25 tahun silam, mungkin tokoh pahlawan bertopeng si manusia kelelawar ini belum booming seperti sekarang. Saya masih ingat pada tahun 80an, Film Batman tempo dulu (dibuat pada era 70an) ditayangkan di TVRI, diperankan oleh pria gendut, berbaju abu2 dan memakai celana dalam hitam di luar celana ketat abu-abu. Ditemani si Robin, anak muda bertopeng bandit, dengan baju merah dan celana hijau yang sama sekali engga matching, berdua berlari-lari dengan julukan “duo dynamic” menumpas penjahat dengan kostum seperti badut. Sama sekali jauh dari kriteria “Cool Superhero”. Masa itu tokoh si manusia Crypton, Superman, jauh lebih mampu memenangkan hati anak-anak untuk dijadikan idola. Nyatanya, waktu kecil saya sering diolok-olok oleh teman-teman ketika memilih peran tokoh Batman. Entah Batman-nya yang kurang populer, atau saya yang terlalu kerempeng dan kumal sehingga sama sekali tidak pantas memerankan tokoh itu walau sebatas dalam permainan. Hingga akhirnya pada tahun 90an, film layar lebar modern Batman yang pertama dirilis. Mulailah tokoh ksatria kelam ini mulai berubah image menjadi superhero misterius dan menjadi icon idola para ABeGe masa itu.
Film-film Batman terdahulu, yaitu “Batman” (1989), “Batman Returns” (1992), “Batman Forever” (1995), dan “Batman & Robin” (1997), dibuat dengan penuh “Fantasi”, ber-setting Kota Gotham yang dideskripsikan secara visual mirip seperti konsep asli yang dituangkan di dalam DC Comic. Yaitu sebuah kota kelam yang dipenuhi banguan fantastis berlanggam arsitektur Art-Deco. Tetapi sayangnya setting seperti itu, ditambah oleh desain karakter yang sedikit “berlebihan” seperti penggambaran musuh-musuh si manusia kelelawar, yaitu Joker (Jack Nicholson) yang muncul pada sequel Batman yang pertama, Two Face (Tommy Lee Jones), Penguin (Robert De Niro), Poison Ivy (Uma Thurman), Dr. Freeze (Arnold Schwarzeneger), Cat Woman (Michelle Pfeifer) dan Riddler, si Teka Teki yang diperankan oleh Jim Carrey, membuat Batman menjadi seperti film kartun yang dipaksa untuk jadi realistis. Terlalu mirip “dunia fantasi” daripada sebuah film action superhero. Kemunculan karakter Bat Girl (Alicia Silverstone) pada sequel Batman & Robin pun terkesan dipaksakan. Namun sejelek apapun film-film Batman tersebut, saya cukup terkesima dan mengacungkan jempol untuk desain kostum si Robin, yang jauh lebih keren daripada penggambaran aslinya di komik, dan dari kesekian sequel itu, sang tokoh utama Bruce Wayne paling buruk (my opinion) ketika diperankan oleh si bangkot ganteng George Clooney, namun Batman tampil cukup menawan oleh peran si Val Kilmer pada Batman Forever. Entah akting Kilmer yang bagus, atau hanya karena lawan main si Kilmer adalah Nicole Kidman yang jelita didukung penampilan prima si aktor bermuka karet Jim Carrey sebagai musuh Batman, sehingga “Batman Forever” cukup menghibur dan pantas untuk ditonton.
Sepopuler apapun Batman pada dekade 90an sampai tahun 2000, filmnya tidak termasuk jajaran film favorit yang ingin saya tonton, kecuali nonton siaran ulangnya di TV swasta ketimbang nonton sinetron.
Sampai pada akhirnya, pada tahun 2005 Warner Bross merilis Prequel terbaik dari kisah pahlawan bertopeng kelelawar ini, yaitu Batman Begins. Kisah flash back milyuner Bruce Wayne ini sangat berbeda nuansanya dari film-film Batman terdahulu. Settingnya lebih realistis tidak seperti komik bergambar, dan Bat Mobile pun tampil lebih garang, walau terkesan seperti kendaraan “berat” dibandingkan desain Bat Mobile sebelumnya yang ramping dan bergaya super-futuristik.
Melihat performa Batman Begins yang memuaskan, membuat saya tertarik untuk mengikuti kisah Batman selanjutnya pada sequel The Dark Knight. Menonton film ini, kesan pertama adalah suasana Gotham City tidak lagi seperti dunia fantasi, melainkan lebih bernuansa Amerika. Ditambah celoteh si Harvey Dent (Aaron Eckhart) waktu ditodong pistol di pengadilan, “Kalau kamu ingin membunuhku, setidaknya pakailah produk Amerika…”. Gotham tidak lagi berupa kota antah-berantah, tetapi lebih mirip New York City atau Los Angeles. Sesaat saya lupa, bahwa Gotham City sebenarnya tidak pernah dideskripsikan berada di wilayah belahan dunia sebelah manapun.
Namun ada satu yang mengganjal pada film ini, seakan-akan tokoh “Sentral” bukanlah si Bruce Wayne (Christian Bale), melainkan Joker (Heath Ledger). Emosi penonton lebih dikendalikan oleh karakter si Badut Psikopat yang dideskripsikan dengan sangat sempurna (menurut saya), dan pada awal-awal film, Harvey Dent lebih terkesan “protagonis” daripada Bruce Wayne. Tema cinta segitiga yang seharusnya sebatas intermezzo, terlalu kuat, hingga membuat alur cerita seakan bercabang dan berbelok ke beberapa arah, mengakibatkan timbul kesan bahwa alur cerita utamanya bukan mengisahkan Batman versus Joker, melainkan Bruce Wayne versus Harvey Dent dengan Rachel (Maggie Gyllenhaal) sebagai pemicu perseteruannya. Tampilnya Lucius Fox (Morgan Freeman) pun mengaburkan eksistensi si Tua Alfred (Michael Cane) sebagai pelayan setia Batman, karena tampaknya Lucius lebih dominan sebagai “provider” segala kebutuhan Batman ketimbang Alfred yang pada film ini lebih terlihat seperti “orang tua” Bruce. However, I really like Morgan Freeman, membuat saya berpendapat, Lucius Fox adalah salah satu karakter terbaik dalam The Dark Knight disamping Joker.
The Dark Knight sebenarnya sarat akan pesan moral tentang pergumulan hati nurani dalam memilih nilai-nilai kebenaran, ditambah dengan adanya tokoh Letnan Gordon (Gary Oldham) sebagai tokoh polisi penuh dedikasi dan cinta kepada keluarga yang mencerminkan figure seorang kepala rumah tangga dan ayah sejati, tetapi beberapa
violence yang ditampilkan oleh Joker maupun Two Face, membuat film ini terasa more “disturbing” than “entertaining”. Sangat tidak cocok untuk ditonton oleh anak-anak atau remaja di bawah usia 18 tahun. Ironisnya, di Indonesia, Batman lebih dianggap sebagai icon idola anak-anak. Waktu saya menontonnya di 21, seisi gedung hampir 40% dipenuhi orang tua yang membawa anaknya. Penampilan Joker yang mengerikan namun secara implisit sangat “menawan” sebagai seorang penjahat antagonis sejati, berpotensi mampu membangkitkan sisi gelap seorang anak atau remaja yang belum matang, untuk bersikap meniru tabiat negatif (but “cool”) tersebut. Alih-alih ingin menerapkan nilai kepahlawanan dalam membela kebenaran untuk anak-anak, yang terjadi malah sebaliknya, terbentuk paradigma “The Dark Knight” yang benar-benar “kelam” secara eksplisit, yang diilhami dari pengaruh karakter Joker yang sangat kuat, ketimbang pemahaman terhadap idiom positif “ sang ksatria kelam” dari Batman yang sebenarnya.
Quote:
|
Singkat kata, walau bahasa kasar tidak terlalu mencolok di film ini, namun unsur kekerasan dan permainan watak kejam yang dimainkan oleh Joker membuat saya beropini bahwa sebaiknya jangan ajak anak-anak nonton The Dark Knight, sebab film ini lebih cocok disejajarkan dengan film action khusus dewasa semacam Rambo, The Punisher, Gladiator, Apocalypto, Hannibal, Bad Boys, dll. Sejak Batman Begins, pahlawan bertopeng ini sudah tidak lagi sejajar dengan protagonis superhero untuk para anak-anak dan remaja macam Spiderman & Superman.
|
Walau ending dari film ini kurang berkesan dan agak dipaksakan (menurut saya), baik adegan kaburnya Batman, dan tewasnya Two Face yang terlalu gampang,
The Dark Knight bukanlah film jelek, sehingga masih sangat layak dan patut ditonton. Pastikan anda ke toilet terlebih dahulu dan jangan minum terlalu banyak supaya tidak terganggu oleh “HIV” (H-asrat I-ngin V-ivisss…) mengingat durarsi film ini cukup panjang, yaitu sekitar 135 menit.
Satu adegan yang sangat saya sukai, yaitu scene kejar-kejaran antara mobil baja SWAT yang mengangkut Harvey Dent dengan Joker CS, yang kemudian dilanjutkan pertarungan Batman riding Bat-moto melawan Joker yang mengendarai supertrucknya, diakhiri dengan adegan terbaliknya super-truck Joker secara dramatis. Very Cool…, Man!!! Saya tidak menduga Bad Mobile bisa lepas satu sisi-nya menjadi Bat-moto yang belum pernah ada di film-film Batman sebelumnya. Tapi adegan ciuman antara Bruce dan Rachel maupun antara Harvey dan (lagi-lagi) Rachel…. Hmm.. bad kiss scene I’d ever seen. “Indeed I can do better than that..!” (saya mengatakan hal itu waktu nonton sambil melirik Nana yang tersipu-sipu dan memerah wajahnya di samping saya)… Hehehe.
Copy Paste from:
w w w . c i p t h a w a c a n a . c o . c c