
22nd June 2008
|
 |
AP - Grand Master
|
|
Join Date: Nov 2007
Age: 27
Posts: 437
|
|
Quote:
Originally Posted by SarapanPagi
[color=#800000][size=5]
......Jalan yang dilaluinya untuk meninggalkan dan membelot dari Taiwan inipun tidak main-main, ia pergi ke China dengan cara berenang dan mengapung dengan satu bola basket sepanjang kira-kira 2 kilometer dari pulau Kinmen Taiwan menuju ke daratan Xiamen di propinsi Fujian China pada 17 Mei 1979. Suatu tekat yang luar biasa. Kepergiannya secara diam-diam ini tidak dapat dimengerti oleh keluarga, istri dan saudara-saudaranya.
......Ketika ditanya bagaimana ia tega meninggalkan istri dan sanak keluarga? Lin menjawab ada "saya kecil", ada "saya besar". "Saya kecil" adalah saya dengan urusan pribadi dan tanggung-jawab keluarga, sedangkan "saya besar" adalah cita-cita yang lebih besar untuk bangsa dan negara, ketika "saya yang besar" berhasil, saya yakin keluarga saya dapat mengerti.
......sang istri juga mendapat beasiswa ke Amerika dari Taiwan. Bertemulah ia dengan istri dan anaknya dan bersama tinggal disana sampai studinya selesai. Ia ditawari untuk menjadi pengajar di Yale, atau universitas apa saja yang dia pilih, dengan penghasilan yang tentu saja jauh lebih tinggi daripada menjadi seorang dosen di Beijing. Namun ia berniat kembali ke Beijing dan menulis surat kepada universitas itu posisi apakah yang akan diberikan kepadanya. Namun Beijing tidak menjawab, barangkali Beijing tidak percaya Lin mau kembali dengan kehidupan yang serba kurang di Beijing, mengingat kala itu China masih sangat miskin. Namun tekat untuk membangun negara dengan semangat nasionalisme menyampingkan keinginan-keinginan materi. Ia bertekat kembali, walaupun istrinya kurang setuju. Lin adalah orang pertama sebagai ilmuwan yang belajar di negara barat dan kembali ke 'ibu pertiwi'.
....Hal yang membuat ia menjadi lebih bertekat untuk kembali ke China adalah ketika ia mendengar percakapan putrinya yang berumur 6 tahun dengan temannya (dari keluarga Meksiko). Putrinya berpamitan pada temannya berkata begini : "aku dan orang-tuaku mau kembali ke China, di China masih miskin, tapi kami harus kembali". Temannya, si anak Meksiko itu berkata, "kamu kembali ke negaramu sendiri, walaupun sekarang miskin tapi ada harapan nanti akan maju". Jawaban yang sederhana ini mampu menyemangati seorang ayah untuk membawa keluarganya kembali ke tanah leluhur.
|
Saya yakin, orang ini kepunyaan Tuhan.
|