View Single Post
  #20 (permalink)  
Old 7th August 2008
Kelana's Avatar
Kelana Kelana is offline
AP - Grand Master
 
Join Date: Nov 2007
Age: 27
Posts: 471
Kelana is on a distinguished roadKelana is on a distinguished road
Default

Quote:
Originally Posted by Kelana View Post
Hehehe. Yah begitulah saya, Plainbread. Entah mengapa bisa begitu. Pikiran saya memang selalu melacur ke "Tuhan". Mudah-mudahan ini tanda yang sehat. Saya selalu saja menarik Tuhan dari surga, dan menyeretnya ke dunia tempat saya hidup. Itu tidak membuat saya tentram, tapi terus-menerus memberi saya kekuatan untuk bertahan dan terus maju dalam kehidupan macam ini. "Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan."
Pertama kali saya mendalami ayat dari Yohanes itu, ia berubah menjadi semacam pembenaran atas apa yang selama itu saya pikirkan. Saya berpikir tentang sebuah titik pusat, atau batu penjuru, yang berfungsi sebagai sentra interpretasi atas segala sesuatu, baik bidang yang 'serius' maupun yang 'tidak/kurang serius'. Saya memaksa titik itu diisi oleh Kristus. Jika Kristus adalah Tuhan saya, jika saya mengamini perkataan Yohanes, maka saya harus bisa menjadikan Kristus sebagai sentra itu. Ini bukan tugas yang mudah. Namun saya senang melakukannya. Beberapa orang, kawan atau lawan, mengatakan bahwa hal tersebut adalah aneh, tanda fanatisme, atau yang lain yang berbau negatif. Tetapi, saya tidak peduli. Selama ini hal yang saya lakukan itu terbukti memberikan kesenangan dan kekuatan bagi saya dan orang-orang yang mau menerimanya.

Saya lebih sering "menemukan" Tuhan di bidang-bidang "entertainment" seperti karya fiksi (apapun medianya). Karya fiksi, justru karena sifat fiktifnya, memiliki kemampuan untuk membahas hal-hal halus (delicate matters) yang selama ini menjadi kering di tangan teori. Pendekatan-pendekatan interpretatif yang tersedia (objektif atau subjektif) melatih saya jadi kritis sehingga ia menjadi sebuah aksi refleks. Begitulah...
Reply With Quote