Welcome Guest Login or Signup
LIVE CHAT | IM LIST | BOOKMARK US | HELP GUIDE | LANGUAGE:


Go Back   Forum Diskusi Kristen Internasional > AP - DISKUSI ROHANI KRISTEN > Belajar Alkitab > Pengajaran Alkitab
Register FAQ Members List Calendar Search Today's Posts Mark Forums Read

Reply
 
LinkBack Thread Tools Display Modes
  #41 (permalink)  
Old 6th May 2008
Sola_Scriptura2007's Avatar
AP - Aspiring Evangelist
 
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
Sola_Scriptura2007 has a little shameless behaviour in the past
Alkitab Roma 4:9-12: IMAN, KEBENARAN, DAN PERJANJIAN ALLAH

Seri Eksposisi Surat Roma :
Fokus Iman-3


Iman, Kebenaran, dan Perjanjian Allah

oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 4:9-12.


Setelah Paulus memaparkan tentang theologia dibenarkan melalui iman di dalam Perjanjian Lama, ia menjelaskan lebih lanjut bahwa iman itu berfokus/bersumber pada perjanjian Allah.

Pada ayat 9, Paulus mengatakan, “Adakah ucapan bahagia ini hanya berlaku bagi orang bersunat saja atau juga bagi orang tak bersunat? Sebab telah kami katakan, bahwa kepada Abraham iman diperhitungkan sebagai kebenaran.” Melanjutkan ayat 7-8, di ayat 9, Paulus bertanya apakah ucapan bahagia/yang diberkati ini (KJV: blessedness) ini hanya berlaku bagi orang bersunat saja atau lebih luas lagi yaitu juga bagi orang yang tidak bersunat? Pertanyaan ini muncul mengingat surat ini ditulis juga kepada orang-orang Yahudi yang tinggal di Roma yang memiliki konsep bahwa hanya umat Israel yang mendapat berkat Tuhan, sedangkan bangsa lain dianggap kafir. Paulus membongkar konsep umat Israel yang “fanatik” ini dengan pengajaran bahwa selain bangsa Israel, Tuhan juga menyediakan jalan keselamatan. Mengapa? Karena semua manusia yang beriman seperti iman Abraham diperhitungkan Allah sebagai kebenaran. Para “theolog” religionum/social “gospel” yang notabene liberal terselubung (salah satunya Jusufroni) mungkin menafsirkan ayat ini dengan mengatakan bahwa yang penting beriman di dalam iman Abrahamik (Yahudi, Kristen dan Islam), maka manusia diselamatkan. Tafsiran ini sesat ! Semua manusia tanpa memandang dari suku, ras atau bangsa manapun yang memiliki iman seperti iman Abraham berarti mereka beriman di dalam Kristus, barulah iman mereka diperhitungkan sebagai kebenaran. Mengapa iman Abraham identik dengan iman di dalam Kristus ? Inilah iman Perjanjian Lama yang mengarah dan menuju kepada finalitas Kristus yang diutus Bapa. Mengapa ? Karena Allah yang menyatakan diri kepada Abraham adalah Allah yang sama yang juga menyatakan diri kepada umat pilihan-Nya di dalam Pribadi Kristus. Lalu, kata “iman” sendiri di dalam ayat ini dalam bahasa Yunani pistis bisa berarti secara khusus reliance upon Christ for salvation (bergantung pada Kristus untuk keselamatan). Jadi, iman sejati seperti iman yang dimiliki Abraham adalah iman hanya di dalam Pribadi Tuhan Yesus Kristus. Dengan iman seperti inilah, umat pilihan-Nya diimputasikan kebenaran Allah. Kata “kebenaran” di dalam ayat ini dalam bahasa Yunaninya dikaiosunē berarti righteousness (kebenaran keadilan atau kebenaran dalam proses). Kalimat terakhir pada ayat ini menurut terjemahan King James Version (KJV) adalah, “for we say that faith was reckoned to Abraham for righteousness.” Terjemahan literalnya adalah “karena kita mengatakan bahwa iman diperhitungkan kepada Abraham bagi kebenaran.” Kata “for” kedua pada kalimat ini dalam bahasa Yunani eis berarti to, into (pada, ke dalam). Sehingga kalimat ini dapat diterjemahkan, “karena kita mengatakan bahwa iman diperhitungkan kepada Abraham ke dalam kebenaran.” Jadi, iman di dalam Kristus diperhitungkan Allah dan dimasukkan ke dalam kebenaran. Bagaimana dengan kita ? Kita yang sudah beriman di dalam Kristus pun diperhitungkan Allah dan iman kita dimasukkan ke dalam kebenaran (proses) menuju kebenaran kekal (Yunani: aletheia) di Surga kelak. Dengan kata lain, iman memimpin kita kepada kebenaran. Apakah ini berarti tanpa iman, kebenaran tidak bisa berbuat apa-apa ? Tidak. Yang saya maksudkan adalah iman dan kebenaran saling mengisi. Hal ini mirip dengan pendapat dari Bapa Gereja Augustinus, credo ut intelligam yaitu aku percaya/beriman supaya aku dapat mengerti. Demikian juga dengan hubungan antara iman dan kebenaran. Iman memimpin kita mengenal kebenaran di dalam Allah (Yunani: dikaiosunē) dan kebenaran ini terus memimpin iman kita menuju kepada kebenaran kekal di dalam Kristus (Yohanes 14:6). Saya menyebut hal ini dengan istilah the relationship between progressive faith and progressive knowledge of God in righteousness and truth (=hubungan antara iman yang progresif/berkelanjutan dengan pengetahuan Allah yang progresif di dalam proses kebenaran keadilan dan kebenaran mutlak).

Lalu, Paulus melanjutkan pernyataannya dengan pertanyaan sekaligus jawaban di ayat 10, “Dalam keadaan manakah hal itu diperhitungkan? Sebelum atau sesudah ia disunat? Bukan sesudah disunat, tetapi sebelumnya.” Ayat ini merupakan kelanjutan pernyataan dari ayat 9 dengan mempertajam fokus masalah yaitu ketika iman Abraham diperhitungkan Allah sebagai (atau ke dalam) kebenaran, maka kapankah itu terjadi, apakah sesudah Abraham disunat atau sebelum ? Kata “sunat” sengaja dimunculkan oleh Paulus untuk mengubah pola pikir orang Yahudi. Orang Yahudi menganggap bahwa sunat sebagai perjanjian Allah adalah syarat mutlak bagi seseorang yang ingin diselamatkan/dibenarkan oleh Allah. Padahal konsep ini tidak diajarkan baik di dalam Taurat maupun Perjanjian Lama lainnya. Sehingga Paulus menyadarkan orang Yahudi bahwa Abraham dibenarkan melalui iman bukan setelah ia disunat, tetapi sebelum ia disunat. Perbandingan antara sebelum dan sesudah disunat di dalam terjemahan KJV diartikan circumcision (penyunatan) dan uncircumcision (keadaan tidak disunat), di dalam terjemahan International Standard Version (ISV) dan New American Standard Bible (NASB) juga diartikan circumcised (yang disunat) dan uncircumcised (yang tidak disunat), sedangkan dalam terjemahan English Standard Version (ESV) dan New Revised Standard Version (NRSV) mengartikan sebelum dan setelah disunat sama seperti terjemahan LAI. Kedua terjemahan ini memang hampir mirip artinya, tetapi saya pribadi lebih memilih arti “disunat” dan “tidak disunat”. Mengapa ? Karena arti ini lebih dekat dengan pengertian seluruh perikop yaitu Abraham dibenarkan melalui iman. Kalau kita menggunakan arti “sebelum disunat” dan “setelah disunat”, maka pengertiannya berubah dan berfokus pada pentingnya disunat, padahal hal ini ditentang di dalam perikop ini dan dalam pengajaran Alkitab lainnya secara menyeluruh. Kembali, Abraham diimputasikan kebenaran dari Allah sehingga ia dapat beriman justru terjadi di dalam kondisi Abraham tidak disunat. Kalau kita meneliti kitab Kejadian khususnya mengenai Abraham, maka Allah lah yang mengambil inisiatif aktif untuk memanggil Abraham keluar dari negerinya Urkasdim untuk menuju negeri yang dijanjikan Allah. Setelah itu, barulah Abraham dapat meresponi panggilan Allah ini dengan beriman dan taat. Apa signifikansi pengajaran ini ? Geneva Bible Translation Notes mengatakan, “...Abraham was justified in uncircumcision, therefore this justification belongs also to the uncircumcised…” (=Abraham dibenarkan di dalam kondisi tidak bersunat, oleh karena itu pembenaran ini juga menjadi milik mereka yang tidak bersunat.) Jadi, fokusnya tetap iman yang meresponi panggilan Allah. Sehingga, theologia Reformed yang mendekati pengertian Alkitab mengajarkan bahwa anugerah dan panggilan/pilihan Allah mendahului iman umat pilihan-Nya. Sungguh suatu anugerah Allah yang begitu agung ketika kita sebagai umat pilihan-Nya dikaruniai iman di dalam Kristus, sehingga ketika kita beriman, sudah seharusnya kita bersyukur kepada-Nya dan memuliakan Dia atas apa yang Dia telah kerjakan (bukan atas apa yang kita dengan kemampuan sendiri lakukan). Jadi, “theologi” Arminian yang berfokus pada kehendak bebas manusia adalah salah dan melawan Alkitab, karena “theologi” ini menjunjung tinggi humanisme yang melawan Allah. Bagaimana dengan kita ? Kita yang sudah beriman Kristen sekalipun seringkali memiliki paradigma bahwa kita lah yang beriman (berusaha), seolah-olah tanpa kita, Allah “kewalahan” menawarkan anugerah penebusan Kristus. Konsep ini jelas salah (dipengaruhi oleh “theologia” Arminian) dan melawan Alkitab. Alkitab mengajarkan bahwa iman itu anugerah Allah (Efesus 2:8-9) dan iman itu membawa kita mengenal kebenaran Allah (baik righteousness maupun truth).

Kalau sunat bukan menjadi fokus pembenaran umat pilihan, maka apakah berarti sunat tidak perlu ? TIDAK. Di ayat 11, Paulus mengungkapkan, “Dan tanda sunat itu diterimanya sebagai meterai kebenaran berdasarkan iman yang ditunjukkannya, sebelum ia bersunat. Demikianlah ia dapat menjadi bapa semua orang percaya yang tak bersunat, supaya kebenaran diperhitungkan kepada mereka,” Tanda sunat di dalam Perjanjian Lama tetap berguna bukan sebagai fokus/syarat dibenarkan, tetapi akibat dari pembenaran yaitu janji atau meterai kebenaran berdasarkan iman Abraham. Kata “meterai” sama dengan kata “perjanjian” yang Paulus kutip dari Kejadian 17:10, “Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat;” Kata “perjanjian” di dalam Kejadian 17:10 dalam terjemahan KJV dan ISV adalah covenant. Iman yang berfokus pada perjanjian Allah inilah yang menjadi dasar iman (bapa) bagi semua orang percaya yang tak bersunat, sehingga mereka yang belum mengenal Allah dapat mengenal Allah melalui iman Abraham. Orang yang beriman sejati yang berfokus pada kebenaran dan janji Allah juga melakukan apa yang diimani dengan menaati apa yang difirmankan Allah. Dalam konteks Perjanjian Lama, tindakan menaati firman Allah yaitu dengan melakukan sunat dan segala syariat di dalam Hukum Taurat. Di dalam era Perjanjian Baru, beberapa tafsiran menerjemahkan sunat dengan sunat rohani yaitu sakramen baptisan sebagai tanda pembersihan. Seorang penafsir Matthew Henry menyatakan bahwa sunat itu sebagai tanda pembersihan dengan pemotongan, demikian juga baptisan merupakan tanda pembersihan untuk masuk ke dalam anggota tubuh Kristus di dalam gereja yang kelihatan (visible church). Demikian juga dengan umat pilihan-Nya yang berasal dari agama lain yang masuk ke dalam anggota tubuh Kristus harus menerima sakramen baptisan sebagai tanda pembersihan (tidak ada hubungannya dengan tanda masuk Surga). Selain itu, di dalam ayat ini, kata “tidak disunat” (uncircumcised) dalam bahasa Yunani akrobustia secara figuratif berarti unregenerate (tidak dilahirbarukan). Maka, secara otomatis, sunat identik dengan lahir baru. Dengan demikian, selain sakramen baptisan, sunat bisa berarti pembaharuan. Tetapi jangan langsung menyalahartikan konsep ini lalu mengajarkan bahwa kelahiran baru terjadi sesudah beriman. Kelahiran baru terjadi sebelum umat pilihan-Nya beriman. Lalu, apa arti sebenarnya? Kelahiran baru di dalam konsep ini adalah proses pengudusan (progressive sanctification) yang dialami oleh semua umat pilihan-Nya setelah mereka beriman di dalam Kristus. Anak Tuhan sejati bukan hanya berhenti di titik beriman di dalam Kristus, tetapi mereka juga tetap berusaha menaati firman Allah dengan bersedia hidup kudus, setia dan taat mutlak sebagai respon dari iman mereka.

Lalu, bagaimana dengan orang percaya yang bersunat ? Di dalam ayat 12, Paulus mengatakan, “dan juga menjadi bapa orang-orang bersunat, yaitu mereka yang bukan hanya bersunat, tetapi juga mengikuti jejak iman Abraham, bapa leluhur kita, pada masa ia belum disunat.” Bagi mereka yang sudah disunat, dalam konteks Perjanjian Lama adalah orang Yahudi, mereka bukan memfokuskan sunat sebagai syarat dibenarkan, tetapi harus pada iman seperti iman Abraham dalam kondisi tidak bersunat sebagai fokus pembenaran. Untuk lebih jelasnya, silahkan membaca Kejadian 15:6 (baca seluruh pasal) sebagai tanda iman Abraham sebelum dia menerima perjanjian sunat dari Allah (Kejadian 17). Ini berarti iman mereka harus melampaui fenomena (sunat dan tanda-tanda lahiriah lainnya). Iman sejati bukan iman yang berfokus pada fenomena, tetapi iman yang melampaui fenomena dan berfokus pada esensi sejati. Itulah iman Kristen yang beres. Sayangnya, di dalam era postmodern, banyak orang “Kristen” selalu memfokuskan iman mereka pada hal-hal fenomenal, sehingga ketika mereka digoyahkan dengan isu-isu seperti penemuan kubur Yesus, Yesus menikah dengan Maria Magdalena, dll, banyak dari mereka yang tergoyahkan dan hampir menjadi ateis. Inilah akibat dari fokus iman pada hal-hal fenomenal. Oleh karena itu, iman sejati di dalam keKristenan harus dibereskan yaitu hanya berfokus kepada Allah dan Alkitab, di luar itu, termasuk mukjizat-mukjizat harus ditundukkan di bawah prinsip Firman Allah (Alkitab).

Sudahkah iman kita berfokus pada kebenaran Allah di dalam Alkitab? Jika belum, mulai sekarang, bertobatlah dan kembalilah kepada Kristus dan Alkitab. Soli Deo Gloria. Amin.
Reply With Quote
  #42 (permalink)  
Old 13th May 2008
Sola_Scriptura2007's Avatar
AP - Aspiring Evangelist
 
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
Sola_Scriptura2007 has a little shameless behaviour in the past
Alkitab Roma 4:13-15: IMAN DAN HUKUM TAURAT

Seri Eksposisi Surat Roma :
Fokus Iman-4


Iman dan Hukum Taurat

oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 4:13-15.


Setelah Paulus memaparkan tentang iman yang berfokus/bersumber pada perjanjian Allah, maka ia mulai membandingkan konsep iman dan hukum Taurat sebagai prinsip dibenarkan.

Pada ayat 13, Paulus mengatakan, “Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman.” Kembali, Paulus lebih mengkhususkan bahwa bukan karena hukum Taurat, Abraham memperoleh janji Allah, tetapi hanya berdasarkan iman. Terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) mengartikannya, “Allah berjanji kepada Abraham dan keturunannya bahwa dunia ini akan menjadi milik Abraham. Allah berjanji begitu bukan karena Abraham taat kepada hukum agama Yahudi, tetapi karena ia percaya kepada Allah sehingga ia diterima oleh Allah sebagai orang yang menyenangkan hati-Nya.” King James Version menerjemahkannya, “For the promise, that he should be the heir of the world, was not to Abraham, or to his seed, through the law, but through the righteousness of faith.” Kata “janji” di dalam ayat ini dalam KJV diterjemahkan promise dan kata Yunaninya adalah epaggelia yang secara khusus berarti a divine assurance of good (asuransi/jaminan Allah akan kebaikan). Dengan kata lain, kata janji sangat berkaitan erat dengan jaminan Allah sendiri bagi umat-Nya. Bagi Allah, janji-Nya diberikan kepada Abraham tanpa memandang apakah Taurat itu sudah ada atau belum. Hal ini juga dijelaskan Paulus di dalam suratnya kepada jemaat Galatia 3:17-18, “Maksudku ialah: Janji yang sebelumnya telah disahkan Allah, tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian, sehingga janji itu hilang kekuatannya. Sebab, jikalau apa yang ditentukan Allah berasal dari hukum Taurat, ia tidak berasal dari janji; tetapi justru oleh janjilah Allah telah menganugerahkan kasih karunia-Nya kepada Abraham.” Di sini, kebenaran Firman menjadi lebih jelas, yaitu hukum Taurat yang ada 430 tahun setelah perjanjian Allah kepada Abraham (Kejadian 17:4-6 ; 22:17-18) tidak dapat berbuat apa-apa untuk meniadakan janji Allah. Ini berarti janji Allah lebih berkuasa ketimbang seluruh syariat agama apapun di dunia ini. Kembali, kita melihat pentingnya iman di dalam kehidupan orang Kristen sejati. Ketika agama-agama dunia (non-Kristen) menawarkan jasa baik sebagai syarat “mutlak” untuk diselamatkan dan masuk “surga”, maka keKristenan adalah satu-satunya yang berdasarkan iman. Iman ini di dalam pengertian theologia Reformed didasarkan pada perjanjian/jaminan Allah (kovenan) bagi umat pilihan-Nya sejak kekekalan. Dan lagi, iman di dalam janji Allah ini tidak dapat dibatalkan atau digugurkan oleh apapun atau siapapun, bahkan syariat agama apapun, sehingga ketika seorang umat pilihan beriman sungguh-sungguh di dalam Kristus, maka secara otomatis keselamatannya tidak pernah mungkin bisa hilang (Perseverance of the Saints). Ini membuktikan kedahsyatan kuasa iman di dalam Kristus (the power of faith in Christ). Kalau keselamatan anak Tuhan bisa hilang, maka ayat ini dan Galatia 3:17-18 tidak berlaku dan akan berbunyi bahwa bahwa janji Allah bisa dibatalkan karena umat pilihan tidak mengerjakan keselamatannya. Tetapi, kedua perikop ini tidak sedang mengajar hal demikian. Jadi, barangsiapa yang mengajarkan bahwa keselamatan umat pilihan bisa hilang adalah penyesat.

Mengapa manusia pilihan-Nya dibenarkan hanya melalui iman ? Jawabannya dijelaskan Paulus di dalam ayat 14, “Sebab jika mereka yang mengharapkannya dari hukum Taurat, menerima bagian yang dijanjikan Allah, maka sia-sialah iman dan batallah janji itu.” Di dalam ayat ini, Paulus kembali mengajarkan tentang fokus keKristenan. Kalau keKristenan berfokus pada perbuatan baik (yang tidak ada bedanya dengan agama-agama dunia yang non-Kristen), maka iman kita di dalam Kristus dan lebih dalam lagi, pengorbanan Kristus menjadi sia-sia dan tidak berarti. Kata “sia-sia” dalam KJV diterjemahkan made void dan kata Yunaninya adalah kenoō yang berarti to make empty (membuat kosong). Berarti, jika perbuatan baik menjadi fokus keKristenan, maka iman di dalam Kristus dan pengorbanan Kristus tidak berarti apa-apa atau menjadi kosong. Selain itu, jika perbuatan baik yang menjadi fokus keKristenan, maka janji Allah menjadi batal. Kata “batal” dalam KJV diterjemahkan made of none effect (=tidak memiliki pengaruh/efek) dan kata Yunaninya adalah katargeō yang berarti to be (render) entirely idle (useless) (=tidak memberikan efek apapun/tidak berguna). Selain kosong, iman dan janji Allah pun menjadi tidak berarti, ketika keKristenan berfokus kepada perbuatan baik. Mengapa demikian ? Karena ketika seseorang memfokuskan perbuatan baik sebagai syarat dibenarkan/diselamatkan, maka ia akan terus berbangga diri atas apa yang telah diperbuatnya, sehingga ia menjadi sombong dan seolah-olah tidak memerlukan orang lain bahkan Tuhan untuk menyelamatkannya. Di sini, saya berani menyatakan “theologi” Arminian dan Katolik Roma yang berpura-pura mengajarkan dibenarkan melalui iman, padahal “iman” mereka sebenarnya ada pada perbuatan baik adalah “theologi” yang dipengaruhi oleh humanisme dan berakar pada antroposentris (berpusat pada manusia). John Gill dalam tafsirannya John Gill’s Exposition of the Entire Bible memaparkan, “if salvation is by works, it is to no purpose for God to promise, or men to believe; for the thing promised depends not upon God's promise, but upon man's obedience to the law;” (=jika keselamatan adalah melalui perbuatan, tidak ada alasan/maksud apapun bagi Allah untuk berjanji, atau manusia untuk percaya ; karena hal yang dijanjikan bergantung bukan pada janji Allah, tetapi pada ketaatan manusia pada hukum.) Dalam paparannya, John Gill lebih tajam lagi mengaitkan iman pada janji dan karya Allah secara aktif, bukan pada perbuatan karena jika didasarkan pada perbuatan, meskipun Allah berjanji bagi umat-Nya, maka janji itu bukan bergantung pada karya Allah tetapi tindakan aktif manusia. Theologia Reformed mengajarkan dengan jelas bahwa iman adalah anugerah Allah yang merupakan tindakan karya aktif Allah sendiri (bukan atas inisiatif manusia). Bagaimana dengan kita ? Ketika kita sudah beriman sungguh-sungguh di dalam Kristus, adakah kita masih bimbang dan ragu tentang kepastian keselamatan kita ? Banyak orang Kristen yang masih bimbang akan kepastian keselamatan mereka karena mereka diajarkan oleh para “theolog” Arminian yang tidak bertanggungjawab bahwa anak Tuhan bisa kehilangan keselamatannya karena mereka tidak berbuat baik mengerjakan keselamatan. Ajaran ini tidak bertanggungjawab karena Alkitab jelas mengajarkan bahwa manusia pilihan-Nya dibenarkan HANYA melalui iman (bukan melalui jasa baik). Kalau Arminian berani menegaskan bahwa manusia pilihan bisa kehilangan keselamatan, maka tidak dapat dipungkiri, seorang penganut Arminian sedang mengajarkan bahwa manusia dibenarkan melalui iman (+perbuatan baik), lebih jelas lagi, mereka percaya bahwa manusia dibenarkan melalui perbuatan baik (yang juga dianut oleh banyak “theolog”/jemaat Katolik Roma). Lebih dalam lagi, ketika mereka berani mengajarkan bahwa manusia pilihan bisa kehilangan keselamatan, maka ada dua poin yang dibenci dan dihina oleh mereka, yaitu : pengorbanan Kristus di kayu salib dan janji Allah. Artinya, ketika mereka berani mengajarkan bahwa anak Tuhan bisa kehilangan keselamatan, mereka secara otomatis sedang mengajarkan bahwa pengorbanan Kristus di kayu salib masih belum cukup (meskipun di mimbar-mimbar gereja yang menganut doktrin ini tetap menyuarakan pentingnya pengorbanan Kristus), sehingga perlu ditambah dengan jasa baik anak Tuhan untuk “melengkapi” pengorbanan Kristus. Selain itu, mereka juga menghina janji Allah, seolah-olah janji Allah itu bisa diganti sesuka hati seperti janji manusia. Sebenarnya, ketika mereka berani mengajarkan ini, mereka sedang menghina natur dan hakekat Allah yang tidak dapat berubah (kekal) dan otomatis mereka sebenarnya tidak mengenal Allah (tetapi pura-pura mengenal Allah). Tinggal pilih, apakah kita mau berpegang pada doktrin yang sudah dijelaskan Alkitab atau lebih memilih sesuatu yang masih ambigu dan tidak jelas ? Marilah kita tetap berpegang dan beriman hanya di dalam janji Allah yang pasti, benar dan kekal, karena hanya Dia sajalah satu-satunya yang patut disembah, disandari, dan dipuji sebagai Allah dan Sumber Keselamatan kita yang tidak ada duanya. Dan ketika kita beriman di dalam janji-Nya, maka Ia pasti memelihara iman kita sampai akhir, karena Ia sendiri berjanji bahwa Ia akan menyertai kita selama-lamanya (Matius 28:20).

Di manakah letak kelemahan Taurat yang disalahmengerti ? Paulus lebih lanjut menjelaskan hal ini di dalam ayat 15, “Karena hukum Taurat membangkitkan murka, tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran.” Kata “murka” di sini dalam KJV, ISV (International Standard Version) dan ESV (English Standard Version) diterjemahkan wrath dan kata Yunaninya adalah orgē yang secara analogi berarti violent passion (keinginan yang jahat/bengis) atau secara implikasi berarti punishment (penghukuman). Di dalam BIS, kata “murka” diterjemahkan hukuman Allah. Dengan kata lain, ketika seseorang berfokus pada perbuatan baik/menaati Taurat sebagai syarat dibenarkan/diselamatkan, maka ia sedang menghadapi murka/hukuman Allah. Mengapa demikian ? Bukankah hukum Taurat diberikan oleh Allah sendiri ? Perhatikan. Memang, Taurat diwahyukan Allah bagi umat-Nya tetapi bukan sebagai ilah yang menggantikan Allah sejati tetapi sebagai penuntun tingkah laku dan iman mereka. Nah, sayangnya, para ahli Taurat menyelewengkan makna Taurat yang berintikan kasih kepada Allah dan sesama menjadi “Taurat” yang mengekang kemerdekaan umat-Nya sehingga mereka berani mengajarkan bahwa kalau tidak menaati Taurat maka tidak masuk Surga. Hal ini sangat mirip dengan agama mayoritas di Indonesia yang selalu mengandalkan jasa baik manusia. Saya pernah membaca sebuah artikel dari Pdt. Binsar A. Hutabarat dengan judul Taurat Melayani Injil. Bagi saya, judul ini sangat tepat, di mana Taurat diwahyukan Allah bukan sebagai pedoman masuk Surga, tetapi sebagai pelayan bagi Injil yang akan diberikan-Nya setelah Taurat. Sehingga ketika Allah mewahyukan Taurat, Ia bermaksud menyiapkan hati umat-Nya akan berita Injil yang sesungguhnya. Dengan kata lain, Taurat di sini berfungsi sebagai cermin bagi umat-Nya bahwa dengan jasa baik mereka sendiri, mereka tidak mungkin dapat sempurna menjalankan seluruh Taurat itu, sehingga Injil yang diwahyukan Allah dapat melengkapi dan menjelaskan bahwa bukan melalui perbuatan baik manusia dibenarkan/diselamatkan, tetapi melalui iman di dalam Kristus. Lebih dalam lagi, di dalam ayat ini, Paulus dengan tegas mengatakan bahwa ketika Taurat ada, di situ ada pelanggaran. Ini membuktikan bahwa Taurat yang disalahmengerti dapat berakibat fatal, yaitu pelanggaran dan dosa yang semakin besar. Taurat yang diwahyukan Allah dengan maksud semula untuk menuntun tingkah laku dan iman umat-Nya akhirnya menjadi “Taurat” yang membelenggu dan mengakibatkan umat-Nya bukan tambah beres, malahan hidup mereka semakin brengsek karena terlalu berfokus pada Taurat dan bukan pada Allah sebagai Pewahyu Taurat. Di sini, kita melihat disorientasi iman. KeKristenan pun seringkali bertindak hal yang sama. Banyak aturan di dalam keKristenan seringkali mengakibatkan umat-Nya tidak mengenal Allah. Saya mengatakan hal ini bukan berarti bahwa aturan itu tidak penting sama sekali. Aturan memang penting, tetapi aturan yang penting hendaknya tunduk dan taat di bawah Firman Allah, bukan malahan menggantikan Firman Allah, bahkan menghina Firman-Nya. Ketika aturan yang mengklaim diri aturan “Kristen” tetapi menghina Firman Allah, itu bukan aturan Kristen, tetapi aturan manusia yang diklaim sebagai aturan “Kristen”. Marilah kita mulai selektif membedakan dua prinsip ini. Aturan Kristen yang beres selain taat dan tunduk di bawah Alkitab, juga harus takut dan menghormati Allah dengan iman dan pengertian yang benar, sedangkan aturan “Kristen” yang brengsek (palsu) mengakibatkan orang “Kristen” semakin hidup tidak bertanggungjawab dan malahan menghina Allah. Kita melihat banyak contoh konkret dalam hal ini. Karena terlalu kakunya suatu kebaktian di gereja Katolik Roma yang menggantikan otoritas Firman Allah dengan pentingnya liturgi (pengaruh dari Thomas Aquinas), maka Firman Allah dilecehkan secara tidak sengaja dan otoritas kePausan yang ditinggikan. Ini adalah akibat aturan “Kristen” yang tidak berdasarkan Firman Allah. Sebaliknya, banyak gereja “Kristen” yang pop terlalu ekstrim dan tidak lagi memperhatikan aturan, akhirnya mereka menyelenggarakan kebaktian yang tidak menggunakan liturgi yang ketat dan asal memuji “Tuhan” dengan berbagai cara. Ini pun tidak benar. Kita tidak boleh ekstrim entah itu terlalu kaku atau terlalu liar. Kita harus seimbang, yaitu bagaimana dalam beribadah, kita tetap mempertahankan tradisi liturgi kebaktian yang ketat sambil terbuka kepada kuasa Roh Kudus yang sesuai dengan Firman Allah (Alkitab). Itulah aturan Kristen yang sesuai dengan prinsip Alkitab.

Hari ini, di manakah fokus iman kita ? Kepada perbuatan baik atau iman kepada janji Allah di dalam Kristus ? Ketika kita berani mengklaim diri sebagai orang Kristen (pengikut Kristus), maka kita harus berani mengambil satu-satunya tindakan iman yaitu HANYA beriman di dalam Kristus dan bukan pada pribadi siapapun. Itulah iman Kristen yang sejati. Amin. Soli Deo Gloria.
Reply With Quote
  #43 (permalink)  
Old 19th May 2008
Sola_Scriptura2007's Avatar
AP - Aspiring Evangelist
 
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
Sola_Scriptura2007 has a little shameless behaviour in the past
Alkitab Roma 4:16-17: Iman: Anugerah dan Janji Allah

Seri Eksposisi Surat Roma:
Fokus Iman-5


Iman: Anugerah dan Janji Allah

oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 4:16-17.


Setelah Paulus membandingkan konsep iman dan hukum Taurat sebagai prinsip dibenarkan lalu memaparkan tentang kegagalan Taurat sebagai syarat untuk dibenarkan, maka Paulus mulai menjelaskan lebih dalam lagi bahwa anak-anak Tuhan dibenarkan bukan hanya dibenarkan melalui iman tetapi iman yang dianugerahkan dari Allah.

Pada ayat 16a, Paulus mengatakan, “Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia,” Kata “Karena itulah” dalam terjemahan King James Version (KJV) dan International Standard Version (ISV) adalah therefore (=oleh karena itu). Kata ini menunjukkan bahwa ayat 16 ini merupakan konklusi dan penegasan kembali dari Paulus bahwa kita dibenarkan melalui iman yang adalah anugerah Allah. Lalu, kalimat pada ayat 16a ini dalam terjemahan KJV adalah, “Therefore it is of faith, that it might be by grace;” Dalam terjemahan ini, kita mendapatkan pelajaran bahwa janji Allah bagi Abraham (telah dijelaskan pada ayat 13-15) adalah janji pembenaran oleh iman bagi anak-anak-Nya dan janji Allah ini murni adalah/karena anugerah Allah. Jadi, iman itu sendiri adalah anugerah Allah. Prinsip ini juga diajarkan oleh Paulus di dalam Efesus 2:8-9, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Di dalam kedua ayat ini, Paulus lebih tajam lagi melihat dan mengajar bahwa karena manusia dibenarkan melalui iman yang dianugerahkan Allah, maka tidak ada seorangpun yang boleh memegahkan diri karena perbuatan baiknya. Oleh karena itu, semua tindakan Allah adalah tindakan aktif dan tindakan manusia adalah tindakan reaktif/pasif sekaligus “aktif” yang pasif. Artinya, di dalam sejarah keselamatan dan kehidupan umat-Nya, Allah selalu bertindak pertama (aktif), yaitu merencanakan (Allah Bapa), menggenapi (Allah Putra/Tuhan Yesus Kristus) dan menyempurnakan keselamatan (Roh Kudus). Lalu, manusia pilihan-Nya selalu bertindak reaktif terhadap tindakan Allah yaitu dengan iman. Tindakan reaktif ini pun atas inisiatif karya Roh Kudus di dalam hati orang-orang yang telah dipilih oleh Allah sejak kekekalan. Maka segala sesuatu yang terjadi di dalam keselamatan kita adalah murni 100% karya Allah, sehingga kita patut bersyukur kepada-Nya karena Dia adalah satu-satunya Pribadi yang patut dipuji, disembah dan disandari untuk selama-lamanya.

Lalu, di ayat 16b, Paulus melanjutkan, “sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham.” Janji Allah yaitu dibenarkan melalui iman berlaku bagi semua keturunan Abraham. Siapakah keturunan Abraham ? Terjemahan KJV menerjemahkan “semua keturunan Abraham”, “to the end the promise might be sure to all the seed;” Kata “seed” di dalam KJV ini dalam bahasa Yunaninya adalah sperma yang secara khusus berarti remnant (sisa). Sehingga ayat ini seharusnya berkata bahwa akhir janji Allah berlaku bagi sisa-sisa/keturunan Abraham. Mengapa harus sisa, sedangkan terjemahan Indonesia menerjemahkan “semua” ? Kata “semua” bisa disalahtafsirkan dan diartikan semua orang tanpa kecuali, padahal pengertian Alkitab secara menyeluruh mengajarkan bahwa hanya beberapa orang dibenarkan melalui iman. Jadi, bukan semua orang tanpa kecuali yang menerima janji Abraham, tetapi orang-orang yang telah dipilih Allah sejak semula. Sisa-sisa keturunan Abraham ini dijelaskan Paulus bukan hanya mereka yang hidup dari Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Orang-orang Yahudi pada waktu itu tetap percaya bahwa hanya mereka yang dapat mewarisi iman dan berkat Abraham. Tetapi Paulus merombak seluruh paradigma mereka, bahwa yang mewarisi iman dan berkat Abraham bukan hanya terbatas pada orang-orang Yahudi tetapi semua orang dari berbagai bangsa, suku, ras yang menerima iman Abraham.

Apa alasan janji Allah juga berlaku bagi semua orang dari berbagai bangsa, suku dan ras ? Karena, “Abraham adalah bapa kita semua,” Kata “semua” dalam bahasa Yunani bisa berarti semua secara keseluruhan (whole), atau berarti setiap (every). Dengan kata lain, Abraham menjadi bapa/orangtua yang mempersatukan kita semua (umat pilihan) di dalam iman Abraham. Yang sangat disayangkan adalah beberapa penganut “theologia” religionum atau “Kristen” tauhid yang mempercayai ketunggalan Allah menyalahtafsirkan ayat ini lalu mereka berani mengajarkan bahwa Yahudi, Kristen dan Islam adalah agama Abrahamik yang sama-sama menyembah “Allah” yang sama. Ajaran ini sudah menyeleweng dari Alkitab dan sangat menyesatkan. Lalu, apa arti ayat ini yang mengajarkan bahwa Abraham adalah bapa kita semua dan janji Allah diberikan juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham ? Paulus di dalam suratnya kepada jemaat Galatia pasal 3 ayat 7 mengatakan, “Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham.” Dengan kata lain, sebagaimana Abraham dibenarkan Allah melalui iman, maka mereka yang hidup dari iman adalah anak-anak Abraham. Iman seperti apakah yang dipegang oleh Abraham ? Jelas, iman kepada Allah Trinitas. Apakah Trinitas sudah diajarkan di dalam Perjanjian Lama ? Bukankah banyak orang “Kristen” hari-hari ini (khususnya para pemuja “Kristen” Tauhid/“theologia” religionum mengatakan bahwa konsep Trinitas tidak ada di dalam Alkitab, maka lebih baik kita memakai konsep ketunggalan Allah daripada ketritunggalan Allah ? Ajaran ini sangat tidak bertanggungjawab. Dari kitab Kejadian 1:26, kata “Kita” yang disebut dua kali dalam terjemahan LAI (disebut tiga kali dalam terjemahan KJV, English Standard Version/ESV dan Bahasa Indonesia Sehari-hari/BIS) sudah menunjukkan ketritunggalan Allah. Jadi, barangsiapa yang beriman di dalam Allah Trinitas seperti Abraham maka mereka disebut anak-anak Abraham. Bagaimana dengan orang-orang Islam yang mati-matian menegakkan Tauhid/Allah yang satu pribadi, apakah mereka termasuk keturunan Abraham ? TIDAK ! Karena mereka tidak mempercayai Allah Trinitas. Lebih dalam lagi, Paulus mengajarkan, “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!" Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” (Galatia 3:13-14) Kembali, berkat Abraham dan janji Allah kepada Abraham yaitu dibenarkan melalui iman dapat dinikmati oleh umat pilihan-Nya bukan karena jasa baik mereka, tetapi atas inisiatif dua Pribadi Allah, yaitu Kristus yang telah menebus kita dari kutuk Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita dan Pribadi Roh Kudus yang mengefektifkan karya penebusan Kristus ini di dalam diri umat pilihan-Nya. Dan dua Pribadi Allah ini otomatis didahului oleh rencana kekal Allah Bapa yang merencanakan keselamatan. Sehingga, “Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.” (Galatia 3:29) Konklusi terakhir dari Paulus ini mengajarkan hal yang mendalam yaitu ketika kita milik Kristus atau dipilih oleh Allah untuk diadopsi menjadi anak-Nya di dalam Kristus, maka kita pun adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah. Janji Allah itu dipaparkan Paulus di dalam Galatia 3:8 yaitu semua bangsa akan menerima berkat dan itu dinyatakan secara jelas serta diterima oleh kita yang hidup sekarang. Jadi, janji Allah hanya dapat digenapi oleh Allah sendiri tanpa perantaraan siapapun dari dunia dan kita sebagai anak-anak-Nya harus mempercayai bahwa janji Allah itu ya dan amin.

Abraham adalah bapa semua bangsa adalah sesuai dengan Kejadian 17:5, “...engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.” yang dikutip di dalam Roma 4:17 dengan mengganti kata “sejumlah besar bangsa” menjadi “banyak bangsa”. Penggantian ini tidak mengubah arti. Kata “telah” menunjukkan bahwa Allah mengganti nama Abram menjadi Abraham bukan karena ia telah berbuat sesuatu yang menyenangkan Allah, tetapi Allah telah menetapkan Abraham menjadi bapa banyak bangsa. Di sini, theologia Reformed selalu memandang Allah adalah inisiator pertama segala tindakan dan keselamatan manusia. Abraham yang telah ditetapkan menjadi bapa banyak bangsa diucapkan “di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.” (Roma 4:17) Di sini, kita mendapatkan penjelasan yang tuntas dari Paulus bahwa Allah yang berjanji kepada Abraham adalah Allah yang hidup dan berkuasa, sehingga tidak ada satu janji-Nya yang gagal atau meleset. Dengan kata lain, janji Allah sangat berkaitan erat dengan sifat dan Pribadi Allah yang jujur, bertanggungjawab, Mahakuasa, Hidup dan Kekal. Sehingga kita sebagai anak-anak-Nya tidak perlu kuatir akan janji-Nya bagi kita. Janji Allah Putra juga dinyatakan kepada kita ketika memberitakan Injil yaitu bahwa Ia akan menyertai kita selama-lamanya (Matius 28:20). Penyertaan-Nya adalah janji-Nya yang dapat diandalkan, sehingga janji-Nya ini harus menjadi sumber dan pedoman hidup bagi kita ketika kita mengerjakan tugas panggilan-Nya di dunia ini. Paulus di dalam suratnya kepada Timotius yang kedua mengungkapkan, “Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah… Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.” (2 Timotius 1:8,12) Ketika menulis suratnya kepada Timotius, Paulus sedang berada di dalam penjara (lihat 2 Timotius 1:8), tetapi ia tetap dapat menguatkan Timotius tentang pentingnya pemberitaan Injil, pengajaran dan pendidikan bagi jemaat Tuhan sebagai seorang pelayan Tuhan (2 Timotius 4:1-5). Mengapa Paulus dapat memiliki kekuatan ini ? Karena ia percaya bahwa Allah itu kekal, jujur dan setia yang berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadanya hingga pada hari Tuhan. Dengan kata lain, Paulus percaya bahwa Allah itu setia pada janji-Nya dan memelihara janji-Nya yang telah diberikan kepada Paulus hingga pada hari Tuhan. Sebagaimana janji Allah menguatkan iman dan pelayanan Paulus, bagaimana dengan kita ? Apakah kita masih tetap berpegang pada janji Allah yang pasti akan digenapi ? Ketika kita berpegang pada janji Allah, itu membuktikan bahwa kita beriman dan setia kepada dan di dalam-Nya meskipun penderitaan mengancam dan menggoda kita.

Sudah saatnya kita sebagai orang Kristen tidak lagi tertipu oleh rayuan gombal dari dunia dengan sederetan filsafat dan buaian psikologinya, tetapi kita sebagai orang Kristen dan anak Tuhan harus tetap berpegang pada janji Allah yang kekal dan setia, karena Allah kita adalah Allah yang berdaulat mutlak. Maukah kita berpegang teguh pada janji Allah ? Amin. Soli Deo Gloria...
Reply With Quote
  #44 (permalink)  
Old 27th May 2008
Sola_Scriptura2007's Avatar
AP - Aspiring Evangelist
 
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
Sola_Scriptura2007 has a little shameless behaviour in the past
Alkitab Roma 4:18-22: IMAN YANG BERKEMENANGAN-1 (Denny Teguh S.)

Seri Eksposisi Surat Roma :
Fokus Iman-6


Iman yang Berkemenangan-1

oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 4:18-22.


Setelah Paulus menjelaskan lebih dalam lagi bahwa anak-anak Tuhan dibenarkan bukan hanya dibenarkan melalui iman tetapi iman yang dianugerahkan dari Allah, maka ia melanjutkan penjelasannya tentang pengharapan iman ketika masalah datang dengan mengambil contoh Abraham.

Pada ayat 18a, Paulus mengatakan, “Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya,” King James Version menerjemahkan, “Who against hope believed in hope,” International Standard Version (ISV) menerjemahkan, “Hoping in spite of hopeless circumstances,” Dari ayat ini, Paulus ingin menjelaskan bahwa Abraham tidak memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan sehingga ia dapat dibenarkan di hadapan Allah atau dengan kata lain ia tak memiliki dasar untuk berharap apapun, tetapi karena imannya (yang dianugerahkan oleh Allah), Abraham memiliki pengharapan (bisa diterjemahkan iman/faith) yang melampaui segala situasi yang dihadapinya. Hal ini sesuai dengan terjemahan ISV yang mengatakan bahwa Abraham berharap kepada janji Allah meskipun di dalam kondisi/keadaan yang tidak berpengharapan. Dengan kata lain, iman sejati pada Allah berani menerobos segala ketidakmungkinan manusia, karena Allah kita adalah Allah yang Mahakuasa, tidak terbatas dan Berdaulat yang sanggup melampaui apa yang dipikirkan oleh manusia yang terbatas. Kalau kita melihat sebentar riwayat Paulus, hal serupa dapat kita jumpai. Ketika Paulus melayani Tuhan di tempat yang sulit sekalipun, imannya yang diteguhkan Tuhan sanggup menerobos segala kesulitan manusia. Apa yang dipercaya oleh Abraham ? Ayat 18b menjelaskan, “ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu."” Iman sejati yang dimiliki Abraham mengakibatkan dia disebut bapa orang beriman. Tetapi seringkali iman yang banyak orang “Kristen” miliki masih jauh dari apa yang Abraham teladankan bagi kita. Artinya, banyak orang “Kristen” beriman kepada “Tuhan” karena ingin mendapatkan sesuatu, padahal Abraham ketika beriman di dalam Tuhan tidak ingin mendapatkan apapun, bahkan rela mengorbankan apapun (termasuk anaknya sendiri, Ishak) bagi Tuhan. Berarti, iman sejati bukan meminta apapun kepada Tuhan tetapi menyerahkan apapun untuk kemuliaan Tuhan. Kalau iman berarti berani berkorban bagi Tuhan, apakah kita akan rugi ? TIDAK. Tidak berarti pernyataan ini mengajarkan bahwa uang kita seluruhnya diberikan bagi pekerjaan Tuhan, sehingga kita tidak boleh makan, hidup, tinggal, dll. Itu pernyataan yang ekstrim. Yang saya maksudkan adalah kita berani menyerahkan apapun yang menjadi kesenangan kita bagi pekerjaan Tuhan. Kalau kita memiliki uang banyak, kita rela memberikan persepuluhan dan persembahan bagi pekerjaan Tuhan. Ketika kita berani memberi, percayalah, kita tidak akan rugi, tetapi untung. Untung ini jangan dilihat dari sudut materi, tetapi untung/kaya secara rohani, yaitu di dalam kebajikan dan pengenalan akan Allah.

Kalau di ayat 18, Paulus menyebut Abraham tetap berharap meskipun di dalam kondisi yang tidak berpengharapan, maka di ayat 19, Paulus menjelaskan kondisi yang tidak berpengharapan (secara manusiawi) yang dihadapi oleh Abraham, “Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup.” Ayat ini merujuk kepada kisah Abraham di dalam Kejadian 17:17. Mari kita menyimak kisah ini secara lengkap. Pada Kejadian 17:16, Allah berjanji akan memberikan seorang anak laki-laki kepada Abraham dan di ayat 17-18, Abraham meresponinya dengan tertawa, berkata dalam hati sambil meragukan Allah, lalu berkata bahwa biarlah Ismael (yang telah lebih dulu lahir ; bandingkan Kejadian 16) diperkenan di hadapan Allah. Tetapi di ayat 19 dan 21, Allah meresponi pertanyaan Abraham dengan mengikat perjanjian-Nya kepada Ishak dan keturunannya. Seringkali di dalam kehidupan keKristenan, ketika Allah berkata sesuatu, kita seringkali meresponinya dengan tidak percaya, baru setelah Ia menegaskan janji-Nya, kita baru mempercayai janji Allah. Hal seperti inilah yang dihadapi Abraham. Ketika Allah baru menegaskan janji-Nya melalui Ishak, maka Abraham baru percaya. Setelah itu, Abraham taat (baca pasal-pasal selanjutnya). Dengan kata lain, Abraham dapat beriman (dan orang-orang pilihan Allah dapat beriman) setelah Allah menyatakan diri-Nya. Inilah kaitan antara wahyu Allah dan iman. Wahyu Allah kepada manusia (secara khusus, wahyu khusus di dalam Kristus dan Alkitab) digenapkan oleh Roh Kudus di dalam hati umat pilihan sehingga mereka dapat beriman. Iman tanpa adanya wahyu Allah sejati adalah iman yang palsu. Iman inilah yang nantinya mengakibatkan umat pilihan berani menghadapi marabahaya, karena mereka percaya di dalam Allah yang menyelamatkan mereka meskipun mereka harus menanggung banyak kesulitan, aniaya dan penderitaan. Hal ini diungkapkan oleh Paulus di dalam ayat 20, “Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah,” Justru di dalam kelemahan, penderitaan, masalah, dll, ada kuasa Allah di situ yang menguatkan kita dan tentunya iman kita menjadi kuat. Paulus juga mengalami pengalaman yang sama ketika menderita suatu penyakit dan ia telah berdoa 3x kepada Tuhan, maka Tuhan menjawab, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (2 Korintus 12:9) Dan lebih dalam lagi, Paulus sendiri meresponi jawaban Tuhan dengan mengajar, “Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” Sama seperti Abraham, Paulus juga mengalami hal yang sama, ketika ada masalah menimpa, Paulus tidak bimbang akan penyertaan dan kasih setia Allah, tetapi justru imannya diperkuat dan semakin memuliakan Allah. Bagaimana dengan kita ? Ketika kita mengalami masalah yang berat sekalipun, seringkali kita melupakan Allah dan mempertanyakan Allah yang baik yang mengizinkan kejahatan. Ketika kita berada di dalam masalah yang berat sekalipun, kita tidak seharusnya melupakan-Nya, tetapi justru semakin mendekat kepada-Nya dan beriman serta memuliakan Allah, karena kita percaya di dalam Allah yang sanggup mengubah masalah dan penderitaan menjadi sukacita yang mendidik dan mengajar kita tentang arti mengikut-Nya. Hal ini memang tidak masuk akal di dalam pikiran manusia, tetapi masuk akal di dalam pikiran Allah, karena pikiran-Nya tidak sama dengan pikiran kita yang terbatas. Dan lagi, Ia menginginkan anak-anak-Nya memiliki pikiran-Nya di dalam Alkitab, sehingga di dalam menghadapi segala masalah, kita dapat berharap dan beriman hanya di dalam Dia yang memberi kekuatan kepada kita, seperti yang juga diajarkan Paulus di dalam Filipi 4:13, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

Di ayat 20, Paulus menyebut Abraham memuliakan Allah di dalam kondisi yang tidak berpengharapan, lalu pertanyaannya memuliakan Allah dengan alasan apa ? Banyak orang “Kristen” selalu diajar untuk memuliakan Allah, tetapi tanpa alasan dan dasar yang tepat. Oleh karena itu, di ayat 21, Paulus melanjutkan, “dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.” KJV menerjemahkan, “And being fully persuaded that, what he had promised, he was able also to perform.” Kata “keyakinan” atau persuaded dalam bahasa asli (Yunani)nya adalah plērophoreō yang berarti completely assure (sepenuhnya dijamin). Jadi, Abraham dapat memuliakan Allah dengan iman dan keyakinan yang penuh bahwa Allah mampu melakukan apa yang telah Ia janjikan. Dengan kata lain, Abraham memuliakan Allah karena ia percaya kepada/di dalam Allah yang Mahakuasa. Geneva Bible Translation Notes menambahkan keterangan pada ayat ini, “A description of true faith.” Di sini, Paulus ingin mengajarkan tentang kaitan antara percaya/iman dengan memuliakan Allah dan keMahakuasaan Allah. Iman yang adalah anugerah Allah membuat orang-orang pilihan-Nya dapat memuliakan Allah dan semakin hari semakin beriman lagi di dalam keMahakuasaan Allah. Tidak berarti iman ini adalah iman yang buta seperti yang banyak didengungkan oleh banyak pemimpin gereja kontemporer bahwa iman dapat mengubah segala sesuatu. Tetapi iman di dalam Allah yang Mahakuasa adalah suatu sikap penyerahan diri secara total kepada rencana dan kehendak-Nya yang berdaulat. Pdt. Dr. Stephen Tong mengajarkan bahwa keMahakuasaan Allah berkaitan erat dengan kedaulatan Allah. Oleh karena itu, beriman di dalam keMahakuasaan-Nya juga berkaitan erat dengan iman di dalam kedaulatan Allah yang sanggup melakukan apapun sesuai dengan rencana, natur dan kehendak-Nya. Puji Tuhan, kita memiliki Allah yang dapat diandalkan. Ketika dunia kita sedang menawarkan janji-janji palsu yang belum tentu dapat ditepati, maka kita memiliki Pribadi Allah yang 100% dapat diandalkan karena Ia adalah setia, adil, dan jujur. Dari mana kita mendapatkan pernyataan ini ? Dari pemenuhan janji-janji Allah bagi umat-Nya, sejak zaman Adam dan Hawa sampai sekarang, janji-janji-Nya pasti selalu ditepati-Nya karena di dalam Allah tidak ada dusta. Di dalam janji-janji-Nya inilah, kita memiliki iman yang berkemenangan (victorius faith). Artinya, iman kita bukan iman yang dikondisikan, tetapi iman yang melampaui kondisi natural manusia karena iman kita didasarkan pada Allah yang tidak terbatas.

Karena iman yang berkemenangan inilah, maka Abraham dibenarkan di hadapan Allah (ayat 22). Kita juga dapat memiliki iman yang berkemenangan seperti Abraham ketika kita tidak lagi berharap kepada manusia apalagi diri sendiri yang terbatas, tetapi hanya di dalam dan kepada Allah yang tidak terbatas, Mahakuasa dan berdaulat yang memberi kekuatan dan menolong kita melewati bayang-bayang maut, seperti kata Daud, “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” (Mazmur 23:1-4). Ingatlah, ketika kita beriman di dalam-Nya, terimalah segala resiko dan tanggung jawab yang harus kita terima yaitu menderita bagi-Nya (Matius 16:24), tetapi jangan kecewa, ada tangan Tuhan selalu menguatkan kita di dalam penderitaan yang kita tanggung. Sudahkah kita mengalami iman yang berkemenangan bersama Tuhan ? Amin. Soli Deo Gloria.
Reply With Quote
  #45 (permalink)  
Old 27th May 2008
AP - Junior Member
 
Join Date: May 2008
Location: United States
Posts: 26
wawan55 is infamous around these parts
Default

syalom all , bagus juga penjelasan bapak sutanto ini mengenai eksposisi kitab roma , tetapi terlalu amat panjang se.......kaliiii.
mungkin gw coba singkatkan aja biar ap tidak terlalu ngejelimet pusing mikirnya tapi dapat diterima dengan akal dan bertumbuh dalam iman.
Kitab Roma ditulis oleh Rasul Pauus dan dinamakan INJIL ANUGERAH. Ia menjelaskan kepada mereka tentang Injil Anugerah yang telah diberitakannya kepada orang Yahudi dan orang bukan Yahudi selama 20 tahun dalam perjalanan pemberitaan Injil yang ketiga.
Injil Anugerah ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
Injil adalah PERNYATAAN KEBENARAN ALLAH . Roma 1 ; 16 - 17 .
A. Umat manusia sudah berdosa dan kehilangan kemulian Allah. Roma 3 ; 9 - 19
1. Orang-orang yang bukan Yahudi telah menolak kebenaran Allah yang dinyatakan di dalam karya ciptaan-Nya . Roma 1 ; 20,21 2: 12 - 15
2. Orang Yahudi tidak Taat kepada kebenaran Allah yang dinyatakan di dalam Perjanjian dan Hukum-hukum Allah. Roma 2 ; 23 , 24
B. Anugerah Allah yang termulia adalah KEBENARAN DAN HIDUP MELALUI IMAN KEPADA YESUS KRISTUS yang diyakini oleh semua orang yang percaya. Roma 1 ; 16,17 3 ; 21 - 24
1.Yesus menebus semua dosa manusia lewat kematian-NYA di kayu salib,serta kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Roma 3 ; 25 , 26
2. Allah menyatakan pembebasan dari dosa ( penghakiman) dan memberikan KEHIDUPAN YANG KEKAL kepada semua orang yang percaya kepada pengorbanan Kristus. Roma 3 ; 27 - 30
C. Allah membenarkan dan menyucikan semua orang yang dibimbing oleh Roh Kudus . Roma 8 ; 9-16
1. Di dalam pembaptisan, orang percaya dikuburkan dengan Kristus dalam kematian, dan dibangkitkan bersama-sama dengan Dia dalam kehidupan yang baru. Roma 6 ; 9 - 16
2. Orang percaya tidak hanya dibebaskan dari HUKUMAN DOSA,melainkan juga dari KUASA DOSA karena sudah berjalan di dalam ketaatan kepada Roh Kudus Allah yang tinggal di dalam mereka .Roma 8 ; 1 - 4.
II. Tanggapan terhadap Injil Anugerah .Roma 12 ; 1 - 2
a. Penolakan Injil yang dilakukan oleh orang Yahudi menyebabkan Injil tsb diberitakan dan diterima oleh orang yang bukan Yahudi. Hal ini menimbulkan kecemburuan dikalangan orang Yahudi . Roma 11; 11 - 14.
b. Injil ini diterima karena Allah telah menunjukkan KASIH-NYA kepada semua orang. Roma 11 ; 15, 26, 27, 32
c. Allah telah memberikan kasih dan kebaikan-NYA kepada semua orang,baik orang Yahudi maupun yang bukan Yahudi. Oleh karena itu mereka harus memiliki hidup yang berbeda. Roma : 13 ; 8
1. Menyenangkan Allah bukan menyenangkan diri sendiri. Roma 12 ; 13
2. Melayani umat Allah . Roma 12 ; 13
3. Memiliki Kebaikan . Roma 12 ; 21
4. Menjadi hamba-hamba Allah yang memberitakan Kebenaran. Roma 13 ; 1, 2
5.. Menerima mereka yang lemah dalam iman dan kehidupannya. Roma 14 : 1, 15 ; 7
INI ADALAH INJIL ANUGERAH YANG DIBUTUHKAN OLEH DUNIA. INJIL INI MENGUBAH KEHIDUPAN KITA BAIK DARI LUAR MAUPUN DARI DALAM.
Sekian dan terima kasih.
GBU.
Reply With Quote
  #46 (permalink)  
Old 3rd June 2008
Sola_Scriptura2007's Avatar
AP - Aspiring Evangelist
 
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
Sola_Scriptura2007 has a little shameless behaviour in the past
Alkitab Roma 4:6-8: DIBENARKAN MELALUI IMAN-2

Seri Eksposisi Surat Roma:
Fokus Iman-2


Dibenarkan Melalui Iman-2

oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 4:6-8.


Setelah Paulus memaparkan tentang Abraham yang dibenarkan melalui iman, ia menjelaskan bahwa theologia ini berasal dari Perjanjian Lama.

Pada ayat 6, Paulus mengatakan, “Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya:” Terjemahan King James Version lebih tepat mengartikan, “Even as David also describeth the blessedness of the man, unto whom God imputeth righteousness without works,” (=“Seperti juga Daud yang disebut orang yang diberkati, yang kepadanya Allah mengimputasikan kebenaran tanpa perbuatan,”) Kata “berbahagia” sebenarnya berarti diberkati (terjemahan ESV, ISV dan KJV memakai kata blessed). Lalu, kata “orang yang dibenarkan Allah” seharusnya lebih tepat berarti orang yang kepadanya Allah mengimputasikan kebenaran. Sungguh suatu sukacita yang besar jika kita sebagai manusia berdosa dapat dibenarkan atau diimputasikan kebenaran oleh Allah tanpa memandang jasa baik kita. Inilah yang disebut Paulus sebagai suatu keadaan yang diberkati (blessed). Kita mendapatkan berkat ini sebagai suatu anugerah/karunia yang tidak bisa dibandingkan keagungannya. Apakah yang Daud paparkan tentang pembenaran oleh Allah ini ?

Di ayat 7-8, Paulus mengutip Mazmur 32:1-2, “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya.” Terjemahan KJV mengartikannya, “Saying, Blessed are they whose iniquities are forgiven, and whose sins are covered. Blessed is the man to whom the Lord will not impute sin.” Kata “pelanggaran” di dalam ayat 7 ini bahasa Yunaninya anomia yang berarti violation of law (pelanggaran hukum) atau tindakan asusila/kejahatan (iniquity/wickedness). Sedangkan kata “dosa” di dalam ayat 7 ini bahasa Yunaninya hamartia yang identik dengan dosa/pelanggaran (offense). Untuk lebih jelasnya, mari kita melihat Mazmur 32:1-2, di mana Raja Daud mengajarkan, “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu!” Terjemahan KJV mengartikannya, “Blessed is he whose transgression is forgiven, whose sin is covered. Blessed is the man unto whom the LORD imputeth not iniquity, and in whose spirit there is no guile.” Mazmur 32 ditulis oleh Daud ketika Daud ditegur oleh Nabi Natan berkenaan dengan dosanya yang mengambil istri Uria dan membunuh Uria (2 Samuel 12:1-25). Mazmur ini ditulis sebagai ungkapan syukur sekaligus pengajaran Daud tentang besarnya kasih setia Allah bagi manusia yang berdosa. Ada dua hal yang mau diajarkan oleh Daud,
Pertama, adanya pengampunan dosa. Kata “pelanggaran” di dalam Mazmur 32:1 ini dalam bahasa Ibraninya pesha‛ berarti revolt (pemberontakan). Lalu, kata “dosa” dalam bahasa Ibraninya chăṭâ'âh bisa berarti offence atau sacrifice for it (pengorbanan baginya). Sesuai konteksnya, Daud yang sedang berdosa dapat disebut “memberontak” terhadap Allah, karena ia lebih menuruti hawa nafsu ketimbang perintah Allah. Pemberontakan itu begitu serius sehingga Tuhan menegurnya melalui nabi Natan. Teguran itu sangat membuahkan hasil dan Daud akhirnya bertobat. Lalu, apakah Tuhan tidak jadi menghukum Daud ? Atas kesalahannya, Daud pasti dihukum, tetapi bukan Daud yang mati, tetapi anak hasil hubungannya dengan Batsyeba. Akhirnya, Daud bersedih hati dengan tetap rela menerima hukuman Tuhan. Meskipun harus bersedih hati atas meninggalnya anak dari Batsyeba itu, Daud tetap melihat dan mengagumi besarnya kasih setia Allah yang rela mengampuni dosanya yang begitu besar (Mazmur 32:5). Meskipun dosa Daud begitu besar yaitu sampai membunuh Uria (padahal dalam Kejadian 9:6, Tuhan akan menghukum mereka yang membunuh dengan mengambil nyawa orang yang membunuh itu sendiri), Allah tetap mengasihinya dengan mengampuni pemberontakannya dan memaafkan atau menutupi dosanya. Allah menutupi dosa jangan dimengerti seperti orang-orang dunia yang sengaja menutupi dosa untuk menonjolkan diri ! Allah adalah Allah yang Mahakudus yang membenci dosa, tetapi Ia tetap mengasihi mereka yang berdosa. Sehingga kata “ditutupi” lebih tepat diartikan dilindungi. Dilindungi atau ditutupi oleh apa ? Sebuah tafsiran yang bagus dari Matthew Henry dalam Matthew Henry’s Concise Commentary (MHCC) mengatakan, “Sin is the cause of our misery; but the true believer's transgressions of the Divine law are all forgiven, being covered with the atonement.” (=Dosa adalah penyebab kesengsaraan ; tetapi semua pelanggaran orang-orang yang percaya terhadap hukum Allah diampuni, dan ditutupi/dilindugi dengan penebusan.) Berarti, dosa umat pilihan-Nya bukan hanya diampuni tetapi ditebus oleh darah Anak Domba Allah di dalam Kristus, sehingga kita mendapatkan pemulihan dari dosa-dosa kita. Bagaimana dengan kita ? Mungkin kita sudah melakukan suatu pemberontakan terhadap perintah Allah, bahkan kita mungkin sempat menghina Allah atau menjual Kristus dengan meninggalkan keKristenan. Mungkin kita melakukannya secara sadar atau tidak tanpa perasaan apapun. Kita mungkin merasa dosa yang kita lakukan begitu besar dan layak untuk dihukum. Tetapi ketahuilah, ada satu berita sukacita bagi kaum pilihan yang percaya, yaitu “...Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” (Yesaya 1:18) Pertobatan adalah kunci menuju ke arah pemulihan dosa. Pertobatan ini pun adalah inisiatif anugerah Allah yang menggerakkan umat pilihan-Nya untuk menyesali dosa, meninggalkan dosa dan kembali kepada Kristus dengan percaya di dalam-Nya. Tanpa pertobatan, tak mungkin ada kesadaran pentingnya penebusan dosa. Ketika kita mengaku dosa dan bertobat, di situ kita mulai mengerti bahwa dosa kita yang begitu bejat dan jahat ini masih diampuni oleh Allah yang sudah seharusnya menghukum kita. Oleh karenanya, ketika Tuhan masih mengingatkan kita untuk bertobat, taatilah teguran-Nya dan segera kembali kepada-Nya, karena teguran-Nya itu bukti kasih-Nya yang mau mengampuni kita.
Kedua, dosa kita tidak diperhitungkan oleh Tuhan. Pada ayat 2 dalam Mazmur ini, kata “kesalahan” dalam bahasa Ibraninya ‛âvôn berarti dosa (sin) atau perbuatan asusila (iniquity). Dalam terjemahan KJV, kata “kesalahan” memakai kata iniquity, sedangkan dalam kutipan Paulus di Roma 4:8, katanya diganti menjadi sin. Lebih tepatnya, Pdt. Dr. Stephen Tong dalam bukunya Dosa, Keadilan dan Penghakiman (1993) memaparkan kata ‛âvôn berarti suatu hal yang mengakibatkan kita merasa bersalah/berhutang dan ingin menghukum diri. (p. 46) Hal ini mungkin kita alami. Ketika kita sudah merasa bersalah, kita ingin rasanya menghukum diri sebagai wujud “kekesalan” kita. Mungkin sekali, sesuai konteksnya, Daud juga merasa hal serupa, di mana dia menyesal karena dia telah membunuh Uria dan mengambil istri Uria.Kita memperhitungkan kesalahan kita sendiri, tetapi tidak demikian dengan Allah ketika kita mau bertobat. Pertobatan merupakan kunci mengenal kasih Allah. Menurut terjemahan KJV, ayat ini dapat diartikan bahwa adalah sangat diberkati ketika Tuhan tidak mengimputasikan dosa/perasaan bersalah kepada seseorang dan yang tidak berjiwa pengkhianat/penipu. Bukan hanya mengampuni, Allah juga sanggup tidak memperhitungkan lagi kesalahan/dosa yang telah kita perbuat. Di tengah kesusahan, pemazmur berseru, “Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan?” (Mazmur 130:3) Dan selanjutnya, “Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang. Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya.” Di sini, pemazmur menggambarkan Tuhan bukan hanya mengampuni mereka yang berdosa, tetapi juga memimpin mereka untuk merindukan firman-Nya. Inilah yang saya sebut sebagai tindakan Allah yang tidak memperhitungkan kesalahan kita. Hal serupa diungkapkan oleh Yohanes di dalam 1 Yohanes 1:9, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Menyucikan kita yang berdosa dari segala kejahatan adalah wujud lain dari tindakan Allah yang tidak memperhitungkan kesalahan kita. Dengan apa Allah menyucikan kita ? Yaitu dengan Firman dan Roh, di mana Roh Kudus memimpin hati dan pikiran kita serta menundukkannya di bawah Firman Allah, yaitu Alkitab. Inilah yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang Kristen yang sudah menerima penebusan Kristus yaitu berusaha terus-menerus oleh pekerjaan Roh Kudus hidup kudus dan menaati Firman Allah untuk memuliakan-Nya. Ketika kita sudah menunaikan apa yang telah kita kerjakan sesuai kehendak Allah, maka arti dari dibenarkan melalui iman dapat kita mengerti seutuhnya kelak di dalam kekekalan sehingga kita semakin bersyukur atas anugerah-Nya.

Hari ini, tidak ada kabar yang membuat manusia berdosa bersukacita kecuali kabar bahwa dosa mereka diampuni dan mereka dibenarkan oleh Allah dengan cara disucikan dari dosa dengan Firman dan Roh. Adakah kabar itu juga tiba pada diri Anda sekarang dan Anda meresponinya ? Biarlah Roh Kudus bekerja di dalam hati kita. Amin. Soli Deo Gloria.
Reply With Quote
  #47 (permalink)  
Old 3rd June 2008
Sola_Scriptura2007's Avatar
AP - Aspiring Evangelist
 
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
Sola_Scriptura2007 has a little shameless behaviour in the past
Alkitab Roma 4:6-8: DIBENARKAN MELALUI IMAN-2

Seri Eksposisi Surat Roma:
Fokus Iman-2


Dibenarkan Melalui Iman-2

oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 4:6-8.



Setelah Paulus memaparkan tentang Abraham yang dibenarkan melalui iman, ia menjelaskan bahwa theologia ini berasal dari Perjanjian Lama.

Pada ayat 6, Paulus mengatakan, “Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya:” Terjemahan King James Version lebih tepat mengartikan, “Even as David also describeth the blessedness of the man, unto whom God imputeth righteousness without works,” (=“Seperti juga Daud yang disebut orang yang diberkati, yang kepadanya Allah mengimputasikan kebenaran tanpa perbuatan,”) Kata “berbahagia” sebenarnya berarti diberkati (terjemahan ESV, ISV dan KJV memakai kata blessed). Lalu, kata “orang yang dibenarkan Allah” seharusnya lebih tepat berarti orang yang kepadanya Allah mengimputasikan kebenaran. Sungguh suatu sukacita yang besar jika kita sebagai manusia berdosa dapat dibenarkan atau diimputasikan kebenaran oleh Allah tanpa memandang jasa baik kita. Inilah yang disebut Paulus sebagai suatu keadaan yang diberkati (blessed). Kita mendapatkan berkat ini sebagai suatu anugerah/karunia yang tidak bisa dibandingkan keagungannya. Apakah yang Daud paparkan tentang pembenaran oleh Allah ini ?

Di ayat 7-8, Paulus mengutip Mazmur 32:1-2, “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya.” Terjemahan KJV mengartikannya, “Saying, Blessed are they whose iniquities are forgiven, and whose sins are covered. Blessed is the man to whom the Lord will not impute sin.” Kata “pelanggaran” di dalam ayat 7 ini bahasa Yunaninya anomia yang berarti violation of law (pelanggaran hukum) atau tindakan asusila/kejahatan (iniquity/wickedness). Sedangkan kata “dosa” di dalam ayat 7 ini bahasa Yunaninya hamartia yang identik dengan dosa/pelanggaran (offense). Untuk lebih jelasnya, mari kita melihat Mazmur 32:1-2, di mana Raja Daud mengajarkan, “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu!” Terjemahan KJV mengartikannya, “Blessed is he whose transgression is forgiven, whose sin is covered. Blessed is the man unto whom the LORD imputeth not iniquity, and in whose spirit there is no guile.” Mazmur 32 ditulis oleh Daud ketika Daud ditegur oleh Nabi Natan berkenaan dengan dosanya yang mengambil istri Uria dan membunuh Uria (2 Samuel 12:1-25). Mazmur ini ditulis sebagai ungkapan syukur sekaligus pengajaran Daud tentang besarnya kasih setia Allah bagi manusia yang berdosa. Ada dua hal yang mau diajarkan oleh Daud,
Pertama, adanya pengampunan dosa. Kata “pelanggaran” di dalam Mazmur 32:1 ini dalam bahasa Ibraninya pesha‛ berarti revolt (pemberontakan). Lalu, kata “dosa” dalam bahasa Ibraninya chăṭâ'âh bisa berarti offence atau sacrifice for it (pengorbanan baginya). Sesuai konteksnya, Daud yang sedang berdosa dapat disebut “memberontak” terhadap Allah, karena ia lebih menuruti hawa nafsu ketimbang perintah Allah. Pemberontakan itu begitu serius sehingga Tuhan menegurnya melalui nabi Natan. Teguran itu sangat membuahkan hasil dan Daud akhirnya bertobat. Lalu, apakah Tuhan tidak jadi menghukum Daud ? Atas kesalahannya, Daud pasti dihukum, tetapi bukan Daud yang mati, tetapi anak hasil hubungannya dengan Batsyeba. Akhirnya, Daud bersedih hati dengan tetap rela menerima hukuman Tuhan. Meskipun harus bersedih hati atas meninggalnya anak dari Batsyeba itu, Daud tetap melihat dan mengagumi besarnya kasih setia Allah yang rela mengampuni dosanya yang begitu besar (Mazmur 32:5). Meskipun dosa Daud begitu besar yaitu sampai membunuh Uria (padahal dalam Kejadian 9:6, Tuhan akan menghukum mereka yang membunuh dengan mengambil nyawa orang yang membunuh itu sendiri), Allah tetap mengasihinya dengan mengampuni pemberontakannya dan memaafkan atau menutupi dosanya. Allah menutupi dosa jangan dimengerti seperti orang-orang dunia yang sengaja menutupi dosa untuk menonjolkan diri ! Allah adalah Allah yang Mahakudus yang membenci dosa, tetapi Ia tetap mengasihi mereka yang berdosa. Sehingga kata “ditutupi” lebih tepat diartikan dilindungi. Dilindungi atau ditutupi oleh apa ? Sebuah tafsiran yang bagus dari Matthew Henry dalam Matthew Henry’s Concise Commentary (MHCC) mengatakan, “Sin is the cause of our misery; but the true believer's transgressions of the Divine law are all forgiven, being covered with the atonement.” (=Dosa adalah penyebab kesengsaraan ; tetapi semua pelanggaran orang-orang yang percaya terhadap hukum Allah diampuni, dan ditutupi/dilindugi dengan penebusan.) Berarti, dosa umat pilihan-Nya bukan hanya diampuni tetapi ditebus oleh darah Anak Domba Allah di dalam Kristus, sehingga kita mendapatkan pemulihan dari dosa-dosa kita. Bagaimana dengan kita ? Mungkin kita sudah melakukan suatu pemberontakan terhadap perintah Allah, bahkan kita mungkin sempat menghina Allah atau menjual Kristus dengan meninggalkan keKristenan. Mungkin kita melakukannya secara sadar atau tidak tanpa perasaan apapun. Kita mungkin merasa dosa yang kita lakukan begitu besar dan layak untuk dihukum. Tetapi ketahuilah, ada satu berita sukacita bagi kaum pilihan yang percaya, yaitu “...Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” (Yesaya 1:18) Pertobatan adalah kunci menuju ke arah pemulihan dosa. Pertobatan ini pun adalah inisiatif anugerah Allah yang menggerakkan umat pilihan-Nya untuk menyesali dosa, meninggalkan dosa dan kembali kepada Kristus dengan percaya di dalam-Nya. Tanpa pertobatan, tak mungkin ada kesadaran pentingnya penebusan dosa. Ketika kita mengaku dosa dan bertobat, di situ kita mulai mengerti bahwa dosa kita yang begitu bejat dan jahat ini masih diampuni oleh Allah yang sudah seharusnya menghukum kita. Oleh karenanya, ketika Tuhan masih mengingatkan kita untuk bertobat, taatilah teguran-Nya dan segera kembali kepada-Nya, karena teguran-Nya itu bukti kasih-Nya yang mau mengampuni kita.
Kedua, dosa kita tidak diperhitungkan oleh Tuhan. Pada ayat 2 dalam Mazmur ini, kata “kesalahan” dalam bahasa Ibraninya ‛âvôn berarti dosa (sin) atau perbuatan asusila (iniquity). Dalam terjemahan KJV, kata “kesalahan” memakai kata iniquity, sedangkan dalam kutipan Paulus di Roma 4:8, katanya diganti menjadi sin. Lebih tepatnya, Pdt. Dr. Stephen Tong dalam bukunya Dosa, Keadilan dan Penghakiman (1993) memaparkan kata ‛âvôn berarti suatu hal yang mengakibatkan kita merasa bersalah/berhutang dan ingin menghukum diri. (p. 46) Hal ini mungkin kita alami. Ketika kita sudah merasa bersalah, kita ingin rasanya menghukum diri sebagai wujud “kekesalan” kita. Mungkin sekali, sesuai konteksnya, Daud juga merasa hal serupa, di mana dia menyesal karena dia telah membunuh Uria dan mengambil istri Uria.Kita memperhitungkan kesalahan kita sendiri, tetapi tidak demikian dengan Allah ketika kita mau bertobat. Pertobatan merupakan kunci mengenal kasih Allah. Menurut terjemahan KJV, ayat ini dapat diartikan bahwa adalah sangat diberkati ketika Tuhan tidak mengimputasikan dosa/perasaan bersalah kepada seseorang dan yang tidak berjiwa pengkhianat/penipu. Bukan hanya mengampuni, Allah juga sanggup tidak memperhitungkan lagi kesalahan/dosa yang telah kita perbuat. Di tengah kesusahan, pemazmur berseru, “Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan?” (Mazmur 130:3) Dan selanjutnya, “Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang. Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya.” Di sini, pemazmur menggambarkan Tuhan bukan hanya mengampuni mereka yang berdosa, tetapi juga memimpin mereka untuk merindukan firman-Nya. Inilah yang saya sebut sebagai tindakan Allah yang tidak memperhitungkan kesalahan kita. Hal serupa diungkapkan oleh Yohanes di dalam 1 Yohanes 1:9, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Menyucikan kita yang berdosa dari segala kejahatan adalah wujud lain dari tindakan Allah yang tidak memperhitungkan kesalahan kita. Dengan apa Allah menyucikan kita ? Yaitu dengan Firman dan Roh, di mana Roh Kudus memimpin hati dan pikiran kita serta menundukkannya di bawah Firman Allah, yaitu Alkitab. Inilah yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang Kristen yang sudah menerima penebusan Kristus yaitu berusaha terus-menerus oleh pekerjaan Roh Kudus hidup kudus dan menaati Firman Allah untuk memuliakan-Nya. Ketika kita sudah menunaikan apa yang telah kita kerjakan sesuai kehendak Allah, maka arti dari dibenarkan melalui iman dapat kita mengerti seutuhnya kelak di dalam kekekalan sehingga kita semakin bersyukur atas anugerah-Nya.

Hari ini, tidak ada kabar yang membuat manusia berdosa bersukacita kecuali kabar bahwa dosa mereka diampuni dan mereka dibenarkan oleh Allah dengan cara disucikan dari dosa dengan Firman dan Roh. Adakah kabar itu juga tiba pada diri Anda sekarang dan Anda meresponinya ? Biarlah Roh Kudus bekerja di dalam hati kita. Amin. Soli Deo Gloria.
Reply With Quote
  #48 (permalink)  
Old 10th June 2008
Sola_Scriptura2007's Avatar
AP - Aspiring Evangelist
 
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
Sola_Scriptura2007 has a little shameless behaviour in the past
Alkitab Roma 4:9-12: Iman, Kebenaran, dan Perjanjian Allah

Seri Eksposisi Surat Roma :
Fokus Iman-3


Iman, Kebenaran, dan Perjanjian Allah

oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 4:9-12.


Setelah Paulus memaparkan tentang theologia dibenarkan melalui iman di dalam Perjanjian Lama, ia menjelaskan lebih lanjut bahwa iman itu berfokus/bersumber pada perjanjian Allah.

Pada ayat 9, Paulus mengatakan, “Adakah ucapan bahagia ini hanya berlaku bagi orang bersunat saja atau juga bagi orang tak bersunat? Sebab telah kami katakan, bahwa kepada Abraham iman diperhitungkan sebagai kebenaran.” Melanjutkan ayat 7-8, di ayat 9, Paulus bertanya apakah ucapan bahagia/yang diberkati ini (KJV : blessedness) ini hanya berlaku bagi orang bersunat saja atau lebih luas lagi yaitu juga bagi orang yang tidak bersunat? Pertanyaan ini muncul mengingat surat ini ditulis juga kepada orang-orang Yahudi yang tinggal di Roma yang memiliki konsep bahwa hanya umat Israel yang mendapat berkat Tuhan, sedangkan bangsa lain dianggap kafir. Paulus membongkar konsep umat Israel yang “fanatik” ini dengan pengajaran bahwa selain bangsa Israel, Tuhan juga menyediakan jalan keselamatan. Mengapa ? Karena semua manusia yang beriman seperti iman Abraham diperhitungkan Allah sebagai kebenaran. Para “theolog” religionum/social “gospel” yang notabene liberal terselubung (salah satunya Jusufroni) mungkin menafsirkan ayat ini dengan mengatakan bahwa yang penting beriman di dalam iman Abrahamik (Yahudi, Kristen dan Islam), maka manusia diselamatkan. Tafsiran ini sesat ! Semua manusia tanpa memandang dari suku, ras atau bangsa manapun yang memiliki iman seperti iman Abraham berarti mereka beriman di dalam Kristus, barulah iman mereka diperhitungkan sebagai kebenaran. Mengapa iman Abraham identik dengan iman di dalam Kristus ? Inilah iman Perjanjian Lama yang mengarah dan menuju kepada finalitas Kristus yang diutus Bapa. Mengapa ? Karena Allah yang menyatakan diri kepada Abraham adalah Allah yang sama yang juga menyatakan diri kepada umat pilihan-Nya di dalam Pribadi Kristus. Lalu, kata “iman” sendiri di dalam ayat ini dalam bahasa Yunani pistis bisa berarti secara khusus reliance upon Christ for salvation (bergantung pada Kristus untuk keselamatan). Jadi, iman sejati seperti iman yang dimiliki Abraham adalah iman hanya di dalam Pribadi Tuhan Yesus Kristus. Dengan iman seperti inilah, umat pilihan-Nya diimputasikan kebenaran Allah. Kata “kebenaran” di dalam ayat ini dalam bahasa Yunaninya dikaiosunē berarti righteousness (kebenaran keadilan atau kebenaran dalam proses). Kalimat terakhir pada ayat ini menurut terjemahan King James Version (KJV) adalah, “for we say that faith was reckoned to Abraham for righteousness.” Terjemahan literalnya adalah “karena kita mengatakan bahwa iman diperhitungkan kepada Abraham bagi kebenaran.” Kata “for” kedua pada kalimat ini dalam bahasa Yunani eis berarti to, into (pada, ke dalam). Sehingga kalimat ini dapat diterjemahkan, “karena kita mengatakan bahwa iman diperhitungkan kepada Abraham ke dalam kebenaran.” Jadi, iman di dalam Kristus diperhitungkan Allah dan dimasukkan ke dalam kebenaran. Bagaimana dengan kita ? Kita yang sudah beriman di dalam Kristus pun diperhitungkan Allah dan iman kita dimasukkan ke dalam kebenaran (proses) menuju kebenaran kekal (Yunani : aletheia) di Surga kelak. Dengan kata lain, iman memimpin kita kepada kebenaran. Apakah ini berarti tanpa iman, kebenaran tidak bisa berbuat apa-apa ? Tidak. Yang saya maksudkan adalah iman dan kebenaran saling mengisi. Hal ini mirip dengan pendapat dari Bapa Gereja Augustinus, credo ut intelligam yaitu aku percaya/beriman supaya aku dapat mengerti. Demikian juga dengan hubungan antara iman dan kebenaran. Iman memimpin kita mengenal kebenaran di dalam Allah (Yunani : dikaiosunē) dan kebenaran ini terus memimpin iman kita menuju kepada kebenaran kekal di dalam Kristus (Yohanes 14:6). Saya menyebut hal ini dengan istilah the relationship between progressive faith and progressive knowledge of God in righteousness and truth (=hubungan antara iman yang progresif/berkelanjutan dengan pengetahuan Allah yang progresif di dalam proses kebenaran keadilan dan kebenaran mutlak).

Lalu, Paulus melanjutkan pernyataannya dengan pertanyaan sekaligus jawaban di ayat 10, “Dalam keadaan manakah hal itu diperhitungkan? Sebelum atau sesudah ia disunat? Bukan sesudah disunat, tetapi sebelumnya.” Ayat ini merupakan kelanjutan pernyataan dari ayat 9 dengan mempertajam fokus masalah yaitu ketika iman Abraham diperhitungkan Allah sebagai (atau ke dalam) kebenaran, maka kapankah itu terjadi, apakah sesudah Abraham disunat atau sebelum ? Kata “sunat” sengaja dimunculkan oleh Paulus untuk mengubah pola pikir orang Yahudi. Orang Yahudi menganggap bahwa sunat sebagai perjanjian Allah adalah syarat mutlak bagi seseorang yang ingin diselamatkan/dibenarkan oleh Allah. Padahal konsep ini tidak diajarkan baik di dalam Taurat maupun Perjanjian Lama lainnya. Sehingga Paulus menyadarkan orang Yahudi bahwa Abraham dibenarkan melalui iman bukan setelah ia disunat, tetapi sebelum ia disunat. Perbandingan antara sebelum dan sesudah disunat di dalam terjemahan KJV diartikan circumcision (penyunatan) dan uncircumcision (keadaan tidak disunat), di dalam terjemahan International Standard Version (ISV) dan New American Standard Bible (NASB) juga diartikan circumcised (yang disunat) dan uncircumcised (yang tidak disunat), sedangkan dalam terjemahan English Standard Version (ESV) dan New Revised Standard Version (NRSV) mengartikan sebelum dan setelah disunat sama seperti terjemahan LAI. Kedua terjemahan ini memang hampir mirip artinya, tetapi saya pribadi lebih memilih arti “disunat” dan “tidak disunat”. Mengapa ? Karena arti ini lebih dekat dengan pengertian seluruh perikop yaitu Abraham dibenarkan melalui iman. Kalau kita menggunakan arti “sebelum disunat” dan “setelah disunat”, maka pengertiannya berubah dan berfokus pada pentingnya disunat, padaha