengan membiarkan A terampunkan dan hidup selamanya, bersama-sama bekas korban perkosaannya, di surga?

    Bagaimana dengan hukum TABUR-TUAI yang juga diajarkan di Alkitab? Bukankah setiap tindakan yang kita lakukan dipercayai akan ada konsekwensi balasannya, jika tidak di hidup fana di bumi ini, mungkin sekali di kehidupan lain? Hukum tabur-tuai tsb tidak lain merupakan HUKUM KARMA dan yang kebetulan juga ditegaskan kebenarannya oleh Alkitab?

    Untuk menjaga keadilan, dan agar sesuai dengan prinsip tabur-tuai, tentunya kejahatan Hitler maupun A sepatutnya mendapatkan balasannya, jika tidak untuk tujuan menghukum (punitif), setidaknya dimaksudkan untuk memberikan pelajaran (edukatif) bagi Hitler dan A, serta pemulihan kembali (restoratif, rekonsiliatif) antara Hitler dan A dengan para korbannya. Pertobatan Hitler dan A, serta penerimaan mereka akan Yesus sebagai juru selamat, memang bersifat rekonsiliatif, tetapi hanya sebatas antara Allah dan si pelaku kejahatan. Rekonsiliasi antara A dan korbannya masih belum terjadi atau terpenuhi. Jika pada akhirnya para korban "terpaksa" harus menerima "keadilan" menurut versi Allah dengan hanya menerima rekonsiliasi dari pihak Allah dan pelaku kejahatan, maka sesungguhnya tidak terjadi rekonsiliasi dalam arti sebenarnya atau sepenuhnya karena masih ada pihak lain (yakni si korban) yang masih belum ter-rekonsiliasi dengan pelaku kejahatan. Para korban tidak dimintai pendapat atau keinginannya sehubungan dengan apakah mereka juga telah memaafkan/mengampuni si A karena apa yang menjadi keinginan mereka, kelihatannya, telah dikesampingkan oleh keputusan pengampunan sepihak oleh Allah. Jadi, rekonsiliasi hanya bersifat semu atau berat sebelah atau sepihak.

    Pengampunan yang hanya sepihak seperti ini pun sesungguhnya tidak memberikan pelajaran yang baik, baik bagi mereka yang telah meninggal (jika masih eksis) dan terutama sekali bagi mereka yang masih hidup. Dengan iming-iming surga yang ditawarkan, para pelaku kejahatan akan dengan mudah menipu diri sendiri dan menganggap bahwa hanya dengan melakukan mental exercise berupa pertobatan dan menerima Yesus, maka mereka tidak lagi perlu takut terhadap konsekwensi kekal (after-life consequences) dari tindak kejahatan mereka. Makanya tidak heran apabila tidak sedikit dari penjahat dan koruptor kelas kakap kita begitu tertarik dengan Kekristenan karena menganggap Kekristenan sungguh menawarkan jalan ke surga dengan begitu mudahnya: segala sesuatu telah terbayarkan oleh Yesus di kayu salib dan yang mereka harus lakukan hanya bertobat dan menerima Yesus.

    Jadi, pertanyaannya masih menggantung tinggi: Benarkah formula keselamatan yang ditawarkan oleh Kekristenan (Injili kontemporer) kita tidak sesuai dengan prinsip keadilan universal? Benarkah ada ketidakcocokan antara ajaran pengampunan melalui vicarious death and resurrection of Jesus Christ dan hukum tabur-tuai (hukum karma) sebagaimana yang dipahami tidak hanya secara biblikal tetapi juga universal (dalam agama-agama lain)?

    Silahkan, kalau ada yang berminat dengan topik ini dan ingin memberikan pendapatnya.
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  2. Join Date
    Jun 2004
    Location
    kepikbiru
    Posts
    7,617
    Rep Power
    50

    duilah nggo, kalo nulis panjangnya minta ampun... too many black pixels on purple pixels

    ada beberapa kata ajah yg mau kepik highlight n coba dipikir2 lagi artinya:
    ..bahwa Yesus adalah juru selamatnya yang telah mati dan bangkit untuk menebus dosanya...

    Apakah hukum tabur tuai itu bertentangan dengan hukum kasih karunia? Jelas Iya kalo keadilan dilihat dari mata manusia . Wong udah salah kok bebas gitu ajah.
    Tapi jelas tidak jika keadilan dilihat dari mata Tuhan. Orang yang udah bikin dosa jelas ada hukumannya, dan hukumannya jelas harus dijalankan. Itu inti dari penebusan. There's no free ride
    Cuma dari mana Anda mau memandang keadilan, dari atas atau bawah. Selama dilihatnya dari bawah, bakalan banyak ketidak adilan yang bisa diperkarakan
    kok orang curang malah kaya yg jujur miskin ? kok yang jahat malah berkuasa, yang baik tertindas ? Yang universal itu melihat dari bawah kesamping, gak pernah coba melihat dari atas ke bawah.

    Masalah banyak yg mau bertobat karena "free ride", yah let them be kalopun ada pertobatan semu, it won't be the first and certainly won't be the last. I believe our God won't be stupid enough waktu Dia berhadapan dengan orang2 yang pertobatannya semu.

    Soal nanti saling memaafkan, I believe Christ datang ke dunia bukan cuma merestorasi hubungan manusia dengan Tuhan tapi juga manusia dengan sesamanya, termasuk mereka yang menganiaya manusia tsb.
    Gua ga tau kalo di dunia ini seberapa lama Tuhan mau bekerja supaya restorasi/pengampunan itu bisa terjadi, tapi orang bisa mengampuni itu bukan hoax.
    Lagian kalo orang dah ke surga, ketemu muka dengan muka sama yang namanya kasih karunia, there's no more hatred to pursue lagi
    God's faith in you is bigger than your faith in Him


    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  3. duilah nggo, kalo nulis panjangnya minta ampun... too many black pixels on purple pixels
    Iya, itu sebagai ekspresi protes halus buat APers lainnya yang suka asal nulis dan chatting model SMS-an ketimbang diskusi yang genah.

    Soal nanti saling memaafkan, I believe Christ datang ke dunia bukan cuma merestorasi hubungan manusia dengan Tuhan tapi juga manusia dengan sesamanya, termasuk mereka yang menganiaya manusia tsb.
    Gua ga tau kalo di dunia ini seberapa lama Tuhan mau bekerja supaya restorasi/pengampunan itu bisa terjadi, tapi orang bisa mengampuni itu bukan hoax.
    Lagian kalo orang dah ke surga, ketemu muka dengan muka sama yang namanya kasih karunia, there's no more hatred to pursue lagi
    Pertama, ada biblical basisnya gak tuh untuk menopang keyakinan elu? Jangan cuma asal percaya ini-itu dan mengklaim otoritas Alkitab, tapi kagak bisa nunjukkin ayat-ayatnya loh.

    Kedua, restorasi antar sesama manusia yang dilakukan oleh Allah sama artinya dengan invasi oleh Allah terhadap setiap sudut personalitas si korban. Si korban yang masih memendam amarah dan dendam dibuat (oleh Allah) mampu memaafkan si offender. Artinya, Allah telah meng-override tidak hanya free will tetapi juga personality si korban. Jadi, sebenarnya "memaafkan" yang disodorkan oleh si korban kepada si offender tidaklah GENUINE karena bersumber dari invasi unsur eksternal yang tidak lain adalah Allah sendiri.

    Bahwa manusia bisa saling mengampuni, itu bisa saja terjadi dan sering terjadi. Bahwa kemudian pemaafan itu GENUINE atau tidak, itu masalah lain. Dan genuine atau tidaknya haruslah BERSUMBER DARI DIRI SENDIRI tanpa harus dimampukan atau diintervensi dari pihak ketiga (mis. Allah). Thus, for the forgiveness to count as genuine, it's got to spring from the forgiving spirit that lies within one's own self without any external intervention into that self. Jika tidak, maka tidak genuine.

    Ketiga, ente pernah ke sorga kagak? Kalo belom pernah, what makes you so sure gak ada ini-itu, gak ada hatred, dll? Hard evidence apa yang ente bisa tampilkan untuk menopang keyakinan ente?
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  4. Join Date
    Jun 2004
    Location
    kepikbiru
    Posts
    7,617
    Rep Power
    50

    Pertama, ada biblical basisnya gak tuh untuk menopang keyakinan elu? Jangan cuma asal percaya ini-itu dan mengklaim otoritas Alkitab, tapi kagak bisa nunjukkin ayat-ayatnya loh.
    sorry nih, lagi sakit kepala, gak sempet nyari2innya ayat2nya. Tadi dah kepikir mo nyari sih tapi pusing. Besok deh yah kalo udah lebih waras. atau ada yang mau bantuin ?

    Kedua, restorasi antar sesama manusia yang dilakukan oleh Allah sama artinya dengan invasi oleh Allah terhadap setiap sudut personalitas si korban. Si korban yang masih memendam amarah dan dendam dibuat (oleh Allah) mampu memaafkan si offender. Artinya, Allah telah meng-override tidak hanya free will tetapi juga personality si korban. Jadi, sebenarnya "memaafkan" yang disodorkan oleh si korban kepada si offender tidaklah GENUINE karena bersumber dari invasi unsur eksternal yang tidak lain adalah Allah sendiri.
    Isn't it kinda cool Allah meng-injeksikan, menginvasikan, menanamkan personalitynya pada manusia.
    Kalo yang ini cepet nih nyarinya :
    Rom 12:2 Do not be conformed to this world, but be transformed by the renewal of your mind, that by testing you may discern what is the will of God, what is good and acceptable and perfect.
    Eph 4:22-24 to put off your old self, which belongs to your former manner of life and is corrupt through deceitful desires, and to be renewed in the spirit of your minds, and to put on the new self, created after the likeness of God in true righteousness and holiness.
    I like that word "INVASI" heheh .. gonna use it more often in the future to explain the verses The Invasion of God

    Bahwa manusia bisa saling mengampuni, itu bisa saja terjadi dan sering terjadi. Bahwa kemudian pemaafan itu GENUINE atau tidak, itu masalah lain. Dan genuine atau tidaknya haruslah BERSUMBER DARI DIRI SENDIRI tanpa harus dimampukan atau diintervensi dari pihak ketiga (mis. Allah). Thus, for the forgiveness to count as genuine, it's got to spring from the forgiving spirit that lies within one's own self without any external intervention into that self. Jika tidak, maka tidak genuine.
    Kenapa harus dari diri sendiri lagi kalo misalnya setelah bertobat itu manusia bukanlah lagi menghidupi dirinya sendiri tapi Kristus yang hidup didalamnya ? Artinya orang tersebut ngga "put off the old self" donk ?
    God's faith in you is bigger than your faith in Him


    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  5. Kenapa harus dari diri sendiri lagi kalo misalnya setelah bertobat itu manusia bukanlah lagi menghidupi dirinya sendiri tapi Kristus yang hidup didalamnya ? Artinya orang tersebut ngga "put off the old self" donk ?
    Well...Kalo in "putting on the new self" hidup seseorang kemudian dikendalikan, "dihidupi", oleh Yesus, dan karena Yesus adalah Tuhan yang tak bernoda dan tak berdosa, lantas gimana kita menjelaskan kenapa--despite our having put on the new self--kita masih tetap jatuh ke dalam dosa? Artinya, biarpun sudah mengenakan the new self, si believer tetap masih rentan terhadap dosa. Logisnya, tidak lagi jatuh ke dalam dosa, kan? Dan kalau memang Yesus yang telah bertahta di dalam hidup kita sebagai pengendalinya, the next time you fall into sin again, kenapa harus menyalahkan diri sendiri dan bukannya menyalahkan Yesus? For isn't Jesus the new commander of you soul (self) now?

    Jadi, jelas bahwa despite our having put on the new self, the new old self--i.e., our GENUINE (?) SELF--masih ada dan yang masih menyebabkan kita jatuh ke dalam dosa. Jadi transformation of one's self pada saat lahir baru tidak sepenuhnya menghilangkan, menggusur, one's old self. Tuhan masih menghormati personalitas seseorang dan maka dari itu konsep free will dan moral obligation along with its reward and punishment masih tetap intact. Otherwise, apa yang dikatakan Alkitab ttg the final judgment for all mankind at the end of the world (biblically speaking, that is) menjadi nonsensical.

    Dan, karena personalitas manusia masih utuh dan tidak (sepenuhnya) terinvasi oleh Allah, maka tetap ada kemungkinan bagi mereka yang telah berada di surga untuk masih memendam old grudges against wrongdoers, etc, yang masih belum terselesaikan. Thus, rekonsiliasi yang melibatkan hanya Allah dan si wrongdoer masih belum sepenuhnya menyelesaikan masalah karena masih menyisakan pihak korban yang personalitasnya masih utuh dan masih sangat mungkin menuntut keadilan untuk diselesaikan secara tuntas.
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  6. Join Date
    Feb 2005
    Location
    nomaden!
    Posts
    629
    Rep Power
    0

    Quote Originally Posted by god'slover
    APers Yang Dikasihi Kristus,
    Menurut pendapat Kristen Injili kontemporer, seseorang diselamatkan dari dosa dan maut neraka apabila ia telah bertobat dan mengaku dengan mulut dan sepenuh hati bahwa Yesus adalah juru selamatnya yang telah mati dan bangkit untuk menebus dosanya. Jadi, selama seseorang masih hidup, kemudian bertobat dan menerima Yesus sebagai juru selamatnya, maka segala dosanya terhapuskan dan oleh karenanya terjamin masuk surga.

    Katakanlah, misalnya, Hitler yang telah membantai jutaan orang
    Apakah Allah ADIL dengan melupakan dan menghapuskan begitu saja segala kejahatan dan kebejatan si Hitler, yang sekarang telah "lahir baru", selama masa hidupnya?

    Atau, mengambil contoh lain, katakanlah, si A, salah seorang perusuh dan pemerkosa belasan wanita selama kerusuhan Mei '98, secara kebetulan menghadiri suatu KKR dan kemudian bertobat dan menerima Yesus. Secara definisi, A telah terhapuskan dosa-dosanya dan terselamatkan. Kemudian A meninggal dan, memang betul, ternyata ia masuk surga. Pada saat yang bersamaan A juga bertemu dengan para korban perkosaannya di surga, harus hidup berdampingan dengan mereka sepanjang masa kekal untuk selama-lamanya.
    Salam sejahtera dalam Yesus
    Saya tidak yakin apakah di surga kita masih saling mengenali .
    Kalau memang ktia tidak akan saling mengenal berarti nggak ada akan tuntutan keadilan toch..

    but for the sake of discussion, mari kita asumsikan kita bisa saling mengenal...
    maka kira-kira begini ayat-ayat yang anda perlu renungkan
    Mat 6:12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
    Mat 6:14 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.
    Mat 6:15 Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."
    Mat 18:22 Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
    dan baca kelanjutannya Mat 18:23 sampe habis
    Luk 6:37 "Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.

    jelas mereka yang mengampuni itulah yang akan mendapat pengampunan ... artinya orang dengan kualitas itulah yang masuk dalam kerajaan Sorga bukan?
    jadi jelas masalah pertama sudah selesai bahwa di dalam kerajaan sorga... anda tidak akan menemui orang-orang yang masih ingin menuntut keadilan dan sebagainya apalagi mempunyai dendam.

    Quote Originally Posted by god'slover
    Bagaimana dengan hukum TABUR-TUAI yang juga diajarkan di Alkitab? Bukankah setiap tindakan yang kita lakukan dipercayai akan ada konsekwensi balasannya, jika tidak di hidup fana di bumi ini, mungkin sekali di kehidupan lain? Hukum tabur-tuai tsb tidak lain merupakan HUKUM KARMA dan yang kebetulan juga ditegaskan kebenarannya oleh Alkitab?
    Jadi, pertanyaannya masih menggantung tinggi: Benarkah formula keselamatan yang ditawarkan oleh Kekristenan (Injili kontemporer) kita tidak sesuai dengan prinsip keadilan universal? Benarkah ada ketidakcocokan antara ajaran pengampunan melalui vicarious death and resurrection of Jesus Christ dan hukum tabur-tuai (hukum karma) sebagaimana yang dipahami tidak hanya secara biblikal tetapi juga universal (dalam agama-agama lain)?

    Silahkan, kalau ada yang berminat dengan topik ini dan ingin memberikan pendapatnya.
    Hukum tabur tuai itu tertulis dimana yah dalam firman Tuhan?? mohon diberikan refernsinya

    inilah 'hukum' menurut Yesus
    Mat 22:37 Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
    Mat 22:38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
    Mat 22:39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
    Mat 22:40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."
    so it's all about love... semua tentang mengasihi di situlah kualitas seseorang ditentukan.

    Bagi mereka yang masih meributkan soal keadilan dalam perspektif manusiawi ada perumpamaan oleh Yesus yang menyerempet mengenai ini:
    Luk 15:27 Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.
    Luk 15:28 Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia.
    Luk 15:29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.
    Luk 15:30 Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.
    Luk 15:31 Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.
    Luk 15:32 Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."

    Kalau si anak sulung menerima adiknya sepenuhnya... menurut anda mana yang mempunyai nilai lebih luhur?? si adik yang bertobat atau si kakak yang mau menerima adeknya kembali dengan segala ucapan syukur??
    Last edited by ibranosuki; 18th June 2005 at 07:24 PM.
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  7. Join Date
    Jun 2004
    Location
    kepikbiru
    Posts
    7,617
    Rep Power
    50

    Well...Kalo in "putting on the new self" hidup seseorang kemudian dikendalikan, "dihidupi", oleh Yesus, dan karena Yesus adalah Tuhan yang tak bernoda dan tak berdosa, lantas gimana kita menjelaskan kenapa--despite our having put on the new self--kita masih tetap jatuh ke dalam dosa? Artinya, biarpun sudah mengenakan the new self, si believer tetap masih rentan terhadap dosa. Logisnya, tidak lagi jatuh ke dalam dosa, kan? Dan kalau memang Yesus yang telah bertahta di dalam hidup kita sebagai pengendalinya, the next time you fall into sin again, kenapa harus menyalahkan diri sendiri dan bukannya menyalahkan Yesus? For isn't Jesus the new commander of you soul (self) now?
    Jesus IS the commander tapi apa yg ditinggalin rela dicommand ? (Galatia 5)

    Dan, karena personalitas manusia masih utuh dan tidak (sepenuhnya) terinvasi oleh Allah, maka tetap ada kemungkinan bagi mereka yang telah berada di surga untuk masih memendam old grudges against wrongdoers, etc, yang masih belum terselesaikan. Thus, rekonsiliasi yang melibatkan hanya Allah dan si wrongdoer masih belum sepenuhnya menyelesaikan masalah karena masih menyisakan pihak korban yang personalitasnya masih utuh dan masih sangat mungkin menuntut keadilan untuk diselesaikan secara tuntas.
    I Korintus 13.
    Waktu kita bertemu dengan yang sempurna, sudah tidak ada lagi ketakutan, karena yang tinggal hanyalah kasih.
    N Kasih menghilangkan ketakutan. 1Jo 4:18 Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.
    and seperti kata Yoda "Fear leads to anger. Anger leads to hate. Hate leds to suffering"

    Jadi dalam kasih yang sempurna gak ada anger, hate and suffering
    God's faith in you is bigger than your faith in Him


    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  8. Join Date
    Jun 2004
    Location
    jakarta selatan
    Age
    31
    Posts
    3,999
    Blog Entries
    3
    Rep Power
    18

    Menurut pendapat Kristen Injili kontemporer, seseorang diselamatkan dari dosa dan maut neraka apabila ia telah bertobat dan mengaku dengan mulut dan sepenuh hati bahwa Yesus adalah juru selamatnya yang telah mati dan bangkit untuk menebus dosanya. Jadi, selama seseorang masih hidup, kemudian bertobat dan menerima Yesus sebagai juru selamatnya, maka segala dosanya terhapuskan dan oleh karenanya terjamin masuk surga.
    berdasarkan firman... ya. aku rasa tidak ada kata tidak utk itu

    Katakanlah, misalnya, Hitler yang telah membantai jutaan orang Yahudi, jika masih hidup, mengakui segala dosanya, bertobat, dan menerima Yesus sebagai juru selamatnya. Maka, berdasarkan definisi di atas, Hitler pasti terselamatkan dan masuk surga. Pertanyaannya: Apakah Allah ADIL dengan melupakan dan menghapuskan begitu saja segala kejahatan dan kebejatan si Hitler, yang sekarang telah "lahir baru", selama masa hidupnya?
    walaupun dosamu merah seperti kirmizi... dst.

    Atau, mengambil contoh lain, katakanlah, si A, salah seorang perusuh dan pemerkosa belasan wanita selama kerusuhan Mei '98, secara kebetulan menghadiri suatu KKR dan kemudian bertobat dan menerima Yesus. Secara definisi, A telah terhapuskan dosa-dosanya dan terselamatkan. Kemudian A meninggal dan, memang betul, ternyata ia masuk surga. Pada saat yang bersamaan A juga bertemu dengan para korban perkosaannya di surga, harus hidup berdampingan dengan mereka sepanjang masa kekal untuk selama-lamanya. Jika anda seorang wanita, dan termasuk salah seorang dari korban perkosaan oleh A, serta harus melihat A dan hidup bersama A di surga selama-lamanya, sanggupkah anda melakukannya? Apakah anda tidak akan mempertanyakan rasa keadilan Tuhan, yang dengan mudah menghapuskan begitu saja kesalahan-kesalahan berat A? Mungkin jika bukan anda, orang lain yang juga kebetulan berada di surga, akan bertanya-tanya: Adilkah Allah dengan membiarkan A terampunkan dan hidup selamanya, bersama-sama bekas korban perkosaannya, di surga?
    scr definisi... ya
    pada saat bersamaan itu dst... ya.
    adilkah allah? ya

    Bagaimana dengan hukum TABUR-TUAI yang juga diajarkan di Alkitab? Bukankah setiap tindakan yang kita lakukan dipercayai akan ada konsekwensi balasannya, jika tidak di hidup fana di bumi ini, mungkin sekali di kehidupan lain? Hukum tabur-tuai tsb tidak lain merupakan HUKUM KARMA dan yang kebetulan juga ditegaskan kebenarannya oleh Alkitab?
    ya... itu juga benar. baik di kehidupan disini maupun di kehidupan lainnya.

    Pengampunan yang hanya sepihak seperti ini pun sesungguhnya tidak memberikan pelajaran yang baik, baik bagi mereka yang telah meninggal (jika masih eksis) dan terutama sekali bagi mereka yang masih hidup. Dengan iming-iming surga yang ditawarkan, para pelaku kejahatan akan dengan mudah menipu diri sendiri dan menganggap bahwa hanya dengan melakukan mental exercise berupa pertobatan dan menerima Yesus, maka mereka tidak lagi perlu takut terhadap konsekwensi kekal (after-life consequences) dari tindak kejahatan mereka. Makanya tidak heran apabila tidak sedikit dari penjahat dan koruptor kelas kakap kita begitu tertarik dengan Kekristenan karena menganggap Kekristenan sungguh menawarkan jalan ke surga dengan begitu mudahnya: segala sesuatu telah terbayarkan oleh Yesus di kayu salib dan yang mereka harus lakukan hanya bertobat dan menerima Yesus.
    ya... memang seperti itu kelihatannya.

    Jadi, pertanyaannya masih menggantung tinggi: Benarkah formula keselamatan yang ditawarkan oleh Kekristenan (Injili kontemporer) kita tidak sesuai dengan prinsip keadilan universal? Benarkah ada ketidakcocokan antara ajaran pengampunan melalui vicarious death and resurrection of Jesus Christ dan hukum tabur-tuai (hukum karma) sebagaimana yang dipahami tidak hanya secara biblikal tetapi juga universal (dalam agama-agama lain)?
    apakah penghakiman dunia/ manusia sama dengan penghakiman allah? kurasa siapapun tahu jawabannya.


    sekarang yang saya ingin tahu seperti ini:
    kehidupan manusia (roh) itu ada 'beberapa' macam menurut alkitab. menurut urutannya.

    1. roh yang bersama-sama allah (kekekalan)
    2. roh yang berada di bumi (alfa-omega)
    3. roh yang berada di hades/ firdaus (apabila yesus blom datang)
    4. roh yang berada di kerajaan 1000 tahun
    5. roh yang berada di yerusalem baru/ sorga.

    yang anda maksud yang dimana? karena orang yang berhasil masuk kerajaan 1000 tahun blom tentu bisa masuk ke surga nantinya. 'not that easy'.
    mengaku dan percaya yesus masuk surga? itu keyakinan buatan siapa?
    di alkitab ditulis, yang mengaku dan percaya akan mendapat keselamatan. keselamatan ini adalah luput dari kematian pertama (tidak masuk ke hades), dan nantinya pula luput dari kematian kedua (tidak masuk ke neraka).

    anda bilang ttg pemerkosa yg berbuat begitu rupa dst dst... kemudian sebelum mati bertobat dan selamat (blom berarti masuk surga). ya itu toh sama saja spt yang terjadi pada salah satu orang yang ikut disalibkan bersama yesus (ingat, orang yang disalib adalah yang melakukan kejahatan besar). bagaimana dgn yang diperkosa? kuharap bahwa dia masih percaya akan tuhannya setelah diperkosa itu sudah bagus, bahwa dia tidak lantas menganggap tuhannya tidak melindunginya.

    yang sebenarnya anda bicarakan bukan sekedar sorga diatas sana, bukan juga kerajaan 1000 tahun yang akan ada nanti di bumi. tetapi kerajaan sorga yang ada di hati manusia. juga akan adanya penghukuman dunia.
    bagi si pemerkosa, pencuri, pokoknya penjahat... dia bisa saja merencanakan utk mengaku yesus di saat2 terakhirnya... kalau sempat. sementara itu... dalam hidupnya adakah dia bisa merasakan damai sejahtera, sukacita dsb? demikian juga korban... apakah dia bisa merasakan damai sejahtera dsb dengan tetap memendam kebencian pada pelaku? baik pelaku maupun korban telah menciptakan neraka mereka sendiri di dunia. dengan tambahan, bagi pelaku pun akan dikejar oleh hukum/ pengadilan dunia.
    sebagai contoh: sebagai prajurit di medan perang garis depan, apakah dia boleh membunuh musuhnya? setidaknya utk mempertahankan diri/ nyawanya? terserah. tapi di alkitab dikatakan... siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia (Kejadian 9:6).

    utk di kerajaan 1000 tahun (ataupun surga sendiri)... menurut anda orang kalaupun lolos dari kematian yang kedua akan masuk surga begitu saja? memang... tapi surga yang bagaimana? surga tidak seperti ruangan yang langsung dimasuki begitu saja... persis spt rumah yang mempunyai halaman, rumah dan kamar... ataupun tabernakel yang mempunyai pelataran, ruang suci dan ruang maha suci... begitu pula mereka yang berhasil lolos dari kematian 1 dan 2. akan berada di mana mereka? itu tergantung dari tingkat iman mereka yang dibangun saat ini.
    contohnya: kembali ttg orang yang disebelah yesus yang ingin melihat yesus datang sebagai raja, dan dia saat ini bersama-sama Yesus di firdaus. pada saatnya nanti, setelah armageddon dan kemunculan kerajaan 1000 tahun ini... orang tsb akan berada di 'pelataran' kerajaan tsb, dia tetap selamat, bisa ikut menikmati kerajaan tsb... tetapi hanya dari pelataran. sementara yesus memerintah dari tahta (istilahnya dalam kamar rumah) di kerajaannya (rumahnya). dia tidak punya hak utk masuk kedalam rumah, terutama kedalam kamarNya.
    kita... apabila kita meraih kedewasaan iman sekarang ini hingga pada kesempurnaan dan menjadi pengantinNya, tentu kita berhak masuk tidak hanya kedalam rumah saja, tetapi juga sampai ke kamarNya.... (pengantin yang adalah istri tentu boleh masuk ke kamar suaminya). orang yang berada didalam kamar boleh keluar-masuk sampai ke pelataran, tetapi tidak sebaliknya.

    bagi orang2 semacam hitler yang anda misalkan... katakanlah hitler memang benar2 bertobat dan percaya kepada yesus... tetapi dia hanya akan sampai di pelataran ini saja (proses kedewasaan tidak secepat membalik telapak tangan). bagaimana dgn opini dunia akan kekejaman yang dilakukannya? itulah penghakiman yang dilakukan dunia... tapi bukan penghakiman yang dilakukan Allah... adil dalam pandangan allah belum tentu sama dengan pandangan manusia. iya kan?
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  9. siapakah kita sehingga sanggup mempertikaikan kasih Tuhan.....
    Kalo Tuhan sudah berfirman "meskipun dosamu merah seperti kain kemizi akan menjadi putih seperti salju"....sejahat mana pun manusia, Jika Tuhan berkata dosamu sudah diampuni" maka sudah diampuni

    once kita mengakui dosa kita dihadapan Tuhan, maka itu dosa itu sudah dihapuskan"

    "IA ADALAH SETIA DAN ADIL, SEHINGGA MENGHAPUSKAN DOSA KITA (TERMASUK YANG LALU)"

    akhir kata untuk thread ini....secara tidak langsung kita sudah memperkecilkan kasih pengampunan dari Allah.....
    hanya orang yang tidak dapat menerima pengampunan saja akan mempertikai kasih pengampunan Allah
    Last edited by angkol; 20th June 2005 at 07:38 PM.
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  10. Join Date
    Mar 2005
    Posts
    3,005
    Rep Power
    17

    Kasih Karunia Tuhan tidak dapat diukur dengan keadilan manusia.

    Kalau Allah mau mengampuni, siapakah manusia Hingga dapat menggugat ALLAH

    Mempercayai Tuhan memang diperlukan LOGIKA dan pembuktian2 bukan hanya Iman yang buta namun ketika Logika tidak menemukan jawaban, maka diperlukan Iman.

    Saya mungkin sering kali menulis :
    Jangan kita masukan pikiran ALLAH yang TIDAK TERBATAS dalam pemikiran manusia yang TERBATAS
    Mari belajar dan Bertumbuh bersama
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  11. Join Date
    Jun 2004
    Location
    Sion
    Posts
    1,751
    Rep Power
    16

    Inilah bedanya pengampunan yang diberikan oleh manusia dan Allah.

    Kata-kata pengampunan yang sering kita ucapkan kepada orang-orang yang pernah berbuat salah kepada kita, lebih banyak muncul dari bibir saja, bukan keluar dari dalam hati yang paling dalam.

    Bandingkan dengan Allah.

    Ibrani 10
    10:10 Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.
    10:11 Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa.
    10:12 Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah,
    10:13 dan sekarang Ia hanya menantikan saatnya, di mana musuh-musuh-Nya akan dijadikan tumpuan kaki-Nya.
    10:14 Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.
    10:15 Dan tentang hal itu Roh Kudus juga memberi kesaksian kepada kita,
    10:16 sebab setelah Ia berfirman: "Inilah perjanjian yang akan Kuadakan dengan mereka sesudah waktu itu," Ia berfirman pula: "Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka,
    10:17 dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka."
    10:18 Jadi apabila untuk semuanya itu ada pengampunan, tidak perlu lagi dipersembahkan korban karena dosa.
    10:19 Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus,
    10:20 karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri,
    10:21 dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah.
    10:22 Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.
    10:23 Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.


    Coba simak kisah di bawah ini :

    Matius 18
    18:23 Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
    18:24 Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.
    18:25 Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.
    18:26 Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.
    18:27 Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
    18:28 Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!
    18:29 Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.
    18:30 Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.
    18:31 Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
    18:32 Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.
    18:33 Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?
    18:34 Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
    18:35 Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

    Masihkah kita akan melakukan hal yang sama, menuntut keadilan Allah ???
    Iman melihat yang tidak kelihatan, tetapi tidak melihat yang tidak ada
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  12. jelas mereka yang mengampuni itulah yang akan mendapat pengampunan ... artinya orang dengan kualitas itulah yang masuk dalam kerajaan Sorga bukan?
    jadi jelas masalah pertama sudah selesai bahwa di dalam kerajaan sorga... anda tidak akan menemui orang-orang yang masih ingin menuntut keadilan dan sebagainya apalagi mempunyai dendam.
    Betul. Seperti kata Alkitab, hanya mereka yang memaafkan akan dimaafkan dosanya oleh Allah. Saya sebagai korban kejahatan bisa saja memaafkan si pelaku kejahatan, dalam arti secara psikologis tidak lagi memendam dendam kepadanya (karena toh, misalnya, mendendam terus-menerus tidak baik bagi kesehatan jiwa saya), tetapi apakah kemudian saya berhak untuk menganulir konsekwensi legal dari kejahatan yang telah dilakukan si wrongdoer terhadap saya? Harus dibedakan antara memaafkan dan mengampuni dalam artian membebaskan si wrongdoer dari konsekwensi legal dari kejahatannya. Ini dua hal yang berbeda dan tidak bisa dicampuradukkan. Saya punya hak untuk memaafkan; tetapi saya tidak punya hak (wewenang) untuk mengampuni si wrongdoer dari konsekwensi tindak jahatnya. Saya bisa meminta, atau bahkan memohon, kepada si hakim (Tuhan) untuk mengampuni karena saya telah memaafkan si wrongdoer; tetapi, hak untuk mengampuni dan membebaskan si wrongdoer dari segala tuntutan legal adalah sepenuhnya prerogatif si hakim (Tuhan) dan bukan saya. Ini yang harus dibedakan secara jelas agar kita tidak jatuh ke dalam sentimentalisme yang tidak perlu.

    Kemudian saya akan tetap dituduh mencampuradukkan keadilan dari kaca mata manusia dan dari kaca mata Allah. Saya jawab: Tidak. Justru, saya ingin memperjelas pemakaian istilah-istilah dengan muatan-muatan moral/legal yang berbeda-beda agar tidak saling tumpang-tindih satu sama lain. Kalau manusia berhak untuk mengampuni setiap wrongdoer dan membebaskannya dari konsekwensi kejahatannya, kenapa tidak sekalian saja manusia memposisikan dirinya sebagai Tuhan? Jelas ini secara biblikal dan logis tidak masuk akal karena membuat posisi/fungsi Tuhan redundant alias superfluous karena sudah terwakilkan/tergantikan oleh manusia sebagai pemberi ampun yang ultimate.

    Sama halnya seperti dalam sistem legal yang kita miliki. Keputusan hakim adalah sepenuhnya hak dan tanggung jawab serta wewenang si hakim. Para jurors, saksi, dan bahkan terdakwa, bisa saja sampai pada posisi secara konsensus ingin mempengaruhi si hakim dengan memberikan pertimbangan yang meringankan atau bahkan membebaskan si terdakwa. Tetapi, keputusan final tetap ada di tangan si hakim. Kalau seandainya para jurors, saksi, dll, bisa memutuskan sendiri keputusan hukum tsb, tentunya kita tidak memerlukan fungsi hakim di pengadilan.

    Analogi dalam sistem legal manusia di atas juga berlaku bagi--atau setidaknya merupakan bayangan atau gambaran dari sesuatu yang ideal--di Kehidupan Kelak nanti. Tuhanlah yang berfungsi sebagai Hakim Agung dan yang berwenang mengambil keputusan untuk mengampuni atau tidak, bukan manusia. Jadi tolong, perbedaan-perbedaan wewenang ini jangan dicampuradukkan.

    Sistem legal yang ada dalam dunia manusia sekarang tentunya tidaklah ideal, tetapi bukan berarti tidak mengandung kebenaran sama sekali. Salah satu kebenaran sentralnya justru menegaskan hukum tabur-tuai yang termuat tidak cuma di Alkitab tetapi juga di ajaran agama-agama lain, yakni bahwa setiap tindakan ada konsekwensi yang menyertainya. Berbuatlah baik, maka anda akan memperoleh pahala baik; berbuatlah jahat, maka pahalanya juga jahat.

    Anda melakukan pembunuhan, tentunya ada konsekwensinya baik secara legal maupun kosmik. Secara legal, jika anda tertangkap, maka anda harus menerima hukuman yang sebanding dengan kejahatan tsb. Secara kosmik, anda telah merusak tatanan kehidupan yang ada dengan menyebabkan berkurangnya kehidupan akibat kematian yang anda sebabkan. Maka, bukanlah suatu isapan jempol jika kita mendengar cerita-cerita tentang si pembunuh yang selalu dihantui oleh arwah orang yang telah dibunuhnya. Fenomena gaib semacam ini merupakan manifestasi dari universalitas akan tuntutan keadilan terhadap setiap tindakan kita, baik maupun buruk.

    Apalah jadinya apabila tatanan legal yang ada dikesampingkan begitu saja demi menomorsatukan prinsip forgiveness tanpa proses peradilan yang berlaku. Jika ini terjadi, kita akan terjerumus ke dalam anarki dan ketidakpuasan, baik yang dirasakan oleh pihak korban maupun masyarakat luas, yang luas. Seorang pemerkosa bisa lolos dari jeratan hukum hanya karena si korbannya telah memaafkan dan mengampuninya. Okelah, telah terjadi "rekonsiliasi" antara si korban dan si pemerkosa. Tetapi ini tidak berhenti sampai di sini saja karena orang lain--meskipun bukan korbannya--akan protes keras karena ketakutan jika si pemerkosa dilepaskan akan menjadi ancaman bagi orang lain. Dan dengan tidak adanya sanksi hukum bagi tindak kejahatan akan menjadi rangsangan bagi setiap orang untuk berlomba-lomba melakukan kejahatan karena toh tidak ada legal penalty; sebab, legal penalty tsb telah dianulir oleh para orang Kristen yang lebih suka mengedepankan prinsip forgiveness dan tidak memendam dendam ketimbang melihat setiap pelaku kejahatan dihukum secara setimpal.

    Secara logis, umat Kristen sedang mengkontradiksi diri sendiri jika mereka, di satu pihak, menomorsatukan prinsip forgiveness tetapi, di pihak lain, masih tetap menuntut diberlakukannya sanksi hukum bagi para pelanggar hukum. Kalau memang sudah memaafkan dan mengampuni, lantas apa perlunya masih menuntut diberlakukannya tatanan hukum dengan segala penalty-nya seperti yang dari dulu sampai sekarang berlaku? Bahwa umat Kristen--sama seperti orang lain yang non-Kristen--masih menuntut perlunya tatanan hukum tadi, ini hanya membuktikan bahwa hati nurani terdalam mereka membenarkan prinsip tabur-tuai tadi dan juga keberadaan sistem hukum yang ada. Oleh sebab itu, apa yang sekarang berlaku di level kehidupan manusia yang fana masih tetap akan berlakukan--meskipun nanti dalam skala yang jauh lebih ideal dan adil--di Kehidupan Kelak nanti. Ini tidak bisa disangkal.

    Kesimpulan: (a) harus dibedakan antara memaafkan dan mengampuni dengan melihat perbedaan akan siapa yang berwenang melakukan apa; (b) prinsip forgiveness adalah sesuatu yang baik dan ideal, tetapi ini tidak begitu saja menganulir hukum tabur-tuai dan tatanan hukum (demi keadilan) yang berlaku; dan (c) apa yang berlaku dalam dunia manusia saat ini dengan sistem hukumnya yang ada merupakan refleksi dari apa yang juga akan berlaku di Kehidupan Kelak nanti, meskipun dengan skala yang lebih ideal dan adil.

    Hukum tabur tuai itu tertulis dimana yah dalam firman Tuhan?? mohon diberikan refernsinya
    Hosea 8:7; 10:12; 2 Korintus 9:6; Galatia 6:7; dll
    Last edited by god'slover; 21st June 2005 at 10:55 AM.
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  13. bagi orang2 semacam hitler yang anda misalkan... katakanlah hitler memang benar2 bertobat dan percaya kepada yesus... tetapi dia hanya akan sampai di pelataran ini saja (proses kedewasaan tidak secepat membalik telapak tangan). bagaimana dgn opini dunia akan kekejaman yang dilakukannya? itulah penghakiman yang dilakukan dunia... tapi bukan penghakiman yang dilakukan Allah... adil dalam pandangan allah belum tentu sama dengan pandangan manusia. iya kan?
    Lebih baik kita tidak usah berspekulasi terlalu jauh tentang jenis-jenis roh, dlsb, yang tidak ada sangkut pautnya dengan topik. Saya hanya ingin mengajukan yang ini saja kepada Tony (sebelumnya tolong dimaafkan kalau kejahatannya terkesan sangat kasar atau mengerikan):

    Tolong posisikan diri anda sebagai seorang ayah dan suami yang ketika itu berada di dalam kisruhnya suasana kerusuhan Mei 98 dan anda melihat dengan mata-kepala sendiri istri dan anak gadis anda diperkosa (gang-raped) secara brutal dan kemudian dibunuh oleh para pelakunya. Tujuh tahun kemudian, para pelakunya tertangkap oleh kepolisian dan diadili. Katakanlah anda memiliki wewenang untuk memaafkan dan sekaligus mengampuni (i.e., membebaskan pelaku dari konsekwensi hukum atas kejahatannya). Maukah anda memaafkan dan mengampuni para pelaku perkosaan dan pembunuhan terhadap istri dan anak anda tsb?

    Jika ya, anda mampu, saya angkat topi setinggi-tinggi atas kebesaran jiwa anda tetapi pada saat yang sama saya juga akan berjingkrak-jingkrak kesenangan. Kenapa? Karena jika saya adalah seorang penjahat, lain kali saya akan semakin bersemangat untuk menzalimi dan menyatroni rumah anda dan Kristen-Kristen lainnya untuk saya rampok hartanya, saya perkosa anak gadisnya, dlsb. Untuk apa saya merasa takut? Toh, orang Kristen punya kekuasaan--dan kewajiban moral atas dasar perintah ajaran agama mereka!--secara penuh untuk memaafkan dan mengampuni siapa pun yang menjahati mereka.

    Setiap penjahat di muka bumi ini akan kegirangan dan bersorak-sorai jika semakin banyak umat Kristen yang hidup di masyarakat karena mereka sungguh sasaran empuk untuk tindak kejahatan dan lolos dari jeratan hukum.

    Gimana, Tony? Berdasarkan keyakinan agama anda, tentunya anda harus maafkan dan ampuni para penjahat tsb, kan? Karena kalau tidak maka anda sedang mengingkari iman anda. Dan jika anda berbelok arah dan menuntut keadilan hukum diterapkan, maka anda sedang menyangkal prinsip memaafkan dan mengampuni tidak hanya di bumi tetapi juga di surga nanti.

    Nah, silahkan mau pilih yang mana. Saya mah tinggal ongkang-ongkang kaki saja dengan santai.
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  14. Inilah bedanya pengampunan yang diberikan oleh manusia dan Allah.

    Kata-kata pengampunan yang sering kita ucapkan kepada orang-orang yang pernah berbuat salah kepada kita, lebih banyak muncul dari bibir saja, bukan keluar dari dalam hati yang paling dalam.
    Allah dan manusia memang berbeda. Namun, jika kita meyakini bahwa manusia, meskipun telah jatuh ke dalam dosa, masih memiliki gambar/rupa Allah dan jika segala ciptaan Allah adalah baik adanya, termasuk tatanan hukum manusia yang tujuannya untuk menciptakan keadilan dan mengurangi kejahatan, maka tidak ada alasan kuat untuk menolak total tetap diberlakukannya sistem keadilan seperti apa yang ada di bumi dengan proporsi yang lebih ideal dan adil, tentunya.

    Kekhawatiran paling serius, saya pikir, yang mendasari penolakan terhadap diberlakukannya keadilan legal bagi para pendosa dan penjahat ialah pemberlakuan keadilan tsb akan dipandang sebagai permulaan untuk merongrong fondasi keselamatan atau penebusan dosa melalui kematian-kebangkitan Yesus. Namun, saya tidak melihat ini sebagai ancaman terhadap doktrin keselamatan melalui Yesus tsb. Karena umat Kristiani tetap dapat mempertahankan thesis tetap berlakunya keadilan legal dan pada saat yang sama juga menegaskan kecukupan kematian-kebangkitan Yesus untuk menebus dosa manusia.

    Lantas, caranya bagaimana? Katakanlah seorang Hitler berhasil bertobat dan menerima Yesus sebagai juru selamatnya. Ini tetap tidak menghapuskan konsekwensi dari kejahatannya dan tuntutan keadilan. Untuk memenuhi tuntutan keadilan tsb, kita bisa memakai ajaran/ilustrasi Paulus tentang berbagai macam mahkota surgawi yang diberikan oleh Allah kepada setiap orang berdasarkan perbuatan/prestasinya. Prestasi ini sifatnya bukan untuk melayakkan seseorang agar bisa diterima oleh Allah ke dalam surga tetapi sebagai pernyataan penghargaan, hadiah, reward, atas apa yang telah diperbuatnya selama di bumi dengan keselamatan (iman) dalam Kristus yang dimilikinya.

    Mungkin ada yang mendapatkan mahkota kelas 1, 2, 3, dst. Atau, ada yang sama sekali tidak mendapatkan mahkota dan hanya keselamatan melalui kesempatan untuk menikmati kehadiran Allah selamanya. Rasul Paulus pun mengatakan, ada orang-orang yang bisa selamat "secara pas-pasan" bagaikan telah hampir menyerempet kobaran api (neraka?).

    Nah, itu argumen yang kira-kira bisa diberikan untuk tetap dapat mempertahankan thesis keadilan legal secara universal, baik di bumi maupun di surga, dan juga pada saat yang sama keutuhan doktrin keselamatan melalui kematian-kebangkitan Yesus.
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  15. Quote Originally Posted by god'slover
    APers Yang Dikasihi Kristus,

    Menurut pendapat Kristen Injili kontemporer, seseorang diselamatkan dari dosa dan maut neraka apabila ia telah bertobat dan mengaku dengan mulut dan sepenuh hati bahwa Yesus adalah juru selamatnya yang telah mati dan bangkit untuk menebus dosanya. Jadi, selama seseorang masih hidup, kemudian bertobat dan menerima Yesus sebagai juru selamatnya, maka segala dosanya terhapuskan dan oleh karenanya terjamin masuk surga.
    hush, sembarangan aja

    Matius 7:21

    Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

    Quote Originally Posted by god'slover
    Katakanlah, misalnya, Hitler yang telah membantai jutaan orang Yahudi, jika masih hidup, mengakui segala dosanya, bertobat, dan menerima Yesus sebagai juru selamatnya. Maka, berdasarkan definisi di atas, Hitler pasti terselamatkan dan masuk surga. Pertanyaannya: Apakah Allah ADIL dengan melupakan dan menghapuskan begitu saja segala kejahatan dan kebejatan si Hitler, yang sekarang telah "lahir baru", selama masa hidupnya?

    Atau, mengambil contoh lain, katakanlah, si A, salah seorang perusuh dan pemerkosa belasan wanita selama kerusuhan Mei '98, secara kebetulan menghadiri suatu KKR dan kemudian bertobat dan menerima Yesus. Secara definisi, A telah terhapuskan dosa-dosanya dan terselamatkan. Kemudian A meninggal dan, memang betul, ternyata ia masuk surga. Pada saat yang bersamaan A juga bertemu dengan para korban perkosaannya di surga, harus hidup berdampingan dengan mereka sepanjang masa kekal untuk selama-lamanya. Jika anda seorang wanita, dan termasuk salah seorang dari korban perkosaan oleh A, serta harus melihat A dan hidup bersama A di surga selama-lamanya, sanggupkah anda melakukannya? Apakah anda tidak akan mempertanyakan rasa keadilan Tuhan, yang dengan mudah menghapuskan begitu saja kesalahan-kesalahan berat A? Mungkin jika bukan anda, orang lain yang juga kebetulan berada di surga, akan bertanya-tanya: Adilkah Allah dengan membiarkan A terampunkan dan hidup selamanya, bersama-sama bekas korban perkosaannya, di surga?

    Bagaimana dengan hukum TABUR-TUAI yang juga diajarkan di Alkitab? Bukankah setiap tindakan yang kita lakukan dipercayai akan ada konsekwensi balasannya, jika tidak di hidup fana di bumi ini, mungkin sekali di kehidupan lain? Hukum tabur-tuai tsb tidak lain merupakan HUKUM KARMA dan yang kebetulan juga ditegaskan kebenarannya oleh Alkitab?
    kayak cerita dalam budhist, Angulimala

    seorang pembunuh, dia membunuh dalam jumlah ribuan
    pada akhirnya dia sadar, dia mengikuti jalan yg benar dan menjadi rahib
    tapi dia masih mesti menjalani karma buruk-nya sendiri
    dia berakhir dengan dibunuh oleh orang-orang yg membenci-nya dulu, karena keluarnya telah dibunuh oleh-nya. tetapi dia berhasil masuk arahat(menjadi dewa) ya kalo gak salah

    sorry, sebagai perumpamaan doang mod
    bukannya utk apa-apa

    1 Petrus 4:8


    Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.


    Quote Originally Posted by god'slover
    Untuk menjaga keadilan, dan agar sesuai dengan prinsip tabur-tuai, tentunya kejahatan Hitler maupun A sepatutnya mendapatkan balasannya, jika tidak untuk tujuan menghukum (punitif), setidaknya dimaksudkan untuk memberikan pelajaran (edukatif) bagi Hitler dan A, serta pemulihan kembali (restoratif, rekonsiliatif) antara Hitler dan A dengan para korbannya. Pertobatan Hitler dan A, serta penerimaan mereka akan Yesus sebagai juru selamat, memang bersifat rekonsiliatif, tetapi hanya sebatas antara Allah dan si pelaku kejahatan. Rekonsiliasi antara A dan korbannya masih belum terjadi atau terpenuhi. Jika pada akhirnya para korban "terpaksa" harus menerima "keadilan" menurut versi Allah dengan hanya menerima rekonsiliasi dari pihak Allah dan pelaku kejahatan, maka sesungguhnya tidak terjadi rekonsiliasi dalam arti sebenarnya atau sepenuhnya karena masih ada pihak lain (yakni si korban) yang masih belum ter-rekonsiliasi dengan pelaku kejahatan. Para korban tidak dimintai pendapat atau keinginannya sehubungan dengan apakah mereka juga telah memaafkan/mengampuni si A karena apa yang menjadi keinginan mereka, kelihatannya, telah dikesampingkan oleh keputusan pengampunan sepihak oleh Allah. Jadi, rekonsiliasi hanya bersifat semu atau berat sebelah atau sepihak.
    hukum karma, tidak terlihat kasat mata
    sebenarnya korban tsb, bisa berhubungan dgn Hitler
    pasti punya hubungan karma masa lampau dengan Hitler

    seorang pembunuh
    biarpun bertapa dia menikmati pembunuhannya
    dia tetap mempunyai tekanan batin, hidup-nya tidak tenang, umur-nya pendek, didendam oleh org-org, takut dibunuh org, dsb-nya

    ada baik-nya kita memaafkan
    agar tidak ada hub karma lagi yg tidak enak
    jgn saling mendendam, karena balas sana sini, takkan pernah abis.

    Quote Originally Posted by god'slover
    Pengampunan yang hanya sepihak seperti ini pun sesungguhnya tidak memberikan pelajaran yang baik, baik bagi mereka yang telah meninggal (jika masih eksis) dan terutama sekali bagi mereka yang masih hidup. Dengan iming-iming surga yang ditawarkan, para pelaku kejahatan akan dengan mudah menipu diri sendiri dan menganggap bahwa hanya dengan melakukan mental exercise berupa pertobatan dan menerima Yesus, maka mereka tidak lagi perlu takut terhadap konsekwensi kekal (after-life consequences) dari tindak kejahatan mereka. Makanya tidak heran apabila tidak sedikit dari penjahat dan koruptor kelas kakap kita begitu tertarik dengan Kekristenan karena menganggap Kekristenan sungguh menawarkan jalan ke surga dengan begitu mudahnya: segala sesuatu telah terbayarkan oleh Yesus di kayu salib dan yang mereka harus lakukan hanya bertobat dan menerima Yesus.
    siapa bilang begitu ?
    enak aja


    2 Korintus 5:10


    Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.



    Quote Originally Posted by god'slover
    Jadi, pertanyaannya masih menggantung tinggi: Benarkah formula keselamatan yang ditawarkan oleh Kekristenan (Injili kontemporer) kita tidak sesuai dengan prinsip keadilan universal? Benarkah ada ketidakcocokan antara ajaran pengampunan melalui vicarious death and resurrection of Jesus Christ dan hukum tabur-tuai (hukum karma) sebagaimana yang dipahami tidak hanya secara biblikal tetapi juga universal (dalam agama-agama lain)?

    Silahkan, kalau ada yang berminat dengan topik ini dan ingin memberikan pendapatnya.
    mungkin kamu ditawarkan keselamatan bukan oleh Tuhan Yesus
    tapi oleh Marketing-marketing kristen

    1 Yohanes 4:1
    Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.
    Last edited by cheesecake; 21st June 2005 at 12:23 PM.
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  16. Join Date
    Jun 2004
    Location
    jakarta selatan
    Age
    31
    Posts
    3,999
    Blog Entries
    3
    Rep Power
    18

    Lebih baik kita tidak usah berspekulasi terlalu jauh tentang jenis-jenis roh, dlsb, yang tidak ada sangkut pautnya dengan topik. Saya hanya ingin mengajukan yang ini saja kepada Tony (sebelumnya tolong dimaafkan kalau kejahatannya terkesan sangat kasar atau mengerikan):
    ehem, saya tidak kait-kaitkan roh dalam hal dunia roh yang ada hubungan dgn iblis... karena kalo saya ngomong ttg tubuh... ini cuma sementara, tapi ttg roh (yaitu diri kita sendiri) itu saya kaitkan dari kekekalan ke kekekalan.

    Tolong posisikan diri anda sebagai seorang ayah dan suami yang ketika itu berada di dalam kisruhnya suasana kerusuhan Mei 98 dan anda melihat dengan mata-kepala sendiri istri dan anak gadis anda diperkosa (gang-raped) secara brutal dan kemudian dibunuh oleh para pelakunya. Tujuh tahun kemudian, para pelakunya tertangkap oleh kepolisian dan diadili. Katakanlah anda memiliki wewenang untuk memaafkan dan sekaligus mengampuni (i.e., membebaskan pelaku dari konsekwensi hukum atas kejahatannya). Maukah anda memaafkan dan mengampuni para pelaku perkosaan dan pembunuhan terhadap istri dan anak anda tsb?
    aku bukan mau bersikap munafik... kalo aku mengalami seperti itu belum tentu memang aku bisa memaafkan. tapi itu urusanku, dan urusanku dengan tuhan. kalaupun aku mau memaafkannya kelak... aku tidak akan melakukannya 'di pasar'. sedangkan ttg apa yang harus terjadi padanya... aku serahkan pada sistem hukum dunia (pemerintah). ya bahwa kalau memang dia bertobat... segala macam dari segi alkitab dia lepas dari hukuman... tapi bukan berarti dia bisa lepas begitu saja dari hukuman dunia. setiap aksi ada reaksi... dan di dunia itu pasti terjadi ntah dalam bentuk apa.

    berdasarkan keyakinan agama saya, saya akan begini begitu.... tapi apa selemah itu menjadi seorang kristen?

    saya misalkan spt ini... anda adalah seorang sekretaris PT.ABC ... anda diperintahkan oleh boss anda (dan suatu keharusan) apabila ada seseorang dari PT. XYZ yang menghubungi anda dan meminta utk bertemu boss anda maka anda harus berbohong dengan mengatakan tidak ada di tempat. apa yang harus anda lakukan?
    1. jujur dengan balasan jadi karyawan/-ti terbaik?
    2. bohong dengan balasan dipecat?
    3. cari alternatif?

    ndak perlu serumit masalah tragedi2 yang pernah ada... bagaimana dgn kehidupan sehari-hari?

    Lantas, caranya bagaimana? Katakanlah seorang Hitler berhasil bertobat dan menerima Yesus sebagai juru selamatnya. Ini tetap tidak menghapuskan konsekwensi dari kejahatannya dan tuntutan keadilan. Untuk memenuhi tuntutan keadilan tsb, kita bisa memakai ajaran/ilustrasi Paulus tentang berbagai macam mahkota surgawi yang diberikan oleh Allah kepada setiap orang berdasarkan perbuatan/prestasinya. Prestasi ini sifatnya bukan untuk melayakkan seseorang agar bisa diterima oleh Allah ke dalam surga tetapi sebagai pernyataan penghargaan, hadiah, reward, atas apa yang telah diperbuatnya selama di bumi dengan keselamatan (iman) dalam Kristus yang dimilikinya.
    hmm..... ini pandangan thd prestasi manusia scr jasmani atau rohani? scr jasmani maksudku pandangan bahwa penghargaan, hadiah dsb didapat dari hal2 spt segala hal ttg pelayanan2. apa spt itu lantas dapat penghargaan? spt ayat yg dibilang cheesecake... bukan setiap orang dst.
    'prestasi' manusia scr rohani yang kumaksud adalah pertumbuhannya dalam hal kedewasaan iman, bagaimana dia melewatkan hari-harinya utk beajar mengerti ttg FA. pertumbuhan rohani ini tidak segampang pemikiran anda spt contoh anda bahwa hitler setelah memerintahkan pembunuhan massal lantas bertobat minta ampun dst itu. dia bisa saja melakukannya dan mendapat ampunan penuh dari tuhan (dan kita lewati ttg hukuman dunia spt diatas)... tetap masalahnya... adakah dia sempat utk bertumbuh dalam kedewasaan iman tsb? kalo dia sempat... dia akan raih apa yang paulus tuliskan... tapi kalau tidak? dia akan spt kayu ataupun jerami yang terbakar api... dia tetap menerima janji keselamatan... tetapi dia menjadi kristen yang gosong (bukannya spt emas atau perak).

    Nah, itu argumen yang kira-kira bisa diberikan untuk tetap dapat mempertahankan thesis keadilan legal secara universal, baik di bumi maupun di surga, dan juga pada saat yang sama keutuhan doktrin keselamatan melalui kematian-kebangkitan Yesus.
    ntahlah... aku tidak begitu setuju dgn pemberian argumen2... toh aku juga tidak begitu peduli. ada banyak argumen2, thesis2 yang melahirkan doktrin2 kristen di dunia... kalaupun kubaca... akan kuterima hanya sebatas pengetahuan... tetapi bukan pengajaran.

    2 Korintus 5:10

    Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.
    hal ini jelas ada benarnya juga... kalo goslover ngomong ttg kristen... apakah tidak akan dihakimi? juga akan dihakimi? bagaimana dgn pengampunan2nya dsb? itu aku tidak tahu persis karena tiap orang tentu punya 'penghakiman' yang berbeda tetapi tetap sama hakimnya... yaitu hakim yang benar.
    kalo masalah hitler membunuh ribuan orang... itu hanya statistik... tak ada beda dengan orang yang membunuh satu orang. tak ada bedanya pula dengan orang yang menghakimi dan membunuh iman (rohani) orang lain... walau dia kristen. secara jasmani... kita bisa lihat kesalahan orang dan diri sendiri walau sulit... tapi lebih sulit lagi melihat kesalahan (rohani) yang kita lakukan kepada orang dan diri sendiri ini. disini, walaupun kristen yang mendapat keselamatan... dia tetap masuk dalam penghakiman... tak beda dengan orang yang tidak mendapat keselamatan (bedanya cuma masalah mendapat keselamatan tsb).


    overall.... kalo aku boleh bilang... kita cuma akan berputar-putar membahas masalah keyakinan akan keselamatan dan juga keadilan spt diatas... tapi apa kita bisa mendapat lebih dari ini?
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  17. Ringkasan Argumen Rekonsiliasi antara Keselamatan dan Keadilan

    Kelihatannya sejauh ini masih belum ada yang berhasil menangkap esensi dari apa yang dipandang dari mata dunia dan logika sebagai kontradiksi antara keselamatan melalui iman dalam Kristus dan prinsip keadilan melalui hukum tabur-tuai, dan bagaimana menghasilkan penyelesaian terhadap kontradiksi, lebih tepat paradoks, ini dari kaca mata Alkitab.

    Dari sudut pandang Rasul Paulus, seberapa pun besar dosa atau kejahatan seseorang, apabila ia telah bertobat dan mengaku Yesus sebagai juru selamatnya (secara sadar), maka ia telah terselamatkan dan terbebas dari hukuman neraka. Namun demikian, rupanya Paulus juga menyadari akan pentingnya prinsip keadilan di mana setiap perbuatan seseorang harus sebanding dengan pahala yang diterimanya: yang baik menerima kebaikan, yang buruk menerima keburukan sebagai konsekwensi dari perbuatannya. Maka dari itu, Paulus pun tanpa ragu mengemukakan prinsip tabur-tuai untuk menggarisbawahi keyakinannya akan supremasi keadilan, fairness.

    Nah, kemudian bagaimana Paulus mendamaikan (a) prinsip penghapusan dosa amat besar dengan begitu saja (seperti dalam kasus seorang Hitler, misalnya) ketika si pendosa bertobat dan menerima Yesus, dan (a) hukum tabur-tuai tsb? Tentunya jika si Hitler--atau siapa pun sebagai pendosa--melakukan dosa, maka ia sendirilah yang harus memikul beban (hukuman) dosanya dan bukan orang lain, misalnya Yesus. Ini agar tetap sesuai dengan hukum tabur-tuai tadi.

    Paulus tidak berpretensi ingin atau mampu menjawab persoalan ini. Namun, secara tidak langsung, ia menawarkan konsep hadiah (mahkota) surgawi bagi mereka yang berprestasi selama masa hidupnya untuk menegaskan keyakinannya bahwa Tuhan adalah tetap adil seadil-adilnya dalam memperlakukan manusia dengan segala tindakan mereka beserta konsekwensinya.

    Seorang Hitler, yang, betapa pun besar dosanya, telah bertobat dan menerima Yesus, tetap terselamatkan dan terbebas dari hukuman terhadap kejahatannya. Hanya saja, demikian kira-kira menurut Paulus, Hitler tentu saja tidak bisa berharap mendapatkan "penghargaan" atau mahkota surgawi tsb mengingat begitu besarnya kejahatan yang telah dilakukan selama hidupnya. Cukup ia telah terselamatkan dan terbebas dari hukuman neraka tanpa imbalan mahkota surgawi.

    Si korban pembunuhan oleh Hitler, karena ia juga selama hidupnya adalah seorang Kristen dan karena ia telah berhasil memaafkan Hitler atas kekejiannya, mendapatkan hadiah mahkota surgawi tidak hanya atas penderitaannya di tangan Hitler tetapi juga karena besarnya kasih yang ditunjukkannya dengan telah memaafkan Hitler. Maka Tuhan menganugerahi si korban dengan mahkota surgawi sebagai tambahan terhadap keselamatan yang (juga sama-sama dinikmati oleh Hitler) diterimanya dari Allah.

    Persoalan, sebenarnya, tidak berhenti sampai di sini. Karena konsep keselamatan Paulus mengasumsikan bahwa seseorang telah dengan sadar bertobat dan menerima Yesus. Bagaimana dengan korban-korban Hitler yang non-Kristen? Apakah mereka juga mendapatkan keselamatan dan mahkota surgawi tsb? Berdasarkan formula keselamatan Paulus, tentu saja mereka yang non-Kristen tidak terselamatkan. Tetapi kemudian, kita tidak pernah tahu seberapa besar kuasa kasih dan keadilan Allah terhadap umat manusia dan oleh sebab itu kita tidak mampu mengambil kesimpulan dogmatis apa-apa berkaitan dengan para korban kejahatan, kezaliman, yang mati tanpa menjadi pengikut Kristus.

    Jadi jelas, menurut Paulus, bahwa "keadilan" Allah ditunjukkan dengan melakukan pembedaan dalam mendistribusikan hadiah-hadiah surgawi kepada setiap orang sebagai imbalan atas hadiah keselamatan Allah yang telah dinikmatinya selama di bumi. Keselamatan itu sendiri sifatnya gratis, unearned, dan oleh sebab itu tidak ada seorang pun yang boleh bersombong atau bermegah hati. Namun demikian, mahkota surgawi bukanlah sesuatu yang gratis tetapi harus diraih (earn) seseorang dengan menunjukkan prestasi dalam rangka mengasihi Allah dan manusia lewat berbagai tindakan dan panggilan hidupnya selama di bumi.

    Demikian kira-kira jawaban dari sudut pandang Paulus yang bisa diberikan untuk mencoba memecahkan apa yang di permukaan kelihatan seperti kontradiksi antara (a) karunia keselamatan Allah dan (a) prinsip keadilan melalui hukum tabur-tuai.

    Semoga bisa dipahami dan tidak lagi memancing respons-respons yang melenceng (jauh) dari inti permasalahan.
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  18. Join Date
    Jun 2004
    Location
    Jakarta
    Posts
    2,292
    Rep Power
    17

    Ketika kita masih berada atau terikat dengan dunia, maka Hukum Tabur-Tuai akan berlaku bagi kita. Tapi bila kita berada dalam Kasih Kristus maupun Kasih Kristus berada di dalam diri kita, maka Hukum Tabur-Tuai dengan sendirinya 'akan' terlepaskan. Inilah sebenarnya makna dari spiritual journey (menurut saya pribadi).

    Pemahaman agama sekarang (saya ambil contoh doktrin di Kekristenan), telah tereduksi menjadi (kembali lagi) ke 'Hukum Tabur-Tuai', seperti Percaya Kristus, Selamat. Tidak Percaya, Tidak Selamat. Padahal ini adalah pemahaman yang ditanamkan Musa dalam Hukum Taurat.

    Kristus datang, untuk memberitahukan 'Kabar Baik' bahwa Manusia bisa 'terlepaskan' dari jeratan Hukum Tabur Tuai bila menyadari Kasih Tanpa Syarat yang berada di dalam diri tiap manusia maupun berada di luar diri manusia.
    Yoh 4:16 : “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia"

    Jadi bila seseorang sudah menyadari Kasih Allah dalam diri, mau mengobrak-ngabrik 'dagangan' orang lain di Bait Allah pun, Hukum Tabur-Tuai pun sudah 'terlampaui' dan 'irrelevant'

    Ini mungkin bisa menjelaskan paradox (?) Paulus mengenai Kasih Keselamatan dan Keadilan Hukum Tabur Tuai. Sederhananya, Paulus sedang berbicara tentang 2 hal yang berbeda. Kasih Keselamatan adalah spiritualitas (Mohabbat ?) sedangkan Keadilan Hukum Tabur Tuai adalah 'peraturan beragama'. (Syariat)
    Nationalism in Larger Framework of Internationalism

    Bhinneka Tunggal Ika Tan Hanna Dharma Mangrwa
    Mari BerKampanye untuk Integritas Nasional dan Perdamaian Dunia.
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  19. Quote Originally Posted by joehanes
    Ketika kita masih berada atau terikat dengan dunia, maka Hukum Tabur-Tuai akan berlaku bagi kita. Tapi bila kita berada dalam Kasih Kristus maupun Kasih Kristus berada di dalam diri kita, maka Hukum Tabur-Tuai dengan sendirinya 'akan' terlepaskan. Inilah sebenarnya makna dari spiritual journey (menurut saya pribadi).
    Tetapi lain halnya Yesus menurut penulis Injil Matius. Menurutnya, tidak sedikit pun Yesus datang berniat untuk menghapuskan Hukum Taurat dan hukum-hukum lainnya, termasuk hukum tabur-tuai (Mat. 5:17-20).

    Pemahaman agama sekarang (saya ambil contoh doktrin di Kekristenan), telah tereduksi menjadi (kembali lagi) ke 'Hukum Tabur-Tuai', seperti Percaya Kristus, Selamat. Tidak Percaya, Tidak Selamat. Padahal ini adalah pemahaman yang ditanamkan Musa dalam Hukum Taurat.
    Karena memang keempat PB ditulis dalam konteks masyarakat Yunani-Romawi yang masih sarat dengan pola-pikir legal: salah-benar, legal-ilegal, hitam-putih, dlsb. Dan kebetulan paradigma legal ini juga diperkuat (enforced) oleh pola yang serupa dalam tradisi Mosaik tadi. Lantas apakah paradigma legal ini merupakan sesuatu yang usang atau irrelevant di mata Yesus? Tentu saja tidak (bdk. Mat. 5:17-20 tadi). Yang unik dari Yesus ialah kemampuanNya untuk "melampaui" batasan-batasan ketat-absolut hukum-hukum tadi (mis. hukum Sabbath) dan mensubordinasikannya di bawah diriNya. Pelampauan dan subordinasi oleh Yesus bisa dijelaskan hanya dengan mengasumsikan pemahaman Yesus akan diriNya yang memiliki otoritas spesial, unik, di atas hukum-hukum tsb, yang mana kemudian oleh para pengikutnya dianggap, salah satunya, sebagai menunjukkan keilahianNya.

    Kristus datang, untuk memberitahukan 'Kabar Baik' bahwa Manusia bisa 'terlepaskan' dari jeratan Hukum Tabur Tuai bila menyadari Kasih Tanpa Syarat yang berada di dalam diri tiap manusia maupun berada di luar diri manusia.
    Yoh 4:16 : “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia"
    Bukan cuma sekedar kasih, tetapi kasih yang tertanam di dalam iman kepada Yesus. Dus, keunikan dan eksklusivitas Yesus sebagai jalan satu-satunya ke Bapa masih tetap tertanam secara dalam. Orang tidak akan pernah bisa setia kepada pesan PB jika berusaha mengaburkan pesan keunikan dan eksklusivitas dalam Yesus dengan hanya sekedar mengumandangkan pesan kasih tanpa fondasi jelas tertanam di mana atau di siapa. Ada baiknya kita membaca Alkitab tidak dengan memakai kaca mata ideologi tertentu secara gamblang dan sadar, mis. ideologi pluralis.

    Jadi bila seseorang sudah menyadari Kasih Allah dalam diri, mau mengobrak-ngabrik 'dagangan' orang lain di Bait Allah pun, Hukum Tabur-Tuai pun sudah 'terlampaui' dan 'irrelevant'
    Dan sebaiknya kita jangan mencampuradukkan antara apa yang berlaku secara psikologis di dalam diri seseorang (mis. Joehanes) dan apa yang berlaku secara ontologis di luar diri orang tsb. Bagi individu-individu tertentu, misalnya, keberadaan hukum tabur-tuai tidak lagi relevan dalam mendefinisikan perjalanan spiritualnya dengan Allah. Tetapi apakah kondisi psikologis yang menganggap hukum tsb tidak relevan lantas membuat hukum tadi secara ontologis tidak ada alias non-existent? Tentu saja tidak.

    Si Jontor boleh saja empot-empotan, sambil mata merem, membayangkan tompel yang ada di dahinya tidak ada karena sangat mengganggu self-esteem-nya sbg seorang cowok yang suka ngedugem bareng cewek-cewek cakep. Tetapi apakah dengan membayangkan tsb lantas tompel tsb menjadi tidak ada alias lenyap? Tentu saja tidak!

    Ini mungkin bisa menjelaskan paradox (?) Paulus mengenai Kasih Keselamatan dan Keadilan Hukum Tabur Tuai. Sederhananya, Paulus sedang berbicara tentang 2 hal yang berbeda. Kasih Keselamatan adalah spiritualitas (Mohabbat ?) sedangkan Keadilan Hukum Tabur Tuai adalah 'peraturan beragama'. (Syariat)
    Wah, sorry...Saya kok masih belum melihat bagaimana penjelasan anda menyelesaikan masalah. Keraguan/keberatan saya terletak pada apa yang saya anggap ketidakmampuan anda membedakan antara apa yang berlaku secara privat-psikologis tadi dan apa yang berlaku secara objektif-ontologis tadi.
    Last edited by god'slover; 22nd June 2005 at 12:39 PM.
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

  20. Join Date
    Jun 2004
    Location
    Jakarta
    Posts
    2,292
    Rep Power
    17

    Tetapi lain halnya Yesus menurut penulis Injil Matius. Menurutnya, tidak sedikit pun Yesus datang berniat untuk menghapuskan Hukum Taurat dan hukum-hukum lainnya, termasuk hukum tabur-tuai (Mat. 5:17-20).
    Saya setuju dengan penulis Injil Matius maupun ke-4 penulis Injil 'Resmi' lainnya. Tapi, yang saya maksudkan adalah : Bukannya menghapuskan, tapi terlepaskan. Detachment, bukannya meniadakan. Dua kata yang berbeda seperti yang juga dijelaskan GL pada kata 'memaafkan' dan 'mengampuni'.

    Karena memang keempat PB ditulis dalam konteks masyarakat Yunani-Romawi yang masih sarat dengan pola-pikir legal: salah-benar, legal-ilegal, hitam-putih, dlsb. Dan kebetulan paradigma legal ini juga diperkuat (enforced) oleh pola yang serupa dalam tradisi Mosaik tadi. Lantas apakah paradigma legal ini merupakan sesuatu yang usang atau irrelevant di mata Yesus? Tentu saja tidak (bdk. Mat. 5:17-20 tadi). Yang unik dari Yesus ialah kemampuanNya untuk "melampaui" batasan-batasan ketat-absolut hukum-hukum tadi (mis. hukum Sabbath) dan mensubordinasikannya di bawah diriNya. Pelampauan dan subordinasi oleh Yesus bisa dijelaskan hanya dengan mengasumsikan pemahaman Yesus akan diriNya yang memiliki otoritas spesial, unik, di atas hukum-hukum tsb, yang mana kemudian oleh para pengikutnya dianggap, salah satunya, sebagai menunjukkan keilahianNya.
    Saya setuju dengan pandangan ini, ngak masalah dan memang kedatangan Kristus bukan untuk 'meniadakan' atau 'mengganti' hukum Taurat, tapi istilah kristennya adalah 'menggenapkannya'.

    Lihat contoh ini :
    Ketika Alkitab merekam kejadian di mana Kristus berbicara ttg. beberapa Hukum Taurat misalnya seperti kira-kira gini : " (1) Musa mengijinkan hukum mata dibalas mata, tapi (2) sekarang diganti bila seseorang menampar pipi kiri, berikan pipi kanan."
    Apakah statement (1) dan (2) bertentangan ? Apakah statement (2) menggenapkan statement (1) seperti kata Kristus ? Bagaimana bila yang mengatakan hal ini adalah politisi seperti SBY misalnya, apakah SBY akan dinilai 'bego' ketika berkata 'statement' yang mirip seperti : "(1) Saya pribadi akan menjamin Kebebasan Beragama di Indonesia tapi (2) semuanya tergantung pada mayoritas agama yang ada di Indonesia juga ? Tergantung dari sisi mana seseorang melihatnya. Bukankah begitu ?

    Bukan cuma sekedar kasih, tetapi kasih yang tertanam di dalam iman kepada Yesus. Dus, keunikan dan eksklusivitas Yesus sebagai jalan satu-satunya ke Bapa masih tetap tertanam secara dalam. Orang tidak akan pernah bisa setia kepada pesan PB jika berusaha mengaburkan pesan keunikan dan eksklusivitas dalam Yesus dengan hanya sekedar mengumandangkan pesan kasih tanpa fondasi jelas tertanam di mana atau di siapa. Ada baiknya kita membaca Alkitab tidak dengan memakai kaca mata ideologi tertentu secara gamblang dan sadar, mis. ideologi pluralis.
    Kalo kita memandang pluralis sebagai ideologi, tentu kita akan 'terjebak' lagi dalam konsep itu. Maaf, Ideologi saya bukan Pluralis. Pandangan saya adalah pemahaman pribadi saya pada suatu masalah, yang tidak nyantol ke suatu ideologi manapun tapi kalo pun dipaksakan ke dalam suatu ideologi, saya lebih cenderung menyebut diri sebagai Singularis Inklusif.

    Kemudian masalah Iman kepada Kristus, saya yakin dengan postingan kamu di atas, definisi Iman antara saya dan kamu berbeda. Saya melihat pengertian Iman bukan terfokus pada "Which side/Whom side are you?" tapi lebih fokus pada "How to accept".

    Bukan berarti saya tidak percaya 'ekslusivitas'. Ekslusivitas tentu saja diperlukan tapi pada ruang 'private' masing-masing individu demi kepentingan individu2 itu sendiri bukan 'dimunculkan keluar' pada ruang 'publik'.

    Dan sebaiknya kita jangan mencampuradukkan antara apa yang berlaku secara psikologis di dalam diri seseorang (mis. Joehanes) dan apa yang berlaku secara ontologis di luar diri orang tsb. Bagi individu-individu tertentu, misalnya, keberadaan hukum tabur-tuai tidak lagi relevan dalam mendefinisikan perjalanan spiritualnya dengan Allah. Tetapi apakah kondisi psikologis yang menganggap hukum tsb tidak relevan lantas membuat hukum tadi secara ontologis tidak ada alias non-existent? Tentu saja tidak.
    Setuju, dan karena pengertian inilah makanya Kristus meminta muridNya untuk 'tidak menghakimi' (salah-benar), menurut saya.
    Film porno bagi anak kecil dan bila ditonton secara sembunyi2, tentu tidak baik. Tapi bagi orang dewasa dan 'mampu' ditonton secara terang2an bahkan dengan ke-2 orang tua, itu ok-ok saja. Karena yang membuat film porno tidak bagus untuk konsumsi orang dewasa karena ditonton sembunyi2, bukan karena budaya timur.

    Wah, sorry...Saya kok masih belum melihat bagaimana penjelasan anda menyelesaikan masalah. Keraguan/keberatan saya terletak pada apa yang saya anggap ketidakmampuan anda membedakan antara apa yang berlaku secara privat-psikologis tadi dan apa yang berlaku secara objektif-ontologis tadi.
    Mungkin berlaku secara publik, bukan objektif karena objektifitas seseorangpun tergantung dari laporannya yang tidak bisa terlepas dari subjektifitas orang tersebut juga. Lingkaran 'Tuhan' (saya menolak bila disebut Lingkaran Setan) bila kita mencoba memaparkan subjektifitas-objektifitas. Ngak akan ketemu.

    Biarpun Paulus bukanlah (menurut saya) rasul yang paling 'tinggi kesadarannya' dibandingkan rasul2 lain, tapi rekaman 1 Kor 13, cukup 'membuktikan' bahwa Paulus pernah mengalami Kesadaran Kasih (Kristus), yang dalam bahasa GL adalah Kasih Keselamatan Illahi. Bila Kesadaran Kasih sudah dialami, orang tsb akan 'terlepas' (bukan tidak berlaku secara harafiah) dari sistem Keadilan yang dirumuskan dalam Hukum Tabur-Tuai.
    Nationalism in Larger Framework of Internationalism

    Bhinneka Tunggal Ika Tan Hanna Dharma Mangrwa
    Mari BerKampanye untuk Integritas Nasional dan Perdamaian Dunia.
    Reply With Quote Reply With Quote   Share with Facebook (0)

+ Reply to Thread
Page 1 of 2
1 2 LastLast

Similar Threads

  1. Kronologi kedatangan Yesus kedua kali
    By daniel in forum Diskusi General
    Replies: 225
    Last Post: 1 Week Ago, 10:57 AM
  2. Replies: 88
    Last Post: 7th November 2008, 10:37 PM
  3. Justification By Faith Alone
    By savedbygrace in forum Belajar Alkitab
    Replies: 46
    Last Post: 25th August 2006, 10:53 PM
  4. Tulisan Eka Darmaputera:pemilu presiden
    By SarapanPagi in forum Warung Kopi
    Replies: 49
    Last Post: 29th September 2005, 02:28 PM

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts

Search Engine Friendly URLs by vBSEO 3.5.0 RC1 PL1