 |

7th May 2008
|
 |
AP - Posting Freak
|
|
Join Date: Nov 2007
Location: Indonesia
Age: 22
Posts: 242
|
|
Melayani Bait Atau Melayani Allah ?
Pembacaan Alkitab: Yeh. 44:9-26, 28, 31; Luk. 17:7-19
Dalam kedua bagian Alkitab ini kita nampak adanya dua keadaan yang berbeda di hadapan Allah, dan bagaimanakah sebenarnya kedua perbedaan ini. Sebelum kita melihatnya berdasarkan Alkitab dan bersandarkan terang Allah, saya ingin saudara saudari tahu apakah tanggung jawab kita, dan apakah yang senantiasa diperhatikan oleh Allah di dalam gereja pada zaman ini.
Saudara saudari, izinkan saya dengan terus terang bertanya kepada Anda, “Sebenarnya, yang kita layani ialah kaum saleh atau Dia? Dalam pekerjaan kita, yang kita perhatikan ialah pekerjaan atau Tuhan?” Oh, ada satu perbedaan yang sangat besar di sini! Melayani bait dan melayani Yesus Kristus adalah dua hal yang sangat berbeda. Hari ini kita nampak banyak orang yang sedang melayani, sedang melaksanakan tugas ministrinya, tetapi itu hanyalah di pelataran luar, belum datang ke depan meja. Oh, hari ini banyak orang yang sedang melayani bait, bukan melayani Tuhan. Hari ini, pelayanan yang Tuhan inginkan, pelayanan yang Tuhan tuntut ialah benar-benar melayani Dia. Yang Dia inginkan bukanlah kita melakukan pekerjaan-Nya. Bekerja itu memang penting, mencangkul sawah itu penting, menggembalakan domba juga penting, tetapi yang Tuhan perhatikan bukan semua itu, melainkan melayani Allah dan mengabdi kepada Allah. Dia menghendaki hamba-Nya melayani, mengabdi kepada diri-Nya sendiri! Oh, betapa girangnya bisa melayani Dia!
Sekarang, yang akan saya bahas adalah perbedaan antara kedua pelayanan ini. Marilah kita memeriksanya melalui dua bagian Alkitab; kita bukan melakukan penafsiran Alkitab. Hari ini penafsiran Alkitab telah menjadi jurang bagi banyak orang rohani. Tidak ada perkara yang lebih mencelakakan kaum beriman daripada penafsiran Alkitab. Yang saya katakan adalah kaum beriman yang rohani. Kita sering mengira, asal menemukan dua ayat Alkitab yang mirip, maka kita sudah boleh menafsirkannya. Tidak, tidak ada perkara demikian! Hari ini kita terlebih dulu belajar pelajaran, kemudian baru mengkajinya. Sebelum mengkajinya, kita harus terlebih dulu tahu bagaimana melayani Allah, harus terlebih dulu belajar pelajaran; kita harus terlebih dulu bertemu dengan Sang penulis kitab, kemudian baru mengkaji Alkitab; kita harus terlebih dulu mengenal Dia, kemudian baru bisa memahami kitab-Nya. Jika kita mendahulukan Alkitab, kita sudah gagal. Karena itu, pada permulaannya, terlebih dulu kita nyatakan bahwa kita bukan hendak menafsirkan Alkitab, melainkan kita terlebih dulu mempelajari pelajaran. Karena itu, kini kita hanya melalui dua bagian Alkitab ini menyatakan pengalaman yang seharusnya kita miliki dan pengalaman apa yang telah kita miliki.
Yehezkiel 44:11, 15-16 mengatakan, “Di dalam tempat kudus-Ku merekalah yang mendapat tugas penjagaan di pintu-pintu gerbang Bait Suci dan tugas pelayanan di dalam Bait Suci; merekalah yang menyembelih kurban bakaran dan kurban sembelihan bagi bangsa itu dan bertugas bagi bangsa itu untuk melayaninya . . . Tetapi mengenai imam-imam orang Lewi dari bani Zadok yang menjalankan tugas-tugas di tempat kudus-Ku waktu orang Israel sesat dari pada-Ku, merekalah yang akan mendekat kepada-Ku untuk menyelenggarakan kebaktian dan bertugas di hadapan-Ku untuk mempersembahkan kepada-Ku lemak dan darah, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Merekalah yang akan masuk ke dalam tempat kudus-Ku dan yang akan mendekati meja-Ku untuk menyelenggarakan kebaktian dan mereka akan menjalankan tugasnya terhadap Aku.” Lihatlah, ada perbedaan besar antara ayat 11 dengan ayat 15-16; ada perbedaan yang mendasar. Ayat 11 mengatakan tentang tugas pelayanan di dalam bait, sedangkan ayat 15-16 mengatakan tentang melayani “Aku”, yaitu melayani TUHAN (LAI: menyelenggarakan kebaktian). Dalam bahasa aslinya, kedua kata tersebut sama, yaitu “melayani”. Karena itu, dalam pandangan Allah, orang-orang Lewi terbagi menjadi dua kelompok. Meskipun mereka semua adalah orang-orang Lewi, adalah milik Allah, berasal dari satu suku, namun sekelompok besar hanya layak melayani di bait; sedangkan sekelompok kecil lainnya, yang juga adalah orang-orang Lewi, keturunan Zadok, mereka boleh melayani “Aku”, yaitu melayani Tuhan.
Saudara saudari, tahukah Anda apa itu melayani bait, dan apa itu melayani Tuhan? Tahukah Anda perbedaan antara melayani bait dengan melayani Tuhan? Banyak orang berkata bahwa tidak ada yang lebih baik daripada melayani bait. Memang melayani bait itu sungguh sangat baik. Lihatlah, aku sekuatnya mengembangkan pekerjaanku, aku sekuatnya berusaha bagi Kerajaan Surga, aku sekuatnya bekerja demi nama Tuhan, memikul tanggung jawab membantu gereja, aku sedang bersemangat menjadi hamba saudara-saudara, aku sekuat tenaga membantu saudara, membantu saudari, lari ke sana ke sini supaya gereja maju, pekerjaan berkembang. Banyak orang mengira kalau bisa menyelamatkan orang berdosa, membuat jumlah orang dalam gereja bertambah, membuat banyak orang masuk ke dalam gereja, itu baik sekali. Tetapi saya mengatakan, itu hanya melayani bait. Dalam pandangan Allah, di luar pelayanan semacam ini, masih ada satu macam pelayanan. Dalam pandangan Allah, tidak hanya ada pelayanan yang melayani bait, masih ada satu macam pelayanan yang lebih baik. Kita tidak hanya melayani di hadapan Tuhan, lebih-lebih melayani Tuhan sendiri. Di sini tidak hanya melayani dalam bait, tetapi juga melayani di depan meja. Kita tidak hanya melayani di hadapan Tuhan, tetapi juga melayani diri Tuhan sendiri. Ini berbeda sekali, sangat berbeda, mutlak tidak sama.
Kalau Anda bisa mengetahui perbedaan ini, Anda baru bisa nampak apa yang ingin Tuhan dapatkan pada hari ini, apa yang terus Tuhan cari pada hari ini. Saudara saudari, janganlah Anda salah paham. Melayani Tuhan bukan berarti tidak lagi mempedulikan bait. Saya berkata, di sini tidak hanya ada melayani bait, masih ada yang lebih dalam, yaitu melayani Tuhan. Hari ini banyak orang hanya mengetahui melayani bait, tetapi tidak mengetahui melayani Tuhan.
Izinkan saya bertanya kepada Anda. Saudara, untuk apa Anda memberitakan Injil? Sebenarnya untuk apa Anda ingin memajukan pekerjaan? Sebenarnya untuk apa Anda pergi ke sana sini? Saya khusus ingin berbicara kepada saudara saudari sekerja, sebenarnya apa yang Anda lakukan di sini? Apakah Anda mengharapkan ada lebih banyak orang yang bisa mendengarkan Injil? — yang saya katakan ini adalah yang baik, saya tidak mengatakan yang berstandar lebih rendah dari ini — memang, kita memberitakan Injil itu baik, kita menyelamatkan orang berdosa, membantu saudara saudari supaya mereka maju, semua ini juga baik; tidak salah, Anda sudah bekerja keras, setia memberitakan Injil, membina orang lain, tetapi yang Anda lihat hanyalah saudara saudari, jadi, itu semua adalah melayani bait. Karena orang-orang ini melayani di hadapan umat, maka hanya melayani mereka, bukan melayani Tuhan. Bukan berarti orang yang melayani Tuhan tidak melakukan hal-hal itu, orang yang melayani Tuhan juga melakukan hal-hal itu, tetapi tujuannya hanya satu, yaitu untuk Tuhan, sepenuhnya karena Tuhan maka ia memustikakan orang, sebab itu yang ia lihat bukan hanya manusia. Kalau Anda datang ke hadapan Tuhan hanya melihat Tuhan, dengan sendirinya Anda juga bisa melayani saudara. Perbedaan ini besar.
Sekarang kita akan melihat perbedaan ini, pada prinsipnya, pada dasarnya, apa perbedaannya. Kemudian kita melihat bagaimana melayani Tuhan, dan bagaimana melayani bait. Terakhir kita akan melihat orang yang melayani Tuhan harus bagaimana baru benar. Jadi, di sini kita akan menyinggung tiga hal:
|

7th May 2008
|
 |
AP - Posting Freak
|
|
Join Date: Nov 2007
Location: Indonesia
Age: 22
Posts: 242
|
|
I. PERBEDAAN ANTARA MELAYANI TUHAN DENGAN MELAYANI BAIT
Ada satu hal yang harus kita nampak dengan jelas, yaitu secara luaran, tidak terlihat perbedaan yang besar antara melayani bait dengan melayani Tuhan. Banyak orang yang benar-benar sekuat tenaga membantu saudara, benar-benar giat menyelamatkan orang berdosa, benar-benar berupaya menangani urusan-urusan gereja, mereka juga sekuatnya menganjuri orang membaca Alkitab, sekuatnya menganjuri orang berdoa, juga banyak menderita, mengalami penganiayaan, mereka benar-benar telah melakukan berbagai hal. Akan tetapi persoalannya tergantung pada mengapa Anda berbuat demikian! Persoalannya tergantung pada apakah Tuhan menduduki tempat yang paling besar di dalam hati Anda? Ketika Anda pagi-pagi bangun melayani saudara saudari, apakah Anda berkata, “Tuhan! Hari ini oleh karena Engkau, aku melakukan ini lagi.” Atau, Anda hanya ingat kepada keberadaan Anda saja; karena ini adalah pekerjaan yang harus Anda lakukan, maka Anda melakukannya. Kalau demikian, itu mutlak adalah untuk keperluan, bukan untuk Tuhan. Anda hanya melihat saudara Anda, tidak melihat Tuhan. Sebab itu melalui motivasi kita sudah bisa menyelesaikan segala pertanyaan. Semua pertanyaan tergantung kepada mengapa kita melakukan ini.
Izinkan saya berkata terus terang kepada kalian, dalam pekerjaan Tuhan, juga ada hal yang menarik bagi tubuh daging. Misalnya, ada orang yang suka bergerak, sifat bawaannya suka berbicara. Kalau menyuruh dia pergi memberitakan Injil ke desa-desa, dari satu desa ke desa yang lain, berbicara di sini, berbicara di sana, ia akan sangat senang sekali. Coba pikirkan, mengapa dia melakukan itu? Karena asalnya dia adalah orang yang suka bergerak, suka berbicara. Saya dengan terus terang memberi tahu kalian, dia berbuat demikian bukan untuk Tuhan. Karena sering kali, kalau benar-benar Allah menyuruh dia melakukan pekerjaan yang tidak dia senangi, dia tidak bisa melakukannya. Penyebabnya ialah karena sifat bawaannya mendekati ini, maka dia senang melakukan ini. Namun dia masih mengira bahwa dirinya sedang melayani Tuhan, meskipun sebenarnya dia melayani bait. Saudara saudari, di sini ada perbedaan yang sangat besar. Saya berkata terus terang, dalam pekerjaan Allah juga ada tempat yang memikat hati — dalam pekerjaan Allah juga ada petualangan — dalam pekerjaan Allah juga ada satu bagian yang menarik keinginan daging! Ketika Anda berkhotbah, ada banyak orang mengitari Anda untuk mendengar Anda. Ketika Anda membaca sepotongan ayat Alkitab, ada orang lain berkata kepada Anda bahwa pembicaraan Anda sangat baik. Ketika Anda memberitakan Injil, banyak orang beroleh selamat karena Anda. Ini semua sangat menarik, sangat Anda dambakan. Coba pikir, bukankah ini sangat memikat hati Anda?
Kalau saya pengurus rumah tangga, sehari penuh saya sibuk bekerja dalam rumah; kalau saya karyawan yang bekerja di suatu pabrik, yang saya dengar dari pagi hingga petang hanyalah dengungan bunyi mesin; kalau saya juru tulis di suatu kantor, sepanjang hari saya hanya melihat tulisan hitam di atas kertas putih; kalau saya pembantu, sepanjang hari saya hanya melap meja, membersihkan kursi, menyapu lantai, atau memasak; betapa tidak ada artinya semuanya ini! Kalau saya bisa bekerja bagi Tuhan, bukankah ini sangat baik? Banyak orang mengira tinggal di rumah mengurus anak, menjadi istri orang, melakukan banyak urusan rumah tangga yang rumit, adalah hal yang sangat tidak menyenangkan! Kalau memberi dia kebebasan pergi ke sana sini menceritakan perkara rohani, pergi ke sana sini membicarakan perkara Tuhan, bukankah itu sangat baik! Tetapi itu adalah daya tarik daging, bukan rohani, sepenuhnya karena kesenangan ego saja.
O! Semoga kita nampak bahwa banyak pekerjaan dan pelayanan di hadapan Allah yang oleh Allah dianggap bukan sebagai melayani Allah. Sangat mengherankan, Allah memberi tahu kita bahwa ada sekelompok orang Lewi yang sangat sibuk melayani dalam bait, tetapi Allah mengatakan bahwa mereka melayani bait, bukan melayani Allah (Aku). Kita mengetahui, melayani bait sangat mirip dengan melayani Tuhan. Secara luaran hampir tidak ada perbedaan. Di bait, mereka menyembelih kurban pendamaian dan kurban bakaran, sungguh baik sekali. Misalnya, di sana ada orang Israel hendak menyembah Allah, hendak mempersembahkan kurban pendamaian dan kurban bakaran kepada Allah, tetapi tidak kuat menarik domba, juga tidak kuat menarik lembu, lalu orang Lewi datang membantu mereka menarik kurban persembahan itu, dia membantu mereka menyembelih kurban persembahan itu. Betapa baiknya hal ini! Lihatlah, dia memimpin seseorang mendekati Tuhan. Lihatlah, dia membantu seseorang mengenal Tuhan Yesus. Coba pikirkan, bukankah membawa orang dosa berpaling, membantu kaum beriman maju, adalah perkara yang sangat baik? Bersamaan dengan itu, dia juga sangat sibuk, bahkan seluruh tubuhnya berkeringat. Dia membantu orang, sehingga orang lain bisa mempersembahkan lembu dan domba. Ketahuilah, kurban pendamaian dan kurban bakaran melambangkan Kristus, ini berarti Anda mengeluarkan banyak tenaga membawa orang ke hadapan Tuhan. Anda sangat baik, bisa membawa orang mengenal Tuhan. Kita mengetahui kurban bakaran adalah masalah kaum beriman dengan Tuhan, dan kurban pendamaian adalah masalah orang dosa dengan Tuhan. Kurban pendamaian membicarakan tentang orang dosa mendekati Tuhan, kurban bakaran membicarakan tentang persembahan kaum beriman. Di sini tidak saja membuat orang dosa percaya Tuhan, tetapi juga menyuruh kaum beriman mempersembahkan diri, sungguh baik sekali. Ini bukan yang palsu, tetapi benar-benar sejati. Allah mengetahui pekerjaannya. Dia benar-benar membantu orang lain mempersembahkan kurban pendamaian dan kurban bakaran. Dia benarbenar menyelamatkan orang, dan membantu orang, bahkan melakukan dengan penuh jerih lelah. Tetapi Allah berkata: Meskipun demikian, kalian bukan melayani Aku.
Saudara saudari, ingatlah, melayani Tuhan lebih dalam daripada membawa orang berpaling kepada Tuhan, melayani Tuhan lebih dalam daripada memimpin orang beriman mempersembahkan diri kepada Tuhan. Menurut pandangan Allah, memimpin orang berpaling kepada Tuhan dan memimpin orang mempersembahkan diri kepada Tuhan, hanyalah melayani bait. Melayani diri Tuhan sendiri lebih maju daripada hal-hal itu. Apa yang Anda lihat di hadapan Allah? Hanya menyelamatkan orang dosa? Hanya membantu kaum beriman maju? Atau lebih dalam daripada semuanya itu? Saya di sini bukan untuk menyelamatkan orang, juga bukan untuk membantu kaum beriman; tetapi bisakah Anda berkata demikian? Saya khawatir banyak orang akan berkata, “Menurut perkataan Anda, aku tidak mempunyai lagi pekerjaan pelayanan.” Banyak orang akan berkata, “Kalau pekerjaanku bukan menyelamatkan orang dosa, membantu kaum beriman, lalu aku harus mengerjakan apa? Aku tidak mempunyai pekerjaan pelayanan lagi.” Saudara saudari, selain hal-hal itu, apakah Anda masih memiliki pekerjaan yang lain? O! Banyak orang hanya memiliki sebanyak itu saja. Itulah sebabnya banyak orang berkata, “Kalau tidak melakukan pekerjaan membantu orang, pekerjaan menyelamatkan orang, lalu aku harus mengerjakan apa?” Karena selain pekerjaan-pekerjaan itu, mereka tidak memiliki pekerjaan lagi. Karena yang bisa mereka lakukan adalah melayani bait, maka kalau mengambil pekerjaan-pekerjaan itu, tidak ada pekerjaan lagi yang bisa mereka lakukan.
O, saudara saudari! Kalau Anda mengetahui beban apa yang ada di dalam saya, Anda akan mengetahui apa tujuan Allah. Yang Allah tuntut pada hari ini bukan pelayanan yang sangat lincah di luar, yang Allah minta pada hari ini bukan mendapatkan orang, membantu kaum beriman lebih rohani, lebih maju; hari ini sasaran Allah hanya ada satu, yaitu menghendaki manusia sepenuhnya menjadi milik-”Ku”, menghendaki manusia di hadapan-”Ku”, melayani “Aku”. Tujuan Allah hari ini bukan banyak pekerjaan, melainkan “Aku”.
Saya ulangi lagi, saya tidak takut dibenci orang, yang paling saya takuti ialah ada banyak orang pergi memberitakan Injil, membantu orang, ada banyak orang pergi menyelamatkan orang dosa, membina kaum beriman, tetapi tidak melayani Tuhan! Melayani Tuhan yang disebut oleh kebanyakan orang sering kali tanpa tujuan, hanya dikarenakan dia senang dan gemar melakukan perkara itu. Dia tidak tahan kalau terus berada di rumah; dia suka bergerak, sebab itu senang bepergian, harus bergerak, baru merasa gembira! Izinkan saya berkata terus terang kepada Anda, apa yang Anda lakukan di luaran, sekalipun menyelamatkan orang dosa, membantu saudara, tetapi yang Anda layani adalah daging Anda! Karena kalau Anda tidak berbuat demikian, Anda merasa tidak gembira; ya, Anda sepenuhnya bukan sedang mencari perkenan Tuhan. Di sini saya sepertinya mempersulit Anda, tetapi ini adalah satu fakta. Ingatlah, di aspek alamiah, dalam pekerjaan Allah juga ada banyak hal yang bisa menarik kita. Ini benar-benar mencelakakan kita, karena Anda nampak bahwa di dalam pekerjaan Allah juga ada hal-hal yang menarik bagi alamiah Anda, dan Anda melakukan itu! Kasihan sekali. Sebab itu kita mohon Allah memberi anugerah agar kita mengetahui apakah melayani Allah, dan apakah melayani bait.
Saya mempunyai seorang teman (saudari dalam Tuhan) yang sangat akrab; sekarang dia sudah berada di seberang tirai. Di dalam Tuhan saya sangat mengasihi dia, dia juga milik Tuhan. Pada suatu hari, kami berdua naik ke atas bukit dan bersama-sama berdoa, kemudian membaca potongan Alkitab dalam Yehezkiel 44. Usianya jauh lebih besar daripada saya, sebab itu dia berkata kepada saya, “Saudara kecil, dua puluh tahun lebih yang lalu aku sudah membaca potongan ayat Alkitab ini.” Saya lalu bertanya kepadanya, “Setelah Anda membaca potongan Alkitab ini, apa yang Anda lakukan?” Dia berkata, “Ketika aku membaca potongan ayat Alkitab ini, aku segera menutup Alkitab, berlutut berdoa, ‘Tuhan, biarlah aku melayani Engkau, jangan biarkan aku melayani bait!’” Saudara saudari, kejadian itu begitu mengesankan saya, sampai hari ini, mungkin sampai kekal tidak akan bisa saya lupakan. Meskipun dia telah tiada, tetapi saya terus ingat perkataannya, yaitu, “Tuhan! Biarlah aku melayani Engkau, jangan biarkan aku melayani bait!” Apakah kita bisa mempunyai doa yang demikian: “Tuhan, aku mau melayani Engkau, tidak mau melayani bait”?
O! Saya paling takut kalau banyak orang menyenangi sesuatu dari Allah, tetapi tidak mau diri Allah sendiri. Banyak orang mengira menyelamatkan orang adalah yang paling tinggi, lalu mereka meninggalkan pekerjaannya: yang menjadi ibu rumah tangga tidak mau mengurus rumah tangganya; yang sebagai gadis tidak mau menikah; yang bekerja tidak mau bekerja lagi, mengira setiap hari melakukan hal-hal itu, sungguh tidak ada artinya; bekerja, mengurus rumah tangga, belajar, sungguh membosankan. Betapa baiknya kalau bisa pergi memberitakan Injil! Tetapi, hai teman! Di sini ada dua persoalan, yaitu sebenarnya Anda melayani Allah, atau melayani bait?
|

7th May 2008
|
 |
AP - Posting Freak
|
|
Join Date: Nov 2007
Location: Indonesia
Age: 22
Posts: 242
|
|
II. BAGAIMANA MELAYANI TUHAN DAN BAGAIMANA MELAYANI BAIT
Banyak orang senang beraksi di luar bait, karena menyembelih lembu dan domba memerlukan tenaga manusia, bisa memakai kekuatan daging, maka mereka sangat senang. Tetapi kalau Anda meminta mereka ke tempat yang sunyi, tenang, yang tidak terlihat oleh orang, mereka tidak mau melakukannya. Anda mengetahui, tempat kudus adalah tempat yang “gelap”, di dalamnya hanya ada tujuh pelita minyak zaitun, mungkin tidak seterang cahaya dari tujuh batang lilin! Banyak orang mengira melayani Tuhan di tempat ini tidak menarik. Tetapi di sinilah tempat yang Tuhan kehendaki kita berada. Di dalam tempat kudus, tenang, “gelap”, tidak ada banyak orang yang berhimpun di sana, tetapi di sini barulah melayani Tuhan. Saudara! Anda tidak akan menemukan seorang hamba Allah yang sesungguhnya, seorang yang sungguh-sungguh melayani Tuhan, yang tidak melayani dengan cara yang demikian!
Sekarang marilah kita melihat sekelompok orang Lewi itu, apa yang mereka kerjakan? Mereka di luar bait menyembelih lembu dan domba. O! Di sana semua orang bisa melihat Anda; di sana pekerjaan Anda sangat mencolok; di sana orang lain akan memuji Anda, mengatakan Anda baik, kekuatan Anda besar, bisa menyembelih sekian banyak lembu domba, dan bisa mengikat lembu domba di atas mezbah. Banyak orang sangat senang dengan hasil pekerjaan di luaran.
Tetapi apakah melayani Tuhan? Ayat 15 dengan jelas mengatakan, “Tetapi mengenai imam-imam orang Lewi dari bani Zadok yang menjalankan tugas-tugas di tempat kudus-Ku waktu orang Israel sesat dari pada-Ku, merekalah yang akan mendekat kepada-Ku untuk menyelenggarakan kebaktian dan bertugas di hadapan-Ku untuk mempersembahkan kepada-Ku lemak dan darah, demikianlah firman Tuhan ALLAH.” Sebab itu dasar melayani Tuhan, atau syarat dari dasar melayani Tuhan adalah mendekati Tuhan, berani datang ke hadapan Tuhan, bisa duduk diam, tenang di hadapan Tuhan, bisa berdiri di hadapan Tuhan. Saudara, apakah mendekati Tuhan? Sering kali kita sungguh-sungguh perlu sekuatnya menarik diri ke hadapan Tuhan. Banyak orang takut berada di kamar yang gelap, takut seorang diri berada di sana; banyak orang benar-benar tidak tahan seorang diri dikunci di sana. Sebab itu, sering kali meskipun diri kita berada di kamar, tetapi hati kita sudah lebih dulu pergi ke mana-mana, tidak bisa mendekati Tuhan, tidak bisa seorang diri berada di sana, dengan tenang belajar berdoa di hadapan Allah. Banyak orang suka sekali pergi bekerja bagi Tuhan, pergi untuk beramai-ramai. Banyak orang sangat senang berkhotbah di hadapan orang, tetapi berapa banyak orang yang bisa datang ke tempat maha kudus mendekati Allah? O! Banyak orang tidak bisa berada di tempat kudus yang “gelap”, tenang, menyendiri, untuk mendekati Allah. Tetapi, di sini tidak ada seorang pun yang bisa melayani Allah, yang tanpa mendekati Tuhan. Juga tidak ada seorang pun yang bisa melayani Tuhan, yang tanpa doa mendekati Tuhan. Kekuatan rohani bukan kekuatan berkhotbah, kekuatan rohani adalah kekuatan berdoa. Seberapa banyak doa kita, sebesar itu juga kekuatan sesungguhnya yang ada di dalam diri kita. Tidak ada satu perkara rohani yang memerlukan tenaga lebih daripada doa. Membaca Alkitab tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga; saya tidak mengatakan sama sekali tidak mengeluarkan tenaga, melainkan perkara ini mudah dilakukan. Memberitakan Injil juga tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga sudah bisa melakukannya; membantu saudara juga tidak perlu mengeluarkan seberapa besar kekuatan rohani, kita dapat berbicara berdasarkan hal-hal yang kita ingat. Tetapi kalau ingin datang ke hadapan Allah, berlutut selama satu jam, perlu memakai seluruh kekuatan diri kita. Sungguh, kalau kita tidak bergumul, tidak bisa berkelangsungan, karena kita tidak bisa bertahan. Setiap orang yang melayani Tuhan mengetahui kemustikaan ini, betapa manisnya satu jam berdoa sewaktu terjaga dari tidur pada tengah malam. Betapa baiknya bangun pada dini hari untuk berdoa satu jam, lalu tidur lagi. Saya berkata terus terang, kalau kita tidak baik-baik mendekati Allah, kita tidak bisa melayani Allah. Kita tidak bisa sambil melayani Tuhan sambil berdiri di tempat yang jauh. Murid-murid bisa dari jauh mengikuti Tuhan, tetapi tidak ada seorang pun yang menjauhi Tuhan yang bisa melayani Tuhan; kita boleh dari jauh, secara sembunyi-sembunyi mengikuti Tuhan, tetapi kita tidak bisa dari jauh-jauh, secara sembunyi melayani Tuhan. Satu-satunya tempat untuk melayani Tuhan adalah tempat kudus. Di pelataran luar hanya bisa mendekati umat Allah, di tempat kudus baru bisa mendekati Allah. Sesungguhnya, orang-orang yang bisa membantu gereja, yang bisa melakukan pekerjaan pelayanan, adalah orang-orang yang mendekati Allah. Kita yang bekerja di hadapan Allah, kalau hanya untuk saudara, untuk melayani saudari, maka pekerjaan kita sangatlah miskin!
Bukan saja di sini mengatakan demikian, ayat selanjutnya juga mengatakan demikian. Kalau kita ingin melayani Tuhan, harus mendekati Tuhan. Ayat ini mengatakan bagaimana keadaan kita di hadapan Tuhan? “Berdiri di hadapan Tuhan” (Tl.). Hari ini saya merasakan bahwa kita selalu senang pergi, sepertinya tidak bisa hanya berdiri saja. Kalau menyuruh seseorang berdiri saja, ia tidak bisa melakukannya. Hari ini ada banyak saudara saudari, sepertinya mereka sangat sibuk, ada banyak perkara yang terletak di hadapan mereka, sebab itu mereka terus berjalan. Kalau Anda berkata kepadanya, “Berdirilah sebentar, tunggulah sebentar,” dia tidak bisa melakukan itu. Tetapi tidak ada seorang rohani yang tidak bisa berdiri.
Apa artinya berdiri? Yaitu menunggu perintah, menunggu Allah mengucapkan kehendak-Nya. Hari ini entah berapa banyak pekerjaan yang sudah ditentukan. Tetapi apa yang saya katakan di sini bukanlah perkara-perkara duniawi, pekerjaan di pabrik, atau perkara di kantor. Orang Kristen seharusnya setia terhadap majikan duniawinya, kita harus sangat setia melayani majikan duniawi kita. Tetapi pekerjaan rohani bukan demikian. Sebab itu saya secara khusus berkata kepada saudara-saudara sekerja. Saudara, apakah pekerjaan pelayanan Anda sudah ditentukan lebih dulu? Apakah Anda melakukan pekerjaan pelayanan dengan cepat? Apakah Anda bisa berdiri sebentar, menunggu sebentar? Apakah banyak pekerjaan sudah ditentukan, urutannya sudah diatur? Lalu Anda mengambil catatan itu, melakukan menurut kemampuan manajemen Anda? Apakah semuanya sudah berada di tangan Anda? Saudara! Bisakah menunggu tiga hari lagi? Apakah Anda bisa berdiri sebentar, sementara tidak bergerak? Inilah yang dimaksud berdiri. Siapa saja yang tidak bisa mendekati Tuhan, pasti tidak bisa melayani Tuhan; demikian juga, siapa saja yang tidak bisa berdiri di hadapan Tuhan, pasti tidak bisa melayani Tuhan; melayani Tuhan tidaklah tergantung kepadanya. Saudara, cobalah pikir, bukankah seorang hamba harus menunggu dulu mendapatkan perintah, baru melakukannya?
Izinkanlah saya mengatakan lagi satu perkara yang sudah pernah saya katakan. Karena ini adalah perkara rohani, saya tidak takut banyak bicara. Semua dosa di hadapan Allah hanya ada dua macam. Pertama adalah melanggar perintah Tuhan. Kalau Tuhan telah memberi perintah, tetapi Anda tidak melakukannya, itu adalah dosa. Ingatlah, tidak hanya demikian, masih ada satu macam dosa lagi, yaitu Tuhan tidak memberi perintah, tetapi Anda melakukan sesuatu. Sebab itu, yang pertama adalah dosa pengingkaran, yang kedua adalah dosa berbuat lancang. Pertama, Tuhan telah berbicara, tetapi Anda tidak mendengarkan; kedua, Tuhan tidak berbicara, tetapi Anda melakukannya. Berdiri di hadapan Tuhan adalah satu cara untuk mengatasi dosa tidak mendengar perintah Tuhan tetapi melakukan sesuatu. Saudara saudari, ada berapa banyak pekerjaan rohani yang Anda lakukan karena Anda sudah sangat jelas mengetahui kehendak Allah? O! Ada berapa banyak orang yang benarbenar karena telah menerima perintah Tuhan lalu pergi bekerja? Atau karena Anda bergairah lalu Anda melakukan pekerjaan itu? Atau karena Anda menganggap perkara ini baik lalu melakukannya? Izinkan saya memberi tahu Anda, tidak ada satu perkara yang lebih merusak kehendak Allah daripada melakukan perkara yang baik. Perkara baik sangat mudah menghalangi Allah, perkara baik paling bisa menghalangi Allah. Semua perkara dosa, najis, cabul, begitu kita melihat, sudah mengetahui itu tidak seharusnya dilakukan oleh orang Kristen; itu perkara yang jahat, tidak boleh dilakukan. Sebab itu, hal-hal itu tidak begitu menghalangi kehendak Allah. Semua perkara yang menghalangi kehendak Allah adalah perkara yang baik, yang mirip dengan kehendak Allah. Anda mengira berbuat demikian tidaklah salah; Anda mengira perkara itu sangatlah baik, maka tanpa bertanya apakah itu kehendak Allah, Anda segera melakukannya. Karena itu, perkara baik sungguh-sungguh bisa menjadi musuh besar Allah. Setiap kali kita mengingkari Allah, itu karena kita mengira perkara itu baik lalu kita melakukannya. Sebagai anak-anak Allah, kita tahu bahwa kita tidak seharusnya berbuat dosa, tidak seharusnya berbuat jahat, tetapi sering kali karena hati nurani tidak menegur, hati nurani mengira boleh melakukan, lalu kita melakukan perkara itu.
Memang, perkara ini baik sekali, tetapi pernahkah kita berdiri di hadapan Allah? Kita perlu berdiri di hadapan Allah. Berdiri berarti tidak berjalan, tidak bergerak, berdiri di sana, diam di sana, menunggu perintah Tuhan. Saudara, inilah melayani Tuhan! Di pelataran luar menyembelih lembu domba, asal ada orang datang, lalu bekerja. Tetapi di tempat maha kudus sangatlah tenang, tidak ada orang yang berdatangan. Di tempat maha kudus bukan saudara atau saudari yang berkuasa mengatur kita, di sana bukan rapat majelis yang menentukan kita, di sana bukan juga panitia pelayanan yang berhak mengutus kita, di sana hanya ada satu kuasa yang bisa mengatur kita, yaitu Tuhan. Tuhan menyuruh kita melakukan, kita melakukan; Tuhan tidak menyuruh kita melakukan, kita tidak melakukan. Saudara, bisakah Anda berdiri di hadapan Allah?
Kalau kita mau melayani Tuhan di tempat maha kudus, kita harus mengeluarkan banyak waktu untuk berdoa, kalau tidak, kita tidak mungkin bisa melakukannya. Kita perlu melalui doa untuk membawa kita ke hadapan Allah, kita perlu melalui doa supaya kita mendekati Allah. Sebab itu doa adalah berdiri di hadapan Allah, yaitu berdiri di hadapan Allah mencari kehendak-Nya. Puji syukur kepada Allah, meskipun tidak setiap orang beriman demikian, tetapi bagaimanapun masih ada orang-orang yang berdiri di hadapan Allah, dengan baik-baik mengikuti Tuhan menempuh jalan yang di depan.
Untuk berdiri di hadapan Allah, perlu melakukan satu hal, yaitu “mempersembahkan kepada-Ku lemak dan darah” (Yeh. 44:15). Anda mengetahui, di tempat kudus, Allah itu kudus, adil; di tempat maha kudus, Allah itu mulia. Kemuliaan Allah memenuhi tempat maha kudus, kekudusan dan keadilan Allah memenuhi tempat kudus. Di sini, darah adalah untuk kekudusan dan keadilan Allah, lemak adalah untuk kemuliaan Allah. Lemak adalah supaya Allah mendapat sesuatu, darah adalah untuk menghadapi kekudusan dan keadilan Allah. Kita mengetahui Allah itu kudus, Allah itu adil, sebab itu Dia mutlak tidak bisa menerima manusia. Kalau tidak ada darah yang teralir, kalau manusia tidak mendapatkan pengampunan dosa, kalau Allah tidak mendapatkan harga penebusan dosa, Allah tidak bisa melewatkan manusia. Sebab itu di sini harus ada darah; tanpa darah, tidak bisa mendekati Allah. Pada zaman Perjanjian Lama manusia masih dikesampingkan, tidak bisa datang ke hadapan Allah; tetapi hari ini kita bisa berada di hadapan Allah, karena telah ada darah Tuhan. Tidak hanya demikian, masih perlu mempersembahkan lemak, yaitu bagian yang paling gemuk, paling baik, yang bisa memuaskan hati Allah. Sebab itu, lemak adalah untuk kemuliaan Allah.
Karena itu, semua orang yang datang ke hadapan Allah, yang ingin melayani Allah, harus menghadapi kekudusan dan keadilan Allah, juga harus menghadapi kemuliaan Allah. Kita mengetahui bahwa yang paling diperhatikan oleh Alkitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru adalah tiga hal ini: Kekudusan Allah, keadilan Allah, dan kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah mengacu kepada diri Allah sendiri; kekudusan Allah mengacu kepada sifat Allah; keadilan Allah mengacu kepada jalan Allah. Dengan kata lain, cara Allah bekerja adalah adil, sifat Allah adalah kudus, diri Allah sendiri tak berdaya kita ceritakan, terpaksa kita mengatakan adalah mulia. Karena itu, setiap kali kita datang ke hadapan Allah, perkara pertama kita harus nampak orang seperti saya ini, bisakah berdiri di hadapan Allah? Allah begitu kudus, Allah begitu adil, saya orang berdosa ini bisakah bertemu dengan Allah? Tidak mengapa, darah ada di sini, darah bisa menebus dosa kita, maka kita bisa mendekati Allah; tidak ada pertentangan, karena darah-Nya sudah mencuci segala ketidakbenaran kita. Tetapi tidak hanya kudus, tidak hanya adil, bahkan diri Allah sendiri adalah mulia. Sebab itu harus mempersembahkan lemak, yaitu mempersembahkan yang terbaik pada diri kita kepada Allah, untuk memuaskan hati Allah. Dengan kata lain, darah untuk menanggulangi segala sesuatu dalam ciptaan lama, lemak membicarakan tentang segala sesuatu dalam ciptaan baru. Darah mengusir segala sesuatu yang berasal dari ciptaan lama, demikian tidak lagi ada masalah dengan kekudusan dan keadilan. Lemak ada dalam ciptaan baru, yaitu mempersembahkan diri kepada Allah. Sebab itu kita juga tidak ada masalah dengan kemulian Allah.
Kalau seseorang tidak mengetahui tentang kematian dan kebangkitan, ia tidak bisa melayani Allah. Kematian yang saya bicarakan bukan semacam doktrin, juga bukan semacam teori dalam Alkitab, melainkan sungguhsungguh bersandar Dia, karena Dia mengalirkan darah yang selamanya tidak binasa, sebab itu Anda juga teralir keluar. Artinya, ketika Dia mengalirkan darah-Nya yang tidak binasa, Anda juga teralir keluar. Puji Tuhan, Tuhan kita sekarang tidak hanya memiliki darah, Dia juga memiliki tubuh yang bertulang dan berdaging. Semua yang berasal dari hayat alamiah telah teralir keluar. Pengaliran darah Tuhan menuangkan tuntas semua hayat jiwani. Dia menuang tuntas jiwa-Nya sampai mati. Inilah artinya darah. Sebab itu mengalirkan darah berarti mengesampingkan segala sesuatu milik alamiah kita. (Mengenai hal ini akan dibicarakan kemudian hari).
Kalau kita ingin datang ke hadapan Allah untuk melayani Dia, kita harus mendekati Dia; kalau kita ingin datang ke hadapan Allah untuk melayani Dia, kita harus berdiri di hadapan Allah, di hadapan-Nya menunggu perintah-Nya atau kehendak-Nya. Ingatlah, di sini ada dua hal yang merupakan keharusan: di satu pihak kita harus terus menumpahkan darah diri kita, dengan kata lain, kita harus terus mengakui bahwa segala sesuatu yang kita terima sejak lahir, dan segala apa yang akan kita tinggalkan setelah kematian kita, semuanya sudah ditumpahkan. Banyak orang bertanya kepada saya, “Apakah hayat alamiah itu?” Saya sering menjawab mereka bahwa segala sesuatu yang sejak lahir ada, kemudian setelah kematian tidak ada lagi, itulah hayat alamiah, yaitu segala sesuatu yang hanya berada di antara kelahiran dan kematian, adalah hayat alamiah. Puji Tuhan, Dia telah mengalirkan tuntas segala hayat alamiah kita, yaitu hal-hal yang asalnya ada, hal-hal yang ada dari kelahiran. Ketika Tuhan mengalirkan darah, bukan mengalirkan hayat-Nya sendiri, melainkan mengalirkan hayat Anda. Sebab itu kita harus terus berdiri pada fakta ini untuk menolak hayat diri sendiri. Saudara saudari, ini bukan satu doktrin, melainkan dengan sungguh-sungguh di hadapan Allah meletakkan segala sesuatu yang berasal dari hayat alamiah diri sendiri. Saudara saudari, ini bukan suatu angan-angan, yang tidak bisa kita lakukan, karena Kristus sudah mengalirkan segala sesuatu yang berasal dari jiwa kita, sebab itu kita bisa melakukannya, kita bisa menjadi orang-orang yang tidak mempunyai ego. Puji syukur kepada Allah, kita bisa menjadi orang-orang yang tidak mempunyai ego, karena ketika Kristus mengalirkan darah, sudah mengalirkan ego kita. Puji syukur kepada Allah. Anak Allah telah merampungkan fakta itu. Kalau kita bersandar Dia, kita bisa mati, bisa melepaskan ego. Tetapi hanya mati saja tidak cukup, mati hanya aspek negatifnya saja. Yang perlu kita perhatikan di hadapan Allah, bukan hanya mati, tetapi juga bangkit dari kematian. Ketika Tuhan bangkit, kita juga di dalam-Nya, sebab itu kita adalah ciptaan baru. Dia tidak hanya telah mati, juga telah bangkit. Dia hidup terhadap Allah, sebab itu segala sesuatu-Nya adalah untuk memuaskan hati Allah, bukan untuk diri-Nya sendiri. Saudara saudari, Allah mengharapkan kita nampak ini. Inilah melayani Tuhan. Sebab itu kita harus mempersembahkan lemak dan darah kepada Dia.
Ayat 16 mengatakan, “Merekalah yang akan masuk ke dalam tempat kudus-Ku dan yang akan mendekati meja-Ku untuk menyelenggarakan kebaktian dan mereka akan menjalankan tugasnya terhadap Aku.” Di sini dikatakan bahwa melayani Tuhan ada tempatnya. Melayani Tuhan berlangsung di dalam tempat kudus, melayani Tuhan berada di dalam, melayani Tuhan di tempat yang sunyi, di sana sangat tersembunyi, tidak terbuka seperti di pelataran luar. Saudara saudari, marilah kita mohon Allah memberi anugerah kepada kita, supaya kita benarbenar tidak menganggap melakukan pelayanan yang demikian ini sangatlah menderita. Sebenarnya, berada di sana satu hari, lebih baik daripada berada di tempat lain seribu hari! Kita selalu takut kepada tempat kudus; merasa pelataran luar sangatlah baik, banyak orang bisa melihat kita, banyak orang mengenal kita, nama kita menjadi tersohor, di sana tidak ada serangan, tidak ada fitnahan, yang ada adalah penyebutan, penyanjungan, sungguh baik sekali. Tetapi Allah menghendaki kita berada di tempat kudus. Di sana mungkin orang akan berkata bahwa kita malas, tidak mau mengerjakan apa pun. Sebenarnya mereka tidak mengetahui bahwa apa yang kita kerjakan di sana jauh lebih tinggi daripada dengan susah payah melayani umat Allah! Saudara saudari, pernahkah Anda mendengar orang lain berkata bahwa Anda terlalu sempit, terlalu kecil? Pernahkah Anda mendengar orang lain mengkritik Anda terlalu sempit, mengatakan Anda tidak suka ini, tidak suka itu? Orang lain berkata Anda terlalu malas bekerja, banyak hal tidak Anda kerjakan. Tetapi saudara saudari, ketahuilah, hati kita sama sekali tidak sempit, karena kita bukan ingin mendapatkan sesuatu dari manusia, karena kita tidak ingin berada di pintu masuk yang dapat dilihat oleh semua orang; karena kita hanya mempunyai satu tujuan, yaitu melayani Tuhan dalam tempat kudus. Saudara saudari, ketahuilah, kita tidak ingin melayani di dalam bait, karena yang kita harapkan, yang akan kita kerjakan lebih besar daripada itu. Di sini tidak ada satu hati yang lebih perkasa daripada Paulus, karena dia mempunyai satu ambisi, yaitu mencari perkenan Tuhan. Sebab itu yang kita tuntut di sini lebih besar daripada kebanyakan orang. Pekerjaan yang kita lakukan di sini lebih besar daripada pekerjaan besar yang dilakukan banyak orang. Jadi, hati kita lebih besar daripada hati mereka. Saudara, jangan mengira kita terlalu sempit; sesungguhnya kita sangat lapang, karena kita tidak hanya melayani bait, lebihlebih kita ingin melayani Tuhan, meskipun kita di hadapan manusia tidak besar. Saudara saudari, lebih baik orang lain mengkritik kita, kalau bukan kehendak Allah, bagaimanapun, kita tidak mau bergerak. Karena di sini kita hanya mempunyai dua kedudukan: pertama adalah sudah mati, untuk melepaskan segala sesuatu yang berasal dari ciptaan lama; kedua adalah sudah bangkit, untuk datang melayani Allah, belajar bagaimana berdiri di hadapan Allah, mendengarkan perintah-Nya, menunggu di hadapan Allah untuk melayani Dia. Yang lainnya tidak perlu kita tanggapi. O! Saudara saudari, apakah kehendak Allah cukup memuaskan hati Anda? Cukupkah kita melaksanakan kehendak Allah? Apakah kehendak Allah tidak cukup baik? Atau Anda masih ingin menuntut yang lain? Apakah yang Allah tetapkan untuk Anda sudah cukup baik? O! Di hadapan Allah kita harus belajar melayani Dia.
Kita sudah mengatakan bahwa kita akan menyinggung tiga hal, pertama adalah perbedaan melayani Allah dengan melayani bait; kedua adalah bagaimana melayani bait dan bagaimana melayani Allah, terakhir, kita akan melihat syarat dan keadaan apa yang harus dimiliki oleh orang yang melayani Tuhan. Marilah sekarang kita melihat:
|

7th May 2008
|
 |
AP - Posting Freak
|
|
Join Date: Nov 2007
Location: Indonesia
Age: 22
Posts: 242
|
|
III. ORANG YANG MELAYANI TUHAN HARUS BAGAIMANA
Di sini memberi tahu kita bahwa semua orang yang melayani Allah di hadapan Allah harus mengenakan pakaian macam apa. Mereka harus mengenakan pakaian lenan, kepalanya harus memakai destar lenan, pinggangnya memakai celana lenan; jadi, seluruh tubuhnya memakai pakaian yang terbuat dari lenan. Selanjutnya dikatakan tidak boleh memakai pakaian bulu domba. Jadi, tidak ada seorang pun yang melayani Tuhan, yang boleh memakai pakaian bulu domba. Di hadapan Allah selamanya tidak boleh memakai pakaian bulu domba. Mungkin ada orang akan bertanya, “Mengapa orang yang melayani Tuhan tidak boleh memakai baju bulu domba?” Mari kita membaca ayat 18, “Mereka harus memakai destar lenan dan memakai celana lenan,” selanjutnya mengatakan, “tetapi jangan memakai ikat pinggang (pakaian) yang menimbulkan keringat.” Jadi, maksudnya di sini ialah semua orang yang melayani Tuhan tidak boleh berkeringat; semua pekerjaan yang menimbulkan keringat tidak diperkenan Allah, ditolak oleh Allah. Lalu, apa sebenarnya arti menimbulkan keringat? Kita tahu, teralirnya keringat di dunia ini untuk kali pertama adalah setelah Adam keluar dari Taman Eden. Kejadian 3 memberi tahu kita, karena Adam berdosa, lalu Allah memberi hukuman, kata-Nya, “Dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu” (ayat 17-19). Karena itu berpeluh adalah keadaan dari menerima kutuk; karena dikutuk Allah, tanah tidak menghasilkan makanan baginya; karena tidak ada berkat Allah, maka harus bekerja sendiri, sehingga tubuhnya berkeringat. Jadi, apakah pekerjaan yang berkeringat? Yaitu semua pekerjaan yang dilakukan dengan jerih payah dari tubuh daging, yang tidak ada berkat Allah Bapa. Tetapi orang yang melayani Allah, sama sekali tidak boleh melakukan pekerjaan yang berkeringat. Hari ini di hadapan Allah entah ada berapa banyak pekerjaan yang perlu mengeluarkan banyak tenaga baru bisa berhasil. Yang dilakukan oleh orang yang melayani Allah seharusnya adalah pekerjaan yang tidak mengeluarkan keringat. Karena semua pekerjaan Allah sangatlah tenang, bukan dikerjakan dengan berlari-lari, melainkan dikerjakan dengan duduk. Meskipun di luar sangat sibuk, tetapi di dalam sangat teduh; meskipun di luar sangat ramai, tetapi di dalam sangat tenang, sebab itu dilakukan dengan duduk. Inilah pekerjaan yang tidak berkeringat. O, bagi Allah semua kejadian bukan kebetulan, semua perkara di hadapan Allah tidak dilakukan dengan kekuatan daging. O! Sayang sekali, hari ini banyak pekerjaan yang harus dilakukan dengan berkeringat. Sayang sekali, banyak pekerjaan kalau tidak ada perencanaan, tidak ada orang yang mengendalikan, mendorong, mempromosikan, menganjuri, memperingatkan, memakai kekuatan diri sendiri, memakai kekuatan tubuh daging, tidak bisa terlaksana. Sayang sekali, hari ini kalau tidak berkeringat, tidak ada pekerjaan pelayanan. Namun ingatlah, di luar kita boleh berkeringat, di luar kita boleh menyembelih lembu domba, melayani orang berdosa, melayani kaum beriman, semua pekerjaan ini bisa membuat orang berkeringat. Tetapi orang yang akan melayani di tempat kudus, tidak boleh berkeringat, karena Allah tidak memerlukan orang yang berkeringat. Memang semua pekerjaan pelayanan pasti sibuk, tetapi pekerjaan Allah tidak memerlukan tenaga daging. Saya tidak mengatakan tidak memerlukan kekuatan rohani, sebenarnya sulit mengatakan harus memakai berapa besar kekuatan rohani, sulit mengatakan perlu mengalami berapa banyak kesulitan. Hari ini semua pekerjaan orang, tidak membedakan yang mana pekerjaan rohani, yang mana pekerjaan daging. Orang selalu berkata, “Semua pekerjaan Allah, kalau tidak berlari ke sana ke sini, tidak berkomunikasi, mengeluarkan waktu untuk membicarakannya, memperdebatkannya, kalau tidak menerima usulan dari banyak orang, dan disetujui oleh kebanyakan orang, tidak bisa terlaksana.” Namun kalau Anda disuruh dengan tenang menunggu di hadapan Allah, mendengarkan perkataan Allah, Anda tidak bisa melaksanakan, karena hal ini tidak bisa dilakukan oleh daging. Semuanya itu perlu berkeringat.
Aspek yang terbesar dalam pekerjaan rohani adalah berurusan dengan Allah. Yang pertama harus dihubungi adalah Allah, bukan manusia. Pekerjaan daging tidak demikian, yang pertama dihubungi adalah manusia. Sebab itu, dalam pekerjaan daging, kalau satu pekerjaan tidak ada manusia, pasti tidak sukses, bahkan menganggap itu bukan pekerjaan Allah. O, berada di hadapan Allah adalah sangat berharga, yang kita hadapi adalah Allah sendiri. Sebab itu, di sini kita bukanlah tidak bekerja, melainkan melakukan pekerjaan yang tidak berkeringat. Bagaimana menjelaskan hal ini? Kalau Anda sudah menanggulangi dengan baik di hadapan Allah, di hadapan manusia Anda tidak perlu berkeringat lagi. Anda bisa menggunakan kekuatan yang paling kecil untuk melakukan pekerjaan yang paling banyak. Mengapa di sini begitu banyak iklan, dorongan, anjuran, semuanya karena mereka tidak berdoa di hadapan Allah. Izinkan saya memberi tahu Anda, semua pekerjaan rohani hanya dikerjakan di hadapan Allah. Kalau Anda melakukan dengan baik di hadapan Allah, orang lain dengan sendirinya bisa mendengarkan Anda. Anda tidak perlu memakai banyak cara, dengan sendirinya akan mendapatkan faedah. Allah yang bekerja, sebab itu tidak perlu kekuatan daging dan berkeringat.
Sebab itu, saudara saudari, hari ini di hadapan Allah, kita boleh dengan jujur memeriksa diri sendiri, bertanya kepada Tuhan, “Ya Tuhan, sebenarnya aku berbuat demikian ini, apakah melayani Engkau, atau melayani pekerjaan? Ya Tuhan, aku melayani bait atau melayani Allah?” Kalau dari pagi sampai malam Anda terus bekerja dengan “bersimbah peluh”, Anda sendiri bisa memastikan bahwa Anda sedang melayani bait, bukan melayani Allah. Kalau yang membuat Anda sibuk sepenuhnya adalah untuk keperluan di luaran, Anda sendiri bisa memastikan, “Ya Tuhan, aku sedang melayani umat Allah, bukan melayani Engkau.” Saya tidak meremehkan orang-orang yang melayani umat Allah itu. Mereka juga melakukan pekerjaan Allah. Perlu ada orang yang menyembelih lembu dan domba, perlu ada orang yang membimbing orang lain kepada Tuhan. Orang Israel memerlukan orang-orang untuk melayani mereka. Tetapi yang diperlukan Allah di sini adalah masuk lebih dalam lagi. Sebab itu Anda seharusnya berdoa, “Ya Allah, mohon Engkau menolong aku, supaya aku tidak jatuh menjadi orang-orang yang melayani umat Allah.” O, di sini tidak hanya melayani umat Allah. Orang yang melayani umat Allah sudah terlalu banyak, untuk apa Anda ikut meramaikan pekerjaan itu? Hari ini Allah tidak dapat menyuruh semua orang melayani Dia, hal ini tidak bisa dilakukan oleh Allah, karena banyak orang tidak mau melakukan hal ini. Sebab itu, tidak mungkin bisa menggarap sampai seluruh gereja bangkit dan setiap orang menjadi setia, karena manusia tidak mau demikian. Lihatlah, banyak orang yang benar-benar telah beroleh selamat, yang benar-benar telah memiliki hayat, tetapi mereka suka melayani umat Allah, Anda tidak bisa mengubah mereka. Karena mereka tidak mau meninggalkan keramaian di luaran, tidak bisa melepaskan pekerjaan di luaran, mereka memandang penting lapangan pekerjaan. O! Saya mengetahui hal ini. Pasti ada orang yang mau melakukan pekerjaanpekerjaan ini, masalahnya adalah apakah Anda berbagian di dalamnya. Saya harap hari ini kita bisa berkata, “Ya Allah, aku mau melayani Engkau, aku mau meninggalkan segalanya, melepaskan semua pekerjaan, membuang segala sesuatu yang berada di luar, aku mau melayani Engkau, mengerjakan pekerjaan rohani; aku mau melepaskan yang di luar, dan masuk ke dalam, masuk ke tempat yang lebih dalam lagi.”
Di sini Allah tidak bisa menyuruh semua orang Lewi masuk, Dia hanya memiliki keturunan Zadok. Mengapa demikian? Karena saat semua orang Israel murtad, meninggalkan Allah, hanya keturunan Zadok yang menjaga tempat kudus. Mereka melihat perkara yang di luar tidak bisa dibereskan, yang di luar sudah runtuh, najis, sebab itu mereka melepaskannya, sepenuh hati menjaga kekudusan tempat kudus. O, saudara saudari, apakah Anda bisa membiarkan yang di luar runtuh? Atau Anda ingin dengan kayu menunjangnya, supaya dia tidak runtuh? Tetapi Allah berkata, “Aku tidak mau semuanya ini, sekarang Aku akan menjaga tempat kudus-Ku, meninggalkan satu tempat yang kudus bagi anak-anak-Ku.” Jadi, Anda nampak bahwa hari ini perlu ada satu tempat yang mutlak tersisih bagi Dia, yang benar-benar bisa memutuskan apa yang benar, apa yang salah. Karena yang ingin Allah pelihara adalah tempat kudus-Nya. Yang di luar akan runtuh, Allah tidak berdaya, membiarkannya runtuh. Namun keturunan Zadok menjaga tempat kudus, sebab itu Allah memilih mereka. Hari ini Allah tidak bisa membereskan semua orang, tetapi Dia akan membereskan Anda. Kalau Anda tidak bisa melepaskan semua perkara yang di luar, Allah akan mencari siapa? Saudara saudari, hari ini saya berdiri di hadapan Allah memohon kepada kalian, “Hari ini yang Allah cari adalah orang-orang yang sepenuhnya melayani Dia. O, hari ini orang-orang yang melakukan pekerjaan di luaran sudah terlalu banyak, tetapi orang-orang yang di dalam melayani Allah sangatlah sedikit. Sebab itu hari ini Allah berseru: Siapa yang mau datang ke tempat kudus untuk melayani Aku?”
Saya tidak bisa terlalu menekankan hal ini, saya hanya bisa berkata bahwa saya sangat senang membaca ayat Alkitab dalam Kisah Para Rasul 13 yang mengatakan, “Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, . . . mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus, ‘Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka’” (ayat 1-2). Inilah pekerjaan Perjanjian Baru, juga satu-satunya prinsip pekerjaan melayani Tuhan. Pekerjaan Roh Kudus hanya bisa diwahyukan ketika berada dalam beribadah (melayani) kepada Tuhan. Saat melayani Tuhan, barulah Roh Kudus mengutus mereka pergi. Sebab itu kalau tidak mengutamakan pelayanan kepada Tuhan, semuanya akan berkebalikan.
Kita tahu bahwa permulaan pekerjaan gereja di Antiokhia terjadi pada waktu beribadah kepada Tuhan, Roh Kudus berkata, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.” Saya ulangi lagi, Allah selamanya tidak mau orang masuk menjadi tentara. Allah tidak mau orang berinisiatif sendiri masuk menjadi tentara. Allah hanya menghendaki orang yang dipaksa Dia menjadi tentara, Allah mau merekrut tentara sendiri. Ketahuilah, ada dua macam tentara: yang satu adalah orang itu sendiri yang mau masuk menjadi tentara, yang satu lagi adalah negara yang memaksa merekrut tentara, karena negara memberi perintah, mau tak mau orang harus menjadi tentara. Dalam pekerjaan Allah, hanya ada tentara rekrutan, tidak ada tentara yang masuk sendiri. Sebab itu, tidak ada orang yang bisa berkata, “Karena aku senang, maka aku memberitakan Injil.” Tetapi Allah tidak memerlukan yang demikian. Hari ini yang sangat merusak pekerjaan Allah adalah terlalu banyak orang yang datang sendiri masuk menjadi tentara. Hari ini orang-orang tidak bisa berkata seperti Tuhan, “Dia yang telah mengutus Aku” (Yoh. 6:38). Saudara saudari, ini bukan satu perkara yang sembarangan, pekerjaan Allah tidak bisa Anda lakukan menurut kemauan diri Anda sendiri, pekerjaan Allah mutlak milik Allah. Sebab itu hari ini Anda harus memeriksa: Diriku sendiri yang keluar, atau Tuhan yang memanggil aku keluar? Hari ini kita harus bertanya kepada diri sendiri: Aku sendiri yang menjadi tentara, atau aku diperintah Allah masuk tentara? Semua yang masuk sendiri menjadi tentara, tidak bisa tertinggal, semua yang memperkenalkan diri sendiri, tidak bisa tahan lama, karena Allah hanya mau tentara yang Dia cari sendiri. Ketahuilah, ketika mereka melayani Tuhan, bukan Paulus dan Barnabas sendiri yang mengatakan, “Kita akan pergi memberitakan Injil,” tetapi Roh Kudus yang berkata, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.” Jadi, di sini hanya Roh Kudus yang berhak mengutus orang bekerja, terhadap hal ini gereja sama sekali tidak ada hak. Tetapi hari ini ada banyak misi, banyak badan penginjilan yang diutus oleh orang. Allah tidak bisa mentoleransi hal ini. Karena di sini kita hanya bisa melayani Tuhan, tidak bisa melayani bait. Yang dikehendaki Allah adalah orang-orang yang langsung melayani Dia, orang-orang yang menerima pengutusan oleh Roh Kudus.
Saya ulangi lagi, melayani Tuhan bukan sama sekali tidak mengerjakan pekerjaan di luar, juga bukan berarti tidak lagi berjalan ke sana sini. Yang saya katakan ialah: semua pekerjaan luar harus dilakukan berdasarkan melayani Tuhan; karena melayani Tuhan maka kita pergi, bukan berasal dari kesenangan diri sendiri yang tidak dilakukan berdasarkan melayani Tuhan. Dua hal ini sangat berbeda, perbedaan mereka lebih besar daripada perbedaan langit dengan bumi. Semua orang yang mempunyai pengalaman akan mengetahui, tidak ada perbedaan yang lebih besar daripada perbedaan antara melayani Tuhan dengan melayani bait.
Kita mengetahui tentang tirai, yaitu kita harus melayani Tuhan dalam tempat kudus. Tetapi di samping hal itu masih ada satu hal yang juga penting, yaitu “Karena itu, marilah kita pergi kepada-Nya di luar perkemahan dan menanggung kehinaan-Nya” (Ibr. 13:13). Pikiran utama Surat Ibrani ada dua: Yang satu adalah tirai, yang satu lagi adalah di luar perkemahan. Sebab itu, kita tidak hanya harus melayani Allah di dalam tempat kudus, tetapi juga perlu pergi ke luar perkemahan. Hanya ketika kita meninggalkan perkemahan untuk melayani Tuhan, barulah Dia berbicara kepada kita, memberi pimpinan kepada kita; waktu-waktu yang lain, Dia tidak berbicara apa-apa.
Sekarang, marilah kita melihat apa yang dibicarakan Injil Lukas. Izinkan saya mengulangi lagi, saya bukan ingin menjelaskan Injil Lukas, tetapi ingin dari potongan Alkitab ini melihat perkara apa yang dituntut oleh Tuhan. Injil Lukas dengan jelas memberi tahu kita, yang Tuhan tuntut tidak lain adalah diri-Nya sendiri, bukan Anda atau saya, melainkan diri-Nya sendiri. Satu hal yang sangat ajaib, meskipun yang dibicarakan di sini sangatlah serius, tetapi setiap orang merasakan ini sangat berharga. Kita mengetahui di sini ada dua macam pekerjaan: pertama, menggarap tanah atau menabur; kedua, menggembalakan ternak atau merawat. Pekerjaan menabur adalah menanggulangi perkara yang belum dilahirkan; menggembalakan ternak adalah menanggulangi perkara yang sudah ada. Sebab itu, yang satu berhubungan dengan pekerjaan terhadap orang berdosa, yang satunya lagi berhubungan dengan pekerjaan terhadap orang beriman. Dengan kata lain, yang satu adalah menyuruh orang yang belum percaya Tuhan untuk percaya Tuhan, yang satunya lagi membuat orang yang sudah menerima Tuhan mendapatkan perawatan. Inilah pekerjaan yang dilakukan oleh hamba-hamba Tuhan, inilah pekerjaan yang seharusnya kita lakukan di hadapan Allah. Ini sangat penting, kita harus melakukannya dengan rajin. Tetapi di sini Tuhan sangatlah mengherankan, Dia berkata, “Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak tanah atau menggembalakan ternak akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan!” (Luk. 17:7). Artinya, tidak ada orang yang berbuat demikian, juga tidak ada orang yang harus berbuat demikian. Jadi, semua hamba — orang Kristen — setelah selesai bekerja, tidak perlu diberi makan. Kalau dilihat dari pandangan tubuh daging, mereka akan berkata bahwa majikan orang Kristen sangat pelit. Mereka di luar membajak tanah, menggembalakan ternak, sangatlah letih, tetapi setelah pulang rumah, masih tidak diberi makan. Tetapi Tuhan tidak seperti orang dunia. (Mengenai bagaimana hubungan tuan dengan hamba dalam kehidupan duniawi, sudah dijelaskan dalam Surat Kolose dan Surat Efesus, di sini hanya mengatakan apa yang dituntut oleh Tuhan sendiri, bagaimana hubungan antara tuan dengan hamba dalam kehidupan rohani). Tuhan tidak mengundang kita makan dan minum. Apa yang Tuhan lakukan? Ayat 8 mengatakan, “Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Sesudah itu engkau boleh makan dan minum.” Inilah yang Tuhan lakukan pada hari ini. Dalam hati kita selalu berpikir: hari ini aku telah membajak berapa hektar tanah, telah menabur berapa kilo benih, lewat beberapa hari lagi, lewat beberapa bulan lagi, sedikitnya aku akan menuai tiga puluh kali lipat, enam puluh kali lipat. Hari ini aku telah membimbing berapa banyak domba ke padang rumput yang hijau, ke tepi sungai yang tenang, untuk makan dan minum. Lewat beberapa waktu, dombadomba ini pasti bertambah gemuk. Ini pekerjaan yang sangat besar. Hasil dari tanah bisa dimakan, hasil produksi dari bulu atau kulit domba bisa dipakai untuk membuat pakaian, sebab itu kita pasti akan senang sekali, terus menikmati kesenangan dari hasil pekerjaan kita. Arti dari makan minum adalah merenungkan kembali kenikmatan dari pekerjaan yang telah kita kerjakan. Sering kali setelah kita melakukan satu pekerjaan yang menyenangkan, ketika tidur pun kita masih mengingatnya, masih merasa sangat senang; ketika makan juga terus mengingatnya, merasa sangat bangga. Sering kali kita terus mengingat-ingat satu perkara yang telah kita kerjakan, dan merasa sangat senang. Tetapi Tuhan berkata bahwa dalam semua pekerjaan, baik menggembala ternak, membajak tanah, tujuan Tuhan bukan supaya kita senang, bukan untuk kita nikmati sehingga kita mendapatkan sesuatu. Tuhan pasti akan berkata kepada kita, “Sediakan makanan-Ku, ikatlah pinggangmu dan layanilah Aku.” Apakah kita nampak? Yang dikehendaki Tuhan adalah “melayani Aku”. Jadi, ingatlah, pekerjaan membajak tanah tidak sebanding dengan pekerjaan di dalam rumah. Ingatlah, tanah dan ternak tidak dapat dibandingkan dengan Tuhan. Di sini Tuhan tidak berkata, “Karena kamu telah berjerih payah, kamu telah membajak tanah yang luas, telah menggembalakan banyak ternak, sebab itu kamu tidak perlu melayani Aku. Kamu boleh makan minum, bergembira ria.” Ingatlah, Tuhan tidak menghendaki demikian, Tuhan hendak memperlihatkan kepada kita berat dan ringannya kedua perkara itu. Lihatlah dalam perkataan-Nya, Dia tidak karena kita telah di luar membajak tanah, lalu kita boleh kendur, dan Dia akan berkata kepada kita bahwa kita tidak perlu melayani Dia. Tuhan tidak mau demikian. Dia tidak akan karena pekerjaan kita terlalu sibuk, lalu mengizinkan kita tidak melayani Dia. Dia tidak akan membiarkan kesibukan pekerjaan merebut pelayanan terhadap diri-Nya. Di sini perkara pertama adalah melayani Tuhan, dan melayani Tuhan lebih penting daripada pekerjaan membajak tanah, menggembalakan ternak, dan lain-lain.
Saudara saudari, apa yang kita kerjakan di sini? Apa tujuan kita? Apakah yang kita pikirkan hanyalah membajak tanah dan menabur benih? Memberitakan Injil menyelamatkan orang dosa? Apakah kerja keras kita hanya untuk menggembalakan ternak? Membagi makanan untuk kaum beriman? Atau kita menyediakan makan dan minum untuk Tuhan, supaya Tuhan kenyang dan puas? Tuhan memperlihatkan kepada kita bahwa setelah pulang dari kerja, Tuhan bukan menyuruh kita istirahat, bermalas-malasan. Meskipun kita sangat letih, tetap harus membangkitkan semangat kita untuk melayani Tuhan; meskipun kita sudah melakukan banyak pekerjaan, tetap masih perlu melayani Dia. Namun bukan berarti kita tidak perlu makan minum, makan minum kita harus setelah Tuhan makan minum. Memang kita perlu makan kenyang, tetapi Tuhan harus makan kenyang lebih dulu. Memang kita perlu bergembira, tetapi Tuhan harus bergembira lebih dulu. Sebab itu, marilah kita bertanya kepada diri sendiri, sebenarnya pekerjaan kita untuk siapa? Semua yang saya kerjakan di sini untuk memuaskan hati Tuhan, atau untuk memuaskan hati kita sendiri? Hasil pekerjaan kita adalah untuk memuaskan Tuhan, atau memuaskan kita sendiri? Saya benar-benar takut, sering kali Tuhan belum mendapatkan apa-apa, tetapi kita sudah kenyang lebih dulu. Saya benar-benar takut, sering kali Tuhan belum mendapatkan kegembiraan, kita sudah lebih dulu mendapatkan kegembiraan. Sebab itu, hari ini kita mohon Allah memperlihatkan kepada kita, di hadapan-Nya kita harus berdiri pada kedudukan yang bagaimana, di hadapan-Nya kita harus bagaimana melayani Dia.
Saudara saudari, meskipun kita telah melakukan semuanya, kita tetap masih sebagai hamba yang tidak berguna, sebab itu, kita sangatlah kecil.
Tujuan kita, pergumulan kita, bukan tanah dan ternak, dunia dan gereja. Tujuan kita adalah Tuhan. Pergumulan kita juga tertuju kepada Tuhan. Dia adalah segala sesuatu kita. Sebab itu marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Hari ini pekerjaan kita untuk Kristus atau hanya untuk orang dosa dan saudara saudari? Orang yang bisa membedakan melayani orang dosa dengan melayani Tuhan, dan yang bisa membedakan melayani kaum beriman dengan Tuhan, adalah orang yang bahagia. Meskipun hal ini mudah dimengerti secara harfiah, tetapi berbahagialah orang yang bisa membedakan dalam batin, dalam pengalamannya. O, pengetahuan ini tidak mudah diperoleh, sungguh kita harus mengalirkan darah kita dulu, baru dapat mempelajarinya. Perbedaan ini sungguh tidak mudah dimengerti, perlu melalui banyak penanggulangan baru bisa mengerti. Sering kali perlu benarbenar meletakkan hayat diri kita sendiri, menyingkirkan opini kita, baru bisa mengerti. Hal ini tidak semudah melayani saudara saudari, sebab itu melayani Tuhan sangat berbeda dengan melayani bait.
Meskipun demikian, kalau Roh Kudus bekerja di atas diri kita, tidak sulit untuk mengetahuinya. Sebab itu kita perlu dengan sungguh-sungguh memohon kepada Tuhan untuk memberi anugerah kepada kita, supaya kita nampak apakah melayani Dia itu. Saudara saudari, orang dosa benar-benar tidak terhitung apa-apa. Melayani mereka dengan melayani Tuhan adalah dua hal yang sangat berbeda. Sebab itu, hari ini kita benar-benar harus memohon Tuhan melakukan pekerjaan-Nya, supaya kita melayani Dia. Sekarang saya tidak bisa berkata lebih banyak lagi, hanya bisa berkata, “Inilah yang hendak Allah katakan kepada kita dalam beberapa hari ini.”
W.N
|
 |
| Thread Tools |
|
|
| Display Modes |
Linear Mode
|
Posting Rules
|
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts
HTML code is Off
|
|
|
All times are GMT +7. The time now is 10:23 PM.
|