View Single Post
  #3 (permalink)  
Old 29th July 2008
Sword Sword is offline
AP - Senior Master
 
Join Date: Feb 2007
Posts: 373
Sword is an unknown quantity at this pointSword is an unknown quantity at this point
Default

TEGUH HINDARTO :
• Saya sarankan Anda membaca tulisan Christopher Lancaster, WAS THE NEW TESTAMENT REALLY WRITTEN IN GREEK? A Concose Compendium of the Many Internal and External Evidences of Aramaic Pe****ta Primacy ([url]www.watch.pair.com/pe****ta.html[/url]). Sekalipun saya tidak menyetujui bahwa Yahshua bercakap-cakap sepenuhnya dalam bahasa Aramaik menggantikan Ibrani, namun setidaknya pengkajian sumber Pe****ta Aramaik menyatakan bahwa ada banyak perbedaan dengan naskah Yunani, sehingga Christopher Lancaster menyimpulkan bahwa naskah Perjanjian Baru pada mulanya bukan ditulis dari bahasa Yunani. Berikut kutipan pengantar Christopher Lancaster:

“There are many Christians who believe that the New Testament was written in Aramaic, particulary in the East (Christianity is after all, an Eastern religion). But they have been a rather silent minority. It is time to raise our voices, and present the evidence. …This book will show you many errors and contradictions in the Greek text, which are solved by the Aramaic. It will show you variants in the many Greek manuscript families that are explained by the Pe****ta. It will show you how scribbal errors in the Greek translations have led to confused beliefs, compared to crystal-clear teaching in Aramaic”


TANGGAPAN BUDI ASALI :
Lagi-lagi argumentasi yang lucu. Teguh Hindarto ini mau membuktikan bahasa asli Perjanjian Baru itu bahasa apa? Apakah ia mau membuktikan bahwa bahasa asli Perjanjian Baru adalah ‘bahasa Ibrani’ atau ‘asal bukan bahasa Yunani’?
Tentang tuduhan adanya kekeliruan dalam Perjanjian Baru Yunani ini ada beberapa hal yang perlu ditekankan:
1. Saya tak mengclaim bahwa manuscripts Perjanjian Baru Yunani yang manapun sebagai ‘inerrant’ (= tak ada salahnya). Yang betul-betul inerrant hanya autographnya (= Kitab Suci asli yang langsung ditulis oleh penulis-penulis Kitab Suci), dan itu sudah tidak ada lagi.
2. Versi yang lebih benar belum tentu adalah bahasa aslinya.
Kalau ada 2 versi, apakah versi yang kelihatannya lebih benar, selalu adalah versi bahasa aslinya? Kalau ya, bagaimana dengan contoh-contoh di bawah ini:
a. 2Raja 8:25-26 - “(25) Dalam tahun kedua belas zaman Yoram, anak Ahab raja Israel, Ahazia, anak Yoram raja Yehuda, menjadi raja. (26) Ia berumur dua puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan setahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Atalya, cucu Omri raja Israel”.
2Taw 22:2 - “Ahazia berumur empat puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan setahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Atalya, cucu Omri”.
Tetapi dalam terjemahan NIV keduanya dituliskan ‘twenty-two years’ (= dua puluh dua tahun)! Tetapi pada 2Taw 22:2 versi NIV diberi catatan kaki sebagai berikut: ‘Some Septuagint manuscripts and Syriac (see also 2 Kings 8:26); Hebrew forty-two’ [= Beberapa versi Septuaginta dan Syria / Aram (lihat juga 2Raja 8:26); Ibrani: empat puluh dua].
Jelas bahwa terjemahan Kitab Suci Indonesia yang diambil dari bahasa Ibrani pasti salah, karena terjadi kontradiksi! Padahal yang salah ini diambil dari manuscripts Ibrani, yang menuliskan ’42 tahun’. NIV lebih benar, karena untuk kedua text NIV menuliskan ’22 tahun’, tetapi ini justru diambil dari beberapa manuscripts Septuaginta dan Syria / Aram!
Apakah dengan demikian kita harus menyimpulkan bahwa Yunani atau Syria / Aram, atau bahkan Inggris, merupakan bahasa asli dari Perjanjian Lama, karena mereka memberikan yang lebih benar?
b. Dalam 2Sam 24:13 dikatakan bahwa hukuman kelaparan yang ditawarkan untuk Daud adalah ‘tiga tahun’, tetapi dalam KJV/NASB dikatakan ‘seven years’ (= tujuh tahun). Sedangkan dalam ayat paralelnya, yaitu dalam 1Taw 21:11-12 semuanya mengatakan ‘tiga tahun’.
1Taw 21:11-12 - “(11) Kemudian datanglah Gad kepada Daud, lalu berkatalah ia kepadanya: ‘Beginilah firman TUHAN: Haruslah engkau memilih: (12) tiga tahun kelaparan atau tiga bulan lamanya melarikan diri dari hadapan lawanmu, sedang pedang musuhmu menyusul engkau, atau tiga hari pedang TUHAN, yakni penyakit sampar, ada di negeri ini, dan malaikat TUHAN mendatangkan kemusnahan di seluruh daerah orang Israel. Maka sekarang, timbanglah jawab apa yang harus kusampaikan kepada Yang mengutus aku.’”.
KJV: ‘three years’ (= tiga tahun).
2Sam 24:13 - “Kemudian datanglah Gad kepada Daud, memberitahukan kepadanya dengan berkata kepadanya: ‘Akan datangkah menimpa engkau tiga tahun kelaparan di negerimu? Atau maukah engkau melarikan diri tiga bulan lamanya dari hadapan lawanmu, sedang mereka itu mengejar engkau? Atau, akan adakah tiga hari penyakit sampar di negerimu? Maka sekarang, pikirkanlah dan timbanglah, jawab apa yang harus kusampaikan kepada Yang mengutus aku.’”.
KJV: ‘seven years’ (= tujuh tahun).
Tetapi NIV/RSV, yang dalam 2Sam 24:13 mengatakan ‘tiga tahun’, memberikan catatan kaki bahwa yang dalam 2Sam 24:13 ini diambil dari LXX / Septuaginta, sedangkan manuscripts Ibraninya mengatakan ‘tujuh tahun’. Jadi, dalam Ibraninya ada kontradiksi, sedangkan dalam LXX / Septuaginta tidak. Apakah ini menunjukkan bahwa Yunani adalah bahasa asli dari Perjanjian Lama?
c. 1Sam 6:19 - “Dan Ia membunuh beberapa orang Bet-Semes, karena mereka melihat ke dalam tabut TUHAN; Ia membunuh tujuh puluh orang dari rakyat itu. Rakyat itu berkabung, karena TUHAN telah menghajar mereka dengan dahsyatnya”.
KJV: ‘fifty thousand and three score and ten men’ (= lima puluh ribu tujuh puluh orang).
NASB: ‘50.070 men’ (= 50.070 orang).
Dalam NIV dikatakan 70 orang, sama seperti dalam Kitab Suci Indonesia, tetapi catatan kaki NIV mengatakan bahwa bilangan 70 ini diambil dari sedikit manuscripts Ibrani, sedangkan mayoritas manuscripts Ibrani dan LXX menyebutkan 50.070 orang (lima puluh ribu tujuh puluh)!
Adam Clarke mengatakan bahwa jumlah 50.070 ini mustahil, karena tidak mungkin desa sekecil Bet-Semes mempunyai penduduk sebanyak itu. Dan lebih tidak mungkin lagi kalau orang sebanyak itu bisa semuanya melihat ke dalam tabut perjanjian.
Adam Clarke juga mengatakan bahwa 3 manuscript Ibrani yang menyebutkan ’70 orang’ adalah manuscripts hasil abad 12, yang jelas tidak bisa dianggap sebagai manuscripts tua.
Sekarang, kalau bilangan ‘70’ itu masuk akal, sedangkan bilangan dari manuscript Ibrani yang menyebutkan ‘50.070’ jelas tak masuk akal, apakah dengan ini kita harus mengatakan bahwa bahasa asli dari Perjanjian Lama adalah Indonesia atau Inggris?
d. Kej 4:8 - “Kata Kain kepada Habel, adiknya: ‘Marilah kita pergi ke padang.’ Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia”.
KJV: ‘And Cain talked with Abel his brother: and it came to pass, when they were in the field, that Cain rose up against Abel his brother, and slew him’ (= Dan Kain berbicara dengan Habel saudaranya; dan terjadilah, pada saat mereka ada di padang, Kain bangkit terhadap Habel saudaranya, dan membunuhnya).
NASB: ‘And Cain told Abel his brother. And it came about when they were in the field, that Cain rose up against Abel his brother and killed him’ (= Dan Kain memberitahu Habel saudaranya. Dan terjadilah pada waktu mereka ada di padang, bahwa Kain bangkit terhadap Habel saudaranya dan membunuhnya).
RSV: ‘Cain said to Abel his brother, ‘Let us go out to the field.’ And when they were in the field, Cain rose up against his brother Abel, and killed him’ (= Kain berkata kepada Habel saudaranya, ‘Marilah kita keluar ke padang’. Dan pada waktu mereka ada di padang, Kain bangkit terhadap saudaranya Habel, dan membunuhnya).
NIV: ‘Now Cain said to his brother Abel, ‘Let’s go out to the field.’ And while they were in the field, Cain attacked his brother Abel and killed him’ (= Kain berkata kepada saudaranya Habel, ‘Marilah kita keluar ke padang.’ Dan sementara mereka ada di padang, Kain menyerang saudaranya Habel dan membunuhnya).
Perhatikan bahwa KJV dan NASB tidak mempunyai kata-kata itu, tetapi Kitab Suci Indonesia, RSV, dan NIV mempunyainya.

Dan NIV memberikan footnote tentang kata-kata itu yang berbunyi sebagai berikut: “Samaritan Pentateuch, Septuagint, Vulgate and Syriac; Masoretic Text does not have ‘Let’s go out to the field.’” [= Pentateuch Samaria, Septuaginta, Vulgate dan Aram; Text Masoretic (Ibrani) tidak mempunyai kata-kata ‘Marilah kita keluar ke padang’.]
RSV juga memberikan catatan kaki yang bunyinya senada dengan catatan kaki dari NIV.
Sekalipun pasti ada pro dan kontra berkenaan dengan penambahan ini, tetapi Adam Clarke dan Jamieson, Fausset & Brown menyetujui penambahan itu, dan menganggapnya ada dalam text aslinya, tetapi hilang dalam penyalinan. Alasan mereka adalah sebagai berikut:
Kata-kata ‘Cain talked with Abel his brother’ (= Kain berbicara dengan Habel saudaranya) dalam terjemahan KJV sebetulnya salah. Mengapa? Karena kata Ibrani yang diterjemahkan ‘talk with’ (= berbicara dengan) seharusnya terjemahan hurufiahnya adalah ‘said’ (= berkata). Kalau diterjemahkan ‘talked with’ (= berbicara dengan), maka memang tak perlu kata-kata Kain dituliskan. Jadi, kalimat itu tetap masuk akal sekalipun kata-kata tersebut tak ditambahkan. Tetapi kalau diterjemahkan ‘said’ (= berkata), maka tanpa penambahan kata-kata yang diucapkan oleh Kain, kalimat itu menjadi tidak masuk akal.
Selain itu, Adam Clarke mengatakan bahwa dalam Alkitab Ibrani edisi yang terbaik dalam bagian ini diberi spasi kosong, dengan suatu tanda yang menunjuk pada catatan tepi, yang mekan bahwa di sini ada suatu kekurangan dalam text itu.
Juga, penambahan itu tidak ada dalam semua manuscripts Ibrani, bahkan yang paling kuno, tetapi penambahan itu, sekalipun agak berbeda-beda, ada dalam boleh dikatakan semua versi-versi kuno seperti Text Samaria, Aram, Vulgate, LXX / Septuaginta, Targum Babilonia, dan Coptic Mesir.

Adam Clarke (tentang Kej 4:8): “‘Cain talked with Abel his brother.’ WAYO'MER QAYIN, ‘and Cain said,’ etc.; not ‘talked,’ for this construction the word cannot bear without great violence to analogy and grammatical accuracy. But why should it be thus translated? Because our translators could not find that anything was spoken on the occasion, and therefore they ventured to intimate that there was a conversation, indefinitely. In the most correct editions of the Hebrew Bible there is a small space left here in the text, and a circular mark which refers to a note in the margin, intimating that there is a hiatus or deficiency in the verse. Now this deficiency is supplied in the principal ancient versions, and in the Samaritan text. In this the supplied words are, ‘LET US WALK OUT INTO THE FIELD.’ The Syriac has, ‘Let us go to the desert.’ The Vulgate has: EGREDIAMUR FORAS, ‘Let us walk out.’ The Septuagint has: DIELTHOOMEN EIS TO PEDION, ‘Let us go out into the field.’ The two Chaldee Targums have the same reading; so has the Coptic version. This addition is completely lost from every MS. of the Pentateuch now known, and yet it is sufficiently evident from the Samaritan text the Samaritan version, the Syriac, Septuagint and Vulgate, that it was in the most authentic copies of the Hebrew before and some time since the Christian era. The words may therefore be safely considered as a part of the sacred text, and with them the whole passage reads clear and consistently: ‘And Cain said unto Abel his brother, Let us go out into the field: and it came to pass, when they were in the field, that Cain rose up,’ etc”.

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Kej 4:8): “‘And Cain talked with Abel his brother.’ The original word does not signify, in strict propriety, ‘talked,’ but ‘said;’ ... others have supposed a hiatus or gap in the text, which the Septuagint, the Samaritan, the Syriac, and other versions fill up with the words ‘Let us go into the field.’ These authorities show that the words were once in the original text, although, as has been remarked, they are not found in the most ancient Hebrew copies - as, for instance, in that one which Origen consulted”.
Catatan: kedua kutipan di atas ini tidak saya terjemahkan, karena sudah saya berikan intinya di atas.
e. Kel 2:18: “Ketika mereka sampai kepada Rehuel, ayah mereka, berkatalah ia: ‘Mengapa selekas itu kamu pulang hari ini?’”.
Bil 10:29 - “Lalu berkatalah Musa kepada Hobab anak Rehuel orang Midian, mertua Musa: ‘Kami berangkat ke tempat yang dimaksud TUHAN ketika Ia berfirman: Aku akan memberikannya kepadamu. Sebab itu ikutlah bersama-sama dengan kami, maka kami akan berbuat baik kepadamu, sebab TUHAN telah menjanjikan yang baik tentang Israel.’”.
KJV: ‘And Moses said unto Hobab, the son of Raguel the Midianite, Moses’ father in law, …’ (= Dan Musa berkata kepada Hobab, anak Raguel orang Midian itu, mertua Musa, …).
Jadi, nama mertua Musa itu Rehuel (seperti dalam Kel 2:18) atau Raguel (seperti dalam Bil 10:29 versi KJV)?
Jamieson, Fausset & Brown (tentang Kel 2:18): “‘Reuel their father’ - or Raguel (Num. 10:29) (Septuagint, Ragoueel, in both places)” [= Ayat 18. ‘Rehuel, ayah mereka’ atau Raguel (Bil 10:29) (Septuaginta, Raguel, di kedua tempat].
Apakah di sini kita harus menyimpulkan bahwa Kitab Suci Indonesia atau LXX / Septuaginta lebih benar dari Kitab Suci Ibraninya, karena dalam Kitab Suci Indonesia maupun LXX / Septuaginta perbedaan itu dihapuskan?
Jadi jelas, bahwa kalau suatu versi lebih benar dari yang lain, bisa saja itu terjadi karena versi itu membetulkan apa yang dianggap salah dalam versi yang salah itu. Jadi, kasusnya adalah sebagai berikut: Perjanjian Baru asli ada dalam bahasa Yunani, dan ini lalu disalin dan menghasilkan banyak sekali manuscripts Yunani. Salinan sudah tidak inerrant (= tidak ada salahnya), dan karena itu ada kesalahan. Pada waktu ada orang-orang tertentu menterjemahkan manuscripts Yunani itu ke bahasa Ibrani, maka mereka lalu membetulkan apa yang mereka anggap sebagai kesalahan itu. Dengan demikian, seandainya versi Ibrani dari Perjanjian Baru memang lebih benar, itu tetap tidak membuktikan bahwa bahasa Ibrani adalah bahasa asli dari Perjanjian Baru.Juga seandainya versi Yunani dari Perjanjian Baru memang salah, hal itu tetap tak bisa dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa Yunani bukanlah bahasa asli dari Perjanjian Baru!
3. Dalam menghadapi bagian-bagian Kitab Suci yang kelihatannya kontradiksi, atau dalam usaha untuk mengharmoniskan bagian-bagian tersebut, ada 2 hal yang penting untuk diingat:
a. John Murray: “Oftentimes, though we may not be able to demonstrate the harmony of Scripture, we are able to show that there is no necessary contradiction” (= Seringkali, sekalipun kita tidak bisa menunjukkan keharmonisan Kitab Suci, kita bisa menunjukkan bahwa di sana tidak harus terjadi kontradiksi) - ‘Collected Writings of John Murray’, vol I, hal 10.
b. E. J. Young: “When therefore we meet difficulties in the Bible let us reserve judgment. If any explanation is not at hand, let us freely acknowledge that we do not know all things, that we do not know the solution. Rather than hastily to proclaim the presence of an error is it not the part of wisdom to acknowledge our ignorance?” (= Karena itu pada waktu kita menjumpai problem dalam Alkitab baiklah kita menahan diri dari penghakiman. Jika tidak ada penjelasan yang tersedia, baiklah kita dengan bebas mengakui bahwa kita tidak mengetahui segala sesuatu, bahwa kita tidak mengetahui penyelesaiannya. Dari pada dengan tergesa-gesa menyatakan adanya kesalahan, tidakkah merupakan bagian dari hikmat untuk mengakui ketidak-tahuan kita?) - ‘Thy Word Is Truth’, hal 182.
4. Ada satu hal penting yang ingin saya tambahkan berkenaan dengan orang-orang yang mengatakan bahwa Alkitab ada salahnya, yaitu bahwa anggapan awal pada saat kita mau mempelajari Kitab Suci merupakan segala sesuatu yang sangat penting, dan menentukan ke arah mana kita akan pergi!
William G. T. Shedd: “One or the other view of the Scriptures must be adopted; either that they were originally inerrant and infallible, or that they were originally errant and fallible. The first view is that of the church in all ages: the last is that of the rationalist in all ages. He who adopts the first view, will naturally bend all his efforts to eliminate the errors of copyists and harmonize discrepancies, and thereby bring the existing manuscripts nearer to the original autographs. By this process, the errors and discrepancies gradually diminish, and belief in the infallibility of Scripture is strengthened. He who adopts the second view, will naturally bend all his efforts to perpetuate the mistakes of scribes, and exaggerate and establish discrepancies. By this process, the errors and discrepancies gradually increase, and disbelief in the infallibility of Scripture is strengthened” (= Salah satu dari pandangan-pandangan tentang Kitab Suci ini harus diterima; atau Kitab Suci orisinilnya itu tidak bersalah, atau Kitab Suci orisinilnya itu bersalah. Pandangan pertama adalah pandangan dari gereja dalam segala jaman: pandangan yang terakhir adalah pandangan dari para rasionalis dalam segala jaman. Ia yang menerima pandangan pertama, secara alamiah akan berusaha untuk menyingkirkan kesalahan-kesalahan dari para penyalin dan mengharmoniskan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian, dan dengan itu membawa manuscript itu lebih dekat kepada autograph yang orisinil. Melalui proses ini, kesalahan-kesalahan dan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian berkurang secara bertahap, dan kepercayaan terhadap ketidakbersalahan Kitab Suci dikuatkan. Ia yang menerima pandangan yang kedua, secara alamiah akan berusaha untuk mengabadikan / menghidupkan terus-menerus kesalahan-kesalahan dari ahli-ahli Taurat / para penyalin, dan melebih-lebihkan dan meneguhkan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian itu. Melalui proses ini, kesalahan-kesalahan dan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian bertambah secara bertahap, dan ketidak-percayaan kepada ketidakbersalahan Kitab Suci dikuatkan) - ‘Calvinism: Pure and Mixed’, hal 137.
E. J. Young: “It is perfectly true that if we begin with the assumption that God exists and that the Bible is His Word, we shall wish to be guided in all our study by what the Scripture says. It is equally true that if we reject this foundational presupposition of Christianity we shall arrive at results which are hostile to supernatural Christianity. If one begins with the presuppo-sitions of unbelief, he will end with unbelief’s conclusions. If at the start we have denied that the Bible is God’s Word of if we have, whether consciously or not, modified the claims of the Scriptures, we shall come to a position which is consonant with our starting point. He who begins with the assumption that the words of the Scriptures contain error will never, if he is consistent, come to the point of view that the Scripture is the infallible Word of the one living and eternal God. He will rather conclude with a position that is consonant with his starting point. If one begins with man, he will end with man. All who study the Bible must be influenced by their foundational presuppositions” (= Adalah sesuatu yang benar bahwa jika kita mulai dengan anggapan bahwa Allah ada dan bahwa Alkitab adalah FirmanNya, kita akan ingin untuk dipimpin dalam seluruh pelajaran kita oleh apa yang Kitab Suci katakan. Juga adalah sesuatu yang sama benarnya bahwa jika kita menolak anggapan dasar dari kekristenan ini, maka kita akan sampai pada hasil yang bermusuhan terhadap kekristenan yang bersifat supranatural. Jika seseorang mulai dengan anggapan dari orang yang tidak percaya, ia akan berakhir dengan kesimpulan dari orang yang tidak percaya. Jika sejak awal kita telah menolak bahwa Alkitab adalah Firman Allah, atau jika kita, secara sadar atau tidak, mengubah claim / tuntutan dari Kitab Suci, kita akan sampai pada suatu posisi yang sesuai dengan titik awal kita. Ia yang mulai dengan anggapan bahwa kata-kata dari Kitab Suci mengandung kesalahan tidak akan pernah, jika ia konsisten, sampai pada pandangan bahwa Kitab Suci adalah Firman yang tak bersalah dari Allah yang hidup dan kekal. Sebaliknya ia akan menyimpulkan dengan suatu posisi yang sesuai dengan titik awalnya. Jika seseorang mulai dengan manusia, ia akan berakhir dengan manusia. Semua yang mempelajari Alkitab pasti dipengaruhi oleh anggapan dasarnya) - ‘Thy Word Is Truth’, hal 187.

Memang dalam kedua kutipan di atas ini, yang dipersoalkan adalah orang-orang Liberal yang menganggap Kitab Suci ada salahnya. Tetapi ini juga bisa diterapkan kepada orang-orang dari kelompok Yahweh-isme seperti Pdt. Yakub Sulistyo dan Kristian Sugiyarto. Kalau mereka datang kepada Perjanjian Baru Yunani, dengan suatu kepercayaan bahwa itu adalah terjemahan dari Perjanjian Baru Ibrani, maka mereka akan mempunyai kecenderungan untuk mencari-cari, dan bahkan membesar-besarkan, kesalahan dari Perjanjian Baru Yunani.
Tidakkah mereka sadar bahwa Perjanjian Lama sendiri, dalam bahasa Ibraninya sekalipun, mempunyai banyak sekali bagian-bagian yang kontradiksi satu sama lain? Saya kira mereka tahu hal itu, hanya saja mereka tak meng’expose’nya, atau bahkan menyembunyikannya! Mengapa fakta ini tidak membuat mereka beranggapan bahwa Ibrani bukan bahasa asli dari Perjanjian Lama, seperti yang mereka lakukan terhadap Perjanjian Baru dengan bahasa Yunaninya?


BERSAMBUNG..........
Reply With Quote