Welcome Guest Login or Signup
LIVE CHAT | IM LIST | BOOKMARK US | HELP GUIDE | LANGUAGE:


Go Back   Forum Diskusi Kristen Internasional > AP - LOUNGE > Kotak Info > Entertainment Talk
Register FAQ Members List Calendar Search Today's Posts Mark Forums Read

Reply
 
LinkBack Thread Tools Display Modes
  #41 (permalink)  
Old 22nd August 2008
ben's Avatar
ben ben is offline
Credo In Unum Deum
 
Join Date: May 2007
Posts: 8,650
ben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura about
Default

Kim Hong masih panas hatinya. Melihat pemuda sastrawan itu agaknya mengalihkan perhatian, tertarik kepada si gadis yang baru datang saja sudah membuat hatinya panas, merasa tersaing.

Apa lagi melihat Thian Sin juga longak longok! Ia mengenal watak Thian Sin yang romantis, yang suka akan kecantikan wanita dan mudah jatuh hatinya terhadap wajah cantik, akan tetapi iapun tahu bahwa di lubuk hatinya, Thian Sin hanya mencinta ia seorang.

Dan iapun tahu bahwa ia tidak dapat menyalahkan Thian Sin, karena ia sendiri selalu tertarik dan kagum kalau melihat pria tampan dan gagah, walaupun cintanya hanya untuk Thian Sin seorang.

Tiba-tiba semua orang menengok ketika melihat masuknya seorang laki-laki tinggi besar yang berjalan agak sempoyongan.

Jelaslah bahwa laki-laki tinggi besar ini sudah agak mabok, maka sungguh mengherankan sekali.

Mengapa orang yang sudah agak mabok, yang berarti sudah terlalu banyak minum arak, sekarang memasuki restoran? Seorang pelayan segera menyambutnya.

"Tuan hendak makan? Silahkan, di sudut belakang masih ada meja kosong."

Biarpun di ruangan depan juga masih ada beberapa buah meja yang kosong, akan tetapi pelayan yang cerdik ini sengaja memilihkan di sudut belakang agar orang tinggi besar yang sudah agak mabok dan kelihatannya kasar ini tidak mengganggu tamu-tamu lainnya.

Si tinggi besar yang usianya hampir empat puluh tahun itu melotot. Mukanya kasar dan kumis serta jenggotnya tidak terpelihara, pakaiannya juga kumal akan tetapi keseluruhan tubuhnya membayangkan kekuatan dan kekasaran.

"Apa katamu?

Di belakang?

Tidak. Aku ingin duduk di meja ini!"

Sambil berkata demikian, dia menunjuk ke arah meja yang sudah ditempati nona manis yang sedang makan itu.

Pelayan itu terkejut.

"Harap tuan tidak membikin ribut, meja ini sudah ditempati oleh nona ini, apakah tuan tidak melihatnya?"

"Peduli apa?

Yang dipakai hanya separuh meja juga tidak ada, masih banyak yang kosong!

Ia hanya sendirian, dan meja ini untuk delapan orang!

Masa hendak diborong sendiri?

Pula, tidak baik membiarkan wanita muda dan cantik seperti ia ini duduk makan sendirian saja!

Boleh kan aku duduk di sini menemanimu, manis?"

Gadis itu berhenti makan, memandang dengan alis berkerut.

"Hemm, siapakah engkau?

Tidak kenalkah engkau siapa aku maka berani kurang ajar?" gadis itu bertanya.

Si tinggi besar tertawa bergelak.

"Hua-ha-ha-ha, karena belum kenal maka sekarang kita berkenalan! Aku Can Hoa, orang-orang menyebutku Hai-pa-cu (Macan Tutul Laut), di Yen-tai namaku terkenal sekali. Nona siapakah?"

Dan si tinggi besar ini mau duduk begitu saja di atas bangku dekat nona itu.

"Pergilah dan jangan ganggu aku!" Nona itu berseru dan tangannya menampar ke arah muka orang itu.

"Plakkk!"
Reply With Quote
  #42 (permalink)  
Old 23rd August 2008
ben's Avatar
ben ben is offline
Credo In Unum Deum
 
Join Date: May 2007
Posts: 8,650
ben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura about
Default

Si tinggi besar itu menangkis dan akibatnya, nona itu hampir saja terjatuh dari atas bangkunya! Kiranya si tinggi besar itu menggunakan tenaga keras.

"Ha-ha-ha, nona manis, jangan terlalu galak Hai-pa-cu tidak biasa menghadapi wanita galak karena biasanya semua wanita jinak kepadaku, ha-ha-ha!" Hai-pa-cu Can Hoa itu tertawa bergelak.

Nona itu terkejut akan tetapi tidak kelihatan takut, bahkan ia menjadi marah dan meloncat turun dari atas bangkunya, alisnya terangkat dan sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi.

"******* kurang ajar! Berani engkau mengganggu orang di tempat ini?"

teriaknya dan iapun sudah siap untuk menyerang si tinggi besar itu. Dari gerak-geriknya, Thian Sin dan Kim Hong maklum bahwa gadis itupun bukan orang sembarangan dan belum tentu kalah kalau hanya oleh penjahat kasar itu saja.

Kalau tadi nona itu hampir jatuh dari atas bangkunya ketika si penjahat menangkis, adalah karena nona itu tidak mengira bahwa si penjahat akan menangkis dengan pengerahan tenaga besar.

Akan tetapi sebelum gadis itu bergerak, tiba-tiba terdengar suara nyaring,

"Maaf, nona. Saya kira untuk memukul seekor anjing kudisan tidak layak mempergunakan sebatang tongkat gading. Hanya akan mengotori tongkat indah itu saja."

Gadis itu memutar tubuh menengok ke kanan dan ternyata yang bicara itu adalah si sastrawan muda yang makan seorang diri tadi. Kini pemuda itu sudah bangkit dan meninggalkan mejanya, menghampiri nona muda yang cantik manis itu, lalu menjura dengan sikap sopan sekali.

Gadis itu memandang heran karena ia tidak pernah mengenal pemuda itu. Pula, iapun tidak mengerti apa yang dimaksudkannya.

"Apa maksudmu?" tanyanya ragu.

Pemuda itu tersenyum dan nampak betapa tampannya wajah itu, sepasang matanya bersinar-sinar penuh kegembiraan.

"Maksudku, nona. Untuk menghajar anjing ini tidak sepatutnya kalau mempergunakan tangan nona.

Biarlah aku yang mewakilimu untuk menghajarnya agar dia tahu sopan santun sedikit!"

Tanpa menanti jawaban nona itu, si sastrawan muda lalu membalik dan menghadapi penjahat tinggi besar yang kelihatan agak ragu-ragu melihat ada orang berani campur tangan.

"Hai, kamu Hai-ci-cu (Tikus Laut), apakah kamu tidak pernah sekolah?"

Pertanyaan itu begitu wajar dan akrab terdengarnya sehingga si tinggi besar terbawa hanyut dan otomatis diapun menggeleng kepala.

"Tidak..." Akan tetapi diapun sadar dan mukanya menjadi merah, lalu mengepal tinju.

"Bocah lancang! Mau apa engkau mencampuri urusanku?"

Dia melangkah maju, mengamangkan tinjunya yang besarnya hampir sama dengan besar kepala pemuda itu. "Apa kau ingin kepalamu pecah?"

Pemuda itu dengan lagak lucu meraba-raba kepalanya.

"Kepala pecah? Wah, jangan ah, kepala cuma satu dipecah, lalu ke mana aku harus mencari gantinya?"

"Pemuda gila, pergilah jangan sampai aku marah!"

Hai-pa-cu Can Hoa membentak lagi sambil mengamangkan tinjunya ke depan hidung pemuda itu. Si pemuda mengernyitkan hidungnya, lalu menggunakan dua jari tangannya untuk menutup lubang hidung sambil mundur dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Huh, tanganmu bau!
Reply With Quote
  #43 (permalink)  
Old 23rd August 2008
ben's Avatar
ben ben is offline
Credo In Unum Deum
 
Join Date: May 2007
Posts: 8,650
ben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura about
Default

Tentu engkau tidak pernah mencuci tangan, tidak pernah mandi!"

katanya dan karena hidungnya dijepit jari, maka suaranya menjadi lucu dan bindeng, membuat beberapa orang yang berada di situ tak dapat menahan ketawa mereka.

Biarpun semua tamu maklum bahwa si tinggi besar itu adalah seorang penjahat, akan tetapi karena tidak ada yang mengenalnya, maka kesannya tidak begitu menakutkan.

Apa lagi mereka semua rata-rata mengenal siapa adanya gadis manis yang diganggu itu maka tentu saja mereka semua berpihak kepada si nona dan semua orang menganggap bahwa si tinggi besar itu sungguh mencari penyakit.

Munculnya pemuda sastrawan yang juga tidak dikenal orang itu mendatangkan kegembiraan dan keinginan tahu.

Si Macan Tutul Laut menjadi marah bukan main. Tadi dia sudah dimaki Tikus Laut, dan sekarang dikatakan tangannya bau dan dia tidak pernah mandi. Mukanya yang berkulit kasar hitam itu menjadi semakin hitam.

"******* bermulut lancang! Engkau benar-benar sudah bosan hidup!"

Setelah berteriak demikian, si tinggi besar ini sudah menubruk ke depan, kedua lengannya yang panjang itu bergerak ke depan mengirim serangan.

Memang serangannya itu cukup dahsyat, yang kanan menghantam ke arah kepala lawan sedangkan yang kiri mencengkeram ke arah dada. Semua serangan ini dilakukan dengan pengerahan tenaga yang besar sehingga membawa angin pukulan yang cukup kuat.

Akan tetapi, pemuda yang kelihatan lemah dan lucu itu sama sekali tidak merasa takut atau gentar, juga tidak nampak gugup sedikitpun juga. Menghadapi serangan seperti itu, dengan tenang saja dia melangkah mundur dan menarik kepalanya ke belakang dan kedua tangan lawan yang menyerangnya itu hanya mampu mendekati saja akan tetapi sama sekali tidak sampai mengenai tubuhnya!

Dan diapun masih sempat menengok ke arah nona manis itu sambil tersenyum dan mengedipkan matanya, seolah-olah memberi isyarat, bahkan diapun sempat berkata,

"Mari kita semua lihat, siapa yang bosan hidup. Anjing kudisan macam dia ini berani mengganggu seorang siocia terhormat di tempat umum, sungguh dialah sesungguhnya yang bosan hidup!"

Dia masih berkata-kata ketika serangan ke dua datang dengan hebatnya. Sekali ini, karena si tinggi besar sudah dapat menduga bahwa pemuda itu yang kelihatannya lemah sesungguhnya bukan lawan yang boleh dipandang ringan, telah mengirim serangan dengan lebih dahsyat lagi, terdorong oleh rasa marahnya.

Dan nona itupun memandang dengan bingung. Thian Sin dan Kim Hong yang sejak tadi duduk tenang sambil memperhatikan, melihat betapa nona itu kelihatan bingung melihat ada orang membantunya. Tentu saja hal ini tidak terlepas dari pandang mata mereka yang tajam dan mereka merasa betapa anehnya sikap nona itu.

Seolah-olah nona manis itu tidak menghendaki bantuan pemuda tampan itu.

Sementara itu, serangan ke dua itupun dielakkan dengan amat mudahnya oleh si pemuda yang masih tersenyum?senyum.

"Hati-hati, jangan kau membuat rusak prabot rumah makan ini, karena engkau harus menggantinya nanti!"

Pemuda itu masih sempat memperingatkan kepada penyerangnya yang menjadi semakin marah.

Setelah empat lima kali menyerang tapi gagal dan selalu mengenai tempat kosong, akhirnya si tinggi besar itu mencabut senjatanya dari pinggangnya, yaitu sepotong rantai baja yang tadinya dipergunakan sebagai ikat pinggang atau sabuk.

Rantai ini besar dan berat, terbuat dari pada baja, seperti rantai yang biasa dipergunakan oleh tukang perahu.
Reply With Quote
  #44 (permalink)  
Old 23rd August 2008
ben's Avatar
ben ben is offline
Credo In Unum Deum
 
Join Date: May 2007
Posts: 8,650
ben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura about
Default

Sepasang matanya yang besar melotot dan kemerahan, mulutnya cemberut dan hidungnya kembang kempis ketika si tinggi besar itu melangkah maju menghampiri pemuda yang mengganggunya.

"Wah. apakah engkau tukang perahu?

Ataukah biasa menjagal kerbau dan rantai itu biasa kaupakai untuk mengikat kerbau yang hendak kausembelih? Hati-hati, rantai itu berat, jangan main-main, bisa-bisa menimpa kepalamu sendiri benjol!"

Pemuda itu memperolok dan semua orang yang kini sudah mulai percaya bahwa pemuda itu adalah seorang yang memiliki kepandaian lihai tertawa, bahkan ada yang berteriak agar si pemuda menghajar orang kasar yang telah menghina gadis itu.

Si gadis itu sendiri tidak lagi duduk menghadapi mejanya, melainkan mundur-mundur mendekati meja Thian Sin dan Kim Hong. Ketika Thian Sin memandang dan gadis itupun kebetulan memandang kepadanya, sepasang mata Thian Sin bertemu dengan sepasang mata yang bening dan jeli, yang mengeluarkan sinar lain dari pada tadi.

Kalau tadi sepasang mata di dalam cermin itu seperti menantang dan merangsang, kini sepasang mata itu seperti mengirim suatu permohonan, yaitu agar Thian Sin membantunya.

Hal ini terasa benar oleh Thian Sin! Akan tetapi karena penjahat kasar itu sudah dihadapi oleh si pemuda sastrawan dan dia mulai percaya bahwa pemuda itu akan dapat mengatasinya, maka Thian Sin tidak bergerak dari tempat duduknya. Kim Hong juga diam-diam kagum terhadap pemuda sastrawan itu.

Tak disangkanya bahwa pemuda sastrawan yang tadi bersajak dengan lucu, selain memiliki watak gagah berani membela wanita yang diganggu orang, juga ternyata memiliki kepandaian yang mengagumkan.

Cara pemuda itu mengelak, tanpa gerak silat, seperti gerakan biasa saja, akan tetapi sedikitpun serangan-serangan si tinggi besar tidak pernah mampu menyentuhnya, menjadi bukti bahwa pemuda itu memang memiliki ilmu silat yang sudah mendarah daging dan tinggi sehingga setiap gerakannya sudah mengandung gerakan silat.

Juga pemuda itu memiliki keberanian yang besar, terbukti ketika melihat lawannya mengeluarkan senjata rantai baja yang berbahaya itu, dia masih mampu menghadapinya dengan olok-olok, sedikitpun tidak merasa gentar.

Padahal, Thian Sin dan Kim Hong dapat melihat bahwa penjahat itu bukan hanya kasar dan bertenaga besar, melainkan juga memiliki kepandaian yang tidak rendah dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan.

Melihat gerakan orang kasar itu, Thian Sin dan Kim Hong dapat mengukur bahwa kepandaian si kasar ini sedikitnya tidak kalah oleh tingkat kepandaian seorang di antara Siang-to Ngo-houw! Jadi, bukan penjahat sembarangan saja, melainkan seorang penjahat yang sudah boleh dianggap sebagai tokoh dalam dunia kaum sesat.

Dugaan Pendekar Sadis dan kekasihnya ini memang tidak keliru. Hai-pa-cu Can Hoa memang sudah terkenal sekali di kota Yen-tai dan sekitarnya. Tentu saja dia tidak dikenal di kota raja dan dia belum cukup besar untuk berani beraksi di kota raja, di mana banyak terdapat penjahat besar dan orang-orang pandai.

Maka, sungguh merupakan suatu keanehan kalau sekarang penjahat ini berani beraksi di kota raja, apa lagi mengganggu seorang nona cantik yang sudah dikenal banyak orang di tempat umum. Seolah-olah penjahat dari Yen-tai itu memang sengaja mencari perkara!

"Wirrr... siuuuuttt...!"

Rantai baja itu yang panjangnya ada satu setengah meter, menyambar ganas dari atas ke bawah, ke arah kepala si pemuda sastrawan.

"Uhhh... luput!"

Pemuda itu pada detik terakhir meloncat ke kiri sehingga rantai itu menyambar tempat kosong. Sebelum rantai itu menyentuh lantai, tangan yang kuat itu menyendalnya dan rantai itu sudah membalik dan kini dari bawah menyambar ke samping, ke arah kedua kaki lawan.
Reply With Quote
  #45 (permalink)  
Old 23rd August 2008
ben's Avatar
ben ben is offline
Credo In Unum Deum
 
Join Date: May 2007
Posts: 8,650
ben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura about
Default

Gerakan ini saja menunjukkan bahwa Hai-pa-cu memang sudah mahir sekali memainkan rantainya, dan juga tenaganya amat besar sehingga rantai itu seolah-olah hidup di tangannya.

"Eeiiittt... tidak kena lagi!"

Si pemuda mengejek sambil meloncat ke atas, membiarkan rantai itu menyambar lewat di bawah kedua kakinya. Akan tetapi baru saja kakinya turun, rantai itu sudah menyambar lagi, kini dari atas ke bawah lagi, dengan gerakan menyerong ke kiri.

"Heiiit, luput lagi, sayang!"

Si pemuda lagi-lagi mengelak dengan cepat bukan main, gerakannya seperti kacau balau, seperti monyet menari saja, akan tetapi dalam pandangan Thian Sin dan Kim Hong, mereka melihat kematangan gerak yang mengagumkan dan mereka menduga bahwa pemuda itu ternyata adalah seorang ahli silat tinggi, tentu seorang pendekar yang menyamar. Maka tentu saja keduanya merasa tertarik sekali.

"Wuuuttt... prakkk..."

Sambaran rantai yang luput mengenai tubuh si sastrawan muda untuk ke sekian kalinya, kini menimpa meja. Pecahlah meja itu dan mangkok piringpun pecah berhamburan.

"Wah-wah-wah, apa kukata? Engkau memecahkan meja dan mangkok yang tadi kupakai. Engkau harus menggantinya! Sialan, jangan-jangan aku yang disuruh mengganti. Engkau pantas dihajar!"

Hai-pa-cu menjadi semakin marah dan kini dia sudah menubruk lagi, rantainya menyambar dengan membuat gulungan sinar melengkung lebar dari samping. Si pemuda menyambutnya dengan tangan.

"Plakk!"

Dan ujung rantai itu membelit lengan si pemuda. Wajah si tinggi besar itu menyeringai kegirangan dan mengira bahwa dia kini dapat membalas. Ditariknya dengan pengerahan tenaga agar pemuda itu terbawa dan terpelanting. Namun, ternyata tubuh pemuda itu sama sekali tidak bergerak, seolah-olah seorang anak kecil menarik batu karang saja!

Dan pemuda itupun tersenyum-senyum, lalu tiba-tiba kakinya bergerak menendang, mula-mula kaki kiri lalu disusul kaki kanan. Tendangan pertama mengenai pergelangan tangan si tinggi besar yang memegang gagang rantai.

Tidak keras, akan tetapi karena ujung sepatunya dengan tepat mengenai jalan darah, Hai-pa-cu mengeluarkan seruan kaget, lengannya seperti lumpuh dan tangannya tidak mampu lagi mempertahankan rantainya yang terampas.

Sebelum dia tahu apa yang terjadi, tendangan ke dua datang. Kiranya pemuda itu menggunakan tendangan Soan-hong-twi, yaitu semacam tendangan berantai yang dapat dilakukan terus-menerus secara bergantian oleh kedua kaki.

"Desss...!"

Tendangan itu keras sekali dan tepat mengenai dada Hai-pa-cu. Agaknya si pemuda sekali ini mengerahkan tenaga sin-kangnya karena tubuh lawan yang tinggi besar itu terlempar keras ke arah... meja Thian Sin dan Kim Hong!

Kalau tubuh tinggi besar yang terlempar itu terbanting dengan kerasnya ke atas meja, tentu meja itu akan remuk dan akan menimpa masakan-masakan di dalam mangkok yang tentu akan membuat kuah masakan memercik ke muka dan pakaian Thian Sin dan Kim Hong.

Mereka tentu saja tidak menghendaki hal ini terjadi, maka keduanya sudah bangkit berdiri dan mengulur lengan. Dengan berbareng tangan mereka menerima tubuh itu dan mendorongnya kembali ke arah si pemuda sastrawan!

Melihat ini, pemuda sasterawan itu berseru kagum.

"Bagus sekali!"
Reply With Quote
  #46 (permalink)  
Old 23rd August 2008
ben's Avatar
ben ben is offline
Credo In Unum Deum
 
Join Date: May 2007
Posts: 8,650
ben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura about
Default

Memang gerakan Thian Sin dan Kim Hong itu hebat dan hal ini hanya dapat dilihat oleh orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi. Dapat mendorong kembali tubuh yang sedang melayang itu membutuhkan tenaga sin-kang yang lembut dan kuat.

Bukan melawan tenaga luncuran tubuh yang melayang itu, melainkan memutarnya sedemikian rupa sehingga tenaga luncuran itu tidak patah bahkan ditambah oleh tenaga mereka berdua sehingga si tinggi besar itu kini melayang ke arah si sastrawan muda dengan lebih cepat dari pada tadi!
Hal ini memang disengaja oleh Thian Sin dan Kim Hong.

Mereka tahu bahwa pemuda itu sudah mengenal mereka, atau setidaknya telah maklum akan kepandaian mereka, maka tadi si pemuda sengaja melontarkan Hai-pa-cu ke arah mereka.

Tentu dengan maksud menguji, maka kini merekapun ingin menguji pemuda sastrawan yang aneh itu. Akan tetapi, agaknya pemuda sastrawan itu tidak berani menyambut lontaran yang kuat itu dengan tenaga sin-kang, melainkan dia miringkan tubuhnya dan mencengkeram leher baju si tinggi besar itu, kemudian dengan bentakan nyaring dia langsung melemparkan tubuh itu ke arah pintu rumah makan sambil berseru,

"Pergilah!"

Tubuh Hai-pa-cu terbanting keluar rumah makan diiringi sorakan dan ejekan banyak orang. Si tinggi besar yang tadi bersikap sombong dan mengaku sebagai jagoan dari Yen-tai itu tidak berani banyak lagak lagi. Tanpa menoleh diapun merangkak bangkit dan segera melarikan diri dengan terhuyung-huyung meninggalkan tempat itu.

Pemuda sastrawan itu kini menghampiri si gadis manis yang masih berdiri di dekat meja Thian Sin, menjura dengan senyum ramah.

"Jangan khawatir, nona. Anjing itu telah kuusir dan persilahkan nona melanjutkan hidangan nona."

Gadis itu yang tadinya sedang memandang kepada Thian Sin, kini menoleh dan terpaksa menghadapi pemuda itu, mengangguk dan tanpa berkata apapun lalu kembali duduk menghadapi mejanya. Tentu saja pemuda sastrawan itu melongo menghadapi sikap dingin ini. Bukankah dia telah menolongnya dan mengusir laki-laki yang kasar tadi?

Akan tetapi gadis itu sama sekali tidak memperlihatkan terima kasih, bahkan ramah sedikitpun tidak!

Dan pada saat itu, kepala pelayan sudah datang dan menghampirinya, menjura dan berkata dengan suara lirih dan hati-hati.

"Maaf, kongcu. Meja dan prabot makan itu..."

Pemuda itu agaknya masih merasa mendongkol oleh sikap si gadis yang tidak mengenal budi, maka kini dia menoleh memandang meja yang pecah-pecah dan prabot makan yang hancur, lalu mengangkat pundaknya.

"Kau melihat sendiri, yang membikin rusak adalah anjing besar tadi. Apakah aku yang harus menggantinya?"

"Tapi... maaf, orang tadi sudah pergi dan dia berkelahi di sini dengan kongcu..."

biarpun merasa segan, namun kepala pelayan itu terpaksa menuntut karena diapun takut mempertanggungjawabkan kerusakan dan kerugian itu kepada majikannya.

Dan apa yang dilakukannya itu, menuntut kepada si pemuda sastrawan, juga bukan merupakan hal yang tidak benar karena bukankah perkelahian itu terjadi antara si tinggi besar dan si pemuda sastrawan? Dan karena si tinggi besar sudah pergi, siapa lagi kalau bukan pemuda itu yang harus menggantinya? Apa lagi pemuda itu bukan kelihatan sebagai seorang miskin.

"Sudahlab, lopek. Masukkan semua kerugian itu ke dalam perhitunganku. Aku yang akan membayar ganti ruginya." Tiba-tiba gadis itu berkata, tanpa mengangkat muka dan melanjutkan makan seolah-olah tidak terjadi sesuatu.

Pemuda sastrawan itu tersenyum dan mendekati meja nona itu.

"Ah, sebenarnya tidak perlu begitu, nona. Biarlah aku saja yang mengganti semua kerugian."
Reply With Quote
  #47 (permalink)  
Old 23rd August 2008
ben's Avatar
ben ben is offline
Credo In Unum Deum
 
Join Date: May 2007
Posts: 8,650
ben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura about
Default

"Biarlah, karena aku yang menjadi gara-gara semua itu, sungguhpun aku sama sekali tidak pernah minta atau mengharapkan bantuan darimu."

Jawaban ini sungguh dingin dan anehnya, kembali nona itu melirik ke arah Thian Sin sehingga Kim Hong yang sejak tadi melihat ini, mengerutkan alisnya.

Pasti ada apa-apanya sikap gadis ini terhadap Thian Sin, pikirnya. Bagi Kim Hong, tidak heranlah melihat gadis-gadis tertarik kepada kekasihnya yang memang tampan dan ganteng, akan tetapi mengapa gadis itu begitu memperhatikan Thian Sin, padahal, bukankah yang telah membantunya adalah pemuda sastrawan itu dan pemuda itupun sama sekali tidak dapat dibilang buruk, bahkan tampan dan menarik sekali!

Akan tetapi, pemuda itu tidak nampak bingung atau kecewa mendengar ucapan itu.

"Aku mengerti, nona. Aku tahu bahwa tanpa bantuanku sekalipun, anjing itu sama sekali tidak akan mampu mengganggumu.

Hanya kupikir, tidak sepantasnya kalau nona sendiri yang turun tangan menghajar orang kasar macam dia. Padahal, andaikata tidak ada aku sekalipun, di depan nona, terutama dengan hadirnya dua orang pendekar yang berilmu tinggi seperti kedua orang yang duduk di sebelah kiri itu, penjahat kecil macam Hai-pa-cu itu akan mampu berbuat apakah?"

Berkata demikian, pemuda itu menoleh kepada Thian Sin dan Kim Hong, lalu menjura ke arah mereka. Gadis itupun menoleh dan iapun tersenyum manis kepada Thian Sin.

"Akupun tahu dan merasa kagum sekali kepada mereka." katanya.

Mendengar ini, Kim Hong tertawa dan berkata,

"Eh, sobat sastrawan yang hebat, setelah mejamu remuk, mengapa engkau tidak makan bersama kami sekalian belajar kenal?"

Thian Sin juga cepat bangkit dan menjura kepada gadis itu.

"Agaknya kita semua saling mengagumi, bagaimana kalau kita berempat makan semeja dan minta disediakan hidangan baru yang segar? Sudikah nona...?"

Tidak seperli ketika menghadapi pemuda sastrawan tadi, kini gadis ini tersenyum manis dan berkata,

"Terima kasih, akupun ingin sekali berkenalan dengan ji-wi..."

Lalu gadis tu memanggil pelayan, menyuruh pelayan membersihkan meja baru dan mereka berempatpun lalu duduk di satu meja.

"Ha-ha, sungguh baik sekali nasibku hari ini. Perkenalkanlah, aku she Be bernama Kok Siang seorang pelancong dari Thian-cin. Sungguh berbahagia sekali hatiku dapat berkenalan dengan tiga orang yang lihai dan amat mengagumkan."

Sambil berkata demikian, pemuda itu bangkit dan menjura kepada mereka bertiga, satu demi satu, sikapnya akrab, ramah dan kocak sekali sehingga Kim Hong tersenyum dan merasa semakin suka kepada sastrawan yang berwatak lembut, tidak pemarah dan gembira ini.

"Aku she Bouw, bernama In Bwee." kata gadis itu, lebih ditujukan kepada Thian Sin dari pada kepada dua orang yang lain karena ketika memperkenalkan dirinya, matanya tidak pernah melepaskan wajah Thian Sin.

"Nama yang indah sekali!"

kata Bu Kok Siang, sastrawan muda yang usianya kurang lebih dua puluh tiga tahun itu.

"Dan aku pernah mendengar bahwa di kota raja ada seorang hartawan besar. Nama Bouw-wan-gwe (Hartawan Bouw) amat terkenal bukan hanya karena kaya raya melainkan juga karena dermawan..."

"Ah, berita dilebih-lebihkan. Bouw-wan-gwe adalah ayahku, dan jangan terlalu memuji..."

kata Bouw In Bwee dan sekali ini mau tidak mau dipandangnya Kok Siang sambil tersenyum simpul.
Reply With Quote
  #48 (permalink)  
Old 23rd August 2008
ben's Avatar
ben ben is offline
Credo In Unum Deum
 
Join Date: May 2007
Posts: 8,650
ben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura about
Default

"Aha, kiranya puteri Bouw-wan-gwe! Wah, dibandingkan dengan harta kekayaan orang tuamu, aku tidak lebih hanya seorang jembel saja, siocia!" kata pula Kok Siang.

"Hemm, saudara Bu terlalu merendahkan diri." tegur Kim Hong tersenyum.

"Eh, eh, sampai lupa. Ji-wi (kalian berdua) belum memperkenalkan diri,"

kata Kok Siang, dan sepasang pendekar itu melihat sinar aneh berkilat dari kedua mata pemuda itu, sinar kecerdasan sehingga mereka dapat menduga bahwa di balik sikap yang tak acuh itu sebenarnya tersembunyi perhatian yang besar.

"Namaku Ceng Thian Sin dan ia adalah Toan Kim Hong."

kata Thian Sin sambil lalu, akan tetapi dia memperhatikan kalau-kalau kedua orang itu mengenal namanya. Akan tetapi, gadis itu tidak kelihatan terkejut, dan pemuda itupun hanya mengerutkan alisnya.

"Ceng Thian Sin...? Serasa pernah aku mendengar nama ini, seperti tidak asing bagiku, akan tetapi... baru sekarang aku berjumpa dengan taihiap..."

"Ah, buang saja taihiap itu, engkau sendiripun berkepandaian hebat, saudara Bu."

"Tidak ada sekuku hitam Ceng-taihiap dan juga Toan-lihiap... ah, nama Toan Kim Hong sungguh indah sekali!"

Kim Hong tersenyum dan menatap wajah ganteng itu.

"Hi-hik, agaknya saudara Bu Kok Siang ini selain pandai bersajak, pandai ilmu silat, juga mempunyai kepandaian untuk merayu dan memuji-muji nama wanita. Sungguh mempunyai banyak macam kepandaian!"

Ucapan ini sebenarnya dapat dianggap sebagai tamparan, akan tetapi karena Kim Hong mengucapkannya dengan nada sungguh-sungguh, bukan mengejek, dan sambil tersenyum, maka pemuda itupun tertawa gembira.

Mereka makan minum sambil bercakap-cakap gembira. Thian Sin dan Kim Hong mendengar bahwa In Bwee selain menjadi puteri seorang hartawan yang kaya, juga ia sejak kecil mempelajari ilmu silat sehingga mencapai tingkat yang cukup tinggi sehingga andaikata tadi Kok Siang tidak turun tangan, ia sendiripun akan sanggup menghajar penjahat kasar itu.

Karena selain sebagai seorang gadis kaya, juga ia merupakan seorang gadis ahli silat, maka tidaklah mengherankan kalau In Bwee suka melakukan perjalanan seorang diri, dan malam itu memasuki restoran tanpa teman lagi, seperti biasa seorang gadis kang-ouw yang bebas.

Adapun Bu Kok Siang menurut pengakuannya adalah seorang perantau yang bertempat tinggal di Thian-cin dan kebetulan sedang melancong ke kota raja.

Baru tiga hari dia berada di kota raja. Semua nampaknya kebetulan saja, akan tetapi diam-diam pasangan pendekar ini menduga dengan penuh keyakinan bahwa kedua orang muda yang menjadi sahabat baru itu sama sekali bukan secara kebetulan saja bertemu dengan mereka.

Bahkan pemunculan Hai-pa-cu tadipun bukan tidak mungkin sudah direncanakan terlebih dahulu. Akan tetapi, tentu saja mereka tidak mau menyinggung hal ini.

Makin cerdik keadaan lawan, makin menariklah permainan itu! Mereka sendiri mengaku sebagai dua orang yang melancong kota raja, datang dari utara tanpa memberi tahu tentang hubungan mereka berdua. Mereka hanya mengatakan bahwa mereka adalah teman-teman baik saja.

Mereka lalu berpisah sebagai sahabat-sahabat baru setelah saling berjanji akan mengunjungi Bouw In Bwee yang mengundang mereka. Akan tetapi yang terutama mendapat perhatian dan undangan khusus dari In Bwee adalah Thian Sin.

"Tidak salah lagi mereka berdua itu tentu ada hubungannya dengan urusan ini,"

demikian kata Thian Sin setelah mereka tiba di kamar hotel mereka.

"Akupun berpendapat demikian. Dan gadis itu she Bouw, sungguh kebetulan sekali sama dengan she dari kepala penjahat besar di kota raja yang pernah kita dengar dari Liong-kut-pian Ban Lok itu."
Reply With Quote
  #49 (permalink)  
Old 23rd August 2008
ben's Avatar
ben ben is offline
Credo In Unum Deum
 
Join Date: May 2007
Posts: 8,650
ben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura about
Default

"Kau maksudkan Pat-pi Mo-ko Bouw Kim Seng?"

Kim Hong mengangguk.

"Sikapnya amat mencurigakan dan... dan... ia selalu memperhatikan engkau, dan kelihatan selalu hendak memikat..."

"Eh, kau cemburu?"

Tentu saja Thian Sin sudah dapat mengetahui sejak tadi betapa In Bwee selalu memikatnya dan betapa Kim Hong melihat hal ini dengan cemburu yang disembunyikan.

"Siapa cemburu? Sastrawan itupun ganteng dan menarik sekali!" jawab Kim Hong.

Thian Sin maklum bahwa kekasihnya itu sengaja menyebut nama Kok Siang untuk membalasnya.

"Pemuda itupun patut diperhatikan, dia tidak kalah menarik dan mencurigakan dari pada In Bwee.

Karena itu, aku ingin agar engkau mencari dan menyelidikinya."

"Dan engkau sendiri akan menyelidiki In Bwee?"

"Tepat! Kita membagi tugas dan kurasa dari mereka itulah kita akan mengetahui tentang rahasia peta yang hilang."

"Hemm, tugas yang manis dan menyenangkan bagimu, ya?"

"Kim Hong, keadaan kita sama saja."

"Maksudmu?"

"Aku bisa tertarik kepada In Bwee yang manis, akan tetapi engkaupun bisa tertarik kepada Kok Siang yang ganteng. Bukan engkau saja yang bisa cemburu, akupun bisa."

"Jadi..."

"Nah, kita uji diri dan batin sendiri. Sedikit main-main, apa salahnya?

Dan yang terpenting, kita bukan mengejar asmara, melainkan mengejar rahasia peta. Ingat!"

Thian Sin tersenyum. Kim Hong membalas pandang mata itu, tersenyum pula. Keduanya mengerti lalu saling rangkul dan keduanya roboh di atas pembaringan sambil tertawa-tawa dan segera mereka tenggelam dalam kemesraan dan pencurahan kasih sayang mereka satu sama lain.

Gadis yang sedang membaca kitab seorang diri di pondak mungil tengah taman bunga itu sungguh nampak cantik manis di bawah sinar lampu merah.

Dan pondok yang terbuka jendelanya itu dipenuhi oleh keharuman bunga-bunga mawar yang sedang mekar dan juga bunga-bunga lain yang memenuhi taman.

Tidak ada seorangpun pelayan menemani Bouw In Bwee. Memang In Bwee ingin bersendirian membaca kitab dan ia mengusir semua pelayan dari pondok di taman bunga keluarganya yang kaya raya. Bulan di luar pondok cemerlang karena memang malam itu menjelang bulan purnama yang akan muncul dua malam lagi. Bulan sudah nampak bundar dan cerah.

Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu di dalam pondok itu sudah berdiri seorang laki-laki setengah tua yang bertubuh tinggi besar dan hermuka hitam. Sekali pria itu mengebutkan lengan bajunya, lampu yang terletak agak jauh, terietak di atas meja, padam! Ini membuktikan betapa hebatnya tenaga sin-kang dari pria itu. Keadaan dalam pondok menjadi gelap remang-remang karena kini hanya mendapatkan penerangan sedikit sinar bulan.

Akan tetapi In Bwee tidak nampak terkejut. Memang ia sudah menanti sejak tadi. Ia hanya bangkit berdiri, menoleh ke arah pria itu.

"Paman..." katanya lirih sebagai sambutan.
Reply With Quote
  #50 (permalink)  
Old 23rd August 2008
ben's Avatar
ben ben is offline
Credo In Unum Deum
 
Join Date: May 2007
Posts: 8,650
ben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura about
Default

"In Bwee, bagaimana hasilnya?"

"Aku sudah berhasil menghubungi mereka, paman. Akan tetapi aku harus bertindak hati-hati sekali.

Mereka berdua memiliki ilmu yang amat tinggi, dan mengingat bahwa pemuda itu adalah Pendekar Sadis, hatiku sungguh tidak tenang sekali."

"Hemm, sudah kukatakan bahwa engkau tidak perlu mengandalkan ilmu silatmu. Untuk menghadapinya dalam hal itu, serahkan kepadaku kelak.

Yang penting, engkau harus dapat memikatnya, menarik perhatiannya sehingga dia dapat menceritakan dengan terus terang tentang kunci emas itu. Bagaimana hasilnya malam kemarin itu?"

"Sudah kuatur dengan bantuan Hai-pa-cu seperti yang paman kehendaki. Akan tetapi sungguh sial, ada yang campur tangan dan sama sekali di luar rencana kita.

Muncul seorang sastrawan muda dari Thian-cin bernama Bu Kok Siang yang memiliki kepandaian tinggi juga. Melihat gerakannya ketika dia mengalahkan Hai-pa-cu, tentu kepandaiannya lebih tinggi daripada tingkatku."

"Hemm... jadi engkau gagal karena ulah sastrawan jail itu?"

"Gagal sama sekali sih tidak. Aku berhasil berkenalan dengan mereka, juga dengan sastrawan itu tentu saja, dan aku sudah menjadi kenalan mereka, malah sudah kuundang dia untuk datang ke sini..."

"Bagus, kau atur saja dan jangan engkau main-main, In Bwee.

Kalau berhasil, selain engkau akan mewarisi ilmu-ilmu simpananku, juga engkau akan memperoleh sebagian dari harta pusaka Jenghis Khan itu. Akan tetapi kalau engkau menolak dan mengkhianatiku, awas kau, aku tidak akan mengampunimu lagi. Ayah bundamu akan mendengar semuanya!"

"Paman..." Gadis itu terisak.

"Jangan khawatir, aku tidak akan sekejam itu, engkau adalah keponakanku sendiri. Akan tetapi engkau harus mentaati perintahku, hanya sekali ini. Mengerti?"

"Baik, paman."

"Nah, aku pergi. Lakukan secepat mungkin dan harus berhasil!"

Tiba-tiba orang tinggi besar itu berkelebat dan lenyap dari situ seperti setan saja.

In Bwee menyalakan lampu dengan jari-jari tangan gemetar. Wajahnya masih agak pucat dan jantungnya berdebar tegang. Setelah lampu menyala, barulah hatinya tenang, akan tetapi pikirannya mengenang keadaan dirinya dan tidak dapat ditahan lagi gadis itupun menangis sambil meletakkan kepala di atas kedua lengannya di atas meja. Entah berapa lamanya ia terhanyut dalam kedukaan ini ia tidak ingat lagi.

"Nona In Bwee... kenapa kau menangis...?"

In Bwee terkejut sekali dan sekali tubuhnya bergerak, ia sudah meloncat keluar dari kamar pondok itu dan ia berhadapan dengan seorang pemuda yang tadi berdiri di luar jendela, pemuda yang bersikap tenang dan bukan lain adalah Bu Kok Siang!

"Ah, engkau..."

In Bwee berkata dengan hati lega ketika melihat siapa orangnya yang menegurnya tadi. Akan tetapi segera ia teringat akan kedatangan orang pertama tadi, maka sambil berusaha menatap wajah di bawah sinar bulan yang sayu itu, ia bertanya,

"Sudah lamakah engkau tiba di sini?"

Kok Siang mengangguk. "Lama juga, aku tadi berlindung di balik rumpun bunga di sana."

"Ahh...! Jadi... jadi kau tadi melihat...?"

Pemuda itu mengangguk.
Reply With Quote
  #51 (permalink)  
Old 23rd August 2008
ben's Avatar
ben ben is offline
Credo In Unum Deum
 
Join Date: May 2007
Posts: 8,650
ben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura about
Default

"Ahh...!" In Bwee menjadi terkejut sekali dan menggunakan kedua tangan untuk menutupi mukanya.
Sentuhan tangan pemuda pada pundaknya itu halus sekali, sama sekali tidak mengandung kekurang ajaran dan suara itu tergetar penuh perasaan.

"In Bwee... nona... tenangkanlah hatimu. Aku tidak sengaja melihat semua itu tadi, tapi... percayalah aku tidak akan mengatakannya kepada siapapun juga. Aku bersumpah! Dan kau jangan khawatir, aku... aku siap untuk melindungimu terhadap ancaman apapun juga, dengan taruhan nyawaku!"

Gadis itu menurunkan kedua tangannya dan sampai lama ia memandang wajah pemuda itu, memandang dengan penuh keheranan dan keraguan. Kemudian ia berkata.

"Mari kita bicara di dalam. Di sini bisa terlihat orang lain."

Tanpa berkata-kata, In Bwee memasuki pondok itu diikuti oleh Kok Siang. Kemudian, setelah menutupkan daun jendela, In Bwee bersikap agak tenang dan mencoba untuk menahan getaran suaranya yang masih terguncang.

"Bu-kongcu... eh, saudara Kok Siang, kau duduklah."

Mereka duduk berhadapan dan kembali di bawah penerangan lampu kini mereka saling pandang dan sinar mata mereka bertaut sampai lama sekali. Gadis itu lalu menunduk dan menarik napas panjang.

"Jawab pertanyaan-pertanyaanku.

Pertama, mengapa malam-malam begini engkau datang ke sini, bukan berkunjung sebagai tamu melainkan datang seperti ini, seperti pencuri melalui taman?"

Pertanyaan itu tidak mengandung kemarahan, akan tetapi tatapan mata itu demikian tajam seolah-olah gadis itu hendak menjenguk isi hati pemuda itu. Kok Siang yang biasanya berjenaka itu, sekarang nampak serius.

"Entahlah... aku tidak dapat tidur... siang tadi ingin mengunjungimu akan tetapi selalu teringat akan perbedaan keadaan antara kita, membuat aku ragu-ragu.

Tapi malam ini... aku begitu gelisah, ingin sekali bertemu denganmu, atau setidaknya melihatmu, atau paling tidak melihat rumahmu dan... di sinilah aku.

Ketika lewat di rumahmu, aku semakin ingin melihatmu, maka dengan lancang aku meloncati tembok dan ke taman ini dan sungguh kebetulan sekali aku melihatmu dan tadi..."

"Cukup. Kini pertanyaan ke dua. Apakah kau tadi mengenal orang itu?"

Pemuda itu menggeleng.

"Terlalu gelap untuk dapat melihatnya dan gerakannya demikian cepat, seperti setan menghilang saja. Akan tetapi dia itu pamanmu, bukan?"

Kedua tangan gadis itu mencengkeram lengan pemuda itu, bukan serangan, melainkan cengkeraman karena terkejut.

"Kau... kau tahu...?"

Kok Siang menggeleng kepala.

"Aku tadi lapat-lapat mendengar engkau menyebut dia paman, dan... aku... aku tidak sengaja mendengar ancamannya yang terakhir tadi, yaitu kata-kata ini : Nah, aku pergi, lakukan secepat mungkin dan harus berhasil."

"Ahhh...!"

Entah apa artinya keluhan ini, mungkin juga lega karena pemuda itu tidak mengetahui semuanya, atau juga khawatir. Kok Siang tidak dapat menyelami hati gadis ini. Akan tetapi In Bwee melepaskan cengkeraman tangannya, lalu duduk kembali.

"Sekarang, jawablah sejujurnya, ah, jangan sembunyikan rahasia, jawablah sejujurnya... mengapa engkau bersikap seperti ini kepadaku?
Reply With Quote
  #52 (permalink)  
Old 23rd August 2008
ben's Avatar
ben ben is offline
Credo In Unum Deum
 
Join Date: May 2007
Posts: 8,650
ben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura about
Default

Mengapa engkau tadi mengatakan bahwa engkau hendak melindungi aku terhadap ancaman apapun juga, dengan taruhan nyawamu?"

Sekali ini, dengan terang-terangan In Bwee memandang wajah pemuda itu, sinar matanya seperti hendak menembus dan mengetahui isi hati pemuda itu.

Berdebar rasa jantung Kok Siang. Beberapa kali dia menelan ludah sebelum menjawab, lalu diapun berkata, suaranya lirih dan tergetar penuh perasaan,

"Demi Tuhan, aku bersumpah bahwa apa yang hendak kukatakan ini adalah sejujurnya. Nona... eh, Bwee-moi, terus terang saja, selama hidupku belum pernah aku jatuh cinta. Akan tetapi sejak aku bertemu denganmu di restoran itu, melihat sikapmu menghadapi penjahat, aku sudah jatuh hati kepadamu dan aku sudah mengambil keputusan bahwa engkaulah satu-satunya wanita yang kuingin agar menjadi jodohku.

Akan tetapi... mendengar bahwa engkau adalah puteri seorang hartawan besar, timbul keraguanku karena aku tidak ingin dinamakan pengejar harta dan hendak mengawini hartamu.

Aku... aku cinta padamu, Bwee-moi. Nah, terus terang saja kukatakan ini, dari pada kusimpan-simpan menjadi racun hatiku.

Dan melihat engkau menangis begitu sedih tadi... aku merasa bahwa akulah orangnya yang harus melindungimu dengan taruhan nyawaku."

"Ah, tidak... tidak...!" Dan tiba-tiba In Bwee menutupi mukanya dan menangis lagi!

"Bwee-moi, jangan salah sangka. Aku sungguh tidak menginginkan hartamu. Aku sendiri bukan orang yang terlalu miskin, walaupun tidak sekaya ayahmu.

Akan tetapi aku mempunyai cinta dan biarpun baru satu kali kita saling berjumpa, akan tetapi aku sudah yakin bahwa aku cinta padamu dan... aku bersedia menjadi jodohmu walaupun engkau tidak membawa harta secuwilpun."

Akan tetapi ucapan itu bahkan membuat In Bwee menangis semakin sedih.

"Bwee-moi, maafkan aku... ampunkanlah kalau aku menyinggung perasaanmu..."

In Bwee menggeleng kepala.

"Biarkan aku menangis... biarkan aku menangis..."

dan iapun mengguguk. Kok Siang diam saja hanya memandang dengan hati terharu dan ia tahu bahwa gadis itu bukan tersinggung melainkan berduka dan agaknya baru sekarang memperoleh kesempatan untuk menumpahkan semua kedukaan hatinya melalui air matanya.

Setelah tangisnya mereda, akhirnya gadis itu mengangkat muka dan memandang kepada pemuda itu dengan wajah pucat dan mata merah. Sampai lama ia memandang, kemudian berkata lirih,

"Aku percaya... sudah kurasakan kemarin malam akan tetapi, aku... aku sungguh tidak berharga untuk menjadi isterimu atau isteri siapapun juga." Kembali ia menangis.

Kok Siang terkejut dan cepat memegang tangan yang tergetar itu.

"Ah, moi-moi... kenapa engkau bicara seperti itu? Engkau seribu kali lebih berharga dari pada aku!"

"Engkau tidak mengerti... ah, baiklah, dengarkan akan kuceritakan padamu. Duduklah yang tenang, dan dengarkan ceritaku.

Tiga tahun yang lalu terjadinya malapetaka itu...!

Kautahu, sejak kecil aku berlatih silat, dibimbing oleh pamanku yang amat tinggi ilmu silatnya.

Aku berlatih dengan beberapa orang murid pamanku.

Setelah aku dewasa, tiga tahun yang lalu, aku berusia delapan belas tahun... dan keadaan pamanku itu, biarpun dia lihai... ah, dia bukan orang baik-baik... dia bergaul dengan orang-orang jahat, bahkan menjadi pemimpin mereka... demikian pula murid-muridnya... ah, aku terpikat oleh seorang suhengku... sampai... sampai pada suatu hari, dalam kemabokanku karena kami minum arak, agaknya disengaja oleh suhengku itu, aku... aku menyerahkan diriku padanya..."
Reply With Quote
  #53 (permalink)  
Old 23rd August 2008
ben's Avatar
ben ben is offline
Credo In Unum Deum
 
Join Date: May 2007
Posts: 8,650
ben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura about
Default

Gadis itu menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali. Kemudian ia mengepal tinjunya dan mengangkat muka.

"Nah, sudah kaudengar baik-baik? Apakah engkau masih berani mengaku cinta padaku?"

Pengakuan itu bagaikan halilintar menyambar kepala pemuda itu. Dia menjadi nanar dan mukanya pucat, matanya menjadi sayu dan merenung kosong. Akan tetapi, dia segera menggoyang kepalanya dan juga mengepal tinju.

"Bwee-moi, aku cinta padamu sekarang! Yang kucinta adalah engkau sekarang ini, bukan engkau dahulu-dahulu dan bukan pula keperawananmu! Nah, sudah dengarkah engkau?"

Ucapan yang keras itu mengejutkan In Bwee, juga mengherankannya.

"Tapi... tapi..."

"Lanjutkan ceritamu!"

"Aku merasa menyesal sekali dengan peristiwa itu dan aku... aku lalu membunuh suhengku itu!

Aku tahu bahwa dia sengaja memikat dan melolohku dengan arak keras, dan aku tahu bahwa aku sama sekali tidak cinta padanya dan bahwa diapun hanya mau mempermainkan aku. Paman, yaitu suhu kami, tahu akan hal itu.

Dia membantuku, merahasiakan hal itu. Kalau dia memberitahu kepada ayah, tentu ayah akan marah sekali dan mungkin aku akan diusir, tidak akan menjadi ahli warisnya karena ayahku tidak suka anak perempuan. Nah, paman membantuku, menyimpan rahasia itu akan tetapi sebaliknya aku harus membantunya."

"Membantunya? Membantu apa?"

"Macam-macam, pokoknya yang mendatangkan uang. Bahkan sering aku disuruh mencuri barang-barang berharga milik ayah dan ibu untuknya, dan aku disuruh pula melakukan kejahatan bersama murid-murid dan anak buahnya..."

"Ahhh!"

"Aku terpaksa... aku takut kalau sampai ayah ibu tahu bahwa aku sudah bukan gadis lagi... aku bahkan terus menerus menolak kalau mau dikawinkan... ah, betapa aku telah menderita hebat... bukan hanya karena keadaanku, akan tetapi juga karena penekanan paman..."

Gadis itu menangis lagi dan kini tanpa ragu-ragu lagi pemuda itu maju dan memegang tangannya.

"Bwee-moi, pandanglah aku. Nah, percayakah engkau bahwa aku cinta padamu?

Mencinta dengan murni dan tulus, bukan hanya mencinta keperawananmu atau harta bendamu?"

Mereka saling pandang dan gadis itu mengangguk.

"Kalau engkau percaya dan engkau dapat membalas atau menerima cintaku, dengarkan baik-baik. Engkau telah bertindak keliru.

Semestinya, engkau berterus terang kepada ayah bundamu dan menghadapi segala akibatnya. Dengan membiarkan dirimu diperalat oleh orang lain, berarti engkau semakin dalam terperosok. Sekarang, kauceritakanlah kesemuanya kepadaku..."

"Tidak... aku tidak berani... engkau tidak tahu betapa lihainya pamanku."

Gadis itu berkata dengan muka pucat dan mata liar memandang ke kanan kiri.

"Engkau pergilah, Siang-ko, pergilah dulu... biarkan aku berpikir dengan matang... kedatanganmu terlalu tiba-tiba.

Besok... besok atau lusa kita bertemu lagi, di sini... malam-malam begini... sekarang kau pergilah..."
Reply With Quote
  #54 (permalink)  
Old 23rd August 2008
ben's Avatar
ben ben is offline
Credo In Unum Deum
 
Join Date: May 2007
Posts: 8,650
ben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura about
Default

Kok Siang menghela napas, tidak berani memaksa.

"Baiklah, akan tetapi ingatlah selalu bahwa di dunia ini ada Bu Kok Siang yang akan melindungimu dengan taruhan nyawa, yang akan tetap mencintamu dan tidak memperdulikan riwayatmu yang sudah lalu. Nah, selamat tinggal, sampai jumpa besok atau lusa malam."

"Baik, Siang-ko... kalau engkan melihat lampu merah di pondok ini, jendelanya terbuka, berarti aku menantimu di sini..."

Pemuda itu mengangguk, menggenggam kedua tangan itu, kemudian mcloncat keluar dan lenyap dalam kegelapan malam.

In Bwee memandang ke arah lenyapnya pemuda itu dengan mata sayu, kemudian termenung-menung dan akhirnya iapun menangis lagi sendirian, menahan isaknya agar tidak menimbulkan suara.

Peristiwa yang baru saja terjadi itu terlalu hebat baginya. Dan ia sama sekali tidak tahu bahwa ada bayangan yang mendekatinya, kemudian terdengar suara orang di balik jendela.

"Hemm, engkau diam-diam telah mempunyai pacar, ya?

Baik, selesaikan tugasmu sampai berhasil dan engkau akan menikah dengan pacarmu itu, aku yang akan membujuk orang tuamu agar setuju.

Akan tetapi kalau engkau mengkhianatiku, pacarmu itu akan kubunuh dan rahasiamu akan kuumumkan tidak hanya kepada ayah bundamu, akan tetapi kepada semua orang!"

"Paman...!"

In Bwee berseru kaget sekali akan tetapi bayangan itu telah berkelebat lenyap dan In Bwee hanya dapat merenung dengan muka pucat. Kemunculan guru atau pamannya yang lihai itu seketika membuyarkan harapan dan khayalnya yang timbul bersama munculnya pemuda sastrawan itu. Sedikit harapan itu bagaikan awan tipis tersapu badai.

"Bu-kongcu...! Tunggu sebentar...!"

Bu Kok Siang yang sedang berjalan seorang diri di pagi hari itu, tentu saja mendengar teriakan suara wanita ini dan diapun cepat berhenti melangkah dan menoleh.

Wajahnya segera berseri dan bibirnya tersenyum ketika dia melihat siapakah wanita yang memanggilnya itu.

Kiranya yang memanggiinya itu adalah wanita cantik yang telah dikenalnya di dalam rumah makan, yang bernama Toan Kim Hong!

Setelah wanita itu tiba di depannya, Kok Siang cepat mengangkat kedua tangan memberi hormat sambil berkata,

"Ah, kukira siapa, tidak tahunya nona Toan. Dan harap jangan menyebutku kongcu (tuan muda), membuat aku menjadi malu saja."

"Selamat pagi, Bu... twako! Biar kusebut twako, biarpun mungkin aku lebih tua. Engkau tahu, wanita selalu ingin dianggap lebih muda." kata Kim Hong tersenyum.

Kok Siang tertawa.

"Dan memang nampaknya engkau jauh lebih muda dari pada aku, nona. Sepagi ini engkau hendak ke manakah?

Dan mengapa nona sendirian saja?

Mana saudara Ceng Thian Sin yang gagah perkasa itu?"

"Dia tinggal di kamarnya di hotel. Aku memang sengaja keluar hendak mencarimu."

Pemuda itu mengangkat kedua alisnya dan memandang heran.
Reply With Quote
  #55 (permalink)  
Old 23rd August 2008
ben's Avatar
ben ben is offline
Credo In Unum Deum
 
Join Date: May 2007
Posts: 8,650
ben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura aboutben has a spectacular aura about
Default

"Lihiap... eh, nona mencari aku? Ya nasib mujur! Sungguh beruntung sekali. Ada keperluan apakah gerangan...?"

Kim Hong tertawa, manis sekali.

"Kita sudah saling berkenalan, apakah kalau tidak ada urusan penting tidak boleh mencari dan mengunjungi?

Tadi aku lewat di hotelmu dan engkau tidak ada, lalu kulihat engkau berjalan sendirian, seperti orang tergesa-gesa, maka kupanggil. Apakah aku mengganggumu?

Kalau begitu biarlah aku pulang lagi saja."

"Eh, eh... nanti dulu. Tentu saja aku girang dapat bertemu denganmu, nona. Akupun belum sempat mengunjungi rumah penginapan kalian, dan kebetulan berjumpa di sini. Nah, ke mana kita pergi sekarang untuk merayakan pertemuan ini?"

"Aku ingin bercakap-cakap denganmu, Bu-twako."

"Kalau begitu, mari kita pergi ke taman umum di tepi sungai, di sana indah dan sepi. Tidak enak bercakap-cakap di tepi jalan seperti ini."

Mereka lalu berjalan bersama menuju ke taman yang luas itu. Kota raja terkenal dengan taman-tamannya yang indah, akan tetapi hanya beberapa buah saja yang terbuka untuk umum, di antaranya taman di tepi sungai yang dikunjungi oleh dua orang muda itu

Banyak mata yang bertemu dengan mereka di jalan memandang pasangan ini dengan kagum karena memang pasangan ini cocok sekali.

Yang wanita cantik jelita, yang pria juga tampan dan ganteng.

Dan keduanya tidak merasa canggung berjalan bersama, seolah-olah memang mereka telah menjadi sababat baik sejak dahulu.

Di sepanjang perjalanan menuju ke taman bunga itu, Kim Hong mendapat kenyataan bahwa pemuda itu sudah hafal akan keadaan kota raja dan menunjukkan tempat-tempat penting kepadanya, seperti seorang penunjuk jalan yang pandai dan ramah.

Pagi itu di taman tepi sungai masih sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang mengunjungi dan berjalan-jalan di dalam taman, dan mereka itu tentulah pendatang-pendatang dari luar kota.

Ada pula yang pesiar naik perahu di tepi sungai. Kim Hong dan Kok Sang memilih tempat duduk di tepi kolam ikan emas, di atas sebuah bangku panjang di mana mereka duduk berdampingan.

"Nah, sekarang kita berada di tempat sepi, berdua saja. Apakah yang hendak kaukatakan kepadaku, nona?"

"Bu-twako, bukan aku yang hendak mengatakan sesuatu, akan tetapi engkaulah yang sebaiknya mengatakan dengan terus terang kepadaku tentang dirimu..."

kata Kim Hong sambil menatap wajah tampan itu dengan tajam dan penuh selidik.

Pemuda itu mengerutkan alisnya. "Maksudmu?"

Kim Hong memutar tubuhnya, sepenuhnya menghadapi pemuda itu dan pandang matanya mencorong, mengejutkan hati pemuda itu.

"Bu-twako, kiranya tidak perlu lagi engkau bersandiwara. Kemunculanmu di restoran itu tentu bukan hal yang kebetulan saja.