View Single Post
  #7 (permalink)  
Old 29th July 2008
Sword Sword is offline
AP - Senior Master
 
Join Date: Feb 2007
Posts: 373
Sword is an unknown quantity at this pointSword is an unknown quantity at this point
Default

TEGUH HINDARTO :
Saya belum mengerti dengan arah diskusi Anda ketika meminta saya mengutipkan Matius 27:46 dari naskah DU TILLET. Apakah karena Anda hendak membuktikan bahwa sesungguhnya teriakan Mesias di kayu salib adalah seruan berbahasa Aramaik? Kalau kata ‘SHABAKTHANI” (sabacqani) dijadikan satu-satunya alasan bahwa Mesias mengucapkan bahasa Aramaik, mengapa pula Pe****ta Aramaik menuliskan seruan tersebut demikian:
Yntqbv anml Lya Lya
(yntqbv anml lya lya)

Tentu Anda tidak akan meminta saya untuk menanyakan pada penulis Pe****a Aramaik lagi khoq tidak menuliskan seperti yang tertulis dalam naskah Yunani khan? Naskah Pe****ta Aramaik tidak menggunakan ‘LAMA” (hm'äl) melainkan “LEMANA” (anml). Naskah Aramaik tidak menggunakan “ELI” (yliaeâ) melainan “EYL” (Lya). Bahkan TARGUM ARAMAIK Mazmur 22:1 pun menuliskan demikian:

yntqbv hm lwjm yhla yla yhla yla

Tidak ditemukan kata “LEMANA” (sebaliknya METUL MAH), tidak pula kata “EYL” (sebaliknya ELI ELAHAY). Oleh karenanya, saya memberikan dua pendekatan terhadap seruan Mesias di kayu salib: Pertama, Mesias memang benar-benar mengutip Mazmur 22:1 dalam bahasa Ibrani yang berbunyi:

ynIT"+b.z:[] hm'äl' yliaeâ yliäae
(ELI-ELI LAMA AZAVTANI)

Namun oleh penulis Pe****ta Aramaik disalin dalam bunyi Aramaik sehingga diterjemahkan demikian:

yntqbv anml lya lya
(EYL EYL LEMANA SHABAQTANI)

Kemudian penyalin Matius berbahasa Yunani menuliskan:

elwi elwi lema sabacqani
(ELOI ELOI LEMA SABACHTHANI)
Kedua, dimungkinkan Mesias berseru dalam bahasa Ibrani yang telah mengalami asimilasi dengan bahasa Aramaik. Terbukti kata “LEMA” adalah bahasa Ibrani (Mzm 22:1) sementara kata “SABACHTHANI” merupakan Aramaik. Namun dugaan ini perlu didalami lagi dengan melibatkan penelusuran filologis.

Mengenai pembacaan DU TILLET yang berbeda dengan naskah Aramaik dan Yunani yaitu menggunakan kata “SHKKHTNY”, bagi saya secara akademis memerlukan pengkajian yang lebih mendalam. Ini merupakan varian bacaan yang perlu didalami kebenarannya dan mengapa digunakan kata tersebut.

ינתחכש המל ילא ילא

Jika “SHKKHTNY”, diartikan “MENAHAN”, ‘MENAWAN”, berarti secara akademis teks ini apat dibaca demikian: “TUHANKU-TUHANKU, MENGAPA ENGKAU MENAHANKU?” (maksudnya menahan di kayu salib). Bukankah sejak semula pada penjelasan keempat saya sudah menyampaikan karakteristik khas DU TILLET yang dalam beberapa hal tidak sepakat dengan naskah Yunani? Berarti perbedaan ini pun perlu dipahami dari sudut pandang tersebut.


TANGGAPAN BUDI ASALI :
Saya akan fokuskan pada bahasa asli dari Perjanjian Baru. Ada banyak bukti, tetapi saya berikan hanya sedikit saja, sebagai berikut:

1) Banyak / semua sumber mengatakan demikian.

Gary Mink (internet): “THE WORLD BOOK ENCYCLOPEDIA: The original language of the New Testament is the common vernacular Greek that was widely used at the time of Jesus. COMPTON’S ENCYCLOPEDIA: All of the books [of the New Testament] were originally written in Greek. NEW CATHOLIC ENCYCLOPEDIA: They [New Testament writings] were all written originally in Greek. THE ENCYCLOPEDIA AMERICANA: In this language [Koine Greek] the New Testament was written, and thousands upon thousands of papyri, contemporary with the New Testament, and discovered only in the last few decades, have contributed to give us a clear conception of this wide spread lingua franca, that was found wherever Greeks and Greek civilization penetrated”.
Catatan: Gary Mink sebetulnya memberikan lebih banyak lagi Encyclopedia yang menyatakan hal ini, tetapi saya memberikan di sini hanya sebagian saja.

Encyclopedia Britannica 2007 dengan topik ‘Koine (Greek language)’:
“the fairly uniform Hellenistic Greek spoken and written from the 4th century Bc until the time of the Byzantine emperor Justinian (mid-6th century AD) in Greece, Macedonia, and the parts of Africa and the Middle East that had come under the influence or control of Greeks or of Hellenized rulers. Based chiefly on the Attic dialect, the Koine superseded the other ancient Greek dialects by the 2nd century AD. Koine is the language of the Greek translation of the Old Testament (the Septuagint), of the New Testament, and of the writings of the historian Polybius and the philosopher Epictetus. It forms the basis of Modern Greek”.

Halley’s Bible Handbook: “Ancient translations. The Old Testament was written in Hebrew. The New Testament was written in Greek. A Greek translation of the Old Testament called ‘The Septuagint,’ made in the 3rd century BC, was in common use in Jesus’ day. Greek was the language in general use throughout the Roman world” (= ) - hal 753-754.

Microsoft Encarta Reference Library 2003 (dengan topik ‘Bible, The New Testament’): “For a time, some Christian scholars treated the Greek of the New Testament as a special kind of religious language, providentially given as a proper vehicle for the Christian faith. It is now clear from extrabiblical writings of the period that the language of the New Testament is koine, or common Greek, that which was used in homes and marketplaces” (=).

Microsoft Encarta Reference Library 2003 (dengan topik ‘Bible, The New Testament’): “Extant Greek manuscripts of the New Testament - complete, partial, or fragmentary - now number about 5000. None of these, however, is an autograph, an original from the writer. Probably the oldest is a fragment of the Gospel of John dated about AD 120-40. The similarities among these manuscripts is most remarkable when one considers differences of time and place of origin as well as the methods and materials of writing. Dissimilarities, however, involve omissions, additions, terminology, and different ordering of words. Comparing, evaluating, and dating the manuscripts, placing them in family groups, and developing criteria for ascertaining the text that most likely corresponds to what the authors wrote are the tasks of critics. They are aided in their judgments by thousands of scriptural citations in the writings of the early Fathers of the Church and by a number of early translations of the Bible into other languages. The fruit of the labor of text critics is an edition of the Greek New Testament that offers not only what is judged to be the best text but also includes notes indicating variant readings among the major manuscripts. The more significant of these variants usually appear in English translations as footnotes citing what other ancient authorities say (see, for example, Mark 16:9-20; John 7:53-8:11; Acts 8:37). Critical editions of the Greek New Testament have appeared with some regularity since the work of the Dutch scholar Desiderius Erasmus in the 16th century” (=).

Microsoft Encarta Reference Library 2003 (dengan topik ‘Bible, the New Testament’): “Early Versions. Because the New Testament was written in Greek, the story of the transmission of the text and the establishing of the canon sometimes neglects the early versions, some of which are older than the oldest extant Greek text. The rapid spread of Christianity beyond the regions where Greek prevailed necessitated translations into Syriac, Old Latin, Coptic, Gothic, Armenian, Georgian, Ethiopic, and Arabic. Syriac and Latin versions existed as early as the 2nd century, and Coptic translations began to appear in the 3rd century. These early versions were in no sense official translations but arose to meet regional needs in worship, preaching, and teaching. The translations were, therefore, trapped in local dialects and often included only selected portions of the New Testament. During the 4th and 5th centuries efforts were made to replace these regional versions with more standardized and widely accepted translations. Pope Damasus I in 382 commissioned St. Jerome to produce a Latin Bible; known as the Vulgate, it replaces various Old Latin texts. In the 5th century, the Syriac Pe****ta replaced the Syriac versions that had been in popular use up to that time. As is usually the case, the old versions slowly and painfully gave way to the new” (=).
Catatan: perhatikan bahwa dalam early versions itu tak ada yang bahasa Ibrani!

Microsoft Encarta Reference Library 2003 (dengan topik ‘Bible, the New Testament’): “Translations of the Reformation Period. In 1525 the English reformer William Tyndale translated the New Testament from the Greek text, copies of which were printed in Germany and smuggled into England. Tyndale’s translation of the Old Testament from the Hebrew text was only partly completed. His simple prose and popular idiom established a style in English translation that was continued in the Authorized Version of 1611 (the King James Version) and eventually in the Revised Standard Version of 1946-52” (=).

Microsoft Encarta Reference Library 2003 (dengan topik ‘koine’): “The early Christian writers who transcribed and compiled the New Testament made use of a variety of the Koine (Greek for ‘common’), the court and literary language of Hellenistic Greece” (=).

2) Yesus menyebut diriNya dengan istilah Alpha dan Omega, yang merupakan huruf Yunani yang pertama dan terakhir, dalam abjad Yunani. Mengapa tak menggunakan Alif dan Tau (huruf pertama dan terakhir dalam abjad Ibrani), kalau bahasa aslinya adalah bahasa Ibrani dan bukan Yunani?
Wah 1:8 - “‘Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.’”.
Wah 21:6 - “FirmanNya lagi kepadaku: ‘Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan”.
Wah 22:13 - “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.’”.

3) Ayat-ayat yang memberikan terjemahan / penjelasan arti dalam bahasa Yunani semuanya menjadi kacau / tidak masuk akal, seandainya bahasa asli Perjanjian Baru adalah bahasa Ibrani.
Misalnya:

a) Yoh 1:38,41,42 - “(38) Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: ‘Apakah yang kamu cari?’ Kata mereka kepadaNya: ‘Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?’ ... (41) Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: ‘Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).’ (42) Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: ‘Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).’”.

b) Mat 1:23 - “‘Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel’ - yang berarti: Allah menyertai kita”.
Bandingkan Mat 1:23 ini dengan Yes 7:14 - “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel”.
Dalam Mat 1:23 ada arti untuk kata / nama ‘Imanuel’ itu, sedangkan dalam Yes 7:14 tidak ada. Mengapa? Karena Yesaya menulis dalam bahasa Ibrani kepada orang-orang Yahudi, yang mengerti artinya. Matius menulis dalam bahasa Yunani kepada orang-orang yang tidak mengerti bahasa Ibrani, dan karena itu ia harus memberikan arti dari kata ‘Imanuel’ itu!

c) Kis 1:19 - “Hal itu diketahui oleh semua penduduk Yerusalem, sehingga tanah itu mereka sebut dalam bahasa mereka sendiri ‘Hakal-Dama’, artinya Tanah Darah”.

Gary Mink (internet): “we find Aramaic and Hebrew words in the Greek New Testament. This all the more confirms to us that the book was written in Greek. For if it had been written in Aramaic or Hebrew then translated into Greek, the Aramaic and Hebrew words simply would have been translated along with the rest of the book. The New Testament writers put these words and expressions in the New Testament. Then they translated these words for their readers” (= kita menemukan kata-kata Aram dan Ibrani dalam Perjanjian Baru bahasa Yunani. Ini makin meneguhkan kita bahwa buku itu ditulis dalam bahasa Yunani. Karena seandainya itu ditulis dalam bahasa Aram atau Ibrani dan lalu diterjemahkan ke Yunani, maka kata-kata Aram dan Ibrani itu akan sudah diterjemahkan bersama dengan sisa dari buku itu. Penulis-penulis Perjanjian Baru meletakkan kata-kata dan ungkapan-ungkapan ini dalam Perjanjian Baru. Lalu mereka menterjemahkan kata-kata ini bagi pembaca-pembaca mereka).

Kalau mereka menjawab dengan mengatakan bahwa dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Ibrani, sebetulnya arti / terjemahannya tidak ada, dan penterjemah ke bahasa Yunani menambahi arti / terjemahannya, maka saya jawab: mengapa tak semua kata Ibrani diberi arti? Misalnya: kata ‘Haleluyah’ dan kata ‘Amin’ dalam Wah 19:1,3,4,6, dan juga kata ‘Hosana’ dalam Mat 21:9,15 Mark 11:9-10 Yoh 12:13.

Wah 19:1,3,4,6 - “(1) Kemudian dari pada itu aku mendengar seperti suara yang nyaring dari himpunan besar orang banyak di sorga, katanya: ‘Haleluya! Keselamatan dan kemuliaan dan kekuasaan adalah pada Allah kita, ... (3) Dan untuk kedua kalinya mereka berkata: ‘Haleluya! Ya, asapnya naik sampai selama-lamanya.’ (4) Dan kedua puluh empat tua-tua dan keempat makhluk itu tersungkur dan menyembah Allah yang duduk di atas takhta itu, dan mereka berkata: ‘Amin, Haleluya.’ ... Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: ‘Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja”.
Mengapa penterjemah Yunani itu tidak menambahi kata-kata ‘artinya Puji Tuhan / Yahweh’???

Mat 21:9,15 - “(9) Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikutiNya dari belakang berseru, katanya: ‘Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!’ ... (15) Tetapi ketika imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat melihat mujizat-mujizat yang dibuatNya itu dan anak-anak yang berseru dalam Bait Allah: ‘Hosana bagi Anak Daud!’ hati mereka sangat jengkel”.
Mark 11:9-10 - “(9) Orang-orang yang berjalan di depan dan mereka yang mengikuti dari belakang berseru: ‘Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, (10) diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!”.
Yoh 12:13 - “mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: ‘Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!’”.
Kata ‘Hosana’ adalah kata bahasa Ibrani, dan mempunyai arti ‘save now’ (= selamatkanlah sekarang)
Wycliffe Bible Commentary: “‘Hosanna.’ A Hebrew expression meaning ‘Save now’” (= ‘Hosanna’. Suatu ungkapan Ibrani yang berarti ‘Selamatkanlah sekarang’).
Unger’s Bible Dictionary: “HOSANNA (Gk. hosannah, from Heb. hoshi`ana', ‘save now’)” [= HOSANNA (Yunani HOSANNAH, dari Ibrani HOSHIANA, ‘selamatkanlah sekarang’].
Mengapa kata ‘Hosana’ ini tak diterjemahkan?

Kelihatannya, kata-kata bahasa Ibrani yang sudah menjadi Yunani (diyunanikan) tidak diberi terjemahan. Tetapi kata-kata Ibrani yang bahasa Yunaninya berbeda, diberi arti.

Kalau mereka mengatakan: karena kata-kata ‘Haleluyah’ dan ‘Hosana’ itu populer, maka kata-kata itu tidak diberi terjemahan, maka saya bertanya: apakah kata-kata itu lebih populer dari kata ‘Mesias’? Kata ‘Mesias’ begitu populer, dan tidak mungkin ada orang Yahudi yang tak tahu arti kata itu, tetapi kata itu tetap diberi terjemahannya dalam bahasa Yunani (Yoh 1:41).

Dengan cara yang sama, jelas bahwa bahasa asli Perjanjian Baru bukan Aram, karena adanya istilah-istilah bahasa Aram, yang diterjemahkan ke Yunani, seperti:
• Mark 5:41 - “Lalu dipegangNya tangan anak itu, kataNya: ‘Talita kum,’ yang berarti: ‘Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!’”.
• Yoh 20:16 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Maria!’ Maria berpaling dan berkata kepadaNya dalam bahasa Ibrani: ‘Rabuni!’, artinya Guru”.
Catatan: ayat ini juga menunjukkan bahwa kalau dikatakan ‘bahasa Ibrani’ kadang-kadang maksudnya adalah ‘bahasa Aram’. Kata ‘Rabuni’ adalah bahasa Aram, kata Ibraninya adalah ‘Rabi’ (Yoh 1:38).
• Ro 8:15 - “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’”.
• Yoh 19:13 - “Ketika Pilatus mendengar perkataan itu, ia menyuruh membawa Yesus ke luar, dan ia duduk di kursi pengadilan, di tempat yang bernama Litostrotos, dalam bahasa Ibrani Gabata”.
• 1Kor 16:22 - “Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia. Maranata!”.
Catatan: Yoh 19:13 menyebutkan ‘bahasa Ibrani’ tetapi Bambang Noorsena mengatakan bahwa itu adalah kata bahasa Aram.
Bambang Noorsena: “Contoh-contoh kata-kata Aram yang dipelihara itu, antara lain: Talita Kum (Markus 5:41), Gabbata (Yohanes 19:13), Maranatha (1 Korintus 16:23)”.
Catatan: 1Kor 16:23 itu salah, seharusnya 1Kor 16:22.

Juga bandingkan dengan Mat 27:46 - “Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’ Artinya: AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”. Atau Mark 15:34 - “Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: ‘Eloi, Eloi, lama sabakhtani?’, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”.
Matius menuliskan kata-kata Yesus ini dalam bahasa campuran Ibrani dan Aram, dan Markus menuliskannya dalam bahasa Aram.
Pdt. Yakub Sulistyo mengatakan bahwa pada waktu Yesus mengucapkan kata-kata ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’ dalam Mat 27:46, Ia mengucapkan kata-kata itu murni dalam bahasa Ibrani!
Pdt. Yakub Sulistyo: “Saat Yeshua tergantung di kayu salib, Dalam Kitab Mattai / Matius 27:46 Yeshua berseru dengan berteriak ‘Eli Eli Lama Sabakhtani’, kalimat tersebut adalah kalimat murni bahasa Ibrani”.
Ini menunjukkan bahwa, atau ia tidak mengerti bahasa Ibrani, atau ia berdusta! Yang betul-betul bahasa Ibrani adalah kata-kata yang ada dalam Maz 22:2 - ‘Eli, Eli, lama azavtani’.

Maz 22:2 - ‘Eli, Eli, lama azavtani?’
(Ibrani)

Mat 27:46 - ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’
(Ibrani) (Aramaic)

Mark 15:34 - ‘Eloi, Eloi, lama sabakhtani?’
(Aramaic)

Barnes’ Notes (tentang Mat 27:46): “‘Eli, Eli ...’. This language is not pure Hebrew nor Syriac, but a mixture of both, called commonly ‘Syro-Chaldaic.’ This was probably the language which the Saviour commonly spoke. The words are taken from Ps. 22:1” (= ‘Eli, Eli ...’. Bahasa ini bukanlah Ibrani murni ataupun Aramaic / Syria murni, tetapi suatu percampuran dari keduanya, biasanya disebut ‘Syro-Chaldaic’. Ini mungkin merupakan bahasa yang biasanya digunakan oleh sang Juruselamat. Kata-kata itu diambil dari Maz 22:2).

Dalam Maz 22:2, tidak diberi terjemahan, karena memang Maz 22:2 ini ada dalam bahasa Ibrani dan ditujukan kepada orang-orang yang mengerti bahasa Ibrani!
Mengapa dalam Matius dan Markus mula-mula ditulis dalam Aram / Ibrani, lalu diterjemahkan?

4) Adanya petunjuk bahwa kitab-kitab tertentu ditujukan kepada pembaca yang bukan orang Yahudi.
Kitab-kitab tertentu mengandung ayat-ayat yang memberi penjelasan tentang istilah-istilah Ibrani, dan ini tidak akan diberikan seandainya pembacanya adalah orang-orang Yahudi yang bisa berbahasa Ibrani.
Misalnya:
Mark 14:12 - “Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi, pada waktu orang menyembelih domba Paskah, murid-murid Yesus berkata kepadaNya: ‘Ke tempat mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagiMu?’”.
Yoh 6:4 - “Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat”.
Semua orang Yahudi tahu bahwa pada Paskah adalah hari raya orang Yahudi, dan bahwa pada hari Paskah ada penyembelihan domba Paskah. Untuk apa menjelaskan hal-hal ini kepada orang-orang yang sudah tahu? Jadi jelas bahwa kitab-kitab ini ditujukan kepada orang-orang non Yahudi. Dan kalau memang demikian, mungkinkah kitab-kitab tersebut ditulis dalam bahasa Ibrani?


THE END.
Reply With Quote