Welcome Guest Login or Signup
LIVE CHAT | IM LIST | BOOKMARK US | HELP GUIDE | LANGUAGE:


Go Back   Forum Diskusi Kristen Internasional > AP - DISKUSI KRISTEN PRAKTIS > Diskusi General
Register FAQ Members List Calendar Search Today's Posts Mark Forums Read

Reply
 
LinkBack Thread Tools Display Modes
  #1 (permalink)  
Old 29th July 2008
AP - Senior Master
 
Join Date: Feb 2007
Posts: 373
Sword is an unknown quantity at this pointSword is an unknown quantity at this point
Default Debat Pdt.Budi Asali VS Pdt.Teguh Hindarto

Berikut ini perdebatan antara Pdt.Budi Asali (Reformed) vs Pdt.Teguh Hindarto(Semitikisme/Yahwehisme).

Perdebatan ini dimulai dari kiriman email Pdt.Teguh Hindarto-yang berisi perdebatan dia dengan Yohanes-kepada saya dan saya forwardkan ke Pdt.Budi Asali untuk ditanggapi.
Setelah ditanggapi oleh Beliau (Pdt.Budi Asali), saya kirimkan kembali ke Pdt. Teguh H. Dan ternyata ia seperti kebakaran jenggot dengan tidak membalas tanggapan Pdt.Budi, namun hanya bermain silat lidah dengan menuduh secara membabi buta terhadap kami. Rupanya Pak Teguh sama sekali tidak punya argumentasi yang kuat untuk tetap mempertahankan ajaran semitiknya, namun dengan tidak mengakui kekalahannya didalam berargumentasi dan tetap didalam ketegartengkukannya mempertahankan ajarannya yang sesat.

Untuk efisiensi, saya tidak mengutip semua argumentasi (khususnya dari Pdt. Teguh). Mengapa? karena akan sangat panjang sekali, membosankan dan tidak berguna.
Bagi teman-teman yang berminat membaca file perdebatan ini secara keseluruhan, silahkan PM saya dan berikan alamat email anda, akan saya kirimkan file tersebut kepada anda.

Kiranya berguna.


TEGUH HINDARTO :
Mengenai kalimat “yang diduga Aramaik” saya maksudkan bukan menyalin secara keliru kalimat Anda, melainkan saya menyatakan bahwa apa yang Anda yakini sebagai Aramaik saya anggap sebagai dugaan. Mengenai kata-kata (yang menurut saya di duga kebanyakan sarjana sebagai bahasa Aramaik) seperti “Gholgota”, “Gabata”, “Betesda”, “Talita”, “Efata”, “Abba”, “Raka”, saya mengajak kita kembali kepada istilah “Hebraidi Dialekton”. Karena kata ini disusul kemudian dengan nama-nama (meskipun tidak selalu demikian) yang menurut saya di duga kebanyakan sarjana sebagai bahasa Aramaik.

GHOLGOTA (Yoh 19:17): Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota (~Ebrai?sti. Golgoqa)
GABATA (Yoh 19:13): Ketika Pilatus mendengar perkataan itu, ia menyuruh membawa Yesus ke luar, dan ia duduk di kursi pengadilan, di tempat yang bernama Litostrotos, dalam bahasa Ibrani Gabata (Ebrai?sti. de. Gabbaqa )
BETESDA (Yoh 5:2) : Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Bethzatha (Ebrai?sti. Bhqzaqa, ); ada lima serambinya
TALITA (Mrk 5:41): Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: "Talita kumi," (Taliqa koum) yang berarti: "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!"
EFATA (Mrk 7:34): Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!"(Effaqa), artinya: Terbukalah!
ABBA (Mrk 14:36): Kata-Nya: "Ya Abba (Abba), ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki."
RAKA (Mat 5:22): Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Raka (raka,()harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: More (Mwre,)! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
Anda selalu merujuk pada huruf “alaf” (a ) atau “alfa” (a) sebagai status emphatic pada nomina, yang khas Aramaik. Sebagaimana saya tegaskan bahwa tidak disangkali ada sejumlah kata dan nama yang disinyalir Aramaik (contoh: BARtimi {Mrk 10:46}, BARnaba {Kis 1:23}, BARsuma {Kis 13:6}, Abba (Mrk 14:36), Talita (Mrk 5:41). Namun penggunaan kata-kata tersebut TIDAK MEMBUKTIKAN bahwa Yahshua (Yesus) bercakap-cakap SEPENUHHNYA dalam bahasa Aramaik. Kita harus jujur pada teks bahwa kata-kata tersebut disebut dengan ‘HEBRAISTI/HEBRAIDI DIALEKTON”. Persoalannya apa yang dimaksud dengan “Hebraidi Dialekton?” Sekalipun NIV dan beberapa sarjana menduga bahwa kata tersebut Aramaik, namun akhir-akhir ini berbagai penelitian mengarah pada kesimpulan J.M. Grintz dalam Journal of Biblical Literatur, 1960, yang dikutip D. Bivin dan R. Blizzard sbb:

“Penyelidikan atas tulisan Yosephus [ahli sejarah bangsa Yahudi Abad I Ms, red] menunjukkan tanpa keraguan bahwa kapan saja Yosephus menyebut “glota Ebraion” [lidah Ibrani] dan “Ebraion dialekton” [dialek Ibrani, dia selalu memaksudkan artinya, “bahasa Ibrani” dan bukan bahasa lain” (Understanding the Difficult Word of Jesus, 2001, p.42)

Kata “Hebraidi Dialekton” muncul juga dalam kitab-kitab Apokrif pra Mesias seperti Sirakh 1:22 ( auvta. evn e`autoi/j Ebrai?sti. lego,mena kai. o[tan metacqh/| eivj e`te,ran glw/ssan [For what was originally expressed in Hebrew does not have exactly the same sense when translated into another language New Revised Standard Version]) dan 4 Makabe 12:7 (o` de. th/j mhtro.j th/| Ebrai<di fwnh/| protreyame,nhj auvto,n w`j evrou/men meta. mikro.n u[steron [But when his mother had exhorted him in the Hebrew language, as we shall tell a little later, Revised Standard Version])

Dengan dasar pemahaman di atas kita seharusnya jujur pada teks bahwa kata Kata “Hebraidi Dialekton” tiada lain adalah bahasa Ibrani. Bahkan ketika Rasul Paul menenangkan orang-orang Yahudi, dia berbicara kepada mereka dalam bahasa Ibrani, “Sesudah Paulus diperbolehkan oleh kepala pasukan, pergilah ia berdiri di tangga dan memberi isyarat dengan tangannya kepada rakyat itu; ketika suasana sudah tenang, mulailah ia berbicara kepada mereka dalam bahasa Ibrani, katanya:… (th/| ~Ebrai<di diale,ktw| le,gwn Kis 21:40). Bahkan Pe****a Aramaik pun menggunakan kata “Ebrayt” (tyarb[). Mengatakan kata “Hebraidi Dialekton” sebagai “Aramaik” jelas terlalu memaksakan asumsi pada teks. Jika memang benar Aramaik, seharusnya dipergunakan kata “Suristi Dialekton”. Maka kata-kata “Gabata”, “Betesda”, “Gholgota”, seharusnya dipahami dalam konteks kata sebelumnya yaitu “Hebraidi Dialekton” alias bahasa Ibrani. Persoalannya adalah, jika memang kata-kata yang disinggung di atas adalah Ibrani, mengapa diakhiri dengan huruf “alfa (a)?” (Contoh: Gabbaqa , Golgoqa). Mengikuti pandangan Penner dalam Douglas Hamp (Discovering Language of Jesus, 2005) diperoleh keterangan sbb:

“Gramar Yunani dari Blass-Debrunner-Funk, menjelaskan bahwa akhiran-akhiran alfa dapat ditambahkan pada kata-kata semitik pinjaman untuk menolong pelafalan [pengucapan], sebagaimana terjadi atas bentuk sabbata. Bahasa Yunani tidak menyukai kata-kata yang berakhir dengan satu konsonan [huruf mati] penghenti seperti ‘Tau’. Alfa adalah bunyi alami yang ditambahkannya, untuk menjaga kata itu agar tidak berakhiran konsonan”

Dari penjelasan di atas, huruf akhir “alfa” (a) BELUM TENTU setara dengan ungkapan Aramaik yang menggunakan huruf akhir “alaf” (a ). Menurut rumusan bahasa Aramaik, akhiran huruf “alaf” (a ) ini berperan sebagai artikel definit atau kata sandang penentu (yang artinya ini, itu) yang dituliskan pada akhir sebuah kata (Contoh: Kata “shamaya” aymv {aymv} yang artinya “langit itu” dalam Matius 26:4).


TANGGAPAN BUDI ASALI :
Pembicaraan di atas ini tidak penting. Tak ada gunanya mempersoalkan Yesus berbicara dalam bahasa apa. Yang penting, dituliskannya kata-kata Yesus dalam Kitab Suci adalah menggunakan bahasa Yunani.

TEGUH HINDARTO :
Tidak dapat ditolak bahwa salinan Perjanjian Baru yang jumlahnya 5000-an naskah telah sampai kepada kita sebagai naskah primer sumber penerjemahan Kitab Suci dalam berbagai bahasa. Bahkan angka tahun yang mendekati tahun 150 Ms, semakin membuktikan eksistensi dan originalitas Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani. Namun kita harus mempertimbangkan data-data induktif yang berasal dari Kitab Suci mauupun sumber-sumber di luar Kitab Suci sebagai berikut:
• Bahasa yang dipergunakan pada zaman Yahshua adalah Ibrani (beberapa dengan Aramaik), Latin dan Yunani (Yoh 19:19)


TANGGAPAN BUDI ASALI :
Ibrani sudah berubah menjadi Aram gara-gara pembuangan. Dan penjajahan Romawi menambahkan bahasa Yunani pada kebiasaan mereka dalam berbicara. Sangat sedikit orang yang masih bisa berbicara bahasa Ibrani.

TEGUH HINDARTO :
• Secara genealogis antropologis, Yahshua lahir dari suku Yahuda (Ibr 7:14), maka bahasa ibu Yahshua adalah Ibrani. Aspek-aspek kemanusiaan Yahshua yang Yahudi terekspresi dalam gaya hidup dan perilakunya termasuk bahasanya(baca tulisan saya YAHSHUA, YAHUDI, YUDAISME, [url=http://www.messianic-indonesia.com]Messianic Indonesia[/url])

TANGGAPAN BUDI ASALI :
Ini argumentasi apa? Sama sekali tidak punya kekuatan. Kebangsaan tidak membuktikan bahasa yang digunakan adalah bahasa bangsanya. Saya orang Cina, punya nama Cina, bapa dan ibu Cina, tetapi tidak bisa bahasa Cina. Itu juga bisa terjadi pada siapapun, termasuk Yesus!

TEGUH HINDARTO :
• Rekaman pembicaraan antara Yahshua dan orang-orang yang bertemu serta bercakap-cakap dengannya, selalu disertai terjemahan Yunaninya dalam (Contoh: Elwi elwi lama, sabacqani o[ evstin meqermhneuo,menon ~O qeo,j mou Îo` qeo,j mouÐ eivj ti, evgkate,lipe,j me {Eloi-Eloi lama sabakhthani ho estin methermeneuomenon, ho Theos mou [ho Theos mou] eis ti egkatelipes me, Mat 27:46 kai. krath,saj th/j ceiro.j tou/ paidi,ou le,gei auvth/| Taliqa koum o[ evstin meqermhneuo,menon To. kora,sion soi. le,gw e;geire {Kai kratesas tes cheiras tou paidiou legei aute Talita koum, ho estin methermeneuomenon to korasion soi lego egeiro, Mrk 5:41. Cat: kata meqermhneuo,menon {methermeneuomenon} bermakna YANG ARTINYA, sebagai bentuk penjelasan kepada pembaca bukan Yahudi)

TANGGAPAN BUDI ASALI :
Justru adanya kata-kata Aram atau Ibrani yang tahu-tahu masuk ke dalam Perjanjian Baru menunjukkan bahwa Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani, tetapi kadang-kadang ada kata-kata Ibrani atau Aram, yang lalu diberi terjemahannya dalam bahasa Yunani. Kalau Perjanjian Baru dalam Ibrani atau Aram, maka kata-kata Aram / Ibrani itu tidak mungkin bisa dberi terjemahan!

BERLANJUT .....
Reply With Quote
  #2 (permalink)  
Old 29th July 2008
AP - Senior Master
 
Join Date: Feb 2007
Posts: 373
Sword is an unknown quantity at this pointSword is an unknown quantity at this point
Default

TEGUH HINDARTO :
• David Alan Black yang berjudul, NEW TESTAMENT SEMITISM (The Bible Translator 39/2, April 1988, pp. 215-223), memberikan penelitian ringkas mengenai banyak hal yang berkaitan dengan Semitisme dalam Kitab Perjanjian Baru Yunani (The Semitic Style of the New Testament, Michael D. Marlowe, [url=http://www.bible-researcher.com]Bible Research by Michael Marlowe[/url])
 Casus Pendens. Meskipun casus pendens [istilah teknis umum dalam tata bahasa yang diambil dari bahasa latin untuk menerjemahkan “kasus yang menggantung”] diberlakukan dalam bahasa Yunani Klasik, namun susunannya lebih banyak muncul dalam bahasa Ibrani dan Aramaik dibandingkan bahasa koine. Contoh nyata muncul dalam Matius 6:4, “kai ho pater sou ho blepon en to krypto autos adoposei soi”. Kalimat ini mengekspresikan idiom Ibrani sebagai, “Dan Bapamu yang melihat di tempat tersembunyi, maka Dia akan memberimu upah”. Cara tersebut merupakan cara rumit yang tidak biasa dilakukan dari sebuah kalimat, “Dan Bapamu yang melihat di tempat tersembunyi akan memberimu upah” [GNB, NIV, NEB]. Meskipun susunan tersebut tidak dapat dijelaskan sebagai satu-satunya yang bercorak Semitik, namun kemunculannya yang berlebihan [prepoderance] dalam perkataan Yahshua, mendukung pandangan bahwa ini merupakan hasil terjemahan naskah Yunani belaka.
 Koordinasi Anak Kalimat [Coordination of clauses]. Dalam bahasa Yunani klasik, kalimat biasanya terdiri dari salah satu kata kerja pokok dan kata kerja lainnya dibawahnya dalam bentuk anak kalimat keterangan atau jenis lainnya. Di sisi lain, bahasa Ibrani cenderung meletakkan kata kerja satu demi satu, menggabungkan mereka bersama dalam kata penghubung sederhana [bahasa Ibrani, “waw”, “dan”]. Ini yang dikenal dengan sebutan parataxis, dari kata paratasso, “saya meletakkan satu persatu”. Dalam bahasa Yunani koine, susunan demikian tidak lazim. Dan hal ini telah terlebih dahulu dijelaskan kemunculannya yang kerap dalam Kitab Perjanjian Baru. Namun kemunculan secara tetap kata “dan” [Yunani, “kai”] dalam Kitab Besorah/Injil merupakan pemaksaan yang berlebihan [overstraining] dalam tulisan bahasa Yunani. Dalam Besorah/Injil, jenis demikian merupakan karakteristik menonjol dalam Markus, yang merupakan contoh tunggal dari panjangnya kalimat dalam bahasa Yunani dengan kata penghubung bersusun [subordinating participles] [Band. Mark 5:25-27]. Contoh khas gaya markus dapat ditemukan dalam Markus 10:33-34 sbb: “kata-Nya: "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan [kai] Putra Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan [kai] ahli-ahli Torah dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan [kai] mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan, dan [kai] Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan [kai] dibunuh, dan [kai] sesudah tiga hari Ia akan bangkit." Di sini kita melihat gaya bahasa Yunani yang khas, mungkin, barangkali, telah di subordinasi oleh salah satu atau lebih anak kalimat dengan menggunakan kata penghubung atau anak kalimat penghubung [relative clauses]. Beberapa terjemahan seperti KJV dan RSV mencerminkan corak Semitik dan memunculkan corak yang janggal [stylistically awkward] tersebut dalam bahasa Inggris. Namun terjemahan bahasa Inggris lainnya yang mengakui idiom-idiom Semitik tersebut, melakukan restrukturisasi terhadap pelanggaran tata bahasa [restructure the gramar slaightly] untuk menghasilkan terjemahan yang lebih diterima dalam bahasa Inggris [band. Terjemahan GNB, NIV, JB, NEB]. [Cat: Persoalan parataxis sebagai indikasi latar belakang Semitik, dibicarakan secara panjang lebar dalam artikel J.B. Lightfoot mengenai Corak Khas Besorah/Injil Yokhanan {Style of John’ Gospel} dalam situs ini, [url]www.bible-researcher.com][/url]
 Penggunaan Kata Ganti Yang Berlebihan [Redundant pronouns]. Kata ganti penghubung [relatif pronoun] dalam bahasa Ibrani, tidak dapat berubah bentuk [indeclinable] dan tanpa jenis kelamin [genderless], sehingga memerlukan kata ganti orang dalam anak kalimat yang diikutinya. Hal ini mempengaruhi sejumlah bagian dalam Kitab Perjanjian baru yang mana merupakan kata ganti yang tidak diperlukan yaang muncul setelah adanya kata penghubung, sebagaimana dalam Markus 7:25 yang secara literal dibaca, “seorang ibu yang dia sendiri [autou], yang anak perempuan miliknya [autes] kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya.” Susunan demikian mungkin saja dalam bahasa Yunani namun bukan asli Yunani, sebagaimana aslinya dalam bahasa Ibrani dan Aramaik.
 Pengganti Untuk Kata Ganti Tidak Tentu [Subtitutes for the indefinite pronoun]. Penggunaan kata “eis” ,“seorang” dan “anthrophos”, “seorang manusia”, “seorang pribadi”, sebagai pengganti bagi kata ganti tidak tentu [indefinite pronoun] “tis”, “orang yang pasti”, “seseorang yang jelas”, yang pararel dengan bahasa Yunani koine, namun asal-usulnya dalam Kitab Perjanjian Baru, sama sekali Semitik. Contoh penggunaan “eis” sebagai kata ganti tidak tentu [indefinite pronoun] dibagi dalam dua bagian:
 Dimana “eis” berfungsi sebagai kata sifat [adjective], sebagaimana dalam Matius 8:19, “seorang Ahli Kitab Suci” [Greek: eis grammateus]
 Dimana “eis” berfungsi sepenuhnya sebagai kata ganti, umumnya diikuti oleh konstruksi milik [genitive construction] atau partitive “ek”, sebagaimana nampak dalam Markus 5:22, “kepala rumah ibadat” [Greek: eis toun archisunagougoun]. Penggunaan kata “anthropos”, “orang laki-laki” dengan cara seperti ini [seperti bahasa Ibrani “ish” dan Aramaik “barnash”] sangat banyak ditemukan dalam ucapan-ucapan Yahshua dan banyak contoh-contoh yang berasal dari Besorah/Injil Markus [Band. Mark 1:23; 3:1; 4:26; 5:2; 10:7; 10:9; 12:1]


TANGGAPAN BUDI ASALI :
a) Tak ada yang aneh kalau bahasa Yunani yang digunakan oleh penulis-penulis Perjanjian Baru berbau bahasa Ibrani, karena memang bahasa Yunani yang digunakan pada saat itu adalah Hebraic Greek atau Jewish Greek.
Mungkin ini sama seperti kalau orang Indonesia menggunakan bahasa Inggris, maka Inggrisnya adalah Inggris Jowo! Dan kalau orang Amerika menggunakan bahasa Inggris, maka bahasanya adalah American English, yang seringkali berbeda dengan British English.

The International Standard Bible Encyclopedia dengan topik ‘language of the New Testament’): “it was Hebraic Greek, a special variety, if not dialect, of Biblical Greek. ... Winer (Winer-Thayer, 20) had long ago seen that the vernacular koine was ‘the special foundation of the diction of the New Testament,’ though he still admitted ‘a Jewish-Greek, which native Greeks did not entirely understand’ (p. 27)” [= itu adalah bahasa Yunani yang bersifat Ibrani, suatu jenis khusus, jika bukannya suatu dialek, dari bahasa Yunani Alkitab. ... Winer (Winner-Thayer, 20) sejak lama telah melihat bahwa bahasa Koine daerah adalah ‘fondasi khusus dari gaya menulis Perjanjian Baru’, sekalipun ia tetap mengakui ‘suatu bahasa Yunani yang bersifat Yahudi, yang orang-orang asli Yunani tidak sepenuhnya mengerti’ (hal 27)] - dari PC Study Bible 5.

Contoh:

1. Dari kata-kata Kristian Sugiyarto (ini wong Jowo / orang Jawa yang menggunakan bahasa Inggris!).

a. Kutipan pertama.
Kristian Sugiyarto: “Saya memang bersikeras bahwa Nama Yahweh itu tidak bisa diganti, dan sebaliknya Anda juga bersikeras bahwa Nama Yahweh bisa diganti. Sama-sama keras kan! ... Menurut pemahaman umum, pribadi yang berhak memberi / mengganti nama adalah pribadi yang mempunyai authority. ... Mereka yang memberi atau mengganti nama ini mempunyai wewenang terhadap oknum yang diberi / diganti nama. Anda (dan kelompok sejenis) bertindak justru mengganti nama Yahweh menjadi LORD, GOD, TUHAN, ALLAH, dst. When and how did you get the such authority to do so? ... Menurut saya ini adalah tindakan sangat-sangat lancang”.

b. Kutipan kedua.
Kristian Sugiyarto: “Ketika Yahshua (Yesus) pada hari Sabat di Sinagoge membaca Kitab Yes.61:1-2 sebagaimana dikisahkan pada Luk. 4:18-19, kitab berbahasa apa yang dibaca oleh Yesus? Ibrani bukan? Kedua ayat ini menulis Adonai YHWH 1 kali dan YHWH 2 kali; jika YHWH dibaca Adonai apakah akan ada yang terbaca Adonai Adonai?. Selain itu berarti nama ini ‘no meaning in term of nothing to do with the name of the Son Yahshua’. Thus, Yahshua should read Yahweh (instead of Adonai), sebab pada saat itulah Ia memproklamasikan bahwa diri-Nya diurapi oleh Yahweh sebagai Mesias (ay 21)”.

Kristian Sugiyarto ini punya gelar Ph. D., jadi mestinya bisa berbahasa Inggris. Tetapi perhatikan kedua bagian yang saya garis-bawahi. Itu bahasa Inggris apa? Inggris Jowo? Dalam kutipan pertama, menurut saya, kata ‘the’ atau kata ‘such’ pada bagian yang saya garis-bawahi, harus dibuang, karena kalau keduanya digunakan kalimatnya jadi aneh. Dan pada kutipan kedua, saya tidak tahu bagaimana harus membetulkan kata-kata bahasa Inggris yang kacau tersebut.
Tetapi biarpun bahasa Inggrisnya aneh, itu tetap bahasa Inggris, bukan? Ia bukannya menulis dalam bahasa Indonesia / Jawa, yang lalu diterjemahkan ke Inggris! Jadi, kesimpulannya, ‘aneh’ tak berarti itu mesti diterjemahkan dari bahasa lain.

2. Dari John Owen.
Ada seorang ahli theologia Reformed yang berasal dari Inggris, namanya John Owen (1616-1683). Ia adalah orang yang jenius, masuk College / perguruan tinggi pada usia 12 tahun! Sebagai orang Inggris, maka bahasa aslinya / bahasa ibunya adalah bahasa Inggris. Tetapi pada jamannya bahasa theologia banyak menggunakan bahasa Latin. Dan John Owen mempelajari bahasa Latin sedemikian rupa, sehingga ia tidak lagi berpikir dalam bahasa Inggris, tetapi dalam bahasa Latin. Tetapi pada waktu ia menuliskan buku-bukunya, ia menulis dalam bahasa Inggris. Apa yang terjadi? Segala macam keanehan, khususnya dalam hal pengalimatan, sehingga orang Amerikapun sukar mengerti bukunya, bukan hanya karena theologianya yang sangat mendalam, tetapi khususnya karena bahasanya, yang adalah bahasa Inggris yang berbau Latin.

3. Dari bahasa Inggris yang digunakan oleh orang-orang Amerika (USA).
Orang-orang Amerika tak terlalu peduli gramatika, sehingga mereka sering sekali menggunakan kata-kata / ungkapan yang sangat salah kalau ditinjau dari sudut gramatika bahasa Inggris. Misalnya:
a. Kalau saudara melihat di film-film, mereka sering berkata ‘Long time no see’ (= lama tak jumpa). Ini bahasa Inggris apa?
b. Mereka sering berkata ‘He don’t ...’, padahal anak yang baru belajar bahasa Inggrispun tahu kalau seharusnya ‘He doesn’t ...’.
c. Mereka sering menggunakan double negatives, seperti ‘I didn’t see nothing’, padahal lagi-lagi orang yang baru belajar bahasa Inggris pasti tahu bahwa seharusnya adalah ‘I didn’t see anything’.
Contoh-contoh ini menunjukkan penggunaan bahasa Inggris yang salah, yang mungkin sekali tak bakal dijumpai dalam kalangan orang-orang yang betul-betul menggunakan British English di negara Inggris sendiri. Tetapi apakah karena ada kesalahan / keanehan, itu lalu tidak bisa dianggap sebagai bahasa Inggris dan harus dianggap sebagai terjemahan dari bahasa lain? Tentu saja tidak, itulah American English!

Jadi, apakah aneh kalau orang-orang Yahudi yang menggunakan bahasa Yunani itu lalu menggunakan bahasa Yunani yang aneh? Itulah Hebraic Greek, atau bahasa Yunani yang berbau Ibrani / Aram. Mungkin mereka berpikir dalam bahasa Ibrani / Aram tetapi menulis dalam bahasa Yunani sehingga muncul keanehan2 seperti itu. Itu tidak membuktikan bahwa itu ditulis dalam bahasa Ibrani / Aram, yang lalu dterjemahkan ke dalam bahasa Yunani.


BERSAMBUNG..............
Reply With Quote
  #3 (permalink)  
Old 29th July 2008
AP - Senior Master
 
Join Date: Feb 2007
Posts: 373
Sword is an unknown quantity at this pointSword is an unknown quantity at this point
Default

TEGUH HINDARTO :
• Saya sarankan Anda membaca tulisan Christopher Lancaster, WAS THE NEW TESTAMENT REALLY WRITTEN IN GREEK? A Concose Compendium of the Many Internal and External Evidences of Aramaic Pe****ta Primacy ([url]www.watch.pair.com/pe****ta.html[/url]). Sekalipun saya tidak menyetujui bahwa Yahshua bercakap-cakap sepenuhnya dalam bahasa Aramaik menggantikan Ibrani, namun setidaknya pengkajian sumber Pe****ta Aramaik menyatakan bahwa ada banyak perbedaan dengan naskah Yunani, sehingga Christopher Lancaster menyimpulkan bahwa naskah Perjanjian Baru pada mulanya bukan ditulis dari bahasa Yunani. Berikut kutipan pengantar Christopher Lancaster:

“There are many Christians who believe that the New Testament was written in Aramaic, particulary in the East (Christianity is after all, an Eastern religion). But they have been a rather silent minority. It is time to raise our voices, and present the evidence. …This book will show you many errors and contradictions in the Greek text, which are solved by the Aramaic. It will show you variants in the many Greek manuscript families that are explained by the Pe****ta. It will show you how scribbal errors in the Greek translations have led to confused beliefs, compared to crystal-clear teaching in Aramaic”


TANGGAPAN BUDI ASALI :
Lagi-lagi argumentasi yang lucu. Teguh Hindarto ini mau membuktikan bahasa asli Perjanjian Baru itu bahasa apa? Apakah ia mau membuktikan bahwa bahasa asli Perjanjian Baru adalah ‘bahasa Ibrani’ atau ‘asal bukan bahasa Yunani’?
Tentang tuduhan adanya kekeliruan dalam Perjanjian Baru Yunani ini ada beberapa hal yang perlu ditekankan:
1. Saya tak mengclaim bahwa manuscripts Perjanjian Baru Yunani yang manapun sebagai ‘inerrant’ (= tak ada salahnya). Yang betul-betul inerrant hanya autographnya (= Kitab Suci asli yang langsung ditulis oleh penulis-penulis Kitab Suci), dan itu sudah tidak ada lagi.
2. Versi yang lebih benar belum tentu adalah bahasa aslinya.
Kalau ada 2 versi, apakah versi yang kelihatannya lebih benar, selalu adalah versi bahasa aslinya? Kalau ya, bagaimana dengan contoh-contoh di bawah ini:
a. 2Raja 8:25-26 - “(25) Dalam tahun kedua belas zaman Yoram, anak Ahab raja Israel, Ahazia, anak Yoram raja Yehuda, menjadi raja. (26) Ia berumur dua puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan setahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Atalya, cucu Omri raja Israel”.
2Taw 22:2 - “Ahazia berumur empat puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan setahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Atalya, cucu Omri”.
Tetapi dalam terjemahan NIV keduanya dituliskan ‘twenty-two years’ (= dua puluh dua tahun)! Tetapi pada 2Taw 22:2 versi NIV diberi catatan kaki sebagai berikut: ‘Some Septuagint manuscripts and Syriac (see also 2 Kings 8:26); Hebrew forty-two’ [= Beberapa versi Septuaginta dan Syria / Aram (lihat juga 2Raja 8:26); Ibrani: empat puluh dua].
Jelas bahwa terjemahan Kitab Suci Indonesia yang diambil dari bahasa Ibrani pasti salah, karena terjadi kontradiksi! Padahal yang salah ini diambil dari manuscripts Ibrani, yang menuliskan ’42 tahun’. NIV lebih benar, karena untuk kedua text NIV menuliskan ’22 tahun’, tetapi ini justru diambil dari beberapa manuscripts Septuaginta dan Syria / Aram!
Apakah dengan demikian kita harus menyimpulkan bahwa Yunani atau Syria / Aram, atau bahkan Inggris, merupakan bahasa asli dari Perjanjian Lama, karena mereka memberikan yang lebih benar?
b. Dalam 2Sam 24:13 dikatakan bahwa hukuman kelaparan yang ditawarkan untuk Daud adalah ‘tiga tahun’, tetapi dalam KJV/NASB dikatakan ‘seven years’ (= tujuh tahun). Sedangkan dalam ayat paralelnya, yaitu dalam 1Taw 21:11-12 semuanya mengatakan ‘tiga tahun’.
1Taw 21:11-12 - “(11) Kemudian datanglah Gad kepada Daud, lalu berkatalah ia kepadanya: ‘Beginilah firman TUHAN: Haruslah engkau memilih: (12) tiga tahun kelaparan atau tiga bulan lamanya melarikan diri dari hadapan lawanmu, sedang pedang musuhmu menyusul engkau, atau tiga hari pedang TUHAN, yakni penyakit sampar, ada di negeri ini, dan malaikat TUHAN mendatangkan kemusnahan di seluruh daerah orang Israel. Maka sekarang, timbanglah jawab apa yang harus kusampaikan kepada Yang mengutus aku.’”.
KJV: ‘three years’ (= tiga tahun).
2Sam 24:13 - “Kemudian datanglah Gad kepada Daud, memberitahukan kepadanya dengan berkata kepadanya: ‘Akan datangkah menimpa engkau tiga tahun kelaparan di negerimu? Atau maukah engkau melarikan diri tiga bulan lamanya dari hadapan lawanmu, sedang mereka itu mengejar engkau? Atau, akan adakah tiga hari penyakit sampar di negerimu? Maka sekarang, pikirkanlah dan timbanglah, jawab apa yang harus kusampaikan kepada Yang mengutus aku.’”.
KJV: ‘seven years’ (= tujuh tahun).
Tetapi NIV/RSV, yang dalam 2Sam 24:13 mengatakan ‘tiga tahun’, memberikan catatan kaki bahwa yang dalam 2Sam 24:13 ini diambil dari LXX / Septuaginta, sedangkan manuscripts Ibraninya mengatakan ‘tujuh tahun’. Jadi, dalam Ibraninya ada kontradiksi, sedangkan dalam LXX / Septuaginta tidak. Apakah ini menunjukkan bahwa Yunani adalah bahasa asli dari Perjanjian Lama?
c. 1Sam 6:19 - “Dan Ia membunuh beberapa orang Bet-Semes, karena mereka melihat ke dalam tabut TUHAN; Ia membunuh tujuh puluh orang dari rakyat itu. Rakyat itu berkabung, karena TUHAN telah menghajar mereka dengan dahsyatnya”.
KJV: ‘fifty thousand and three score and ten men’ (= lima puluh ribu tujuh puluh orang).
NASB: ‘50.070 men’ (= 50.070 orang).
Dalam NIV dikatakan 70 orang, sama seperti dalam Kitab Suci Indonesia, tetapi catatan kaki NIV mengatakan bahwa bilangan 70 ini diambil dari sedikit manuscripts Ibrani, sedangkan mayoritas manuscripts Ibrani dan LXX menyebutkan 50.070 orang (lima puluh ribu tujuh puluh)!
Adam Clarke mengatakan bahwa jumlah 50.070 ini mustahil, karena tidak mungkin desa sekecil Bet-Semes mempunyai penduduk sebanyak itu. Dan lebih tidak mungkin lagi kalau orang sebanyak itu bisa semuanya melihat ke dalam tabut perjanjian.
Adam Clarke juga mengatakan bahwa 3 manuscript Ibrani yang menyebutkan ’70 orang’ adalah manuscripts hasil abad 12, yang jelas tidak bisa dianggap sebagai manuscripts tua.
Sekarang, kalau bilangan ‘70’ itu masuk akal, sedangkan bilangan dari manuscript Ibrani yang menyebutkan ‘50.070’ jelas tak masuk akal, apakah dengan ini kita harus mengatakan bahwa bahasa asli dari Perjanjian Lama adalah Indonesia atau Inggris?
d. Kej 4:8 - “Kata Kain kepada Habel, adiknya: ‘Marilah kita pergi ke padang.’ Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia”.
KJV: ‘And Cain talked with Abel his brother: and it came to pass, when they were in the field, that Cain rose up against Abel his brother, and slew him’ (= Dan Kain berbicara dengan Habel saudaranya; dan terjadilah, pada saat mereka ada di padang, Kain bangkit terhadap Habel saudaranya, dan membunuhnya).
NASB: ‘And Cain told Abel his brother. And it came about when they were in the field, that Cain rose up against Abel his brother and killed him’ (= Dan Kain memberitahu Habel saudaranya. Dan terjadilah pada waktu mereka ada di padang, bahwa Kain bangkit terhadap Habel saudaranya dan membunuhnya).
RSV: ‘Cain said to Abel his brother, ‘Let us go out to the field.’ And when they were in the field, Cain rose up against his brother Abel, and killed him’ (= Kain berkata kepada Habel saudaranya, ‘Marilah kita keluar ke padang’. Dan pada waktu mereka ada di padang, Kain bangkit terhadap saudaranya Habel, dan membunuhnya).
NIV: ‘Now Cain said to his brother Abel, ‘Let’s go out to the field.’ And while they were in the field, Cain attacked his brother Abel and killed him’ (= Kain berkata kepada saudaranya Habel, ‘Marilah kita keluar ke padang.’ Dan sementara mereka ada di padang, Kain menyerang saudaranya Habel dan membunuhnya).
Perhatikan bahwa KJV dan NASB tidak mempunyai kata-kata itu, tetapi Kitab Suci Indonesia, RSV, dan NIV mempunyainya.

Dan NIV memberikan footnote tentang kata-kata itu yang berbunyi sebagai berikut: “Samaritan Pentateuch, Septuagint, Vulgate and Syriac; Masoretic Text does not have ‘Let’s go out to the field.’” [= Pentateuch Samaria, Septuaginta, Vulgate dan Aram; Text Masoretic (Ibrani) tidak mempunyai kata-kata ‘Marilah kita keluar ke padang’.]
RSV juga memberikan catatan kaki yang bunyinya senada dengan catatan kaki dari NIV.
Sekalipun pasti ada pro dan kontra berkenaan dengan penambahan ini, tetapi Adam Clarke dan Jamieson, Fausset & Brown menyetujui penambahan itu, dan menganggapnya ada dalam text aslinya, tetapi hilang dalam penyalinan. Alasan mereka adalah sebagai berikut:
Kata-kata ‘Cain talked with Abel his brother’ (= Kain berbicara dengan Habel saudaranya) dalam terjemahan KJV sebetulnya salah. Mengapa? Karena kata Ibrani yang diterjemahkan ‘talk with’ (= berbicara dengan) seharusnya terjemahan hurufiahnya adalah ‘said’ (= berkata). Kalau diterjemahkan ‘talked with’ (= berbicara dengan), maka memang tak perlu kata-kata Kain dituliskan. Jadi, kalimat itu tetap masuk akal sekalipun kata-kata tersebut tak ditambahkan. Tetapi kalau diterjemahkan ‘said’ (= berkata), maka tanpa penambahan kata-kata yang diucapkan oleh Kain, kalimat itu menjadi tidak masuk akal.
Selain itu, Adam Clarke mengatakan bahwa dalam Alkitab Ibrani edisi yang terbaik dalam bagian ini diberi spasi kosong, dengan suatu tanda yang menunjuk pada catatan tepi, yang mekan bahwa di sini ada suatu kekurangan dalam text itu.
Juga, penambahan itu tidak ada dalam semua manuscripts Ibrani, bahkan yang paling kuno, tetapi penambahan itu, sekalipun agak berbeda-beda, ada dalam boleh dikatakan semua versi-versi kuno seperti Text Samaria, Aram, Vulgate, LXX / Septuaginta, Targum Babilonia, dan Coptic Mesir.

Adam Clarke (tentang Kej 4:8): “‘Cain talked with Abel his brother.’ WAYO'MER QAYIN, ‘and Cain said,’ etc.; not ‘talked,’ for this construction the word cannot bear without great violence to analogy and grammatical accuracy. But why should it be thus translated? Because our translators could not find that anything was spoken on the occasion, and therefore they ventured to intimate that there was a conversation, indefinitely. In the most correct editions of the Hebrew Bible there is a small space left here in the text, and a circular mark which refers to a note in the margin, intimating that there is a hiatus or deficiency in the verse. Now this deficiency is supplied in the principal ancient versions, and in the Samaritan text. In this the supplied words are, ‘LET US WALK OUT INTO THE FIELD.’ The Syriac has, ‘Let us go to the desert.’ The Vulgate has: EGREDIAMUR FORAS, ‘Let us walk out.’ The Septuagint has: DIELTHOOMEN EIS TO PEDION, ‘Let us go out into the field.’ The two Chaldee Targums have the same reading; so has the Coptic version. This addition is completely lost from every MS. of the Pentateuch now known, and yet it is sufficiently evident from the Samaritan text the Samaritan version, the Syriac, Septuagint and Vulgate, that it was in the most authentic copies of the Hebrew before and some time since the Christian era. The words may therefore be safely considered as a part of the sacred text, and with them the whole passage reads clear and consistently: ‘And Cain said unto Abel his brother, Let us go out into the field: and it came to pass, when they were in the field, that Cain rose up,’ etc”.

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Kej 4:8): “‘And Cain talked with Abel his brother.’ The original word does not signify, in strict propriety, ‘talked,’ but ‘said;’ ... others have supposed a hiatus or gap in the text, which the Septuagint, the Samaritan, the Syriac, and other versions fill up with the words ‘Let us go into the field.’ These authorities show that the words were once in the original text, although, as has been remarked, they are not found in the most ancient Hebrew copies - as, for instance, in that one which Origen consulted”.
Catatan: kedua kutipan di atas ini tidak saya terjemahkan, karena sudah saya berikan intinya di atas.
e. Kel 2:18: “Ketika mereka sampai kepada Rehuel, ayah mereka, berkatalah ia: ‘Mengapa selekas itu kamu pulang hari ini?’”.
Bil 10:29 - “Lalu berkatalah Musa kepada Hobab anak Rehuel orang Midian, mertua Musa: ‘Kami berangkat ke tempat yang dimaksud TUHAN ketika Ia berfirman: Aku akan memberikannya kepadamu. Sebab itu ikutlah bersama-sama dengan kami, maka kami akan berbuat baik kepadamu, sebab TUHAN telah menjanjikan yang baik tentang Israel.’”.
KJV: ‘And Moses said unto Hobab, the son of Raguel the Midianite, Moses’ father in law, …’ (= Dan Musa berkata kepada Hobab, anak Raguel orang Midian itu, mertua Musa, …).
Jadi, nama mertua Musa itu Rehuel (seperti dalam Kel 2:18) atau Raguel (seperti dalam Bil 10:29 versi KJV)?
Jamieson, Fausset & Brown (tentang Kel 2:18): “‘Reuel their father’ - or Raguel (Num. 10:29) (Septuagint, Ragoueel, in both places)” [= Ayat 18. ‘Rehuel, ayah mereka’ atau Raguel (Bil 10:29) (Septuaginta, Raguel, di kedua tempat].
Apakah di sini kita harus menyimpulkan bahwa Kitab Suci Indonesia atau LXX / Septuaginta lebih benar dari Kitab Suci Ibraninya, karena dalam Kitab Suci Indonesia maupun LXX / Septuaginta perbedaan itu dihapuskan?
Jadi jelas, bahwa kalau suatu versi lebih benar dari yang lain, bisa saja itu terjadi karena versi itu membetulkan apa yang dianggap salah dalam versi yang salah itu. Jadi, kasusnya adalah sebagai berikut: Perjanjian Baru asli ada dalam bahasa Yunani, dan ini lalu disalin dan menghasilkan banyak sekali manuscripts Yunani. Salinan sudah tidak inerrant (= tidak ada salahnya), dan karena itu ada kesalahan. Pada waktu ada orang-orang tertentu menterjemahkan manuscripts Yunani itu ke bahasa Ibrani, maka mereka lalu membetulkan apa yang mereka anggap sebagai kesalahan itu. Dengan demikian, seandainya versi Ibrani dari Perjanjian Baru memang lebih benar, itu tetap tidak membuktikan bahwa bahasa Ibrani adalah bahasa asli dari Perjanjian Baru.Juga seandainya versi Yunani dari Perjanjian Baru memang salah, hal itu tetap tak bisa dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa Yunani bukanlah bahasa asli dari Perjanjian Baru!
3. Dalam menghadapi bagian-bagian Kitab Suci yang kelihatannya kontradiksi, atau dalam usaha untuk mengharmoniskan bagian-bagian tersebut, ada 2 hal yang penting untuk diingat:
a. John Murray: “Oftentimes, though we may not be able to demonstrate the harmony of Scripture, we are able to show that there is no necessary contradiction” (= Seringkali, sekalipun kita tidak bisa menunjukkan keharmonisan Kitab Suci, kita bisa menunjukkan bahwa di sana tidak harus terjadi kontradiksi) - ‘Collected Writings of John Murray’, vol I, hal 10.
b. E. J. Young: “When therefore we meet difficulties in the Bible let us reserve judgment. If any explanation is not at hand, let us freely acknowledge that we do not know all things, that we do not know the solution. Rather than hastily to proclaim the presence of an error is it not the part of wisdom to acknowledge our ignorance?” (= Karena itu pada waktu kita menjumpai problem dalam Alkitab baiklah kita menahan diri dari penghakiman. Jika tidak ada penjelasan yang tersedia, baiklah kita dengan bebas mengakui bahwa kita tidak mengetahui segala sesuatu, bahwa kita tidak mengetahui penyelesaiannya. Dari pada dengan tergesa-gesa menyatakan adanya kesalahan, tidakkah merupakan bagian dari hikmat untuk mengakui ketidak-tahuan kita?) - ‘Thy Word Is Truth’, hal 182.
4. Ada satu hal penting yang ingin saya tambahkan berkenaan dengan orang-orang yang mengatakan bahwa Alkitab ada salahnya, yaitu bahwa anggapan awal pada saat kita mau mempelajari Kitab Suci merupakan segala sesuatu yang sangat penting, dan menentukan ke arah mana kita akan pergi!
William G. T. Shedd: “One or the other view of the Scriptures must be adopted; either that they were originally inerrant and infallible, or that they were originally errant and fallible. The first view is that of the church in all ages: the last is that of the rationalist in all ages. He who adopts the first view, will naturally bend all his efforts to eliminate the errors of copyists and harmonize discrepancies, and thereby bring the existing manuscripts nearer to the original autographs. By this process, the errors and discrepancies gradually diminish, and belief in the infallibility of Scripture is strengthened. He who adopts the second view, will naturally bend all his efforts to perpetuate the mistakes of scribes, and exaggerate and establish discrepancies. By this process, the errors and discrepancies gradually increase, and disbelief in the infallibility of Scripture is strengthened” (= Salah satu dari pandangan-pandangan tentang Kitab Suci ini harus diterima; atau Kitab Suci orisinilnya itu tidak bersalah, atau Kitab Suci orisinilnya itu bersalah. Pandangan pertama adalah pandangan dari gereja dalam segala jaman: pandangan yang terakhir adalah pandangan dari para rasionalis dalam segala jaman. Ia yang menerima pandangan pertama, secara alamiah akan berusaha untuk menyingkirkan kesalahan-kesalahan dari para penyalin dan mengharmoniskan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian, dan dengan itu membawa manuscript itu lebih dekat kepada autograph yang orisinil. Melalui proses ini, kesalahan-kesalahan dan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian berkurang secara bertahap, dan kepercayaan terhadap ketidakbersalahan Kitab Suci dikuatkan. Ia yang menerima pandangan yang kedua, secara alamiah akan berusaha untuk mengabadikan / menghidupkan terus-menerus kesalahan-kesalahan dari ahli-ahli Taurat / para penyalin, dan melebih-lebihkan dan meneguhkan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian itu. Melalui proses ini, kesalahan-kesalahan dan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian bertambah secara bertahap, dan ketidak-percayaan kepada ketidakbersalahan Kitab Suci dikuatkan) - ‘Calvinism: Pure and Mixed’, hal 137.
E. J. Young: “It is perfectly true that if we begin with the assumption that God exists and that the Bible is His Word, we shall wish to be guided in all our study by what the Scripture says. It is equally true that if we reject this foundational presupposition of Christianity we shall arrive at results which are hostile to supernatural Christianity. If one begins with the presuppo-sitions of unbelief, he will end with unbelief’s conclusions. If at the start we have denied that the Bible is God’s Word of if we have, whether consciously or not, modified the claims of the Scriptures, we shall come to a position which is consonant with our starting point. He who begins with the assumption that the words of the Scriptures contain error will never, if he is consistent, come to the point of view that the Scripture is the infallible Word of the one living and eternal God. He will rather conclude with a position that is consonant with his starting point. If one begins with man, he will end with man. All who study the Bible must be influenced by their foundational presuppositions” (= Adalah sesuatu yang benar bahwa jika kita mulai dengan anggapan bahwa Allah ada dan bahwa Alkitab adalah FirmanNya, kita akan ingin untuk dipimpin dalam seluruh pelajaran kita oleh apa yang Kitab Suci katakan. Juga adalah sesuatu yang sama benarnya bahwa jika kita menolak anggapan dasar dari kekristenan ini, maka kita akan sampai pada hasil yang bermusuhan terhadap kekristenan yang bersifat supranatural. Jika seseorang mulai dengan anggapan dari orang yang tidak percaya, ia akan berakhir dengan kesimpulan dari orang yang tidak percaya. Jika sejak awal kita telah menolak bahwa Alkitab adalah Firman Allah, atau jika kita, secara sadar atau tidak, mengubah claim / tuntutan dari Kitab Suci, kita akan sampai pada suatu posisi yang sesuai dengan titik awal kita. Ia yang mulai dengan anggapan bahwa kata-kata dari Kitab Suci mengandung kesalahan tidak akan pernah, jika ia konsisten, sampai pada pandangan bahwa Kitab Suci adalah Firman yang tak bersalah dari Allah yang hidup dan kekal. Sebaliknya ia akan menyimpulkan dengan suatu posisi yang sesuai dengan titik awalnya. Jika seseorang mulai dengan manusia, ia akan berakhir dengan manusia. Semua yang mempelajari Alkitab pasti dipengaruhi oleh anggapan dasarnya) - ‘Thy Word Is Truth’, hal 187.

Memang dalam kedua kutipan di atas ini, yang dipersoalkan adalah orang-orang Liberal yang menganggap Kitab Suci ada salahnya. Tetapi ini juga bisa diterapkan kepada orang-orang dari kelompok Yahweh-isme seperti Pdt. Yakub Sulistyo dan Kristian Sugiyarto. Kalau mereka datang kepada Perjanjian Baru Yunani, dengan suatu kepercayaan bahwa itu adalah terjemahan dari Perjanjian Baru Ibrani, maka mereka akan mempunyai kecenderungan untuk mencari-cari, dan bahkan membesar-besarkan, kesalahan dari Perjanjian Baru Yunani.
Tidakkah mereka sadar bahwa Perjanjian Lama sendiri, dalam bahasa Ibraninya sekalipun, mempunyai banyak sekali bagian-bagian yang kontradiksi satu sama lain? Saya kira mereka tahu hal itu, hanya saja mereka tak meng’expose’nya, atau bahkan menyembunyikannya! Mengapa fakta ini tidak membuat mereka beranggapan bahwa Ibrani bukan bahasa asli dari Perjanjian Lama, seperti yang mereka lakukan terhadap Perjanjian Baru dengan bahasa Yunaninya?


BERSAMBUNG..........
Reply With Quote
  #4 (permalink)  
Old 29th July 2008
AP - Senior Master
 
Join Date: Feb 2007
Posts: 373
Sword is an unknown quantity at this pointSword is an unknown quantity at this point
Default

TEGUH HINDARTO :
• Pengutipan sumber di atas (Christopher Lancaster) bukan dimaksudkan saya ambivalen dan kontradiktf dengan pandangan sebelumnya (bahwa Yahshua berbahasa tutur Ibrani) namun sekedar memberi ruang kritis dalam diskusi akademis mengenai kewibawaan naskah Pe****ta yang tidak sebagaimana dugaan kebanyakan sarjana, sebagai terjemahan dari naskah Perjanjian Baru Yunani, sebaliknya justru naskah Yunani (setidaknya menurut penelitian Christopher) menyalin dan di sana sini menyalahpahami maksud teks Pe****ta sehingga terjadi scribbal errors. Bagi kepentingan akademis, nampaknya kita harus mencari benang merah relasi antara bahasa Ibrani dan Aramaik dalam penulisan Kitab Perjanjian Baru sebelum pada akhirnya dipublikasikan dalam naskah Yunani. Yang menarik mengenai “relasi” bahasa-bahasa tersebut, Talmud Yerusalem menyatakan sbb: “Empat bahasa adalah berharga: Yunani untuk nyanyian, Latin untuk perang, Aramaik untuk penguburan dan Ibrani untuk percakapan” [Tractate Sotah 7:2, 30a). Selanjutnya dalam Sifre, Deuteronomy 46 dikatakan “itulah posisi Aramaik, di dalam kubur; akan tetapi bahasa Ibrani memiliki posisi yang tinggi untuk bertutur kata dan ibadah. Jadi, bagi seorang ayah Yahudi, tidak berbicara kepada anak lelakinya dalam bahasa Ibrani mulai dari anak itu belajar berjalan dan tidak mengajarkan Torah, adalah seolah-olah ia telah menguburnya” (S. Safrai dan M. Stern, The Jewish People in the First Century {Philadelphia, Fortress Press, 1976} Vol 2, p.1034)

TANGGAPAN BUDI ASALI :
Terus terang saja, saya tak percaya pada sumber-sumber dari kalangan Yahweh-isme yang sering mendapatkan bahan dari PDSEUDO-SCHOLARS, alias ahli-ahli Alkitab yang palsu! Sumber-sumber yang saya dapatkan dari Scholars yang sejati, dan bahkan dari sumber-sumber sekuler yang berkwalitas, seperti Encyclopedia Britannica, Encyclopedia Encarta, dsb, sangat berbeda dengan apa yang dikatakan oleh sumber-sumber mereka.
Bagaimana bapa mengajar anak bahasa Ibrani kalau ia sendiri setelah pulang dari pembuangan tak lagi bisa berbicara dalam bahasa itu?



TEGUH HINDARTO :
• Brian Knowles, dalam WHICH LANGUAGE DID JESUS SPEAK-ARAMAIC OR HEBREW?”([url=http://www.godward.org/Hebrew%20Roots/did%20jesus%20speak%20hebrew.htm]Hebrew Roots Feature[/url]) menjelaskan sbb:

Prof. David Flusser (Sarjana Yahudi Ortodox dari Universitas Yerusalem), menekuni kehidupan para rabi abad pertama dan termasuk di dalamnya adalah (Yahshua). Dalam bukunya “Jewish Sources in Early Christianity”, Flusser menyatakan teori yang umum bahwa Markus menulis pertama kalinya dalam bahasa Yunani. Bahasa tutur orang Yahudi pada waktu itu adalah Ibrani, Aramaik dan untuk tingkatan tertentu dalam bahasa Yunani. Hingga akhir-akhir ini dipercayai oleh banyak sarjana bahwa bahasa tutur para murid (Yahshua) adalah Aramaik. Memang mungkin sekali bahwa (Yahshua) benar-bena menggunakan bahasa Aramaik dari waktu ke waktu, TETAPI selama periode itu, IBRANI ADALAH BAHASA HARIAN MAUPUN BAHASA STUDI. Injil markus berisi sedikit kata-kata Aramaik, dan inilah yang mendistorsikan para sarjana” (p.11)

‘Saat ini, setelah setelah penemuan DSS Ibrani Ben Sira (Ecclesiasticus) dan surat-surat bar Khokba dan studi lebih lanjut bahasa naskah-nasah kuno Yahudi, TELAH DITERIMA PANDANGAN BAHWA SEBAGIAN BESAR RAKYAT (YAHUDI) LANCAR DALAM BERBAHASA IBRANI….perumpamaan-perumpamaan dalam Literatur Rabinik…disampaikan dalam bahasa Ibrani di dalam semua periode. Tidak ada dasar untuk berasumsi bahwa (Yahshua) tidak berbicara dalam bahasa Ibrani; dan ketika kita diberi tahu bahwa Paul berbicara dalam bahasa Ibrani (Kis 21:40), kita harus menerima informasi ini seperti yang dinyatakannya” (p.1)

“Ada perkataan (Yahshua) yang dapat diterjemahkan baik dengan Ibrani maupun Aramaik; tetapi ada beberapa yang hanya dapat diterjemahkan ke dalam Ibrani dan tidak ada satupun yang hanya dapat diterjemahkan ke dalam Aramaik. Oleh karena itu seseorang dapat mendemonstrasikan asal-usul Injil Ibrani dengan menerjemahkan balik (Injil Yunani) ke dalam bahasa Ibrani (Flusser p.11)


TANGGAPAN BUDI ASALI :
Lagi-lagi ini tidak penting! Tidak penting Yesus bicara dalam bahasa apa. Yang penting Perjanjian Baru dituliskan dalam bahasa apa! Apakah pada waktu menyusun khotbah Teguh Hindarto menganalisa / mengexposisi kata-kata yang dalam faktanya diucapkan Yesus (yang tidak diketahui dengan pasti apa), atau ia menganalisa / mengexposisi text Yunani yang memang pasti ada?


TEGUH HINDARTO :
• Kristian Sugiyarto memberikan ulasan sbb:, “Dalam penelitiannya, DR. Robert Lindsey berhubungan sangat dekat dengan Prof. Flusser. Ia mulai ambisinya yang kuat dalam proyek penerjemahan PB Yunani ke dalam bahasa Ibrani untuk mengidentifikasi asal-usulnya. Cerita silsilah (Yahshua) pada awal Kitab Matius menunjukkan hasil yang mencengankan, bahwa Matius membangun ceritanya dengan tipikal pola Ibrani, meskipun naskah yang kita miliki adalah dalam bahasa Yunani. Lindsey melanjutkan terjemahannya terus ke dalam bahasa Ibrani ternyata dihasilkan struktur kata-kalimat Ibrani yang sempurna seperti naskah Ibrani. Ketika membandingkan antara Kitab Markus dengan Kitab Matius dan Lukas, ia mulai menyadari adanya sesuatu yang menghantui terjadi. Sintak bahasa Yunani yang digunakan (PB Yunani) ternyata bukanlah bahasa Yunani yang baik, tetapi sintak ucapannya itu sempurna untuk Ibrani. Ini suatu misteri yang perlu dicari penyelesaiannya. Akhirnya disimpulkan bahwa di dalam Kitab PB Yunani yang kita percayai ‘asli’ sesungguhnya terdapat teks Ibrani” (IBRANI, BAHASA TUTUR YESUS: Runtuhnya Mitos Aamaik, unpublished, hal 63).

TANGGAPAN BUDI ASALI :
Jangan terlalu cepat ‘jump to the conclusion’ (= loncat pada suatu kesimpulan). Kemungkinan alternatif, yaitu digunakannya bahasa Yunani yang berbau Ibrani (Hebraic Greek), yang sudah saya jelaskan di atas, itu yang lebih benar!
Juga ia menyebut Injil Lukas. Itu sama sekali tidak mungkin, karena Lukas adalah satu-satunya penulis Perjanjian Baru yang bukan orang Yahudi tetapi orang Yunani. Ini terlihat dari Kol 4:10-14 - “(10) Salam kepada kamu dari Aristarkhus, temanku sepenjara dan dari Markus, kemenakan Barnabas - tentang dia kamu telah menerima pesan; terimalah dia, apabila dia datang kepadamu - (11) dan dari Yesus, yang dinamai Yustus. Hanya ketiga orang ini dari antara mereka yang bersunat yang menjadi temanku sekerja untuk Kerajaan Allah; mereka itu telah menjadi penghibur bagiku. (12) Salam dari Epafras kepada kamu; ia seorang dari antaramu, hamba Kristus Yesus, yang selalu bergumul dalam doanya untuk kamu, supaya kamu berdiri teguh, sebagai orang-orang yang dewasa dan yang berkeyakinan penuh dengan segala hal yang dikehendaki Allah. (13) Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang dia, bahwa ia sangat bersusah payah untuk kamu dan untuk mereka yang di Laodikia dan Hierapolis. (14) Salam kepadamu dari tabib Lukas yang kekasih dan dari Demas”.

Dalam text di atas ini Paulus mengatakan hanya 3 orang, yaitu Aristarkhus, Markus, dan Yesus / Yustus, yang adalah orang-orang bersunat (= orang-orang Yahudi) yang menyertai dia. Jadi jelas bahwa 3 yang terakhir, yaitu Epafras, Lukas, dan Demas, bukanlah orang-orang bersunat. Jadi, Lukas jelas bukan orang Yahudi!

Juga Lukas menulis kepada Theofilus (Luk 1:1 Kis 1:1), yang bisa dipastikan adalah seorang Yunani, karena namanya merupakan nama Yunani. Bagaimana mungkin Lukas, yang bukan orang Yahudi, bisa menulis kitabnya kepada seorang Yunani, dalam bahasa Ibrani?
Luk 1:1 - “Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita”.
Kis 1:1 - “Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus”.



TEGUH HINDARTO :
Mengenai historitas dan validitas naskah DU TILLET, akan saya berikan informasi dan beberapa kajian sekitar DU TILLET sbb ([url]www.torahresources.com):[/url]

TANGGAPAN BUDI ASALI :
Sama seperti di atas, kalau DuTillet berbeda dengan naskah Yunani, apa sebabnya DuTillet yang dianmggap benar? Dan kalaupun memang DuTillet yang benar, itu bisa terjadi karena Duillet membe4narkan apa yang dianggap salah dari naskah Yunani, dari mana DuTillet diterjemahkan! Jadi, ini tak punya kekuatan argument sama sekali.
Juga baik Sem Tob maupun DuTillet hanya mencakup Injil Matius saja, dan keduanya tiodak mempunyai nama Yahweh!
Seandainya Matius memang bahasa aslinya adalah Ibrani, tetapi Lukas bahasa aslinya adalah Yunani. Itu adalah argumentasi yang lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa pengubahan Yahweh menjadi KURIOS / Lord / Tuhan merupakan sesuatu yang benar, Karena ada otoritas ilahi dari Roh Kudus yang mengilhami Lukas!


TEGUH HINDARTO :
Mengenai konjugasi kai. (kai) dalam bahasa Yunani, menarik untuk dikaji secara mendalam. Kembali Mengutip pandangan Alan Black yang mengulas karakteristik konjugasi KAI, sbb:

Koordinasi Anak Kalimat [Coordination of clauses]. Dalam bahasa Yunani klasik, kalimat biasanya terdiri dari salah satu kata kerja pokok dan kata kerja lainnya dibawahnya dalam bentuk anak kalimat keterangan atau jenis lainnya. Di sisi lain, bahasa Ibrani cenderung meletakkan kata kerja satu demi satu, menggabungkan mereka bersama dalam kata penghubung sederhana [bahasa Ibrani, “waw”, “dan”]. Ini yang dikenal dengan sebutan parataxis, dari kata paratasso, “saya meletakkan satu persatu”. Dalam bahasa Yunani koine, susunan demikian tidak lazim. Dan hal ini telah terlebih dahulu dijelaskan kemunculannya yang kerap dalam Kitab Perjanjian Baru. Namun kemunculan secara tetap kata “dan” [Yunani, “kai”] dalam Kitab Besorah/Injil merupakan pemaksaan yang berlebihan [overstraining] dalam tulisan bahasa Yunani. Dalam Besorah/Injil, jenis demikian merupakan karakteristik menonjol dalam Markus, yang merupakan contoh tunggal dari panjangnya kalimat dalam bahasa Yunani dengan kata penghubung bersusun [subordinating participles] [Band. Mark 5:25-27]. Contoh khas gaya markus dapat ditemukan dalam Markus 10:33-34 sbb: “kata-Nya: "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan [kai] Putra Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan [kai] ahli-ahli Torah dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan [kai] mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan, dan [kai] Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan [kai] dibunuh, dan [kai] sesudah tiga hari Ia akan bangkit." Di sini kita melihat gaya bahasa Yunani yang khas, mungkin, barangkali, telah di subordinasi oleh salah satu atau lebih anak kalimat dengan menggunakan kata penghubung atau anak kalimat penghubung [relative clauses]. Beberapa terjemahan seperti KJV dan RSV mencerminkan corak Semitik dan memunculkan corak yang janggal [stylistically awkward] tersebut dalam bahasa Inggris. Namun terjemahan bahasa Inggris lainnya yang mengakui idiom-idiom Semitik tersebut, melakukan restrukturisasi terhadap pelanggaran tata bahasa [restructure the gramar slaightly] untuk menghasilkan terjemahan yang lebih diterima dalam bahasa Inggris [band. Terjemahan GNB, NIV, JB, NEB]. [Cat: Persoalan parataxis sebagai indikasi latar belakang Semitik, dibicarakan secara panjang lebar dalam artikel J.B. Lightfoot mengenai Corak Khas Besorah/Injil Yokhanan {Style of John’ Gospel} dalam situs ini, [url=http://www.bible-researcher.com]Bible Research by Michael Marlowe[/url]


TANGGAPAN BUDI ASALI :
Perdebatan ini hanyut ke arah yang tak ada gunanya. Yang penting membuktikan bahasa asli dari Perjanjian Baru, bahkan dari salah satu kitab dari Perjanjian Baru, yang mengandung ayat Perjanjian Lama yang mengandung Yahweh, dan lalu dalam pengutipan diubah menjadi KURIOS. Satu saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa pengubahan Yahweh menjadi KURIOS / Lord / Tuhan adalah sah. Dan itu sudah dipenuhi secara meyakinkan dalam Injil Lukas. Jadi, untuk apa membicarakan sampah seperti di atas ini?

BERSAMBUNG............
Reply With Quote
  #5 (permalink)  
Old 29th July 2008
AP - Senior Master
 
Join Date: Feb 2007
Posts: 373
Sword is an unknown quantity at this pointSword is an unknown quantity at this point
Default

TEGUH HINDARTO :
Saya tidak menaruh serius terhadap artikel Anda tersebut karena itu sudah menjadi paradigma umum dalam dunia akademik teologi bahwa penulisan Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani. Kesimpulan ini diperoleh karena mereka mendasarkan pada BUKTI FAKTUAL pada naskah Yunani yang berjumlah sekitar 5000-an yang tersebar dalam bentuk manuskrip, dan potongan papirus serta serpihan perkamen. Namun dengan mempertimbangkan tiga hal yaitu :

• EKSPRESI SEMITISME dalam naskah Perjanjian Baru berbahasa Yunani
• EKSISTENSI NASKAH INJIL & KITAB PERJANJIAN BARU SEMITIK dari periode Abad Pertengahan semisal DU TILLET, SHEM TOV, MUNSTER, CRAWFORD
• EKSISTENSI NASKAH PE****TA ARAMAIK yang secara gramatikal tidak sama dengan naskah Perjanjian Baru berbahasa Yunani

Dengan mempertimbangkan tiga hal tersebut, PATUTLAH kita melakukan DUGAAN bahwa pada mulanya Besorah/Injil serta keseluruhan Kitab Perjanjian Baru tidak dituliskan dalam bahasa Yunani melainkan Ibrani yang berasimilasi dengan sejumlah kosa kata Aramaik. Kata DUGAAN jangan diartikan sama sekali tiada bukti empiris. Karena, “the absence of evidence is not evidence of absence”. Anda tidak dapat melemahkan dugaan saya dengan “argumentum e silentio”. Mengenai keyakinan saya sebelum menemukan bukti Kitab Perjanjian Baru berbahasa Ibrani, persis seperti adegan DR. Rushel yang menjabarkan teori “Peleburan Dingin” dalam film “THE SAINT”. Ketika ditanya oleh para pakar lain, “Bagaimana Anda begitu yakin bahwa teori itu akan terbukti benar jika Anda sendiri belum dapat membuktikannya?” maka DR Rushel yang cantik menjawan dengan penuh gairah di matanya, “Saya dapat merasakannya, bahwa teori itu dapat dibuktikan, seperti air yang mengalir dari lautan menuju pantai”. Inilah sikap saya ketika memberikan pernyataan bahwa saya tidak yakin bahwa naskah Perjanjian baru ditulis dalam bahasa Yunani” (Teguh Hindarto, MTh., Tanggapan Atas Artikel: Mengapa harus Yahweh?”, Majalah Rohani HIKMAT No 107 September 2007, Po. Box 122 Kebumen 54300, Jateng, hal 5-6 {www.messianic-indonesia.com}). Bukanklah dalam bagian sebelumnya saya telah memberikan kajian secara mendalam ketika menguji validitas pernyataan Anda bahwa Kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani?


TANGGAPAN BUDI ASALI :
Dalam debat terbuka antara saya dan Pendeta Esra versus Teguh Hindarto dan Kristian Sugiyarto, MEREKA BERDUA MENGAKUI BAHWA BAHASA ASLI PERJANJIAN BARU ADALAH BAHASA YUNANI. Kalau tak percaya, lihat VCD / DVD nya! Mengapa sekarang Teguh Hindarto ngotot (baca ‘dengan tegar tengkuk’) ‘balik kucing’ dan mempertahankan bahwa bahasa asli Perjanjian Baru adalah bahasa Ibrani? Saya kira Teguh Hindarto adalah penipu / pendusta dan adalah orang yang tidak tulus sama sekali dalam mencari kebenaran!!! Sebaliknya, dengan segala macam cara, halal atau tidak, berusaha mempertahankan apa yang ia tahu tidak benar! SAYA MINTA TEGUH HINDARTO UNTUK BERTOBAT! Atau Tuhan akan buang anda ke dalam neraka karena kesesatan dan penyesatan yang anda lakukan!


TEGUH HINDARTO :
Konteks pengutipan penemuan naskah Laut Mati, untuk memetakan dan menelusuri kebudayaan dan bahasa tulis serta percakapan pada peralihan Abad sebelum dan sesudah kelahiran Mesias. Dari 600-an manuskrip, dihasilkan rasio penggunaan bahasa Ibrani dan Aramaik sbb:

“If we compare the total number of pages in these ten sectarian scrolls, we again find a nine-to-one ratio of Hebrew to Aramaic (179 pages in the nine Hebrew scrolls to 22 pages of Aramaic in the Genesis Apocryphon, David Bivin & Roy Blizard, UNDERSTANDING THE DIFFICULT WORDS OF JESUS, 2001, P.29)

Perbandingan rasio penggunaan bahasa Ibrani dibandingkan Aramaik, signifikan dengan upaya membuktikan dalam bahasa apakah Yahshua berkomunikasi. Bahasa Ibrani terbukti bukan bahasa mati melainkan bahasa yang tetap hidup, berkeksistensi dan dipergunakan baik dalam percakapan sehari-hari, pengajaran maupun tulisan, di samping juga bahasa Aramaik. Mengenai temuan gulungan 7Q5 di gua 7 yang merupakan fragmen dari Markus 6:52-53 dalam bahasa Yunani, dengan 20 huruf Yunani, tidak membuktikan bahwa bahasa percakapan Yahshua adalah dalam bahasa Yunani. Meskipun Robert Jones dalam THE DEAD SEA SCROLLS AND CHRISTIANITY ([url]www.sundayschollministries.com[/url]) mengatakan sbb:

“Jose O’ Calaghan, a Spanish Jesuit believes that some fragment from Cave 7 are from the Gospel of Mark. The theory is just (barely) possible. Cave 7 was unique because all 18/19 fragments found were in GREEK (most of the other scrolls are in Hebrew or Aramaic). Greek was of course, the language of the early Christians but it was also the language of Hellenized Jews”

Namun “Early Christians” di sini harus dipahami sebagai orang-orang non Yahudi yang kelak menerima Mesias, tentu saja menggunakan bahasa Yunani sebagai bahasa percakapan (Apalagi eksistensi bahasa Yunani, Latin, Ibrani, menjadi bahasa umum pada zaman itu, Yohanes 19:20) dan kelak dalam penerjemahan ucapan-ucapan Mesias sehingga menjadi Kitab Perjanjian Baru versi Greek.


TANGGAPAN BUDI ASALI :
Selalu membicarakan dengan bahasa apa Yesus bicara (dalam faktanya). Ini tak ada gunanya! Dengan bahasa apapun Ia bicara, penulisannya dalam Perjanjian Baru dilakukan dalam bahasa Yunani. Ini yang penting!

TEGUH HINDARTO :
Mengenai eksegesa Nehemia 13:24 yang mengatakan, “Sebagian (ycix] {KHATSI) dari anak-anak mereka berbicara bahasa Asdod atau bahasa bangsa lain itu dan tidak tahu berbicara bahasa Yahudi” sudah jelas sebagaimana yang telah saya uraian sebelumnya. Bahwa pembacaan ayat 24, tidak dapat dilepaskan dari pembacaan ayat 23 yang mengatakan, “Pada masa itu juga kulihat bahwa orang orang Yahudi memperisteri perempuan-perempuan Asdod, perempuan-perempuan Amon atau perempuan-perempuan Moab.” Ayat ini TIDAK MEMBUKTIKAN bahwa bahasa Aramaik atau bahasa asing menggantikan peranan bahasa Ibrani. Sebaliknya, terjadi asimilasi budaya dan bahasa sehingga menyebabkan BEBERAPA(ycix] {KHATSI) bukan SEMUA (lk' {KAL}), orang Yahudi tidak mengerti berkata-kata dalam bahasa Yahudi.

TANGGAPAN BUDI ASALI :
No comment! Saya bosan dengan ketololan seperti ini!


BERSAMBUNG.............
Reply With Quote
  #6 (permalink)  
Old 29th July 2008
AP - Senior Master
 
Join Date: Feb 2007
Posts: 373
Sword is an unknown quantity at this pointSword is an unknown quantity at this point
Default

TEGUH HINDARTO :
Argumentasi saya mengenai surat Rasul Paul sudah sangat jelas dengan disertai penjelasan latar belakang keagamaan, pendidikan dan karakteristik suratnya. Namun Anda masih teap juga skeptis bahwa Paul berbicara dalam bahasa Yunani dan menuliskan langsung dalam bahasa Yunani. Sejak semula telah saya katakan bahwa Paul tentu saja bisa berbahasa Yunani meski tidak fasih. Indikasi ini dapat kita lihat dalam percakapan yang terekam dalam Kisah Rasul 21:37 (pro.j se, o` de. e;fh ~Ellhnisti. ginw,skeij). namun kembali kita diberi penegasan bahwa dia berbicara secara fasih dalam bahasa Ibrani (th/| ~Ebrai<di diale,ktw|) sebagaimana terekam dalam Kisah Rasul 21:40.
Mengenai pernyataan Anda bahwa saya memaksakan situasi Abad XXI kepada Abad I zaman Paul, sungguh tidak berdasar. Justru cara Anda mengkontradiksikan bahwa Yeremiah yang hidup beratus tahun sebelum Paul, sudah memiliki Sekretaris, tidak bisa diterapkan pada Paul, sangat tidak masuk akal. Apa dasar epistemologis mengatakan bahwa situasi yang dialami Yeremiah tidak bisa dialami Paul?

Bahkan Bart D. Ehrman dalam bukunya MISQUOTING JESUS yang kontroversial, mengatakan demikian:

“Yang pertama harus kita ketahui adalah bahwa tampaknya surat itu, sebagaimana surat Paulus lainnya, TIDAK DITULIS OLEH TANGANNYA SENDIRI tetapi didiktekan kepada SEORANG JURU TULIS SEKRETARIS. Bukti untuk hal itu terdapat di bagian akhir surat, dimana Paulus menambahkan sebuah catatan yang ia tulis sendiri, sehingga penerima surat akan tahu bahwa dialah yang bertanggung jawab atas surat itu (suatu teknik yang biasa digunakan untuk surat-surat yang didiktekan pada zaman dahulu). Catatan itu mengatakan, “Lihatlah, bagaimana besarnya huruf-huruf yang kutulis kepadamu dengan tanganku sendiri” (Gal 6:11). Dengan kata lain, tulisan tangan Paulus lebih besar dan kemungkinan tampak kurang profesional dibandingkan tulisan tangan sang penyalin yang kepadanya Paulus mendiktekan surat itu”

Bagaimana komentar Anda?


TANGGAPAN BUDI ASALI :
Saya beri tambahan di sini kata-kata Kristian Sugiyarto.
Kristian Sugiyarto: “Kis. 21:40 menyatakan bahwa Saulus berbicara dengan bahasa Ibrani, minimal mulai dari ps.22:1-21 yang memuat pertemuan/pertobatan Saulus pada Yahshua (Yesus), dan hal ini diulangi lagi dengan tegas bahwa teguran Yahshua pun dengan bahasa Ibrani (Kis.26:14). Jadi dari Sorga Yahshua pun memilih berbahasa Ibrani bukannya Aramaik apalagi Yunani; tentulah hal ini dilakukan karena Saulus (juga para rasul yang lain) adalah Ibrani tulen dan bukan mustahil Saulus tidak fasih berbahasa Yunani. ”.
a) Kata-kata dari Kristian Sugiyarto yang mengatakan bahwa Paulus mungkin tidak fasih berbahasa Yunani itu hanya dia dasarkan pada:
1. Kis 21:40 yang menunjukkan bahwa Paulus berbicara dalam bahasa Ibrani.
Kis 21:40 - “Sesudah Paulus diperbolehkan oleh kepala pasukan, pergilah ia berdiri di tangga dan memberi isyarat dengan tangannya kepada rakyat itu; ketika suasana sudah tenang, mulailah ia berbicara kepada mereka dalam bahasa Ibrani, katanya”.
Bdk. Kis 22:2 - “Ketika orang banyak itu mendengar ia berbicara dalam bahasa Ibrani, makin tenanglah mereka”.
2. Kis 26:14 yang mengatakan bahwa Yesus berbicara kepada Paulus dalam bahasa Ibrani.
Kis 26:14 - “Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang”.
Saya menjawab argumentasi Kristian Sugiyarto ini dengan suatu pertanyaan: kalau ada seseorang berbicara kepada saya dalam bahasa Indonesia, dan kalau ada orang yang mendengar saya berbicara dalam bahasa Indonesia, apakah kedua hal itu membuktikan bahwa saya tidak bisa bahasa Inggris?
Saya kira dari illustrasi saya ini sudah sangat jelas bahwa argumentasi Kristian Sugiyarto adalah argumentasi yang sangat tidak berdasar. Ayat-ayat yang ia gunakan hanya membuktikan bahwa Paulus bisa berbahasa Ibrani, tetapi sama sekali tidak membuktikan bahwa ia tidak bisa berbahasa Yunani.

b) Kristian Sugiyarto memotong ayat dari kontextnya.
Dalam menggunakan Kis 21:40 dan Kis 22:2, Kristian Sugiyarto memotong ayat-ayat tersebut dari kontextnya. Dengan kata lain, ia menafsirkan ayat-ayat itu tanpa mempedulikan kontextnya. Untuk bisa melihat ini marilah kita melihat 2-3 ayat sebelum text yang digunakan oleh Kristian Sugiyarto.

Kis 21:37-38 - “(37) Ketika Paulus hendak dibawa masuk ke markas, ia berkata kepada kepala pasukan itu: ‘Bolehkah aku mengatakan sesuatu kepadamu?’ Jawabnya: ‘Tahukah engkau bahasa Yunani? (38) Jadi engkau bukan orang Mesir itu, yang baru-baru ini menimbulkan pemberontakan dan melarikan empat ribu orang pengacau bersenjata ke padang gurun?’”.

Kepala pasukan itu adalah orang Romawi, bukan orang Yahudi, dan karena itu tidak mungkin Paulus berbicara kepadanya dalam bahasa Ibrani. Dan dari kata-kata ‘Tahukah engkau bahasa Yunani?’ dalam Kis 21:37b itu, jelas terlihat bahwa pada saat itu Paulus memang berbicara kepadanya dalam bahasa Yunani. Itu menyebabkan dia kaget, karena dia tadinya mengira Paulus adalah orang Mesir (Kis 21:38). Albert Barnes menganggap bahwa kata-kata ‘orang Mesir’ ini berarti ‘orang Yahudi dari Mesir’.

Albert Barnes: “‘Canst thou speak Greek?’ ... The Greek language was what was then almost universally spoken, and it is not improbable that it was the native tongue of the chief captain. ... The language which the Jews spoke was the Syro-Chaldaic; and as he took Paul to be an Egyptian Jew (Acts 21:38), he supposed, from that circumstance also, that he was not able to speak the Greek language” [= ‘Tahukah / bisakah engkau berbicara bahasa Yunani?’ ... Bahasa Yunani adalah bahasa yang digunakan hampir secara universal, dan adalah mungkin bahwa itu adalah bahasa ibu dari kapten kepala ini. ... Bahasa yang digunakan oleh orang-orang Yahudi adalah Syro-Chaldaic; dan karena tadinya ia mengira Paulus adalah seorang Yahudi dari Mesir (Kis 21:38), ia menduga, dari keadaan itu juga, bahwa ia tidak bisa berbicara dalam bahasa Yunani].

Perhatikan bahwa text ini hanya 2-3 ayat sebelum Kis 21:40, yang digunakan oleh Kristian Sugiyarto di atas. Jelas bahwa penafsirannya memotong ayat dari kontextnya! Seandainya ia membaca seluruh kontext, tidak mungkin ia bisa menyimpulkan bahwa Kis 21:40 menunjukkan bahwa Paulus tak bisa berbahasa Yunani!

Bahkan sebetulnya, Kis 21:40 itu sendiri, yang tahu-tahu secara explicit menyebutkan bahwa Paulus berbicara dalam bahasa Ibrani, jelas secara implicit menunjukkan bahwa tadinya ia tidak berbicara dalam bahasa Ibrani. Lalu dalam bahasa apa? Jelas dalam bahasa Yunani (Kis 21:37)!

Teguh Hindarto memang memperhatikan Kis 21:37-38, tetapi entah dari mana ia menyimpulkan bahwa itu hanya menunjukkan bahwa Paulus hanya bisa berbicara sepatah dua patah bahasa Yunani! Dari mana gerangan kesimpulan gila ini?

Juga pada saat dikatakan bahwa Paulus berbicara dalam bahasa Ibrani, boleh dikatakan semua penafsir mengatakan bahwa yang disebut ‘bahasa Ibrani’ pada saat itu adalah ‘bahasa Aram’ atau campuran Chaldee (Kasdim) dan Aram.
Adam Clarke (tentang Kis 21:40): “What was called then the Hebrew, namely, the Chaldaeo-Syriac” (= Apa yang disebut bahasa Ibrani pada saat itu, artinya, Chaldee-Aram).
Jamieson, Fausset & Brown (tentang Kis 21:40): “‘He spake unto them in the Hebrew tongue.’ - the Syro-Chaldaic, the vernacular tongue of the Palestine Jews since the captivity” (= ‘Ia berbicara kepada mkrk dalam bahasa Ibrani’. - Aram-Chaldee, bahasa rakyatdr orang-orang Yahudi di Palestina sejak pembuangan).
Albert Barnes (tentang Kis 21:40): “‘In the Hebrew tongue.’ The language which was spoken by the Jews, which was then a mixture of the Chaldee and Syriac, called Syro-Chaldaic” (= ‘Dalam bahasa Ibrani’. Bahasa yang digunakan oleh orang-orang Yahudi, yang pada saat itu merupakan campuran dari bahasa Chaldee / Kasdim dan Aram, disebut Syro-Chaldaic).
Wycliffe Bible Commentary (tentang Kis 21:39-40): “When Paul had captured the attention of the mob, he began to speak to them in the native Aramaic dialect, which was the common Jewish language of both Palestine and western Asia” (= Pada waktu Paulus telah menangkap perhatian dari orang banyak, ia mulai berbicara kepada mereka dalam dialek Aram pribumi, yang merupakan bahasa umum orang-orang Yahudi baik di Palestina maupun Asia Barat).
A. T. Robertson (tentang Kis 21:40): “‘In the Hebrew language.’ ... The Aramaean which the people in Jerusalem knew better than the Greek. Paul could use either tongue at will” (= ‘Dalam bahasa Ibrani’. ... Bahasa Aram yang dikenal dengan lebih baik dari pada bahasa Yunani oleh orang-orang di Yerusalem. Paulus bisa menggunakan bahasa yang manapun dari kedua bahasa itu semaunya).
Vincent: “‘Tongue.’ DIALEKTOO. Literally, ‘dialect:’ the language spoken by the Palestinian Jews - a mixture of Syriac and Chaldaic” (= ‘Bahasa’ DIALEKTOO. Secara hurufiah, ‘dialek’: bahasa yang digunakan oleh orang-orang Yahudi Palestina - suatu campuran dari Aram dan Chaldee / Kasdim).

c) Bahwa Paulus bisa berbahasa Yunani, terbukti dari banyak hal, seperti:
1. Paulus berasal dari kota yang bernama Tarsus (Kis 9:11 21:39 22:3).
Dimana dan bagaimana kota Tarsus itu, dan khususnya bahasa apa yang digunakan di sana?
Gary Mink (internet): “He was born in Tarsus, a city in the Roman province of Cilicia. Cilicia was part of Asia, which had been conquered by Alexander the Great about 300 years before Paul was born. The whole area was thoroughly Greek, both in culture and in language. The Romans took control of it about 100 B.C. Paul was born a Roman citizen and probably knew Greek from childhood. Regardless of when he learned it, he was fluent in it” (= Ia dilahirkan di Tarsus, suatu kota di propinsi Romawi dari Kilikia. Kilikia adalah bagian dari Asia, yang telah dtaklukkan oleh Alexander yang Agung sekitar 300 tahun sebelum Paulus dilahirkan. Seluruh daerah itu sepenuhnya bersifat Yunani, baik dalam kebudayaan maupun bahasa. Orang-orang Romawi menguasainya pada sekitar tahun 100 SM. Paulus dilahirkan sebagai seorang warga negara Romawi dan mungkin mengenal bahasa Yunani sejak masa kanak-kanak. Tanpa menghiraukan tentang kapan ia mempelajarinya, ia fasih dalam bahasa itu).

Nelson’s Bible Dictionary: “TARSUS ... the birthplace of the apostle Paul (Acts 21:39, 22:3), formerly known as Saul of Tarsus (Acts 9:11). Tarsus was the chief city of CILICIA, a province of southeast Asia Minor (modern Turkey; ...). ... During the Seleucid period, however, Tarsus became a free city (about 170 B. C.), and was open to Greek culture and education. By the time of the Romans, Tarsus competed with ATHENS and ALEXANDRIA as the learning center of the world” [= TARSUS ... tempat kelahiran dari rasul Paulus (Kis 21:39, 22:3), yang sebelumnya dikenal sebagai Saulus dari Tarsus (Kis 9:11). Tarsus adalah kota utama dari Kilikia, sebuah propinsi dari Asia Kecil sebelah tenggara (pada jaman modern itu adalah Turki; ...). ... Tetapi selama masa Seleucid, Tarsus menjadi suatu kota yang bebas (sekitar tahun 170 SM), dan terbuka bagi kebudayaan dan pendidikan Yunani. Pada jaman Romawi, Tarsus bersaing dengan Athena dan Alexandria sebagai pusat pendidikan dunia].

The International Standard Bible Encyclopedia: “TARSUS. 1. Situation: The chief city of Cilicia, the southeastern portion of Asia Minor. ... 4. Tarsus under Greek Sway: Alexander’s overthrow of the Persian power brought about a strong Hellenic reaction in Southeastern Asia Minor and must have strengthened the Greek element in Tarsus, but more than a century and a half were to elapse before the city attained that civic autonomy which was the ideal and the boast of the Greek polis. ... From this time Tarsus is a city of Hellenic constitution, and its coins no longer bear Aramaic but Greek legends” (= ).

The International Standard Bible Encyclopedia: “PAUL, THE APOSTLE, PART IV-1. 1. The City of Tarsus: Geography plays an important part in any life. ... Paul grew up in a great city and spent his life in the great cities of the Roman empire. ... He was not merely a resident, but a ‘citizen’ of this distinguished city. This fact shows that Paul’s family had not just emigrated from Judaea to Tarsus a few years before his birth, but had been planted in Tarsus as part of a colony with full municipal rights (Ramsay, St. Paul the Traveller, 31 f). Tarsus was the capital of Cilicia, then a part of the province of Syria, ... Ramsay (ib, 117 ff) from Gen 10:4 f holds that the early inhabitants were Greeks mingled with Orientals. East and West flowed together here. It was a Roman town also with a Jewish colony (ibid., 169 ff), constituting a city tribe to which Paul’s family belonged. So then Tarsus was a typical city of the Greek-Roman civilization” (= )

Encyclopedia Britannica 2007 dengan topik ‘Paul, the apostle, saint’:
“Like many of the Jews there Paul inherited Roman citizenship, probably granted by the Romans as a reward for mercenary service in the previous century. This fact explains his two names. He used his Jewish name, Saul, within the Jewish community and his Roman surname, Paul, when speaking Greek. Though he had a strict Jewish upbringing, he also grew up with a good command of idiomatic Greek and the experience of a cosmopolitan city, which fitted him for his special vocation to bring the gospel to the Gentiles (non-Jews)” (= ).

Jadi, asal usul Paulus dari kota yang bernama Tarsus, yang bukan terletak di Palestina / Kanaan, tetapi di Kilikia (Kis 21:39 22:3), dan dipenuhi oleh kebudayaan Yunani. Lalu mungkinkah ia ternyata tidak bisa berbahasa Yunani?

2. Paulus adalah rasul bagi orang-orang non Yahudi (Kis 9:15 Kis 22:21 Kis 26:17 Gal 1:16 Gal 2:7-9).
Mengingat bahwa Yunani merupakan bahasa ‘seluruh dunia’ pada saat itu (mungkin seperti bahasa Inggris pada jaman ini), maka kalau Paulus dijadikan rasul orang-orang non Yahudi, adalah tidak masuk akal kalau ia tidak bisa bahasa Yunani!

3. Paulus banyak memberitakan Injil dan mempertobatkan orang-orang non Yahudi / orang Yunani.
Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:
• Kis 9:28-29 - “(28) Dan Saulus tetap bersama-sama dengan mereka di Yerusalem, dan dengan keberanian mengajar dalam nama Tuhan. (29) Ia juga berbicara dan bersoal jawab dengan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani, tetapi mereka itu berusaha membunuh dia”.
• Kis 14:1 - “Di Ikoniumpun kedua rasul itu (Paulus dan Barnabas) masuk ke rumah ibadat orang Yahudi, lalu mengajar sedemikian rupa, sehingga sejumlah besar orang Yahudi dan orang Yunani menjadi percaya”.
• Kis 17:4,12 - “(4) Beberapa orang dari mereka menjadi yakin dan menggabungkan diri dengan Paulus dan Silas dan juga sejumlah besar orang Yunani yang takut kepada Allah, dan tidak sedikit perempuan-perempuan terkemuka. ... (12) Banyak di antara mereka yang menjadi percaya; juga tidak sedikit di antara perempuan-perempuan terkemuka dan laki-laki Yunani”.
• Kis 18:4 - “Dan setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani”.
• Kis 19:8-10 - “(8) Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan mengajar dengan berani. Oleh pemberitaannya ia berusaha meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah. (9) Tetapi ada beberapa orang yang tegar hatinya. Mereka tidak mau diyakinkan, malahan mengumpat Jalan Tuhan di depan orang banyak. Karena itu Paulus meninggalkan mereka dan memisahkan murid-muridnya dari mereka, dan setiap hari berbicara di ruang kuliah Tiranus. (10) Hal ini dilakukannya dua tahun lamanya, sehingga semua penduduk Asia mendengar firman Tuhan, baik orang Yahudi maupun orang Yunani”.
• Kis 20:2,3,21 - “(2) Ia menjelajah daerah itu dan dengan banyak nasihat menguatkan hati saudara-saudara di situ. Lalu tibalah ia di tanah Yunani. (3) Sesudah tiga bulan lamanya tinggal di situ ia hendak berlayar ke Siria. Tetapi pada waktu itu orang-orang Yahudi bermaksud membunuh dia. Karena itu ia memutuskan untuk kembali melalui Makedonia. ... (21) aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus”.

Kalau Paulus tidak bisa berbahasa Yunani, lalu dengan bahasa apa ia memberitakan Injil kepada orang-orang non Yahudi / orang-orang Yunani itu? Dengan bahasa Roh?

4. Dalam Kis 17:16-34 Paulus berada di Atena, suatu kota di Yunani. Mula-mula, ia memberitakan Injil kepada orang-orang Yahudi di kota itu (ay 17), tetapi setelah itu, khususnya mulain ay 22, ia berkhotbah pada para penyembah dari ‘Allah yang tidak dikenal’, yang jelas tidak mungkin adalah orang-orang Yahudi, dan pasti adalah orang-orang Yunani. Dengan bahasa apa ia memberitakan Injil, kalau bukan dalam bahasa Yunani?

5. Paulus memberitakan Injil dalam penjara kepada tentara-tentara Romawi.
Fil 1:12-13 - “(12) Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil, (13) sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus”.
Kis 16:27-32 - “(27) Ketika kepala penjara itu terjaga dari tidurnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak membunuh diri, karena ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman itu telah melarikan diri. (28) Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, katanya: ‘Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!’ (29) Kepala penjara itu menyuruh membawa suluh, lalu berlari masuk dan dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas. (30) Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: ‘Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?’ (31) Jawab mereka: ‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’ (32) Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya”.
Ini hanyalah sedikit contoh dari banyak kasus dimana Paulus berbicara kepada orang-orang non Yahudi. Bagaimana ia melakukan semua itu kalau ia tidak bisa berbahasa Yunani?

6. Dalam Kis 26, Paulus memberikan pembelaan dan sekaligus kesaksian di hadapan Agrippa, dan banyak orang-orang lain, yang semuanya jelas bukan orang-orang Yahudi. Karena itu, tidak mungkin ia menggunakan bahasa Ibrani. Ia pasti berbicara dalam bahasa Yunani.

7. Surat-surat Paulus ditujukan kepada gereja-gereja dari kota-kota non Yahudi (Roma, Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, Tesalonika) dan juga kepada pribadi-pribadi non Yahudi (seperti Timotius, Titus, dan Filemon).
Adalah lucu kalau ia menulis surat kepada orang-orang non Yahudi ini dalam bahasa Ibrani! Ia pasti bisa berbahasa Yunani, dan ia pasti menulis surat-suratnya dalam bahasa Yunani.

d) Kata-kata F. F. Bruce tentang Paulus.
F. F. Bruce: “Judea, and even Jerusalem, formed part of the Hellenistic world. Greek was spoken alongside Aramaic (and possibly Hebrew) in the holy city itself and, as we have seen, Hellenistic Jews had their synagogues there in which the scriptures were read and worship was conducted in Greek. The pagan influences of Hellenism were kept at bay from the circle in which Paul received his education, but even the sages knew Greek and were capable of giving their pupils prophylactic courses in Greek languange and culture. Simeon the son of Gamaliel is said to have had many pupils who studied ‘the wisdom of the Greeks’ alongside as many others who studied the Torah, and it need not be doubted that Gamaliel the elder also had such pupils. It is quite probable that Paul acquired the rudiments of Greek in Gamaliel’s school. But from his return to Tarsus throughout the rest of his active life he was exposed to the Greek way of life in one city after another, for he no longer led a cloistered existence, but lived for the most part as a Gentile among Gentiles in order to win Gentiles for the gospel. The knowledge of Greek literature and thought that his letters attest was part of the common stock of educated people in the Hellenistic world of that day; it bespeaks no formal instruction received from Greek teachers” [= Yudea, dan bahkan Yerusalem, membentuk bagian dari dunia yang dipengaruhi oleh kebudayaan dan bahasa Yunani. Yunani digunakan sebagai bahasa percakapan bersama-sama dengan Aram (dan mungkin Ibrani) di kota kudus itu sendiri, dan seperti yang telah kita lihat, orang-orang Yahudi yang dipengaruhi oleh kebudayaan dan bahasa Yunani, mempunyai sinagog-sinagog di sana, dimana Kitab Suci dibacakan dan ibadah diadakan dalam bahasa Yunani. Pengaruh-pengaruh kafir dari pengaruh kebudayaan dan bahasa Yunani dipertahankan dari lingkungan dimana Paulus menerima pendidikannya, tetapi bahkan guru-guru / orang-orang bijak mengerti bahasa Yunani dan bisa memberikan murid-murid mereka pelajaran pencegahan / perlindungan dalam bahasa dan kebudayaan Yunani. Simeon anak dari Gamaliel dikatakan mempunyai banyak murid yang belajar ‘hikmat dari orang-orang Yunani’ bersama-sama dengan banyak orang-orang lain yang mempelajari Taurat, dan tidak perlu diragukan bahwa Gamaliel yang lebih tua juga mempunyai murid-murid seperti itu. Adalah cukup memungkinkan bahwa Paulus menerima dasar-dasar dari bahasa Yunani di sekolah Gamaliel. Tetapi dari kembalinya ia ke Tarsus dalam sepanjang sisa kehidupan aktifnya ia terbuka terhadap gaya hidup Yunani dari satu kota ke kota lain, karena ia tidak lagi menjalani kehidupan yang menyendiri, tetapi hidup pada umumnya sebagai seorang non Yahudi di antara orang-orang non Yahudi untuk memenangkan orang-orang non Yahudi bagi Injil. Pengetahuan tentang literatur dan pemikiran Yunani yang ditunjukkan oleh surat-suratnya merupakan bagian dari kelompok umum dari orang-orang berpendidikan dalam dunia Yunani pada jaman itu; itu memperlihatkan pendidikan tidak formal yang diterima dari guru-guru Yunani] - hal 126-127.
Bdk. 1Kor 9:19-22 - “(19) Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. (20) Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. (21) Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. (22) Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka”.


BERSAMBUNG..............
Reply With Quote
  #7 (permalink)  
Old 29th July 2008
AP - Senior Master
 
Join Date: Feb 2007
Posts: 373