Thread: Youth Church
View Single Post
  #4 (permalink)  
Old 18th June 2008
El'Zap!!! El'Zap!!! is offline
AP - Regular Contributor
 
Join Date: Jun 2004
Posts: 122
El'Zap!!! is an unknown quantity at this pointEl'Zap!!! is an unknown quantity at this point
Default

<continued>

(NB: Saya kutip sepenuhnya artikel ini dari majalah "The Bridge"-El-Shaddai Creative Church Bandung dengan penulis bernama Yusni Reiny,semoga bermanfaat artikel ini.GBU)

WHO IS YOUTH?

Sangat mudah sebenarnya mendeskripsikan siapa youth. Tetapi yang harus diketahui sebelumnya adalah anak muda bukan objek, mereka adalah subjek dari sebuah kultur. Mari saya jelaskan. Melihat anak muda sebagai objek hanya akan menghasilkan penghakiman bagi mereka, seakan-akan mencoba ‘membedah’ mereka sambil mengingkari kenyataan bahwa setiap manusia pasti akan atau pernah mengalami masa muda.

Seseorang dianggap anak muda ketika mereka mulai tumbuh dewasa secara biologis dan psikologis. Harus diingat bahwa kata yang dipakai disini adalah MULAI TUMBUH DEWASA, bukan TELAH TUMBUH DEWASA. Jika diibaratkan benih, anak muda adalah tunas. Bentuk mereka belum terlihat, entah akan seperti apa mereka jadinya itu tergantung dari kehidupan mereka saat bertunas.
Coba lihat sebuah tunas kelapa. Tunas bukan batang, dia tidak sekokoh batang pohon kelapa. Tunas bukan daun, dia tidak seindah nyiur yang melambai-lambai menggoda seperti dalam lagu Rayuan Pulau Kelapa. Tunas hanyalah tunas, belum terlihat apa yang sebenarnya dia inginkan atau seperti apa dia nantinya. Dia sangat rentan, cukup patahkan saja tunas dari bijinya, dan dia akan mati!
Tetapi tunas sebenarnya sangat kuat! Dia tidak mau diatur dan tidak suka dibatasi. Dia liar dan ingin tahu, bahkan dia sanggup memecahkan tembok biji yang kokoh dan menerobos keluar untuk tumbuh seperti apa yang dia mau. Keinginannya yang kuat, usianya yang masih muda dan semangatnya yang tinggi membuat tunas menjadi sangat kuat. Dia tidak mau diatur dan mempunyai energi yang tidak pernah habis.

Itulah anak muda! Mereka tidak mau diatur, tidak suka dibatasi, susah ditegur, selalu ingin tahu, liar, tetapi mereka sangat rentan dan lemah. Kekuatan mereka tak ada batasnya, semangat mereka tak ada habisnya, tetapi sekali saja mereka dipatahkan, kematian yang menjadi pilihan mereka. Sangat kontras memang…tapi itulah anak muda. Mereka tidak lagi selemah anak kecil, tetapi belum sekuat orang dewasa.

Jadi bagaimana membuat kekristenan menjadi gaya hidup pilihan mereka sedangkan mereka tidak pernah mau diatur? Yesus adalah teladan yang baik dalam hal ini. Dia memulai pelayanannya ketika masih muda, dan dia memanggil murid-muridnya yang juga masih muda. Rata-rata murid Yesus hanya seorang penjala ikan, atau tukang tagih utang dan pajak, atau malah pemberontak seperti Simon orang Zelot. Pemberontak sepertinya memang gaya hidup anak muda. Selalu merasa tidak puas dengan apa yang ada dan merasa mempunyai jalan keluar yang lebih baik dari yang telah ada.

Tetapi tidak terlihat sedikit pun Yesus pesimis terhadap 12 anak muda yang dipilihnya ini. Dia sanggup melihat dan menjaga benih itu tumbuh. Yesus melihat tidak hanya kelemahan mereka tetapi juga potensi mereka. Mungkin, ini hanya praduga saya, Yesus berpikir seperti ini : “Ah, toh semua orang pasti muda dulu baru menjadi tua, bodoh dulu lalu nanti pun jadi pandai karena pengalaman. Jadi lebih baik memulai dengan mereka dulu dan akhirnya mereka bisa menjadi yang baik sesuai potensi mereka.” Seperti dibuat-buat ya? Memang saya buat-buat, makanya saya bilang itu hanya praduga saya. Tetapi saya pikir seperti itulah anak muda. Mereka mungkin terlihat tidak berhikmat tetapi penuh dengan potensi.

Yesus sanggup melihat potensi di dalam diri setiap orang tersebut sehingga mereka tidak hanya mau dimuridkan (jarang anak muda mau diajar), lebih lagi mereka mau diubah (rata-rata anak muda mau menang sendiri dan semau gue). Yesus benar-benar tahu bagaimana caranya mengeluarkan potensi mereka tanpa membuat mereka merasa berdosa dengan keadaan mereka. Ini memang cara yang cukup adil bagi kaum labil ini. Harus disadari bahwa merekalah pembawa perubahan yang sebenarnya, mereka yang menentukan seperti dunia pada masa ini akan menjadi.
Sekali lagi, anak muda bukanlah objek, mereka adalah subjek dari sebuah kultur, merekalah pelaku, pemeran utama, tuan dan penguasa sebuah kultur. Kultur lahir dari jiwa mereka, kultur terbentuk dalam tangan mereka, dan dunia mengakuinya. Sayangnya, muda adalah suatu masa. Muda bukan keabadian, manusia tidak mungkin berada terus menerus dalam fase ‘MULAI TUMBUH DEWASA” dan tidak pernah memasuki fase “TELAH TUMBUH DEWASA”(Pengkotbah 1:4). Tetapi apa yang terjadi dalam fase seseorang ketika muda sangat menentukan seperti apa dia ketika dewasa. Dan bicara tentang masa depan anak muda, seharusnya gereja punya andil besar dibanding dunia, jika memang gereja berniat menghasilkan manusia-manusia dewasa yang berdampak!



…sebenarnya…
“Sejak semula Tuhan menciptakan Adam, Tuhan langsung meminta Adam mengelola bumi (dengan bekal tidak ada pengalaman dan tidak punya pengetahuan). Tuhan tidak menunggu Adam menjadi tua dan banyak tahu dulu baru mempercayakan tanggung jawab padanya.” ●Frans Yanuar●
Reply With Quote