 |
|

24th August 2004
|
|
AP - Senior Member
|
|
Join Date: Jul 2004
Age: 46
Posts: 66
|
|
kerajaan, new age, babel 1
KOMUNITAS dan INJIL KERAJAAN, BABEL, NEW AGE
1. Pendahuluan
Pengertian komunitas, didalam tulisan ini adalah kelompok individu-individu yang mempunyai keyakinan, kepercayaan dan pengertian yang sama. Individu-individu ini tidak harus tinggal di dalam suatu tempat/lokal/daerah yang sama. Jadi masalah tempat dan ras tidak dipermasalahkan, tetapi hanya soal keyakinannya.
Komunitas kerajaan adalah sekumpulan individu-individu yang mempunyai pemahaman yang sama mengenai kerajaan sorga. Karena kerajaan sorga bukan soal doktrin dan teori-teori, maka makna pemahaman yang sama lebih mengacu kepada pengalaman yang sama. Tentu saja pengalaman setiap anggota komunitas kerajaan sangat berbeda sesuai hikmat Bapa dalam memproses masing-masing individu. Tetapi tujuan Bapa dalam mendisiplin umat pilihanNya tetap sama yaitu menuju pengalaman “memberikan tempat bersama-sama (made us sit together) dengan Dia (Kristus Yesus) di sorga (Kolose 2:6)”. Anggota komunitas kerajaan memiliki pengalaman yang unik dimana manusia rohnya “duduk bersama Tuhan Yesus di sorga”. Pengalaman ini diperoleh setelah seseorang mengalami proses disiplin Bapa yang seringkali memakan waktu yang panjang dan juga seringkali “aneh”. Tetapi setelah seseorang melaluinya dan setelah manusia rohnya “duduk bersama Tuhan Yesus di sorga”, barulah ia menyadari mengapa Bapa di sorga memimpinnya melalui jalan yang “aneh” tersebut.
Oleh hamba-hamba Tuhan yang telah mengalaminya, pengalaman “duduk bersama Tuhan Yesus di sorga”, diuraikan dan dijelaskan dengan cara yang berbeda-beda. Sekalipun berbeda-beda cara menjelaskannya (bahkan istilah yang dipakai juga berbeda) tetapi tetap mengacu kepada pengalaman yang sama. Sebagai contoh, Jeanne Guyon (Madame Guyon) menjelaskan pengalaman ini sebagai pengalaman menyatu dengan Tuhan (Union With God). Pengalaman menyatu dengan Tuhan ini diuraikan dalam hampir setiap buku-bukunya. Demikian juga Watchman Nee menjelaskan pengalaman ini sebagai pengalaman pemisahan roh dan jiwa. Pengalaman ini dijelaskannya didalam buku The Spiritual Man dan terutama buku Release of the Spirit. Sebagian lagi menjelaskan pengalaman ini sebagai “pengalaman Wahyu 12” dimana anak laki-laki (roh) dibawa ke tahta Allah, sedangkan perempuan (jiwa) tetap diproses Tuhan di padang gurun. Apapun istilah yang dipakai atau bagaimanapun cara menjelaskannya, kita sebagai anggota komunitas kerajaan dapat memahami bahwa sebenarnya ini adalah pengalaman mendapatkan kerajaan sorga. Pengalaman ini sangat berbeda dengan pengalaman lahir baru, pengalaman baptisan Roh Kudus, pengalaman dipenuhi hadirat Tuhan pada saat-saat tertentu. Setelah seseorang mengalami pengalaman lahir baru, maka ia perlu mencari kerajaan sorga dimana dalam mencari kerajaan sorga, ia mengalami baptisan Roh Kudus, pengurapan, pelepasan dan lain sebagainya, sampai akhirnya ia mendapatkan kerajaan sorga. Pengalaman mendapat kerajaan sorga akan membuat jiwa kita tenang dan mengalami perhentian sejati. Ketenangan jiwa seperti inilah yang dijanjikan Yesus dalam Matius 11 : 29.
Jadi komunitas kerajaan adalah sekelompok individu-individu yang memperoleh kasih karunia Bapa sehingga mengetahui tentang kerajaan sorga (Mat 13 : 11), serta memperolehnya. Anggota komunitas ini tentunya termasuk orang-orang yang sedang mengalami disiplin Bapa menuju pengalaman “duduk bersama Tuhan Yesus di sorga”.
Sementara itu istilah Babel dalam Alkitab dapat dipahami dari berbagai sudut pandang. Dari sudut pandang sejarah, Babel adalah suatu kota kerajaan yang dibangun oleh seorang pemimpin bernama Nimrod. Dari sudut pandang nubuat, Babel adalah suatu simbol yang dikenakan pada seorang perempuan (Wahyu 17). Berdasarkan makna rohani dan penerapan pribadi, Babel adalah suatu kerajaan didalam hati setiap pribadi manusia yang menyebabkan pribadi tersebut ingin akan kekuasaan, kemuliaan manusia serta kenikmatan-kenikmatan yang berasal dari padanya. Dan semua keinginan ini timbul bukan dari Kristus yang didalam hati, tetapi dari Babel yang didalam hati. Itu sebabnya kita lihat nanti bahwa seseorang bukan saja harus keluar dari Babel sesuai perintah Tuhan dalam Wahyu 18 : 4, tetapi juga Babel harus keluar dari dalam hatinya oleh kuasa Roh Kudus. Apabila seseorang benar-benar telah mengalami pengalaman “keluar dari Babel” dan “Babel keluar dari hatinya”, maka ia akan memasuki suatu bidang pengalaman yang kita sebut pengalaman “Yerusalem” (sesuai dengan pengalaman Israel keluar dari Babel menuju Yerusalem). Pengalaman “Yerusalem” inilah yang disebut oleh Guyon dan Watchman Nee sebagai berturut-turut pengalaman menyatu dengan Tuhan, dan pemisahan roh dan jiwa.
Jadi, Babel ada yang didalam hati manusia, tetapi juga ada yang diluar hati manusia. Babel yang diluar hati manusia diuraikan dengan jelas didalam kitab Wahyu pasal 17 dan 18. Didalam pasal 17, Babel diuraikan secara terperinci, sedangkan di pasal 18 dijelaskan bagaimana Babel besar ini pada akhirnya dihancurkan. Babel yang ada diluar hati manusia adalah suatu kerajaan manusia dimana ada “Nimrod” sebagai penguasanya. Karena didalam kitab Wahyu, Babel ini diterapkan pada seorang perempuan dimana perempuan selalu melambangkan gere\ja, maka Babel adalah GEREJA YANG MENJADI KERAJAAN MANUSIA DIMANA “NIMROD” MENJADI PENGUASANYA DAN BUKAN KRISTUS. Seharusnya Kristus Yesus adalah Penguasa Tunggal gereja, karena Ia adalah Tuhan (kata Yunani Tuhan = Kurios, yang berarti PENGUASA TUNGGAL). Tetapi saat ini “Nimrod-Nimrod” ini memiliki kekuasaan yang sangat besar didalam “gereja”. Bahkan dapat dikatakan menguasai keseluruhannya, mulai dari keuangan, tata cara ibadah, program-program sampai memecat orang. Komunitas Babel adalah individu-individu yang bukan saja menyetujui sistem pemerintahan manusia didalam gereja, tetapi juga menjalankannya serta menikmati keuntungan-keuntungan melaluinya.
Sementara itu untuk mendefinisikan komunitas New Age tidaklah mudah. Selain pengajaran New Age yang bervariasi, juga para penganutnya jarang mengadakan kegiatan-kegiatan seperti layaknya orang yang beragama. Dapat dikatakan bahwa pengajaran New Age menembus batas-batas agama. Secara lahiriah penganutnya bisa saja beragama Kristen, tetapi kepercayaannya adalah New Age.
Sebenarnya praktek dan pengajaran New Age bukanlah hal yang baru. Praktek dan pengajaran New Age telah berabad-abad lamanya, tetapi sebagai gerakan (New Age Movement) baru dimulai kira-kira tahun 1960-an. New Age Movement dimulai ketika guru-guru mistik dari Timur (khususnya India) beserta pengajarannya makin mendapat pengaruh diantara bangsa-bangsa Barat. Sejak saat itu pengajaran New Age merembes hampir kesegala bidang, seperti pendidikan, kesehatan, ilmu, politik, agama dan lain sebagainya.
Merembesnya pengajaran New Age kedalam kekristenan akan menjadi fokus kita dalam usaha kita mendefinisikan komunitas New Age. Hal ini disebabkan karena para penganut New Age yang berlatar belakang kristen (khususnya aliran karismatik) seringkali mirip dengan para pemberita kerajaan sorga di akhir zaman ini. Para penganut New Age ini mengutip ayat-ayat Alkitab serta mendefinisikan ulang istilah-istilah kelahiran kembali, darah Kristus serta konsep mengenai Kristus itu sendiri dan menyampaikannya seolah-olah ada suatu pewahyuan baru yang lebih dalam. Tetapi apabila diselidiki sebenarnya para penganut New Age mengajarkan campuran ajaran Hindu-Budha dan filsafat Barat. Kita akan membahas “Injil” New Age ini dibagian lain dalam tulisan ini, tetapi untuk saat ini perlu kita pahami bahwa ada perbedaan yang tajam antara “Injil” New Age dan Injil Kerajaan.
Sampai disini kita belum mendefinisikan komunitas New Age, walaupun kita sudah menyinggung ajaran New Age yang merembes kedalam kekristenan. Para penganut New Age yang berlatar belakang kristen umumnya tidak lagi suka terlibat didalam organisasi gereja. Pengajaran-pengajaran tradisional seperti teologi sukses, pertumbuhan organisasi gereja, karunia-karunia Roh Kudus serta yang lainnya tidak lagi menjadi minatnya. Bahkan banyak “kristen” New Age ini yang telah meninggalkan organisasi gereja, seperti umat kerajaan yang telah keluar dari Babel (Wahyu 18:4). Tetapi ada juga “kristen” New Age ini yang tetap terlibat didalam organisasi gereja, bahkan menjadi gembala sidang suatu organisasi gereja, namun demikian tidak lagi dipusingkan oleh pengajaran tradisional kekristenan. Jadi anggota komunitas New Age bisa ada dimana-mana, baik dikalangan kekristenan maupun dikalangan lainnya. Anggota komunitas New Age ini bisa ada diantara komunitas Babel, juga bisa ada diantara komunitas kerajaan; artinya bisa mirip seperti anggota organisasi gereja, juga bisa mirip dengan anggota komunitas kerajaan. Tetapi yang jelas komunitas New Age adalah individu-individu yang menganut ajaran Hindu-Budha di campur filsafat Barat. Namun karena maksud si musuh adalah menipu umat pilihan Tuhan, maka ajaran New Age dibuat seolah-olah mirip Injil kerajaan.
Kita telah menjelaskan dengan singkat komunitas kerajaan, komunitas Babel dan komunitas New Age. Secara sepintas, anggota ketiga komunitas ini tidak mudah dibedakan. Maksud tulisan ini adalah agar umat pilihan Tuhan dapat membedakan ketiganya dengan jelas dan terhindar dari penipuan. Tetapi perlu kita ingat bahwa cara terbaik agar mengenali yang palsu/tiruan adalah berusaha memahami dengan baik yang asli. Dari Alkitab kita ketahui baik Yesus maupun rasul-rasulNya memberitakan kerajaan sorga. Setelah sejangka waktu kerajaan sorga diberitakan, maka pada hari pentakosta lahirlah komunitas kerajaan yang berjumlah 120 orang. Baru kemudian pada abad-abad selanjutnya terjadi penyimpangan yang menghasilkan komunitas Babel dan komunitas New Age pada akhir zaman ini. Jadi agar kita dapat mengenali dengan jelas komunitas Babel dan New Age, maka sebagai umat pilihan Tuhan kita perlu memahami dan mengalami Injil Kerajaan dengan baik. Oleh karena itu, pada bagian selanjutnya kita akan menguraikan Injil Kerajaan ini.
2. Injil Kerajaan
Seperti diketahui bahwa Yesus dan rasul-rasulNya, juga Paulus, memberitakan mengenai kerajaan sorga. Tetapi perlu kita pahami bahwa kerajaan sorga seperti yang diberitakan Petrus memiliki beberapa hal yang berbeda dari yang diberitakan Paulus. Karena kita tahu bahwa Petrus diutus kepada orang-orang Yahudi sedangkan Paulus kepada bangsa-bangsa lain. Orang-orang Yahudi telah mewarisi janji-janji, Hukum Taurat dan tata cara ibadah, sedangkan bangsa-bangsa lain tidak. Oleh karena itu didalam kitab Perjanjian Baru kita melihat ada dua Injil yang berbeda, ditujukan kepada dua ekklesia (kelompok orang terpanggil/percaya) yang berbeda serta memiliki berkat-berkat yang berbeda pula. Namun perlu kita ingat jangan sampai kita menekan perbedaannya sehingga rencana Allah menjadi terputus-putus (tidak berkesinambungan) serta tidak merupakan kesatuan. Karena baik Injil untuk orang bersunat maupun Injil untuk orang tak bersunat, memiliki satu sumber yaitu Tuhan Yesus Kristus. Dan Tuhan Yesus Kristus tidak mempunyai dua kerajaan yaitu yang disorga dan yang dibumi, melainkan satu kerajaan yaitu kerajaan sorga yang mana kelak akan termanifestasi sepenuhnya dimuka bumi ini. Jadi yang penting fokus perhatian kita adalah Tuhan Yesus Kristus, dan bukan orang Yahudi serta bukan Yahudi.
Kalau kita dapat memahami hal ini, maka jelas terlihat rencana Allah yang tidak saja berkesinambungan tetapi juga progresif. Memang benar kita perlu mengaplikasikan firman Tuhan secara benar seperti yang tertulis dalam II Timotius 2 : 15 (…. rightly dividing the word of truth = memilah-milah firman kebenaran dengan tepat). Tetapi jangan sampai jatuh kedalam teori-teori dispensasionalisme secara kaku sehingga menganggap gereja yang adalah Tubuh Kristus sama sekali tidak ada kaitannya dengan ekklesia padang gurun yang adalah umat Israel. Jadi rencana Allah adalah satu yaitu mengungkapkan Kristus yang adalah misteri. Karena itu berita-berita kerajaan adalah satu, yang selanjutnya kita sebut Injil Kerajaan.
Didalam Roma 1 : 16-17, kita dapati makna Injil sesuai definisi Alkitab sendiri yaitu, “… kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab didalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis : orang benar akan hidup oleh iman”. Disini disebutkan bahwa Injil adalah kekuatan Allah atau kuasa Allah yang menyelamatkan. Jadi jelaslah bahwa seseorang yang memahami Injil berarti mengalami kuasa Allah yang menyelamatkannya dari perbudakan dosa-dosa dan perbudakan diri sendiri. Yang terutama disini adalah pengalaman yang memerdekakan. Apabila seseorang mendengar Injil Kerajaan serta mengimaninya, maka yang terutama terjadi adalah orang tersebut masuk kedalam kerajaan sorga serta dilepaskan dari kerajaan kegelapan dan kerajaan diri sendiri. Yang penting adalah pengalaman dan bukan memahami dengan akal doktrin mengenai kerajaan sorga.
Hal ini bukan berarti doktrin tidak perlu. Doktrin dan ajaran-ajaran mengenai kerajaan sorga ada tempatnya. Tetapi lebih dahulu haruslah pengalaman. Apabila Allah memanggil seseorang, yang pertama diberikanNya adalah pengalaman. Ketika Allah memanggil Musa, maka yang pertama dilakukanNya adalah memberi “pengalaman semak duri” pada Musa, baru kemudian Taurat dan aturan-aturannya. Begitu juga ketika Ia memanggil Saulus (Paulus), terlebih dahulu Ia memberikan “pengalaman yang membutakan mata jasmani”, kemudian doktrin dan ajaran-ajaran.
Mengapa yang terutama pengalaman ? Ini disebabkan karena Injil Kerajaan bukanlah setumpuk teori-teori dan ajaran-ajaran, melainkan kuasa Allah yang memerdekakan. Kemerdekaan jenis ini bukanlah berarti ketiadaan hukum (lawlessness = kedurhakaan, dalam II Tes 2:7). “Injil” New Age yang dibuat mirip dengan Injil Kerajaan, juga menjanjikan kemerdekaan; tetapi kemerdekaan dari hukum Tuhan yang sama artinya dengan lawlessness. Tetapi kemerdekaan yang dimaksud Injil Kerajaan adalah kemerdekaan karena dibebaskan dari segala sesuatu dan menyatu dengan Tuhan serta “duduk bersama-sama dengan Dia” didalam kerajaanNya. Kemerdekaan ini adalah penggenapan Yohanes 8:36, ”Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka”. Selanjutnya kita akan menguraikan poin-poin penting dalam Injil Kerajaan. Tetapi perlu kita ingat bahwa ini bukan sekedar doktrin belaka, melainkan kuasa Allah yang menyelamatkan apabila semua ini diimani oleh umat kerajaan.
2.1. Pembenaran oleh Iman (Justification by faith)
Pembenaran atau justification maknanya adalah dinyatakan benar oleh Allah. Dinyatakan benar disini mengandung makna secara hukum seseorang dinyatakan benar. Artinya sesuai dengan tuntutan-tuntutan hukum, ia telah memenuhi syarat. Mengapa seseorang dapat dinyatakan benar oleh Allah pada hal semua orang telah berbuat dosa ? Jawabnya, karena kepada orang tersebut diperhitungkan kebenaran Allah. Orang tersebut menjadi kebenaran Allah. Dalam kondisi demikian, secara otomatis ia dinyatakan benar oleh Allah dan memenuhi syarat secara hukum.
Mengapa Allah menyatakan seseorang benar ? Apa dasarnya ? Apakah karena orang tersebut memang layak dipandang benar karena perbuatannya ? Jawabnya, tidak ada seorang pun yang layak berdasarkan perbuatannya. Seseorang dinyatakan benar semata-mata atas dasar anugerah. Karena Allah berkenan memberikan kasih karunianya pada seseorang, maka ia dinyatakan benar. Segala sesuatunya mutlak pada kerelaan dan kehendak Allah.
Melalui apakah seseorang dinyatakan benar ? Melalui iman ! Imannya siapa ? Imannya Tuhan Yesus yang dikaruniakan kepada orang tersebut. Mengapa semuanya ini bisa terjadi ? Jawabnya karena KRISTUS TELAH MATI KARENA DOSA-DOSA KITA. Melalui darahNyalah semua ini bisa terjadi. Tanpa penumpahan darah, tidak ada pengampunan; dan kalau tidak ada pengampunan, maka seseorang tetap SEBAGAI ORANG BERDOSA DIHADAPAN ALLAH. “Injil” New Age menghina darah Yesus. Dan kalau seseorang menghina darah Yesus, ia tetap orang berdosa dihadapan Allah, apapun juga keyakinannya.
Apakah hasilnya apabila seseorang dibenarkan ? hasilnya DAMAI DENGAN ALLAH. Dan bukan itu saja, tetapi juga memiliki pengharapan akan memperoleh kemuliaan Allah. Umat kerajaan hanya merindukan KEMULIAAN ALLAH. Banyak orang Farisi dan ahli Taurat pada zaman Tuhan Yesus yang tidak berani terus terang mengakui Yesus karena takut dikucilkan, sebab mereka lebih suka kemuliaan manusia dari pada kemuliaan Allah. Tetapi bagian umat kerajaan adalah kemuliaan Allah.
Pembenaran oleh iman adalah poin penting di dalam Injil Kerajaan. Karena melalui pengajaran ini, kita memberitakan Kristus yang disalib. Paulus memberitakan Kristus yang disalib. Rasul-rasul lainnya juga memberitakan Kristus yang salib. Umat kerajaan juga harus memberitakan Kristus yang disalib.
2.2. Kelahiran – ulang (lahir dari atas)
Yesus berkata di dalam Yohanes 3:3, “… sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali (born from above) ia tidak dapat melihat kerajaan Allah”. Didalam bagian ini, Yesus sedang membicarakan syarat melihat dan masuk kerajaan Allah. Yesus dengan tegas menyatakan tanpa dilahirkan kembali atau lahir dari atas, seseorang tidak dapat melihat kerajaan sorga. Istilah lahir kembali atau lahir dari atas atau lahir dari Roh mengacu kepada suatu pengalaman yang sama dimana pengalaman ini merupakan syarat mutlak melihat kerajaan Allah.
Mengapa seseorang perlu lahir dari Roh sebelum dapat melihat kerajaan Allah ? Untuk dapat memahami ini, kita perlu memahami dengan jelas akibat kejatuhan manusia. Roma 6:23 menegaskan bahwa upah dosa adalah maut. Juga kejadian 2:17 menegaskan bahwa pada hari manusia memakan buah pohon pengetahuan, ia pasti mati. Maut dan mari bukanlah suatu kondisi tanpa aktivitas. Menurut definisi Alkitab, maut dan mati adalah jenis kehidupan yang berbeda dengan jenis kehidupan yang Allah miliki. Akibat kejatuhan, manusia hidup dalam kondisi maut; artinya manusia beraktivitas (berpikir, berperasaan, berkemauan) tetapi sama sekali tidak bersangkut paut dengan aktivitas dan hidup Allah. Manusia yang hidup di dalam kondisi maut, sama sekali tidak dapat memahami Allah dan jalan-jalanNya. Manusia yang sedemikian tentu saja tidak dapat melihat dan memahami kerajaan Allah.
Didalam I Kor 2:14 tertulis, “… Tetapi manusia duniawi (the natural man) tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah …” Disini manusia duniawi atau manusia natural (alamiah) adalah manusia yang lahir secara alamiah dari perut ibunya. Manusia yang sedemikian ini tidak dapat menerima perkara-perkara dari Allah. Baginya, perkara-perkara dari Allah adalah suatu kebodohan. Walaupun mungkin ia seorang teolog, sama seperti Nikodemus didalam Injil Yohanes pasal 3, tetapi ia tidak dapat memahami hal-hal dari Allah. Hal ini dikarenakan manusia alamiah adalah manusia yang hidup didalam kondisi maut, yang sama sekali tidak bersangkut paut dengan hidup Allah. Itulah sebabnya manusia perlu lahir dari Roh, sebelum ia dapat memahami perkara-perkara dari Allah.
Kalau demikian, apakah artinya lahir dari Roh ? Dari Yehezkiel 36 : 26-27, kita mendapat pelajaran bagaimana tindakan Allah ketika memulihkan Israel. Di dalam pasal ini dinyatakan bahwa Allah akan memberikan roh yang baru dan RohNya. Juga dari Yohanes 3:6 dikatakan, “… apa yang dilahirkan dari Roh, adalah Roh”. I Korintus 3:16 menegaskan bahwa Roh Allah diam di dalam orang percaya. Dari ayat-ayat ini dan yang lainnya, dapat disimpulkan makna sesungguhnya lahir dari Roh itu; yaitu seseorang menerima roh yang baru dan juga menerima Roh Allah. Jadi kita menerima roh yang baru yaitu roh yang lahir dari Allah dan roh yang baru ini tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah – ia adalah anak Allah (I Yohanes 3:9). Jadi didalam diri setiap orang yang lahir dari Roh, terdapat roh yang baru dan juga Roh Allah.
Apakah seseorang yang telah lahir dari Roh, masih perlu bertumbuh didalam pengenalan akan Allah dan kerajaanNya ? Tentu saja ia masih perlu bertumbuh. Sebab didalam I Petrus 1:23 tertulis, “Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal.” Kata benih menunjukkan perlunya suatu pertumbuhan agar mencapai kematangan dan menghasilkan buah. Jadi walaupun seseorang telah menerima roh yang baru dan juga telah menerima Roh Allah, ia tetap masih harus bertumbuh.
Apakah target atau sasaran dari pertumbuhannya ? Pertumbuhan anak-anak Allah jelas memiliki sasaran yang pasti. Pada bagian awal tulisan ini, telah kita singgung tujuan Bapa di sorga dalam mendisiplin anak-anaknya yaitu memberikan pengalaman “duduk bersama Tuhan Yesus didalam kerajaanNya di sorga”. Dan bukan itu saja, melainkan juga mengambil bagian didalam warisan Kristus (Roma 8:17). Jadi Bapa di sorga mendisiplin anak-anakNya agar manusia luarnya semakin melemah oleh proses salib Kristus dan manusia rohnya (manusia dalamnya) semakin dewasa melalui pertumbuhan hidup Kristus sehingga MANUSIA ROH DARI ANAK ALLAH TERSEBUT BENAR-BENAR DUDUK BERSAMA TUHAN YESUS DIDALAM KERAJAAN SORGA. Sekalipun manusia luar dari anak Allah tersebut tidak mempunyai posisi apapun didalam organisasi kekristenan, tetapi manusia rohnya mendapat posisi tertentu, sesuai kerelaan Bapa, didalam kerajaan Tuhan Yesus Kristus. Dan apabila tiba waktunya Tuhan Yesus datang serta memanifestasikan DiriNya maka anak-anak Allah, yang mana manusia rohnya telah duduk bersama Tuhan Yesus, juga akan memanifestasikan dirinya bersama-sama Tuhan Yesus di dalam kemuliaan. Demikianlah genap Kolose 3:4, “Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan DIA dalam kemuliaan”. Inilah sasaran pertumbuhan anak-anak Allah.
|

24th August 2004
|
|
AP - Senior Member
|
|
Join Date: Jul 2004
Age: 46
Posts: 66
|
|
kerajaan, new age, babel 2
2.3 Pengudusan (Sanctification)
Istilah pengudusan (sanctification; Yunani = Hagiasmos) muncul sepuluh kali didalam perjanjian Baru yaitu Roma 6:19,22; I Korintus 1:30, I Tesalonika 4:3,4,7; II Tesalonika 2:13; I Timotius 2:15; Ibrani 12:14 dan I Petrus 1:2. Pengudusan mengandung makna keterpisahan dari segala pencemaran daging dan dunia. Karena itu, pengudusan dapat didefinisikan sebagai pekerjaan Roh Kudus didalam diri anak Allah agar ia dibebaskan dari pencemaran daging dan dunia, serta dipisahkan khusus bagi Allah. Pengudusan adalah suatu proses disiplin dari Bapa disorga yang harus dijalani oleh anak-anaknya. Didalam tulisan ini, proses pengudusan akan dijelaskan melalui simbol perempuan di kitab Wahyu pasal 12.
Didalam Wahyu 12:1,2,5,6 ada tertulis, “Maka tampaklah suatu tanda besar dilangit : Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan dibawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang diatas kepalanya. Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan. … Maka ia melahirkan seorang anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa denga gada besi; tiba-tiba anaknya itu dirampas dan dibawah lari kepada Allah dan ke takhtaNya. Perempuan itu lari ke padang gurun, dimana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara disitu seribu dua ratus enam puluh hari lamanya”.
Penggenapan dari simbol “Perempuan yang melahirkan anak laki-laki ini”, dapat diterapkan secara historis, pribadi dan nubuat. Secara historis, hal ini menggambarkan Anak Tunggal Allah yang dilahirkan oleh seorang perawan bernama Maria. Secara pribadi (rohani) hal ini menggambarkan roh (maskulin = anak laki-laki) yang terbebas dari belenggu jiwa (feminim = perempuan), sehingga roh ini berada dalam posisi memerintah (dibawa ke takhtanya). Secara nubuat, simbol ini menunjuk pada manifestasi putra-putra Allah yang lahir dari gereja akhir jaman (gereja “perawan”, sebagai lawan dari gereja “pelacur” di Wahyu 17) dimana putra-putra Allah ini akan membebaskan ciptaan dari belenggu kebinasaan (Roma 8:19-21). Dalam menjelaskan proses pengudusan, kita akan mengambil simbol ini secara pribadi.
Secara pribadi, setiap anak Allah yang mendapat panggilan keputraan, perlu melalui “pengalaman Wahyu 12”. Pengalaman ini adalah suatu proses disiplin dan pengudusan jiwa, sehingga jiwa kita menjadi “perawan” dihadapanNya. Jiwa yang “perawan” disini berarti jiwa yang murni, tulus dan sepenuhnya menginginkan Tuhan. Ketika seseorang baru mengalami pengalaman lahir baru, ia masih memiliki dua keinginan didalam hatinya (mendua hati). Keinginan yang pertama adalah menyenangkan Tuhan karena pengaruh hidup Allah didalam hatinya, tetapi sekaligus memiliki keinginan akan dunia ini karena jiwa yang belum didisiplin. Tetapi apabila jiwa kita telah mengalami disiplin dan peremukkan oleh Bapa disorga, maka jiwa kita menjadi murni dan kita akan mengalami “pengalaman Wahyu 12” dimana roh kita dibebaskan dari belenggu jiwa sehingga manusia roh kita duduk bersama Tuhan Yesus di dalam kerajaanNya. Proses disiplin dan peremukkan jiwa oleh Bapa disorga ini kita sebut proses pengudusan (sansctification).
Apabila roh seseorang telah dibebaskan dari belenggu jiwanya, apakah ini berarti jiwanya telah sempurna ? Apakah jiwa yang murni (“perawan”) itu berarti jiwa yang sempurna ? Tentu saja tidak. Karena kita melihat didalam Wahyu 12:6 tertulis bahwa perempuan (jiwa) lari ke padang gurun. Artinya jiwa masih perlu didisiplin sejangka waktu lamanya sebelum siap untuk dituai, sebab padang gurun di dalam Alkitab selalu berarti proses disiplin.
Jadi, ada proses disiplin (pengudusan) yang perlu dilalui anak Allah sampai jiwanya menjadi “perawan” (murni) serta rohnya dibebaskan dan duduk bersama Tuhan Yesus di dalam sorga. Demikian juga ada proses disiplin (pengudusan) yang perlu dilalui anak Allah setelah manusia rohnya duduk bersama Tuhan Yesus disorga, sampai jiwanya benar-benar matang dan siap dituai. Meskipun demikian, kedua jenis disiplin ini (disiplin sebelum dan sesudah roh terbebas dari jiwa) memiliki dampak yang berbeda terhadap anak Allah yang mengalaminya. Disiplin yang dialami anak Allah sebelum rohnya terbebas dari jiwa, akan membuat kehidupan lahiriahnya “berantakan”. Artinya anak Allah ini menempuh suatu jalan yang penuh pergumulan dan “aneh”, sehingga mungkin saja ia kehilangan banyak teman, keluarga-keluarga dekatnya, pekerjaannya, harta bendanya atau yang lainnya. Seolah-olah anak Allah ini tidak diberkati (menurut pengertian banyak orang kristen). Tetapi sesunguhnya ia sedang mengalami proses disiplin dimana tidak semua orang kristen mengalaminya, yaitu suatu proses dimana ia dipersiapkan untuk MEMERINTAH BERSAMA TUHAN YESUS DI ZAMAN-ZAMAN YANG AKAN DATANG. Tetapi apabila anak Allah ini telah melewati disiplin sebelum roh terbebas dari jiwa, dan apabila rohnya benar-benar telah duduk bersama Tuhan Yesus disorga, maka perlahan-lahan kehidupan lahiriah anak Allah ini akan dipulihkan Bapa disorga sesuai kerelaanNya. Apa yang dahulunya telah “berantakan”, mulai dipulihkan satu persatu. Mungkin pekerjaannya, keluarga, ministry atau yang lainnya. Demikianlah genap maksud pengudusan (sanctification) didalam diri anak Allah tersebut.
2.4. Dipermuliakan
Didalam Roma 8:17 tertulis. “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia”. Setiap anak Allah ahli waris, berhak menerima janji Allah serta akan dipermuliakan bersama-sama dengan Kristus. Tetapi apabila anak Allah belum akil balig (belum dewasa), maka ia belum dapat menerima hak waris dan belum dapat dipermuliakan bersama-sama dengan Kristus. Jadi setiap anak Allah perlu bertumbuh sedemikian sampai Bapa disorga menyatakan/meresmikan bahwa dia sudah dewasa dan dapat dipermuliakan bersama-sama dengan Kristus. Istilah yang digunakan Alkitab dimana Bapa di Sorga meresmikan bahwa seorang anak telah dewasa adalah pengangkatan sebagai anak (adoption). Saat terjadinya adoption adalah saat dimana seorang anak Allah dipermuliakan bersama-sama dengan Kristus, dan ini terjadi ketika Kristus menyatakan diri-Nya kelak pada saat kedatanganNya (Kolose 3:4). Jadi, dipermuliakan bersama Kristus, sama artinya dengan diangkat sebagai anak (adoption), juga sama artinya dengan menerima waris bersama dengan Kristus, dan semuanya ini terjadi pada saat kedatanganNya. Ketika itulah anak-anak Allah dinyatakan (Roma 8:19).
Saat pengangkatan sebagai anak (adoption) juga berarti saat dimana tubuh jasmani anak-anak Allah diganti dengan tubuh rohani. Di dalam I Korintus 15:44 tertulis, “ … Jika ada tubuh alamiah, maka adapula tubuh rohaniah.” Filipi 3:20-21 juga berkata, “ … kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuhNya yang mulia, menurut kuasaNya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diriNya”. Jadi, pada saat kedatangan Tuhan Yesus, anak-anak Allah akan memproleh tubuh rohani serta diangkat sebagai anak dan mendapat hak waris, dan juga dipermuliakan bersama-sama dengan Kristus. Saat seperti inilah yang disebut SAAT ANAK-ANAK ALLAH DINYATAKAN (Roma 8:19).
Saat anak-anak Allah dinyatakan adalah saat yang dirindukan oleh seluruh makhluk (Roma 8:19). Mengapa demikian? Karena pada saat anak-anak Allah dinyatakan, pada saat itulah dimulai pelayanan pembebasan (yang dijalankan oleh anak-anak Allah yang termanifestasi) yaitu pelayanan pembebasan dari perbudakan kebinasaan dimana SELURUH MAKHLUK AKAN MASUK KEDALAM KEMERDEKAAN KEMULIAAN ANAK-ANAK ALLAH (Roma 8:21).
Jadi, dipermuliakan bersama-sama dengan Kristus berarti memperoleh hak untuk menjalankan pelayanan pembebasan segala makhluk dari perbudakan kebinasaan. Ini adalah kemuliaan yang luar biasa, yang diperoleh anak-anak Allah yang termanifestasi.
2.5. Pemulihan Segala Sesuatu
Didalam I Korintus 15: 22-28 tertulis, “Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milikNya pada waktu kedatanganNya. Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan. Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah menaklukan semua musuhNya dibawah kakiNya. Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut. Sebab segala sesuatu telah ditaklukkanNya dibawah kakiNya. Tetapi kalau dikatakan, bahwa “segala sesuatu telah ditaklukkan” , maka teranglah bahwa Ia sendiri yang telah menaklukkan segala sesuatu dibawah kaki Kristus itu tidak termasuk didalamnya. Tetapi kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diriNya dibawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu dibawahNya, supaya Allah menjadi semua didalam semua.”
Ayat-ayat dalam pasal ini mengungkapkan rencana Allah selama berzaman-zaman, sampai berakhir dengan kondisi yang diungkapkan dengan kalimat ALLAH MENJADI SEMUA DI DALAM SEMUA. Allah menjadi semua didalam semua adalah suatu kondisi yang merupakan akhir dari drama sejarah penciptaan, kejatuhan, penebusan dan penaklukkan segala sesuatu oleh kerajaan Kristus.
Yang penting dari ayat-ayat ini juga adalah penaklukkan segala sesuatu oleh kerajaan Kristus. Kristus disini tentu saja berarti Kristus kepala dan Kristus anggota, karena disini berbicara mengenai kerajaan. Kristus kepala sebagai Raja diatas segala raja, sedangkan Kristus anggota sebagai raja-raja. Dan yang terakhir ditaklukkan adalah maut. Maut adalah upah dosa (Roma 6:23). Jadi segala sesuatu yang merupakan upah atau akibat dosa, ditaklukkan dalam arti dibereskan dengan tuntas. Ini berarti bahwa kondisi Allah menjadi semua didalam semua adalah suatu kondisi dimana segala akibat dosa telah ditiadakan. Berarti tidak ada lagi apa yang biasa disebut oleh ke Kristenan tradisi sebagai neraka kekal. Sistem gereja Babel telah mengubah Firman Tuhan dalam Roma 6:23 menjadi, “Upah dosa adalah neraka kekal”. Tetapi yang benar adalah, “upah dosa adalah maut”. Maut adalah suatu jenis kehidupan yang terpisah dari hidup Allah. Sehingga ungkapan Allah menjadi semua di dalam semua berarti suatu KONDISI DIMANA HIDUP ALLAH TEREKSPRESI SECARA TOTAL DIDALAM SEMUA. Bukan didalam SEBAGIAN, dimana sebagian mahluk lainnya berada di dalam maut. Tetapi segala sesuatu mengekspresikan hidup Allah yaitu mengekspresikan Allah sendiri. Inilah suatu kondisi karena adanya pemulihan segala sesuatu.
Ruang lingkup dari pemulihan segala sesuatu juga dijelaskan dalam Efesus 1: 10. “…. Untuk mempersatukan didalam Kristus sebagai kepala segala sesuatu, baik yang disorga maupun yang dibumi”. Sorga dan bumi adalah ruang lingkup pemulihan segala sesuatu. Sorga dan bumi akan diperdamaikan kepada Allah seperti tertulis dalam Kolose 1; 20, “dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diriNya, baik yang ada dibumi, maupun yang ada disorga …. “dan sikap segala makhluk yang telah diperdamaikan tertulis didalam Filipi 1:10-11, “supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada dilangit dan yang ada diatas bumi dan yang ada dibawah bumi, dan segala lidah mengaku : “Yesus Kristus adalah Tuhan, “bagi kemuliaan Allah, Bapa !”. Sikap segala mahluk ini adalah sikap penyembahan.
Alkitab dengan jelas berbicara tentang pemulihan segala sesuatu. Baik kondisi akhir yang diakibatkannya, ruang lingkup, posisi serta sikap segala mahluk; semuanya diuraikan dengan jelas didalam Alkitab. Apabila ada orang Kristen yang tidak percaya pemulihan segala sesuatu, hal ini disebabkan karena dia berpegang pada tradisi ke Kristenan, yaitu suatu ajaran turun temurun yang diterimanya tanpa menguji segala sesuatunya. Selanjutnya seseorang yang tidak percaya pemulihan segala sesuatu, bukan saja ia dibutakan oleh tradisi tetapi juga ia meremehkan dan menghina pengorbanan Kristus di kayu salib yang berdampak atas segala makhluk.
3. “Injil” New Age
“Injil” New Age sebenarnya campuran dari Filsafat Barat dengan mistik Timur. Sejak zaman pencerahan, potensi manusia benar-benar dikembangkan. Zaman pencerahan itu sendiri, atau biasa disebut renaissance dimulai di Italia sekitar tahun 1300 dan berakhir sekitar tahun 1600. Pada periode ini manusia mulai berpikir tentang dirinya dan dunianya dengan sudut pandang yang baru dan berbeda. Di Eropa Barat, periode awal zaman renaissance biasanya disebut akhir dari zaman pertengahan (Middle Ages, suatu periode dimana juga disebut zaman kegelapan gereja). Dalam zaman kegelapan gereja, potensi manusia benar-benar dipasung oleh doktrin-doktrin gereja serta kebodohan-kebodohan lainnya. Tetapi ketika renaissance dimulai, manusia mulai melepaskan diri dari belenggu kebodohan gereja zaman itu dan mulai mengekspresikan diri dalam seni, ilmu pengetahuan serta lainnya. Manusia mulai membebaskan diri dari peraturan-peraturan dan nilai-nilai agama pada zaman itu. Perkembangan itu terus berlanjut bahkan otoritas kitab suci (Alkitab) mulai ditinggalkan. Manusia terus mengembangkan dirinya sendiri diluar Tuhan. Melalui kemajuan ilmu dan teknologi, sampailah manusia kedalam zaman modern, dimana ketergantungan akan Tuhan semakin menipis. Pada umumnya manusia modern menganut pendangan/paham-paham seperti humanisme (berpusat pada perkara-perkara manusia, bukan Tuhan), sekularisme (ajaran bahwa moralitas dan pendidikan seharusnya tidak didasarkan atas nilai-nilai rohani), materialisme (kecenderungan untuk menilai perkara-perkara materi, kesehatan, harta, kesenangan tubuh, sebagai yang terutama dan terpenting serta mengenai rendah hal-hal rohani).
Tetapi pada sekitar tahun 1960-an, spiritualitas Timur dibawa oleh guru-guru mistik Timur (terutama India), mulai mempengaruhi peradaban Barat yang modern itu. Dan juga yang mulai menyangkal Tuhan. Guru-guru mistik ini menyatakan agar manusia menjadi rohani (spiritual) serta memahami suatu misteri yang akan membuka seluruh potensi manusia. Guru-guru mistik Timur ini menyatakan bahwa “engkau adalah Allah”. Pesan dari guru-guru mistik Timur ini disambut hangat oleh peradaban Barat yang memang mulai haus akan spiritualitas, karena ternyata kamajuan ilmu dan teknologi tidak membawa damai. Maka lahirlah suatu gerakan yang disebut New Age Movement. Inti dari pesan-pesan New Age (yang dalam tulisan ini kita sebut “Injil” New Age) adalah: sadarlah bahwa engkau adalah Allah; ubahlah kesadaranmu, capailah “Kesadaran Kristus” sebagaimana yang dicapai Yesus; engkau adalah Kristus.
Karena peradaban Barat pada dasarnya adalah “kristen”, maka pesan-pesan New Age ini dibungkus oleh banyak ayat-ayat Alkitab. Para pemberita “Injil” New Age ini selain mengutip ayat-ayat Alkitab, juga menggunakan istilah-istilah yang sudah dikenal didalam kekristenan seperti lahir baru, pewahyuan, misteri, hikmat tersembunyi, Kristus, dll. Orang-orang Kristen yang sudah bosan dengan pengajaran kekristenan tradisional dan yang rindu akan hal-hal yang lebih dalam lagi, akan menjadi sasaran empuk “Injil” New Age ini. Tetapi umat kerajaan tidak akan tertipu, karena mereka telah mengalami dan menikmati Injil Kerajaan. Bagaimanapun banyaknya ayat-ayat Alkitab yang dikutip oleh penulis-penulis “Injil” New Age, betapa miripnya istilah-istilah yang digunakan, tetapi umat kerajaan tetap dapat mendengar dengan jelas “suara serigala” didalam pesan-pesan mereka. Di dalam tulisan-tulisan para pemberita “Injil” New Age, oleh umat kerajaan, terdengar janji si ular tua alias Iblis yang mengatakan, “engkau akan menjadi seperti Allah”.
Dari mana sebenarnya sumber pengajaran “Injil” New Age ? Apakah dari penggalian Alkitab yang konsisten dan diterangi Roh Kudus ? Karena “Injil” New Age lahir dari perpaduan antara mistik Timur dan peradaban Barat, sedangkan mistik Timur sangat dipengaruhi oleh ajaran Hindu-Budha, maka wajarlah kalau disimpulkan bahwa “Injil” New Age bersumber dari ajaran Hindu-Budha ditambah pemikiran Barat khususnya Human Potential Psychology. Tetapi ajaran Hindu yang dimaksud bukanlah Hindu klasik dimana diajarkan bahwa apa yang didunia (hal-hal duniawi) bertentangan dengan hal rohani (spiritual). Sehingga untuk menjadi rohani, menurut ajaran Hindu klasik, seseorang haruslah meninggalkan perkara-perkara duniawi. Itu sebabnya sering kita dengar mengenai “Orang-orang suci” Hindu, yang berjalan dengan pakaian seadanya, tanpa memiliki harta serta meninggalkan segala sesuatu yang berkaitan dengan hidup duniawi. Pengajaran Hindu klasik seperti ini sama sekali tidak cocok dengan budaya Barat yang justru sangat menghargai perkara-perkara dunia (kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, politik, dll). Jadi “Injil” New Age memasukkan pemikiran Barat kedalam ajaran Hindu-Budha. Budaya Barat sangat menghargai pengajaran mengenai self love, self seeking, self esteem dan self actualization. Artinya segala sesuatu yang dapat membuat seseorang menggali potensi dirinya sehingga ia dapat mengekspresikan dirinya secara penuh, inilah yang dihargai oleh pemikiran Barat. Maka “Injil” New Age bersumber dari ajaran Hindu – Buddha yang dipoles/dikemas sedemikian rupa sehingga pesan-pesannya menantang seseorang untuk menggali seluruh potensi dirinya (termasuk menyadari identitas diri yang sesungguhnya yang menurut “Injil” New Age adalah Allah/Kristus) serta menantang seseorang untuk merubah dunia agar memasuki pencerahan zaman baru (New Age of enlightenment). Inilah yang membuat “Injil” New Age begitu menarik bagi manusia modern pada umumnya.
Ada baiknya kita masuk sedikit kedalam ajaran Hindu-Budha agar dapat lebih baik mengenali “Injil” New Age ini. Tetapi perlu diingat, umat kerajaan tidak perlu mengetahui dengan mendalami segala sesuatu mengenai ajaran Hindu-Budha dan budaya Barat untuk dapat mengenali “Injil” New Age. Karena umat kerajaan diberikan suatu pengurapan yang membuatnya dapat memahami segala sesuatu sebab, “pengurapanNya mengajar kamu tentang segala sesuatu…” (I Yohanes 2:27). Jadi, berdasarkan pengurapan yang didalam, umat kerajaan dapat membedakan yang mana “Injil” New Age dan yang mana Injil Kerajaan. Meskipun demikian, pengetahuan mengenai ajaran Hindu-Budha memiliki tempatnya sendiri dalam hal pengenalan akan “Injil” New Age. Oleh sebab itu, berikut ini akan diuraikan sekilas mengenai ajaran Hindu-Budha.
3.1. Ajaran Hindu
Dalam tulisan ini kita tidak bermaksud menguraikan ajaran Hindu dengan panjang lebar. Tujuan kita adalah menguraikan sekilas ajaran Hindu agar memahami akar-akar dari “Injil” New Age.
Agama Hindu mengakui adanya 4 tujuan manusia yaitu : Pertama, kesenangan. Melalui proses reinkarnasi, diharapkan seseorang akan menjalani kehidupan yang bertambah senang didalam dunia. Kedua, sukses duniawi. Yang dimaksud dengan sukses duniawi adalah kekayaan, kemasyhuran dan kekuasaan. Kedua tujuan manusia ini, dalam agama Hindu disebut jalan keinginan. Sekalipun agama Hindu tidak melarang manusia menempuh jalan keinginan, namun jalan ini dipandang sebagai “alat permainan anak-anak”.
Selanjutnya kedua tujuan manusia berikutnya disebut jalan penolakan yaitu : Ketiga, menjalankan kewajiban beragama. Setia melakukan tugas-tugas kemanusiaan serta melaksanakan kewajiban beragama. Setia melakukan tugas-tugas kemanusiaan serta melaksanakan kewajiban hidup. Keempat, mengalami pembebasan (mukti). Mengalami mukti, berarti manusia telah sampai kedalam kesempurnaannya.
Konsep agama Hindu tentang manusia adalah berlapis-lapis. Artinya manusia adalah makhluk yang terdiri dari lapisan-lapisan. Lapisan paling luar adalah tubuh jasmaninya. Lapisan yang lebih dalam lagi disebut pribadi sadar. Lapisan selanjutnya disebut pribadi bawah sadar. Dan lapisan yang paling dalam, yang adalah identitas diri manusia yang sejati adalah Tuhan atau hakikat hidup yang tak berhingga. Identitas diri manusia yang sejati ini juga disebut manusia abadi, umum, universal atau manusia sempurna.
Menurut agama Hindu, manusia berada dalam kondisi amnesia (sejenis penyakit yang membuat seseorang tidak menyadari/lupa akan siapa dirinya). Manusia seperti raja yang berpakaian compang-camping didalam kerajaannya sendiri. Oleh sebab itu jiwa manusia perlu menyatu dengan Tuhan yang tersembunyi dilubuk yang paling dalam. Tegasnya, manusia perlu menyadari siapa dirinya yang sesungguhnya.
Tetapi bagaimana caranya agar manusia sadar siapa dirinya ? Bagaimana caranya agar jiwa manusia menyatu dengan Tuhan yang tersembunyi didalam ? Agama Hindu mengajukan 4 jalan mencapai tujuan. Metode latihan yang direncanakan untuk mencapai integritas atau keutuhan disebut yoga. Tetapi sebelum seseorang menempuh suatu jalan yang dipilihnya, ia perlu mengambil langkah pendahuluan berupa petunjuk-petunjuk awal mengenai kesusilaan dan moral.
Setelah seseorang mengikuti petunjuk awal kesusilaan seperti jangan egois, harus berbuat baik dan seterusnya, maka ia siap memilih jalan yang sesuai dengan kepribadiannya. Jalan yang pertama adalah melalui ilmu (disebut jnana yoga). Jalan ini biasanya ditempuh oleh seseorang yang mempuyai kecenderungan intelektual. Tetapi seseorang perlu sadar bahwa kepribadian (bhs Inggris : Personality) berasal dari bahasa Latin Persona yaitu Topeng yang dipakai seorang aktor. Jadi topeng-topeng yang membungkus pribadi sesungguhnya perlu ditanggalkan. Melalui ilmu (jnana yoga) diharapkan seseorang dapat mengenali dirinya/pribadinya yang sejati, serta mengalami kesadaran akan yang Ilahi.
Jalan yang kedua adalah melalui cinta (bhakti yoga). Seseorang yang menempuh jalan bhakti yoga akan melakukan penyembahan dan pemujaan kepada Tuhan melalui upacara-upacara keagamaan. Jalan ketiga adalah melalui kerja (karma yoga). Jalan ini biasanya dipilih oleh orang-orang yang aktif. Melalui aktifitasnya, seseorang diharapkan mengetahui rahasia pekerjaan yaitu suatu pengabdian dan pelayanan terhadap Tuhan. Seseorang yang menempuh karma yoga, tidak perduli apapun hasil pekerjaannya, sebab ia tidak mau mempertinggi egonya melalui hasil karyanya. Orang yang menempuh jnana yoga, bhakti yoga dan karma yoga berusaha melenyapkan diri agar ia menyadari diri sejatinya.
Jalan yang keempat adalah melalui latihan psikologis (raja yoga). Latihan psikologis ini dimaksud untuk mengarahkan perhatian seseorang kedalam dirinya sendiri. Latihan psikologis ini termasuk meditasi, sikap tubuh (ada 84 macam sikap tubuh), penguasaan mekanisme pernapasan, dan lain-lain.
Agama hindu mendorong seseorang untuk mencoba keempat jalan yang ada, bahkan menggabungnya sesuai kebutuhan. Sebagai penutup ulasan singkat ini, perlu dicatat bahwa agam Hindu menganut konsep reinkarnasi (perpindahan jiwa). Jadi ada hukum karma (hukum moral sebab akibat) yang mengatur perpindahan jiwa seseorang. Tidak ada yang kebetulan, seseorang yang menderita dalam kehidupannya saat ini adalah karena perbuatan yang dilakukannya pada kehidupan-kehidupannya yang lalu. Melalui reinkarnasi yang panjang maka jiwa seseorang akan menjadi sempurna.
|

24th August 2004
|
|
AP - Senior Member
|
|
Join Date: Jul 2004
Age: 46
Posts: 66
|
|
kerajaan, new age, babel 3
3.2. Ajaran Budha
Agama Budha dimulai oleh seseorang bernama Siddharta Gautama yang lahir sekitar tahun 560 sebelum Masehi di India Utara. Pada usia 16 tahun, Siddharta menikah dengan Yasodhara dan memiliki seorang putra bernama Rahula. Menurut ukuran dunia, kehidupan Siddharta sangat menyenangkan. Tetapi pada usia 29 tahun, ia mengambil keputusan untuk meninggalkan kehidupannya (termasuk istri dan anaknya) serta pergi ke hutan mencari penerangan rohani. Selama 6 tahun, Siddharta belajar dari 2 orang guru Hindu mengenai raja yoga dan filsafat. Pada masa itu juga ia bergabung dengan sekelompok pertapa. Setelah mengundurkan diri selama 6 tahun, ia mendirikan ordo rahib, serta memulai pengabdiannya. Selama 45 tahun, Siddharta menyampaikan pesannya tentang melenyapkan rasa mementingkan diri sendiri dan menyelamatkan hidup ini. Pada usia 80 tahun, Siddharta meninggal karena makan jamur beracun yang tanpa disengaja telah masuk kedalam makanan yang dihidangkan kepadanya. Siddharta Gautama mendapat gelar Buddha, yang menurut akar kata sanskerta Budh berarti “bangun” atau “mengetahui”.
Pengajaran Buddha yang utama disebut “Empat Kebenaran Utama”. Kebenaran pertama adalah hidup itu dukkha (penderitaan atau tergelincir). Ada sesuatu yang salah dengan hidup ini. Buddha memberikan bukti-bukti bahwa hidup ini telah tergelincir yaitu trauma waktu lahir, penyakit, adanya kemurungan yang timbul karena menjadi tua, adanya ketakutan akan maut, terikat pada sesuatu yang ingin kita hindari dan terpisah dari seseorang yang kita cintai.
Kebenaran kedua menegaskan bahwa penyebabnya adalah tanha. Tanha adalah keinginan untuk mementingkan diri sendiri. Kebenaran ketiga adalah lanjutan dari yang kedua yaitu kebebasan dari tanha berarti bebas dari siksaan.
Kebenaran keempat menyatakan bahwa ada 8 jalan untuk bebas dari tanha. Kedelapan jalan tersebut berturut-turut adalah ; Pertama, memiliki pengetahuan yang benar. Kedua, memiliki kehendak yang benar. Ketiga, memiliki perkataan yang benar. Keempat, memiliki perilaku yang baik termasuk tidak membunuh hewan (hanya makan sayuran). Kelima, memiliki penghidupan yang benar/pekerjaan yang benar. Keenam, memiliki upaya yang benar. Ketujuh, memiliki pikiran yang benar, dan kedelapan memiliki renungan yang benar (raja yoga). Buddha juga mengajurkan orang memasuki perkumpulan orang-orang yang telah mengalami pencerahan.
Perhatian utama Buddha adalah mengenai masalah pengobatan jiwa manusia. Ajaran Buddha bersifat pragmatis (terfokus pada hal-hal yang praktis dan berguna dalam hidup ini), dan bukan metafisik (hal-hal diluar dunia fisik yang kelihatan). Buddha tidak mengajarkan Tuhan sebagai pribadi. Nirwana (yang berarti pemadaman) dipandang sebagai kondisi dimana jiwa yang berhingga ini melebur kedalam yang tak berhingga. Dan ini dipandang sebagai suatu kebahagiaan. Buddha mengakui adanya reinkarnasi, disebabkan adanya tanha. Menurut Buddha, didalam hidup abadi, tidak ada “aku dan engkau” lagi, bebas dari hukum sebab akibat, serta tidak ada perbedaan yang baik dan buruk”.
3.3. “Injil” New Age dan Alkitab
Karena maksud tulisan ini adalah agar umat pilihan Tuhan terhindar dari penipuan para pemberita “Injil” New Age, maka pada uraian selanjutnya akan dibandingkan pesan-pesan New Age dengan apa yang tertulis didalam Alkitab. Kalau diperhatikan, sebenarnya ajaran Hindu-Buddha mengatakan bahwa identitas manusia yang sejati adalah Tuhan atau Yang Ilahi atau Brahman atau hidup sejati atau apapun juga istilahnya tetapi yang pasti manusia bukanlah makhluk ciptaan yang terdiri dari roh manusia, jiwa dan tubuh seperti yang dijelaskan dalam I Tesalonika 5:23. Identitas manusia yang sebenarnya menurut ajaran Hindu-Buddha ini, digabung dengan pemikiran Barat mengenai pengembangan potensi manusia melahirkan tema utama “Injil” New Age yaitu siapakah manusia itu sebenarnya.
Para pemberita “Injil” New Age berusaha meyakinkan orang-orang bahwa identitas manusia yang sejati adalah “Allah” atau “Kristus” atau “I am”. Masalahnya, menurut mereka, manusia belum memiliki kesadaran yang benar atau belum mengalami pencerahan atau belum dibangunkan dari “tidurnya”.
Apabila mereka mengutip ayat-ayat Alkitab, khususnya ucapan Tuhan Yesus, maka mereka memisahkan Yesus dari “I am”. Sehingga ucapan Yesus dalam Yohanes 14:6, yang dalam bahasa Inggris adalah I am the way, the truth and the life, diartikan bahwa “I am” yang didalam Yesus jasmani sedang berbicara. Dan “I am” ini juga berada didalam setiap orang, hanya saja orang tersebut belum menyadarinya. Orang-orang yang telah mendapat pencerahan dan menyadari “I am” yang didalam kita ini, menurut mereka, antara lain Yesus, Rama, Krishna, Buddha dan tokoh lainnya, serta tentu saja mereka juga.
Melalui pengajaran yang memisahkan Yesus jasmani dengan Kristus atau “I am”, maka otomatis darah Yesus dan kematiannya di kayu salib tidak mempunyai arti apa-apa. Maka jalan menuju “Allah atau Kristus yang didalam diri kita ini”, menurut “Injil“ New Age hanyalah ubahlah kesadaranmu, sadarlah, dapatkan pencerahan rohani, ubahlah paradigma serta bangunlah.
Sudahkah saudara lihat kelicikan si-musuh disini ? Posisi umat kerajaan adalah jelas, yaitu bahwa YESUS ADALAH ALLAH, sesuai Yesaya 9:5. Semua pelajar Alkitab setuju bahwa anak atau putera didalam Yesaya 9:5 adalah Yesus. Dan Yesus bukan saja disebut ALLAH YANG PERKASA, tetapi juga BAPA YANG KEKAL. Umat Kerajaan TIDAK MEMISAHKAN YESUS DARI ALLAH ATAUPUN BAPA YANG KEKAL. YESUS ADALAH MANIFESTASI PENUH SEPENUH-PENUHNYA DARI ALLAH YANG PERKASA DAN BAPA YANG KEKAL. OLEH SEBAB ITU YESUS TIDAK DAPAT DAN TIDAK BOLEH DIBANDINGKAN DENGAN MANUSIA MANAPUN DI DUNIA INI. Semua manusia lain adalah orang berdosa yang memerlukan darah Yesus untuk pengampunan dosanya sesuai dengan Ibrani 9:22 bahwa, “tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan”.
Sebenarnya pengajaran New Age yang memisahkan Yesus jasmani dengan Kristus, bukanlah hal yang baru. Pada zaman Rasul Yohanes ada suatu aliran sesat bernama Gnostic (berasal dari kata gnosis, artinya pengetahuan tersembunyi) yang mengajarkan bahwa zat atau materi pada dasarnya adalah jahat dan karena itu keberadaan Ilahi tidak mungkin mengambil bentuk daging manusia. Ajaran Gnostic ini menghasilkan pemisahan antara Yesus jasmani dengan Kristus rohani. Hal ini merupakan penyangkalan terhadap Yohanes 1:1,14 bahwa “Firman itu (ADALAH ALLAH) telah menjadi manusia”. Pada pengajar Gnostic dan para pemberita “Injil” New Age adalah pendusta dan anti Kristus, sesuai dengan yang ada tertulis, “Siapakah pendusta itu ? Bukankah dia yang menyangkal bahwa YESUS ADALAH KRISTUS ? Dia itu adalah anti Kristus …” (I Yohanes 2:22).
Untuk saat ini cukuplah uraian kita mengenai “Injil” New Age. Masih banyak tema-tema lain yang mereka kemukakan. Tetapi umat kerajaan akan diperlengkapi Tuhan sehingga terhindar dari penipuan si-musuh.
4. “Injil” Babel
Perlu kita ulangi lagi maksud tulisan ini yaitu agar umat pilihan Tuhan terhindar dari penipuan si-musuh. Pada uraian yang lalu telah kita lihat bagaimana “Injil” New Age dibuat sedemikian sehingga mirip dengan Injil Kerajaan dan dibuat seolah-olah ada suatu pewahyuan yang lebih dalam dari pada yang selama ini didengar oleh kebanyakan orang kristen. Bagi anak-anak Tuhan yang merindukan sesuatu yang baru dan segar, serta yang sudah bosan dengan pengajaran-pengajaran yang lama, maka penipuan “Injil” New Age bisa sangat berbahaya. Karena memang “Injil” New Age seolah-olah menawarkan sesuatu “yang baru” dan “yang lebih dalam”. Bahkan Yesus pernah memperingati murid-muridNya akan bahaya penyesatan sedemikian, “sehingga sekiranya mungkin, mereka (Kristus-kristus palsu dan Nabi-nabi palsu) menyesatkan orang-orang pilihan juga” (Matius 24:24).
Berbeda dengan penipuan “Injil” New Age, penipuan “Injil” Babel adalah menawarkan pengajaran-pengajaran lama serta menegaskan bahwa yang lama adalah yang paling benar. Keyakinan dari orang-orang yang berpegang teguh pada “Injil” Babel disuarakan oleh orang-orang Farisi dalam Yohanes 9:28-29, “… Engkau murid orang itu tetapi kami murid-murid Musa. Kami tahu, bahwa Allah telah berfirman kepada Musa, tetapi tentang Dia (Yesus) itu kami tidak tahu dari Ia datang”. Ketika Yesus memberitakan Kerajaan Sorga, maka orang-orang Farisi menolak Yesus karena Yesus membawa sesuatu yang baru ke dalam pengertian mereka. Para penganut “Injil” Babel adalah orang-orang berpegang teguh pada tradisi keagamaannya, bahkan sangat bangga dengan tradisi keagamaannya. “Kami adalah murid-murid Musa”, merupakan suara para penganut “Injil” Babel. Jadi, bagi anak-anak Tuhan yang ingin maju dan bertumbuh, setan menawarkan “Injil” New Age, sedangkan anak-anak Tuhan yang sudah puas dengan keadaannya sekarang, setan menawarkan “Injil” Babel.
Karena mayoritas (sebagian besar) anak-anak Tuhan sudah puas dengan keadaan kerohaniannya saat ini, maka penipuan “Injil” Babel akan menelan korban yang lebih banyak daripada “Injil” New Age. Dari minggu ke minggu, terus menerus diberitakan “Injil” Babel sehingga semakin meyakinkan para penganutnya. Tidak heran kalau mayoritas orang Yahudi pada generasi Yesus, menolak berita Kerajaan Sorga serta membunuh pemberitanya yaitu Tuhan Yesus Kristus. Begitu yakinnya mereka akan pengajaran “Musa-nya”, sehingga pengajaran Yesus mengenai Kerajaan Sorga dipandang sebagai penyesatan yang harus ditumpas habis.
Apakah sebenarnya “Injil” Babel itu ? Telah kita uraikan dalam pembukaan tulisan ini mengenai Babel yang ada didalam hati manusia dan Babel yang ada diluar hati manusia. Apabila kita mengatakan “Injil” Babel, maka Babel yang dimaksud adalah Babel yang ada diluar hati manusia. Jadi pengertian Babel disini adalah gereja yang menjadi kerajaan manusia dimana “Nimrod” menjadi penguasanya dan bukan Kristus. Maka dengan demikian “Injil” Babel adalah pengajaran “Nimrod-nimrod”.
Sebelum kita menguraikan lebih jauh pengajaran “Nimrod-nimrod” ini, perlu kita pahami sifat dasar dari pengajaran “Nimrod” ini. Karena “Nimrod” adalah seorang penguasa atas suatu kerajaan, maka apapun yang diajarkan “Nimrod” ini sifatnya meneguhkan, menguatkan, memperluas serta menguntungkan kerajaannya. Beberapa pengajaran “Nimrod” yang telah sangat populer saat ini adalah pengajaran perpuluhan dan penundukan diri (diistilahkan tudung rohani atau covering). Melalui kedua pengajaran ini saja, para “Nimrod” telah memperoleh banyak pengikut setia (dalam arti tidak berani keluar dari organisasinya karena takut disebut pemberontak) serta juga banyak fasilitas (melalui perpuluhan, “janji iman”, atau apapun juga istilahnya). Pengajaran perpuluhan serta penundukkan diri ini begitu amat populernya sehingga orang kristen hampir tidak bertanya lagi apakah pengajaran ini memang benar-benar ditujukan bagi gerejaNya atau tidak. Tetapi apabila kita dibersihkan dari ambisi dan hati “Nimrod”, maka tidaklah sulit menemukan fakta bahwa Yesus dan rasul-rasulNya tidak pernah mengajarkan perpuluhan maupun covering bagi gerejaNya seperti yang diajarkan para “Nimrod”.
Sifat dasar selanjutnya dari pengajaran “Nimrod” ini adalah menjalankan usaha dagang (doing business), Yohanes 2:14 versi The New King James). Sama seperti ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi di zaman Yesus menjalankan usaha dagang di bait Allah, demikian juga “nimrod-nimrod” zaman ini menjalankan usaha dagang didalam gereja. Pengajaran apapun yang dicetuskan para “Nimrod” ini, telah menjadi barang dagangan. Kekristenan telah benar-benar menjadi tempat perdagangan. Banyak orang telah menjadi kaya karena perdagangan didalam kekristenan. Segala sesuatu diperdagangkan, dari “emas dan perak” sampai “nyawa manusia” (Wahyu 18:12-13). Tidak heran apabila tiba waktunya gereja “Babel” dihancurkan, yang menangis dan berkabung adalah para pedagang (Wahyu 18:11).
Memang pengajaran “Nimrod” ini berbahaya mengingat sifat dasarnya. Itulah sebabnya Yesus memperingati agar berjaga-jaga dan waspada terhadap ajaran orang Farisi dan Saduki (Matius 16:6,12). Untuk melihat lebih jauh lagi pengajaran “Nimrod” mari kita lihat bahwa sebenarnya para “Nimrod” di zaman Yesus adalah orang-orang Farisi, Saduki serta ahli-ahli Taurat bahkan seluruh anggota Mahkamah Agung (disebut Sanhedrin) pada zaman itu.
4.1. Sanhedrin
Pada bagian ini kita akan menguraikan proses terjadinya Sanhedrin dan membuktikan dari Sejarah Israel bahwa Sanhedrin adalah “Nimrod” di zaman Tuhan Yesus. Perlu kita ingat bahwa Tuhan Yesus ditolak oleh Sanhedrin serta dijatuhi hukuman mati. Pelaksanaan hukuman mati itu memang dijalankan oleh prajurit-prajurit Roma, tetapi keputusan bahwa Yesus harus dihukum mati adalah dari Sanhedrin.
Untuk dapat memahami Sanhedrin dengan baik, kita perlu melihat kembali sejarah Israel sebagai umat pilihan Tuhan. Ada 2 dosa besar yang dilakukan oleh umat Israel sehingga mendatangkan penghakiman Allah. Kedua dosa besar Israel itu Tuhan ucapkan secara bersama-sama dalam I Samuel 8:7-8 sebagai berikut, … Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka. Tepat seperti yang dilakukan mereka kepadaKu sejak hari Aku menuntun mereka keluar dari Mesir sampai hari ini, yakni meninggalkan Daku dan beribadah kepada allah lain …”. Didalam ayat-ayat ini kita melihat 2 dosa besar umat Israel yaitu menolak Tuhan sebagai raja dengan cara meminta raja manusia, serta beribadah kepada allah lain (penyembah berhala). Karena kedua dosa ini, umat Israel didisiplin Tuhan selama 70 tahun pembuangan Babel.
Setelah mengalami masa pembuangan di Babel selama 70 tahun, sisa bangsa Israel pulang kembali ke Yerusalem dibawah pimpinan Zerubabel, Ezra dan Nehemia. Selama masa pembuangan di Babel, bangsa Israel mulai sungguh-sungguh mencintai Taurat mereka. Hal ini juga disebabkan peribadatan di Bait Allah tidak ada lagi. Bersamaan dengan bangkitnya kerinduan akan kitab suci mereka, muncullah sinagoge-sinagoge yaitu rumah sembahyang tempat orang Yahudi berkumpul untuk mempelajari Taurat Tuhan. Ketika sisa bangsa Yahudi pulang ke Yerusalem, kebiasaan berkumpul untuk mempelajari Taurat Tuhan tetap berlangsung. Itu sebabnya walaupun telah ada Bait Allah (didirikan oleh Zerubabel), tetap ada sinagoge-sinagoge tempat orang Yahudi mempelajari Taurat Tuhan. Rupanya, disiplin Tuhan di Babel selama 70 tahun, telah menghasilkan buahnya yaitu orang Yahudi benar-benar meninggalkan penyembahan berhala dan mulai mencintai Taurat mereka.
Bersamaan dengan bangkitnya kecintaan orang Yahudi terhadap Taurat Tuhan, maka dibawah kepemimpinan Ezra, dibuatlah semacam suatu badan untuk mengajar orang banyak agar memahami hukum Tuhan (Ezra 7:25-26). Setelah Ezra, Nehemia dan orang-orang seangkatannya meninggal, ada tenggang waktu + 400 tahun sebelum Yesus dan Yohanes Pembaptis memulai pelayanannya. Selama masa 400 tahun, badan yang dibentuk Ezra semakin berkuasa dan mempunyai pengaruh diantara rakyat. Bahkan pada zaman Tuhan Yesus, badan atau dewan yang berfungsi untuk mengajar Taurat Tuhan (disebut Sanhedrin) memiliki otoritas bukan saja dalam hal-hal agama, tetapi juga sipil dan kriminal. Jadi badan yang tadinya berfungsi untuk mengajari Taurat Tuhan kepada rakyat, dalam waktu 400 tahun telah melembaga menjadi Mahkamah Agama (Sanhedrin) dengan otoritas dalam bidang politik dan agama. Sanhedrin ini diketuai oleh Imam besar, serta mempunyai 70 anggota yang terdiri dari golongan Farisi, Saduki, ahli-ahli Taurat dan Tua-tua Yahudi.
Persoalannya sekarang adalah mengapa badan yang tadinya berfungsi mengajari rakyat akan Taurat Tuhan, menjadi lembaga agama yang menolak bahkan menjatuhi hukuman mati kepada Tuhan Yesus ? Lembaga agama ini (Sanhedrin) bukanlah terdiri dari orang-orang yang tidak tahu kitab suci Perjanjian Lama. Ketika Herodes bertanya pada lembaga ini, dimana Mesias akan dilahirkan; mereka langsung menjawab tanpa ragu-ragu (Matius 2:3-6). Apa yang menyebabkan lembaga ini menjadi alat setan untuk membunuh Tuhan Yesus ? Kami yakin bahwa penyebab terdalam mengapa lembaga ini menolak Yesus sebagai Raja Orang Yahudi adalah karena lembaga agama ini (sanhedrin) TELAH MENGANGKAT DIRINYA SENDIRI MENJADI RAJA ATAS ORANG YAHUDI. Melalui proses waktu 400 tahun, Sanhedrin telah merampas otoritas yang bukan miliknya. Memang didalam kitab-kitab Injil tercatat beberapa alasan mengapa orang Yahudi berusaha membunuh Tuhan Yesus, yaitu karena Yesus menyamakan DIRINYA dengan Allah, karena melanggar aturan sabat dan seterusnya. Tetapi itu semua merupakan alasan-alasan dipermukaannya saja, yang paling dalam adalah AMBISI “NIMROD” DIDALAM SANHEDRIN TERSINGGUNG DENGAN DATANGNYA RAJA YESUS.
Kita lihat bahwa umat Israel telah bertobat dari penyembahan berhala, karena disiplin Tuhan di Babel selama 70 tahun. Dosa besar umat Israel yang pertama telah diselesaikan dengan tuntas. Tetapi masih ada dosa besar yang kedua yang belum tuntas yaitu menolak Allah menjadi raja atas mereka. Umat Israel masih menyukai raja manusia. Sebelum pembuangan, raja manusia dari umat Israel adalah individu-individu, tetapi setelah pembuangan raja manusia dari umat Israel adalah lembaga agama (Sanhedrin). Dari segi umat Israel, mereka adalah orang yang senang mempunyai raja manusia; dari segi Sanhedrin, anggota-anggotanya adalah orang-orang yang suka berkuasa dan senang akan kemuliaan manusia. Tidak mungkin Sanhedrin merampas otoritas kalau rakyat tidak mau diperintah oleh raja manusia. Jadi kedua-duanya saling bekerja sama.
Kesimpulannya adalah Sanhedrin itulah “NIMROD” di zaman Tuhan Yesus. Dan kalau seseorang dikuasai oleh roh “Nimrod”, entah itu individu atau lembaga, maka ia akan menolak Tuhan Yesus sebagai Raja. Dan kalau individu atau lembaga yang dikuasai roh “Nimrod” mencetuskan suatu pengajaran, maka pengajarannya itu pasti bertentangan dengan pengajaran Firman Tuhan. Itulah sebabnya pengajaran orang-orang Farisi, Saduki dan ahli-ahli Taurat bertentang dengan pengajaran Yesus.
Didalam tulisan ini kita tidak menguraikan pengajaran “Nimrod” di zaman Tuhan Yesus. Juga kita tidak menguraikan pengajaran “Nimrod” zaman ini dengan panjang lebar kecuali kedua pengajaran “Nimrod” zaman ini yaitu perpuluhan dan covering yang telah kita singgung sebelumnya. Untuk saat ini yang penting adalah kita mengetahui siapa-siapa “Nimrod” zaman ini, agar kita waspada terhadap setiap pengajarannya, sesuai nasehat Tuhan Yesus (ragi orang Farisi, Matius 16:6, 12).
4.2. “Nimrod” zaman ini
Seperti kita ketahui bahwa pada zaman Ezra, terjadi kebangunan rohani bagi sisa bangsa Israel yang pulang ke Yerusalem. Badan yang mengajari rakyat akan Taurat Tuhan dibawah kepemimpinan dan zaman Ezra, berfungsi dengan baik dan menjadi alat Tuhan bagi umatNya. Tetapi setelah 400 tahun kemudian roh “Nimrod” menyusup kedalam badan ini sehingga menjadi lembaga agama (Sanhedrin) yang menolak Tuhan Yesus. Demikianlah sejarah kebangunan rohani selalu mempunyai pola yang sama. Pertama, lawatan Allah yang menghasilkan spontanitas dan persaudaraan yang sejati. Kemudian roh “Nimrod” menyusup kedalam, maka timbul apa yang disebut proses melembaga dimana lembaga ini akan menolak gerakan Allah selanjutnya.
Hal ini terjadi berulang-ulang. Kami akan mengutip bagaimana awalnya gerakan Pentakosta yang dimulai pada tahun 1901 di Amerika. Kutipan ini berasal dari buku Pentecostalism, 1966, oleh John T. Nichol pada halaman 85, sebagai berikut :
“Saudara Seymour diakui sebagai pemimpin nominal. Tetapi kami tidak mempunyai Paus atau hierarki. Kami adalah saudara. Kami tidak mempunyai program manusia. Tuhan sendiri yang memimpin. Kami tidak mempunyai golongan imam, juga tidak ada jabatan imam. Semua perkara-perkara ini datang kemudian, dengan adanya penyimpangan dari gerakan (Pentakosta)”.
“Tidak ada seorangpun yang tahu apa yang akan datang, apa yang Allah akan kerjakan, semuanya serba spontan, diatur oleh Roh”.
“Kami tidak harus mendapat petunjuk/isyarat-isyarat dari para pemimpin … Pertemuan-pertemuan dikontrol oleh Roh, dari Takhta”. (akhir kutipan).
Saudara lihat ketika datang lawatan Allah, semua berjalan dengan spontan dan semua berlaku sebagai sesama saudara. Tetapi begitu roh “Nimrod” masuk, segala sesuatunya berubah. Kami yakin bahwa gerakan yang paling akhirpun telah dimasuki roh “Nimrod”. Saudara dapat melihat ciri-cirinya yaitu adanya jabatan pemimpin dengan segala otoritas yang dimilikinya, adanya organisasi lengkap dengan program-programnya, dan yang lainnya. Pendeknya semuanya ada, kecuali spontanitas dan persaudaraan sejati.
Kita perlu waspada terhadap pengajaran “Nimrod” zaman ini. Semoga umat pilihan Tuhan semakin peka mengenali “Nimrod” zaman ini, serta menolak segala pengajarannya yang telah tercampur dengan kepentingan-kepentingan kerajaannya.
5. Kesimpulan
Tiba saatnya kita menyimpulkan tulisan singkat ini, yang mana bermaksud agar umat pilihan Tuhan terhindar dari penipuan. Pertama, umat pilihan Tuhan perlu lebih bersungguh-sungguh lagi mengenali dan mengalami Injil kerajaan sorga. Umat pilihan Tuhan perlu benar-benar berpegang pada Alkitab sebagai tulisan yang diilhamkan Allah. Apapun yang tidak berasal dari pewahyuan Alkitab, harus ditolak dengan tegas; entah itu “Pewahyuan mendalam” dari Injil New Age ataupun tradisi keagamaan dari Injil babel.
Kedua, karena “Injil” New Age menawarkan suatu “pengetahuan rahasia”, maka umat pilihan Tuhan perlu belajar menahan diri agar tidak meninggikan pengetahuan melampaui yang sepatutnya. Yang terutama adalah kita bertumbuh didalam kasih serta menempatkan pengetahuan pada tempatnya, karena kalau tidak maka pengetahuan membuat orang menjadi sombong dan jauh dari Tuhan. Para pemberita “Injil” New Age adalah orang-orang yang jauh dari kerajaan sorga, karena mereka membanggakan “pengetahuan rahasia” mereka.
Ketiga, umat pilihan Tuhan adalah seperti sisa bangsa Yahudi yang keluar dari Babel dan pulang ke Yerusalem. Bahaya yang mungkin menyertai sisa bangsa ini adalah membawa kebiasaan-kebiasaan, tata cara, pola pikir dan gaya hidup Babel ke Yerusalem. Umat pilihan Tuhan perlu benar-benar dibersihkan dari “Injil” Babel. Segala ambisi, tata cara, pola pikir dan gaya hidup yang lahir dari “Injil” Babel perlu dibereskan.
Pada akhirnya, segala sesuatu berpulang kepada kasih karunia Bapa. Karena Yesus berkata tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu jikalau Bapa tidak mengaruniakannya. Berbahagialah kita karena Bapa telah mengaruniakannya. Terpujilan NamaNya, Amin.
|

24th August 2004
|
 |
AP - Community Administrator
|
|
Join Date: Jun 2004
Location: Indonesia
Posts: 6,743
|
|
threadnya kepik jadiin satu supaya nggak cluttered dimana2 n supaya yg mo baca gampang baca 
__________________
No Love Greater Than The Cross
Who can stand as righteous, a sinner saved by grace?
The wrath of God was crucified when Jesus took our place.
The cross, the crown, the blood falling down,
The love that cost a price greater than all we could pay
|

13th December 2006
|
|
AP - Senior Member
|
|
Join Date: Dec 2006
Posts: 25
|
|
Iya panjang amat, jadi agak kesulitan baca.
|

14th May 2007
|
 |
AP - Guardian Angel
|
|
Join Date: Apr 2007
Posts: 837
|
|
Nice thread....
Good job!!
|

15th May 2007
|
 |
The Mind Blower
|
|
Join Date: Aug 2005
Location: Slovak Republic
Age: 26
Posts: 3,445
|
|
bingung gue sama pujian yang di lontarin oleh yang di atas gue ini, apa dia bener baca apa cuma mo nambah-nambah jumlah postingan aja..
komen gue? gue gak tahu mo komen apa karena emang gak enak dibaca...bukan isinya seh...tapi format tulisannya.
bisa di-'rapih'kan gak ya?
__________________
http://rethink.revolutia.info
|

15th May 2007
|
 |
THUNDERCATS
|
|
Join Date: Nov 2004
Posts: 2,185
|
|
Quote:
|
Originally Posted by JED-ReVoLuTiA
bingung gue sama pujian yang di lontarin oleh yang di atas gue ini, apa dia bener baca apa cuma mo nambah-nambah jumlah postingan aja..
komen gue? gue gak tahu mo komen apa karena emang gak enak dibaca...bukan isinya seh...tapi format tulisannya.
bisa di-'rapih'kan gak ya?
|
jujur neh si Jed... 
gw juga ga tau kadang kalau thread panjang gitu apa dibaca beneran ya ? mana jam kantor lagi.
|

23rd July 2007
|
|
AP - Junior Member
|
|
Join Date: Jul 2007
Posts: 24
|
|
Waduh....tulisan panjang itu kotbah? paparan? atau apa ya..? apa tujuannya? jangan-jangan saya yang salah masuk forum!?....maaf ya.........
|

21st October 2007
|
 |
AP - Veteran
|
|
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 17
Posts: 294
|
|
Wew...
Waduh,beneran nich...
Panjangnya....
Mo baca,tapi g' jadi dech...
Biz,mata.q g' kuat...
Panjang banget dach...

|
|