View Single Post
  #4 (permalink)  
Old 9th July 2008
Sola_Scriptura2007's Avatar
Sola_Scriptura2007 Sola_Scriptura2007 is offline
AP - Adopted by Grace
 
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 626
Sola_Scriptura2007 has a little shameless behaviour in the past
Alkitab Bab 3 (b): KEDAULATAN ALLAH

6. Allah yang berdaulat adalah Allah yang menyatakan diri-Nya
Di poin kelima, kita sudah belajar tentang Allah yang transenden sekaligus imanen. Di poin ini, kita akan mengkhususkan tentang imanensi Allah, yaitu Allah yang menyatakan diri-Nya. Allah yang berdaulat adalah Allah yang berdaulat mutlak dan rela membatasi diri-Nya untuk dikenal oleh ciptaan-Nya (Rm. 1:19). Penyataan diri Allah ini berkaitan dengan atribut-atribut Allah yang dikomunikasikan. Berkenaan dengan atribut-atribut Allah, theologi Reformed membagi dua macam atribut Allah, yaitu yang dikomunikasikan (communicable attributes of God) dan atribut yang tidak dikomunikasikan (incommunicable attributes of God). Atribut yang dikomunikasikan adalah atribut-atribut Allah yang dimiliki oleh manusia, misalnya adil, benar, jujur, bermoral, dll. Sedangkan atribut Allah yang tidak dikomunikasikan seperti Kekal, Mahatahu, dll tidak diberikan kepada manusia. Bagi atribut-atribut Allah yang dikomunikasikan inilah, kita dapat mengenal penyataan diri Allah. Berkenaan dengan penyataan diri Allah, theologi Reformed dengan tajam membagi dua, yaitu wahyu umum dan wahyu khusus. Wahyu umum adalah penyataan diri Allah kepada semua manusia melalui hati nurani (internal) dan alam semesta (eksternal) (mengutip pernyataan Pdt. Dr. Stephen Tong). Mengutip Pdt. Dr. Stephen Tong, respon terhadap wahyu umum bisa meliputi agama (respon terhadap hati nurani) dan kebudayaan (respon terhadap alam). Tetapi apakah cukup melalui wahyu umum Allah, manusia mengenal Allah? Tidak. Dr. John Calvin mengajar bahwa meskipun manusia ditanamkan sense of divinity (bibit agama), manusia sudah berdosa dan merusak apa yang sudah ditanamkan Allah di dalam manusia itu, sehingga respon terhadap wahyu umum Allah tidak mungkin dijadikan standar mutlak mengenal Allah sejati. Sehingga, Allah menyatakan diri-Nya secara khusus (wahyu khusus) hanya kepada beberapa orang yang telah dipilih-Nya sebelum dunia dijadikan, yaitu melalui Kristus (Penyataan diri Allah yang nyata dan final) dan Alkitab (Penyataan diri Allah yang tertulis). Dengan standar ini, kita dengan tajam memilah mana yang benar dan mana yang tidak benar berdasarkan wahyu khusus Allah.

Lalu, apa signifikansinya? Wahyu umum dan wahyu khusus mengajar kita bagaimana harus bersikap terhadap orang non-Kristen. Di satu sisi, kita sebagai orang Kristen tetap harus menghargai mereka yang bukan Kristen di dalam beberapa prinsip yang tidak esensial, misalnya menyangkut politik, etika, teknologi, dll. Sebagai respon terhadap wahyu umum Allah, mereka memiliki kebajikan-kebajikan tersendiri (yang tidak melawan Alkitab) yang bisa kita pelajari. Tetapi ingat, karena agama-agama non-Kristen hanya merupakan respon manusia berdosa terhadap wahyu umum Allah, kita tidak boleh mengadopsi mereka semua untuk melengkapi apa yang sudah kita dapatkan di dalam wahyu khusus Allah. Justru sebaliknya, kita yang sudah mendapatkan wahyu khusus Allah menerangi mereka yang hanya meresponi wahyu umum Allah, sehingga nama Tuhan dipermuliakan. Prinsip-prinsip yang tidak melawan Alkitab dan Kristus boleh kita terima, tetapi prinsip-prinsip yang jelas-jelas melawan Alkitab dan Kristus harus kita buang, meskipun prinsip itu laris di pasaran dunia. Selain itu, kita juga dituntut untuk mempertumbuhkan spiritualitas kita untuk hidup kudus, jujur, adil, dll, sebagaimana yang dituntut oleh Allah di dalam firman-Nya.


7. Allah yang berdaulat adalah Allah yang Mahakasih sekaligus Mahaadil (dan Mahakudus)
Allah yang berdaulat adalah Allah yang Mahakasih sekaligus Mahaadil. Kedua atribut Allah ini tidak bisa dipisahkan. Memisahkan kedua atribut Allah ini mengakibatkan munculnya bidat. Bidat di Amerika Serikat, Children of God terlalu mementingkan atribut Allah yang Mahakasih bahkan sampai melegalkan hubungan “kasih” di luar nikah. Baru-baru ini, di surat kabar, kita mendapatkan berita serupa tentang free-sex yang dilakukan oleh bidat Mormonisme (Gereja Orang-orang Suci Zaman Akhir—OSZA). Bukan hanya bidat, Kekristenan sendiri pun ada yang terlalu menekankan Allah yang Mahakasih, sehingga berbuat dosa apa pun tidak menjadi masalah, mengapa? Karena yang membuat manusia berdosa adalah iblis, maka yang perlu ditengking adalah iblisnya. Memang lucu, karena Alkitab mengajarkan, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1Yoh. 1:9) Di sini tidak dikatakan, jika kita mengaku iblis yang mencobai kita, tetapi dikatakan, jika kita mengaku dosa kita. Artinya, kalau kita yang berdosa, itu berarti bukan iblis yang disalahkan, tetapi kita yang disalahkan, karena kita mau ditipu oleh iblis. Di sisi lain, ada golongan Kristen yang terlalu mementingkan aspek keadilan Allah. Kita melihat hal ini di dalam Reformasi Luther. Ketika hidup di biara, Dr. Martin Luther tersiksa, karena setiap hari ia diindoktrinasi bahwa Allah menuntut perbuatan baik dari umat-Nya, jika tidak berbuat baik, maka umat-Nya akan dimurkai Allah. Konsep ini tidak salah, tetapi jika konsep ini terus ditekankan, bisa berbahaya. Puji Tuhan, Dr. Martin Luther tidak frustasi lalu bunuh diri, tetapi atas anugerah Allah, Luther mendobrak ajaran yang berat sebelah ini dan mengajarkan pembenaran hanya melalui iman, karena perbuatan baik tidak cukup syarat menjadi pembenaran umat pilihan-Nya. Mari kita tinggalkan dua ekstrim ini dan kembali kepada Alkitab. Alkitab mengajarkan bahwa Allah itu Mahakasih sekaligus Mahaadil. Di dalam kasih-Nya, Ia tetap menghukum umat-Nya yang bersalah (baca: Why. 3:19, “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!”)

Apa signifikansi konsep ini? Konsep ini mengajarkan reaksi kita sebagai umat-Nya terhadap Allah. Kita sering kali sudah belajar doktrin ini, tetapi hidup kita masih sembrono. Kita masih menganggap bahwa Allah itu Mahakasih, Maha Pemurah, dll, sehingga kita terus berbuat dosa tanpa mau bertobat. Mari kita hari ini bertobat dari konsep kita yang salah ini, karena selain Mahakasih, Ia juga Mahaadil dan Mahakudus yang menuntut umat-Nya untuk hidup kudus (1Ptr. 1:16). Bagaimana kita bisa bertobat dari dosa ketidakkudusan? Caranya adalah terus memandang kekudusan Allah yang agung. Ketika kita memandang kekudusan Allah, kita baru tahu bobroknya kita dan di saat itu, kita perlu bertobat. Saya tersentuh sekali ketika membaca ucapan dari Dr. John Calvin di dalam bukunya Institutes of the Christian Religion, “… man is never sufficiently touched and affected by the awareness of his lowly state until he has compared himself with God’s majesty.” (= ... manusia tidak pernah cukup disentuh dan dipengaruhi oleh kesadaran akan statusnya yang rendah sampai ia membandingkan dirinya dengan keagungan Allah.)[5] Biarlah ucapan ini menjadi perenungan bagi kita seberapa dalam kita merenungkan keagungan dan kekudusan Allah.




Catatan kaki:
[1] Loraine Boettner, Iman Reformed, terj. Hendry Ongkowidjojo (Surabaya: Momentum, 2000), hlm. 11.
[2] John Calvin, Institutes of the Christian Religion, ed. John T. McNeill (USA: Westminster John Knox Press, 2006), Buku I, Bab I, Bagian 1, hlm. 35.
[3] Ibid., Buku I, Bab I, Bagian 2, hlm. 37.
[4] Louis Berkhof, Teologi Sistematika: Doktrin Allah, terj. Yudha Thianto (Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1993), hlm. 154-155.
[5] John Calvin, Institutes of the Christian Religion, Buku I, Bab I, Bagian 3, hlm. 39.
Reply With Quote