hihihi kelana, sampe sekarang gue masih belom nonton dark knight, tapi dari berbagai resensi dan diskusi di forum or milis mana pun yang kebetulan gue terawang, tokoh joker ini memang yang paling banyak dijadikan bahan obrolan.
kesan yang gue tangkap adalah bahwa dia sangat bebas mengekspresikan dirinya. musuh yang sangat susah untuk dilawan karena tidak ada parameter yang pas yang sesuai dengan kecenderungan nya. satu2 nya kata yang masih bisa 'dipaksakan' untuk pas adalah 'gila'. dipaksakan karena sebenernya kita (baca: audience) memang tidak mengerti yang bisa jadi disebabkan karena tidak adanya penggambaran yang spesifik kecuali aksi2 nya yang memukau.
selain gila sebenernya yang menarik juga adalah totalitas. ketika seorang X, di sisi manapun dia berada, entah adalah pihak baik dan benar atau pihak yang salah, melakukan sesuatu dengan sangat amatir (dalam artian mencintai apa yang dia buat sehingga tidak peduli apakah akan dibayar dalam artian dihargai atau tidak), tanpa sadar audience akan mengingat bahwa tepat seperti itulah tindakan2 Tuhan yang kita kenal dalam nama Yesus. tindakan 'gila' yang tidak mempedulikan 'status sebagai Tuhan' pun Dia lakukan dengan cara turun langsung ke dunia dalam wujud bayi yang sangat lemah dan selalu membutuhkan pertolongan dan perlindungan orang tua Nya yang entah gimana bukan berasal dari keluarga yang punya pengaruh dalam struktur sosial.
Yesus biar bagaimana pun punya privilledge sebagai Tuhan, dan lantas karena itu, kita selalu mengasumsikan Dia sebagai yang baik. sementara joker, tidak punya privilledge itu. dia hanyalah manusia, sama seperti kita. hubungan antar manusia selalu rumit karena kita tidak bisa saling membaca pikiran. apa yang kita tampilkan dalam berkomunikasi itulah yang menjadi dasar persepsi tentang kita bagi si lawan bicara kita. dengan begitu, lebih sulit lagi untuk menilai joker, apakah dia baik atau tidak, terlebih lagi tindakan2 nya memang sangat nyentrik.
penilaian bagi joker akhirnya hanya didasarkan pada result-oriented dari sudut pandang si penilai. process-oriented tidak mungkin dilakukan karena dua hal: [1] kurangnya informasi dari sang sutradara, dan [2] keanehan perilakunya yang hanya cocok dengan kata2 seperti 'gila' dan 'ga waras'.
sialnya, 'ketidak-adilan' pada unsur penilaian ini membuat joker menjadi seperti martir yang menambahkan bagi kita rasa untuk lebih tertarik. yes, it's so damn enticing
