Quote:
Originally Posted by JC4Life
Nasionalisme yang coba diusung dan dikumandangkan akhir-akhir ini sudah didangkalkan, dirangkum secara sederhana: "daripada dicolong oleh asing, mending dicolong orang sebangsa-setanahair, atau mendingan tetap berada di bawah tanah aja jangan dikemana-manain".
|
Quote:
Originally Posted by Jody
Ini yang gue perhatikan di China ... akhirnya jadilah mental handal yang fokus jauh ke depan 
|
Bicara tentang sikap nasionalisme, saya ada oleh2 cerita :
Beberapa hari lalu baru kembali dari Beijing China, melihat-lihat kota ini berdandan abiz untuk persiapan Olimpade Beijing 2008. Banyak gedung2 baru yang aneh-aneh dan spektakuler. Airport baru yang keren dan gede banget. Beda jauh dengan beberapa tahun lalu ketika terakhir pergi ke kota ini.
Salah satu yang paling berkesan ketika berkunjung disana adalah mendapati sikap nasionalisme dari kalangan
"blue-collar" (pekerja rendahan) di sana. Ceritanya begini, ketika mengunjungi Forbidden City, membeli buku sejarah yang lumayan tebel tentang Istana Kaisar ini. Kemudian makan siang di food-court di sebuah shopping mall. Eh kelupaan buku tadi tertinggal disana, dan ingetnya pas udah malem banget, mall itu dah tutup.
Besokannya balik ke mall itu, tanya-tanya ke petugas cleaning disana kalau-kalau mereka melihat buku itu di kursi yang kemarin kami duduk disana. Mulanya mereka cuek-cuek aja, dan bilang "petugas kemarin libur, disamping itu mana kita bisa inget pengunjung sebegini banyak". Merasa tertantang, bukan masalah nilai uangnya, buku balik atau tidak bukan masalah. Masuk ke Tiananmen beli lagi juga bisa, cuma jauh aja jalannya istana segede itu. Trus saya bilang kepada mereka kalau saya seorang guru yang "mengajar" sejarah tentang
Chung-kuo untuk orang2 di Indonesia. Ternyata dengan bicara begitu... rasa nasionalisme mereka nampak sekali, ada semacam kebanggaan mereka terhadap negaranya, sikap mereka jadi berubah, mereka ngomong banyak sekali yang tidak semua saya ngerti, maklum
han-yu nya pas-pasan. Intinya kira-kira mereka minta saya besok datang lagi, karena hari ini mereka akan tanya-tanya dulu kepada petugas yang kemarin, kalau mungkin ada diantara mereka yang menemukan buku2 itu.
Besokannya balik lagi, menemui bagian cleaning di Mall itu, si ibu itu lari-lari ke ruangan petugas cleaning, kemudian membawakan buku itu kembali. Saya memberikan sejumlah uang tanda terima kasih, tapi dia menolak dan mendorong tangan saya, bicara yang artinya :
"its my pleasure to help you"
Waduh... terpesona abiz dengan sikap mereka ini, nasionalisme yang dalam ini dimiliki rakyat biasa, dari kalangan pekerja rendahan. Ini adalah cerminan kalau negara itu sukses mendidik rakyatnya cinta bangsa dan negaranya.
Negara yang maju tergantung pada sikap kebangsaan dari rakyatnya