View Single Post
  #6 (permalink)  
Old 29th July 2008
Sword Sword is offline
AP - Senior Master
 
Join Date: Feb 2007
Posts: 373
Sword is an unknown quantity at this pointSword is an unknown quantity at this point
Default

TEGUH HINDARTO :
Argumentasi saya mengenai surat Rasul Paul sudah sangat jelas dengan disertai penjelasan latar belakang keagamaan, pendidikan dan karakteristik suratnya. Namun Anda masih teap juga skeptis bahwa Paul berbicara dalam bahasa Yunani dan menuliskan langsung dalam bahasa Yunani. Sejak semula telah saya katakan bahwa Paul tentu saja bisa berbahasa Yunani meski tidak fasih. Indikasi ini dapat kita lihat dalam percakapan yang terekam dalam Kisah Rasul 21:37 (pro.j se, o` de. e;fh ~Ellhnisti. ginw,skeij). namun kembali kita diberi penegasan bahwa dia berbicara secara fasih dalam bahasa Ibrani (th/| ~Ebrai<di diale,ktw|) sebagaimana terekam dalam Kisah Rasul 21:40.
Mengenai pernyataan Anda bahwa saya memaksakan situasi Abad XXI kepada Abad I zaman Paul, sungguh tidak berdasar. Justru cara Anda mengkontradiksikan bahwa Yeremiah yang hidup beratus tahun sebelum Paul, sudah memiliki Sekretaris, tidak bisa diterapkan pada Paul, sangat tidak masuk akal. Apa dasar epistemologis mengatakan bahwa situasi yang dialami Yeremiah tidak bisa dialami Paul?

Bahkan Bart D. Ehrman dalam bukunya MISQUOTING JESUS yang kontroversial, mengatakan demikian:

“Yang pertama harus kita ketahui adalah bahwa tampaknya surat itu, sebagaimana surat Paulus lainnya, TIDAK DITULIS OLEH TANGANNYA SENDIRI tetapi didiktekan kepada SEORANG JURU TULIS SEKRETARIS. Bukti untuk hal itu terdapat di bagian akhir surat, dimana Paulus menambahkan sebuah catatan yang ia tulis sendiri, sehingga penerima surat akan tahu bahwa dialah yang bertanggung jawab atas surat itu (suatu teknik yang biasa digunakan untuk surat-surat yang didiktekan pada zaman dahulu). Catatan itu mengatakan, “Lihatlah, bagaimana besarnya huruf-huruf yang kutulis kepadamu dengan tanganku sendiri” (Gal 6:11). Dengan kata lain, tulisan tangan Paulus lebih besar dan kemungkinan tampak kurang profesional dibandingkan tulisan tangan sang penyalin yang kepadanya Paulus mendiktekan surat itu”

Bagaimana komentar Anda?


TANGGAPAN BUDI ASALI :
Saya beri tambahan di sini kata-kata Kristian Sugiyarto.
Kristian Sugiyarto: “Kis. 21:40 menyatakan bahwa Saulus berbicara dengan bahasa Ibrani, minimal mulai dari ps.22:1-21 yang memuat pertemuan/pertobatan Saulus pada Yahshua (Yesus), dan hal ini diulangi lagi dengan tegas bahwa teguran Yahshua pun dengan bahasa Ibrani (Kis.26:14). Jadi dari Sorga Yahshua pun memilih berbahasa Ibrani bukannya Aramaik apalagi Yunani; tentulah hal ini dilakukan karena Saulus (juga para rasul yang lain) adalah Ibrani tulen dan bukan mustahil Saulus tidak fasih berbahasa Yunani. ”.
a) Kata-kata dari Kristian Sugiyarto yang mengatakan bahwa Paulus mungkin tidak fasih berbahasa Yunani itu hanya dia dasarkan pada:
1. Kis 21:40 yang menunjukkan bahwa Paulus berbicara dalam bahasa Ibrani.
Kis 21:40 - “Sesudah Paulus diperbolehkan oleh kepala pasukan, pergilah ia berdiri di tangga dan memberi isyarat dengan tangannya kepada rakyat itu; ketika suasana sudah tenang, mulailah ia berbicara kepada mereka dalam bahasa Ibrani, katanya”.
Bdk. Kis 22:2 - “Ketika orang banyak itu mendengar ia berbicara dalam bahasa Ibrani, makin tenanglah mereka”.
2. Kis 26:14 yang mengatakan bahwa Yesus berbicara kepada Paulus dalam bahasa Ibrani.
Kis 26:14 - “Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang”.
Saya menjawab argumentasi Kristian Sugiyarto ini dengan suatu pertanyaan: kalau ada seseorang berbicara kepada saya dalam bahasa Indonesia, dan kalau ada orang yang mendengar saya berbicara dalam bahasa Indonesia, apakah kedua hal itu membuktikan bahwa saya tidak bisa bahasa Inggris?
Saya kira dari illustrasi saya ini sudah sangat jelas bahwa argumentasi Kristian Sugiyarto adalah argumentasi yang sangat tidak berdasar. Ayat-ayat yang ia gunakan hanya membuktikan bahwa Paulus bisa berbahasa Ibrani, tetapi sama sekali tidak membuktikan bahwa ia tidak bisa berbahasa Yunani.

b) Kristian Sugiyarto memotong ayat dari kontextnya.
Dalam menggunakan Kis 21:40 dan Kis 22:2, Kristian Sugiyarto memotong ayat-ayat tersebut dari kontextnya. Dengan kata lain, ia menafsirkan ayat-ayat itu tanpa mempedulikan kontextnya. Untuk bisa melihat ini marilah kita melihat 2-3 ayat sebelum text yang digunakan oleh Kristian Sugiyarto.

Kis 21:37-38 - “(37) Ketika Paulus hendak dibawa masuk ke markas, ia berkata kepada kepala pasukan itu: ‘Bolehkah aku mengatakan sesuatu kepadamu?’ Jawabnya: ‘Tahukah engkau bahasa Yunani? (38) Jadi engkau bukan orang Mesir itu, yang baru-baru ini menimbulkan pemberontakan dan melarikan empat ribu orang pengacau bersenjata ke padang gurun?’”.

Kepala pasukan itu adalah orang Romawi, bukan orang Yahudi, dan karena itu tidak mungkin Paulus berbicara kepadanya dalam bahasa Ibrani. Dan dari kata-kata ‘Tahukah engkau bahasa Yunani?’ dalam Kis 21:37b itu, jelas terlihat bahwa pada saat itu Paulus memang berbicara kepadanya dalam bahasa Yunani. Itu menyebabkan dia kaget, karena dia tadinya mengira Paulus adalah orang Mesir (Kis 21:38). Albert Barnes menganggap bahwa kata-kata ‘orang Mesir’ ini berarti ‘orang Yahudi dari Mesir’.

Albert Barnes: “‘Canst thou speak Greek?’ ... The Greek language was what was then almost universally spoken, and it is not improbable that it was the native tongue of the chief captain. ... The language which the Jews spoke was the Syro-Chaldaic; and as he took Paul to be an Egyptian Jew (Acts 21:38), he supposed, from that circumstance also, that he was not able to speak the Greek language” [= ‘Tahukah / bisakah engkau berbicara bahasa Yunani?’ ... Bahasa Yunani adalah bahasa yang digunakan hampir secara universal, dan adalah mungkin bahwa itu adalah bahasa ibu dari kapten kepala ini. ... Bahasa yang digunakan oleh orang-orang Yahudi adalah Syro-Chaldaic; dan karena tadinya ia mengira Paulus adalah seorang Yahudi dari Mesir (Kis 21:38), ia menduga, dari keadaan itu juga, bahwa ia tidak bisa berbicara dalam bahasa Yunani].

Perhatikan bahwa text ini hanya 2-3 ayat sebelum Kis 21:40, yang digunakan oleh Kristian Sugiyarto di atas. Jelas bahwa penafsirannya memotong ayat dari kontextnya! Seandainya ia membaca seluruh kontext, tidak mungkin ia bisa menyimpulkan bahwa Kis 21:40 menunjukkan bahwa Paulus tak bisa berbahasa Yunani!

Bahkan sebetulnya, Kis 21:40 itu sendiri, yang tahu-tahu secara explicit menyebutkan bahwa Paulus berbicara dalam bahasa Ibrani, jelas secara implicit menunjukkan bahwa tadinya ia tidak berbicara dalam bahasa Ibrani. Lalu dalam bahasa apa? Jelas dalam bahasa Yunani (Kis 21:37)!

Teguh Hindarto memang memperhatikan Kis 21:37-38, tetapi entah dari mana ia menyimpulkan bahwa itu hanya menunjukkan bahwa Paulus hanya bisa berbicara sepatah dua patah bahasa Yunani! Dari mana gerangan kesimpulan gila ini?

Juga pada saat dikatakan bahwa Paulus berbicara dalam bahasa Ibrani, boleh dikatakan semua penafsir mengatakan bahwa yang disebut ‘bahasa Ibrani’ pada saat itu adalah ‘bahasa Aram’ atau campuran Chaldee (Kasdim) dan Aram.
Adam Clarke (tentang Kis 21:40): “What was called then the Hebrew, namely, the Chaldaeo-Syriac” (= Apa yang disebut bahasa Ibrani pada saat itu, artinya, Chaldee-Aram).
Jamieson, Fausset & Brown (tentang Kis 21:40): “‘He spake unto them in the Hebrew tongue.’ - the Syro-Chaldaic, the vernacular tongue of the Palestine Jews since the captivity” (= ‘Ia berbicara kepada mkrk dalam bahasa Ibrani’. - Aram-Chaldee, bahasa rakyatdr orang-orang Yahudi di Palestina sejak pembuangan).
Albert Barnes (tentang Kis 21:40): “‘In the Hebrew tongue.’ The language which was spoken by the Jews, which was then a mixture of the Chaldee and Syriac, called Syro-Chaldaic” (= ‘Dalam bahasa Ibrani’. Bahasa yang digunakan oleh orang-orang Yahudi, yang pada saat itu merupakan campuran dari bahasa Chaldee / Kasdim dan Aram, disebut Syro-Chaldaic).
Wycliffe Bible Commentary (tentang Kis 21:39-40): “When Paul had captured the attention of the mob, he began to speak to them in the native Aramaic dialect, which was the common Jewish language of both Palestine and western Asia” (= Pada waktu Paulus telah menangkap perhatian dari orang banyak, ia mulai berbicara kepada mereka dalam dialek Aram pribumi, yang merupakan bahasa umum orang-orang Yahudi baik di Palestina maupun Asia Barat).
A. T. Robertson (tentang Kis 21:40): “‘In the Hebrew language.’ ... The Aramaean which the people in Jerusalem knew better than the Greek. Paul could use either tongue at will” (= ‘Dalam bahasa Ibrani’. ... Bahasa Aram yang dikenal dengan lebih baik dari pada bahasa Yunani oleh orang-orang di Yerusalem. Paulus bisa menggunakan bahasa yang manapun dari kedua bahasa itu semaunya).
Vincent: “‘Tongue.’ DIALEKTOO. Literally, ‘dialect:’ the language spoken by the Palestinian Jews - a mixture of Syriac and Chaldaic” (= ‘Bahasa’ DIALEKTOO. Secara hurufiah, ‘dialek’: bahasa yang digunakan oleh orang-orang Yahudi Palestina - suatu campuran dari Aram dan Chaldee / Kasdim).

c) Bahwa Paulus bisa berbahasa Yunani, terbukti dari banyak hal, seperti:
1. Paulus berasal dari kota yang bernama Tarsus (Kis 9:11 21:39 22:3).
Dimana dan bagaimana kota Tarsus itu, dan khususnya bahasa apa yang digunakan di sana?
Gary Mink (internet): “He was born in Tarsus, a city in the Roman province of Cilicia. Cilicia was part of Asia, which had been conquered by Alexander the Great about 300 years before Paul was born. The whole area was thoroughly Greek, both in culture and in language. The Romans took control of it about 100 B.C. Paul was born a Roman citizen and probably knew Greek from childhood. Regardless of when he learned it, he was fluent in it” (= Ia dilahirkan di Tarsus, suatu kota di propinsi Romawi dari Kilikia. Kilikia adalah bagian dari Asia, yang telah dtaklukkan oleh Alexander yang Agung sekitar 300 tahun sebelum Paulus dilahirkan. Seluruh daerah itu sepenuhnya bersifat Yunani, baik dalam kebudayaan maupun bahasa. Orang-orang Romawi menguasainya pada sekitar tahun 100 SM. Paulus dilahirkan sebagai seorang warga negara Romawi dan mungkin mengenal bahasa Yunani sejak masa kanak-kanak. Tanpa menghiraukan tentang kapan ia mempelajarinya, ia fasih dalam bahasa itu).

Nelson’s Bible Dictionary: “TARSUS ... the birthplace of the apostle Paul (Acts 21:39, 22:3), formerly known as Saul of Tarsus (Acts 9:11). Tarsus was the chief city of CILICIA, a province of southeast Asia Minor (modern Turkey; ...). ... During the Seleucid period, however, Tarsus became a free city (about 170 B. C.), and was open to Greek culture and education. By the time of the Romans, Tarsus competed with ATHENS and ALEXANDRIA as the learning center of the world” [= TARSUS ... tempat kelahiran dari rasul Paulus (Kis 21:39, 22:3), yang sebelumnya dikenal sebagai Saulus dari Tarsus (Kis 9:11). Tarsus adalah kota utama dari Kilikia, sebuah propinsi dari Asia Kecil sebelah tenggara (pada jaman modern itu adalah Turki; ...). ... Tetapi selama masa Seleucid, Tarsus menjadi suatu kota yang bebas (sekitar tahun 170 SM), dan terbuka bagi kebudayaan dan pendidikan Yunani. Pada jaman Romawi, Tarsus bersaing dengan Athena dan Alexandria sebagai pusat pendidikan dunia].

The International Standard Bible Encyclopedia: “TARSUS. 1. Situation: The chief city of Cilicia, the southeastern portion of Asia Minor. ... 4. Tarsus under Greek Sway: Alexander’s overthrow of the Persian power brought about a strong Hellenic reaction in Southeastern Asia Minor and must have strengthened the Greek element in Tarsus, but more than a century and a half were to elapse before the city attained that civic autonomy which was the ideal and the boast of the Greek polis. ... From this time Tarsus is a city of Hellenic constitution, and its coins no longer bear Aramaic but Greek legends” (= ).

The International Standard Bible Encyclopedia: “PAUL, THE APOSTLE, PART IV-1. 1. The City of Tarsus: Geography plays an important part in any life. ... Paul grew up in a great city and spent his life in the great cities of the Roman empire. ... He was not merely a resident, but a ‘citizen’ of this distinguished city. This fact shows that Paul’s family had not just emigrated from Judaea to Tarsus a few years before his birth, but had been planted in Tarsus as part of a colony with full municipal rights (Ramsay, St. Paul the Traveller, 31 f). Tarsus was the capital of Cilicia, then a part of the province of Syria, ... Ramsay (ib, 117 ff) from Gen 10:4 f holds that the early inhabitants were Greeks mingled with Orientals. East and West flowed together here. It was a Roman town also with a Jewish colony (ibid., 169 ff), constituting a city tribe to which Paul’s family belonged. So then Tarsus was a typical city of the Greek-Roman civilization” (= )

Encyclopedia Britannica 2007 dengan topik ‘Paul, the apostle, saint’:
“Like many of the Jews there Paul inherited Roman citizenship, probably granted by the Romans as a reward for mercenary service in the previous century. This fact explains his two names. He used his Jewish name, Saul, within the Jewish community and his Roman surname, Paul, when speaking Greek. Though he had a strict Jewish upbringing, he also grew up with a good command of idiomatic Greek and the experience of a cosmopolitan city, which fitted him for his special vocation to bring the gospel to the Gentiles (non-Jews)” (= ).

Jadi, asal usul Paulus dari kota yang bernama Tarsus, yang bukan terletak di Palestina / Kanaan, tetapi di Kilikia (Kis 21:39 22:3), dan dipenuhi oleh kebudayaan Yunani. Lalu mungkinkah ia ternyata tidak bisa berbahasa Yunani?

2. Paulus adalah rasul bagi orang-orang non Yahudi (Kis 9:15 Kis 22:21 Kis 26:17 Gal 1:16 Gal 2:7-9).
Mengingat bahwa Yunani merupakan bahasa ‘seluruh dunia’ pada saat itu (mungkin seperti bahasa Inggris pada jaman ini), maka kalau Paulus dijadikan rasul orang-orang non Yahudi, adalah tidak masuk akal kalau ia tidak bisa bahasa Yunani!

3. Paulus banyak memberitakan Injil dan mempertobatkan orang-orang non Yahudi / orang Yunani.
Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:
• Kis 9:28-29 - “(28) Dan Saulus tetap bersama-sama dengan mereka di Yerusalem, dan dengan keberanian mengajar dalam nama Tuhan. (29) Ia juga berbicara dan bersoal jawab dengan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani, tetapi mereka itu berusaha membunuh dia”.
• Kis 14:1 - “Di Ikoniumpun kedua rasul itu (Paulus dan Barnabas) masuk ke rumah ibadat orang Yahudi, lalu mengajar sedemikian rupa, sehingga sejumlah besar orang Yahudi dan orang Yunani menjadi percaya”.
• Kis 17:4,12 - “(4) Beberapa orang dari mereka menjadi yakin dan menggabungkan diri dengan Paulus dan Silas dan juga sejumlah besar orang Yunani yang takut kepada Allah, dan tidak sedikit perempuan-perempuan terkemuka. ... (12) Banyak di antara mereka yang menjadi percaya; juga tidak sedikit di antara perempuan-perempuan terkemuka dan laki-laki Yunani”.
• Kis 18:4 - “Dan setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani”.
• Kis 19:8-10 - “(8) Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan mengajar dengan berani. Oleh pemberitaannya ia berusaha meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah. (9) Tetapi ada beberapa orang yang tegar hatinya. Mereka tidak mau diyakinkan, malahan mengumpat Jalan Tuhan di depan orang banyak. Karena itu Paulus meninggalkan mereka dan memisahkan murid-muridnya dari mereka, dan setiap hari berbicara di ruang kuliah Tiranus. (10) Hal ini dilakukannya dua tahun lamanya, sehingga semua penduduk Asia mendengar firman Tuhan, baik orang Yahudi maupun orang Yunani”.
• Kis 20:2,3,21 - “(2) Ia menjelajah daerah itu dan dengan banyak nasihat menguatkan hati saudara-saudara di situ. Lalu tibalah ia di tanah Yunani. (3) Sesudah tiga bulan lamanya tinggal di situ ia hendak berlayar ke Siria. Tetapi pada waktu itu orang-orang Yahudi bermaksud membunuh dia. Karena itu ia memutuskan untuk kembali melalui Makedonia. ... (21) aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus”.

Kalau Paulus tidak bisa berbahasa Yunani, lalu dengan bahasa apa ia memberitakan Injil kepada orang-orang non Yahudi / orang-orang Yunani itu? Dengan bahasa Roh?

4. Dalam Kis 17:16-34 Paulus berada di Atena, suatu kota di Yunani. Mula-mula, ia memberitakan Injil kepada orang-orang Yahudi di kota itu (ay 17), tetapi setelah itu, khususnya mulain ay 22, ia berkhotbah pada para penyembah dari ‘Allah yang tidak dikenal’, yang jelas tidak mungkin adalah orang-orang Yahudi, dan pasti adalah orang-orang Yunani. Dengan bahasa apa ia memberitakan Injil, kalau bukan dalam bahasa Yunani?

5. Paulus memberitakan Injil dalam penjara kepada tentara-tentara Romawi.
Fil 1:12-13 - “(12) Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil, (13) sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus”.
Kis 16:27-32 - “(27) Ketika kepala penjara itu terjaga dari tidurnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak membunuh diri, karena ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman itu telah melarikan diri. (28) Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, katanya: ‘Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!’ (29) Kepala penjara itu menyuruh membawa suluh, lalu berlari masuk dan dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas. (30) Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: ‘Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?’ (31) Jawab mereka: ‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’ (32) Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya”.
Ini hanyalah sedikit contoh dari banyak kasus dimana Paulus berbicara kepada orang-orang non Yahudi. Bagaimana ia melakukan semua itu kalau ia tidak bisa berbahasa Yunani?

6. Dalam Kis 26, Paulus memberikan pembelaan dan sekaligus kesaksian di hadapan Agrippa, dan banyak orang-orang lain, yang semuanya jelas bukan orang-orang Yahudi. Karena itu, tidak mungkin ia menggunakan bahasa Ibrani. Ia pasti berbicara dalam bahasa Yunani.

7. Surat-surat Paulus ditujukan kepada gereja-gereja dari kota-kota non Yahudi (Roma, Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, Tesalonika) dan juga kepada pribadi-pribadi non Yahudi (seperti Timotius, Titus, dan Filemon).
Adalah lucu kalau ia menulis surat kepada orang-orang non Yahudi ini dalam bahasa Ibrani! Ia pasti bisa berbahasa Yunani, dan ia pasti menulis surat-suratnya dalam bahasa Yunani.

d) Kata-kata F. F. Bruce tentang Paulus.
F. F. Bruce: “Judea, and even Jerusalem, formed part of the Hellenistic world. Greek was spoken alongside Aramaic (and possibly Hebrew) in the holy city itself and, as we have seen, Hellenistic Jews had their synagogues there in which the scriptures were read and worship was conducted in Greek. The pagan influences of Hellenism were kept at bay from the circle in which Paul received his education, but even the sages knew Greek and were capable of giving their pupils prophylactic courses in Greek languange and culture. Simeon the son of Gamaliel is said to have had many pupils who studied ‘the wisdom of the Greeks’ alongside as many others who studied the Torah, and it need not be doubted that Gamaliel the elder also had such pupils. It is quite probable that Paul acquired the rudiments of Greek in Gamaliel’s school. But from his return to Tarsus throughout the rest of his active life he was exposed to the Greek way of life in one city after another, for he no longer led a cloistered existence, but lived for the most part as a Gentile among Gentiles in order to win Gentiles for the gospel. The knowledge of Greek literature and thought that his letters attest was part of the common stock of educated people in the Hellenistic world of that day; it bespeaks no formal instruction received from Greek teachers” [= Yudea, dan bahkan Yerusalem, membentuk bagian dari dunia yang dipengaruhi oleh kebudayaan dan bahasa Yunani. Yunani digunakan sebagai bahasa percakapan bersama-sama dengan Aram (dan mungkin Ibrani) di kota kudus itu sendiri, dan seperti yang telah kita lihat, orang-orang Yahudi yang dipengaruhi oleh kebudayaan dan bahasa Yunani, mempunyai sinagog-sinagog di sana, dimana Kitab Suci dibacakan dan ibadah diadakan dalam bahasa Yunani. Pengaruh-pengaruh kafir dari pengaruh kebudayaan dan bahasa Yunani dipertahankan dari lingkungan dimana Paulus menerima pendidikannya, tetapi bahkan guru-guru / orang-orang bijak mengerti bahasa Yunani dan bisa memberikan murid-murid mereka pelajaran pencegahan / perlindungan dalam bahasa dan kebudayaan Yunani. Simeon anak dari Gamaliel dikatakan mempunyai banyak murid yang belajar ‘hikmat dari orang-orang Yunani’ bersama-sama dengan banyak orang-orang lain yang mempelajari Taurat, dan tidak perlu diragukan bahwa Gamaliel yang lebih tua juga mempunyai murid-murid seperti itu. Adalah cukup memungkinkan bahwa Paulus menerima dasar-dasar dari bahasa Yunani di sekolah Gamaliel. Tetapi dari kembalinya ia ke Tarsus dalam sepanjang sisa kehidupan aktifnya ia terbuka terhadap gaya hidup Yunani dari satu kota ke kota lain, karena ia tidak lagi menjalani kehidupan yang menyendiri, tetapi hidup pada umumnya sebagai seorang non Yahudi di antara orang-orang non Yahudi untuk memenangkan orang-orang non Yahudi bagi Injil. Pengetahuan tentang literatur dan pemikiran Yunani yang ditunjukkan oleh surat-suratnya merupakan bagian dari kelompok umum dari orang-orang berpendidikan dalam dunia Yunani pada jaman itu; itu memperlihatkan pendidikan tidak formal yang diterima dari guru-guru Yunani] - hal 126-127.
Bdk. 1Kor 9:19-22 - “(19) Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. (20) Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. (21) Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. (22) Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka”.


BERSAMBUNG..............
Reply With Quote