Kita yang belajar melayani Allah di dalam gereja, sepatutnya setia atas perkara-perkara administrasi gereja, sambil tetap memperhatikan pertumbuhan kerohanian kita. Kita harus melakukan setiap pekerjaan dengan baik, dengan tujuan agar hal-hal rohani bisa dilayankan keluar. Kalau kita hanya mempunyai aspek pekerjaan administrasi tetapi kekurangan aspek rohani, itu menunjukkan kita sudah meninggalkan pokok utama pelayanan kepada Allah. Allah menaruh kewajiban rohani kepada kita. Kalau kita hanya memperhatikan aspek administrasinya dan lalai dalam aspek hayat, ini merupakan satu kerugian yang besar. Kalau dalam hayat kita kekurangan, maka pelayanan kita hanya merupakan suatu aktivitas saja, jatuh ke dalam administrasi saja. Kalau dalam hayat kita kurang, kita tidak bisa memenuhi keperluan anak-anak Allah. Karena yang bisa memenuhi keperluan anak-anak Allah adalah hayat. Sebab itu, kita harus di aspek hayat ada pertumbuhan yang riil, kemudian melalui pekerjaan administrasi di luar itu menyuplaikan hayat kepada saudara saudari.
Kalau kita tidak belajar melayani Allah, hal ini tidak perlu dikatakan. Tetapi kalau kita mau belajar melayani Allah, kita harus belajar di aspek rohani. Kita melayani Allah tidak bisa hanya melakukan pekerjaan, tetapi tidak belajar. Allah menghendaki kita belajar dan bertumbuh; kita harus seminggu lewat seminggu makin bertumbuh besar, sekali lewat sekali makin bertumbuh, makin maju. Kadang kala, Allah membiarkan kita gagal supaya kita belajar. Saat kita merasa diri kita sukses, Allah akan memukul kesuksesan kita. Sebab itu, kita harus selalu mengingatkan diri sendiri, jangan hanya memperhatikan pekerjaan administrasi saja, jangan hanya melaksanakan pekerjaan tetapi mengabaikan pelajaran rohaninya. Kita harus melakukan pekerjaan, tetapi bersamaan dengan itu kita pun harus belajar. Semakin dalam kita belajar, semakin baik; semakin tuntas kita belajar, semakin baik. Kita tidak seharusnya memperhatikan kesuksesan, kita harus memperhatikan apa yang kita pelajari.
Dalam Perjanjian Lama, seorang imam harus pergi ke tempat kudus untuk melayani. Pertama-tama dia harus melewati mezbah, di sana ia mempersembahkan kurban penebusan dosa untuk dirinya. Maju lagi akan terlihat bejana pembasuhan, di sana dengan air ia mencuci segala kenajisannya. Masuk lagi adalah tempat kudus. Segala benda dalam tempat kudus terbuat dari emas, terang benderang. Begitu dia mengulurkan tangan menjamah sesuatu, akan terlihatlah bekas-bekas jamahannya. Kalau seseorang tidak masuk ke dalam tempat kudus untuk melayani, tidak perlu dikatakan. Tetapi begitu ia masuk ke tempat kudus untuk melayani, segera rupa asalnya akan ternyata. Di dalam tempat kudus, tidak seorang pun boleh menurut maksudnya sendiri melakukan sesuatu. Segala tingkah lakunya harus menurut perintah Allah. Sedikit pun tidak boleh menyimpang. Demikian juga kalau kita mau datang dan melayani Allah, kita harus nampak bahwa kita perlu dicuci bersih oleh darah Tuhan supaya dosa kita disingkirkan; kita perlu dibasuh dengan air pembasuhan supaya kenajisan kita tersingkirkan; dan bahkan kita perlu menyingkirkan ego kita. Orang yang mempunyai perasaan demikian, barulah benar-benar orang yang melayani Allah. Kalau orang tidak mempunyai perasaan demikian, kalau bukan dirinya yang tidak benar, pasti apa yang dia lakukan bukan pekerjaan yang Allah kehendaki dia lakukan.
Orang yang benar-benar melayani Tuhan, ketika ia menjamah pelayanan, di dalamnya pasti penuh dengan perasaan. Kalau kita makan bersama orang lain mungkin tidak banyak perasaan. Tetapi ketika kita bersama orang lain melayani Allah, pasti penuh dengan perasaan. Ketika kita menulis catatan yang biasa, mungkin tidak merasakan apa-apa, tetapi ketika kita menulis hal-hal rohani kita akan merasa, “Tuhan, orang seperti aku ini tidak patut melakukan pekerjaan-Mu. Tuhan, mohon Dikau mencuci aku dengan darah-Mu.” Seorang yang menjamah pelayanan dengan sembarangan, tidak ada perasaan, dia bukanlah orang yang melayani Allah. Saudara saudari, kalau hari ini Anda melakukan apa yang Allah kehendaki, Anda pasti merasakan, “Oh, hari ini masih ada hal-hal yang seharusnya saya lepas, tetapi belum saya lepas. Hari ini saya tetap membawa darah daging, di dalam saya kurang taat kepada Allah. Dalam banyak hal, dengan saudara saudari saya masih tidak serasi.” Saat Anda menjenguk orang, dan ada orang berkata kepada Anda, “Aku tidak datang bersidang karena temperamenku terlalu keras.” Kalau setelah mendengar ini, Anda dengan cepat menyalahkan dan menegur dia, sedang Anda sendiri tidak merasakan bahwa temperamen Anda juga sangat keras, itu menunjukkan bahwa pelayanan Anda tidaklah berbobot rohani.
Kita harus tahu, begitu seorang imam masuk ke dalam Kemah Pertemuan, dan sampai di tempat kudus, tidak bisa tidak nampak dirinya berdosa; tidak bisa tidak nampak dirinya najis; tidak bisa tidak mengenal rupa dirinya yang sesungguhnya; karena tempat itu kudus. Begitu seseorang masuk ke dalam tempat kudus, keadaan dirinya akan tersingkap. Demikian juga ketika kita melayani Allah, di sanalah kita nampak rupa kita yang sesungguhnya. Kalau Anda benar-benar ingin mengenal diri sendiri, dalam pelayanan Anda kepada Allah, Anda akan dapat mengenal diri sendiri. Orang yang semakin banyak perasaan dalam pelayanannya kepada Allah, terbukti adalah orang yang melayani Allah; dan apa yang dilakukannya adalah perkara melayani Allah. Kalau seseorang tidak mempunyai perasaan, itu membuktikan dia bukan orang yang melayani Allah; dan apa yang dikerjakannya bukanlah pekerjaan melayani Allah. Seorang imam yang melayani Allah, dosanya akan ternyata di atas mezbah, kenajisannya akan ternyata di bejana pembasuhan, dan egonya akan ternyata di dalam tempat kudus. Ketika Anda melayani Allah, Anda akan nampak dosa Anda, — perlu dicuci bersih oleh darah; Anda akan nampak bahwaAnda telah tercemar kenajisan, — perlu dicuci bersih dengan air pembasuhan. Kemudian Anda masuk lagi, Anda akan nampak bahwa Anda tidak bisa digarap serupa dengan yang kudus itu, — ego Anda harus disingkirkan.
Saudara saudari, jangan mengira bobot rohani itu merupakan suatu keramaian dan kegairahan di luar. Tidak. Kadar rohani adalah ketika kita melayani ada kekudusan yang tertampil, terasa ada penyertaan Allah. Banyak saudara saudari bisa bersaksi ketika mereka melayani di dalam gereja, itu sama seperti imam masuk ke tempat kudus, ada hal-hal yang disingkirkan. Melalui darah menghapus dosa, melalui pembaruan Roh Kudus menyingkirkan kenajisan, melalui “kekudusan” tempat kudus menyingkirkan ego. Setiap kali kita melayani Allah haruslah demikian. Kalau kita tidak merasakan dosa, tidak merasakan najis, tidak merasakan unsur diri sendiri, ini mungkin karena penyertaan Allah atas diri kita sangat sedikit.
Kalau suatu tempat itu adalah tempat perhimpunan kudus Allah, sedikitnya saudara saudari akan nampak dosa, akan nampak kenajisan, nampak egonya sendiri. Perasaan demikian membuktikan Allah ada di sana. Kalau di sini tempat kudus, begitu Anda datang ke tempat ini, tentu akan merasakan dosa, najis, dan ego sendiri. Perasaan itu akan mendesak Anda datang dan menengadah ke hadapan Allah, dan Anda segera mengalami pertumbuhan dan kemajuan rohani. Sekali demi sekali kita nampak keadaan diri sendiri, hayat kita akan sekali demi sekali mengalami kemajuan. Dalam pelayanan kita kepada Allah, kita harus sekali demi sekali bersentuhan dengan barang-barang “kudus” itu. Saat kita sekali demi sekali bersentuhan dengan yang “kudus”, di hadapan Allah baru ada yang kita pelajari, ada pertumbuhan, ada kemajuan, ada gunanya dan di atas diri kita Allah baru mempunyai jalan. Saya ulangi lagi, pelayanan kita tidak seharusnya hanya ada pekerjaan di luar, tetapi tidak ada bobot rohani. Semoga atas perkara ini Allah membelaskasihani kita.
W.N