All of the greatest religions speak of the souls's endurance beyond the end of life.
So, what then does it mean to die? (Eisenheim, The Illusionist)
1. Apa sih artinya mati?
Eisenheim sedang berbicara logika, bukan tentang hal-hal spiritisme. Apa sih makna mati, kalau memang ada kebenaran dalam ajaran tentang keabadian jiwa. Dalam ajaran Kristiani makna mati mempunyai macam-macam arti. Kata "mati" yang pertama dalam Alkitab kita tertulis dalam :
* Kejadian 2:17
tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.
UME'ETS HADA'AT TOV VARA LO TOKHAL MIMENU KI BEYOM AKHALKHA MIMENU MOT TAMUT
Ular memperdaya manusia sbb :
* Kejadian 3:4
Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: 'Sekali-kali kamu tidak akan mati,'
VAYOMER HANAKHASH EL-HAISHA LO-MOT TEMUTUN
Manusia melanggar apa yang difirmankan Allah, sebaliknya menuruti ular itu. Apakah benar Adam langsung mati? (secara fisik mati?), lalu apa yang dimaksud "mati" dalam Kejadian 2:17 ini?
Semua manusia, yang percaya dan yang tidak percaya, akan mati. Akan tetapi, kata "mati" di dalam Alkitab, memiliki lebih dari satu arti. Penting untuk mengerti hubungan orang percaya dengan berbagai arti kematian. Kejadian 2:1-3:24 mengajarkan bahwa kematian memasuki dunia karena dosa. Manusia pertama diciptakan dengan kemampuan untuk hidup selama-lamanya; ketika mereka tidak menaati perintah Allah, mereka dijatuhi hukuman atas dosa itu, yaitu kematian. Kematian ini mencakup :
1. Tunduk kepada hukum kematian
Setelah Adam dan Hawa memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, Allah mengatakan,
"engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu". Maka, sekalipun mereka "tidak mati" secara jasmaniah pada hari mereka memakan buah itu, mereka kini
tunduk pada
hukum kematian sebagai akibat dari kutukan Allah. Demikian juga seluruh keturunan dari mereka.
2. Mati secara Moral
Adam dan Hawa juga mati secara moral. Allah mengingatkan Adam bahwa ketika ia makan buah yang terlarang itu, ia pasti akan mati. Peringatan itu sangat serius. Sekalipun Adam dan Hawa tidak mati secara jasmaniah pada hari itu, mereka mati secara moral, yaitu tabiat mereka menjadi berdosa. Sejak Adam dan Hawa, semua orang dilahirkan dengan tabiat berdosa, yaitu suatu keinginan bawaan untuk mementingkan diri sendiri tanpa mempedulikan Allah atau orang lain.
3. Mati secara rohani
Adam dan Hawa juga mati secara rohani ketika mereka tidak taat kepada Allah, yaitu hubungan intim mereka yang dahulu dengan Allah menjadi rusak. Mereka tidak lagi mengharapkan saat-saat berjalan dan berbincang-bincang dengan Allah di taman; sebaliknya mereka bersembunyi dari hadapan-Nya. Di bagian lainnya, Alkitab mengajarkan bahwa terlepas dari Kristus, semua orang terasing dari Allah dan dari hidup di dalam-Nya; mereka mati secara rohani.
4. Kematian kekal
Akhirnya, kematian sebagai akibat dosa mencakup kematian kekal. Hidup kekal seharusnya menjadi akibat ketaatan Adam dan Hawa; namun sebaliknya, prinsip kematian kekal telah diberlakukan. Kematian kekal adalah hukuman dan pemisahan kekal dari Allah sebagai akibat ketidaktaatan, yaitu
menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatan-Nya.
Alkitab menyebut "orang hidup yang bisa mati atau akan mati" pun disebut mati :
* Zakharia 11:9
Lalu aku berkata: 'Aku tidak mau lagi menggembalakan kamu; yang hendak mati, biarlah mati; yang hendak lenyap, biarlah lenyap, dan yang masih tinggal itu, biarlah masing-masing memakan daging temannya!'
VAOMAR LO ERE ETKHEM HAMETA TAMUT VEHANIKHKHEDET TIKAKHED VEHANISHAROT TOKHALNA ISHA ET-BESAR REUTA
HAMETA TAMUT, harfiah
"orang mati itu mati" diterjemahkan "yang hendak mati, biarlah mati" padahal yang disebut orang mati itu belum mati tetapi akan mati.
Jadi , makna
"mati" di dalam Alkitab tidak semata-mata berhubungan dengan kematian fisik belaka.
Bandingkan ketika Yesus memakai makna "mati" yang sama pada ayat ini :
* Matius 8:22
Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka."
Apa yang dikatakan oleh Yesus selaras dengan Zakharia 11:9 dan juga selaras dengan Kejadian 2:17. Bahwa manusia berdosa yang bisa mati itu pun disebut mati meskipun secara fisik mereka masih hidup di dunia. Sebab siapapun manusia di dunia ini tunduk pada hukum kematian.
Inilah pengertian "mati". Dalam Bahasa Indonesia sendiri pun mencatat makna beragam tentang "mati":
hilang nyawa, tidak hidup lagi, padam, buntu, tidak digunakan, tidak bergerak, diam atau berhenti, tidak ada kegiatan. Jadi , makna "mati" di tidak semata-mata berhubungan dengan kematian fisik ragawi belaka.
2. Bagaimana sikap kita terhadap kematian?
"Kematian-raga" adalah salah satu akibat dosa manusia pertama, hal ini menjadi hal kodrati bagi seluruh umat yang lahir dari keturunan mereka, yaitu semua manusia di dunia. Sekalipun orang percaya di dalam Kristus memiliki jaminan hidup kebangkitan, kita masih harus mengalami kematian jasmaniah. Tetapi kita - orang percaya -menghadapi kematian dengan sikap yang berbeda dari orang tidak percaya.
Karena kita sudah mengerti cara untuk lolos dari semua aspek kematian ini ialah melalui Yesus Kristus yang
telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa. Dengan kematian-Nya Ia mendamaikan kita dengan Allah, sehingga memutarbalikkan pemisahan dan pengasingan rohani yang dihasilkan dosa. Oleh kebangkitan-Nya, Ia mengalahkan dan mematahkan kuasa Iblis, dosa, dan kematian jasmaniah.
Paulus secara gamblang menjelaskan "Kebangkitan Kristus" membawa semua orang-orang yang percaya kepadaNya "dihidupkan bersama-sama" (Yunani,
suzoopôieô)
* Efesus 2:5
telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita -- oleh kasih karunia kamu diselamatkan -
KJV,
Even when we were dead in sins, hath quickened us together with Christ, (by grace ye are saved; )
TR Translit Interlinear,
kai {bahkan} ontas {sekalipun} hêmas {kita} nekrous {mati} tois paraptômasin {dalam pelanggaran-pelanggaran} sunezôopoiêsen {telah menghidupkan (kita) bersama} tô christô {dengan Kristus} chariti {karena anugerah} este sesôsmenoi {kamu diselamatkan}
Lihat juga Kolose 2:13
Suzoopôieô –
menghidupkan bersama-sama, mengisyaratkan suatu perubahan, manusia yang seharusnya "mati secara kodrati" akibat dosa Adam, mereka akan hidup karena konsekwensi kebangkitan Kristus.
Maka, kalaupun kita pasti mati (secara fisik) hal itu menjadi tidak berarti sebab kematian fisik hanyalah babak baru dalam menuju Kehidupan yang kekal. Untuk itu Rasul Paulus yang memang sangat mengeti apa arti dan akibat dari kematian Kristus, ia mengajarkan kepada kita apa yang ia fahami, demikian :
* Filipi 1:21
Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.
Untuk itulah saya sangat menyukai quote dari Eisenheim diatas
"So, what then does it mean to die?. Karena Yesus Kristus telah mempersiapkan tempat bagi kita :
* Yohanes 14:1-6
14:1 "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.
14:2 Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.
14:3 Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.
14:4 Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ."
14:5 Kata Tomas kepada-Nya: "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?"
14:6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
Haleluyah!
Blessings in Christ,
BP
January 11, 2007