View Single Post
  #2 (permalink)  
Old 15th May 2008
tnt-here's Avatar
tnt-here tnt-here is offline
peZIaRah ImAn
 
Join Date: Dec 2004
Posts: 1,605
tnt-here will become famous soon enoughtnt-here will become famous soon enoughtnt-here will become famous soon enough
Default

Quote:
Originally Posted by PlainBread View Post
Tadi gue liat video seorang ibu2 kulit putih di west virginia, ditanya kalo kandidat presiden dari partai demokrat adalah seorang kulit hitam, apakah dia bersedia memilih kandidat tersebut. Jawaban dia tegas: NO!

Karena sejenak tadi sama TNT membahas soal PKS, gue jadi berpikir, apakah kita siap dipimpin oleh seorang muslim yang radikal dalam falsafah imannya (mungkin selama ini kita sudah terkondisikan dari dulu pemimpin memang muslim, walaupun selalu moderate)? Apakah mayoritas bangsa Indonesia siap dipimpin oleh seorang kristen (walaupun belum tentu radikal)?

Sentimen warna kulit, sentimen agama, ataupun sentimen kedaerahan, seringkali melapis cara kita memandang orang atau pihak lain. Dalam beberapa bulan terakhir ini, gue rajin ngunjungin websites golongan liberal dan websites kelompok konservatif menjelang pemilihan umum di Amerika. Dua2nya bener2 menyeramkan. Yang liberal menggambarkan bahwa konservatif itu shallow minded (otak cetek), racist, dan gak punya pendidikan. Yang konservatif menggambarkan bahwa liberal itu komunis, ateis, muslim, dan anti Amerika.

Dulu sih gue udah ngeliat perbedaan2 ini terjadi di mana2, tapi sepertinya hari ini gue baru "ngeh" bahwa hal seperti itu terjadi di Indonesia. Yang kelompok nasionalis seringkali menggambarkan bahwa kaum agamais adalah ketinggalan jaman, teroris, suka kekerasan dan anti toleransi. Sementara yang agamais tidak kalah sering menggambarkan bahwa kelompok nasionalis adalah tidak bertuhan, cenderung pro barat (bagi yang kristen) dan cenderung pro timur (bagi yang muslim), dan tidak peduli moral makanya tingkat kejahatan dan tingkat KKN selalu tinggi.

Apakah memang politik akan selalu seperti itu, membawa pemecahan dan perseteruan? Ataukah tanpa kita sadari bahwa kita selalu menganggap bahwa kelompok kita selalu yang lebih baik dibanding kelompok lain, tidak peduli bahwa kelompok 'lawan' kita tersebut mungkin sudah berbuat beberapa kebaikan yang jelas di mata kita tapi tidak membawa nilai plus apa2 karena image mereka sudah terdistorsi?
Sebenarnya tidak masalah kalau jiwa masyarakat Indonesia sudah merdeka 100 % sebagaimana tercantum dalam jiwa "bhineka tunggal ika".. Tapi faktanya saat ini kondisi masyarakat Indonesia masih sangat feodal, dan semakin terkotak-kotak pula... Kalau bahasanya politik tanpa kotak, pertanyaannya politik seperti apakah itu?
__________________
"Bukan berlimpahnya pengetahuan,
melainkan merasakan dan mencecap dalam-dalam kebenaran,
itulah yang memperkenyang dan memuaskan jiwa"

(Catatan Pendahuluan L.R. 2)
Reply With Quote