Quote:
Originally Posted by eve
bukan ciumannya direncanain. tp intinya kita kudu waspada ma apa yg ada dalam hati n keinginan kita. kalau belon ciuman udah mikir dengan ciuman bakal kemana2.. mending jangan ciuman or pegangan tangan. karena pemikiran itu justru lahir dr keinginan terpendam untuk mengarah kesitu bukan untuk nunjukin perhatian. sometimes itu lahir dr imajinasi2 liar yg membawa seseorg untuk ingin beciuman n ingin merasakan lebih.
cewe juga hrsnya nyadar mana yg perhatian mana yg nggak.
gue ga nyaranin org buat hrs sentuhan selama pacaran or ga boleh sentuhan cause itu pilihan masing2 org dan tanggung jawab setiap org atas pilihannya. tp kalo kita selalu memulai segala sesuatu dgn "paranoid dan ketakutan" masalahnya bukan pd tindakan itu tp di dalam diri kita so bereskan masalah itu. jangan ntar malah nyalahin bahwa itu gara2 sentuhan or ciuman.
kalo ada anak sd, smp or sma nanya sih jelas gue akan bilang kagak boleh. cause buat gue usia segitu masih amat labil dalam mengendalikan emosi n biasanya bukan perhatian yg ingin ditunjukin tp sekedar muasin keinginan.
gue nulis seperti yg lo quote itu karena gue ngerasa disini konteksnya org2 yg seharusnya sudah bisa berpikir n menganalisa. n setidaknya sudah mampu bertanggung jawab atas pilihannya.. yg ga perlu lagi diajarin ini boleh itu ga boleh. yg bentar2 nanya ini boleh apa nggak.
ada yg mo ngasih k gue ga yah 
|
Ic aq jadi paham pendekatan pemikiran yg km ambil...
Aq lihat km memakai pendekatan dari sudut pandang manusia yang berpikir dan merasakan memahami dengan jelas mana yang dibutuhkan dan mana yang diinginkan. Dengan kehendak bebas yang dimilikinya dia seharusnya mampu menganalisa dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Inilah yang disebut manusia yang memilih untuk dewasa (pandangan mainstream). Tapi yang menarik aq liat disisi lain kamu melihat kedewasaan juga dari ukuran batasan umur. Kamu menyarankan untuk anak SMP dan SMA agar tidak melakukan ciuman dulu karena masih labil dalam penguasaan emosi dan belum mampu membedakan antara perhatian dan nafsu (pemuasan keinginan).
Pertanyaannya apakah orang yang disebut "dewasa" (pandangan mainstream (bukan Kristen)) dapat dikatakan juga secara otomatis mampu mengendalikan emosinya?? Kalau dilihat secara manusiawi, manusia yang berpikir seharusnya sadar bahwa dia itu "lemah" karena dibatasi oleh ketidaksempurnaan. Dengan kesadaran akan kelemahannya, harusnya dia tidak akan menyentuh/berhubungan dengan hal-hal yang secara umum seringkali menjadi pintu masuk bagi kejatuhannya dalam kelemahannya itu. Kalau dilihat dari penekanan kamu, menurut aq hanya manusia sempurnalah yang sanggup mengatakan bahwa dia tidak akan jatuh pada nafsu. Ini artinya kita harus menjadi seperti Yesus baru bisa memiliki kesadaran 100% untuk mengendalikan nafsu. Faktanya di kehidupan bagaimana? Kebanyakan manusia masih dikuasai oleh nafsunya, meniru apa yang diwariskan nenek moyangnya yaitu Adam dan Hawa.Pilihan mereka bukankah lebih sering pada pemuasan nafsu daripada menyangkal diri? Kitapun kadangkali demikian bukan?
Memang kamu juga melakukan penekanan bukan pada tindakan namun "sesuatu didalam diri" atau bahasa kerennya alam bawah sadar. Mungkin kamu sudah membaca buku matras karya paulvereschack ([url]http://www.paulvereschack.com/[/url]) yang menguraikan secara gamblang tentang kedaan manusia yang pada umumnya rata2 "sakit" (aq menyebutnya lemah). Tapi pertanyaannya apakah manusia2 yg sakit2 ini, selama hidupnya bisa langsung otomatis sembuh (termasuk orang Kristen lahir baru). Bukankah itu merupakan proses panjang seumur hidup.
Pada akhirnya aq melihat dari uraian kamu, kecenderungan akhirnya manusia itu sebenarnya sadar akan kelemahannya, namun karena keinginannya dia tidak perduli akan hal itu dan terus masuk (nyebur) dalam kelemahannya dan rela untuk menanggung resiko atas pilihannya itu. Bahasa sederhananya: "Pasrah pada kelemahan?"...
Kalo itu pilihannya maka selama hidupnya manusia itu tidak akan masuk dalam proses penyembuhan diri, justru terus saja bermain dalam keterikatan (bahasa Tru Gossiper masturbasi rohani)... Akhirnya sejarah Adam dan Hawa akan terus menerus berulang-dan berulang, jatuh bangun dalam dosa. Tidak ada penyangkalan diri, yang ada adalah pemuasan diri.... Ini tidak memandang umur, status keagamaan ataupun intelektualitas seseorang. Kita semua pun mengalaminya... Hanya tidak banyak yang mau mengakui bahwa dirinya pada dasarnya adalah "lemah" (kesadaran beda halnya dengan paranoid/ketakutan).....
Bukankah itu intinya kita melakukan diskusi disini (dan spiritualitas Kristen)... Yaitu agar setiap dari kita memiliki kesadaran ilahi yang sama seperti Kristus???