Welcome Guest Login or Signup
LIVE CHAT | IM LIST | BOOKMARK US | HELP GUIDE | LANGUAGE:


Go Back   Forum Diskusi Kristen Internasional > AP - DISKUSI KRISTEN PRAKTIS > Diskusi General
Register FAQ Members List Calendar Search Today's Posts Mark Forums Read

Reply
 
LinkBack Thread Tools Display Modes
  #41 (permalink)  
Old 20th August 2008
- DanDeLioN -'s Avatar
I'm BacK!!
 
Join Date: Jul 2004
Location: United States
Age: 25
Posts: 3,152
- DanDeLioN - is on a distinguished road- DanDeLioN - is on a distinguished road
Default

gw lebih kenal sama Judika.. tp judika nggak gitchu deh.. biarpun batax, dia tegar seperti rambo.. Halah, ngaco abis.. *ga ada kerjaan.com udah toel2 PB, ga nengok dia
__________________
Kamu diuji dengan banyak perubahan, janji yang tertunda, masalah-masalah yang mustahil, doa yang tidak terjawab, kritik yang tidak layak kamu terima, dan bahkan tragedi yang tak masuk akal.

TUHAN menguji imanmu dari masalah, menguji pengharapanmu dengan bagaimana kamu menangani harta milik, dan menguji kasihmu melalui orang lain.
Reply With Quote
  #42 (permalink)  
Old 20th August 2008
kepikbiru's Avatar
AP - Community Administrator
 
Join Date: Jun 2004
Location: Indonesia
Posts: 6,743
kepikbiru is a name known to allkepikbiru is a name known to allkepikbiru is a name known to allkepikbiru is a name known to allkepikbiru is a name known to allkepikbiru is a name known to all
Send a message via Yahoo to kepikbiru
Default

Waktu gua ikut premarital seminar. Satu hal yg menggugah itu soal tujuan nikah.
Orang nikah itu tujuannya bisa macem2, bisa uang, kebahagiaan, daripada single, dll.
Tapi yg Tuhan kehendaki dari pernikahan kita itu bukan kebahagiaan kita, tapi kekudusan kita.
Tujuan nikah itu bukan bahagia, tapi kekudusan.
Kekudusan itu artinya dipisahkan untuk Tuhan
Dalam arti begini:
1. sekarang si Plainbread dan si istri dipisahkan dari orang2 lain yg bujangan. Si Plainbread milik istrinya dan si istri milik Plainbread.
2. mereka nikah harus demi Tuhan dan demi tujuan2nya Tuhan dalam hidup mereka.

Kebahagiaan PB dan istri itu bukan tujuan pernikahan, itu cuma efek samping emosional aja.
I tend to agree. Kalo sebelom nikah ngga bahagia, abis nikah juga ngga tambah bahagia.
Dan kebahagiaan itu juga up and down, ada masa2nya elu bahagia, ada masa2nya juga elu mesti gigit bibir n berjuang.
Gua inget nonton film apa ya yg ortunya udah married 25 tahun. dia bilang ngga semua 25 tahun itu bahagia, ada masanya mereka ngga bisa tahan each other, benci each other dst. Tapi toh akhirnya sampe juga.
Dah ah, kayak kotbah.

Gua ga tau sih siapa Dewi itu. Soal blognya sendiri, there's not much to see, of course dia harus defend herself dari omongan2 yg ngga jelas. Yang gua terganggu itu adalah banyak orang nikah yang cerai setelah baru punya anak. as if anak itu jadi litmus test pernikahan. Hopefully ngga ada hubungannya sama Dewi/Marcell. Poor kids.

Maybe bener kata nenek2 "kalo ngga siap nikah jangan pacaran, kalo ngga siap punya anak jangan nikah".
__________________
No Love Greater Than The Cross

Who can stand as righteous, a sinner saved by grace?
The wrath of God was crucified when Jesus took our place.
The cross, the crown, the blood falling down,
The love that cost a price greater than all we could pay
Reply With Quote
  #43 (permalink)  
Old 20th August 2008
bertzzie's Avatar
AP - Custom Title (Change it at your control panel) must be a member for at least 45 days
 
Join Date: Feb 2008
Location: Indonesia
Posts: 1,417
bertzzie is a name known to allbertzzie is a name known to allbertzzie is a name known to allbertzzie is a name known to allbertzzie is a name known to allbertzzie is a name known to all
Default

Quote:
Originally Posted by PlainBread View Post
Kalo abam kenal Marcell, gue justru kenal Dewi (gak tau kenapa gue paling gak suka nama bagus2 "dewi" diubah jadi "dee". Jadi kalo bunga lestari bisa berubah jadi "bee" atau "boeng"? ).

Menurut gue sih Dewi orangnya dari dulu emang begitu (hahaha, gue ngomong kaya mantannya aja ). Cuma emang orang lebih banyak kenal dia lewat tulisan daripada lewat aslinya dia langsung. Orang2 yang punya talenta menulis emang biasanya agak2 beda kalo kenal orangnya langsung dibanding sama hasil2 tulisan orang tersebut, gak terkecuali si dewi. Makanya gak sedikit yang rada2 kaget baca tulisan dia, ko kayanya liberal banget, padahal kalo kenal sama dia keliatan rada konservatif.
Maksudnya rada konservatif tu gimana kk ? Walopun dia liberal tapi masi tetep megang bbrp nile2 tradisional gt ya ?
Reply With Quote
  #44 (permalink)  
Old 20th August 2008
Areopagus's Avatar
AP - Senior Newbie
 
Join Date: Aug 2008
Location: Indonesia
Posts: 19
Areopagus is infamous around these parts
Default

Perceraian adalah efek dari tidak kuatnya fondasi pernikahan, meliputi:
1. Bukan Kristus yang menjadi kepala Rumah Tangga
2. Ketidakjujuran terhadap pasangan
3. Hanya cinta fisik, bukan cinta sejati
4. Tidak siap melakukan proses "matching" dengan pasangan seumur hidup
5. Tidak memandang kesucian pernikahan kudus sebagai sesuatu yang harus dipertahankan

Semua bangunan yang mampu tegak berdiri ratusan tahun diterpa berbagai musim dan keadaan pastilah punya fondasi yang kuat.
Reply With Quote
  #45 (permalink)  
Old 20th August 2008
bertzzie's Avatar
AP - Custom Title (Change it at your control panel) must be a member for at least 45 days
 
Join Date: Feb 2008
Location: Indonesia
Posts: 1,417
bertzzie is a name known to allbertzzie is a name known to allbertzzie is a name known to allbertzzie is a name known to allbertzzie is a name known to allbertzzie is a name known to all
Default

Quote:
Originally Posted by Areopagus View Post
Perceraian adalah efek dari tidak kuatnya fondasi pernikahan, meliputi:
1. Bukan Kristus yang menjadi kepala Rumah Tangga
2. Ketidakjujuran terhadap pasangan
3. Hanya cinta fisik, bukan cinta sejati
4. Tidak siap melakukan proses "matching" dengan pasangan seumur hidup
5. Tidak memandang kesucian pernikahan kudus sebagai sesuatu yang harus dipertahankan

Semua bangunan yang mampu tegak berdiri ratusan tahun diterpa berbagai musim dan keadaan pastilah punya fondasi yang kuat.
Gw rasa kecuali no 1 & 5 Dee orangnya (liat dari tulisan2nya ) gk bakalan kesandung yg no 2-4 de...
FYI Dee is not a christian. hehe
Kk baca2 dl aja blognya...
Reply With Quote
  #46 (permalink)  
Old 20th August 2008
Areopagus's Avatar
AP - Senior Newbie
 
Join Date: Aug 2008
Location: Indonesia
Posts: 19
Areopagus is infamous around these parts
Default

bethul...klo gak salah dia Budhis.
Reply With Quote
  #47 (permalink)  
Old 20th August 2008
supernis's Avatar
nobody
 
Join Date: Aug 2007
Location: Indonesia
Age: 31
Posts: 2,092
supernis is a splendid one to beholdsupernis is a splendid one to beholdsupernis is a splendid one to beholdsupernis is a splendid one to beholdsupernis is a splendid one to beholdsupernis is a splendid one to beholdsupernis is a splendid one to behold
Send a message via Yahoo to supernis
Default

Quote:
Originally Posted by Areopagus View Post
3. Hanya cinta fisik, bukan cinta sejati
karena suka pada buku pertamanya ('supernova'), gue berusaha untuk mengerti sudut pandang dewi. tapi secara gue gak kenal in person ama dia, bisa aja sudut pandang gue tidak bisa dipercaya. either way, kalo gue baca2 di link ini:

http://dee-idea.blogspot.com/2007/09/blog-post_16.html

kayaknya dewi bukan tidak bisa membedakan jenis dari cinta (apakah cinta jenis 'fisik' atau cinta jenis 'sejati'). dewi menganalogikan cinta sebagai suatu perjalanan, sesuatu yang dia tidak bisa definisikan dan hanya bisa dirasakan saja.

Quote:
Demikianlah kami berdua, dengan mata mengerjap-ngerjap perih, mengupasi bawang dengan kuku yang akhirnya jadi lebih mirip mencacah, dengan serpih-serpih bawang yang berantakan mengotori meja. Dan akhirnya kami berhenti ketika serpih terakhir sudah terlampau kecil untuk bisa dikupas.

Berlinangan air mata, yang jatuh bukan karena duka atau suka, aku pun berkata: “Inilah cinta. Inilah Tuhan. Tangan kita bau menyengat, mata kita perih seperti disengat, dan tetap kita tidak menggenggam apa-apa.” Sambil terisak, yang bukan karena haru bahagia atau haru nelangsa, lagi aku berkata: “Itulah cinta. Itulah Tuhan. Pengalaman, bukan penjelasan. Perjalanan, dan bukan tujuan. Pertanyaan, yang sungguh tidak berjodoh dengan segala jawaban.”
analogi dewi ini begitu indah dan mengharukan untuk dibaca atau didengar, tapi yah memang cuma itu saja.

ketika suatu objek tidak bisa didefinisikan, maka arti harafiah nya adalah bahwa seseorang tidak bener2 mengerti tentang objek tersebut. kalo segala sesuatu harus dialami dulu, maka kita bisa pecat semua guru dan berhenti untuk menjadi murid.

dalam kasus cinta, dewi seakan menjadikan dirinya sebagai objek percobaan. dia ga tau apa tepatnya arti dari cinta. tapi di pihak lain dia percaya bahwa untuk tahu artinya maka satu2nya cara adalah dengan menjalani nya.

di titik ini dewi perlu diacungi jempol. tidak banyak orang yang mau mengakui bahwa dirinya tidak mengerti tentang sesuatu. dan, dari segelintir orang yang mau mengakui, lebih sedikit lagi orang yang punya keberanian untuk menjadikan dirinya sebagai kelinci percobaan.

dan, karena namanya juga percobaan, wajarlah kalo gagal.

seorang motivator yang kalo ga salah adalah bos primagama pernah ditanya oleh seseorang, "pak, saya sudah mencoba usaha dan gagal terus, kapan saya berhasil?". dia balik bertanya, "sudah berapa kali kamu gagal?" dan orang itu menjawab, "empat kali pak". lalu si motivator menjawab, "tenang, 5 kali lagi kamu akan sukses, dulu saya gagal 9 kali sebelum akhirnya sukses seperti sekarang".

hanya sedikit pikiran nakal, siapa tau nasehat si motivator ini pernah meng-inspirasi dewi

either way, makin gue baca blog nya, keliatan nya hubungan dewi dan marcel baik2 saja. ini bagus buat anaknya, keenan. walau mereka berpisah, rasanya selama mereka bisa maintain hubungan yang baik ini, keenan will be OK.
Reply With Quote
  #48 (permalink)  
Old 20th August 2008
tnt-here's Avatar
peZIaRah ImAn
 
Join Date: Dec 2004
Posts: 1,603
tnt-here will become famous soon enoughtnt-here will become famous soon enoughtnt-here will become famous soon enough
Default

Keren juga melihat ada orang yg berani menjadikan salah satu hal penting dalam kehidupannya (rumah tangga) sebagai bagian dr utak-atik pencarian kebenaran dan cinta sejati.... Pembenaran dengan berlandaskan bahwa pencerahan adalah bagian dr perjalanan memang terasa indah bagi jiwa, tetapi ada sesuatu yang janggal ketika pilihan cinta yang harus dipilih adalah sesuatu yg kosong, sesuatu yang tidak memiliki arti dan tidak memiliki jawaban.... Bukankah seharusnya pencerahan membawa kehidupan bukannya kekosongan? Ataukah mungkin saja Dewi percaya bahwa kekosongan itu adalah kehidupan ?


Kalau begitu teruslah mengalir melewati sungai yang tidak tentu arusnya itu Dewi.. Siapa tau diujung sana engkau bertemu orang yg bisa menyelamatkanmu. Jika tidak, berpuaslah dengan nikmatnya arus yg selalu mengombang-ambingkanmu tanpa tujuan ....

Mungkin kebahagiaan seperti itulah yg engkau inginkan

Bless u
__________________
"Bukan berlimpahnya pengetahuan,
melainkan merasakan dan mencecap dalam-dalam kebenaran,
itulah yang memperkenyang dan memuaskan jiwa"

(Catatan Pendahuluan L.R. 2)
Reply With Quote
  #49 (permalink)  
Old 1st September 2008
AP - Clueless Newbie
 
Join Date: Sep 2008
Location: Indonesia
Posts: 4
winnerjhonshon is infamous around these parts
Default respon untuk dewi lestari

boleh komen ya. sebenernya kalo kita mau berpikir kritis, tulisannya dewi ini musti dikritisi juga. soalnya ada unsur bahayanya juga. terutama buat keutuhan perkawinan dan juga ada unsur pembodohan didalamnya. saya ingin jawab catatannya itu dengan Firman Tuhan. tapi menurut saya Firman Tuhan terlalu tinggi untuk menanggapi tulisan dia.
ini catatannya dewi dan komentar saya… (komentar saya dikasih tanda +++)
catatannya dewi saya potong karena kepanjangan untuk forum ini..

Perpisahan, .........

+++++Dewi berusaha untuk memulai pemaparannya (apologi/pembelaannya) dengan baik. Disini dia memulai dengan dialektika, yaitu jika ada perjumpaan, pasti ada perpisahan. Jika ada saya pasti karena ada kamu. Jika ada muda, pasti karena ada yang tua. Logika Cartesian ini, yang diperkenalkan oleh Rene Descartes (seorang filsuf Yunani), mengawali ’pencerahan’ dari sang dewi ini. Kemudian, dia juga memaparkan suatu hal yang akan membawa perdebatan dalam pemaparannya dalam tahap selanjutnya. Perdebatan itu sendiri terjadi diantara teks-teks yang disampaikannya (among themselves), dan bukan pada kita pembaca. Kalimat-kalimat Seberapa lama jatah kita hidup, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, kita selalu berjuang setengah mati untuk bisa menerima mati, telah membuka celah bagi diskusi dan dari sejak awal dia sudah mematahkan argumen-argumen yang akan dia paparkan dalam episode apologi berikutnya. Mari kita tengok isi kalimat itu. Dewi tidak pernah tahu kapan dia akan mengalami perpisahan atau kematian. Artinya, tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan waktunya bagi dia untuk berpisah. Yang harus dilakukan adalah bertahan. Demikian juga bahwa dari logika sedemikian ini, kiranya sah pula pernyataan berikutnya, yaitu bahwa dengan demikian maka tidak ada seorang pun juga yang berhak untuk menentukan kapan waktunya bagi dia untuk berpisah. Jadi, yang dilakukan oleh manusia adalah berusaha mempertahankannya. Dan mestinya, manusia hanya sampai pada tahap itu, dan bukan pada tahap mengambil keputusan untuk berpisah, apapun alasannya.
Kedua, dewi ini tidak lengkap menerangkan bahwa dalam sebuah peristiwa, sebagaimana juga dialektika itu terjadi, yaitu ada perjumpaan, ada perpisahan, ada muda , ada tua. Ada lahir , ada mati. Ketika dialektika itu harus berjalan, satu hal yang harus kita pahami, bahwa dalam hal itu pasti ada variabel pendukungnya. Kematian, variablenya bisa penyakit, bisa juga karena pembunuhan. Penyakit itu juga variabelnya bisa beberapa, bisa karena kemiskinan, kurang makan, atau juga bisa saja karena terlalu kaya lantas bisa stroke. Lalu, peristiwa atau keadaan yang namanya kemiskinan, bisa disebabkan oleh kondisi alam yang tidak mendukung, atau karena kemalasan. Jika kita urut lebih jauh lagi, maka akan ada urutan peristiwa yang sangat panjang, dan variabel/premis pendukungnya bisa ribuan. Setiap peristiwa atau keadaan, ada faktor pendukungnya. Jadi, peristiwa perpisahan juga ada variabelnya. Apakah karena dipisahkan oleh Tuhan (kematian) atau perpisahan karena faktor manusianya. Inilah objek obervasi kita atau objek verifikasi kita atas argumen dewi selanjutnya.
Jadi, dari pernyataan dewi, ada dua konklusi penting yang harus kita jadikan pisau penguji dan patokan dalam mengkritisi pendapat beliau berikutnya, yaitu :

++++1. bahwa tidak ada seorangpun yang tahu kapan akan mengalami perpisahan. Dengan demikian, tidak sah pula kewenangan seeorang untuk menyatakan kapan waktunya untuk perpisahan. Kecuali kita memandang bahwa itu bukanlah sebuah perpisahan yang ’memang seharusnya’, tetapi lebih kepada keputusan manusia.
++++2. bahwa dalam setiap peristiwa atau keadaan, pastilah ada variabel pendukungnya. Tidak mungkin sebuah peristiwa terjadi begitu saja. Tinggal diverifikasi, apakah penyebabnya adalah alam, Tuhan, atau ternyata manusia itu sendiri.++++++++

Saya sempat termenung melihat salah satu adegan dalam film “Earth” ............

Dalam semua hubungan, kita bisa saja menemukan 1001 alasan ...................
Jadi, semua faktor yang selama ini diabsahkan orang-orang sebagai penyebab perpisahan .................................................. ..................................
++++++Nampaknya Dewi kesulitan untuk melakukan pemilahan mana yang merupakan gejala, dan mana yang merupakan penyebab. Jika KDRT dan orang ketiga adalah gejala dan bukan penyebab, jadi penyebabnya apa? Menyerahkan kepada ’memang sudah waktunya’, tidak memiliki penjelasan yang masuk akal. Ini juga menyampaikan lagi pada kita ketidakonsistenan pemikiran dewi. Diatas dia menyampaikan bahwa penyebab batuk adalah virus. Jadi ’bukan sudah waktunya’. Jadi memang alasan ’sudah waktunya’ itu adalah mengada-ada. ++++++++++++

September 2006 adalah momen penyadaran saya dengan Marcell...................

+++++++++Disini, inkonsistensi dan irrasionalitas dewi dalam berujar semakin jelas . Pada alinea pertama ujarannya, dia mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan akan terajdi perpisahan. Yang kita bisa upayakan adalah mempertahankannya. Pada alinea terakhir ini, setelah sebelumnya kita ‘diarahkan’ dengan berbagai analogi-analogi dari cerita-cerita yang tidak memiliki nilai filosofis, kecuali mengajarkan kepada kita pragmatisme (dalam banyak karya sastra berupa cerita/novel, sangat sedikit sekali yang didalamnya berisi ajaran yang filsafati, kebanyakan adalah pragmatis dan ilusionis), dewi menjadi ‘mengetahui’ bahwa inilah saatnya dia untuk berpisah dengan Marcell. (frase ‘kesadaran’, ‘awareness’, merupakan suatu pengesahan atas kondisi bahwa seseorang mengetahui sesuatu) Pada titik ini, kita melihat hal yang tidak lagi logis. Dewi sudah mulai mematahkan argumennya sendiri. Dewi mensimplifikasikan sebuah kata ’kadaluwarsa’. Padahal, dalam banyak literatur, kata’kadaluwarsa’ ini membutuhkan legalisasi, atau acknowledgement, mengenai apa yang dimaksud dengan kadaluwarsa itu. Kita breakdown ke peristiwa yang dialami dewi.

1. Apa yang menyebabkan hubungan dewi-marcell menjadi kadaluwarsa?
2. Apa parameter kadaluwarsa tersebut?
3. Apakah benar bahwa perpisahan itu disebabkan suatu faktor eksternal yang tidak dapat dikuasai, atau ternyata faktor internal yang sebetulnya bisa di drive?

Ini yang harus dijelaskan oleh Dewi.
Mengapa dia harus menjelaskan ini ? karena dia menggunakan kata kadaluwarsa. Kadaluwarsa, adalah similar dengan expired. Kata ini sama dengan istilah legal dan sah, yang membutuhkan pengakuan pihak lain jika seseorang hendak menyatakan sesuatu itu sah atau legal. Demikian juga istilah kadaluwarsa. Apa yang diungkapkan oleh Dewi dengan menyederhanakan sebuah hubungan sebagai memiliki aspek kadaluwarsa, adalah berbahaya, sebab adopsi terhadap istilah ini akan menimbulkan sebuah postulat baru, yang akan menimbulkan generalisasi terhadap apa yang dialami oleh dewi , menjadi terhadap semua peristiwa percaraian. Penggunaan istilah ini, memerlukan yang namanya generali opinio necesitatis , atau pengakuan publik atas suatu postulat. Nah, untuk memberikan suatu postulat, maka diperlukan pengujian secara ilmiah beserta parameternya. Jika tidak, maka istilah ini tidak memiliki arti. Akan sama artinya dengan istilah posmodernisme ditangan seorang mahasiswa yang baru belajar filsafat. Kemudian, satu hal yang perlu diklarifikasi lagi oleh Dewi. Benarkah kehidupan ada kadaluwarsanya? Jika kita melihat dalam tataran aktivitas, ya. Tapi itu juga perlu rentangan waktu yang tidak prematur. Namun jika kita melihat dalam sisi yang lain, misalnya posesivitas, seringkali makin lama hidup ini memberikan kepada orang kepemilikan yang semakin banyak atas segala sesuatu. Baik itu tangible seperti harta benda, uang dan sebagainya ataupun juga intangible seperti kehormatan, nama besar dan sebagainya. Apalagi, jika kehidupan dilihat dari nilai yang lebih mulia dari itu, misalnya mama Teresa yang tdk punya apa-apa namun hidupnya mulia, tidak seperti Osama Bin Laden, orangnya kaya tapi hidupnya mirip binatang. Bahkan, jika kita merujuk kepada pendapatnya Tan Malaka, bahkan kematian akan membawa kebesaran yang lebih dahsyat (Ini disampaikan oleh Tan Malaka, dalam bukunya MADILOG (Materialisme, Dialektika Logika), bahwa sebelum dia dihukum oleh pemerintah Hongkong, dia berkata “suaraku akan terdengar lebih keras dari dalam kubur”). . Jadi statement atau premis yang disampaikan dewi tentang kadaluwarsa ini perlu untuk dikaji dan diklarifikasi lebih lanjut, sebab tidak memiliki keabsahan secara rasional.+++++++++

Memaafkan bagi saya adalah menerima. Menerima kondisi kami apa adanya.................

+++++++Kita perlu kejujuran dewi untuk menjelaskan mengapa dia bertemu dengan Marcell. Kita bukanlah makhluk mesin yang tidak memiliki perasaan, ataupun binatang yang tidak memiliki respon terhadap impuls-impuls ataupun rangsangan apapun. Setiap tindakan yang dilakukan manusia, maka normalnya tindakan tersebut memiliki dasar (reasoning ) yang kuat. Saya yakin, ada hal yang diketahui dewi yang membuat dia mau untuk menjalin hubungan dengan Marcell. Jika dia mengatakan bahwa bahwa dia tidak mengetahui mengapa dia bertemu marcell, saya khawatir bahkan dia mungkin tidak tahu siapa dia sekarang (losing identity). Maaf, mungkin kita bahkan perlu mencari tahu seperti apa pergaulan antara Dewi dengan Marcell, atau dengan pacar-pacar terdahulunya dewi, berapa lama rentang waktu antara pernikahan dewi dengan kelahiran anaknya. Hal ini penting untuk mengetahui motif pernikahan antara dewi dengan marcell.+++++++

Namun seringkali konsep “memaafkan” yang kita kehendaki adalah kemampuan untuk mengembalikan situasi ke saat sebelum ada masalah.............

+++++++Mbak dewi, maaf adalah suatu kata yang merupakan katalisator bagi sebuah restorasi atas keadaan yang telah terjadi, dan membuat hal-hal yang sudah terjadi, dianggap tidak signifikan lagi, dan para pihak akan kembali ke tempat mereka semula dalam konstelasi yang sama, sejauh bahwa hal itu diserahkan kepada diri masing-masing. Kecuali bahwa akibat dari suatu peristiwa tersebut mengundang kekuatan eksternal untuk melakukan suatu penindakan, misalnya dalam hal tindak pidana, walau sudah dimaafkan, namun tetap saja seseorang yang mencuri harus dihukum. Namun, sejauh hal itu dikembalikan lagi kepada masing-masing, atau, kalau dalam bahasa hukum, hal tersebut adalah ranah perdata (dalam hal ini perceraian adalah ranah perdata), maka tentunya makna kata maaf semestinya adalah bermakna pula rekonsiliasi, dan bukan keputusan untuk berpisah. Karena, itu menjadi kontradiktif. Jadi, janganlah kita mereduksi makna dari suatu kata. Kecuali, jika kajian kita adalah postmodernisme, maka hal itu menjadi lain, dan diskusi kita juga tentunya akan mengarah kepada yang lain. Namun demikian, pada sisi ini memang sangat perseptif. Dan kita serahkan pada dewi saja.++++++++++++++++++++++

Lantas, orang-orang pun berargumen: semua suami-istri juga pada ujungnya j.......

+++++++++Kalau begitu, kemungkinan ’cangkang’ perkawinan memang tidak cocok untuk dewi? Karena, jika dewi percaya kepada komposisi alam semesta yang berjalan menurut ’maksim’nya sendiri, maka sebetulnya tidak ada masalah jika dalam cangkang itu marcell atau bukan, karena kan ketika kita mengambil keputusan untuk masuk ke dalam cangkang itu, maka pastilah kita, terutama dewi sebagai orang yang selama ini dianggap oleh para penggemarnya sebagai orang pintar dan futuristik, sudah paham akan konsekuensinya. Tentunya sudah mempelajari apa itu perkawinan dan segala asesorisnya. Kecuali bahwa perkawinan ini memang hanya ’cangkang’ yang tidak memiliki makna apa-apa buat dewi, ya, berarti ternyata pemahaman anda akan hal kehidupan, ternyata sampai sebegini. Kemudian, mengapa cangkang itu tidak pas? Bahkan mengapa dewi harus melontarkan tuduhan kepada mereka yang memang bisa berjuang mempertahankan perkawinannya sebagai hal yang sia-sia? Ini adalah sebuah metode apologi yang salah, semacam menutupi kesalahan kita dengan menunjuk kepada kesalahan orang lain, supaya orang lain melihat ke arah sana dan tidak melihat ke arah sini. Ada sebuah bahaya dalam statemen ini, karena perkawinan disebut sebagai cangkang yang bisa dicampakkan begitu saja, dan bukan sebuah bangunan rumah yang harus dibangun bersama sebagai tempat berteduh. Mungkin saja bangunannya belum jadi dan kita malah bertengkar tentang kebiasaan kita di rumah. Mungkin bukan rumahnya yang harus dibuang, tetapi kitanya yang harus dicerahkan dan direstorasi+++++

Lantas, bagaimana dengan Keenan.......

Saya menikah bukan karena Keenan, dan kalaupun saya bertahan menikah, seharusnya juga bukan karena Keenan..........


++++++++++Kembali Dewi disini menyampaikan hal yang sesat lagi. Menganggap bahwa eksistensi seseorang seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri adalah hal yang tidak terlalu benar. Edmund Husserl, seorang tokoh filsafat eksistensialisme, menyatakan bahwa setiap eksistensi selalu diiringi dengan ko-eksistensi. Artinya, setiap keberadaan orang dan apa yang dicerapnya, tentu juga akibat pengaruh dari orang lain. Kira-kira merupakan kelanjutan dari ide Cartesian. Fondasi kita memang bukan anak, namun fondasi kita adalah eksistensi-koeksistensi. Bahwa kita memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan koeksistensi etis. Setiap koeksistensi, tidak layak untuk hanya ditanggapi dengan pembiaran. Apalagi jika kita belajar psikologi perkembangan anak, pastilah kita semua tahu apa itu akibatnya dari suatu perceraian. Dan ini ilmiah lho, dapat dipertanggung jawabkan, bukan pendapat sendiri yang validitasnya masih harus kita pertanyakan. Dewi juga mungkin sudah belajar tentang keseimbangan alam versinya new age. Ada suami, ada isteri. Seorang anak, pastilah memiliki ayah dan ibu. Kemudian ekosistem memiliki unsur-unsurnya yang lebih banyak lagi yang menjamin dunia menjadi seimbang. Demikian pula alam semesta. Lalu, bagaimana kalau seorang anak tanpa ayah dan ibu disampingnya sebagaimana ditetapkan versinya keseimbangan alam? Pastilah sudah tidak seimbang. Dan ingat, dewi berkontribusi menciptakan ketidakseimbangan dalam alam semesta, dan terutama, dalam hidup seorang anak bernama Keenan++++++

Di dunia di mana seorang martir selalu memperoleh citra istimewa......

++++++++Sesungguhnya, menurut saya, sains, agama secara esensial dan fundamental tidak berubah. Yang terlihat sebagai perubahan mungkin adalah derivasinya. Mana ada sains jaman ini yang tidak merupakan derivasi dari sains yang terdahulu? Jika kita menggunaan psotulat revolusi sainsnya Karl Raimund Popper ataupun Thomas Kuhn, maka kita tetap akan melihat suatu korelasi derivatif dari Ilmu Pengetahuan. Namun tetap saja ada nilai-nilai yang tidak berubah. Misalnya ukuran meter dan sekon. Ini tidak berubah. Yang berubah adalah derivasinya. Meter bisa menjadi pixel. Sekon bisa menjadi milisekon. Kemudian postulat Newton, juga tidak berubah. Yang berubah pastilah derivasinya. Bahkan jika kita meninjuanya sampai ke Hawking. Demikian juga untuk ukuran moral. Ada yang tidak berubah. Mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri, nampaknya tidak akan berubah sebagai nilai yang positif. Menjadi martir juga tetap akan memiliki nilai yang positif. Egoisme, tetap akan memiliki nilai yang tidak positif, kecuali dalam konsep ubermenschnya Nietzsche, orang yang berakhir dengan kegilaan itu++++++++++++++++++++++++

Membahagiakan Keenan, ....................

+++++++++++jika memang kebahagiaan tidak ditentukan oleh mekanisme eksternal, lalu mengapa dewi tidak menerima saja segala sesuatu dalam pernikahan ini? Kenapa harus bercerai? Kan bisa juga kebahagiaan karena kita memang merasa bahagia, tidak perduli sejauh apapun itu pahitnya terasa kehidupan ini. Jadi, sekali lagi kita diperhadapkan dengan kontradiksi antara pernyataan dewi dengan keputusan yang diambilnya. Namun, saya tetap mempercayai bahwa dalam dialektika, selalu ada kemungkinan pengaruh eksternal dalam hidup kita. Ingat, bahwa eksistensi selalu mengandung koeksistensi. Demikian juga respon kita, akan dipengaruhi oleh dua hal tersebut. Tidak perlu membahagiakan orang lain, cukup memenuhi tanggung jawab saja sebagai orang yang sudah mengambil keputusan untuk menikah dan punya anak. Belum tentu juga yang orang tuanya lengkap merasakan kebahagiaan. Namun, poinnya saya kir bukan disitu, tapi responsibility saja. Bayangkan sebuah dunia tanpa manusia yang bertanggung jawab, pastilah akan hancur. Dan tanggung jawab itu bisa dinilai dari ukuran yang kecil seperti bertanggung jawab terhadap keluarga dan sebagainya. Sebab, jika kebahagiaan diukur hanya dengan aspek internal, maka saya khawatir ini akan membawa kepada ekstrem yang lain. Kita berbuat sesukanya saja kepada orang lain, toh apakah dia merasa tersakiti atau tidak dengan perbuatan kita, adalah keputusan dia sendiri, bukan karena kita menyakiti orang lain. Dalam sisi ekstrem yang lain, bahkan membunuh orang menjadi halal, karena bisa saja bermakna pembebasan, seperti yang dilakukan oleh seorang ibu di Margahayu Bandung ketika membunuh ketiga orang anaknya dengan alasan menghindari konsekuensi penderitaan bagi anaknya di masa yang akan datang++++++++++++++

Seseorang lantas mampir ke blog ini dan bertanya: Tuhan seperti apa ..............

+++++++++Justru, anda mengkerdilkan Tuhan. Dan ini tidak logis. Tuhan menjadi nir nilai. Bagaimana kita menerangkan tuhan yang tanpa nilai? Bahkan , sekali lagi ini menyangkali logika dialektika, bahwa ada yang baik, ada yang jahat. Ada Tuhan, dan ada setan. Kok jadi banyak yang tidak logisnya ya? Dan, menurut saya terlalu jauh jika diskusinya menyangkut Tuhan. Tidak ada peran Tuhan dalam urusan dewi ini. Semuanya adalah keputusan dewi sendiri. Berusaha melibatkan Tuhan dalam urusan ini, menunjukkan bahwa kita tidak memahami Tuhan. Apalagi berusaha menafsirkan kejadian-kejadian tertentu (air mata, patah hati, ketidakadilan, kejahatan) sebagai perbuatan Tuhan atau pembiaran dari Tuhan+++++++

Selama beberapa hari terakhir, begitu banyak pesan dan komentar yang......

++++++++++Nah, disini baru kelihatan aslinya. Bahwa dewi memang ’mengambil keputusan’ untuk bercerai. Jadi , bukan karena ’memang harus begitu’, tetapi lebih kepada ’inilah pilihan kami’, untuk menyelamatkan keutuhan hati dan jiwa masing-masing. Kata masing-masing, tentunya menyiratkan adanya ego. Sebab, kata ’keluarga’ dengan kata ’masing-masing’, memiliki makna yang agak diametral. Jika keluarga memiliki identitas bersama (plural/korporat), maka masing-masing bermakna pribadi(ego/singular/monolitik). Perkataan kembali urus diri masing-masing juga semakin menyiratkan bahwa keputusan yang diambil adalah keputusan masing-masing, bukan karena ’kadaluwarsa’, atau karena ’kodrat’ dan sebagainya. Disini baru terlihat aslinya dewi. Itu seharusnya yang a tonjolkan, bukan berusaha untuk membuat dia ’innocent’ dan berusaha menampilkan sosok bijaksana. Dewi adalah bagian dari milyaran manusia biasa seperti saya dan kita semua. Jadi, tidak perlu memberikan penjelasan yang njlimet, karena akhirnya ketahuan juga aslinya+++++++

Saya bukan penonton infotainment dan juga bukan pembaca tabloid......

++++++++++Ah Dewi, kan kamu juga memanfaatkan kehausan publik akan drama, makanya kamu buat novel, cerita, dan bahkan lagu-lagu kamu semasa di RSD, juga penuh dengan dramatisasi. Jangan membuat seolah-olah kamu tidak setuju dengan dramatisasi, tapi kamu hidup dari dramatisasi itu sendiri.++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

saya ditunjukkan tabloid C&R yang terbaru. Kami berdua menjadi sampul depan, dengan laporan empat halaman........
Beberapa debat dan diskusi di internet pun merebak.....


Lalu, hendak ke mana setelah ini? Saya tidak tahu.....

++++++++++Nah, ini juga menunjukkan fakta yang lain. Artinya, kemungkinan besar Dewi emang tidak tahu lagi siapa dirinya, kemana ia akan pergi atau kemana sebenarnya ia pergi selama ini dan bagaimana dia harus berbuat. Itulah yang menyebabkan dia bercerai. ‘Tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat’. Ini adalah sebuah ’escape clause’, klausul pelarian. Lari ke ’ketidaktahuan’. Ini juga aspek dramatisasi dari Dewi yang disajikan kepada kita+++++++++++++++++++++++++++++

Jadi, kalau pertanyaan emas itu kembali dilontarkan: apa penyebab Dewi dan Marcell bercerai? Mereka sadar, menerima, dan memaafkan… bahwa hidup telah membawa mereka ke titik perpisahan.

+++++++++Lagi-lagi kata ’maaf’, ’sadar’, sudah dilibatkan dalam perdebatan diantara mereka sendiri. Diantara kata-kata itu sendiri. Bahwa hidup membawa mereka ke titik perpisahan. Namun, seperti ungkapan dewi diatas (sebelumnya), mengapa mereka tidak sadar dan menerima bahwa tugas kita manusia adalah untuk mempertahankan supaya tidak berpisah (sesuai pernyataan dia di awal alinea catatan perpisahan ini) dan bukankah dengan demikian kita tidak punya hak untuk memutuskan mengenai kapan harus berpisah?+++++++

Abstrak? Filosofis? Teoritis? Utopis? Saya sangat mengerti mengapa label-label itu muncul. Kebenaran kadang memang sukar dipahami. Hanya bisa dirasakan. Sama gagapnya kita berusaha mendefinisikan Cinta. Pada akhirnya, kita cuma bisa merasakan akibatnya.

++++++++++++Abstrak? Mungkin iya. Karena dewi berusaha untuk membuatnya terlihat seperti itu. Uraian yang memiliki kontradiksi dan pernyataan yang bertentang dengan logika didalamnya pastilah akan terlihat abstrak. Tapi, apakah penjelasan ini memiliki makna filosofis? Tidak. Sebenarnya Dengan melontarkan pertanyaan seperti itu, dewi sudah melakukan fait accompli, yaitu dia mempersepsikan bahwa orang yang membaca tulisan ini akan menganggap uraian dia filosofis, dan teoritis. Padahal sama sekali ini adalah ungkapan pragmatis yang dicoba untuk dikemas secara lebih abstrak. Penjelasan dewi ini sebenarnya dangkal, banal (B-A-N-A-L). Mengapa? Sebab dia berputar-putar untuk menutupi kondisi sebenarnya dan apa yang sebenarnya terjadi. Dewi ingin mempertahankan gembaran dirinya sebagaimana yang mungkin sudah tergambar dalam karya-karyanya. Dewi ingin terlihat wise, dan bahkan berusaha mempengaruhi orang agar mengikuti pemikirannya. Sayangnya, uraian dewi kurang begitu dikemas dengan cerdas, sehingga, dari uraiannya saja sudah terbongkar bahwa paparan ini penuh dengan kontradiksi yang tidak logis. Walau dibungkus dengan tata bahasa yang mirip ’maksim’, tetap saja bagi mereka yang melakukan verifikasi logis secara mendalam, akan menemukan kedangkalan seorang dewi dalam pemaparannya. Saya belum pernah membaca bukunya Dewi. Tapi, orang menganggap bahwa buku Dewi itu memberi pencerahan, agak saintifik dan sebagainya. Namun dari paparannya yang kita baca hari ini, ternyata Mungkin Moammar Emka lebih oke, ketika saya melihat debatnya di TV ONE beberapa waktu yang lalu+++++++++++++++++++++++++++

+++++++++++Mengapa saya tertarik untuk mengomentari tulisan dewi ini? Pertama, karena tuliasn ini mampir di e-mail saya. dikirim oleh seseorang. Kedua, karena ada bahaya mengintai. Dia mencoba untuk mengarahkan opini masyarakat tentang suatu lembaga yang namanya perkawinan, menjadi lembaga yang tidak memiliki nilai sama sekali, kecuali hanaylah sebuah hubungan perdata saja. Dan, bahwa tanggung jawab untuk anak, diserahkan kepada anak itu sendiri. Ini bahaya. Apalagi keluar dari seorang public figure semacam dia. Alasan lain, saya tidak ingin masyarakat juga terbawa dalam logika yang amburadul versinya Dewi Mangunsong. Saya khawatir nanti masyarakat kita tidak lagi paham apa itu logika karenanya++

++++++++++Saran : sebaiknya Dewi menyampaikan kepada publik bahwa ini adalah keputusan saya, untuk kepentingan saya, urusan saya, dan anda urus diri anda sendiri, gitu. Daripada membuat psotulat-postulat baru yang membawa generalitas kasus pribadi yang sebenarnya harus dipandang secara kasuistik, dan tidak memiliki keabsahan untuk digeneralisasi sebagai ’destiny’. nanti, orang berbondong-bondong cerai. Kan sudah ’destiny’.+++

Winner Jhonshon,
Advokat dan Mahasiswa
Di Bandung
Reply With Quote
  #50 (permalink)  
Old 1st September 2008
ifera2006's Avatar
AP - Adopted by Grace
 
Join Date: Dec 2006
Posts: 724
ifera2006 is a name known to allifera2006 is a name known to allifera2006 is a name known to allifera2006 is a name known to allifera2006 is a name known to allifera2006 is a name known to all
Default

Quote:
Originally Posted by winnerjhonshon View Post
boleh komen ya. sebenernya kalo kita mau berpikir kritis, tulisannya dewi ini musti dikritisi juga. soalnya ada unsur bahayanya juga. terutama buat keutuhan perkawinan dan juga ada unsur pembodohan didalamnya. saya ingin jawab catatannya itu dengan Firman Tuhan. tapi menurut saya Firman Tuhan terlalu tinggi untuk menanggapi tulisan dia.
ini catatannya dewi dan komentar saya… (komentar saya dikasih tanda +++)
catatannya dewi saya potong karena kepanjangan untuk forum ini..

Perpisahan, .........

+++++Dewi berusaha untuk memulai pemaparannya (apologi/pembelaannya) dengan baik. Disini dia memulai dengan dialektika, yaitu jika ada perjumpaan, pasti ada perpisahan. Jika ada saya pasti karena ada kamu. Jika ada muda, pasti karena ada yang tua. Logika Cartesian ini, yang diperkenalkan oleh Rene Descartes (seorang filsuf Yunani), mengawali ’pencerahan’ dari sang dewi ini. Kemudian, dia juga memaparkan suatu hal yang akan membawa perdebatan dalam pemaparannya dalam tahap selanjutnya. Perdebatan itu sendiri terjadi diantara teks-teks yang disampaikannya (among themselves), dan bukan pada kita pembaca. Kalimat-kalimat Seberapa lama jatah kita hidup, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, kita selalu berjuang setengah mati untuk bisa menerima mati, telah membuka celah bagi diskusi dan dari sejak awal dia sudah mematahkan argumen-argumen yang akan dia paparkan dalam episode apologi berikutnya. Mari kita tengok isi kalimat itu. Dewi tidak pernah tahu kapan dia akan mengalami perpisahan atau kematian. Artinya, tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan waktunya bagi dia untuk berpisah. Yang harus dilakukan adalah bertahan. Demikian juga bahwa dari logika sedemikian ini, kiranya sah pula pernyataan berikutnya, yaitu bahwa dengan demikian maka tidak ada seorang pun juga yang berhak untuk menentukan kapan waktunya bagi dia untuk berpisah. Jadi, yang dilakukan oleh manusia adalah berusaha mempertahankannya. Dan mestinya, manusia hanya sampai pada tahap itu, dan bukan pada tahap mengambil keputusan untuk berpisah, apapun alasannya.
Kedua, dewi ini tidak lengkap menerangkan bahwa dalam sebuah peristiwa, sebagaimana juga dialektika itu terjadi, yaitu ada perjumpaan, ada perpisahan, ada muda , ada tua. Ada lahir , ada mati. Ketika dialektika itu harus berjalan, satu hal yang harus kita pahami, bahwa dalam hal itu pasti ada variabel pendukungnya. Kematian, variablenya bisa penyakit, bisa juga karena pembunuhan. Penyakit itu juga variabelnya bisa beberapa, bisa karena kemiskinan, kurang makan, atau juga bisa saja karena terlalu kaya lantas bisa stroke. Lalu, peristiwa atau keadaan yang namanya kemiskinan, bisa disebabkan oleh kondisi alam yang tidak mendukung, atau karena kemalasan. Jika kita urut lebih jauh lagi, maka akan ada urutan peristiwa yang sangat panjang, dan variabel/premis pendukungnya bisa ribuan. Setiap peristiwa atau keadaan, ada faktor pendukungnya. Jadi, peristiwa perpisahan juga ada variabelnya. Apakah karena dipisahkan oleh Tuhan (kematian) atau perpisahan karena faktor manusianya. Inilah objek obervasi kita atau objek verifikasi kita atas argumen dewi selanjutnya.
Jadi, dari pernyataan dewi, ada dua konklusi penting yang harus kita jadikan pisau penguji dan patokan dalam mengkritisi pendapat beliau berikutnya, yaitu :

++++1. bahwa tidak ada seorangpun yang tahu kapan akan mengalami perpisahan. Dengan demikian, tidak sah pula kewenangan seeorang untuk menyatakan kapan waktunya untuk perpisahan. Kecuali kita memandang bahwa itu bukanlah sebuah perpisahan yang ’memang seharusnya’, tetapi lebih kepada keputusan manusia.
++++2. bahwa dalam setiap peristiwa atau keadaan, pastilah ada variabel pendukungnya. Tidak mungkin sebuah peristiwa terjadi begitu saja. Tinggal diverifikasi, apakah penyebabnya adalah alam, Tuhan, atau ternyata manusia itu sendiri.++++++++

Saya sempat termenung melihat salah satu adegan dalam film “Earth” ............

Dalam semua hubungan, kita bisa saja menemukan 1001 alasan ...................
Jadi, semua faktor yang selama ini diabsahkan orang-orang sebagai penyebab perpisahan .................................................. ..................................
++++++Nampaknya Dewi kesulitan untuk melakukan pemilahan mana yang merupakan gejala, dan mana yang merupakan penyebab. Jika KDRT dan orang ketiga adalah gejala dan bukan penyebab, jadi penyebabnya apa? Menyerahkan kepada ’memang sudah waktunya’, tidak memiliki penjelasan yang masuk akal. Ini juga menyampaikan lagi pada kita ketidakonsistenan pemikiran dewi. Diatas dia menyampaikan bahwa penyebab batuk adalah virus. Jadi ’bukan sudah waktunya’. Jadi memang alasan ’sudah waktunya’ itu adalah mengada-ada. ++++++++++++

September 2006 adalah momen penyadaran saya dengan Marcell...................

+++++++++Disini, inkonsistensi dan irrasionalitas dewi dalam berujar semakin jelas . Pada alinea pertama ujarannya, dia mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan akan terajdi perpisahan. Yang kita bisa upayakan adalah mempertahankannya. Pada alinea terakhir ini, setelah sebelumnya kita ‘diarahkan’ dengan berbagai analogi-analogi dari cerita-cerita yang tidak memiliki nilai filosofis, kecuali mengajarkan kepada kita pragmatisme (dalam banyak karya sastra berupa cerita/novel, sangat sedikit sekali yang didalamnya berisi ajaran yang filsafati, kebanyakan adalah pragmatis dan ilusionis), dewi menjadi ‘mengetahui’ bahwa inilah saatnya dia untuk berpisah dengan Marcell. (frase ‘kesadaran’, ‘awareness’, merupakan suatu pengesahan atas kondisi bahwa seseorang mengetahui sesuatu) Pada titik ini, kita melihat hal yang tidak lagi logis. Dewi sudah mulai mematahkan argumennya sendiri. Dewi mensimplifikasikan sebuah kata ’kadaluwarsa’. Padahal, dalam banyak literatur, kata’kadaluwarsa’ ini membutuhkan legalisasi, atau acknowledgement, mengenai apa yang dimaksud dengan kadaluwarsa itu. Kita breakdown ke peristiwa yang dialami dewi.

1. Apa yang menyebabkan hubungan dewi-marcell menjadi kadaluwarsa?
2. Apa parameter kadaluwarsa tersebut?
3. Apakah benar bahwa perpisahan itu disebabkan suatu faktor eksternal yang tidak dapat dikuasai, atau ternyata faktor internal yang sebetulnya bisa di drive?

Ini yang harus dijelaskan oleh Dewi.
Mengapa dia harus menjelaskan ini ? karena dia menggunakan kata kadaluwarsa. Kadaluwarsa, adalah similar dengan expired. Kata ini sama dengan istilah legal dan sah, yang membutuhkan pengakuan pihak lain jika seseorang hendak menyatakan sesuatu itu sah atau legal. Demikian juga istilah kadaluwarsa. Apa yang diungkapkan oleh Dewi dengan menyederhanakan sebuah hubungan sebagai memiliki aspek kadaluwarsa, adalah berbahaya, sebab adopsi terhadap istilah ini akan menimbulkan sebuah postulat baru, yang akan menimbulkan generalisasi terhadap apa yang dialami oleh dewi , menjadi terhadap semua peristiwa percaraian. Penggunaan istilah ini, memerlukan yang namanya generali opinio necesitatis , atau pengakuan publik atas suatu postulat. Nah, untuk memberikan suatu postulat, maka diperlukan pengujian secara ilmiah beserta parameternya. Jika tidak, maka istilah ini tidak memiliki arti. Akan sama artinya dengan istilah posmodernisme ditangan seorang mahasiswa yang baru belajar filsafat. Kemudian, satu hal yang perlu diklarifikasi lagi oleh Dewi. Benarkah kehidupan ada kadaluwarsanya? Jika kita melihat dalam tataran aktivitas, ya. Tapi itu juga perlu rentangan waktu yang tidak prematur. Namun jika kita melihat dalam sisi yang lain, misalnya posesivitas, seringkali makin lama hidup ini memberikan kepada orang kepemilikan yang semakin banyak atas segala sesuatu. Baik itu tangible seperti harta benda, uang dan sebagainya ataupun juga intangible seperti kehormatan, nama besar dan sebagainya. Apalagi, jika kehidupan dilihat dari nilai yang lebih mulia dari itu, misalnya mama Teresa yang tdk punya apa-apa namun hidupnya mulia, tidak seperti Osama Bin Laden, orangnya kaya tapi hidupnya mirip binatang. Bahkan, jika kita merujuk kepada pendapatnya Tan Malaka, bahkan kematian akan membawa kebesaran yang lebih dahsyat (Ini disampaikan oleh Tan Malaka, dalam bukunya MADILOG (Materialisme, Dialektika Logika), bahwa sebelum dia dihukum oleh pemerintah Hongkong, dia berkata “suaraku akan terdengar lebih keras dari dalam kubur”). . Jadi statement atau premis yang disampaikan dewi tentang kadaluwarsa ini perlu untuk dikaji dan diklarifikasi lebih lanjut, sebab tidak memiliki keabsahan secara rasional.+++++++++

Memaafkan bagi saya adalah menerima. Menerima kondisi kami apa adanya.................

+++++++Kita perlu kejujuran dewi untuk menjelaskan mengapa dia bertemu dengan Marcell. Kita bukanlah makhluk mesin yang tidak memiliki perasaan, ataupun binatang yang tidak memiliki respon terhadap impuls-impuls ataupun rangsangan apapun. Setiap tindakan yang dilakukan manusia, maka normalnya tindakan tersebut memiliki dasar (reasoning ) yang kuat. Saya yakin, ada hal yang diketahui dewi yang membuat dia mau untuk menjalin hubungan dengan Marcell. Jika dia mengatakan bahwa bahwa dia tidak mengetahui mengapa dia bertemu marcell, saya khawatir bahkan dia mungkin tidak tahu siapa dia sekarang (losing identity). Maaf, mungkin kita bahkan perlu mencari tahu seperti apa pergaulan antara Dewi dengan Marcell, atau dengan pacar-pacar terdahulunya dewi, berapa lama rentang waktu antara pernikahan dewi dengan kelahiran anaknya. Hal ini penting untuk mengetahui motif pernikahan antara dewi dengan marcell.+++++++

Namun seringkali konsep “memaafkan” yang kita kehendaki adalah kemampuan untuk mengembalikan situasi ke saat sebelum ada masalah.............

+++++++Mbak dewi, maaf adalah suatu kata yang merupakan katalisator bagi sebuah restorasi atas keadaan yang telah terjadi, dan membuat hal-hal yang sudah terjadi, dianggap tidak signifikan lagi, dan para pihak akan kembali ke tempat mereka semula dalam konstelasi yang sama, sejauh bahwa hal itu diserahkan kepada diri masing-masing. Kecuali bahwa akibat dari suatu peristiwa tersebut mengundang kekuatan eksternal untuk melakukan suatu penindakan, misalnya dalam hal tindak pidana, walau sudah dimaafkan, namun tetap saja seseorang yang mencuri harus dihukum. Namun, sejauh hal itu dikembalikan lagi kepada masing-masing, atau, kalau dalam bahasa hukum, hal tersebut adalah ranah perdata (dalam hal ini perceraian adalah ranah perdata), maka tentunya makna kata maaf semestinya adalah bermakna pula rekonsiliasi, dan bukan keputusan untuk berpisah. Karena, itu menjadi kontradiktif. Jadi, janganlah kita mereduksi makna dari suatu kata. Kecuali, jika kajian kita adalah postmodernisme, maka hal itu menjadi lain, dan diskusi kita juga tentunya akan mengarah kepada yang lain. Namun demikian, pada sisi ini memang sangat perseptif. Dan kita serahkan pada dewi saja.++++++++++++++++++++++

Lantas, orang-orang pun berargumen: semua suami-istri juga pada ujungnya j.......

+++++++++Kalau begitu, kemungkinan ’cangkang’ perkawinan memang tidak cocok untuk dewi? Karena, jika dewi percaya kepada komposisi alam semesta yang berjalan menurut ’maksim’nya sendiri, maka sebetulnya tidak ada masalah jika dalam cangkang itu marcell atau bukan, karena kan ketika kita mengambil keputusan untuk masuk ke dalam cangkang itu, maka pastilah kita, terutama dewi sebagai orang yang selama ini dianggap oleh para penggemarnya sebagai orang pintar dan futuristik, sudah paham akan konsekuensinya. Tentunya sudah mempelajari apa itu perkawinan dan segala asesorisnya. Kecuali bahwa perkawinan ini memang hanya ’cangkang’ yang tidak memiliki makna apa-apa buat dewi, ya, berarti ternyata pemahaman anda akan hal kehidupan, ternyata sampai sebegini. Kemudian, mengapa cangkang itu tidak pas? Bahkan mengapa dewi harus melontarkan tuduhan kepada mereka yang memang bisa berjuang mempertahankan perkawinannya sebagai hal yang sia-sia? Ini adalah sebuah metode apologi yang salah, semacam menutupi kesalahan kita dengan menunjuk kepada kesalahan orang lain, supaya orang lain melihat ke arah sana dan tidak melihat ke arah sini. Ada sebuah bahaya dalam statemen ini, karena perkawinan disebut sebagai cangkang yang bisa dicampakkan begitu saja, dan bukan sebuah bangunan rumah yang harus dibangun bersama sebagai tempat berteduh. Mungkin saja bangunannya belum jadi dan kita malah bertengkar tentang kebiasaan kita di rumah. Mungkin bukan rumahnya yang harus dibuang, tetapi kitanya yang harus dicerahkan dan direstorasi+++++

Lantas, bagaimana dengan Keenan.......

Saya menikah bukan karena Keenan, dan kalaupun saya bertahan menikah, seharusnya juga bukan karena Keenan..........


++++++++++Kembali Dewi disini menyampaikan hal yang sesat lagi. Menganggap bahwa eksistensi seseorang seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri adalah hal yang tidak terlalu benar. Edmund Husserl, seorang tokoh filsafat eksistensialisme, menyatakan bahwa setiap eksistensi selalu diiringi dengan ko-eksistensi. Artinya, setiap keberadaan orang dan apa yang dicerapnya, tentu juga akibat pengaruh dari orang lain. Kira-kira merupakan kelanjutan dari ide Cartesian. Fondasi kita memang bukan anak, namun fondasi kita adalah eksistensi-koeksistensi. Bahwa kita memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan koeksistensi etis. Setiap koeksistensi, tidak layak untuk hanya ditanggapi dengan pembiaran. Apalagi jika kita belajar psikologi perkembangan anak, pastilah kita semua tahu apa itu akibatnya dari suatu perceraian. Dan ini ilmiah lho, dapat dipertanggung jawabkan, bukan pendapat sendiri yang validitasnya masih harus kita pertanyakan. Dewi juga mungkin sudah belajar tentang keseimbangan alam versinya new age. Ada suami, ada isteri. Seorang anak, pastilah memiliki ayah dan ibu. Kemudian ekosistem memiliki unsur-unsurnya yang lebih banyak lagi yang menjamin dunia menjadi seimbang. Demikian pula alam semesta. Lalu, bagaimana kalau seorang anak tanpa ayah dan ibu disampingnya sebagaimana ditetapkan versinya keseimbangan alam? Pastilah sudah tidak seimbang. Dan ingat, dewi berkontribusi menciptakan ketidakseimbangan dalam alam semesta, dan terutama, dalam hidup seorang anak bernama Keenan++++++

Di dunia di mana seorang martir selalu memperoleh citra istimewa......

++++++++Sesungguhnya, menurut saya, sains, agama secara esensial dan fundamental tidak berubah. Yang terlihat sebagai perubahan mungkin adalah derivasinya. Mana ada sains jaman ini yang tidak merupakan derivasi dari sains yang terdahulu? Jika kita menggunaan psotulat revolusi sainsnya Karl Raimund Popper ataupun Thomas Kuhn, maka kita tetap akan melihat suatu korelasi derivatif dari Ilmu Pengetahuan. Namun tetap saja ada nilai-nilai yang tidak berubah. Misalnya ukuran meter dan sekon. Ini tidak berubah. Yang berubah adalah derivasinya. Meter bisa menjadi pixel. Sekon bisa menjadi milisekon. Kemudian postulat Newton, juga tidak berubah. Yang berubah pastilah derivasinya. Bahkan jika kita meninjuanya sampai ke Hawking. Demikian juga untuk ukuran moral. Ada yang tidak berubah. Mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri, nampaknya tidak akan berubah sebagai nilai yang positif. Menjadi martir juga tetap akan memiliki nilai yang positif. Egoisme, tetap akan memiliki nilai yang tidak positif, kecuali dalam konsep ubermenschnya Nietzsche, orang yang berakhir dengan kegilaan itu++++++++++++++++++++++++

Membahagiakan Keenan, ....................

+++++++++++jika memang kebahagiaan tidak ditentukan oleh mekanisme eksternal, lalu mengapa dewi tidak menerima saja segala sesuatu dalam pernikahan ini? Kenapa harus bercerai? Kan bisa juga kebahagiaan karena kita memang merasa bahagia, tidak perduli sejauh apapun itu pahitnya terasa kehidupan ini. Jadi, sekali lagi kita diperhadapkan dengan kontradiksi antara pernyataan dewi dengan keputusan yang diambilnya. Namun, saya tetap mempercayai bahwa dalam dialektika, selalu ada kemungkinan pengaruh eksternal dalam hidup kita. Ingat, bahwa eksistensi selalu mengandung koeksistensi. Demikian juga respon kita, akan dipengaruhi oleh dua hal tersebut. Tidak perlu membahagiakan orang lain, cukup memenuhi tanggung jawab saja sebagai orang yang sudah mengambil keputusan untuk menikah dan punya anak. Belum tentu juga yang orang tuanya lengkap merasakan kebahagiaan. Namun, poinnya saya kir bukan disitu, tapi responsibility saja. Bayangkan sebuah dunia tanpa manusia yang bertanggung jawab, pastilah akan hancur. Dan tanggung jawab itu bisa dinilai dari ukuran yang kecil seperti bertanggung jawab terhadap keluarga dan sebagainya. Sebab, jika kebahagiaan diukur hanya dengan aspek internal, maka saya khawatir ini akan membawa kepada ekstrem yang lain. Kita berbuat sesukanya saja kepada orang lain, toh apakah dia merasa tersakiti atau tidak dengan perbuatan kita, adalah keputusan dia sendiri, bukan karena kita menyakiti orang lain. Dalam sisi ekstrem yang lain, bahkan membunuh orang menjadi halal, karena bisa saja bermakna pembebasan, seperti yang dilakukan oleh seorang ibu di Margahayu Bandung ketika membunuh ketiga orang anaknya dengan alasan menghindari konsekuensi penderitaan bagi anaknya di masa yang akan datang++++++++++++++

Seseorang lantas mampir ke blog ini dan bertanya: Tuhan seperti apa ..............

+++++++++Justru, anda mengkerdilkan Tuhan. Dan ini tidak logis. Tuhan menjadi nir nilai. Bagaimana kita menerangkan tuhan yang tanpa nilai? Bahkan , sekali lagi ini menyangkali logika dialektika, bahwa ada yang baik, ada yang jahat. Ada Tuhan, dan ada setan. Kok jadi banyak yang tidak logisnya ya? Dan, menurut saya terlalu jauh jika diskusinya menyangkut Tuhan. Tidak ada peran Tuhan dalam urusan dewi ini. Semuanya adalah keputusan dewi sendiri. Berusaha melibatkan Tuhan dalam urusan ini, menunjukkan bahwa kita tidak memahami Tuhan. Apalagi berusaha menafsirkan kejadian-kejadian tertentu (air mata, patah hati, ketidakadilan, kejahatan) sebagai perbuatan Tuhan atau pembiaran dari Tuhan+++++++

Selama beberapa hari terakhir, begitu banyak pesan dan komentar yang......

++++++++++Nah, disini baru kelihatan aslinya. Bahwa dewi memang ’mengambil keputusan’ untuk bercerai. Jadi , bukan karena ’memang harus begitu’, tetapi lebih kepada ’inilah pilihan kami’, untuk menyelamatkan keutuhan hati dan jiwa masing-masing. Kata masing-masing, tentunya menyiratkan adanya ego. Sebab, kata ’keluarga’ dengan kata ’masing-masing’, memiliki makna yang agak diametral. Jika keluarga memiliki identitas bersama (plural/korporat), maka masing-masing bermakna pribadi(ego/singular/monolitik). Perkataan kembali urus diri masing-masing juga semakin menyiratkan bahwa keputusan yang diambil adalah keputusan masing-masing, bukan karena ’kadaluwarsa’, atau karena ’kodrat’ dan sebagainya. Disini baru terlihat aslinya dewi. Itu seharusnya yang a tonjolkan, bukan berusaha untuk membuat dia ’innocent’ dan berusaha menampilkan sosok bijaksana. Dewi adalah bagian dari milyaran manusia biasa seperti saya dan kita semua. Jadi, tidak perlu memberikan penjelasan yang njlimet, karena akhirnya ketahuan juga aslinya+++++++

Saya bukan penonton infotainment dan juga bukan pembaca tabloid......

++++++++++Ah Dewi, kan kamu juga memanfaatkan kehausan publik akan drama, makanya kamu buat novel, cerita, dan bahkan lagu-lagu kamu semasa di RSD, juga penuh dengan dramatisasi. Jangan membuat seolah-olah kamu tidak setuju dengan dramatisasi, tapi kamu hidup dari dramatisasi itu sendiri.++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

saya ditunjukkan tabloid C&R yang terbaru. Kami berdua menjadi sampul depan, dengan laporan empat halaman........
Beberapa debat dan diskusi di internet pun merebak.....


Lalu, hendak ke mana setelah ini? Saya tidak tahu.....

++++++++++Nah, ini juga menunjukkan fakta yang lain. Artinya, kemungkinan besar Dewi emang tidak tahu lagi siapa dirinya, kemana ia akan pergi atau kemana sebenarnya ia pergi selama ini dan bagaimana dia harus berbuat. Itulah yang menyebabkan dia bercerai. ‘Tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat’. Ini adalah sebuah ’escape clause’, klausul pelarian. Lari ke ’ketidaktahuan’. Ini juga aspek dramatisasi dari Dewi yang disajikan kepada kita+++++++++++++++++++++++++++++

Jadi, kalau pertanyaan emas itu kembali dilontarkan: apa penyebab Dewi dan Marcell bercerai? Mereka sadar, menerima, dan memaafkan… bahwa hidup telah membawa mereka ke titik perpisahan.

+++++++++Lagi-lagi kata ’maaf’, ’sadar’, sudah dilibatkan dalam perdebatan diantara mereka sendiri. Diantara kata-kata itu sendiri. Bahwa hidup membawa mereka ke titik perpisahan. Namun, seperti ungkapan dewi diatas (sebelumnya), mengapa mereka tidak sadar dan menerima bahwa tugas kita manusia adalah untuk mempertahankan supaya tidak berpisah (sesuai pernyataan dia di awal alinea catatan perpisahan ini) dan bukankah dengan demikian kita tidak punya hak untuk memutuskan mengenai kapan harus berpisah?+++++++

Abstrak? Filosofis? Teoritis? Utopis? Saya sangat mengerti mengapa label-label itu muncul. Kebenaran kadang memang sukar dipahami. Hanya bisa dirasakan. Sama gagapnya kita berusaha mendefinisikan Cinta. Pada akhirnya, kita cuma bisa merasakan akibatnya.

++++++++++++Abstrak? Mungkin iya. Karena dewi berusaha untuk membuatnya terlihat seperti itu. Uraian yang memiliki kontradiksi dan pernyataan yang bertentang dengan logika didalamnya pastilah akan terlihat abstrak. Tapi, apakah penjelasan ini memiliki makna filosofis? Tidak. Sebenarnya Dengan melontarkan pertanyaan seperti itu, dewi sudah melakukan fait accompli, yaitu dia mempersepsikan bahwa orang yang membaca tulisan ini akan menganggap uraian dia filosofis, dan teoritis. Padahal sama sekali ini adalah ungkapan pragmatis yang dicoba untuk dikemas secara lebih abstrak. Penjelasan dewi ini sebenarnya dangkal, banal (B-A-N-A-L). Mengapa? Sebab dia berputar-putar untuk menutupi kondisi sebenarnya dan apa yang sebenarnya terjadi. Dewi ingin mempertahankan gembaran dirinya sebagaimana yang mungkin sudah tergambar dalam karya-karyanya. Dewi ingin terlihat wise, dan bahkan berusaha mempengaruhi orang agar mengikuti pemikirannya. Sayangnya, uraian dewi kurang begitu dikemas dengan cerdas, sehingga, dari uraiannya saja sudah terbongkar bahwa paparan ini penuh dengan kontradiksi yang tidak logis. Walau dibungkus dengan tata bahasa yang mirip ’maksim’, tetap saja bagi mereka yang melakukan verifikasi logis secara mendalam, akan menemukan kedangkalan seorang dewi dalam pemaparannya. Saya belum pernah membaca bukunya Dewi. Tapi, orang menganggap bahwa buku Dewi itu memberi pencerahan, agak saintifik dan sebagainya. Namun dari paparannya yang kita baca hari ini, ternyata Mungkin Moammar Emka lebih oke, ketika saya melihat debatnya di TV ONE beberapa waktu yang lalu+++++++++++++++++++++++++++

+++++++++++Mengapa saya tertarik untuk mengomentari tulisan dewi ini? Pertama, karena tuliasn ini mampir di e-mail saya. dikirim oleh seseorang. Kedua, karena ada bahaya mengintai. Dia mencoba untuk mengarahkan opini masyarakat tentang suatu lembaga yang namanya perkawinan, menjadi lembaga yang tidak memiliki nilai sama sekali, kecuali hanaylah sebuah hubungan perdata saja. Dan, bahwa tanggung jawab untuk anak, diserahkan kepada anak itu sendiri. Ini bahaya. Apalagi keluar dari seorang public figure semacam dia. Alasan lain, saya tidak ingin masyarakat juga terbawa dalam logika yang amburadul versinya Dewi Mangunsong. Saya khawatir nanti masyarakat kita tidak lagi paham apa itu logika karenanya++

++++++++++Saran : sebaiknya Dewi menyampaikan kepada publik bahwa ini adalah keputusan saya, untuk kepentingan saya, urusan saya, dan anda urus diri anda sendiri, gitu. Daripada membuat psotulat-postulat baru yang membawa generalitas kasus pribadi yang sebenarnya harus dipandang secara kasuistik, dan tidak memiliki keabsahan untuk digeneralisasi sebagai ’destiny’. nanti, orang berbondong-bondong cerai. Kan sudah ’destiny’.+++

Winner Jhonshon,
Advokat dan Mahasiswa
Di Bandung
wahh enaknya jadi seleb...
__________________
a Stranger in the World

visit me [url]www.ifera.blogspot.com[/url] hhihii narsis.com
Reply With Quote
  #51 (permalink)  
Old 1st September 2008
yoza76's Avatar
AP - Clueless Newbie
 
Join Date: Sep 2008
Location: Indonesia
Posts: 1
yoza76 is infamous around these parts
Smile Perceraian

Quote:
Originally Posted by ifera2006 View Post
wahh enaknya jadi seleb...
terimakasih untuk penjelasan panjang lebar .. kadang saking pinternya orang sampe bingung sendiri mau kemana ato mau ngapain .

La wong jelas janji pernikahan .. apa yang sudah dipersatukan Allah jangan diceraikan manusia .. jadi kalo sampe bercerai ya jelas karena manusianya to ..

Jujur .. saat ini prihatin dengan perkembangan yang ada .. sudah sedemikian rusakkah dunia sampai orang sudah sulit memahami makna suatu relasi atau hubungan?

For God so loved the world that He gave His one and only Son, that whoever belieeves in Him shall not perish but have eternal life. Amen