Welcome Guest Login or Signup
LIVE CHAT | IM LIST | BOOKMARK US | HELP GUIDE | LANGUAGE:


Go Back   Forum Diskusi Kristen Internasional > AP - DISKUSI ROHANI KRISTEN > Belajar Alkitab > Pengajaran Alkitab
Register FAQ Members List Calendar Search Today's Posts Mark Forums Read

Reply
 
LinkBack Thread Tools Display Modes
  #21 (permalink)  
Old 12th December 2007
Sola_Scriptura2007's Avatar
AP - Aspiring Evangelist
 
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
Sola_Scriptura2007 has a little shameless behaviour in the past
Default Roma 2:6-10 : Keadilan Allah Terhadap Tindakan Manusia-2

Seri Eksposisi Surat Roma :
Realita Murka Allah-9


Keadilan Allah Terhadap Tindakan Manusia-2

oleh : Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 2:6-10


Pada ayat sebelumnya, ayat 5, Firman Tuhan mengajarkan bahwa di dalam kemurahan-Nya, terkandung hukuman dan murka-Nya bagi mereka yang berhati keras dan tidak mau bertobat. Lalu, ayat ini dilanjutkan dengan pernyataan, “Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya,” Ayat ini hendak mengajarkan tentang Allah yang Mahaadil di samping Allah itu Mahakasih. Konsep ini tidak sedang mengajarkan bahwa keselamatan diperoleh karena perbuatan baik, tetapi konsep ini hendak mengajarkan tentang tanggung jawab manusia kelak di hadapan-Nya (2 Korintus 5:10). Apa yang Paulus ajarkan ini merupakan konsep yang sudah jelas dipaparkan di dalam tiga bagian Perjanjian Lama yaitu Mazmur 62:13, Amsal 24:12 dan Yeremia 32:19. Ketika Mazmur 62:13 mengajarkan tentang Allah yang membalas setiap orang menurut perbuatannya, konsep ini dikaitkan dengan kasih setia Allah (Mazmur 62:12-13, “Satu kali Allah berfirman, dua hal yang aku dengar: bahwa kuasa dari Allah asalnya, dan dari pada-Mu juga kasih setia, ya Tuhan; sebab Engkau membalas setiap orang menurut perbuatannya.”). Dan ketika Amsal 24:12 dan Yeremia 32:19 mengajarkan juga konsep Allah yagn membalas setiap orang menurut perbuatannya, konsep ini dikaitkan dengan Allah yang menguji kedalaman hati manusia (Amsal 24:12, “Apakah Dia yang menguji hati tidak tahu yang sebenarnya? Apakah Dia yang menjaga jiwamu tidak mengetahuinya, dan membalas manusia menurut perbuatannya?”). Dari kedua hal ini, kita mendapatkan suatu pengertian bahwa Allah yang Mahaadil dengan memberikan pahala kepada manusia menurut perbuatannya adalah Allah yang juga Mahakasih dan Mahatahu. Puji Tuhan, Allah yang kita sembah begitu agung, karena Allah kita tetap adalah Mahaadil tetapi di dalam keadilan-Nya, terdapat kasih-Nya. Keadilan-Nya menunjukkan kasih-Nya bagi manusia. Ketika Allah menegur dosa kita, tidak berarti Allah itu jahat atau kejam, melainkan Ia sangat mengasihi kita (Wahyu 3:19). Selain itu, keadilan-Nya juga menunjukkan bahwa Dia itu Mahatahu. KeMahatahuaan Allah menunjukkan kedaulatan-Nya yang mengetahui kedalaman hati manusia, sehingga manusia tidak dapat berdalih daripada-Nya (Roma 1:20). Dari sini, maka konsep deisme yang mengajarkan bahwa Allah tidak mempedulikan ciptaan-Nya itu jelas salah, karena di dalam ayat ini mengajarkan bahwa Allah menguji hati manusia.
Kemudian, ayat 6 ini dilanjutkan dengan penjelasan mengenai dua bentuk keadilan Allah terhadap tindakan manusia, yaitu kemuliaan bagi mereka yang hidup baik dan murka/penderitaan bagi mereka yang hidup tidak baik. Mari kita akan menyelidikinya.

Kedua bentuk pahala atau tindakan keadilan Allah bagi manusia ini berlaku bagi semua orang tanpa kecuali dan di dalam konteks penulisan kitab ini, orang-orang Yahudi dan Yunani. Ayat 7 dan 10 mengajarkan, “hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, …, kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani.” Dua ayat ini sengaja saya gabungkan agar kita mendapatkan makna orang pertama yang mendapatkan pahala dari Allah, yaitu orang baik. Orang-orang dunia selalu mengajarkan bahwa orang baik pasti mendapatkan surga, tetapi sebenarnya mereka tidak mengerti artinya orang baik. Di dalam kedua ayat ini, orang baik didefinisikan sebagai orang yang berbuat baik (Bahasa Indonesia Sehari-hari : “orang yang suka berbuat baik”) dan orang yang mengejar hal-hal yang tidak fana. Pertama, orang baik diartikan sebagai orang yang suka berbuat baik. Kalau kita mau meneliti lebih dalam, siapakah orang di dunia yang suka berbuat baik ? Bukankah orang-orang dunia lebih menyukai kalau orang lain berbuat baik bagi dirinya, sedangkan dirinya enggan berbuat baik bagi orang lain atau yang lebih parah lagi orang suka berbuat baik karena ingin mendapatkan “surga” ?! Atau bahkan ada orang dunia yang merasa diri berbuat baik tetapi karena tidak ada orang yang menyadarinya, maka orang yang telah berbuat baik itu mengatakan kepada orang lain bahwa dirinya sudah berbuat baik. Inikah berbuat baik ? Kalau ada seorang yang mengatakan bahwa dirinya sudah berbuat baik, di titik pertama, orang itu sudah tidak baik, karena orang yang berbuat baik tidak akan merasa diri baik. Tuhan Yesus pernah mengajarkan, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.” (Matius 9:12). Ayat ini dikatakan oleh Kristus sebagai respon terhadap perkataan orang-orang Farisi kepada para murid-Nya, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” (Matius 9:11). Perkataan ini dilontarkan oleh orang-orang Farisi karena mereka beranggapan bahwa orang-orang berdosa layak untuk dijauhi, sedangkan seharusnya Kristus duduk dan bergaul bersama mereka. Bagi Kristus, yang membutuhkan kebenaran dan Injil bukanlah orang-orang Farisi yang selalu menganggap diri baik, tidak berdosa, dll (yang sebenarnya lebih parah), tetapi orang-orang berdosa, seperti para pemungut cukai, dll. Orang-orang Farisi inilah gambaran orang-orang sombong di abad postmodern ini yang menganggap diri hebat, pintar, baik, dll lalu menghina Kristus, padahal sebenarnya mereka sedang menimbun murka-Nya pada diri mereka sendiri. Sedangkan para pemungut cukai dan orang berdosa lainnya mungkin di mata masyarakat mereka melakukan tindakan yang jijik, tetapi jika mereka dipanggil untuk datang kepada Kristus, itu jauh lebih baik daripada orang-orang Farisi dan orang-orang lain yang terus menipu diri dengan mengatakan bahwa dirinya sudah berbuat baik. Jadi, apakah standar orang bisa berbuat baik atau tidak ? Standarnya adalah anugerah Allah. Manusia bisa suka berbuat baik karena Allah menganugerahkan perbuatan baik itu di dalam dirinya. Anugerah Allah itu bisa berupa keselamatan yang telah diperolehnya secara cuma-cuma. Seseorang bisa suka berbuat baik karena ia telah menerima perbuatan baik dari luar, sehingga ia bisa mendemonstrasikan perbuatan baik yang sesungguhnya. Itulah seharusnya yang dilakukan oleh anak-anak Tuhan yang telah ditebus dan diselamatkan dari dosa melalui penebusan Kristus. Penebusan Kristus memungkinkan manusia pilihan-Nya mampu berbuat baik (Roma 12:1-2 ; 1 Korintus 6:20 ; Yakobus 2:26). Kedua, orang yang baik adalah orang yang mengejar hal-hal yang tidak fana. Hal ini digambarkan di dalam ayat 7 dalam Roma 2, yaitu, “mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan.” Hal-hal yang tidak fana ini dideskripsikan ke dalam tiga bentuk, yaitu, kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan. Albert Barnes di dalam tafsirannya, Albert Barnes’ Notes on the Bible mengemukakan, “Glory and honour and immortality - The three words used here, denote the happiness of the heavenly world.” (=Kemuliaan dan hormat dan ketidakfanaan. Ketiga kata yang digunakan di sini, berarti kebahagiaan dunia rohani/surgawi.) Orang baik bukan mengejar hal-hal yang fana, misalnya kekayaan, umur panjang, dll, tetapi mengejar hal-hal yang tidak fana, karena pada dasarnya orang baik sadar bahwa yang baik tidak mungkin bisa didapatkan dari dunia yang berdosa (tidak baik), tetapi dari Allah yang kekal. Hal-hal yang tidak fana ini digambarkan dalam bentuk pertama, yaitu kemuliaan (glory). Kata glory ini dalam bahasa Yunani doxa yang bisa diartikan pujian (praise), penyembahan (worship), kemuliaan (glory), dll. Dari arti ini, orang baik tidak mengejar pujian, penyembahan dan kemuliaan duniawi atau dari orang lain, tetapi mereka akan mengejar pujian dari Allah, karena itulah yang terpenting, sama seperti yang Paulus ajarkan, “Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” (Galatia 1:10). Anak-anak Tuhan perlu belajar bagaimana mencari pujian dan kesenangan hanya dari Allah saja, karena itulah yang paling berharga bagi mereka. Caranya ? Taat mutlak kepada perintah-Nya dan berani berkorban atas apa yang dituntut-Nya dari kita. Ketika kita mencari pujian dari Allah, kita sebenarnya mengetahui siapa yang kita percayai dengan sesungguh-sungguhnya. Sedangkan, ketika kita mulai bermain-main dan mencari pujian dari manusia, kita tidak sedang mempercayai Allah, tetapi diri sendiri (meskipun kita enggan mengatakannya secara terus terang). Bentuk kedua dari hal-hal yang tidak fana adalah hormat (Inggris : honour). Kata ini dalam bahasa Yunani timē bisa berarti nilai (value), harga diri (esteem), dll. Orang baik adalah orang yang mengejar nilai yang tinggi. Dari mana mereka mendapatkan nilai yang tinggi ? Mereka mendapatkannya ketika mereka sudah menemukan obyek sekaligus subyek nilai tertinggi dan meletakkan seluruh kehidupannya di dalam nilai tertinggi itu. Dunia kita sedang mengalami kebingungan nilai, sehingga tidak usah heran, mereka tidak mengerti nilai hidupnya sendiri. Tetapi puji Tuhan, di tengah-tengah kacaunya dunia, anak-anak Tuhan yang sudah memiliki nilai tertinggi yaitu Tuhan Allah sendiri dan karya penebusan Kristus, mereka pasti juga mampu mengejar nilai yang tinggi. Mereka akan mampu menilai apapun yang ada di dunia bukan dengan kacamata sekular/duniawi yang fana, tetapi dari kacamata surgawi atau kedaulatan Allah. Inilah sudut pandang theologia Reformed. Theologia Reformed yang sudah menemukan jangkar nilai yang tinggi tidak akan pernah mau menilai segala sesuatu dengan kacamata dunia, tetapi dari perspektif kedaulatan Allah. Itu pulalah yang membedakan orang-orang Kristen yang merupakan anak-anak Tuhan dengan orang-orang “Kristen” palsu yang selalu anti Tuhan di dalam kehidupan sehari-hari (atheisme praktis). Bentuk ketiga dari hal-hal yang tidak fana, yaitu ketidakbinasaan (Inggris : immortality). Kata ini di dalam bahasa Yunani aphtharsia bisa berarti unending existence (keberadaan yang tiada akhirnya). Ini berarti orang baik tidak terus mengejar kekayaan, kenikmatan duniawi, seks, dll, tetapi mengejar apa yang bernilai kekekalan yang tidak mungkin hilang dimakan waktu. Tuhan Yesus juga mengajarkan, “carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33) Bagi anak-anak Tuhan, Kerajaan Allah dan kebenarannya menjadi satu-satunya nilai ultimat yang harus dikejar, karena itu bernilai kekekalan dan tidak mungkin bisa hilang. Kristus juga mengajarkan, “Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” (Matius 6:20). Harta di sorga yang dimaksud oleh Kristus adalah Kerajaan Allah dan kebenarannya (ayat 33). Tidak berarti kita tidak perlu mencari uang, dll. KeKristenan memperbolehkan manusia itu kaya, tetapi hendaklah kekayaan itu tidak menjadi ilah di dalam hidup anak-anak Tuhan. KeKristenan juga tidak melarang orang mencari dan mendapatkan uang, tetapi hendaklah uang itu tetap ada di bawah kontrol manusia untuk memuliakan Allah.

Bagi orang-orang baik inilah, Paulus mengatakan bahwa mereka memperoleh, “hidup kekal, kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera.” Keempat pahala dari Allah ini murni hanya bisa diberikan oleh Allah yang kekal. Dunia kita tidak mampu memberikan hidup kekal, karena dunia sendiri bersifat sementara. Begitu pula halnya dengan kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera yang tidak mungkin diberikan oleh dunia, karena dunia sendiri berdosa, najis dan penuh konflik. Keempat pahala ini melampaui dan berbeda total dari apa yang dunia bisa berikan. Pahala ini tidak boleh menjadi perangsang kita untuk berbuat baik, tetapi hanya mengingatkan kita. Kita bisa berbuat baik, karena Allah lah yang mengerjakan perbuatan baik itu di dalam diri kita (Filipi 2:13). Tindakan Allah yang mengerjakan perbuatan baik itu di dalam diri kita tetap harus kita responi dengan menaati-Nya secara mutlak. Ingatlah, iman harus disertai perbuatan karena tanpa perbuatan baik yang beres yang dihasilkan dari iman yang sejati, maka iman itu sia-sia adanya.

Sedangkan, pada ayat 8 dan 9, Paulus memperingatkan, “murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman. Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani,” Kedua ayat ini merupakan suatu kontras yang jauh dari ayat 7 dan 10 (orang baik). Kedua ayat ini sedang berbicara dua kriteria dari orang jahat, yaitu orang yang berbuat jahat (Bahasa Indonesia Sehari-hari : “orang yang suka berbuat jahat”) dan orang yang melawan Allah. Pertama, orang jahat adalah orang yang suka berbuat jahat. Kata “suka” menjadi kata yang bagi saya cukup penting, karena kata ini mengindikasikan adanya suatu keinginan di dalam hati manusia yang menyenangi perbuatan jahat. Kesukaan berbuat jahat timbul sebagai akibat dari dosa. Ketika Hawa mulai meragukan perintah Allah setelah mendengarkan perkataan iblis bahwa pada saat ia memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat, ia tidak akan mati, pada saat itu Hawa sedang meluapkan perasaan hati yang jahat. Dari peristiwa itu, Alkitab mengatakan bahwa Adam pun juga suka melakukannya dan pada zaman Nuh, orang-orang juga suka melakukan perbuatan jahat. Dosa mengakibatkan manusia buta terhadap apa yang (sudah, sedang dan akan) dilakukannya. Kedua, orang jahat bukan hanya suka berbuat jahat, tetapi juga melawan Allah. Tindakan melawan Allah ini digambarkan dalam dua bentuk, yaitu, pertama, mencari kepentingan sendiri atau mementingkan diri sendiri dan kedua, taat kepada kelaliman (tidak taat kepada Allah). Orang jahat bukan hanya orang yang mencuri, merampok, dll, tetapi orang yang pada intinya melawan Allah untuk memuaskan keinginannya sendiri. Inilah gambaran yang Paulus nubuatkan di dalam 2 Timotius 4:3-4, “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” Seorang yang suka mementingkan diri sendiri tentulah orang yang sedang melawan Allah, karena bukan kehendak Allah yang diutamakannya, tetapi kehendaknya sendiri. Bedakanlah orang-orang Kristen sejati yang terus-menerus ingin mencari kehendak-Nya dan bersedia ditegur dosanya ketika mereka berbuat dosa/salah (asalkan sesuai dengan Alkitab), sebaliknya orang-orang “Kristen” palsu terus-menerus ingin mencari kehendaknya sendiri agar diterima (kalau perlu dipaksakan) oleh orang lain dan jika orang ini ditegur, orang ini pasti marah, karena “privasi”nya sedang diganggu. Mereka bukan hanya mementingkan diri sendiri, tetapi juga sedang menaati kelaliman (Yunani : adikia ; Inggris : injustice) atau tidak menaati Allah. Itulah esensi sebenarnya dari dosa. Dosa bukan sekedar membunuh, tetapi dosa adalah tidak taat kepada perintah-Nya atau melawan perintah-Nya.

Bagi merekalah, Allah menjatuhkan, “murka dan geram, penderitaan dan kesesakan”. Mungkin ada orang Kristen yang bertanya bukankah di dalam kitab Mazmur diajarkan bahwa orang jahat kelihatannya makmur, sedangkan orang baik kelihatannya menderita, lalu mengapa di dalam bagian ini mengatakan hal yang berkontradiksi ? Perhatikan. Mungkin saja orang jahat kelihatannya makmur, tetapi sejujurnya di dalam hati mereka yang terdalam, mereka sedang menderita dan tersesak. Mereka yang berbuat jahat akan diliputi oleh desakan hati nurani yang tidak habis-habis yang menghakimi mereka. Itulah titik awal penderitaan dan kesesakan bagi mereka. Lalu, titik ini akan berakhir kelak pada hari Penghakiman Anak Domba ketika mereka semua yang berbuat jahat pasti mengalami kematian kedua di dalam neraka. Sedangkan, mereka yang berbuat baik (anak-anak Tuhan di dalam Kristus) mungkin seolah-olah kelihatannya (harus) menderita, tetapi mereka sebenarnya sedang menantikan janji kedatangan Kristus yang kedua yang akan menjemput mereka untuk menikmati kesukacitaan kekal bersama-Nya.

Hari ini, setelah kita mendengarkan berita Firman bahwa Allah kita adalah Allah yang Mahaadil yang akan memberikan pahala bagi anak-anak-Nya sesuai perbuatannya, maukah kita bertobat dan kembali taat kepada-Nya ketika kita mulai menyimpang dari jalan-Nya ? Amin. Soli Deo Gloria.
Reply With Quote
  #22 (permalink)  
Old 19th December 2007
Sola_Scriptura2007's Avatar
AP - Aspiring Evangelist
 
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
Sola_Scriptura2007 has a little shameless behaviour in the past
Default Roma 2:11-12 : Standar Penghakiman Allah, Pentingnya Penginjilan dan Pembinaan

Seri Eksposisi Surat Roma :
Realita Murka Allah-10


Standar Penghakiman Allah, Pentingnya Penginjilan dan Pembinaan

oleh : Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 2:11-12


Sebagai konklusi dari ayat 7-10, Paulus mengajarkan satu prinsip, “Sebab Allah tidak memandang bulu.” atau terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari, “Sebab Allah memperlakukan semua orang sama.” Allah yang tidak memandang bulu atau tidak pilih kasih bagi Paulus adalah Pribadi Allah yang Mahaadil, seperti yang dikutipnya dari Kitab Ulangan 10:17, “Sebab TUHAN, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap;” (terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari, “TUHAN Allahmu ada di atas segala ilah dan melebihi segala kuasa. Ia Allah yang agung dan berkuasa yang harus ditaati. Ia tidak suka berpihak dan tidak juga menerima suap.”) Selain keadilan Allah, Musa juga mengungkapkan dua prinsip, yaitu keMahakuasaan Allah dan kedahsyatan Allah. Allah yang tidak memandang bulu juga berarti Allah yang tidak menerima suap. Itulah Allah Israel yaitu Yehovah yang juga kita sembah di dalam Allah Trinitas yang menyatakan diri di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Allah yang tidak memandang bulu adalah Allah yang tetap menghukum anak-anak-Nya yang tidak taat kepada-Nya dan menuntun mereka yang belum mengenal-Nya agar nantinya dapat mengenal-Nya. Bangsa Israel meskipun sudah menerima panggilan Allah dan terikat di dalam perjanjian dengan-Nya, ternyata melanggar perjanjian itu dengan terus mempermainkan Allah. Bagi Israel, Allah hanya bisa ditipu dengan upacara-upacara ritual agamawi, tetapi Allah di Surga marah melihat kelakuan mereka yang munafik, lalu mengutus para nabi-Nya menegur dosa Israel. Hanya sebentar mereka bertobat, lalu mereka kembali berbuat dosa lagi, sambil mereka tetap rajin mempersembahkan korban. Pada saat Kristus berinkarnasi ke dalam dunia, kemunafikan orang-orang Yahudi khususnya orang-orang Farisi diperingatkan secara keras, tetapi mereka tetap bersikukuh pada keyakinan mereka, sampai-sampai menyalibkan Kristus di Golgota. Murka Allah melalui pembuangan Israel ke Babel dan negara-negara kafir tidak juga membuat orang-orang Israel sadar dan bertobat, tetapi malahan menjadi-jadi. Di dalam Roma 11:7, Paulus mengungkapkan kondisi orang Israel yang terus-menerus berdosa ini, “Israel tidak memperoleh apa yang dikejarnya, tetapi orang-orang yang terpilih telah memperolehnya. Dan orang-orang yang lain telah tegar hatinya,” (terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari, “Umat Israel tidak mendapat apa yang mereka cari. Yang mendapatnya hanyalah segolongan kecil orang-orang yang telah dipilih oleh Allah. Yang lain semuanya menjadi keras kepala terhadap panggilan Allah.”) Allah melalui Paulus menyatakan bahwa umat perjanjian yang sejak Perjanjian Lama hanya diakui menjadi milik orang-orang Israel, sekarang menjadi milik beberapa orang pilihan Allah. Umat perjanjian Allah bukan lagi terbatas pada Israel, tetapi semua gereja-Nya. Hukuman ini diterima Israel dari Allah untuk menunjukkan kedahsyatan kuasa-Nya, keadilan dan kekuasaan-Nya. Kalau pada zaman dahulu Allah dapat menghukum umat-Nya, Israel, maka Allah juga bisa menghukum anak-anak-Nya di zaman sekarang untuk memurnikan iman dan pengertian kita sehingga kita bisa memiliki iman yang dewasa dan bertumbuh, seperti yang diwahyukan-Nya kepada Rasul Yohanes di dalam Wahyu 3:19, “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!” Kata “kasih” yang digunakan di sini dalam bahasa Yunani phileō menunjukkan arti kasih persaudaraan. Kasih-Nya yang ditunjukkan dengan menegur dan menghajar kita adalah BUKAN tindakan dendam tetapi tindakan kasih Allah sebagai saudara kita. Tahukah Anda kasih persaudaraan ? Kasih persaudaraan adalah kasih yang mengikat di dalam ikatan persaudaraan, di mana ketika ada saudara yang menderita, saudara lain ikut merasakan kesedihan dan berusaha meringankannya. Begitu pula halnya dengan Allah. Ketika kita menderita (dalam hal ini dosa), Allah juga ikut menderita dan sedih, sehingga Ia dengan rela hati meskipun sakit harus mencambuk kita demi meringankan penderitaan kita yaitu dosa (saya menyebut dosa sebagai penderitaan karea dosa itu membuat diri terikat).

Jangan persamakan manusia dunia yang berdosa dengan Allah. Ketika kita berbuat jahat (misalnya membunuh, dll), mungkin hakim yang mengadili kita bisa kita suap agar masalah kita segera dibereskan, tetapi kelak kita harus mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan di dunia ini di hadapan takhta pengadilan Allah yang Mahaadil. Allah tidak pernah mungkin bisa disuap karena Ialah Sumber Keadilan. Inilah satu-satunya standar penghakiman yang mengutamakan keadilan. Di luar standar ini, tidak ada ukuran keadilan sejati. Oleh karena itu, sebagai anak-anak Allah, ingatlah prinsip standar penghakiman Allah yang adil ini dan janganlah bermain-main dengan dosa.

Lebih lanjut, Paulus mengungkapkan penjelasan tentang standar penghakiman Allah, “Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat.” atau terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari, “Orang-orang bangsa lain berdosa tanpa mengetahui hukum agama Yahudi. Jadi mereka dihukum di luar hukum itu. Tetapi orang-orang Yahudi berdosa sesudah mengetahui hukum itu; sebab itu mereka akan dituntut juga berdasarkan hukum itu.” Ada dua kategori perluasan dari standar penghakiman Allah yang satu, yaitu bagi orang non-Yahudi dan Yahudi. Sebenarnya, standar penghakiman Allah itu satu dan berlaku universal, tetapi dalam hal ini, Paulus sengaja membedakannya (tanpa memisahkannya). Bagi orang-orang non-Yahudi yang berdosa tanpa mengenal hukum Taurat, mereka akan binasa (Inggris : perish/destroy) tanpa hukum Taurat, tetapi bagi orang-orang Yahudi yang mengenal Taurat tetapi masih berdosa, mereka hanya akan dihakimi (judged) oleh hukum Taurat. Standar penghakiman Allah tetap adalah Wahyu Allah di dalam hati nurani yang tertulis di dalam hati manusia (wahyu umum Allah) jika mereka belum mendengar Injil Kristus. Standar ini yang meliputi wahyu Allah bisa dibedakan menjadi dua (tanpa dipisahkan), yaitu wahyu Allah secara umum dan khusus. Wahyu Allah secara umum berupa hati nurani dan respon manusia terhadapnya melalui agama yang bisa dipolusi oleh dosa. Dan kedua, wahyu Allah secara khusus, yaitu Taurat dan Injil. Taurat dikatakan wahyu khusus karena Taurat diwahyukan Allah secara langsung kepada umat pilihan-Nya, Israel, sehingga ketika bangsa Israel masih saja berdosa, mereka tetap dihukum meskipun tidak seberat hukuman orang-orang di luar Israel yang tidak mengenal Taurat. Inti semuanya bukan Taurat, tetapi Pribadi Kristus (bandingkan ayat 16 di dalam pasal 2) yang akan bertindak sebagai Hakim yang adil.

Di zaman postmodern di mana suara murka dan keadilan serta penghakiman-Nya sudah tidak terdengar akibat budaya relativisme yang me“mutlak”kan kerelatifan etika, dll, maka sudah seharusnya orang-orang Kristen pilihan tidak lagi mengikuti arus dunia, tetapi keluar menjadi terang Kristus yang menyuarakan masih berlakunya penghakiman Allah bagi mereka yang tidak mau bertobat dan kembali kepada Kristus. Ketika kita sudah mengerti bahwa Allah kita adalah Api yang menghanguskan dan Allah kita juga Mahaadil dan Hakim, maka ada tiga tindakan yang harus kita lakukan. Pertama, mengintrospeksi diri. Pengetahuan kita tentang doktrin Allah ini tidak boleh hanya menjadikan rasio kita paham dan mengerti saja, tetapi harus memperbaharui seluruh kehidupan kita. Sebagaimana yang diajarkan di dalam Wahyu 3:19, tindakan memperbaharui kehidupan kita meliputi dua hal, yaitu merelakan hati untuk dikoreksi oleh Firman Tuhan disusul dengan tindakan bertobat. Tindakan pertama memperbaharui hidup kita adalah merelakan hati atau memiliki hati yang hangat atau bersemangat ketika mendengar teguran Firman Tuhan. Hati ini hanya bisa dimiliki oleh umat pilihan-Nya. Anak-anak Tuhan sejati memiliki hati yang rela dibentuk dan ditegur dosanya oleh Firman, karena mereka sadar bahwa tanpa Allah, mereka tak bisa berbuat apa-apa. Tindakan kedua setelah merelakan hati untuk ditegur oleh Firman yaitu bertobat. Kata “bertobat” di dalam ayat ini (Wahyu 3:19) dalam bahasa Yunani metanoeō berarti think differently (berpikir secara berbeda). Bertobat tidak hanya menangis minta ampun, melainkan suatu tindakan komitmen ingin memperbaiki hidup yang berbeda dari hidup yang lama (Roma 12:2). Dengan kata lain, bertobat adalah kunci menuju kepada kehidupan yang terus-menerus diperbaharui oleh Roh Kudus. Pertobatan ini disusul dengan suatu komitmen pribadi dengan bantuan Roh Kudus untuk mau hidup suci dan berkenan di hadapan-Nya. Komitmen ini bisa ditandai dengan kerajinan kita membaca Firman Allah untuk bersedia dikoreksi, diajar dan dihibur ditambah aktivitas doa sebagai sarana mendewasakan dan mempertumbuhkan hubungan kita dengan Allah sehingga melalui doa, kita semakin lama dibentuk oleh Allah dan Firman-Nya sesuai kehendak-Nya. Kedua, memberitakan Injil. Sesudah kita mengintrospeksi diri kita, kita tidak boleh egois hanya menginginkan kita saja yang menerima, mengalami dan mengenal Kebenarna, kita pun harus membagikannya kepada orang lain yang belum mendengar Injil. Pemberitaan Injil adalah buah nyata kita benar-benar memiliki hidup yang sudah diubahkan. Pemberitaan Injil bukan hanya meliputi kasih Allah, tetapi juga murka dan keadilan Allah bagi mereka yang menolak Injil. Ingatlah, Injil tidak hanya meliputi satu sisi berita yang dipotong sebagian, tetapi Injil meliputi dua hal, yaitu kasih pengampunan Allah di dalam Kristus bagi manusia berdosa sekaligus ada murka Allah bagi mereka yang sengaja menolak Kristus (Yohanes 3:16-18). Ketiga, selain penginjilan, kita tetap harus memperhatikan apa yang kita ajarkan selanjutnya baik di dalam Injil yang kita beritakan maupun yang kita ajarkan di dalam pembinaan bagi orang-orang Kristen baru. Ingatlah prinsip bahwa penginjilan harus disertai dengan pembinaan. Penginjilan tanpa pembinaan lebih lanjut akan mengakibatkan para petobat baru hanya mengenal Kristus secara dangkal. Di dalam pembinaan, kita yang sudah terjun di dalam bidang penginjilan harus lebih benar-benar mempersiapkan diri agar apa yang kita ajarkan bukan berdasarkan apa yang kita mengerti melalui pikiran kita yang terbatas, tetapi sungguh-sungguh murni apa yang Alkitab ajarkan sendiri (menggabungkan antara iman yang rasional dengan iman yang melampaui rasio manusia). Jangan bermain-main dengan pengajaran yang kita ajarkan, karena, “sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi.” (1 Petrus 4:17). Marilah kita memperingatkan peringatan Paulus kepada Timotius, “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.” (1 Timotius 4:16). Penghakiman Allah pertama-tama tiba kepada umat Allah karena kita lah yang telah menerima anugerah dan wahyu khusus dari Allah itu, sehingga ketika kita tidak mempertanggungjawabkan anugerah itu, maka Allah tidak segan-segan menghukum kita.
Setelah kita merenungkan dua ayat ini saja, adakah hati kita merasa ditegur oleh Roh-Nya yang kudus ? Adakah kita berkomitmen agar kita tidak lagi berkanjang di dalam dosa mengingat akan kasih-Nya yang begitu besar telah dilimpahkan kepada kita di dalam Kristus? Kita bisa tidak lagi berbuat dosa bukan karena Allah menghukum kita, tetapi kita bisa menolak melakukan dosa karena ada anugerah Allah yang telah mengampuni dosa-dosa kita di dalam pengorbanan Kristus. Adakah kita mau kembali kepada-Nya ? Soli Deo Gloria. Amin.
Reply With Quote
  #23 (permalink)  
Old 3rd January 2008
Sola_Scriptura2007's Avatar
AP - Aspiring Evangelist
 
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
Sola_Scriptura2007 has a little shameless behaviour in the past
Default Roma 2:13 : Standar Penghakiman Allah : Esensi atau Fenomena ?

Seri Eksposisi Surat Roma :
Realita Murka Allah-11


Standar Penghakiman Allah : Esensi atau Fenomena ?

oleh : Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 2:13.


Setelah kita merenungkan standar penghakiman Allah bagi orang-orang Yahudi dan non-Yahudi berdasarkan Taurat, maka kita akan beralih kepada pembahasan mengenai di dalam penghakiman Allah, apakah yang menjadi standarnya, apakah sekedar fenomena keberagamaan atau esensi dari keberagamaan itu sendiri ? Untuk itulah, pada ayat 13, Paulus mengatakan, “Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan.” Sebenarnya di dalam terjemahan King James Version, ayat 13-15 berada di dalam tanda kurung yang menunjukkan kemungkinan ketiga ayat ini tidak terdapat di dalam naskah asli Alkitab (terjemahan English Standard Version dan International Standard Version tidak memberikan tanda kurung kepada ketiga ayat ini) yang tetap mengajarkan alasan mengapa orang berdosa tetap harus dihukum dengan standar Taurat (yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa Taurat, sedangkan yang berdosa di bawah Taurat akan dihakimi menurut Taurat). Pada perenungan kali ini, saya hanya akan membahas ayat 13 dari ketiga ayat (13 s/d 15), yang merupakan intisari dari ketiga ayat itu. Ayat 13 menurut terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) mengartikan, “Sebab orang berbaik kembali dengan Allah, bukan karena orang itu sudah mengetahui hukum agama Yahudi, melainkan karena ia melakukan apa yang tercantum dalam hukum itu.” dan juga menurut King James Version, ayat ini diterjemahkan, “For not the hearers of the law are just before God, but the doers of the law shall be justified.” Perhatikan kedua tindakan yang dipaparkan Paulus di dalam ayat 13 ini, yaitu mereka yang hanya mendengar (hearers/hear) Taurat dan mereka yang melakukan Taurat. Kata “mendengar” dalam ayat ini dalam bahasa Yunani akroatēs yang identik dengan listen (mendengar dengan seksama). Kata ini berasal dari akar kata Yunani akouō yang juga bisa berarti understand (mengerti). Dengan kata lain, Paulus ingin mengatakan bahwa bukan orang yang hanya mendengar sambil mengerti Taurat yang dibenarkan. Bagi Paulus, Taurat dan kebenaran firman Allah bukan hanya menguasai rasio dan pengertian saja, tetapi juga menguasai seluruh hidup manusia. Mendengar untuk mengerti tidaklah salah, karena Rasul Yakobus sendiri mengingatkan, “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;” (Yakobus 1:19). Kata “mendengar” yang dipakai di dalam Yak. 1:19 ini adalah kata Yunani akouō yang juga bisa berarti mengerti. Lalu, kata “cepat” bisa diterjemahkan segera/siap (ready) selain swift to (tangkas/cepat). Dengan kata lain, Yakobus ingin mengingatkan orang Kristen bahwa sebelum bertindak maupun berkata apapun, hendaklah kita harus cepat dan siap untuk mendengar. Mendengar apa ? Gosip atau fitnahan? TIDAK. Ayat 21 di dalam Yakobus 1 ini memberitahukan bahwa kita harus mendengar firman dengan menerimanya dengan lembut hati/kelembutan/kesabaran. Bahkan, Rasul Paulus sendiri berkata, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17). Kata “mendengar” (KJV / ESV : hearing ; ISV : listening) di dalam Roma 10:17 ini menggunakan kata Yunani akoē yang berarti tindakan atau pengertian atau sesuatu yang didengar (kata ini merupakan perluasan dari kata Yunani akouō). Iman sejati timbul dari mendengar (tentu mendengar sambil mengerti apa yang didengar), dan pendengaran ini didasarkan pada berita tentang Kristus (firman Kristus). Salomo juga pernah mengatakan perihal tentang pentingnya mendengar, “Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya.” (Amsal 18:13). Dengan kata lain, dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, tindakan mendengar adalah sesuatu yang penting, karena mendengar adalah tindakan awal sebelum berkata-kata dan bertindak sesuatu. Mendengar ini tentu melibatkan unsur kognitif/pengetahuan. Ketika kita mendengar tanpa menggunakan rasio, maka kita hanya mendengar tanpa mengerti makna. Bahasa Inggris membedakan kedua kata di dalam satu arti “mendengar”, yaitu hear (mendengar tanpa mengerti atau mendengar sepintas lalu) dan kata kedua, listen (mendengar dengan seksama). Contoh untuk kata listen adalah Adi mendengarkan radio : Adi listens/is listening to the radio (tidak menggunakan : Adi hears/is hearing the radio), karena mendengarkan radio bukan dilakukan dengan sepintas lalu, tetapi dengan seksama. Mendengar firman tentu bukan sekadar mendengar sepintas lalu, tetapi mendengar sambil mengerti esensi firman. Tetapi cukupkah kita hanya mendengar dan mengerti firman ? Yang Tuhan perhatikan bukan pada rasio manusia, tetapi pada hati mereka. Kegagalan utama para ahli Taurat pada waktu itu adalah mereka mendengar Taurat sejak kecil dan menghafalkannya bahkan setelah menjadi dewasa mereka berani mengajarkan Taurat, tetapi yang patut disayangkan mereka masih belum mengerti esensi Taurat. Dengan kata lain, mendengar dan mengerti tidaklah cukup, oleh karena itu, Paulus mengajarkan bahwa orang yang melakukan Taurat itulah yang dibenarkan di hadapan Allah. Hal ini pula yang dipaparkan oleh Yakobus setelah membahas pentingnya mendengar Firman (ayat 19-21), yaitu pentingnya melakukan Firman, “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” (Yakobus 1:22) Kata “pelaku” di dalam Yak. 1:22 maupun Roma 2:13 ini sama-sama menggunakan kata Yunani poiētēs yang berasal dari akar kata Yunani poieō yang bisa diartikan menyetujui, melaksanakan, dll. Dengan demikian, tindakan melakukan firman atau Taurat bukan hanya melakukan tanpa pengertian, tetapi melakukan dengan pengertian karena mereka melakukannya setelah menyetujuinya. Bagi Yakobus, mendengar tanpa melakukan itu sama saja dengan menipu diri sendiri, karena mereka yang mendengar hanya pintar beradu logika, tetapi tindakan mereka nol besar atau mereka tidak melakukan tindakan baik sesuai kehendak Allah. Hal ini dipaparkan Yakobus kembali di ayat 23-24 di dalam Yakobus 1, “Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya.” Inilah yang Yakobus maksudkan dengan menipu diri sendiri, yaitu seorang yang setelah mengamati mukanya di depan cermin, lalu melupakannya. Demikian pula, seorang yang hanya mendengar Firman dan mengertinya, tetapi tidak melakukannya, sama saja orang ini tidak mengerti Firman, karena pengertiannya hanya berhenti di otak saja. Kita seringkali rindu belajar theologia dan Alkitab secara teliti dan mendalam. Hal ini tidak salah dan malah wajib bagi orang-orang Kristen yang menyebut diri sebagai pengikut Kristus yang ingin menyenangkan hati-Nya. Bagaimana kita bisa menyenangkan hati-Nya kalau kita tidak mengenal diri dan firman-Nya secara bertanggungjawab ? Tetapi hanya mengenal diri dan firman-Nya secara kognitif saja tidak cukup, orang-orang Kristen sejati harus melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya di dalam firman-Nya. Firman-Nya ini tercakup ke dalam perintah-perintah-Nya (Taurat) yang harus dikerjakan oleh anak-anak-Nya dengan kasih karena Kristus telah menebus kita dengan kasih-Nya sehingga kita dimampukan menaati hukum-hukum Allah (Taurat) bukan dengan terpaksa, tetapi dengan kasih. Banyak orang Kristen mengira bahwa setelah diselamatkan oleh karya penebusan Kristus, kita tidak perlu lagi menjalankan Taurat. Itu anggapan yang salah. Taurat tetap penting, karena bagi Calvin, Taurat itu pedoman yang menuntun perilaku kita sehari-hari. Kalau Taurat tidak penting, maka saat ini orang Kristen boleh membunuh, mencuri, berzinah, dll, padahal hal-hal itu dilarang di dalam Taurat. Tidak ada salahnya kita mematuhi Taurat, tetapi kita tidak mematuhi Taurat untuk diselamatkan, tetapi sebagai respon kita yang telah diselamatkan. Demikian halnya, kita berbuat baik bukan untuk diselamatkan, tetapi sebagai respon dan pertanggungjawaban kita setelah kita diselamatkan oleh karya penebusan Kristus. Itulah yang saya sebut sebagai melakukan Firman dengan pengertian yang bertanggungjawab. Lalu, kita menjalankan apa yang Taurat perintahkan dengan berbuat baik, dll sesuai kehendak Allah itu dengan rasa kasih, karena kita telah ditebus oleh Kristus dengan kasih-Nya. Kasih Kristus yang berkorban ini memampukan kita juga memiliki kasih di dalam menaati apa yang Tuhan perintahkan. Melakukan Taurat yang dimaksudkan di sini meliputi segala hal, yaitu, perkataan, tindakan dan cara pikir kita harus sesuai dengan maksud dan kehendak-Nya. Di dalam perkataan, misalnya, kita tidak boleh mengucapkan saksi dusta, atau berbicara sekehendak hatinya. Hal ini dipaparkan Yakobus di dalam ayat 26 di dalam Yak. 1, “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.” Lalu, di dalam pikiran, kita tidak boleh berpikiran yang jorok dan najis di hadapan-Nya. Kita harus memiliki pikiran yang dikuduskan (sanctified mind). Hal ini juga diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri tentang dosa pikiran, “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” (Matius 5:28). Hal ini diungkapkan oleh Tuhan Yesus sebagai perluasan makna esensi dari kata “Jangan berzinah” (Mat. 5:27). Tuhan Yesus mereinterpretasi Taurat dengan pengertian-Nya, karena Ialah yang menciptakan Taurat itu dan Ia berhak menjelaskan ulang makna asli dari setiap perkataan Taurat. Di dalam tindakan, kita juga dilarang oleh Taurat untuk membunuh, mencuri, dll. Lebih lanjut, Allah sendiri berfirman alasan kita tidak boleh membunuh, “Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri.” (Kejadian 9:6). Ingatlah, semua perintah di dalam Taurat ini termuat di dalam satu esensi yang paling penting yang Tuhan Yesus sabdakan sendiri, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Matius 22:37-40). Inti hukum Taurat BUKAN keterpaksaan atau ancaman hukuman tetapi kasih. Melakukan Taurat dan Firman Allah harus dengan kasih dan kasih itu sudah diteladankan oleh Tuhan kita Yesus Kristus yang rela berkorban bagi kita. Itulah makna kasih sejati yang memungkinkan kita terus-menerus melakukan apa yang Allah inginkan dengan perasaan kasih bukan keterpaksaan. Oleh karena itu, di dalam Khotbah di Bukit, Tuhan Yesus pernah bersabda, “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” (Matius 5:10-12). Anak-anak Tuhan yang dapat menerima aniaya dan penderitaan karena nama Kristus itulah bukti nyata bahwa mereka bukan hanya mengerti firman Tuhan secara kognitif tetapi menjalankannya dengan menerima resiko sambil bersyukur kepada Tuhan. Seorang yang tidak mau menyangkal diri dan memikul salib sambil mengikut-Nya bukanlah menunjukkan seorang Kristen sejati yang melakukan firman-Nya. Seorang “Kristen” yang selalu mengkompromikan berita Alkitab, pastilah mereka bukan orang Kristen yang mengerti Firman, karena mereka tidak melakukan apa yang Allah perintahkan untuk taat kepada-Nya dan menTuhankan Kristus.
Setelah kita merenungkan ayat 13 ini, sudahkah kita sadar bahwa pengertian ini barulah lengkap dan menyeluruh ketika kita mendengar, mengerti sambil melakukan firman Allah ? Lalu, sadarkah kita bahkan melakukan firman Tuhan ini harus dengan perasaan kasih dan hati yang menyenangkan Allah ? Ingatlah, Tuhan melihat hati manusia, bukan fenomena luar manusia. Amin. Soli Deo Gloria.
Reply With Quote
  #24 (permalink)  
Old 9th January 2008
Sola_Scriptura2007's Avatar
AP - Aspiring Evangelist
 
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
Sola_Scriptura2007 has a little shameless behaviour in the past
Default Roma 2:14-16 : Standar Penghakiman Allah : Esensi atau Fenomena ?-2

Seri Eksposisi Surat Roma :
Realita Murka Allah-12


Standar Penghakiman Allah : Esensi atau Fenomena ?-2

oleh : Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 2:14-16.


Setelah kita merenungkan standar penghakiman Allah bagi orang-orang Yahudi dan non-Yahudi berdasarkan Taurat di mana Tuhan tidak tertarik kepada hal-hal fenomenal, tetapi Ia melihat hati manusia yang mau taat menjalankan apa yang Ia perintahkan, maka Paulus menjelaskan ayat 13 dengan lebih gamblang tentang standar penghakiman Allah yang lebih memperhatikan esensi ketimbang fenomena. Di ayat 14, Paulus mengajarkan, “Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri.” atau Bahasa Indonesia Sehari-hari menerjemahkan, “Orang-orang bangsa lain tidak mengenal hukum agama Yahudi. Tetapi kalau mereka atas kemauan sendiri melakukan apa yang diperintahkan oleh hukum itu, hati mereka sendirilah yang menjadi hukum untuk mereka, meskipun mereka tidak mengenal hukum agama Yahudi.” Kalau di ayat 13, Paulus menjabarkan bahwa Allah menghakimi manusia berdasarkan tindakan ketaatan manusia, maka di ayat 14 ini, Paulus menjelaskan tentang ketaatan manusia yang bukan Yahudi kepada Allah Israel. Kata “bangsa-bangsa lain” di dalam terjemahan Inggris berarti Gentiles yang identik dengan orang-orang kafir atau orang-orang non-Yahudi. Bagi orang-orang Yahudi, di luar Yahudi dan Taurat, tidak ada keselamatan. Oleh karena itu, mereka menghina orang-orang non-Yahudi sebagai orang kafir dan orang-orang buangan Allah, lalu mereka menganggap diri hebat, suci, benar, dll, karena mereka sudah memiliki Taurat. Padahal Taurat diwahyukan oleh Allah bukan sebagai bahan atau sesuatu untuk disombongkan. Melalui Taurat, Allah ingin semua bangsa di luar Israel mendengarkan kabar baik, tetapi sayangnya berita Taurat dimonopoli hanya oleh orang-orang Israel saja lalu menghina mereka yang bukan Yahudi (baik secara agama maupun bangsa). Kita pun seringkali melakukan apa yang orang-orang Yahudi lakukan. Sebagai orang Kristen, kita sudah mendapatkan jaminan anugerah keselamatan kekal dari Allah di dalam Kristus, tetapi herannya anugerah ini kita simpan terus-menerus dan tidak pernah kita bagikan dan beritakan kepada mereka yang belum mendengar berita Injil. Banyak dari kita menganggap bahwa kita tidak perlu menginjili, karena orang-orang di luar Kristus itu layak dibinasakan. Memang benar bahwa di luar Kristus tidak ada jalan keselamatan, tetapi prinsip ini jangan disalahmengerti lalu kita tidak mau memberitakan Injil. Kalau kita telah mendapatkan berkat yang terbesar yaitu keselamatan di dalam Kristus, itu seharusnya yang kita beritakan kepada orang lain. Jangan mengulangi kesalahan-kesalahan orang-orang Yahudi yang sombong karena telah memiliki Taurat. Meskipun orang-orang non-Yahudi tidak memiliki Taurat, mereka memiliki kemauan melakukan apa yang dituliskan oleh Taurat. Kemauan ini mutlak bukan atas dorongan mereka sendiri, tetapi digerakkan oleh Tuhan. Di dalam theologia Reformed, ini disebut anugerah umum (common grace), di mana Allah menyatakan anugerah umum-Nya untuk menghentikan sementara dosa dan akibatnya di dalam dunia. Sehingga tidak heran, di dalam dunia, kita dapat melihat orang-orang non-Kristen sekalipun memiliki perbuatan dan pemikiran yang baik dan pintar bahkan lebih daripada orang-orang Kristen. Ini membuktikan adanya anugerah umum Allah yang tetap mengandung bibit dosa. Mengapa mereka bisa melakukan Taurat ini meskipun tidak memiliki Taurat ? Taurat seperti apa yang digambarkan oleh Paulus ini ? Dalam tafsirannya, John Gill mengutip pernyataan Plato yang membagi hukum menjadi dua, yaitu hukum yang tertulis (written law) yang dipakai di negara dan hukum yang tidak tertulis (unwritten law) yang berdasarkan natur atau kebudayaan yang tertanam di dalam pikiran/hati manusia. Taurat secara harafiah dan tertulis tidak dimiliki oleh orang-orang non-Yahudi, tetapi secara tak tertulis, Taurat itu telah ditanamkan oleh Allah di dalam setiap hati manusia. Di dalam theologia Reformed, Allah menyatakan diri-Nya melalui dua sarana, yaitu wahyu umum (general revelation of God) yang meliputi alam dan hati nurani (respon manusia : sains dan agama/kebudayaan) dan wahyu khusus (special revelation of God) yang mencakup Tuhan Yesus dan Alkitab. Melalui prinsip ini, kita tetap harus menghargai bahwa orang-orang di luar Kristen pun boleh dikatakan berbijaksana, karena mengajarkan beberapa hal yang baik, misalnya dari Kong Fu-Tse bahwa segala sesuatu yang kamu tahu itulah pengetahuan atau dari Socrates bahwa segala sesuatu yang tidak kamu ketahui itulah yang disebut “tahu”. Kedua filsafat ini baik, karena mereka berdua meresponi apa yang Allah telah wahyukan secara umum di dalam hati nurani mereka. Meskipun baik, kedua filsafat ini masih kurang sempurna, mengapa ? Karena mereka hanya menerima wahyu umum Allah tanpa wahyu khusus Allah yang bersifat menyelamatkan dan menebus (redemptive revelation).
Selanjutnya, dasar kelakuan mereka dijelaskan oleh Rasul Paulus pada ayat 15, “Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela.” (Bahasa Indonesia Sehari-hari menerjemahkan, “Kelakuan mereka menunjukkan bahwa apa yang diperintahkan oleh hukum itu tertulis di hati mereka. Hati nurani mereka pun membuktikan hal itu, sebab mereka sendiri ada kalanya disalahkan dan ada kalanya dibenarkan oleh pikiran mereka.”). Mereka dapat melakukan apa yang Taurat perintahkan karena adanya hukum Allah tertanam di dalam hati nurani mereka. Di dalam terjemahan BIS, saya menyukai pernyataan yang dipakai, “Kelakuan mereka menunjukkan bahwa apa yang diperintahkan oleh hukum itu tertulis di hati mereka...” Tindakan seseorang mencerminkan apa yang mereka percayai, tetapi tidak berarti tindakan itu satu-satunya batu penguji apakah kepercayaan orang tersebut itu benar atau tidak. Mengapa pernyataan ini diajarkan oleh Paulus ? Apakah Paulus ingin mengajarkan bahwa yang terpenting itu perbuatan baik ? Bukankah di dalam Roma 3:24, 27, Paulus mengajarkan bahwa manusia dibenarkan melalui iman ? Lalu apakah kedua hal ini berkontradiksi ? TIDAK. Ayat 15 diajarkan oleh Paulus untuk mengajar orang-orang Yahudi agar mereka tidak menghina orang-orang non-Yahudi yang tidak memiliki Taurat secara tertulis. Iman sejati mengeluarkan/menghasilkan kelakuan yang baik. Di dalam ayat ini, saya membagi dua macam respon hati nurani manusia, yaitu, pertama, hati nurani manusia yang menghasilkan perbuatan. Hati nurani sebagai wakil Allah di dalam diri manusia memungkinkan dan mendorong manusia untuk berbuat sesuai apa yang Allah perintahkan (meskipun tidak 100% sempurna). Misalnya, ketika dari kecil, anak diajarkan untuk taat kepada orangtua, hati nurani terus bersuara mendorong anak-anak untuk menaati orangtua. Kedua, hati nurani manusia menghakimi. Bukan hanya mendorong seseorang untuk berbuat baik, hati nurani juga bertugas menghakimi manusia yang mencoba bertindak jahat. Mungkin kita memiliki pengalaman ketika kita ingin mencuri dompet orang, lalu tiba-tiba hati kita berdebar-debar dan hati nurani kita mengingatkan kita. Di saat itu, mulailah belajar untuk mematuhi suara hati nurani karena itu suara perwakilan Allah untuk menegur manusia. Meskipun tidak 100% mewakil suara Allah, hati nurani yang sudah terpolusi oleh dosa tetap bisa berfungsi normal, asalkan kita mau peka mendengarkan suaranya.
Apakah berarti hati nurani satu-satunya standar penghakiman Allah ? TIDAK. Di dalam ayat 16, Paulus menjelaskan, “Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus.” (Bahasa Indonesia Sehari-hari, “Demikianlah yang akan terjadi nanti pada hari yang sudah ditentukan itu. Pada hari itu--menurut Kabar Baik yang saya beritakan--Allah melalui Yesus Kristus, akan menghakimi segala rahasia hati dan pikiran semua orang.”). Standar penghakiman Allah melalui ayat 16 ini hanyalah di dalam Tuhan Yesus Kristus. Di dalam theologia Reformed, kita mempercayai wahyu umum memiliki kelemahan dan hanya bisa disempurnakan oleh wahyu khusus yang bersifat menebus di dalam pribadi Kristus. Di dalam Kristus, penghakiman Allah berlangsung adil (Pengkhotbah 12:14 ; 2 Korintus 5:10). Penghakiman-Nya inilah yang menghakimi segala sesuatu yang terselubung di dalam hati dan pikiran manusia. Mungkin selama kita hidup di dalam dunia ini, kita masih membohongi orang-orang sekitar dengan kelakuan-kelakuan kita yang religius, baik, menolong, dll, tetapi ingatlah, suatu saat di dalam takhta pengadilan Kristus, kita tidak bisa berdalih apapun, karena di hadapan-Nya, kita ditelanjangi. Mengapa harus di dalam Kristus ? Karena Kristus adalah Hakim dan Raja yang ditentukan Bapa sebagai wujud pemuliaan atas-Nya dari Bapa karena telah taat dan setia melakukan tugas Bapa-Nya. Kristus juga adalah Penebus dosa kita yang ditentukan Bapa. Ia yang menebus dosa kita harus bernatur 100% Allah dan 100% manusia. Dan apa yang dikerjakan Kristus tak mungkin pernah dilakukan oleh semua pendiri agama dan nabi lainnya, karena Kristus bukan hanya mengajarkan kebenaran tetapi sebagai Sumber Kebenaran (Yohanes 14:6). Selain itu, Kristus juga disebut Hakim, dan kitab Wahyu mendeskripsikan hal ini melalui nyanyian anak-anak Tuhan, “Besar dan ajaib segala pekerjaan-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa! Adil dan benar segala jalan-Mu, ya Raja segala bangsa! Siapakah yang tidak takut, ya Tuhan, dan yang tidak memuliakan nama-Mu? Sebab Engkau saja yang kudus; karena semua bangsa akan datang dan sujud menyembah Engkau, sebab telah nyata kebenaran segala penghakiman-Mu.” (Wahyu 15:3-4). Standar penghakiman Allah yang tidak dapat dikompromikan ini seharusnya menjadi refleksi agar kita sebagai anak-anak-Nya tidak manja dan terus berkanjang di dalam dosa, melainkan harus sadar, bertobat dan kembali kepada Kristus. Pertobatan ini bukan karena keterpaksaan atau supaya tidak dihukum, tetapi sebagai respon positif atas anugerah-Nya yang begitu besar.
Setelah kita merenungkan ketiga ayat ini, sudahkah kita menyadari bahwa apa yang Kristus telah kerjakan di atas kayu salib mampu dan sanggup serta telah membayar utang dosa kita akibat ketidaktaatan kita kepada perintah-Nya di dalam Taurat ? Sudahkah kita selanjutnya menyadari bahwa sesudah kita diselamatkan, kita tetap harus mengerjakan Taurat dengan dasar cinta kasih yang telah kita peroleh dan teladani dari Kristus ?? Maukah kita melakukan apa yang Ia perintahkan bukan dengan bersungut-sungut, tetapi dengan cinta kasih ? Amin. Soli Deo Gloria.
Reply With Quote
  #25 (permalink)  
Old 23rd January 2008
Sola_Scriptura2007's Avatar
AP - Aspiring Evangelist
 
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
Sola_Scriptura2007 has a little shameless behaviour in the past
Default Roma 2:17-20: Standar Penghakiman Allah-3: Hukum Allah Vs Hukum Mns-1 (Denny)

Seri Eksposisi Surat Roma :
Realita Murka Allah-13


Standar Penghakiman Allah-3 :
Hukum Allah Vs Hukum Manusia-1


oleh : Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 2:17-20.


Setelah membahas mengenai standar penghakiman Allah yang berpusatkan kepada pengadilan Kristus, maka Paulus seolah-olah mengganti topik pembahasan, tetapi sesungguhnya tidak lah demikian. Topik selanjutnya mulai ayat 17 ini, Paulus sedang mengontraskan pengadilan Allah yang berorientasi pada esensi (dan bukan fenomena) dengan pengadilan/penghakiman ala manusia yang berorientasi pada hal-hal fenomenal (lahiriah). Keempat ayat mulai dari ayat 17 sampai dengan 20 ini, Paulus mendeskripsikan ciri-ciri lahiriah yang terus dijadikan tameng orang-orang Yahudi untuk tidak mau bertobat. Ciri-ciri ini ditetapkan oleh para pemimpin agama Yahudi itu sendiri untuk mengadakan pemisahan antara orang-orang Yahudi dengan orang-orang kafir berdasarkan standar Taurat. Karena bangsa-bangsa lain tidak memiliki Taurat, orang-orang Yahudi menghina mereka sebagai orang-orang kafir yang patut dibinasakan, padahal Allah tidak menginginkan tindakan keji seperti itu. Kita pun sebagai orang Kristen tidak ada bedanya dengan orang-orang Yahudi. Merasa diri paling benar dan memiliki wahyu khusus dari Allah, yaitu Alkitab dan Kristus, kita menjadi lupa diri, menghina orang-orang yang beragama lain, bahkan tidak mau memberitakan Injil kepada mereka. Itulah yang seharusnya menjadi refleksi bagi kita. Oleh karena itu, marilah kita menelusuri ciri-ciri “superioritas” penghakiman yang orang-orang Yahudi bangun dan dirikan lalu kita akan mengaplikasikannya.

Pada ayat 17, Paulus mengungkapkan citra diri awal seorang Yahudi, “Tetapi, jika kamu menyebut dirimu orang Yahudi dan bersandar kepada hukum Taurat, bermegah dalam Allah,” Di dalam terjemahan King James Version, ayat 17 ini diawali dengan suatu seruan Behold yang bisa berarti perhatikan dengan seksama. Seruan ini sangat penting karena melalui seruan ini Paulus ingin menegur orang-orang Yahudi tentang hubungan antara status mereka dan tindakan ketaatan manusia yang seharusnya mereka sadari. Di dalam ayat 17-20, kita menemukan ciri-ciri “superioritas” penghakiman ala orang-orang Yahudi, yaitu,
Pertama, status sebagai orang Yahudi itu sendiri. Sebutan ini dalam bahasa Ibrani yehudi ; Aram : yehudai ; Yunani : joudaios ; dan Latin : judaeaus. Menurut Ensiklopedia Masa Kini-2, pada mulanya sebutan ini menunjuk kepada penduduk Yehuda (2 Raja-raja 16:6) dan terus dipakai dalam naskah-naskah Asyur paling tidak sejak abad 8 s.M. Kata ini biasanya dipakai oleh orang-orang non-Yahudi untuk menandakan orang Ibrani keturunan Abraham pada umumnya. Kata itu juga bisa dipakai untuk menunjuk kepada bahasa Semit setempat di Yehuda (2 Raj. 18:26, 28 ; Yes. 36:11, 13 ; Neh. 13:24). Kitab Daniel 5:13 menggunakan kata “Yehuda” dan Lukas 23:5 ; Yohanes 7:1 memakai kata “Yudea”. Menjelang zaman Perjanjian Baru, bentuk jamak “Yahudi” sudah umum untuk orang-orang Israel. (Ensiklopedia Masa Kini-2, 1995, p. 544). Kalau kita menelusuri ulang makna kata Israel, maka Musa mendeskripsikan istilah ini melalui perkataan seorang yang bergulat dengan Yakub, “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.” (Kejadian 32:28). Kata “Israel” sendiri berarti Prince of God (Pejuang atau Pangeran Allah). Kalau orang Yahudi disebut pejuang Allah, maka orang-orang Kristen disebut pengikut Kristus. Istilah Kristen sebenarnya merupakan istilah ejekan dari orang-orang non-Kristen kepada orang-orang Kristen, tetapi istilah ini sebenarnya beresensi lain, yaitu kita dipanggil untuk mengikut Kristus, meneladani dan menTuhankan Kristus di dalam hidup kita. Itulah makna Kristen sejati. Kalau nama Yakub diganti menjadi Israel yang berarti kehidupan lama Yakub diubah dan diganti oleh Allah sehingga Yakub memiliki kehidupan baru melalui nama baru “Israel”, maka kita pun juga diubah status kita oleh Allah dari anak-anak kegelapan menjadi anak-anak terang di dalam Kristus. Status kita seharusnya menyadarkan kita bahwa kita bukan hanya menikmati status kita sebagai pengikut Kristus dan anak-anak Allah, tetapi kita harus keluar menjadi saksi Injil di tengah-tengah masyarakat dunia berdosa.
Kedua, bersandar kepada Hukum Taurat. Seperti yang telah dipaparkan di atas, hanya bangsa Israel yang mendapatkan wahyu khusus dari Allah yaitu kitab Taurat (Kejadian s/d Ulangan) yang ditulis melalui perantaraan Nabi Musa. Dibandingkan orang-orang non-Yahudi yang pada waktu itu tidak memiliki konsep Allah yang sejati, maka orang-orang Yahudi benar-benar mendapatkan anugerah yang besar dari Allah karena hanya merekalah yang diizinkan dapat mengenal Allah yang sejati melalui Taurat. Tetapi bukannya bersyukur, orang-orang Yahudi malahan memperalat Taurat untuk kepentingan mereka sendiri (bandingkan dengan Roma 2:21-24). Para pemimpin mereka menambahi aturan-aturan di dalam sistem Yudaisme, misalnya menetapkan hari Sabat sebagai perhentian kerja bahkan pekerjaan seseorang harus diukur agar tidak melanggar hari Sabat, misalnya tidak boleh berjalan sekian mil, tidak boleh mengangkat barang, dll. Mereka bersandar kepada Taurat tanpa mengerti esensi Taurat. Hal ini akan dibahas pada bagian lain di dalam ayat 21-24 nanti. Bagaimana dengan kita ? Bukankah kita sudah sempurna menerima wahyu Allah melalui Alkitab dan Kristus ? Tetapi herannya kita sebagai orang Kristen bukannya bersaksi memberitakan Injil, malahan menyombongkan diri sebagai pemegang otoritas kebenaran Allah lalu menghina yang lain. Inilah yang harus menjadi refleksi bagi kita.
Ketiga, bermegah dalam Allah. Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) menerjemahkannya, “bangga atas hubungan Saudara dengan Allah.” Orang-orang Yahudi merasa bangga karena hanya mereka sajalah yang dapat berhubungan dengan Allah yang sejati melalui upacara korban. Hubungan ini bukan hanya bersifat satu arah yaitu orang-orang Yahudi kepada Allah, tetapi bersifat dua arah. Allah juga pernah menghampiri nabi-nabi mereka seperti Musa, Yosua, Yesaya, dll untuk menjadi pemimpin dan penuntun hidup dan perilaku mereka. Hal-hal ini lah yang mereka banggakan karena menurut mereka, bangsa-bangsa lain yang menyembah ilah-ilah yang tidak bisa berbicara (alias mati) tidak mendapatkan hak istimewa seperti mereka. Bagaimana dengan kita ? Kita sebagai orang Kristen bukan hanya mendapatkan hak istimewa (privilege) berhubungan dengan Allah, kita dinyatakan sebagai anak-anak Allah di mana Allah menjadi Bapa kita (Roma 8:15). Bukan hanya itu saja, kita tidak lagi memerlukan upacara korban seperti yang diajarkan di dalam Taurat Yudaisme, karena darah penebusan Kristus telah mengalahkan kuasa dosa di dalam pribadi anak-anak Allah, melainkan kita dapat berhubungan langsung dengan Allah di dalam satu-satunya Pengantara yaitu Tuhan Yesus Kristus. Bukankah ini suatu hak istimewa dari Bapa kepada anak-anak-Nya yang mustahil bisa dimiliki oleh orang-orang non-Kristen yang tidak dipilih Allah ? Hak-hak istimewa ini seharusnya menyadarkan kita bahwa kita dipanggil untuk menyaksikan cinta kasih dan keadilan Allah di dalam Injil kepada mereka yang belum mendengarkan Injil. Allah mau kita bukan hanya menikmati hak-hak istimewa ini seorang diri tetapi berkeinginan membagikannya kepada orang lain yang beberapa di antara mereka dipilih oleh-Nya “sejak” kekekalan.
Keempat, tahu akan kehendak-Nya melalui Taurat (ayat 18, “dan tahu akan kehendak-Nya, dan oleh karena diajar dalam hukum Taurat, dapat tahu mana yang baik dan mana yang tidak,”). Orang-orang Yahudi belajar Taurat sejak kecil dan baru pada usia 30 tahun, mereka baru boleh keluar mengajar Taurat. Tentu saja, melalui tradisi ini, kita dapat mengerti bahwa orang-orang Yahudi bukan hanya membaca Taurat, tetapi mengerti dan menghafalnya (meskipun tidak mengerti inti Taurat yang sesungguhnya). Mereka hanya mengerti Taurat sebatas rasio saja. Hal ini dijelaskan oleh Paulus melalui kata “tahu” yang dalam bahasa Yunani ginosko yang bisa berarti mengerti (understand). Bagaimana dengan kita sebagai orang-orang Kristen ? Kita sebagai anak-anak Tuhan seharusnya bukan hanya terus menambah pengetahuan theologia dan Alkitab saja, tetapi juga harus mengaplikasikannya ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk itulah, di dalam surat Roma pada pasal 12 ayat 1-2, Paulus mulai mengaplikasikan doktrin-doktrin yang telah diajarkannya sebanyak 11 pasal dengan mendahuluinya dengan pengajaran bahwa anak-anak Tuhan harus mempersembahkan tubuh mereka sebagai persembahan kepada Allah lalu disambung dengan perintah agar mereka berubah oleh pembaharuan akal budi mereka sehingga mereka dapat mengerti kehendak Allah dan membedakannya dengan kehendak manusia dan iblis. Pada Roma 12, mulai ayat 3, Paulus langsung mengaplikasikannya di dalam hal pertanggungjawaban karunia dari Allah oleh manusia untuk memuliakan-Nya. Mari kita belajar dari sosok Paulus, yang bukan hanya pandai berlogika dan berteori, tetapi juga berusaha mengaplikasikan apa yang telah diajarkannya dan diketahuinya di dalam kehidupannya sehari-hari, meskipun terkadang ia juga pernah gagal.
Kelima, penuntun orang buta dan terang bagi mereka yang ada di dalam kegelapan (ayat 19, “dan yakin, bahwa engkau adalah penuntun orang buta dan terang bagi mereka yang di dalam kegelapan,”). Ayat 19 ini berkaitan dengan hal-hal etis/moral. Orang-orang Yahudi juga merasa bangga bahwa melalui Taurat, mereka dapat menuntun orang-orang non-Yahudi maupun Yahudi yang masih buta secara rohani dan menerangi mereka yang hidup di dalam kegelapan. Hal ini dipaparkan oleh Tuhan Yesus di dalam Matius 23:15, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri.” Orang-orang Yahudi merasa diri sudah menjalankan tindakan pewartaan Taurat kepada mereka yang bukan Yahudi tetapi sebenarnya mereka sedang menjerumuskan orang-orang lain ke dalam kesalahan yang lebih jahat dari mereka sendiri. Mengapa ? Karena mereka mulai tidak mengajarkan Taurat secara esensial, tetapi secara harafiah. Hal ini seharusnya menjadi refleksi bagi kita sebagai orang Kristen. Kita memang diperintahkan oleh Kristus untuk memberitakan Injil (Matius 28:19). Kita bukanlah orang Kristen jika tidak mengabarkan Injil. Tetapi apakah cukup hanya dengan mengabarkan Injil, kita sudah layak disebut Kristen ? Sebelum mengabarkan Injil, kita harus mengerti apa yang kita beritakan, sehingga kita tidak salah di dalam memberitakan Injil. Ketika ada seorang pemimpin gereja atau orang “Kristen” yang memberitakan bahwa yang mengikut “Kristus” pasti kaya, sukses, sehat, dll, apakah itu disebut memberitakan Injil ? TIDAK. Itulah yang disebut Paulus sebagai “injil-injil” palsu yang mirip Injil tetapi sebenarnya bukan Injil (Galatia 1:6b-7). Mari kita belajar dari peringatan Paulus kepada Timotius yang muda, “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.” (1 Timotius 4:16). Sebelum memberitakan Injil, kita harus mengerti Injil, Kristus, dll, sehingga dengan demikian, kita tidak menjerumuskan orang yang kita injili ke dalam kesalahan-kesalahan melalui berita yang kita sampaikan. Penginjilan tanpa theologia adalah suatu kesia-siaan, sebaliknya theologia tanpa penginjilan adalah mati dan statis.
Keenam, pendidik dan pengajar mereka yang bodoh dan tidak dewasa (ayat 20, “pendidik orang bodoh, dan pengajar orang yang belum dewasa, karena dalam hukum Taurat engkau memiliki kegenapan segala kepandaian dan kebenaran.”). Ayat 20 ini berkaitan dengan aspek pengetahuan. Orang-orang Yahudi menganggap diri pandai karena memiliki Taurat sebagai dasar pengetahuan. Sampai sekarang kita juga mengamati bahwa banyak orang Yahudi (keturunan) selain Jepang dan Tiongkok yang juga memiliki kepandaian yang luar biasa hebat bahkan diangkat menjadi salah satu pejabat pemerintah di negara lain, misalnya Amerika Serikat, dll. Mengapa bisa demikian ? Karena mereka adalah umat pilihan Allah yang mendapatkan wahyu-Nya di dalam Taurat. Mereka akan tersinggung jika mereka dikalahkan di dalam pengetahuan tentang Taurat. Ini terbukti melalui peristiwa penyembuhan orang buta sejak lahir (Yohanes 9). Di dalam peristiwa ini, setelah orang buta ini disembuhkan oleh Kristus, orang-orang Farisi menghakimi orang buta ini dan mengatakan bahwa Kristus itu seorang berdosa karena menyembuhkan di hari Sabat. Terhadap pernyataan orang Farisi ini, orang yang tadinya buta ini menjawab, “Aneh juga bahwa kamu tidak tahu dari mana Ia datang, sedangkan Ia telah memelekkan mataku. Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya. Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta. Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 9:30-33). Terhadap jawaban inilah, orang-orang Farisi tersinggung dan berkata, “Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?” (Yohanes 9:34), lalu Alkitab mencatat bahwa orang-orang Farisi mengusir orang yang tadinya buta ini. Perkataan sombong dalam Yohanes 9:34 yang keluar dari orang Farisi ini hendak menunjukkan bahwa mereka sebenarnya tidak mengerti esensi Taurat, tetapi berani mengklaim diri sebagai pendidik orang bodoh dan pengajar orang yang belum dewasa. Sebenarnya mereka lah yang belum dewasa karena belum mengerti totalitas esensi Taurat tetapi berani mengangkat diri menjadi pemimpin agama. Bagaimana dengan keKristenan abad ini ? Bukankah gejalanya sama dengan fakta orang-orang Yahudi ini ? Bukankah kita menjumpai bahwa banyak pemimpin “gereja” atau bahkan istri pemimpin “gereja” sudah menganggap diri senior, bergelar tinggi (bahkan Ph.D.) lalu “menghina” mereka yang bodoh atau kurang berpengetahuan lalu menipu mereka dengan khotbah-khotbah atau ajaran-ajaran palsu untuk memuaskan keinginan orang-orang bodoh tersebut ?? Sudah lama, jemaat-jemaat Kristen dianggap “bodoh” oleh para pemimpin gereja mereka. Dan hal ini harus diberantas habis, jemaat-jemaat Kristen sudah saatnya tidak boleh dibodohi oleh banyak pemimpin “gereja”, mereka harus diajarkan Firman Tuhan secara bertanggungjawab. Firman Tuhan ini harus ketat dan benar sesuai dengan Alkitab dan penafsirannya yang mendekati arti asli Alkitab. Alkitab bukanlah monopoli pendeta atau pemimpin gereja, tetapi harus dipelajari oleh semua orang Kristen yang masih menganggap diri Kristen dan beriman Kristen (yang tidak lagi beriman Kristen {beriman kepada materialisme, humanisme dan pluralisme/relativisme}, harus tetap belajar keKristenan agar mereka bertobat dari dosa mereka). Pembelajaran ini bukan sebagai sarana untuk menyombongkan diri, tetapi sebagai sarana kerendahan hati dan ketaatan kita sebagai anak-anak-Nya yang ingin terus-menerus mengenal kehendak Bapanya. Pengetahuan sejati berkaitan erat dengan ketaatan dan kesetiaan. Ketika kita ingin mempelajari Firman Tuhan, sudahkah kita menuntut diri untuk taat mutlak dan setia kepada-Nya setelah mempelajarinya ? Itulah keinginan dan kehendak-Nya bagi kita.

Hari ini, setelah kita merenungkan keenam ciri berdosa dari orang-orang Yahudi di dalam empat ayat ini, maukah kita menyadari bahwa Tuhan tidak menciptakan strata-strata rohani di dalam gereja, tetapi Ia menganggap kita sama dengan karunia yang berbeda ? Jangan sekali-kali menetapkan strata rohani seseorang berdasarkan karunia Allah. Semua karunia Allah diberikan secara berlainan dan bertujuan satu yaitu untuk melayani Allah. Marilah kita mempergunakan semua karunia Allah yang dipercayakan kepada kita untuk melayani dan memuliakan-Nya saja. Amin. Soli Deo Gloria.
Reply With Quote
  #26 (permalink)  
Old 30th January 2008
Sola_Scriptura2007's Avatar
AP - Aspiring Evangelist
 
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
Sola_Scriptura2007 has a little shameless behaviour in the past
Default Roma 2:21-24: Hukum Allah Vs Hukum Manusia-2

Seri Eksposisi Surat Roma :
Realita Murka Allah-13


Standar Penghakiman Allah-4 :
Hukum Allah Vs Hukum Manusia-2


oleh : Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 2:21-24.


Setelah membahas mengenai standar hukum yang orang-orang Yahudi pakai sebagai tameng untuk mengukur “superioritas” mereka, maka selanjutnya sebaliknya Allah menetapkan hukum yang sebenarnya bagi orang-orang Yahudi melalui pemaparan Paulus. Di dalam keempat ayat ini, Paulus membuka kedok kemunafikan orang-orang Yahudi yang munafik.
Ayat 21, Paulus menggunakan kata penghubung “Jadi” atau terjemahan King James Version : therefore (oleh karena itu), yang berarti ayat ini merupakan kelanjutan dan akibat dari “superioritas” hukum yang ditetapkan oleh orang-orang Yahudi yaitu kemunafikan. Di dalam ayat ini, Paulus mengatakan, “Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri?” Di sini, Paulus dengan memakai otoritas hukum Allah menghakimi orang-orang Yahudi yang memutarbalikkan hukum Allah seenaknya sendiri dan menggantinya dengan hukum buatan mereka. Di dalam ayat-ayat sebelumnya, Paulus telah memaparkan “superioritas” orang-orang Yahudi yang merasa diri hebat, dapat mengajar orang lain, dll, tetapi sebenarnya mereka adalah orang-orang munafik. Mereka hanya pintar mengerti hukum Allah tanpa mengerti esensinya dan mempraktikannya. Oleh karena itu, di dalam ayat 21a ini, Paulus langsung mengaitkan antara mengajar orang lain dengan mengajar diri. Bagi Paulus, cukup mudah ketika kita mengajar orang lain, tetapi ketika dirinya mengajar dirinya sendiri, itu yang susah. Paulus adalah rasul Kristus yang patut kita teladani. Di dalam buku tentang refleksi atas Surat 1 Korintus (Ajarlah Kami Bertumbuh), Pdt. Billy Kristanto mengajarkan tentang karakter Paulus yang baik di dalam pelayanan, yaitu Paulus bukan hanya pintar berlogika dan mengajar, tetapi ia juga mengajar dirinya sendiri lebih keras. Artinya, Paulus lebih keras mengajar dirinya untuk lebih taat kepada Firman Allah daripada mengajar orang lain. Itulah orang yang berbijaksana. Di dalam pelayanan dan pertumbuhan rohani kita, seberapa berani kah kita mau dan mampu mengajar orang lain dengan terlebih dahulu mengajar diri kita sendiri. Ketika kita sudah mengajar diri kita sendiri untuk taat kepada Firman Allah, itu merupakan bukti kita sudah dewasa rohani. Setelah kita sudah mengajar diri sendiri dengan lebih keras untuk taat kepada Firman Allah, ketika kita berani mengajar orang lain, maka Pdt. Billy Kristanto mengatakan bahwa kita akan memiliki kuasa untuk itu. Ketika kita mengajar orang lain tentang sesuatu hal, marilah kita juga berkomitmen untuk menaati dan mendisiplinkan diri dalam menjalankan apa yang telah kita ajarkan kepada orang lain. Di sini saya memakai istilah progressive teaching (pengajaran yang terus-menerus) berhubungan dengan progressive spiritual growth in Christ (pertumbuhan rohani yang terus-menerus di dalam Kristus). Hal ini berlaku bagi diri kita khususnya dan bagi orang lain yang kita ajar. Rasul Yakobus juga mengingatkan kita bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2:26). Iman dan pengertian yang sejati akan Firman menghasilkan suatu tindakan yang memuliakan Allah. Tetapi sayangnya, banyak orang “Kristen” yang “no action, talk only”. Hal ini tidak berarti perbuatan menjadi penentu utama keberimanan seseorang ! Perbuatan bukan menjadi titik utama penentu iman seseorang, tetapi yang menjadi titik utama penentu iman seseorang adalah iman itu sendiri yang tidak berkontradiksi dengan dirinya dan tidak melawan Allah. Selagi Tuhan memberikan kesempatan kepada kita untuk melakukan perintah-Nya, di saat itu pulalah kita harus melakukannya bukan dengan terpaksa, tetapi dengan cinta kasih dan ketulusan hati sebagai anak-anak Tuhan yang telah ditebus oleh Kristus.
Lalu, apa yang menjadi ciri kemunafikan orang-orang Yahudi di mana mereka pandai mengajar orang lain tetapi tidak bisa mengajar diri sendiri ? Dari ayat 21b s/d 23, Paulus memaparkan empat ciri kemunafikan orang-orang Yahudi. Mari kita melihatnya satu per satu.
Kemunafikan pertama, Paulus mengatakan, “Engkau yang mengajar: "Jangan mencuri," mengapa engkau sendiri mencuri?” (ayat 21b) Terjemahan International Standard Version (ISV) dan English Standard Version (ESV) menerjemahkan “mengajar : “Jangan mencuri,”” dengan, “preach against stealing” (“berkhotbah melawan pencurian”). Ini berarti para pemimpin Yudaisme berkhotbah di atas mimbar sinagoge atau pertemuan ibadah lainnya dengan pernyataan-pernyataan yang melawan tindakan pencurian, tetapi herannya mereka sendiri tidak melakukannya alias mereka sendiri mencuri. Apa yang telah dilakukan oleh mereka ? Di dalam khotbah-Nya, Tuhan Yesus menegur dan menjelaskan dosa pencurian yang dilakukan oleh para pemimpin Yahudi, “(Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.)” (Matius 23:14). Mereka sebenarnya suka mencuri dengan merampas rumah para janda (terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari) tetapi anehnya agar kejahatan mereka tidak terungkap, mereka menipu dengan doa yang panjang-panjang. Dosa mereka dua kali lebih jahat dari orang-orang yang mereka sebut sebagai kafir. Bagaimana dengan kita ? Apakah kita sebagai orang Kristen juga bertindak tidak jauh berbeda dengan orang-orang Yahudi yang suka menyelimuti kejahatan dengan jubah agama ??!! Di Indonesia, orang-orang non-Kristen sudah membuktikan kemunafikan yang serupa dengan orang-orang Yahudi. Demi uang, para pejabat di Departemen Agama rela berkorupsi dan mencari keuntungan dengan program ibadah haji. Di dalam keKristenan, karena menegakkan “theologia” kemakmuran, banyak pendeta/hamba “Tuhan” gereja Karismatik/Pentakosta yang rela mencuri uang jemaatnya dengan dalih memberikan persembahan untuk Tuhan (padahal untuk memperkaya diri sang pemimpin “gereja” tersebut). Alhasil, yang menjadi kaya adalah “pendeta”/pemimpin “gereja”nya dan si jemaat tetap saja miskin. Saya mendengar cerita dari kakak sepupu saya bahwa ada orang yang berjemaat di gereja Karismatik rela menyerahkan cincinnya untuk “dipersembahkan bagi pekerjaan Tuhan” di dalam gereja tersebut, tetapi beberapa waktu kemudian orang ini melihat istri pendeta gereja tersebut memakai cincin yang telah dipersembahkannya itu. Saat melihat kejadian tersebut, orang ini kecewa. Pdt. Dr. Stephen Tong juga pernah menceritakan bahwa di Amerika, banyak pemuda/i Kristen yang rela ditipu oleh banyak pemimpin gereja Karismatik sehingga banyak dari mereka yang rela menyerahkan semua uangnya bagi gereja, alhasil sesampainya di rumah, mereka bingung dan kaget mengapa semua uangnya habis serta kecewa. Benarkah Tuhan membuat manusia kecewa ? Yang membuat manusia kecewa adalah para “pemimpin gereja” yang mengatasnamakan Tuhan menipu manusia. Hal ini mirip dengan tindakan orang-orang Yahudi. Akibatnya, ketika Tuhan Yesus melayani, banyak orang mengikut-Nya dan bukan orang-orang Yahudi, karena Tuhan Yesus bukan hanya berteori saja, Ia juga mempraktikkannya.
Kemunafikan kedua, Paulus memaparkan, “Engkau yang berkata: "Jangan berzinah," mengapa engkau sendiri berzinah?” (ayat 22a) “Berzinah” ini identik dengan menyeleweng (terjemahan King James Version, English Standard Version dan International Standard Version memakai kata “commit adultery” atau melakukan perzinahan atau penyelewengan). Berzinah ini memang adalah berzinah secara jasmani. Kata larangan “Jangan berzinah” dalam Dasa Titah atau Sepuluh Perintah Allah berkaitan dengan perzinahan di dalam pernikahan. Di dalam Perjanjian Lama, Daud dan Salomo adalah dua orang yang tadinya setia kepada Allah akhirnya berzinah dan hidup tidak kudus, tetapi bedanya, Daud masih mau mengakui dosanya dan dengan rendah hati bertobat, sedangkan Salomo tidak mau bertobat dan terus memperbanyak dosanya sehingga ia dihukum oleh Tuhan di mana kerajaannya akan dibagi-bagi. Perzinahan sebenarnya bukan hanya menyangkut hal-hal jasmaniah, tetapi juga hal-hal rohaniah. Orang-orang Israel juga melakukan tindakan zinah rohani. Para pemimpin mereka mengkhotbahkan agar jangan berzinah, tetapi ketika musuh menyerang mereka, akhirnya mereka rela menyerahkan dan mengkompromikan iman mereka (atau “melacurkan iman mereka” atau berzinah rohani) dengan menyembah ilah-ilah asing. Sehingga banyak nabi-nabi Tuhan dibangkitkan oleh-Nya untuk menegur dosa mereka. Yosua dipanggil untuk menantang orang-orang Yahudi untuk beribadah kepada Allah atau ilah-ilah asing dengan menantang para nabi baal dengan ilah-ilah mereka. Yesaya juga dipanggil oleh Allah untuk menyuarakan berita kebenaran. Begitu pula dengan Yeremia, dan para hakim yang Allah panggil, seperti Deborah, dll, tetapi bagaimana hasilnya ? Mereka bukannya bertobat, malahan makin jahat, yaitu membunuh para nabi Allah. Sehingga tidak heran Tuhan Yesus menghakimi ahli Taurat dengan perkataan yang keras, “Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota, supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah.” (Matius 23:34-35). Bagaimana dengan kita sebagai orang Kristen ? Apakah kita juga berzinah secara rohani ? Bukankah orang-orang “Kristen” duniawi selalu “melacurkan” iman mereka dengan mengkompromikan keKristenan dengan ide-ide filsafat atheis (misalnya dualisme, humanisme dan materialisme) ? Itulah bukti perzinahan rohani. Kalau di zaman Perjanjian Lama, orang-orang Israel “melacurkan” iman mereka dengan menyembah ilah-ilah asing, maka di zaman postmodern yang gila ini, orang-orang “Kristen” ditambah banyak pemimpin “gereja” (apalagi dari banyak kaum Karismatik/Pentakosta, Katolik dan Protestan mainline yang memuja “theologia” religionum/social “gospel”) juga “melacurkan” iman mereka dengan memasukkan unsur filsafat duniawi yang atheistik ke dalam keKristenan (misalnya, memasukkan unsur Gerakan Zaman Baru ke dalam keKristenan dengan munculnya ide, “Sebut dan Tuntutlah/Name it and Claim it ! yang mengajarkan bahwa apapun yang kita sebutkan pasti terjadi {kuasa perkataan}. Misalnya, seperti ajaran Yonggi Cho, kalau kita ingin mobil VW kodok, marilah kita membayangkan mobil tersebut dari warnanya, seri, harga, dll, lalu “imani” bahwa kita telah mendapatkannya.). Bukan hanya itu saja, orang-orang “Kristen” ada yang mengaku diri “melayani ‘tuhan’” tetapi herannya di dalam dunia sekuler, ia sangat anti kalau nama Tuhan disebut di dalam dunia sekuler, karena hal itu tidak ada hubungannya (alasannya religion dan science tidak ada hubungannya). Inikah iman Kristen ?! TIDAK ! Ini adalah iman atheistik praktis murni ditambah humanisme dan dualisme sebagai reaksi dari humanisme !
Kemunafikan ketiga, Paulus mengatakan, “Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala?” (ayat 22b). Dengan kata lain, orang-orang Yahudi yang merasa bersalah ketika berbuat dosa, tetapi herannya bukannya menjauhi, malahan mendekati dan terus-menerus melakukan dosa. Orang-orang “Kristen” di abad ini juga melakukan tindakan serupa. Mereka tahu bahwa menipu, berbohong, malas, dll itu berdosa, tetapi mereka melakukannya, mengapa ? Apakah mereka tidak tahu ? TIDAK. Mereka tahu tetapi apa yang mereka ketahui dengan yang mereka ingin jalankan/patuhi itu berbeda. Mereka hanya ingin mengetahui apa yang berdosa dan apa yang tidak, tanpa mau terlibat menjalankan apa yang mereka telah ketahui. Mereka tahu malas itu berdosa, tetapi herannya mereka tidak mau mengubah sikap malas mereka, malahan terus-menerus malas, entah itu malas membaca Alkitab, malas mempelajari Firman Tuhan, malas berdoa, dll. Mereka mengaku diri orang Kristen, tetapi herannya anti bahkan tidak ingin mempelajari iman mereka. Bukankah ini suatu ironi yang aneh ? Kalau kita memiliki pacar/pasangan, bukankah kita ingin terus-menerus mengetahui dan mengenal pasangan kita lebih dalam ? Tetapi mengapa di dalam dunia rohani, kita enggan melakukan hal yang serupa ? Mengapa kita tidak mau mengenal kebenaran lebih dalam dan melakukannya ? Mengapa kita justru lebih suka apabila keKristenan itu hanya sebagai salah satu pedoman hidup di antara banyak pedoman hidup dari dunia (filsafat dualisme, humanisme dan materialisme) ? Kalau demikian, masih layakkah kita disebut orang “Kristen” apalagi “melayani ‘tuhan’” ?! Renungkanlah hal ini.
Kemunafikan keempat, Paulus menuturkan, “Engkau bermegah atas hukum Taurat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu?” (ayat 23). Orang-orang Yahudi bersukacita karena memiliki Taurat, tetapi herannya kesukacitaan mereka bukanlah murni dari hati mereka tetapi kesukacitaan palsu. Mengapa ? Karena buktinya mereka hanya berbangga dengan memiliki Taurat, tetapi mereka tidak berbangga jika mereka ingin menaati apa yang Taurat perintahkan. Apakah kebanggaan sejati itu ? Apakah kebanggaan itu diukur dari memiliki sesuatu yang berharga saja ? TIDAK. Kebanggaan sejati diukur bukan hanya dari memiliki sesuatu yang sangat berharga tetapi juga diukur dari seberapa kita memegang teguh dan mau berkorban bagi sesuatu yang sangat berharga itu. Jika orang Kristen memiliki wahyu khusus Allah yaitu Kristus dan Alkitab, maka itu merupakan kebanggaan. Tetapi kalau orang Kristen hanya berbangga pada waktu itu saja dan tidak mau berkorban dengan memberitakan Injil, mempelajari Firman dan berperang melawan dan menantang zaman, maka kebanggaan itu belumlah sempurna. Justru kebanggaan atau kemegahan sejati diukur dari seberapa besar kita mengerti Alkitab dengan mempelajarinya dan melakukannya misalnya dengan memberitakan Injil dan kehidupan yang memuliakan Tuhan di dalam seluruh aspek hidup kita. Paulus mengajarkan, “Jadi dalam Kristus aku boleh bermegah tentang pelayananku bagi Allah.” (Roma 15:17) Di dalam 1 Korintus 1:31, Paulus juga mengajarkan, “Karena itu seperti ada tertulis: "Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan."” Kebanggaan sejati didapat hanya di dalam Tuhan, yaitu ketika mengerti dan melakukan Firman Tuhan di dalam hidup kita, bukan di dalam ukuran duniawi yang fana ini.
Sebagai kesimpulan, Paulus menuliskan, “Seperti ada tertulis: "Sebab oleh karena kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain."” Hal ini paralel dengan Yesaya 52:5, di mana bangsa-bangsa lain menghujat Allah. Mengapa ? Apakah karena mereka tidak mengenal Allah ? Itu bisa terjadi, tetapi intinya adalah karena mereka melihat tindakan orang-orang Yahudi yang tidak berbeda dengan bangsa mereka. Mereka melihat orang-orang Yahudi juga ikut-ikutan menyembah ilah-ilah lain dan ketika berperang, bangsa Israel kalah. Pada zaman itu, ketika ada peperangan antar bangsa, Allahnya juga ikut berperang. Ketika suatu bangsa itu kalah, maka “Allah”nya juga ikut-ikutan dicemooh. Nah, pada waktu itu bangsa Israel tertawan di negeri orang, dan Israel mendapat cemoohan dari mereka. Secara otomatis, Allah Yehovah juga dicemooh. Mengapa orang-orang Israel tertawan ? Karena mereka tidak setia kepada Allah. Mereka hanya mau mendengarkan ajaran-ajaran yang menyenangkan telinga mereka ketimbang mendengar kebenaran. Bagaimana dengan ki