(lanjutan post saya sebelumnya...)
“Because you are lukewarm – neither cold nor hot – I am about to spit you out of my mouth.”
Sifat-sifat Joker yang lain yang saya lihat bersesuaian dengan sifat-sifat manusia sempurna a la Alkitab antara lain: disiplin, kontrol-diri (berpengetahuan tinggi), bukan-milik-dunia, total/ bulat/ utuh/ terintegrasi. Semua itu adalah a body of mental qualities yang berakar dari lawan double-mindedness.
Dari sinilah keterpesonaan saya terbit dan kelak akan saya bagikan pada anak saya.
”Tetapi, bukankah Joker itu jahat? Bukankah Joker itu membunuh banyak orang? Apakah hanya karena memiliki kualitas-kualitas mental yang bagus maka segala kejahatannya dapat dimaklumi?” Dan pertanyaan-pertanyaan macam ini tidak hanya dapat diterapkan pada Joker tapi juga pada hampir semua karakter-karakter yang menjadi inspirasional bagi saya.
Di sini lah esensi anarkisme dalam metode penulisan-ulang dan pemaknaan-ulang harus terjadi. Joker setelah saya bebaskan dari kerangka karya film The Dark Knight, harus saya masukan ke dalam kerangka yang lain. Tidak bisa tidak. Lagipula begitulah natur alamiah keberadaan Joker. Ia tidak dapat ber-ada apabila tidak ditangkap dalam suatu suatu kerangka pengenalan dan pengetahuan (recognition and knowledge), yang selanjutnya disebut kesadaran (consciousness). Prosedur ini sama seperti yang dijelaskan kepada Nikodemus si orang Farisi itu.
Kembali pada kegusaran saya: ini semua adalah tentang pengaruh kejiwaan pada anak saya kelak. Saya harus bertanggungjawab pada anak saya kelak atas keterpesonaan itu. Saya bertanggungjawab, mengapa saya bisa terpesona pada karakter-karakter seperti Joker dan yang lainnya yang bakal ia temukan dari buku-buku atau film-film yang saya beli, atau copy, atau curi. Saya bertanggungjawab untuk menjelaskan mengapa saya membiarkannya mengenal dan menghidupi dunia ini apa adanya dengan segala kegelapan yang bakal ia rasakan di dalam atau di luar dirinya, pahit atau manis. Saya bertanggungjawab untuk menunjukan bahwa ungkapan “semua ada hikmahnya” bisa tidak jadi klise belaka apabila hikmah itu adalah Sang Logos, Kristus.
Pembacaan saya atas Joker sekarang ini membawa saya pada beberapa pengenalan dan pengetahuan saya dari masa lalu. Sifat karakter Joker mengingatkan saya pada sebuah cerita dari Amrozi Cs ketika beberapa waktu lalu mereka di wawancara oleh beberapa reporter di LP Nusakambangan. Seorang rekan bertugas. Diceritakannya, Amrozi mengatakan bahwa ia tidak menyesali perbuatannya. Kemudian, rekan saya itu bertanya tentang bagaimana perasaannya terhadap orang-orang yang menjadi korban. Amrozi mengatakan bahwa mereka adalah korban-korban suci, korban-korban peperangan suci; bahwa mereka malah seharusnya bersyukur karena telah mati syahid. Jengkel mendengar jawaban konyol Amrozi itu, rekan saya itu menyeletuk, “Mengapa bukan Anda atau keluarga Anda yang mati?” Mendengar itu, Amrozi memandangi wajah rekan saya, terdiam.
Saya juga teringat The Devils atau The Possessed, sebuah novel dari Rusia, utamanya pada karakter yang bernama Kirilov. Kirilov adalah seorang lugu yang termakan oleh ide nihilisme kawannya, Stavrogin. Tuhan tidak ada. Manusia adalah Tuhan. Apakah aksi tertinggi yang dapat menunjukan bahwa manusia adalah Tuhan? Bunuh diri. Dengan mencabut nyawa sendiri, seseorang menjadi Tuhan atas dirinya sendiri. Sebuah logika yang bisa dibilang lumayan runyam. Tetapi, Kirilov benar-benar melakukannya. Ia mencabut nyawanya sendiri.
The purity of the heart is to will one thing. Bagaimanapun juga, ada dua bagian dalam rumusan itu: “the purity of the heart” dan “to will one thing”. Manusia dapat menjadi memurnikan hatinya, berhenti menjadi orang yang double-minded. Itu adalah pencapaian yang luar biasa. Itu adalah Joker, Amrozi, Kirilov. Tapi bagaimana dengan bagian yang lain “to will one thing”?
***
A body of mental qualities yang dahsyat seperti Joker akan menjadi sangat brilian dalam aksi kejahatan. Lantas, apakah hanya yang miliuner seperti Bruce Wayne/Batman yang dapat mengalahkan Joker dengan menunjukan aksi kebaikan yang sama brilian? Tidak. Lihat, bukankah Joker hanya tertawa ketika Bruce Wayne/Batman menghajarnya? Batman hanya akan membuat Joker berkarya. Semakin canggih Batman, semakin senang Joker (dan semakin laris seri Batman the movie). Bukan tanpa arti ketika Nolan membuat Joker berkata kepada Batman, “You complete me”.
Pertarungan Batman vs Joker itu tidak adil. Sebab, Joker itu mentalitas, bukan sekedar gabungan skill dan kecanggihan teknologi milyaran seperti Batman. Dari awal film, penonton - setidaknya saya - dibuat terhenyak oleh kedigdayaan Joker. Pada adegan Joker keluar dari truk yang terguling dan menantang Batman untuk menabraknya, nada putus asa mulai berdering dalam hati penonton – setidaknya dalam hati saya. Bagaimana Joker ini dikalahkan?
Ketika pertanyaan itu muncul, saya telah mencerna Joker sebagai a body of mental qualities. Jadi, pertanyaan itu sebenarnya adalah, bagaimana mentalitas macam Joker itu dapat ditaklukan? Ini bukan soal mematikan Joker. Siapapun dapat mematikan Joker. Teknologi senjata dapat mematikan Joker. Jika pertarungannya hanyalah soal tubuh/badan/nyawa, maka setelah selesai menonton film The Dark Knight penonton dapat dengan tenang menyimpulkan bahwa Batman menang. Masalahnya, saya tidak sedang menjadi penonton macam itu. Saya melihat Joker tidak dikalahkan oleh Batman.
Tak disangka ketika mencari cara menaklukan mentalitas macam Joker ini, saya mendapat bahan dari film yang sama. Rupanya Christopher Nolan menyediakan jawaban yang sangat tepat. Nolan membuat satu adegan dalam filmnya yang merupakan adegan kunci dalam film The Dark Knight. Adegan itu, bagi saya, mendefinisikan judul The Dark Knight. Adegan itu adalah adegan narapidana membuang pemicu bom dari kapal.
Ketika Batman sedang, meminjam ungkapan Plainbread, “pissing his pants off”dan Joker tertawa-tawa, semua terbungkam oleh aksi seorang narapidana yang membuang pemicu bom. Inilah aksi yang mengalahkan Joker. Joker berhenti tertawa, kebingungan, terbungkam. (Pikiran sosiopatik saya yang berekspektasi bahwa bom itu akan diledakkan, atau, lebih parahnya, bahwa Batman akan berbuat sesuatu). Dan perhatikan, Nolan tidak membuat aksi ini dilakukan oleh penumpang kapal yang lain yang adalah the “civilized” group, tetapi justru dari kumpulan yang lain, yang “tidak normal”, yang “tervonis jahat”, dengan kata lain dari orang-orang seperti Joker itu sendiri. Jadi, Nolan memilih untuk membangkitkan sosok Joker yang lain untuk mengalahkan Joker.
Si narapidana itu adalah seorang Joker. Sebab, Bukankah aksi yang dilakukan si narapidana itu adalah a Joker kind of action? Bukankah dibutuhkan a Joker kind of mental qualities untuk dapat melakukan aksi semacam itu di situasi semacam itu di tengah-tengah kumpulan macam itu? Ketika ia membuang pemicu bom itu, bukankah itu aksi yang sejenis dengan aksi Joker ketika ia menantang Batman yang melaju dengan motornya?
Pertanyaan berikut dapat muncul: mengapa ia membuang pemicu bom itu? Apakah karena ia mau menyelamatkan orang-orang di kapal satunya? Ataukah karena ia sudah begitu muak dengan kehidupan sehingga ia mau pusing-pusing mempertimbangkan siapa yang harus mati? Nolan tidak membahas lebih lanjut. Ia memberikan kendali interpretasi pada penonton.
Film The Dark Knight selesai di sini. Tetapi bukan berarti ia terkuras habis – setidaknya bagi penonton seperti saya. Ia meninggalkan sebuah jejak untuk terus ditelusuri. Ia meninggalkan sebuah nada panjang yang menanti untuk disambung dengan nada berikutnya. Melodi macam apa yang akan terbentuk di tangan saya?