View Single Post
  #4 (permalink)  
Old 29th July 2008
Sword Sword is offline
AP - Senior Master
 
Join Date: Feb 2007
Posts: 373
Sword is an unknown quantity at this pointSword is an unknown quantity at this point
Default

TEGUH HINDARTO :
• Pengutipan sumber di atas (Christopher Lancaster) bukan dimaksudkan saya ambivalen dan kontradiktf dengan pandangan sebelumnya (bahwa Yahshua berbahasa tutur Ibrani) namun sekedar memberi ruang kritis dalam diskusi akademis mengenai kewibawaan naskah Pe****ta yang tidak sebagaimana dugaan kebanyakan sarjana, sebagai terjemahan dari naskah Perjanjian Baru Yunani, sebaliknya justru naskah Yunani (setidaknya menurut penelitian Christopher) menyalin dan di sana sini menyalahpahami maksud teks Pe****ta sehingga terjadi scribbal errors. Bagi kepentingan akademis, nampaknya kita harus mencari benang merah relasi antara bahasa Ibrani dan Aramaik dalam penulisan Kitab Perjanjian Baru sebelum pada akhirnya dipublikasikan dalam naskah Yunani. Yang menarik mengenai “relasi” bahasa-bahasa tersebut, Talmud Yerusalem menyatakan sbb: “Empat bahasa adalah berharga: Yunani untuk nyanyian, Latin untuk perang, Aramaik untuk penguburan dan Ibrani untuk percakapan” [Tractate Sotah 7:2, 30a). Selanjutnya dalam Sifre, Deuteronomy 46 dikatakan “itulah posisi Aramaik, di dalam kubur; akan tetapi bahasa Ibrani memiliki posisi yang tinggi untuk bertutur kata dan ibadah. Jadi, bagi seorang ayah Yahudi, tidak berbicara kepada anak lelakinya dalam bahasa Ibrani mulai dari anak itu belajar berjalan dan tidak mengajarkan Torah, adalah seolah-olah ia telah menguburnya” (S. Safrai dan M. Stern, The Jewish People in the First Century {Philadelphia, Fortress Press, 1976} Vol 2, p.1034)

TANGGAPAN BUDI ASALI :
Terus terang saja, saya tak percaya pada sumber-sumber dari kalangan Yahweh-isme yang sering mendapatkan bahan dari PDSEUDO-SCHOLARS, alias ahli-ahli Alkitab yang palsu! Sumber-sumber yang saya dapatkan dari Scholars yang sejati, dan bahkan dari sumber-sumber sekuler yang berkwalitas, seperti Encyclopedia Britannica, Encyclopedia Encarta, dsb, sangat berbeda dengan apa yang dikatakan oleh sumber-sumber mereka.
Bagaimana bapa mengajar anak bahasa Ibrani kalau ia sendiri setelah pulang dari pembuangan tak lagi bisa berbicara dalam bahasa itu?



TEGUH HINDARTO :
• Brian Knowles, dalam WHICH LANGUAGE DID JESUS SPEAK-ARAMAIC OR HEBREW?”([url=http://www.godward.org/Hebrew%20Roots/did%20jesus%20speak%20hebrew.htm]Hebrew Roots Feature[/url]) menjelaskan sbb:

Prof. David Flusser (Sarjana Yahudi Ortodox dari Universitas Yerusalem), menekuni kehidupan para rabi abad pertama dan termasuk di dalamnya adalah (Yahshua). Dalam bukunya “Jewish Sources in Early Christianity”, Flusser menyatakan teori yang umum bahwa Markus menulis pertama kalinya dalam bahasa Yunani. Bahasa tutur orang Yahudi pada waktu itu adalah Ibrani, Aramaik dan untuk tingkatan tertentu dalam bahasa Yunani. Hingga akhir-akhir ini dipercayai oleh banyak sarjana bahwa bahasa tutur para murid (Yahshua) adalah Aramaik. Memang mungkin sekali bahwa (Yahshua) benar-bena menggunakan bahasa Aramaik dari waktu ke waktu, TETAPI selama periode itu, IBRANI ADALAH BAHASA HARIAN MAUPUN BAHASA STUDI. Injil markus berisi sedikit kata-kata Aramaik, dan inilah yang mendistorsikan para sarjana” (p.11)

‘Saat ini, setelah setelah penemuan DSS Ibrani Ben Sira (Ecclesiasticus) dan surat-surat bar Khokba dan studi lebih lanjut bahasa naskah-nasah kuno Yahudi, TELAH DITERIMA PANDANGAN BAHWA SEBAGIAN BESAR RAKYAT (YAHUDI) LANCAR DALAM BERBAHASA IBRANI….perumpamaan-perumpamaan dalam Literatur Rabinik…disampaikan dalam bahasa Ibrani di dalam semua periode. Tidak ada dasar untuk berasumsi bahwa (Yahshua) tidak berbicara dalam bahasa Ibrani; dan ketika kita diberi tahu bahwa Paul berbicara dalam bahasa Ibrani (Kis 21:40), kita harus menerima informasi ini seperti yang dinyatakannya” (p.1)

“Ada perkataan (Yahshua) yang dapat diterjemahkan baik dengan Ibrani maupun Aramaik; tetapi ada beberapa yang hanya dapat diterjemahkan ke dalam Ibrani dan tidak ada satupun yang hanya dapat diterjemahkan ke dalam Aramaik. Oleh karena itu seseorang dapat mendemonstrasikan asal-usul Injil Ibrani dengan menerjemahkan balik (Injil Yunani) ke dalam bahasa Ibrani (Flusser p.11)


TANGGAPAN BUDI ASALI :
Lagi-lagi ini tidak penting! Tidak penting Yesus bicara dalam bahasa apa. Yang penting Perjanjian Baru dituliskan dalam bahasa apa! Apakah pada waktu menyusun khotbah Teguh Hindarto menganalisa / mengexposisi kata-kata yang dalam faktanya diucapkan Yesus (yang tidak diketahui dengan pasti apa), atau ia menganalisa / mengexposisi text Yunani yang memang pasti ada?


TEGUH HINDARTO :
• Kristian Sugiyarto memberikan ulasan sbb:, “Dalam penelitiannya, DR. Robert Lindsey berhubungan sangat dekat dengan Prof. Flusser. Ia mulai ambisinya yang kuat dalam proyek penerjemahan PB Yunani ke dalam bahasa Ibrani untuk mengidentifikasi asal-usulnya. Cerita silsilah (Yahshua) pada awal Kitab Matius menunjukkan hasil yang mencengankan, bahwa Matius membangun ceritanya dengan tipikal pola Ibrani, meskipun naskah yang kita miliki adalah dalam bahasa Yunani. Lindsey melanjutkan terjemahannya terus ke dalam bahasa Ibrani ternyata dihasilkan struktur kata-kalimat Ibrani yang sempurna seperti naskah Ibrani. Ketika membandingkan antara Kitab Markus dengan Kitab Matius dan Lukas, ia mulai menyadari adanya sesuatu yang menghantui terjadi. Sintak bahasa Yunani yang digunakan (PB Yunani) ternyata bukanlah bahasa Yunani yang baik, tetapi sintak ucapannya itu sempurna untuk Ibrani. Ini suatu misteri yang perlu dicari penyelesaiannya. Akhirnya disimpulkan bahwa di dalam Kitab PB Yunani yang kita percayai ‘asli’ sesungguhnya terdapat teks Ibrani” (IBRANI, BAHASA TUTUR YESUS: Runtuhnya Mitos Aamaik, unpublished, hal 63).

TANGGAPAN BUDI ASALI :
Jangan terlalu cepat ‘jump to the conclusion’ (= loncat pada suatu kesimpulan). Kemungkinan alternatif, yaitu digunakannya bahasa Yunani yang berbau Ibrani (Hebraic Greek), yang sudah saya jelaskan di atas, itu yang lebih benar!
Juga ia menyebut Injil Lukas. Itu sama sekali tidak mungkin, karena Lukas adalah satu-satunya penulis Perjanjian Baru yang bukan orang Yahudi tetapi orang Yunani. Ini terlihat dari Kol 4:10-14 - “(10) Salam kepada kamu dari Aristarkhus, temanku sepenjara dan dari Markus, kemenakan Barnabas - tentang dia kamu telah menerima pesan; terimalah dia, apabila dia datang kepadamu - (11) dan dari Yesus, yang dinamai Yustus. Hanya ketiga orang ini dari antara mereka yang bersunat yang menjadi temanku sekerja untuk Kerajaan Allah; mereka itu telah menjadi penghibur bagiku. (12) Salam dari Epafras kepada kamu; ia seorang dari antaramu, hamba Kristus Yesus, yang selalu bergumul dalam doanya untuk kamu, supaya kamu berdiri teguh, sebagai orang-orang yang dewasa dan yang berkeyakinan penuh dengan segala hal yang dikehendaki Allah. (13) Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang dia, bahwa ia sangat bersusah payah untuk kamu dan untuk mereka yang di Laodikia dan Hierapolis. (14) Salam kepadamu dari tabib Lukas yang kekasih dan dari Demas”.

Dalam text di atas ini Paulus mengatakan hanya 3 orang, yaitu Aristarkhus, Markus, dan Yesus / Yustus, yang adalah orang-orang bersunat (= orang-orang Yahudi) yang menyertai dia. Jadi jelas bahwa 3 yang terakhir, yaitu Epafras, Lukas, dan Demas, bukanlah orang-orang bersunat. Jadi, Lukas jelas bukan orang Yahudi!

Juga Lukas menulis kepada Theofilus (Luk 1:1 Kis 1:1), yang bisa dipastikan adalah seorang Yunani, karena namanya merupakan nama Yunani. Bagaimana mungkin Lukas, yang bukan orang Yahudi, bisa menulis kitabnya kepada seorang Yunani, dalam bahasa Ibrani?
Luk 1:1 - “Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita”.
Kis 1:1 - “Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus”.



TEGUH HINDARTO :
Mengenai historitas dan validitas naskah DU TILLET, akan saya berikan informasi dan beberapa kajian sekitar DU TILLET sbb ([url]www.torahresources.com):[/url]

TANGGAPAN BUDI ASALI :
Sama seperti di atas, kalau DuTillet berbeda dengan naskah Yunani, apa sebabnya DuTillet yang dianmggap benar? Dan kalaupun memang DuTillet yang benar, itu bisa terjadi karena Duillet membe4narkan apa yang dianggap salah dari naskah Yunani, dari mana DuTillet diterjemahkan! Jadi, ini tak punya kekuatan argument sama sekali.
Juga baik Sem Tob maupun DuTillet hanya mencakup Injil Matius saja, dan keduanya tiodak mempunyai nama Yahweh!
Seandainya Matius memang bahasa aslinya adalah Ibrani, tetapi Lukas bahasa aslinya adalah Yunani. Itu adalah argumentasi yang lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa pengubahan Yahweh menjadi KURIOS / Lord / Tuhan merupakan sesuatu yang benar, Karena ada otoritas ilahi dari Roh Kudus yang mengilhami Lukas!


TEGUH HINDARTO :
Mengenai konjugasi kai. (kai) dalam bahasa Yunani, menarik untuk dikaji secara mendalam. Kembali Mengutip pandangan Alan Black yang mengulas karakteristik konjugasi KAI, sbb:

Koordinasi Anak Kalimat [Coordination of clauses]. Dalam bahasa Yunani klasik, kalimat biasanya terdiri dari salah satu kata kerja pokok dan kata kerja lainnya dibawahnya dalam bentuk anak kalimat keterangan atau jenis lainnya. Di sisi lain, bahasa Ibrani cenderung meletakkan kata kerja satu demi satu, menggabungkan mereka bersama dalam kata penghubung sederhana [bahasa Ibrani, “waw”, “dan”]. Ini yang dikenal dengan sebutan parataxis, dari kata paratasso, “saya meletakkan satu persatu”. Dalam bahasa Yunani koine, susunan demikian tidak lazim. Dan hal ini telah terlebih dahulu dijelaskan kemunculannya yang kerap dalam Kitab Perjanjian Baru. Namun kemunculan secara tetap kata “dan” [Yunani, “kai”] dalam Kitab Besorah/Injil merupakan pemaksaan yang berlebihan [overstraining] dalam tulisan bahasa Yunani. Dalam Besorah/Injil, jenis demikian merupakan karakteristik menonjol dalam Markus, yang merupakan contoh tunggal dari panjangnya kalimat dalam bahasa Yunani dengan kata penghubung bersusun [subordinating participles] [Band. Mark 5:25-27]. Contoh khas gaya markus dapat ditemukan dalam Markus 10:33-34 sbb: “kata-Nya: "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan [kai] Putra Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan [kai] ahli-ahli Torah dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan [kai] mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan, dan [kai] Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan [kai] dibunuh, dan [kai] sesudah tiga hari Ia akan bangkit." Di sini kita melihat gaya bahasa Yunani yang khas, mungkin, barangkali, telah di subordinasi oleh salah satu atau lebih anak kalimat dengan menggunakan kata penghubung atau anak kalimat penghubung [relative clauses]. Beberapa terjemahan seperti KJV dan RSV mencerminkan corak Semitik dan memunculkan corak yang janggal [stylistically awkward] tersebut dalam bahasa Inggris. Namun terjemahan bahasa Inggris lainnya yang mengakui idiom-idiom Semitik tersebut, melakukan restrukturisasi terhadap pelanggaran tata bahasa [restructure the gramar slaightly] untuk menghasilkan terjemahan yang lebih diterima dalam bahasa Inggris [band. Terjemahan GNB, NIV, JB, NEB]. [Cat: Persoalan parataxis sebagai indikasi latar belakang Semitik, dibicarakan secara panjang lebar dalam artikel J.B. Lightfoot mengenai Corak Khas Besorah/Injil Yokhanan {Style of John’ Gospel} dalam situs ini, [url=http://www.bible-researcher.com]Bible Research by Michael Marlowe[/url]


TANGGAPAN BUDI ASALI :
Perdebatan ini hanyut ke arah yang tak ada gunanya. Yang penting membuktikan bahasa asli dari Perjanjian Baru, bahkan dari salah satu kitab dari Perjanjian Baru, yang mengandung ayat Perjanjian Lama yang mengandung Yahweh, dan lalu dalam pengutipan diubah menjadi KURIOS. Satu saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa pengubahan Yahweh menjadi KURIOS / Lord / Tuhan adalah sah. Dan itu sudah dipenuhi secara meyakinkan dalam Injil Lukas. Jadi, untuk apa membicarakan sampah seperti di atas ini?

BERSAMBUNG............
Reply With Quote