Welcome Guest Login or Signup
LIVE CHAT | IM LIST | BOOKMARK US | HELP GUIDE | LANGUAGE:


Go Back   Forum Diskusi Kristen Internasional > AP - DISKUSI KRISTEN PRAKTIS > Apresiasi Kristen
Register FAQ Members List Calendar Search Today's Posts Mark Forums Read

Reply
 
LinkBack Thread Tools Display Modes
  #61 (permalink)  
Old 16th August 2008
ifera2006's Avatar
AP - Adopted by Grace
 
Join Date: Dec 2006
Posts: 730
ifera2006 is a name known to allifera2006 is a name known to allifera2006 is a name known to allifera2006 is a name known to allifera2006 is a name known to allifera2006 is a name known to all
Default

Quote:
Originally Posted by Kelana View Post
(lanjutan post saya sebelumnya...)

“Because you are lukewarm – neither cold nor hot – I am about to spit you out of my mouth.”

Sifat-sifat Joker yang lain yang saya lihat bersesuaian dengan sifat-sifat manusia sempurna a la Alkitab antara lain: disiplin, kontrol-diri (berpengetahuan tinggi), bukan-milik-dunia, total/ bulat/ utuh/ terintegrasi. Semua itu adalah a body of mental qualities yang berakar dari lawan double-mindedness.

Dari sinilah keterpesonaan saya terbit dan kelak akan saya bagikan pada anak saya.

”Tetapi, bukankah Joker itu jahat? Bukankah Joker itu membunuh banyak orang? Apakah hanya karena memiliki kualitas-kualitas mental yang bagus maka segala kejahatannya dapat dimaklumi?” Dan pertanyaan-pertanyaan macam ini tidak hanya dapat diterapkan pada Joker tapi juga pada hampir semua karakter-karakter yang menjadi inspirasional bagi saya.

Di sini lah esensi anarkisme dalam metode penulisan-ulang dan pemaknaan-ulang harus terjadi. Joker setelah saya bebaskan dari kerangka karya film The Dark Knight, harus saya masukan ke dalam kerangka yang lain. Tidak bisa tidak. Lagipula begitulah natur alamiah keberadaan Joker. Ia tidak dapat ber-ada apabila tidak ditangkap dalam suatu suatu kerangka pengenalan dan pengetahuan (recognition and knowledge), yang selanjutnya disebut kesadaran (consciousness). Prosedur ini sama seperti yang dijelaskan kepada Nikodemus si orang Farisi itu.

Kembali pada kegusaran saya: ini semua adalah tentang pengaruh kejiwaan pada anak saya kelak. Saya harus bertanggungjawab pada anak saya kelak atas keterpesonaan itu. Saya bertanggungjawab, mengapa saya bisa terpesona pada karakter-karakter seperti Joker dan yang lainnya yang bakal ia temukan dari buku-buku atau film-film yang saya beli, atau copy, atau curi. Saya bertanggungjawab untuk menjelaskan mengapa saya membiarkannya mengenal dan menghidupi dunia ini apa adanya dengan segala kegelapan yang bakal ia rasakan di dalam atau di luar dirinya, pahit atau manis. Saya bertanggungjawab untuk menunjukan bahwa ungkapan “semua ada hikmahnya” bisa tidak jadi klise belaka apabila hikmah itu adalah Sang Logos, Kristus.

Pembacaan saya atas Joker sekarang ini membawa saya pada beberapa pengenalan dan pengetahuan saya dari masa lalu. Sifat karakter Joker mengingatkan saya pada sebuah cerita dari Amrozi Cs ketika beberapa waktu lalu mereka di wawancara oleh beberapa reporter di LP Nusakambangan. Seorang rekan bertugas. Diceritakannya, Amrozi mengatakan bahwa ia tidak menyesali perbuatannya. Kemudian, rekan saya itu bertanya tentang bagaimana perasaannya terhadap orang-orang yang menjadi korban. Amrozi mengatakan bahwa mereka adalah korban-korban suci, korban-korban peperangan suci; bahwa mereka malah seharusnya bersyukur karena telah mati syahid. Jengkel mendengar jawaban konyol Amrozi itu, rekan saya itu menyeletuk, “Mengapa bukan Anda atau keluarga Anda yang mati?” Mendengar itu, Amrozi memandangi wajah rekan saya, terdiam.

Saya juga teringat The Devils atau The Possessed, sebuah novel dari Rusia, utamanya pada karakter yang bernama Kirilov. Kirilov adalah seorang lugu yang termakan oleh ide nihilisme kawannya, Stavrogin. Tuhan tidak ada. Manusia adalah Tuhan. Apakah aksi tertinggi yang dapat menunjukan bahwa manusia adalah Tuhan? Bunuh diri. Dengan mencabut nyawa sendiri, seseorang menjadi Tuhan atas dirinya sendiri. Sebuah logika yang bisa dibilang lumayan runyam. Tetapi, Kirilov benar-benar melakukannya. Ia mencabut nyawanya sendiri.

The purity of the heart is to will one thing. Bagaimanapun juga, ada dua bagian dalam rumusan itu: “the purity of the heart” dan “to will one thing”. Manusia dapat menjadi memurnikan hatinya, berhenti menjadi orang yang double-minded. Itu adalah pencapaian yang luar biasa. Itu adalah Joker, Amrozi, Kirilov. Tapi bagaimana dengan bagian yang lain “to will one thing”?

***

A body of mental qualities yang dahsyat seperti Joker akan menjadi sangat brilian dalam aksi kejahatan. Lantas, apakah hanya yang miliuner seperti Bruce Wayne/Batman yang dapat mengalahkan Joker dengan menunjukan aksi kebaikan yang sama brilian? Tidak. Lihat, bukankah Joker hanya tertawa ketika Bruce Wayne/Batman menghajarnya? Batman hanya akan membuat Joker berkarya. Semakin canggih Batman, semakin senang Joker (dan semakin laris seri Batman the movie). Bukan tanpa arti ketika Nolan membuat Joker berkata kepada Batman, “You complete me”.

Pertarungan Batman vs Joker itu tidak adil. Sebab, Joker itu mentalitas, bukan sekedar gabungan skill dan kecanggihan teknologi milyaran seperti Batman. Dari awal film, penonton - setidaknya saya - dibuat terhenyak oleh kedigdayaan Joker. Pada adegan Joker keluar dari truk yang terguling dan menantang Batman untuk menabraknya, nada putus asa mulai berdering dalam hati penonton – setidaknya dalam hati saya. Bagaimana Joker ini dikalahkan?

Ketika pertanyaan itu muncul, saya telah mencerna Joker sebagai a body of mental qualities. Jadi, pertanyaan itu sebenarnya adalah, bagaimana mentalitas macam Joker itu dapat ditaklukan? Ini bukan soal mematikan Joker. Siapapun dapat mematikan Joker. Teknologi senjata dapat mematikan Joker. Jika pertarungannya hanyalah soal tubuh/badan/nyawa, maka setelah selesai menonton film The Dark Knight penonton dapat dengan tenang menyimpulkan bahwa Batman menang. Masalahnya, saya tidak sedang menjadi penonton macam itu. Saya melihat Joker tidak dikalahkan oleh Batman.

Tak disangka ketika mencari cara menaklukan mentalitas macam Joker ini, saya mendapat bahan dari film yang sama. Rupanya Christopher Nolan menyediakan jawaban yang sangat tepat. Nolan membuat satu adegan dalam filmnya yang merupakan adegan kunci dalam film The Dark Knight. Adegan itu, bagi saya, mendefinisikan judul The Dark Knight. Adegan itu adalah adegan narapidana membuang pemicu bom dari kapal.

Ketika Batman sedang, meminjam ungkapan Plainbread, “pissing his pants off”dan Joker tertawa-tawa, semua terbungkam oleh aksi seorang narapidana yang membuang pemicu bom. Inilah aksi yang mengalahkan Joker. Joker berhenti tertawa, kebingungan, terbungkam. (Pikiran sosiopatik saya yang berekspektasi bahwa bom itu akan diledakkan, atau, lebih parahnya, bahwa Batman akan berbuat sesuatu). Dan perhatikan, Nolan tidak membuat aksi ini dilakukan oleh penumpang kapal yang lain yang adalah the “civilized” group, tetapi justru dari kumpulan yang lain, yang “tidak normal”, yang “tervonis jahat”, dengan kata lain dari orang-orang seperti Joker itu sendiri. Jadi, Nolan memilih untuk membangkitkan sosok Joker yang lain untuk mengalahkan Joker.

Si narapidana itu adalah seorang Joker. Sebab, Bukankah aksi yang dilakukan si narapidana itu adalah a Joker kind of action? Bukankah dibutuhkan a Joker kind of mental qualities untuk dapat melakukan aksi semacam itu di situasi semacam itu di tengah-tengah kumpulan macam itu? Ketika ia membuang pemicu bom itu, bukankah itu aksi yang sejenis dengan aksi Joker ketika ia menantang Batman yang melaju dengan motornya?

Pertanyaan berikut dapat muncul: mengapa ia membuang pemicu bom itu? Apakah karena ia mau menyelamatkan orang-orang di kapal satunya? Ataukah karena ia sudah begitu muak dengan kehidupan sehingga ia mau pusing-pusing mempertimbangkan siapa yang harus mati? Nolan tidak membahas lebih lanjut. Ia memberikan kendali interpretasi pada penonton.

Film The Dark Knight selesai di sini. Tetapi bukan berarti ia terkuras habis – setidaknya bagi penonton seperti saya. Ia meninggalkan sebuah jejak untuk terus ditelusuri. Ia meninggalkan sebuah nada panjang yang menanti untuk disambung dengan nada berikutnya. Melodi macam apa yang akan terbentuk di tangan saya?
hmmm..baru nonton joker tadi..eh salah dark knight i mean
wah mesti nonton ulang nih abis ga ada text indo nya sih and kata2nya banyak yg dalam-dalam gitu... mana telat lagi...
__________________
a Stranger in the World

visit me [url]www.ifera.blogspot.com[/url] hhihii narsis.com
Reply With Quote
  #62 (permalink)  
Old 17th August 2008
Kelana's Avatar
AP - Grand Master
 
Join Date: Nov 2007
Age: 27
Posts: 437
Kelana is on a distinguished roadKelana is on a distinguished road
Default

Quote:
Originally Posted by Ochid View Post
Kelana, mo kemana engkau berkelana menelusuri jejak si Joker?
Sampai kesana.
Reply With Quote
  #63 (permalink)  
Old 17th August 2008
JC4Life's Avatar
AP - Custom Title (Change it at your control panel) must be a member for at least 45 days
 
Join Date: May 2008
Location: Indonesia
Posts: 2,115
JC4Life is an unknown quantity at this pointJC4Life is an unknown quantity at this point
Default

Joker tidak sempurna, "kesalahan" (flaw) nya ialah terlalu planning-oriented, terlalu rasional, walaupun dalam pikiran gilanya.Merasa terlalu mengerti kegelapan hati manusia.

Kebaikan TUHAN itu anugerah, dan anugerah adalah di luar rasio (bukan irasional). Makanya saya nanya ke Kelana (at least menyinggung) soal conscience. Hal ini jauh lebih dahsyat dari "the most briliant body of mental qualities" sekalipun (minjem istilah Kelana).
Reply With Quote
  #64 (permalink)  
Old 19th August 2008
Kelana's Avatar
AP - Grand Master
 
Join Date: Nov 2007
Age: 27
Posts: 437
Kelana is on a distinguished roadKelana is on a distinguished road
Default

Quote:
Originally Posted by JC4Life View Post
Joker tidak sempurna, "kesalahan" (flaw) nya ialah terlalu planning-oriented, terlalu rasional, walaupun dalam pikiran gilanya.Merasa terlalu mengerti kegelapan hati manusia.

Kebaikan TUHAN itu anugerah, dan anugerah adalah di luar rasio (bukan irasional). Makanya saya nanya ke Kelana (at least menyinggung) soal conscience. Hal ini jauh lebih dahsyat dari "the most briliant body of mental qualities" sekalipun (minjem istilah Kelana).
Saya pikir, bila dibanding-bandingkan seperti dalam suatu "kompetisi" seperti itu, maka hal menjadi manusia sempurna itu tidak ada artinya, tidak ada realitanya, spekulasi pikiran belaka. "Man is to be surpassed", kata seorang. Dengan kata lain kesempurnaan manusia bukan sebuah status pencapaian yang mandeg. Adalah Sejarah yang menyebabkannya. Sejarah mengikat kesempurnaan dan menyeretnya melewati tempat-tempat dan masa-masa yang senantiasa menyediakan ujian-ujian yang baru. Dengan kata lain, apa yang disebut kesempurnaan selalu dalam kondisi sedang-ditinggalkan/ditanggalkan. Demikian juga dengan conscience. It's historical.

Tuhan disebut maha sempurna karena Ia surpasses history. Ia tidak dapat disebut salah atau jahat, karena ia melampaui sejarah.

Joker, saya pikir, juga manusia yang berusaha melampaui sejarah yang mengikatnya (dalam hal cara berpikir, bertindak). Dan menurut saya, dia punya cara yang tepat dalam usahanya itu, yaitu dengan tertawa/menertawakan.
Reply With Quote
Reply


Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

vB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off
Trackbacks are On
Pingbacks are On
Refbacks are On


Similar Threads
Thread Thread Starter Forum Replies Last Post
Kesaksian Billy Yuriko Rose Kesaksian 17 2nd September 2008 09:48 PM
tangan agak gemeter setelah fitness kura2 Sport & Health 13 3rd May 2008 02:19 AM
Cowoku kok jadi begini setelah aktif pelayanan ? bluesaphire Love, Dating & Relationship 29 9th January 2006 10:45 PM
Kemanakah mereka pergi/tiba setelah tiada? Hahaha Diskusi General 37 26th November 2005 03:03 PM


All times are GMT +7. The time now is 04:12 AM.


Powered by vBulletin® Version 3.6.8
Copyright ©2000 - 2008, Jelsoft Enterprises Ltd.
Search Engine Optimization by vBSEO 3.1.0



*** www.AkuPercaya.com ***