Hmmmm ternyata artikel lama kepik dah ilang yah ... I'll copy paste lagi disini silahkan baca dulu
Professional Church
Akhir2 ini banyak orang komplain karena mereka nggak ngerti sistim gereja mereka, nggak ngerti uang perpuluhan mereka kemana, nggak ngerti gimana turut andil dalam gereja, nggak puas sama kepemimpinan gereja. Sementara gereja-gereja frustasi karena kurangnya kesetiaan jemaat berjemaat, dalam memberi, ikut andil dalam pelayanan2 gereja, atau jemaat yang semakin nggak sensitif dengan kebutuhan gereja khususnya finansial. Kepercayaan terhadap pendeta dan gembala2 gereja sebagai penanggung jawab keuangan gereja pun berkurang, apalagi sejak banyak pendeta dan gembala berseliweran dengan mobil mewah, naik pesawat kelas satu. Ada banyak orang yang menganggap kalau pendeta2 menyalah gunakan gereja sebagai tempat bisnis. Pendeta pun juga stuck in the middle, antara anggaran gereja, kebutuhan pribadi dan keluarga yang decent, keluarga, pelayanan dan seringkali seorang pendeta harus melakukan banyak hal sehingga pelayanannya pun jadi tidak efektif. Orang yang melayani pun nggak puas dengan sistem gereja yang umumnya berantakan dan tambal sulam, tanpa perancangan dan pemetaan yang jelas. Apa ada jalan keluarnya ?
Mungkin jalan keluarnya adalah menjadikan gereja sebuah professional business entity/ organisasi bisnis profesional. Lengkap dengan struktur bisnis, board of director, akuntan, pemegang saham dan kepemimpinan manajerial. Apakah ini sesat, evolusi gereja, atau gereja seperti yang direncanakan Tuhan ? itu terserah penilaian Anda. Berikut ini adalah blueprintnya.
Jemaat sebagai pemegang saham, bukan pengunjung gereja.
Yang paling dasar perlakukan jemaat sebagai pemegang saham, bukan sekadar pengunjung. Seperti pemegang saham di dunia bisnis pada umumnya, mereka punya voting power, turut serta dalam perencanaan. Tidak seperti pemegang saham di dunia bisnis, saham tidak bisa diperjual belikan kecuali antar gereja dengan jemaat, jumlah saham tidak menentukan voting power, gereja tidak membeli kembali saham, dan saham tidak menjadikan seseorang pemilik gereja secara materiil.
Berapa harga saham ini? Harga saham tidak boleh jadi penghalang orang untuk memiliki saham, tapi tetap harus signifikan. Kenapa harus signifikan ? supaya jemaat mengerti benar kalau mereka juga adalah pemilik gereja. Bisa jadi harga saham disesuaikan perorang. Pembelian saham dianjurkan tapi tidak boleh dipaksakan pada jemaat, kecuali bagi jemaat yang dibaptis digereja yang bersangkutan.
Apa bedanya pemegang saham dan pengunjung? Otomatis pemegang saham adalah pemilik gereja, pengunjung adalah pengunjung. Pemegang saham punya voting power, punya suara dalam perencanaan gereja, seperti halnya ada rapat pemegang saham di perusahaan2 bisnis.
Kerugian metode ini? Bisa jadi disalah-gunakan dan misalnya ada gereja yang minimum harga sahamnya Rp 10,000,000 perorang dan benar2 menjadi gereja eksklusif. Di sisi lain, kalau saham dijual gratis, orang bisa asal ambil tanpa ada rasa tanggung jawab sebagai pemilik, thus benefit2 yang ditawarkan oleh metode ini jadi lenyap.
Cara mengatasinya? Mungkin harga saham gratis, dengan menyerahakan sekali tithing (perpuluhan), 10% dari gaji jemaat, jadi semua orang bisa membeli saham sesuai dengan ukuran masing2. Bukan seorang jemaat mengeluarkan extra 10% diatas tithingnya, tapi di bulan ia ingin membeli saham, dia harus membayar tithingnya, lalu sertifikat pemegang saham diberikan gratis.
Board of Director
Terdiri dari beberapa orang, dipilih dari pemegang saham, oleh pemegang saham, dengan guidelines yang jelas dan Alkitabiah dengan masa jabatan terbatas. Mereka ini yang menentukan budget gereja, arahan2 gereja, gaji pegawai gereja dan kebijaksanaan2 gereja non-pengajaran (contoh: board of director tidak bisa memilih apakah gereja akan menikahkan homoseksual atau tidak). Untuk menentukan arahan2 gereja, Board of Director bekerja sama (selevel) dengan Dewan Penasihat yang isinya para pendeta, manajer gereja, penasihat gereja, dst dst). Board of Director tidak ada dibawah pendeta, tapi pendeta dibawah Board of Director, dan pendeta bekerja sama dengan Board of Director dalam Dewan Penasihat.
Orang yang non pemegang saham tidak bisa masuk Board of Director, dan bisa juga diberi ketetapan misalnya harus 5 tahun memegang saham. Orang yang masuk dalam Board of Director digaji secukupnya untuk mengkompensasi usahanya tapi harus mematuhi aturan dan juga tidak boleh bolos2 pertemuan2 penting.
Dewan Penasihat
Terdiri dari para pekerja jawatan Allah (gembala, rasul, nabi, guru, penginjil) , manajer gereja, penasihat gereja (pekerja jawatan Allah yang pensiun, utusan dari denominasi, penasihat luar, dst). Dewan Penasihat bertugas untuk menentukan keputusan2 dalam hal keimanan dan pengajaran. Kedudukan mereka tidak diatas Board of Director, tapi seimbang dan tugas utamanya adalah menasihati Board of Director untuk mengambil keputusan dalam arahan2 gereja.
Dewan Penasihat juga bertugas membuat rancangan budget gereja bersama akuntan gereja. Budget ini kemudian harus disetujui oleh Board of Director (atau ditolak, atau direvisi).
Para pekerja gereja sebagai eksekutif yang digaji.
Gembala, Rasul, Nabi, Guru, Penginjil diperlakukan sebagai eksekutif digaji bulanan dengan jumlah yang ditentukan khusus oleh Board of Director. Seperti pekerja di dunia bisnis, mereka bisa minta penyesuaian gaji, tapi semua ditentukan oleh Board of Director tanpa campur tangan Dewan Penasihat.
Para pemimpin pelayanan (musik, sunday school, akuntan gereja, dst) diperlakukan sebagai manajer perusahaan. (Kalau gereja mampu) mereka dikompensasi untuk pekerjaannya. Keputusan untuk memilih manajer jatuh pada eksekutif gereja, tapi kompensasinya diatur oleh Board of Director. Demikian juga dengan pengerja2 gereja. Jadi status mereka adalah pegawai gereja, bukan pelayan hamba Tuhan. Tanggung jawab mereka pada eksekutif (hamba Tuhan) tapi mereka bukan pelayan eksekutif.
Pekerjaan ekstra-gereja.
Tentunya seperti di dunia bisnis, orang yang bekerja di satu perusahaan boleh mengambil pekerjaan ekstra diluar perusahaan. Tapi seperti di dunia bisnis, nggak sembarangan mengambil pekerjaan diluar perusahaan yang bertentangan dengan tanggung jawab atau menghalangi penyelesaian tanggung jawab di perusahaan tersebut. Seorang pekerja bisa saja berbicara dalam speaking engagement disana sini, tapi Board of Director punya hak veto kalau misalnya si pekerja mengabaikan tugasnya di gereja.
Akuntan publik
Keuangan gereja, budget gereja semua dibuat, diaudit oleh akuntan publik, dan bisa diakses oleh para pemegang saham dan publik, seperti halnya perusahaan bisnis.
Extremes
Banyak ekstrim2 dari teori ini, contohnya, gereja gonta ganti pekerja (pendeta, etc) seperti perusahaan gonta ganti CEO. Tapi kalau misalnya gerejanya generally happy dengan kinerja pekerja pasti juga tidak akan gonta ganti. Malahan dengan system ini gonta-ganti pekerja bisa jalan lebih lancar, karena gereja tidak didefinisikan oleh satu dua orang tapi oleh seluruh pemegang saham.
Perang harga pekerja, seperti di dunia bisnis dimana ada perusahaan yang menawarkan 10 juta, ada yang 12 juta dst. Toh sekarang juga sudah terjadi diam2 di gereja karena emang kekurangan pekerja. Daripada diam2 mendingan keliatan dan transparan. Daripada resiko membayar jauh lebih besar daripada harga pasaran, mendingan membayar dengan harga pasaran yang disesuaikan dengan kemampuan gereja. Sama seperti orang tidak memilih perusahaan semata2 karena uang, para pekerja pasti juga mikir yang sama.
Seperti dunia bisnis, ada ajah perusahaan yang korup (kayak Enron), atau yang board of directornya lamban (kayak Disney), atau yang CEOnya memakan banyak uang padahal performancenya jelek. Sama seperti dunia bisnis, pemegang saham memutuskan dengan kaki mereka. Perusahaan yang tidak beres akan mati, perusahaan yang dijalankan secara baik akan berjalan dengan baik. Dengan kata lain, biarkan pasar yang menentukan.
Gimana kalau Gereja benar2 dijadikan sebuah Perseroan Terbatas (PT) ? Yah mungkin harus bayar pajak, tapi kalau dulu ijin membangun bangunan gereja dipersulit, apa ada alasan untuk mempersulit pembangunan kantor cabang PT. Jemaat Sukamaju yang akan digunakan untuk pertemuan umum pemegang saham setiap minggu ?
Apakah tertarik untuk jadi pemegang saham gereja semacam ini ?
Tambahan, komen, kritik sangat diharapkan.
~kepikbiru~