 |
|

9th August 2008
|
 |
AP - Custom Title (Change it at your control panel) must be a member for at least 45 days
|
|
Join Date: May 2008
Location: Indonesia
Posts: 2,115
|
|
Jangan capek dong....
Quote:
Originally Posted by Hannah
Ampun deh .. cape gw ame lo.. this is the last one..
|
Wah belum apa apa udah cape.... kirain paling fiesty...
Quote:
Originally Posted by Hannah
Komen yg gw permasalahkan adalah komen lo yg spesifik ttg sang aktor, bukan aktingnya & bukan pelemnya.
Lupa ya ama komen sendiri? Nih gw kopas..
|
Kaga kok, sorry yang gue bahas... tapi gue kaga lupa komentar gue yang spesifik ttg sang aktor.
Quote:
Originally Posted by Hannah
Baca yg bener plis, yg bilang accidental sapa (ntu liat di bawah).
After two weeks of intense media speculation about possible causes of his death, on 6 February 2008, the Office of the Chief Medical Examiner of New York released its conclusions, based on an initial autopsy of January 23, 2008, and a subsequent complete toxicological analysis. The report concludes, in part, "Mr. Heath Ledger died as the result of acute intoxication by the combined effects of oxycodone, hydrocodone, diazepam, temazepam, alprazolam and doxylamine." It also states definitively: "We have concluded that the manner of death is accident, resulting from the abuse of prescription medications."
|
Ngutip komen lu di post #16, lu, atau bahkan si Chief Medical Examiner of New York juga ga liat kejadiannya langsung pas Heath Ledger mati. Neither of us was there....so, why so serious? (and jumpy, may I add) 
Kalo "kecelakaan", mana mungkin bisa "ngeramu" begitu banyak obat-obatan layaknya suicide's cocktail? Kalap, mungkin, tapi "kecelakaan" kayaknya tipis kemungkinannya.
Quote:
Originally Posted by Hannah
Haiya.. uda ah..
|
Haiya, yah uda juga ah... 
|

9th August 2008
|
 |
AP - Custom Title (Change it at your control panel) must be a member for at least 45 days
|
|
Join Date: May 2008
Location: Indonesia
Posts: 2,115
|
|
Quote:
Originally Posted by JC4Life
@Kelana, shengsu: bro, kayaknya Heath Ledger bukan acting tuh di film itu, gue liat nya dia kesurupan, he really became the character (and ended up killed himself after the movies was completed). What a loss. Apapun namanya (menurut Kelana, istilahnya "film ide") metodenya top abis khas Nolan.... sangat sulit memvisualisasikan genre komik ke layar lebar tanpa menjadi cheesy. Sama seperti komik yang ekspresionis jauh lebih "gigit" daripada yang pake paintbrush effects.
|
Quote:
Originally Posted by shengshu
gimana si ledger gak kesurupan dan jadi rada gila. konon sebelum syuting dia di kurung 2 bulan di sebuah tempat. mungkin penyebab dia OD karena pelampiasan setelah kerjaannya kelar 
|
Shengshu,
ente kalau dijauhkan dari rokok selama seminggu penuh, efeknya mungkin kurang lebih sama, bakal "kesurupan" juga nih.... 
|

9th August 2008
|
 |
AP - Custom Title (Change it at your control panel) must be a member for at least 45 days
|
|
Join Date: May 2008
Location: Indonesia
Posts: 2,115
|
|
Quote:
Originally Posted by ucakucu
joker menjadi karakter mengesankan karena dia muncul sebagai pribadi yang bebas norma.
|
ga sepenuhnya bebas norma, he's thinking inside "his box", that eveything must be prepared, must be planned, based on human's dark-side. tapi yang namanya hati nurani (adegan kapal ferry) ternyata membuktikan ada norma yang ga bisa di"lawan" dengan perencanaan sematang apapun: good prevails...
|

9th August 2008
|
 |
AP - Custom Title (Change it at your control panel) must be a member for at least 45 days
|
|
Join Date: May 2008
Location: Indonesia
Posts: 2,115
|
|
Quote:
Originally Posted by Kelana
.....
Harvey Two face sebagai Dark Knight
Gordon sebagai Dark Knight
....
|
wah, kebanyakan nanya......
DARK KNIGHT..... TANYA SIAPA?
|

9th August 2008
|
 |
AP - Custom Title (Change it at your control panel) must be a member for at least 45 days
|
|
Join Date: May 2008
Location: Indonesia
Posts: 2,115
|
|
Quote:
Originally Posted by SarapanPagi
....
Lagian "Maggie Gyllenhaal" juga kurang keren untuk film semahal ini. Kalo emang cari cewe' STW ya mending Sharon Stone atau Julianne Moore atau Naomi Watts.
Nicole Kidman cewe' Batman yang paling keren.
|
Justru karena film ini udah kemahalan, jadi sisa budget-nya cuma pas buat nanggep si Gyllenhaal. (the only good movies she was in are "Secretary" and "Criminal, actually)
Quote:
Originally Posted by SarapanPagi
Adegan si Joker pakai baju suster jalan kaki ke luar rumah sakit sambil bawa "remote", asli keren, Ledger bisa total acting-nya.
|
bukan acting, "kesurupan".... 
dari depannya banget, adegan ngerampok bank, scheme nya joker udah keren abis.
Quote:
Originally Posted by SarapanPagi
Baru ini ada film Super Hero yang "kalah pamor" dengan penjahatnya, btw asyik juga 
|
...tapi kan akhirnya rada "menang" si super hero-nya, tipikal Hollywood lah, feelgood sensation.
|

12th August 2008
|
 |
Fearless !!!
|
|
Join Date: Dec 2004
Age: 30
Posts: 2,603
|
|
Film The dark knight gue bilang sih salah satu film super hero yang memperlihatkan bahwa jagoannya ngga super super amat...
Gue mesti nunggu sekuel berikutnya nih... apalgi kalau nanti ada Cat Woman, terus diperanin sama Angelina Jolie...ooohh....
__________________
I don't need no one to tell me about heaven
I look at my son, and I believe.
I don't need no proof when it comes to God and truth
I can see the sunset and I perceive
|

13th August 2008
|
 |
AP - Grand Master
|
|
Join Date: Nov 2007
Age: 27
Posts: 437
|
|
Rupanya saya benar-benar mengalaminya lagi: perasaan ekstatis yang menggelora dan tak hilang-hilang walau beberapa hari sudah berlalu sejak perjumpaan itu. Ini masih soal Joker; soal Joker dan saya yang kepincut padanya.
Perasaan macam ini pertama kali datang belasan tahun lalu dengan orang-orang tertentu. Pertama dengan preman kampung Jepang yang menempuh “jalan pedang”. Lalu ada si Perancis yang mati muda ditabrak mobil. Lalu dengan bangsawan kuper Denmark yang patah hati karena membiarkan tunangannya nikah dengan orang lain. Lalu dengan si nabi kumis Jerman yang konsisten gila sampai mati. Lalu dengan reporter Amerika yang berakhir kaya raya dengan kepala yang ditembaknya sendiri. Lalu dengan seorang rusia pesakit epilepsi. Kini dengan Joker karya Ledger dan Nolan. Saya jadi seperti digilir… Pertanyaan: ini apresiasi atau perversi?
Masalah saya, batasan kenyataan dan fiksi bukan lagi sebuah tembok pemisah antara yang ada dan tidak ada, yang serius dan ‘entertainment’, yang dewasa dan kanak-kanak. Sesuatu telah merasuk dalam jiwa saya, membuat saya secara refleks selalu melihat fiksi sebagai semacam blue print dari gerakan-gerakan manusia dalam kehidupan, baik itu gerakan hati atau pikiran atau perbuatan. Karya fiksi di mata saya selalu menjadi sajian non-teoritis etika hidup di dunia ini. Dan, sekarang, etika macam apa yang saya lihat dari Joker? Mengingat dia itu bengis dan tak berperikemanusiaan, mengapa saya begitu terpesona olehnya,?
Pertanyaan demi pertanyaan selalu hadir di satu sisi. Is this alright? Have I gone mad? What about goodness? What about my daughter, my family? Mungkin dengan ini orang bilang saya sinting. Tapi bagaimana lagi? Saya hanya sedang berusaha serius dengan diri saya sendiri. Saya ”membaca” Joker dan “kata-kata” dari bacaan itu akan, meminjam istilah Yohanes, menjadi daging. Lantas, daging macam apa jadinya saya nanti?
Pertanyaan-pertanyaan macam itu muncul dan menghantui, hingga pikir saya suatu ketetapan musti dibuat; sebuah “aturan main”, atau semacamnya.
Berikut yang membuat saya gusar: bahwa saya terpesona oleh Joker, dan bahwa saya akan punya anak. Hubungan dua fakta itu ada pada subyeknya, yaitu diri saya. Syukurlah, Tuhan tidak meninggalkan saya sendirian di posisi itu. Saya masih punya iman soal otoritas buku Alkitab. Karena taruhannya kejiwaan, dalam hal ini saya harus anarkis: pembacaan Joker saya musti tunduk pada pembacaan Alkitab saya. Joker harus
saya tulis-ulang (re-write), maknai-ulang (re-signify).
Terima kasih saya pada tritunggal-non-maha-kudus Nietzsche, Derrida, Barthes yang memperkenalkan pada saya rumusan metodis re-writing dan re-signification itu. Tritunggal Maha-kudus menjadi sumber (logos) pada kedua proses itu.
Logos itu harus Kristus. Sekali lagi, saya anarkis dalam hal ini. Sebab, saya percaya jika bukan Yesus Kristus yang menjadi logos, maka segala hal baik dalam hidup manusia pada suatu saat pasti akan mendekonstruksi dirinya sendiri hingga menjadi negasinya. Hal-hal yang tadinya baik itu, cepat atau lambat, akan berubah menjadi benih-benih tragedi. Ya,itu pasti. Bagaimana saya bisa percaya Yesus Kristus? Cuma Tuhan yang tahu ceritanya. Yang jelas, Yesus Kristus sudah jadi Dark Knight saya, Godfather saya, dan saya mau loyal padaNya.
Joker sebagai karya adalah salah satu karakter dalam film The Dark Knight. Fungsinya adalah sebagai lawan/antagonis sehingga Batman ada kerjaan dan filmnya pun ada cerita (berikut dengan adegan-adegan yang menarik keuntungan). Coba jika Joker dihilangkan dari film itu, Bruce Wayne/Batman mau ngapain? Apa cerita filmnya? Jadi, begitulah nasib Joker (dan juga sebenarnya nasib Batman) ketika ia di’baca’ sebagai karya. Keberadaan Joker hanya berfungsi sebagai penanda sehingga yang menang dan yang kalah dapat dibedakan, dan awal/akhir sebuah cerita dapat dicerna oleh penontonnya.
Apa yang harus saya lakukan adalah mencomot keberadaan Joker dari kerangka karya Christopher Nolan itu. Keberadaan Joker, jadi, tidak lagi berurusan dengan film The Dark Knight. Lalu Joker itu apa sekarang? Di sinilah proses penulisan dan pemaknaan-ulang bermula.
Joker. Setiap gerak-geriknya adalah tarian. Ada yang menyebutnya rupa kesurupan. Yang jelas, dalam hati saya diam-diam tepuk tangan. Misal ketika Joker muncul dan memperagakan sulapnya dengan sebatang pensil. Now you see, now you don’t. Voila! Sekejap saya membayangkan pensil itu. Ia membuat tanda titik yang tegas seperti guru matematika saya dulu dengan sebatang kapur yang berakhir penyet di papan tulis: “Bila akar x sama dengan y maka akar pangkat empat z menjadi …bla..bla..bla… Jderrr!” The math crumbles at the tip of the chalk. Tanda titik yang dibuat pensil itu seperti mengakhiri sebuah kalimat pendek sederhana a la subyek-predikat-obyek yang jelas dan lugas, tak berbelit-belit seperti yang terjadi antara hati, pikiran dan perbuatan kita. Membaca aksi Joker itu, saya mendapati sebuah ketegasan gila menolak double-mindedness.
“…purify your hearts, you double-minded”. Dari satu ayat tulisan Yakobus ini Kierkegaard mengembangkan renungan berumus ‘purity of the heart is to will one thing’. Saya tak ingat detil-detilnya tapi buku renungan Kierkegaard itu menjadi salah satu pilar yang menopang bangunan worldview saya. Kebaikan dan kejahatan dapat dengan mudah diperagakan. Tetapi peragaan yang bernilai kebenaran hanya ada pada mereka yang tulus hatinya, murni hatinya. Kebaikan di tangan orang-orang yang double-minded adalah kelaliman yang lebih keji.
Joker berhati murni. Tidak ada percabangan dalam kehendaknya (will). He wills only one thing. Tidak ada yang dapat menggoyahkan ketetapan hatinya. Tidak kesakitan, tidak kematian. Ini adalah sebuah manifestasi keimanan. Ini adalah peragaan prinsip. Bayangkan Joker jatuh cinta. Maka tidak ada deskripsi yang lebih tepat selain bahwa cintanya “is as strong as death, its jealousy unyielding as the grave. It burns like blazing fire, like a mighty flame”. Mengapa bisa begitu? Karena begitulah Joker. Tidak ada sikap hangat-hangat kuku.
(to be continued. The boss returneth…)
|

13th August 2008
|
|
custom title unidentified
|
|
Join Date: Jun 2004
Posts: 1,269
|
|
__________________
to the finish line
|

13th August 2008
|
|
custom title unidentified
|
|
Join Date: Jun 2004
Posts: 1,269
|
|
Quote:
Perasaan macam ini pertama kali datang belasan tahun lalu dengan orang-orang tertentu. Pertama dengan preman kampung Jepang yang menempuh “jalan pedang”. Lalu ada si Perancis yang mati muda ditabrak mobil. Lalu dengan bangsawan kuper Denmark yang patah hati karena membiarkan tunangannya nikah dengan orang lain. Lalu dengan si nabi kumis Jerman yang konsisten gila sampai mati. Lalu dengan reporter Amerika yang berakhir kaya raya dengan kepala yang ditembaknya sendiri. Lalu dengan seorang rusia pesakit epilepsi. Kini dengan Joker karya Ledger dan Nolan. Saya jadi seperti digilir… Pertanyaan: ini apresiasi atau perversi?
Masalah saya, batasan kenyataan dan fiksi bukan lagi sebuah tembok pemisah antara yang ada dan tidak ada, yang serius dan ‘entertainment’, yang dewasa dan kanak-kanak. Sesuatu telah merasuk dalam jiwa saya, membuat saya secara refleks selalu melihat fiksi sebagai semacam blue print dari gerakan-gerakan manusia dalam kehidupan, baik itu gerakan hati atau pikiran atau perbuatan. Karya fiksi di mata saya selalu menjadi sajian non-teoritis etika hidup di dunia ini. Dan, sekarang, etika macam apa yang saya lihat dari Joker? Mengingat dia itu bengis dan tak berperikemanusiaan, mengapa saya begitu terpesona olehnya,?
Pertanyaan demi pertanyaan selalu hadir di satu sisi. Is this alright? Have I gone mad? What about goodness? What about my daughter, my family? Mungkin dengan ini orang bilang saya sinting. Tapi bagaimana lagi? Saya hanya sedang berusaha serius dengan diri saya sendiri. Saya ”membaca” Joker dan “kata-kata” dari bacaan itu akan, meminjam istilah Yohanes, menjadi daging. Lantas, daging macam apa jadinya saya nanti?
|
oh c'mon dude, pemerannya saja ga jadi gila kok
kalo lo jadi gila yah tuh kesalahan ada pada lo sendiri
besides I've learned that there's always be a darkness inside of us as long as we don't live in Heaven yet
dan kalau anda mau menjadi 'orang suci', harga yg harus dibayar belum tentu anda sanggup
but seroiusly, yes, something is wrong with you if you were able to make your last post, you've done it overly
atau I'm sorry kalau itu cuma copy paste dari tempat lain 
__________________
to the finish line
|

13th August 2008
|
 |
AP - Grand Master
|
|
Join Date: Nov 2007
Age: 27
Posts: 437
|
|
Quote:
Originally Posted by Y0h4n3s_T0mMy
|
Unfortunately, I have to be...
Quote:
Originally Posted by Y0h4n3s_T0mMy
oh c'mon dude, pemerannya saja ga jadi gila kok
kalo lo jadi gila yah tuh kesalahan ada pada lo sendiri
besides I've learned that there's always be a darkness inside of us as long as we don't live in Heaven yet
dan kalau anda mau menjadi 'orang suci', harga yg harus dibayar belum tentu anda sanggup
but seroiusly, yes, something is wrong with you if you were able to make your last post, you've done it overly
atau I'm sorry kalau itu cuma copy paste dari tempat lain 
|
Indeed, a darkness inside of all of us. Most of the time I found it thousand times more sweet that the bright side. I wish I had ever wanted to be a "holy man" (not just a holy sh*t as always) and wish the post wasn't truly mine own.
But then again the sweetness is so enticing....
Last edited by Kelana : 13th August 2008 at 10:12 AM.
|

13th August 2008
|
 |
~ Watashi wa Zutto ni Anata o Mamoru ~
|
|
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 21
Posts: 1,701
|
|
Kelana kritis yah orangny.. ^^
__________________
 Karena Konyol adalah Segalanya 
|

13th August 2008
|
 |
AP - Veteran
|
|
Join Date: Jan 2008
Location: Indonesia
Posts: 228
|
|
hahahah kacaw, it's just a movie dude ^^##
Dark Knight siapa? yah Batman, kan si Gordon sendiri yg bilang di akhir film hehehe
kan white knight-nya si Harvey Dent
Joker? itu mah cuman tokoh lunatic psychopath criminal, why so serious? hahaha
ngapain teladanin Joker, orang kek gitu mah ga kepake di dunia nyata man, dia aja akhirnya jadi gila kan?  
mendingan juga teladanin Bruce Wayne tuh.. udah kaya, ganteng, pinter, playboy dan jago berantem hahaha 
__________________
"Don't worry about the world coming to an end today. It's already tomorrow in Australia." (Charles Schultz)
|

13th August 2008
|
 |
~ Watashi wa Zutto ni Anata o Mamoru ~
|
|
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 21
Posts: 1,701
|
|
Om keong jgn lupa di BOLD yg kata "playboy", hahahah... lol.
__________________
 Karena Konyol adalah Segalanya 
|

13th August 2008
|
 |
Fearless !!!
|
|
Join Date: Dec 2004
Age: 30
Posts: 2,603
|
|
yah at least everybody got something from the movie...
ada yang mau nyontoh kegilaan nya si Joker atau ke playboyan-nya si Bruce yah sah2 saja...
yg penting janagn nyusahin orang lain...
__________________
I don't need no one to tell me about heaven
I look at my son, and I believe.
I don't need no proof when it comes to God and truth
I can see the sunset and I perceive
|

14th August 2008
|
 |
AP - Custom Title (Change it at your control panel) must be a member for at least 45 days
|
|
Join Date: May 2008
Location: Indonesia
Posts: 2,115
|
|
Quote:
Originally Posted by Kelana
Rupanya saya benar-benar mengalaminya lagi: perasaan ekstatis yang menggelora dan tak hilang-hilang walau beberapa hari sudah berlalu sejak perjumpaan itu. Ini masih soal Joker; soal Joker dan saya yang kepincut padanya.
......
|
If I can be so blunt to comment you, Kelana, it sounds like deep down inside you're not really happy with your reality, the life that you live in.
Art imitates life, that's okay and normal. I just don't want my life to imitate art, hence it'll become tasteless.
Just don't put Christ as a 'convenient conscience', as He's much more than that.
anyway, no doubt you have an artistic soul.
|

14th August 2008
|
|
|
hihihi kelana, sampe sekarang gue masih belom nonton dark knight, tapi dari berbagai resensi dan diskusi di forum or milis mana pun yang kebetulan gue terawang, tokoh joker ini memang yang paling banyak dijadikan bahan obrolan.
kesan yang gue tangkap adalah bahwa dia sangat bebas mengekspresikan dirinya. musuh yang sangat susah untuk dilawan karena tidak ada parameter yang pas yang sesuai dengan kecenderungan nya. satu2 nya kata yang masih bisa 'dipaksakan' untuk pas adalah 'gila'. dipaksakan karena sebenernya kita (baca: audience) memang tidak mengerti yang bisa jadi disebabkan karena tidak adanya penggambaran yang spesifik kecuali aksi2 nya yang memukau.
selain gila sebenernya yang menarik juga adalah totalitas. ketika seorang X, di sisi manapun dia berada, entah adalah pihak baik dan benar atau pihak yang salah, melakukan sesuatu dengan sangat amatir (dalam artian mencintai apa yang dia buat sehingga tidak peduli apakah akan dibayar dalam artian dihargai atau tidak), tanpa sadar audience akan mengingat bahwa tepat seperti itulah tindakan2 Tuhan yang kita kenal dalam nama Yesus. tindakan 'gila' yang tidak mempedulikan 'status sebagai Tuhan' pun Dia lakukan dengan cara turun langsung ke dunia dalam wujud bayi yang sangat lemah dan selalu membutuhkan pertolongan dan perlindungan orang tua Nya yang entah gimana bukan berasal dari keluarga yang punya pengaruh dalam struktur sosial.
Yesus biar bagaimana pun punya privilledge sebagai Tuhan, dan lantas karena itu, kita selalu mengasumsikan Dia sebagai yang baik. sementara joker, tidak punya privilledge itu. dia hanyalah manusia, sama seperti kita. hubungan antar manusia selalu rumit karena kita tidak bisa saling membaca pikiran. apa yang kita tampilkan dalam berkomunikasi itulah yang menjadi dasar persepsi tentang kita bagi si lawan bicara kita. dengan begitu, lebih sulit lagi untuk menilai joker, apakah dia baik atau tidak, terlebih lagi tindakan2 nya memang sangat nyentrik.
penilaian bagi joker akhirnya hanya didasarkan pada result-oriented dari sudut pandang si penilai. process-oriented tidak mungkin dilakukan karena dua hal: [1] kurangnya informasi dari sang sutradara, dan [2] keanehan perilakunya yang hanya cocok dengan kata2 seperti 'gila' dan 'ga waras'.
sialnya, 'ketidak-adilan' pada unsur penilaian ini membuat joker menjadi seperti martir yang menambahkan bagi kita rasa untuk lebih tertarik. yes, it's so damn enticing 
Last edited by supernis : 14th August 2008 at 09:02 AM.
|

16th August 2008
|
 |
AP - Grand Master
|
|
Join Date: Nov 2007
Age: 27
Posts: 437
|
|
Quote:
Originally Posted by JC4Life
If I can be so blunt to comment you, Kelana, it sounds like deep down inside you're not really happy with your reality, the life that you live in.
|
I'm not sure. Maybe you're right. But it doesn't matter to me. Happiness, somehow, is not the point. The journey to earn it that seems to matter more. Perhaps. Never thought about it much. But, thanks for the attention.
Quote:
Originally Posted by JC4Life
Art imitates life, that's okay and normal. I just don't want my life to imitate art, hence it'll become tasteless. 
|
To me, life is art. It's plastic. I've come to that since I knew Christ. Taste, again, does not matter.
Quote:
Originally Posted by JC4Life
Just don't put Christ as a 'convenient conscience', as He's much more than that.
|
Thanks for the good advice. But, where's my conscience? Must've dropped it somewhere...
|

16th August 2008
|
 |
AP - Grand Master
|
|
Join Date: Nov 2007
Age: 27
Posts: 437
|
|
Quote:
Originally Posted by supernis
hihihi kelana, sampe sekarang gue masih belom nonton dark knight, tapi dari berbagai resensi dan diskusi di forum or milis mana pun yang kebetulan gue terawang, tokoh joker ini memang yang paling banyak dijadikan bahan obrolan.
|
Nonton dong. Seru lho...
Quote:
Originally Posted by supernis
kesan yang gue tangkap adalah bahwa dia sangat bebas mengekspresikan dirinya. musuh yang sangat susah untuk dilawan karena tidak ada parameter yang pas yang sesuai dengan kecenderungan nya. satu2 nya kata yang masih bisa 'dipaksakan' untuk pas adalah 'gila'. dipaksakan karena sebenernya kita (baca: audience) memang tidak mengerti yang bisa jadi disebabkan karena tidak adanya penggambaran yang spesifik kecuali aksi2 nya yang memukau.
selain gila sebenernya yang menarik juga adalah totalitas. ketika seorang X, di sisi manapun dia berada, entah adalah pihak baik dan benar atau pihak yang salah, melakukan sesuatu dengan sangat amatir (dalam artian mencintai apa yang dia buat sehingga tidak peduli apakah akan dibayar dalam artian dihargai atau tidak), tanpa sadar audience akan mengingat bahwa tepat seperti itulah tindakan2 Tuhan yang kita kenal dalam nama Yesus. tindakan 'gila' yang tidak mempedulikan 'status sebagai Tuhan' pun Dia lakukan dengan cara turun langsung ke dunia dalam wujud bayi yang sangat lemah dan selalu membutuhkan pertolongan dan perlindungan orang tua Nya yang entah gimana bukan berasal dari keluarga yang punya pengaruh dalam struktur sosial.
Yesus biar bagaimana pun punya privilledge sebagai Tuhan, dan lantas karena itu, kita selalu mengasumsikan Dia sebagai yang baik. sementara joker, tidak punya privilledge itu. dia hanyalah manusia, sama seperti kita. hubungan antar manusia selalu rumit karena kita tidak bisa saling membaca pikiran. apa yang kita tampilkan dalam berkomunikasi itulah yang menjadi dasar persepsi tentang kita bagi si lawan bicara kita. dengan begitu, lebih sulit lagi untuk menilai joker, apakah dia baik atau tidak, terlebih lagi tindakan2 nya memang sangat nyentrik.
penilaian bagi joker akhirnya hanya didasarkan pada result-oriented dari sudut pandang si penilai. process-oriented tidak mungkin dilakukan karena dua hal: [1] kurangnya informasi dari sang sutradara, dan [2] keanehan perilakunya yang hanya cocok dengan kata2 seperti 'gila' dan 'ga waras'.
sialnya, 'ketidak-adilan' pada unsur penilaian ini membuat joker menjadi seperti martir yang menambahkan bagi kita rasa untuk lebih tertarik. yes, it's so damn enticing 
|
"Hahaha... ," saya dengar tawa Joker...
|

16th August 2008
|
 |
AP - Grand Master
|
|
| | |