Saya pernah 'ikut' MLM walaupun sebenernya cuman sebagai observer (buat bahan research). Ini beberapa hasil yang saya dapet ya.
Quote:
|
Originally Posted by cute3utterfly
Hai APers
cute3 hanya mau sedikit ceritain soal MLM (boleh yaaaaaaach)
menurut gw MLM bahasa bekennya personnal franchising itu bagus .....
|
Saya sebenernya kurang setuju dengan istilah franchising soalnya setidaknya ada 2 bagian utama dari franchise tidak ada disitu. Pertama adalah cost sharing, kedua adalah penjualan produk yang sebenarnya 'diputar' didalam diri MLM sendiri.
Cost sharing saya katakan tidak ada karena (selama ini yang saya tau) organisasi MLM sama sekali tidak mengganti sebagian dari biaya 'usaha'/penjualan.
Kemudian....... sadar/tidak........ para distributor/agen MLM itu adalah konsumen dari organisasi MLM itu sendiri. Setiap produk MLM sebenarnya dibeli oleh distributornya, yang kemudian 'seakan2' dijual ke pihak luar.
Dengan kata lain, organisasi MLM menjual barangnya kepada konsumen (yang mereka sebut distributor) dan mengatakan kepada konsumen/distributor mereka itu untuk menjual ke orang lain.
Jadi pada saat sebuah produk berada di distributor/agen MLM, organisasi MLM sudah menjual produk (tidak perduli apakah produk itu sudah dijual lagi oleh agen/distributor tersebut). Sehingga konsumen langganan mereka adalah agen mereka sendiri.
Karena itu setiap organisasi MLM ada yang quota yang harus dipenuhi agen mereka.
Cara jualan seperti itu sangat berbeda dengan 'franchise umum'. Misalnya seperti McD, organisasi McD tidak menjual produk mereka ke franchisee. McD memberikan produk ke franchisee mereka untuk dijual dan hasilnya kemudian dibagi (ini diluar fee dan cost sharing dll).
Quote:
|
selama cute3 menekuni bisnis ini juga nda sekalipun cute3 nemuin satupun yang melanggar aturan atau hal2 yang ngecewain Idol cute3 JESUS of course. malah APers juga bisa nemuin kalau banyak juga anak2 Tuhan berhasil di bisnis ini dan mengembalikan kemuliaan sepenuhnya bagi Tuhan. cute3 juga nemuin bahwa pada orang2 yang sukses dibisnis ini mereka selalu melakukan langkah SUKSES yang terdiri dari Alat, Berusaha, Cita-cita, dan yang terakhir tapi selalu menjadi hal yang dibanggakan yaitu DOA.
|
Secara teoristis MLM sama sekali tidak buruk. Prakteknya di beberapa organisasi MLM pun banyak dijalankan dengan baik.
Yang buruknya saya katakan adalah pada etika praktek agen dilapangan (di Indonesia ya, enggak tau deh di negara lain

).
Sudah menjadi etika bisnis yang umum (dan di kebanyakan tempat tidak tertulis) bahwa setiap produsen harus berfokus pada konsumen. Kalo dihubungkan dengan dengan ajaran Yesus: cintailah Tuhan dan sesama.
Nah..... ini berarti setiap bagian dari produsen (termasuk agen MLM) harus melakukan yang terbaik untuk konsumen, termasuk pemberian informasi yang benar dan selengkap2nya yang sesuai konteks.
Dari semua agen MLM yang pernah saya temui (dan saya interogasi

), tidak ada satupun yang secara spontan langsung memberikan saya informasi yang benar dan lengkap sesuai dengan konteks kepentingan saya.
Seperti misalnya sebutan personal franchise. Banyak juga dari mereka yang memulai mengajak saya dengan mengajak bisnis 'franchise'. Kemudian ketika saya tanya misalnya tentang profit/cost sharing, license, tools, atau bahkan produk.............. pertanyaan saya malah dijawab dengan deskripsi 'kemegahan organisasi' dan 'mandi uang'.
Jadi kebanyakan pendekatannya pertama2 adalah dengan menciptakan/memberi/menanamkan suatu pemikiran kedalam pikiran konsumen yang sesuai dengan keinginan/produk/kondisi produsen (agen).
Padahal etika yang baik adalah keinginan/produk/kondisi si produsen (agen) lah yang harus disesuaikan/dibentuk selaras dengan keinginan konsumen.
Ini semuanya saya temukan ketika si agen berhadapan dengan konsumen yang merupakan target si agen untuk 'dirubah' menjadi agen juga.
Menurut analisa saya sih......... situasi non-etis itu adalah karena sejak dari permulaan si agen sudah di tanamkan impian untuk menjadi 'kaya' tanpa 'berusaha' (istilahnya passive income). Jadi agen2 itu ingin menjadi 'bos' dengan membangun downline yang sebanyak2nya, dengan harapan downline nya itulah yang 'memberikan duit' untuk mereka.
Misalnya di quote ini:
Quote:
|
di bisnis ini yang dibutuhkan hanyalah impian 95% sisanya teknis jadi kalo kita sudah memiliki 95% impian bisa dikatakan otomatis kita sudah sukses di bisnis ini. tinggal dari kita mau nda kita mempelajari ke 5% teknisnya.
|
Tidak ada di dunia ini yang bisa tercapai dengan 95% bermimpi.
Donald Trump pasti mempunyai visi dan impian yang luar biasa.
Tapi yang pasti dia tidak menghabiskan 95% bisnisnya dengan bermimpi.
Solusi dari masalah ini sebenarnya gampang yaitu melakukan bisnis MLM sama seperti bisnis lainnya dengan memperhatikan
kenyataan yang ada di
konsumen.
Dosen saya pernah ngomong begini: "to be successful in MLM world, you need to believe in MLM system more than you believe in your religion".
Entah ini bener/enggak. Tapi kalau dari yang saya denger dari agen2 MLM dan Cute3utterfly, mungkin saja dosen saya benar.