View Single Post
  #1 (permalink)  
Old 29th July 2008
Sword Sword is offline
AP - Senior Master
 
Join Date: Feb 2007
Posts: 373
Sword is an unknown quantity at this pointSword is an unknown quantity at this point
Default Debat Pdt.Budi Asali VS Pdt.Teguh Hindarto

Berikut ini perdebatan antara Pdt.Budi Asali (Reformed) vs Pdt.Teguh Hindarto(Semitikisme/Yahwehisme).

Perdebatan ini dimulai dari kiriman email Pdt.Teguh Hindarto-yang berisi perdebatan dia dengan Yohanes-kepada saya dan saya forwardkan ke Pdt.Budi Asali untuk ditanggapi.
Setelah ditanggapi oleh Beliau (Pdt.Budi Asali), saya kirimkan kembali ke Pdt. Teguh H. Dan ternyata ia seperti kebakaran jenggot dengan tidak membalas tanggapan Pdt.Budi, namun hanya bermain silat lidah dengan menuduh secara membabi buta terhadap kami. Rupanya Pak Teguh sama sekali tidak punya argumentasi yang kuat untuk tetap mempertahankan ajaran semitiknya, namun dengan tidak mengakui kekalahannya didalam berargumentasi dan tetap didalam ketegartengkukannya mempertahankan ajarannya yang sesat.

Untuk efisiensi, saya tidak mengutip semua argumentasi (khususnya dari Pdt. Teguh). Mengapa? karena akan sangat panjang sekali, membosankan dan tidak berguna.
Bagi teman-teman yang berminat membaca file perdebatan ini secara keseluruhan, silahkan PM saya dan berikan alamat email anda, akan saya kirimkan file tersebut kepada anda.

Kiranya berguna.


TEGUH HINDARTO :
Mengenai kalimat “yang diduga Aramaik” saya maksudkan bukan menyalin secara keliru kalimat Anda, melainkan saya menyatakan bahwa apa yang Anda yakini sebagai Aramaik saya anggap sebagai dugaan. Mengenai kata-kata (yang menurut saya di duga kebanyakan sarjana sebagai bahasa Aramaik) seperti “Gholgota”, “Gabata”, “Betesda”, “Talita”, “Efata”, “Abba”, “Raka”, saya mengajak kita kembali kepada istilah “Hebraidi Dialekton”. Karena kata ini disusul kemudian dengan nama-nama (meskipun tidak selalu demikian) yang menurut saya di duga kebanyakan sarjana sebagai bahasa Aramaik.

GHOLGOTA (Yoh 19:17): Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota (~Ebrai?sti. Golgoqa)
GABATA (Yoh 19:13): Ketika Pilatus mendengar perkataan itu, ia menyuruh membawa Yesus ke luar, dan ia duduk di kursi pengadilan, di tempat yang bernama Litostrotos, dalam bahasa Ibrani Gabata (Ebrai?sti. de. Gabbaqa )
BETESDA (Yoh 5:2) : Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Bethzatha (Ebrai?sti. Bhqzaqa, ); ada lima serambinya
TALITA (Mrk 5:41): Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: "Talita kumi," (Taliqa koum) yang berarti: "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!"
EFATA (Mrk 7:34): Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!"(Effaqa), artinya: Terbukalah!
ABBA (Mrk 14:36): Kata-Nya: "Ya Abba (Abba), ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki."
RAKA (Mat 5:22): Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Raka (raka,()harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: More (Mwre,)! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
Anda selalu merujuk pada huruf “alaf” (a ) atau “alfa” (a) sebagai status emphatic pada nomina, yang khas Aramaik. Sebagaimana saya tegaskan bahwa tidak disangkali ada sejumlah kata dan nama yang disinyalir Aramaik (contoh: BARtimi {Mrk 10:46}, BARnaba {Kis 1:23}, BARsuma {Kis 13:6}, Abba (Mrk 14:36), Talita (Mrk 5:41). Namun penggunaan kata-kata tersebut TIDAK MEMBUKTIKAN bahwa Yahshua (Yesus) bercakap-cakap SEPENUHHNYA dalam bahasa Aramaik. Kita harus jujur pada teks bahwa kata-kata tersebut disebut dengan ‘HEBRAISTI/HEBRAIDI DIALEKTON”. Persoalannya apa yang dimaksud dengan “Hebraidi Dialekton?” Sekalipun NIV dan beberapa sarjana menduga bahwa kata tersebut Aramaik, namun akhir-akhir ini berbagai penelitian mengarah pada kesimpulan J.M. Grintz dalam Journal of Biblical Literatur, 1960, yang dikutip D. Bivin dan R. Blizzard sbb:

“Penyelidikan atas tulisan Yosephus [ahli sejarah bangsa Yahudi Abad I Ms, red] menunjukkan tanpa keraguan bahwa kapan saja Yosephus menyebut “glota Ebraion” [lidah Ibrani] dan “Ebraion dialekton” [dialek Ibrani, dia selalu memaksudkan artinya, “bahasa Ibrani” dan bukan bahasa lain” (Understanding the Difficult Word of Jesus, 2001, p.42)

Kata “Hebraidi Dialekton” muncul juga dalam kitab-kitab Apokrif pra Mesias seperti Sirakh 1:22 ( auvta. evn e`autoi/j Ebrai?sti. lego,mena kai. o[tan metacqh/| eivj e`te,ran glw/ssan [For what was originally expressed in Hebrew does not have exactly the same sense when translated into another language New Revised Standard Version]) dan 4 Makabe 12:7 (o` de. th/j mhtro.j th/| Ebrai<di fwnh/| protreyame,nhj auvto,n w`j evrou/men meta. mikro.n u[steron [But when his mother had exhorted him in the Hebrew language, as we shall tell a little later, Revised Standard Version])

Dengan dasar pemahaman di atas kita seharusnya jujur pada teks bahwa kata Kata “Hebraidi Dialekton” tiada lain adalah bahasa Ibrani. Bahkan ketika Rasul Paul menenangkan orang-orang Yahudi, dia berbicara kepada mereka dalam bahasa Ibrani, “Sesudah Paulus diperbolehkan oleh kepala pasukan, pergilah ia berdiri di tangga dan memberi isyarat dengan tangannya kepada rakyat itu; ketika suasana sudah tenang, mulailah ia berbicara kepada mereka dalam bahasa Ibrani, katanya:… (th/| ~Ebrai<di diale,ktw| le,gwn Kis 21:40). Bahkan Pe****a Aramaik pun menggunakan kata “Ebrayt” (tyarb[). Mengatakan kata “Hebraidi Dialekton” sebagai “Aramaik” jelas terlalu memaksakan asumsi pada teks. Jika memang benar Aramaik, seharusnya dipergunakan kata “Suristi Dialekton”. Maka kata-kata “Gabata”, “Betesda”, “Gholgota”, seharusnya dipahami dalam konteks kata sebelumnya yaitu “Hebraidi Dialekton” alias bahasa Ibrani. Persoalannya adalah, jika memang kata-kata yang disinggung di atas adalah Ibrani, mengapa diakhiri dengan huruf “alfa (a)?” (Contoh: Gabbaqa , Golgoqa). Mengikuti pandangan Penner dalam Douglas Hamp (Discovering Language of Jesus, 2005) diperoleh keterangan sbb:

“Gramar Yunani dari Blass-Debrunner-Funk, menjelaskan bahwa akhiran-akhiran alfa dapat ditambahkan pada kata-kata semitik pinjaman untuk menolong pelafalan [pengucapan], sebagaimana terjadi atas bentuk sabbata. Bahasa Yunani tidak menyukai kata-kata yang berakhir dengan satu konsonan [huruf mati] penghenti seperti ‘Tau’. Alfa adalah bunyi alami yang ditambahkannya, untuk menjaga kata itu agar tidak berakhiran konsonan”

Dari penjelasan di atas, huruf akhir “alfa” (a) BELUM TENTU setara dengan ungkapan Aramaik yang menggunakan huruf akhir “alaf” (a ). Menurut rumusan bahasa Aramaik, akhiran huruf “alaf” (a ) ini berperan sebagai artikel definit atau kata sandang penentu (yang artinya ini, itu) yang dituliskan pada akhir sebuah kata (Contoh: Kata “shamaya” aymv {aymv} yang artinya “langit itu” dalam Matius 26:4).


TANGGAPAN BUDI ASALI :
Pembicaraan di atas ini tidak penting. Tak ada gunanya mempersoalkan Yesus berbicara dalam bahasa apa. Yang penting, dituliskannya kata-kata Yesus dalam Kitab Suci adalah menggunakan bahasa Yunani.

TEGUH HINDARTO :
Tidak dapat ditolak bahwa salinan Perjanjian Baru yang jumlahnya 5000-an naskah telah sampai kepada kita sebagai naskah primer sumber penerjemahan Kitab Suci dalam berbagai bahasa. Bahkan angka tahun yang mendekati tahun 150 Ms, semakin membuktikan eksistensi dan originalitas Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani. Namun kita harus mempertimbangkan data-data induktif yang berasal dari Kitab Suci mauupun sumber-sumber di luar Kitab Suci sebagai berikut:
• Bahasa yang dipergunakan pada zaman Yahshua adalah Ibrani (beberapa dengan Aramaik), Latin dan Yunani (Yoh 19:19)


TANGGAPAN BUDI ASALI :
Ibrani sudah berubah menjadi Aram gara-gara pembuangan. Dan penjajahan Romawi menambahkan bahasa Yunani pada kebiasaan mereka dalam berbicara. Sangat sedikit orang yang masih bisa berbicara bahasa Ibrani.

TEGUH HINDARTO :
• Secara genealogis antropologis, Yahshua lahir dari suku Yahuda (Ibr 7:14), maka bahasa ibu Yahshua adalah Ibrani. Aspek-aspek kemanusiaan Yahshua yang Yahudi terekspresi dalam gaya hidup dan perilakunya termasuk bahasanya(baca tulisan saya YAHSHUA, YAHUDI, YUDAISME, [url=http://www.messianic-indonesia.com]Messianic Indonesia[/url])

TANGGAPAN BUDI ASALI :
Ini argumentasi apa? Sama sekali tidak punya kekuatan. Kebangsaan tidak membuktikan bahasa yang digunakan adalah bahasa bangsanya. Saya orang Cina, punya nama Cina, bapa dan ibu Cina, tetapi tidak bisa bahasa Cina. Itu juga bisa terjadi pada siapapun, termasuk Yesus!

TEGUH HINDARTO :
• Rekaman pembicaraan antara Yahshua dan orang-orang yang bertemu serta bercakap-cakap dengannya, selalu disertai terjemahan Yunaninya dalam (Contoh: Elwi elwi lama, sabacqani o[ evstin meqermhneuo,menon ~O qeo,j mou Îo` qeo,j mouĐ eivj ti, evgkate,lipe,j me {Eloi-Eloi lama sabakhthani ho estin methermeneuomenon, ho Theos mou [ho Theos mou] eis ti egkatelipes me, Mat 27:46 kai. krath,saj th/j ceiro.j tou/ paidi,ou le,gei auvth/| Taliqa koum o[ evstin meqermhneuo,menon To. kora,sion soi. le,gw e;geire {Kai kratesas tes cheiras tou paidiou legei aute Talita koum, ho estin methermeneuomenon to korasion soi lego egeiro, Mrk 5:41. Cat: kata meqermhneuo,menon {methermeneuomenon} bermakna YANG ARTINYA, sebagai bentuk penjelasan kepada pembaca bukan Yahudi)

TANGGAPAN BUDI ASALI :
Justru adanya kata-kata Aram atau Ibrani yang tahu-tahu masuk ke dalam Perjanjian Baru menunjukkan bahwa Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani, tetapi kadang-kadang ada kata-kata Ibrani atau Aram, yang lalu diberi terjemahannya dalam bahasa Yunani. Kalau Perjanjian Baru dalam Ibrani atau Aram, maka kata-kata Aram / Ibrani itu tidak mungkin bisa dberi terjemahan!

BERLANJUT .....
Reply With Quote