 |
|

28th July 2008
|
 |
AP - Aspiring Evangelist
|
|
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
|
|
Roma 6:1-4: IMPLIKASI PERBEDAAN ESENSIAL-2: Kehidupan yg Mati Vs Kematian yg Hidup-1
Seri Eksposisi Surat Roma:
Manusia Lama Vs Manusia Baru-4
Implikasi Perbedaan Esensial-2:
Kehidupan yang Mati Vs Kematian yang Hidup-1
oleh: Denny Teguh Sutandio
Nats: Roma 6:1-4.
Setelah mempelajari tentang implikasi perbedaan manusia pertama dan kedua poin pertama yaitu di dalam Taurat dan anugerah Allah di ayat 20 s/d 21, maka kita akan mempelajari implikasinya yang kedua yaitu kehidupan yang mati vs kematian yang hidup di pasal 6 ayat 1 s/d 4. Mengapa saya memakai kedua istilah ini: kehidupan yang mati vs kematian yang hidup ? Kehidupan yang mati menandakan status dan kondisi kita ketika kita masih berdosa (manusia) lama, di mana kita secara fenomena hidup (dilihat dari aktivitas kita: makan, minum, bernafas, dll), tetapi jiwa dan keseluruhan esensi hidup kita sudah mati di dalam dosa, mengapa ? Karena kita menghidupi dosa (disebut hidup yang mematikan). Sedangkan ketika kita sudah ditebus oleh Kristus, kita menjadi manusia baru yang mematikan dosa dan hidup bagi Kristus. Dengan kata lain, kita mungkin dianggap “mati” oleh dunia berdosa (karena tidak mengikuti arus zaman yang gila ini), tetapi kita sebenarnya hidup karena kita mematikan dosa dan bangkit untuk mempersembahkan hidup kita bagi Kristus (Roma 12:1-2). Oleh karena itu, marilah kita melihat lebih teliti keempat ayat di dalam pasal 6 ini.
Di ayat 20 di pasal 5, Paulus menjelaskan bahwa ketika dosa bertambah banyak, di situ kasih karunia menjadi berlimpah-limpah. Konsep ini mungkin kelihatan tidak masuk akal, tetapi kita sudah merenungkannya di bagian sebelumnya. Konsep ini bisa disalahmengerti. Hal ini diungkit kembali oleh Paulus di pasal 6 ayat 1, “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?” Ini juga lah yang menjadi pertanyaan orang-orang dunia. Kalau di Alkitab kita membaca bahwa semakin dosa bertambah banyak, maka kasih karunia juga makin berlimpah, bukankah ini mengakibatkan banyak orang “Kristen” semakin tetap berdosa ? Apalagi ada orang “Kristen” sendiri yang memegang doktrin Arminianisme berani menuduh Calvinisme dengan mengatakan bahwa kalau seseorang sudah pasti selamat dan tidak mungkin murtad, bukankah ia boleh sembarangan berdosa, toh nantinya ia pasti selamat ? Pertanyaan Paulus ini merupakan pertanyaan retoris yang tak memerlukan jawaban, tetapi sekaligus sebagai pertanyaan perenungan bagi jemaat di Roma maupun kita yang hidup saat ini.
Terhadap pertanyaan ini, Paulus menjawabnya di ayat 2, “Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” Di titik pertama, Paulus langsung mengatakan bahwa meskipun kasih karunia semakin berlimpah di saat dosa semakin banyak, tidak berarti itu mengakibatkan kita semakin bertekun di dalam dosa. “Sekali-kali tidak!” dalam terjemahan King James Version (KJV): “God forbid.” (=Allah melarangnya) Terjemahan ini bukan hanya terjemahan untuk kepentingan akademis, tetapi memiliki arti. Ketika dimunculkan pernyataan bahwa Allah melarang, berarti Allah membenci kita berbuat dosa setelah kita mengerti Kebenaran. Mengapa Allah melarang ? Di ayat 2b dan 3 yang merupakan alasan kita tidak bertekun di dalam dosa ini adalah ayat yang merupakan pertanyaan retoris sekaligus sebagai pertanyaan perenungan dan pengajaran tidak langsung dari Paulus.
Alasannya adalah karena kita telah mati bagi dosa. Mati bagi dosa artinya sama dengan mematikan dosa. Kita tidak lagi bertekun di dalam dosa karena kita sudah mati bagi dosa. Kapan kita sudah mati bagi dosa ? Yaitu ketika kita mengalami anugerah penebusan Kristus. Saat kita dibenarkan dan ditebus oleh Kristus secara cuma-cuma, ada dua hal yang terjadi: pertama, kita harus bertobat. Bertobat berarti berbalik 180 derajat dari posisi kita yang gelap kepada terang Allah. Ini adalah tindakan spontan/langsung. Kedua, secara progresif (terus-menerus/berkelanjutan) kita dikuduskan oleh Roh Kudus. Ini adalah proses kita semakin lama semakin mengenal Allah dan kehendak-Nya. Mengapa kita perlu mematikan dosa ? Karena Kristus yang sudah membenarkan dan menebus kita telah mematikan dosa itu bagi kita, sehingga kita pun wajib mematikan dosa kedagingan di dalam diri kita (meksipun itu hanya sisa-sisa saja). Dengan kata lain, penebusan Kristus terhadap dosa-dosa kita mengakibatkan kita semakin lama semakin mematikan (sisa-sisa) dosa kita sehingga kita nantinya makin menyerupai Kristus, Kakak Sulung kita. Kalau Kristus sudah menebus kita dari dosa, adalah suatu kekonyolan yang aneh jika kita yang telah ditebusnya mau tetap menghidupi dosa. Apa artinya menghidupi atau hidup di dalam dosa di dalam ayat ini ? Hidup di dalam dosa identik dengan menjadi hamba dosa (Yohanes 8:34). Menjadi hamba dosa, kata Tuhan Yesus, berarti orang itu terus-menerus berbuat dosa. Orang yang terus berbuat dosa jelas bukan lahir dari Allah, sedangkan orang yang lahir dari Allah tidak terus-menerus berbuat dosa (meskipun masih bisa berdosa lagi) (1 Yohanes 3:8-9). Apa bedanya ? Bukankah orang yang lahir dari Allah juga bisa berdosa lagi ? Orang-orang yang lahir dari Allah memang bisa berdosa lagi, tetapi yang menjadi fokus dan esensi hidupnya bukanlah dosa, tetapi Kristus. Dengan kata lain, dosa tidak lagi mengikat orang-orang yang lahir dari Allah. Bagaimana dengan kita ? Mungkin kita mengaku diri di depan masyarakat bahwa kita itu Kristen bahkan puluhan tahun, tetapi sayangnya kita masih menghidupi dosa itu, bukankah itu menandakan kita belum menjadi manusia baru yang lahir dari Allah ? Saya mengamati banyak orang yang mengaku diri “Kristen” bahkan aktif “melayani ‘tuhan’” tetapi paradigmanya masih kacau dan masih dicengkeram oleh dosa dengan mencoba memisahkan antara iman Kristen dengan ilmu/kehidupan sehari-hari. Selain itu, ada juga orang “Kristen” juga malas disuruh belajar Alkitab, meskipun di depan masyarakat, mengaku bahwa ia “melayani ‘tuhan’” di gereja tertentu. Itu semua adalah tanda kita belum mau menjadi manusia baru meskipun menyebut diri “Kristen. Bukan hanya orang-orang lain, saya pun menyadari kelemahan-kelemahan saya. Oleh karena itu, sudah saatnya marilah kita yang termasuk anak-anak Allah (umat pilihan Allah) keluar dari ikatan dosa dan iblis, lalu bangkit menjadi manusia baru.
Bagaimana kita bisa menjadi manusia baru ? Di titik pertama, kita perlu belajar bahwa menjadi manusia baru memang harus diusahakan tetapi itu bukan 100% hasil jerih payah kita, melainkan itu adalah anugerah Allah. Rasul Paulus menasehatkan, “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Filipi 2:12-13) Seringkali untuk menyerang Calvinisme, para penganut Arminianisme (termasuk di dalamnya Katolik Roma dan liberal terselubung) dengan tidak bertanggungjawab mengajarkan bahwa Filipi 2:12 mengajarkan orang Kristen untuk mengerjakan keselamatan, dengan demikian berarti keselamatan kita bisa hilang. Benarkah ayat ini berarti demikian ? Kalau “benar”, maka apa yang Paulus ajarkan sangat berbeda dari ajaran Tuhan Yesus di dalam Yohanes 3:16 yaitu barangsiapa yang percaya kepada-Nya akan beroleh hidup yang kekal (bukan hidup yang sebagian kekal). Kenyataannya TIDAK. Tafsiran merekalah yang kacau dan seenaknya sendiri. Filipi 2:12 memang mengajar kita untuk mengerjakan keselamatan, tetapi ayat ini disusul ayat 13 yang mengajarkan prinsip penting bahwa ketika kita bisa berbuat baik, itupun karena Allah yang memulai mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Dengan kata lain, Allah yang memulai, Ia pulalah yang mengakhirinya, karena Ia adalah Alfa dan Omega. Arminianisme (termasuk di dalamnya Open Theism, mayoritas Katolik Roma) yang memuja kehendak bebas manusia dan menghina kedaulatan Allah di titik pertama dapat ditumbangkan argumentasinya karena mereka tak mempercayai ketidakberubahan Allah.
Lalu, setelah kita mengerti bahwa Allah sebagai sumber di mana kita nantinya bisa melakukan/mengerjakan keselamatan, maka apa yang harus kita lakukan selanjutnya ? Di ayat 3, Paulus mengambil teladan dari Kristus bagi kita, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?” Kata “kita semua” tidak sesuai dengan terjemahan asli maupun terjemahan King James Version yang memakai, “many of us”. Kata ini berarti tidak semua orang yang mengaku diri “Kristen” dibaptis di dalam Kristus, tetapi hanya umat pilihan Allah sejati di dalam Kristus yang dibaptis di dalam Kristus (tidak semua orang yang mengaku diri “Kristen” pasti termasuk umat pilihan Allah, karena banyak orang “Kristen” gadungan yang beriman di dalam diri ketimbang di dalam Kristus yang secara otomatis tidak termasuk umat pilihan-Nya). Cara kita menjadi manusia baru adalah pertama, dibaptis di dalam Kristus dan kematian-Nya. Geneva Bible Translation Notes memberikan tafsiran atas ayat ini, “There are three parts of this sanctification: that is, the death of the old man or sin, his burial, and the resurrection of the new man, descending into us from the virtue of the death, burial, and resurrection of Christ, of which benefit our baptism is a sign and pledge.” (=Ada tiga bagian dalam pengudusan ini: yaitu, kematian manusia atau dosa lama kita, penguburannya, dan kebangkitan manusia baru) turun/diwarisi ke dalam kita dari kebaikan kematian, penguburan, dan kebangkitan Kristus, yang olehnya menguntungkan baptisan kita sebagai tanda dan jaminan/janji.) Albert Barnes dalam tafsirannya Albert Barnes’ Notes on the Bible menafsirkan, “The act of baptism denotes dedication to the service of him in whose name we are baptized.” (=Tindakan baptisan menandakan dedikasi untuk melayani Dia di dalam nama kita dibaptiskan.) Barnes merujuk kepada 1 Korintus 10:2 sebagai peringatan bahwa bangsa Israel juga dibaptiskan bagi Musa untuk melayani Musa atau mengakui Musa sebagai pemimpin mereka. Kita dapat belajar dari Barnes, bahwa baptisan bukan sekedar lambang lalu kita boleh mengabaikannya, atau di ekstrim lain, baptisan itu terpenting, sehingga sebelum dibaptis, begitu khusyuk, tetapi setelah dibaptis, banyak dari kita berlaku liar (karena sudah dibaptis). Kedua ekstrim ini harus dihindari. Alkitab mengajarkan bahwa baptisan itu janji sekaligus tanda kita terikat di dalam anggota keluarga Allah, di mana kita harus melayani-Nya. Melayani berarti harus mendedikasikan seluruh hidup kita bagi kemuliaan-Nya (bandingkan Roma 12:1-2). Dengan dibaptiskan di dalam kematian-Nya, kita juga berani untuk TIDAK melayani iblis dan dosa, tetapi melayani Allah sebagai hamba-Nya, hamba Kebenaran sejati.
Setelah dibaptis di dalam Kristus dan kematian-Nya, cara kedua adalah hidup baru di dalam Kristus (dibaptis di dalam kebangkitan-Nya). Hal ini disebutkan Paulus di dalam ayat 4, “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Di dalam iman Kristen yang Alkitabiah, kita beriman bahwa setelah Kristus mati, Ia bangkit. Demikian juga, setelah kita dibaptiskan di dalam kematian-Nya, kita pun harus dibaptiskan di dalam kebangkitan-Nya. Artinya, ada hidup baru. Hidup baru bukan hanya mendedikasikan sseluruh hidup kita bagi kemuliaan-Nya, tetapi kita mau men-Tuhan-kan Kristus di dalam hidup kita. Men-Tuhan-kan Kristus berarti menjadikan Dia sebagai Tuhan dan Pemilik hidup kita. Bagaimana dengan kita ? Seringkali kita berani mengaku diri “Kristen”, tetapi aneh sekali ketika nama Tuhan dan konsep iman Kristen disebutkan di luar gereja, kita sangat alergi dengan alasan yang dibuat-buat, “Tidak ada hubungannya.” Itukah cara kita men-Tuhan-kan Kristus ? Atau jangan-jangan kita sedang men-“tuhan”-kan iblis dan dosa, lalu kita mengklaim iblis sebagai “tuhan”. Itulah kegagalan postmodern yang mengilahkan dan memutlakkan relativisme. Sudah seharusnya kita sebagai anak-anak Allah keluar dari bujuk rayu iblis melalui ide postmodern dan kembali kepada Alkitab untuk men-Tuhan-kan Kristus dan menjadikan Dia sebagai satu-satunya fokus hidup kita. Itulah tandanya manusia baru yang dibaptis di dalam kebangkitan-Nya.
Mari dengan rendah hati, kita belajar taat mutlak kepada Allah dan Firman-Nya untuk terus-menerus berkomitmen untuk hidup bagi-Nya dan men-Tuhan-kan-Nya bukan diri kita atau iblis atau hal-hal sejenis yang najis di hadapan-Nya. Amin. Soli Deo Gloria.
|

28th July 2008
|
 |
AP - Aspiring Evangelist
|
|
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
|
|
Roma 6:1-4: IMPLIKASI PERBEDAAN ESENSIAL-2: Kehidupan yg Mati Vs Kematian yg Hidup-1
Seri Eksposisi Surat Roma:
Manusia Lama Vs Manusia Baru-4
Implikasi Perbedaan Esensial-2:
Kehidupan yang Mati Vs Kematian yang Hidup-1
oleh: Denny Teguh Sutandio
Nats: Roma 6:1-4.
Setelah mempelajari tentang implikasi perbedaan manusia pertama dan kedua poin pertama yaitu di dalam Taurat dan anugerah Allah di ayat 20 s/d 21, maka kita akan mempelajari implikasinya yang kedua yaitu kehidupan yang mati vs kematian yang hidup di pasal 6 ayat 1 s/d 4. Mengapa saya memakai kedua istilah ini: kehidupan yang mati vs kematian yang hidup ? Kehidupan yang mati menandakan status dan kondisi kita ketika kita masih berdosa (manusia) lama, di mana kita secara fenomena hidup (dilihat dari aktivitas kita: makan, minum, bernafas, dll), tetapi jiwa dan keseluruhan esensi hidup kita sudah mati di dalam dosa, mengapa ? Karena kita menghidupi dosa (disebut hidup yang mematikan). Sedangkan ketika kita sudah ditebus oleh Kristus, kita menjadi manusia baru yang mematikan dosa dan hidup bagi Kristus. Dengan kata lain, kita mungkin dianggap “mati” oleh dunia berdosa (karena tidak mengikuti arus zaman yang gila ini), tetapi kita sebenarnya hidup karena kita mematikan dosa dan bangkit untuk mempersembahkan hidup kita bagi Kristus (Roma 12:1-2). Oleh karena itu, marilah kita melihat lebih teliti keempat ayat di dalam pasal 6 ini.
Di ayat 20 di pasal 5, Paulus menjelaskan bahwa ketika dosa bertambah banyak, di situ kasih karunia menjadi berlimpah-limpah. Konsep ini mungkin kelihatan tidak masuk akal, tetapi kita sudah merenungkannya di bagian sebelumnya. Konsep ini bisa disalahmengerti. Hal ini diungkit kembali oleh Paulus di pasal 6 ayat 1, “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?” Ini juga lah yang menjadi pertanyaan orang-orang dunia. Kalau di Alkitab kita membaca bahwa semakin dosa bertambah banyak, maka kasih karunia juga makin berlimpah, bukankah ini mengakibatkan banyak orang “Kristen” semakin tetap berdosa ? Apalagi ada orang “Kristen” sendiri yang memegang doktrin Arminianisme berani menuduh Calvinisme dengan mengatakan bahwa kalau seseorang sudah pasti selamat dan tidak mungkin murtad, bukankah ia boleh sembarangan berdosa, toh nantinya ia pasti selamat ? Pertanyaan Paulus ini merupakan pertanyaan retoris yang tak memerlukan jawaban, tetapi sekaligus sebagai pertanyaan perenungan bagi jemaat di Roma maupun kita yang hidup saat ini.
Terhadap pertanyaan ini, Paulus menjawabnya di ayat 2, “Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” Di titik pertama, Paulus langsung mengatakan bahwa meskipun kasih karunia semakin berlimpah di saat dosa semakin banyak, tidak berarti itu mengakibatkan kita semakin bertekun di dalam dosa. “Sekali-kali tidak!” dalam terjemahan King James Version (KJV): “God forbid.” (=Allah melarangnya) Terjemahan ini bukan hanya terjemahan untuk kepentingan akademis, tetapi memiliki arti. Ketika dimunculkan pernyataan bahwa Allah melarang, berarti Allah membenci kita berbuat dosa setelah kita mengerti Kebenaran. Mengapa Allah melarang ? Di ayat 2b dan 3 yang merupakan alasan kita tidak bertekun di dalam dosa ini adalah ayat yang merupakan pertanyaan retoris sekaligus sebagai pertanyaan perenungan dan pengajaran tidak langsung dari Paulus.
Alasannya adalah karena kita telah mati bagi dosa. Mati bagi dosa artinya sama dengan mematikan dosa. Kita tidak lagi bertekun di dalam dosa karena kita sudah mati bagi dosa. Kapan kita sudah mati bagi dosa ? Yaitu ketika kita mengalami anugerah penebusan Kristus. Saat kita dibenarkan dan ditebus oleh Kristus secara cuma-cuma, ada dua hal yang terjadi: pertama, kita harus bertobat. Bertobat berarti berbalik 180 derajat dari posisi kita yang gelap kepada terang Allah. Ini adalah tindakan spontan/langsung. Kedua, secara progresif (terus-menerus/berkelanjutan) kita dikuduskan oleh Roh Kudus. Ini adalah proses kita semakin lama semakin mengenal Allah dan kehendak-Nya. Mengapa kita perlu mematikan dosa ? Karena Kristus yang sudah membenarkan dan menebus kita telah mematikan dosa itu bagi kita, sehingga kita pun wajib mematikan dosa kedagingan di dalam diri kita (meksipun itu hanya sisa-sisa saja). Dengan kata lain, penebusan Kristus terhadap dosa-dosa kita mengakibatkan kita semakin lama semakin mematikan (sisa-sisa) dosa kita sehingga kita nantinya makin menyerupai Kristus, Kakak Sulung kita. Kalau Kristus sudah menebus kita dari dosa, adalah suatu kekonyolan yang aneh jika kita yang telah ditebusnya mau tetap menghidupi dosa. Apa artinya menghidupi atau hidup di dalam dosa di dalam ayat ini ? Hidup di dalam dosa identik dengan menjadi hamba dosa (Yohanes 8:34). Menjadi hamba dosa, kata Tuhan Yesus, berarti orang itu terus-menerus berbuat dosa. Orang yang terus berbuat dosa jelas bukan lahir dari Allah, sedangkan orang yang lahir dari Allah tidak terus-menerus berbuat dosa (meskipun masih bisa berdosa lagi) (1 Yohanes 3:8-9). Apa bedanya ? Bukankah orang yang lahir dari Allah juga bisa berdosa lagi ? Orang-orang yang lahir dari Allah memang bisa berdosa lagi, tetapi yang menjadi fokus dan esensi hidupnya bukanlah dosa, tetapi Kristus. Dengan kata lain, dosa tidak lagi mengikat orang-orang yang lahir dari Allah. Bagaimana dengan kita ? Mungkin kita mengaku diri di depan masyarakat bahwa kita itu Kristen bahkan puluhan tahun, tetapi sayangnya kita masih menghidupi dosa itu, bukankah itu menandakan kita belum menjadi manusia baru yang lahir dari Allah ? Saya mengamati banyak orang yang mengaku diri “Kristen” bahkan aktif “melayani ‘tuhan’” tetapi paradigmanya masih kacau dan masih dicengkeram oleh dosa dengan mencoba memisahkan antara iman Kristen dengan ilmu/kehidupan sehari-hari. Selain itu, ada juga orang “Kristen” juga malas disuruh belajar Alkitab, meskipun di depan masyarakat, mengaku bahwa ia “melayani ‘tuhan’” di gereja tertentu. Itu semua adalah tanda kita belum mau menjadi manusia baru meskipun menyebut diri “Kristen. Bukan hanya orang-orang lain, saya pun menyadari kelemahan-kelemahan saya. Oleh karena itu, sudah saatnya marilah kita yang termasuk anak-anak Allah (umat pilihan Allah) keluar dari ikatan dosa dan iblis, lalu bangkit menjadi manusia baru.
Bagaimana kita bisa menjadi manusia baru ? Di titik pertama, kita perlu belajar bahwa menjadi manusia baru memang harus diusahakan tetapi itu bukan 100% hasil jerih payah kita, melainkan itu adalah anugerah Allah. Rasul Paulus menasehatkan, “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Filipi 2:12-13) Seringkali untuk menyerang Calvinisme, para penganut Arminianisme (termasuk di dalamnya Katolik Roma dan liberal terselubung) dengan tidak bertanggungjawab mengajarkan bahwa Filipi 2:12 mengajarkan orang Kristen untuk mengerjakan keselamatan, dengan demikian berarti keselamatan kita bisa hilang. Benarkah ayat ini berarti demikian ? Kalau “benar”, maka apa yang Paulus ajarkan sangat berbeda dari ajaran Tuhan Yesus di dalam Yohanes 3:16 yaitu barangsiapa yang percaya kepada-Nya akan beroleh hidup yang kekal (bukan hidup yang sebagian kekal). Kenyataannya TIDAK. Tafsiran merekalah yang kacau dan seenaknya sendiri. Filipi 2:12 memang mengajar kita untuk mengerjakan keselamatan, tetapi ayat ini disusul ayat 13 yang mengajarkan prinsip penting bahwa ketika kita bisa berbuat baik, itupun karena Allah yang memulai mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Dengan kata lain, Allah yang memulai, Ia pulalah yang mengakhirinya, karena Ia adalah Alfa dan Omega. Arminianisme (termasuk di dalamnya Open Theism, mayoritas Katolik Roma) yang memuja kehendak bebas manusia dan menghina kedaulatan Allah di titik pertama dapat ditumbangkan argumentasinya karena mereka tak mempercayai ketidakberubahan Allah.
Lalu, setelah kita mengerti bahwa Allah sebagai sumber di mana kita nantinya bisa melakukan/mengerjakan keselamatan, maka apa yang harus kita lakukan selanjutnya ? Di ayat 3, Paulus mengambil teladan dari Kristus bagi kita, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?” Kata “kita semua” tidak sesuai dengan terjemahan asli maupun terjemahan King James Version yang memakai, “many of us”. Kata ini berarti tidak semua orang yang mengaku diri “Kristen” dibaptis di dalam Kristus, tetapi hanya umat pilihan Allah sejati di dalam Kristus yang dibaptis di dalam Kristus (tidak semua orang yang mengaku diri “Kristen” pasti termasuk umat pilihan Allah, karena banyak orang “Kristen” gadungan yang beriman di dalam diri ketimbang di dalam Kristus yang secara otomatis tidak termasuk umat pilihan-Nya). Cara kita menjadi manusia baru adalah pertama, dibaptis di dalam Kristus dan kematian-Nya. Geneva Bible Translation Notes memberikan tafsiran atas ayat ini, “There are three parts of this sanctification: that is, the death of the old man or sin, his burial, and the resurrection of the new man, descending into us from the virtue of the death, burial, and resurrection of Christ, of which benefit our baptism is a sign and pledge.” (=Ada tiga bagian dalam pengudusan ini: yaitu, kematian manusia atau dosa lama kita, penguburannya, dan kebangkitan manusia baru) turun/diwarisi ke dalam kita dari kebaikan kematian, penguburan, dan kebangkitan Kristus, yang olehnya menguntungkan baptisan kita sebagai tanda dan jaminan/janji.) Albert Barnes dalam tafsirannya Albert Barnes’ Notes on the Bible menafsirkan, “The act of baptism denotes dedication to the service of him in whose name we are baptized.” (=Tindakan baptisan menandakan dedikasi untuk melayani Dia di dalam nama kita dibaptiskan.) Barnes merujuk kepada 1 Korintus 10:2 sebagai peringatan bahwa bangsa Israel juga dibaptiskan bagi Musa untuk melayani Musa atau mengakui Musa sebagai pemimpin mereka. Kita dapat belajar dari Barnes, bahwa baptisan bukan sekedar lambang lalu kita boleh mengabaikannya, atau di ekstrim lain, baptisan itu terpenting, sehingga sebelum dibaptis, begitu khusyuk, tetapi setelah dibaptis, banyak dari kita berlaku liar (karena sudah dibaptis). Kedua ekstrim ini harus dihindari. Alkitab mengajarkan bahwa baptisan itu janji sekaligus tanda kita terikat di dalam anggota keluarga Allah, di mana kita harus melayani-Nya. Melayani berarti harus mendedikasikan seluruh hidup kita bagi kemuliaan-Nya (bandingkan Roma 12:1-2). Dengan dibaptiskan di dalam kematian-Nya, kita juga berani untuk TIDAK melayani iblis dan dosa, tetapi melayani Allah sebagai hamba-Nya, hamba Kebenaran sejati.
Setelah dibaptis di dalam Kristus dan kematian-Nya, cara kedua adalah hidup baru di dalam Kristus (dibaptis di dalam kebangkitan-Nya). Hal ini disebutkan Paulus di dalam ayat 4, “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Di dalam iman Kristen yang Alkitabiah, kita beriman bahwa setelah Kristus mati, Ia bangkit. Demikian juga, setelah kita dibaptiskan di dalam kematian-Nya, kita pun harus dibaptiskan di dalam kebangkitan-Nya. Artinya, ada hidup baru. Hidup baru bukan hanya mendedikasikan sseluruh hidup kita bagi kemuliaan-Nya, tetapi kita mau men-Tuhan-kan Kristus di dalam hidup kita. Men-Tuhan-kan Kristus berarti menjadikan Dia sebagai Tuhan dan Pemilik hidup kita. Bagaimana dengan kita ? Seringkali kita berani mengaku diri “Kristen”, tetapi aneh sekali ketika nama Tuhan dan konsep iman Kristen disebutkan di luar gereja, kita sangat alergi dengan alasan yang dibuat-buat, “Tidak ada hubungannya.” Itukah cara kita men-Tuhan-kan Kristus ? Atau jangan-jangan kita sedang men-“tuhan”-kan iblis dan dosa, lalu kita mengklaim iblis sebagai “tuhan”. Itulah kegagalan postmodern yang mengilahkan dan memutlakkan relativisme. Sudah seharusnya kita sebagai anak-anak Allah keluar dari bujuk rayu iblis melalui ide postmodern dan kembali kepada Alkitab untuk men-Tuhan-kan Kristus dan menjadikan Dia sebagai satu-satunya fokus hidup kita. Itulah tandanya manusia baru yang dibaptis di dalam kebangkitan-Nya.
Mari dengan rendah hati, kita belajar taat mutlak kepada Allah dan Firman-Nya untuk terus-menerus berkomitmen untuk hidup bagi-Nya dan men-Tuhan-kan-Nya bukan diri kita atau iblis atau hal-hal sejenis yang najis di hadapan-Nya. Amin. Soli Deo Gloria.
|

4th August 2008
|
 |
AP - Aspiring Evangelist
|
|
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
|
|
Roma 6:5-11: IMPLIKASI PERBEDAAN ESENSIAL-3
Seri Eksposisi Surat Roma:
Manusia Lama Vs Manusia Baru-5
Implikasi Perbedaan Esensial-3:
Kehidupan yang Mati Vs Kematian yang Hidup-2
oleh: Denny Teguh Sutandio
Nats: Roma 6:5-11.
Setelah mempelajari tentang implikasi perbedaan manusia pertama dan kedua poin kedua yaitu kehidupan yang mati vs kematian yang hidup di pasal 6 ayat 1 s/d 4, kita akan meneruskan prinsip ini mulai ayat 5 sampai dengan ayat 11.
Apa arti dibaptiskan di dalam kematian-Nya dan memperoleh hidup baru di dalam kebangkitan-Nya? Di ayat 5, Paulus menjelaskannya, “Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” Ayat ini diterjemahkan dalam King James Version, “For if we have been planted together in the likeness of his death, we shall be also in the likeness of his resurrection:” Kata planted together dalam ayat ini berarti ditanamkan bersama atau united to (dipersatukan kepada). Dengan kata lain, dibaptiskan di dalam kematian-Nya berarti dipersatukan dalam kematian-Nya. Matthew Henry di dalam tafsirannya Matthew Henry’s Commentary on the Whole Bible memaparkan, “Planting is in order to life and fruitfulness: we are planted in the vineyard in a likeness to Christ, which likeness we should evidence in sanctification.” (=penanaman adalah agar supaya hidup dan berbuah: kita ditanam di dalam kebun anggur di dalam keserupaan dengan Kristus, yang keserupannya itu kita harus buktikan di dalam pengudusan.) Di sini, Matthew Henry mengaitkan konsep ditanam dengan tujuan ditanam yaitu agar hidup dan berbuah. Ditanam di dalam apa? Paulus menjelaskan bahwa kita yang termasuk umat pilihan-Nya ditanam di dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Ditanam di dalam kematian-Nya berarti kita ikut mati bersama Kristus. Dengan kata lain, karena Kristus sudah mati bagi kita, hendaklah kita pun harus mematikan seluruh dosa kita. Dosa-dosa itu termasuk di dalam perbuatan daging yang tercantum di dalam Galatia 5:19-21, yang meliputi, “percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.” Kelimabelas tindakan kedagingan ini (di dalam King James Version ada 17 tindakan) adalah tindakan-tindakan yang tidak diperkenan Allah. Selanjutnya, kita juga ditanam di dalam kebangkitan-Nya, artinya kita bukan hanya tidak berlaku hal-hal kedagingan saja, tetapi juga kita harus berinisiatif melakukan hal-hal yang memuliakan Allah.
Apa arti ditanam/menjadi satu di dalam kematian-Nya? Pada ayat 6-7, Paulus menjelaskan lebih dalam, “Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa.” Pernyataan “Karena kita tahu,” menunjukkan bahwa jemaat Roma sebenarnya sudah mendengar pengajaran ini, sehingga Paulus perlu mengulanginya lagi untuk mengingatkan jemaat Roma (dan tentu juga kita) dengan mengaitkannya dengan kematian kita terhadap dosa. Sebagai manusia baru, kita harus mematikan manusia lama kita. Kata “lama” pada manusia lama dalam bahasa Inggris adalah old diterjemahkan dari bahasa Yunani palaios berarti antik/kuno. Kata antik mengingatkan kita akan barang-barang antik yang sudah usang, demikian pula manusia lama seharusnya berarti manusia yang sudah usang yang harus diperbaharui total. Definisi inti dari ditanam/menjadi satu di dalam kematian-Nya (atau mematikan manusia lama kita), adalah ikut disalibkan. Disalibkan dalam bahasa Yunani sustauroō berarti ditusuk dengan sesuatu yang tajam. Demikian pula, kita ikut disalibkan berarti kita ikut ditusuk oleh salib Kristus. Ditusuk adalah sesuatu yang menyakitkan. Itulah gambaran kita menyalibkan dosa-dosa kita, yaitu menyakitkan. Ketika kita berani menyalibkan dosa kita, itu mungkin terasa sakit sekali, karena kita berani menekan bahkan mematikan keinginan daging kita yang berdosa, tetapi ada akibat/efek positif (yang terjadi bersamaan) yang Tuhan singkapkan bagi kita, yaitu:
Pertama, tubuh dosa kita kehilangan kuasanya. King James Version (KJV) menerjemahkannya destroyed artinya dihancurkan. Ketika kita berani menyalibkan dosa kita dengan “menusuk”nya (bukan arti harafiah), itu berarti kita sedang menhancurkan tubuh dosa kita. Ini tidak berarti kita menyayat tubuh jasmani kita seperti yang dilakukan oleh para bidat dan pemuja berhala yang mengajarkan askese (bertarak diri). Kata body di dalam KJV diterjemahkan dari bahasa Yunani bisa berarti budak (slave). Hal ini berarti kita berani menekan keinginan daging kita yang melawan Allah. Atau dengan kata lain kita berani tidak lagi menjadi budak dosa. Hal ini lah yang ditegaskan Allah melalui Paulus dengan memperingatkan kita bahwa kita tidak boleh lagi menghambakan diri terhadap dosa (atau “melayani dosa” di dalam terjemahan KJV).
Kedua, kita bebas dari dosa. Kata “bebas dari dosa” dalam KJV diterjemahkan dibebaskan dari dosa. Dalam bahasa Yunani dikaioō, pernyataan ini berarti kita dijadikan benar/adil (just) atau tidak bersalah (innocent). Ketika kita telah mematikan dosa kita, pada saat yang sama, kita telah dijadikan benar/dibebaskan dari dosa. Hati-hati menafsirkan bagian ini. Hal ini tidak berarti setelah kita berbuat baik melawan dosa, baru kita dibenarkan. Itu ajaran Arminian yang melawan prinsip penting Alkitab, yakni kedaulatan Allah. Hal ini berarti kita dapat mematikan dosa karena Kristus telah melakukannya bagi kita, sehingga tidak ada satu inci jasa baik yang manusia lakukan yang menjadi syarat dirinya dibenarkan oleh Allah (karena semua manusia berdosa dan mengurangi kemuliaan Allah—bandingkan Roma 3:23).
Setelah kita mematikan dosa, apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Paulus menjelaskannya di ayat 8, “Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia.” Jika kita telah mati dengan Kristus atau telah mematikan dosa, maka kita beriman juga bahwa kita akan hidup/bertahan bersama dengan Dia. Kata “hidup dengan” (KJV: live with) dalam ayat ini dalam bahasa Yunani bisa berarti co-survive yaitu terus hidup/bertahan. Dengan kata lain, kematian-Nya dan kematian kita terhadap dosa mengakibatkan kita bisa percaya dan memiliki daya tahan hidup di dalam dan bersama Kristus. Berarti kita memiliki hidup yang berkelimpahan di dalam Kristus (Yohanes 10:10b) meskipun kita harus menanggung aniaya dan derita demi nama-Nya. Inilah pengharapan orang Kristen yang termasuk anak-anak Allah, yaitu beriman di dalam kehidupan bersama Kristus selama-lamanya (meskipun tetap harus melewati kematian fisik). Tidak ada pengharapan di dalam agama atau filsafat apapun di sepanjang sejarah dunia yang lebih indah daripada pengharapan yang dijumpai di dalam Kristus, yaitu hidup bersama-sama di dalam Kristus selama-lamanya di Surga. Adalah sangat idiot bagi mereka termasuk banyak “hamba Tuhan”/“pendeta” yang tidak beriman di dalam pengharapan ini (tetapi ber“iman” di dalam pluralisme/social “gospel”). Dari mana kita mendapatkan kepastian hidup ini?
Kita mendapatkan kepastian ini karena kebangkitan Kristus, seperti dijelaskan Paulus di ayat 9-10, “Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah.” Kristus yang telah disalibkan, pada hari ketiga, Ia bangkit. Setelah Ia bangkit, Paulus mengungkapkan bahwa Ia tidak mati lagi, mengapa? Karena maut tidak berkuasa lagi (memerintah) atas Dia. Dengan kata lain, kebangkitan-Nya telah mematikan dan mengalahkan maut. Hal ini juga dijelaskan oleh Rasul Paulus di dalam 1 Korintus 15:56-57, “Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” Kemenangan di dalam kebangkitan-Nya menjamin kita juga menang mengalahkan kuasa dosa, iblis dan maut. Lalu, di ayat 10, Paulus mulai mengaitkan konsep kematian dan kebangkitan-Nya dengan periode waktu dan tujuannya, yaitu kematian dan kebangkitan-Nya terjadi hanya satu kali (tidak terulang) dan untuk selama-lamanya, serta bagi Allah. Ini berarti:
Pertama, kematian dan kebangkitan Kristus adalah satu-satunya peristiwa terpenting di sepanjang sejarah yang mutlak tidak boleh diulang oleh pribadi siapapun bahkan di dalam event kapanpun, karena kematian dan kebangkitan Kristus itu unik dan memiliki finalitas yang tak dijumpai di dalam agama apapun (bandingkan Ibrani 9:28). Mengutip pernyataan dari Pdt. Dr. Stephen Tong, semua pendiri agama mati, tetapi Kristus mati dan bangkit, itulah finalitas Kristus yang mutlak. Melawan ini, berarti melawan Allah dan tidak layak disebut Kristen sejati (apalagi disebut anak-anak Tuhan).
Kedua, kematian dan kebangkitan Kristus berlaku untuk selama-lamanya (melampaui ruang dan waktu). Dengan kata lain, sifat kematian dan kebangkitan-Nya adalah kekal, mengapa? Karena Kristus adalah Allah sekaligus manusia yang melampaui kesementaraan. Ini berarti kematian dan kebangkitan-Nya bukan hanya berlaku bagi orang-orang zaman modern tetapi juga zaman postmodern bahkan sampai selama-lamanya. Tidak ada jangka waktu berlaku di dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Puji Tuhan, ketika para pendiri agama dunia meninggal, kematian mereka tak berdampak apapun, tetapi kematian ditambah kebangkitan Kristus sangat berdampak penting bagi hidup umat pilihan Allah, mengapa? Karena kematian dan kebangkitan-Nya menggenapkan rencana keselamatan Allah bagi kita, sedangkan kematian para pendiri agama hanya kematian manusia berdosa yang tak berdampak apapun (khusus bagi keselamatan manusia).
Ketiga, kematian dan kebangkitan Kristus diperuntukkan bagi Allah. Kristus mati menebus dosa manusia BUKAN bagi setan, karena BUKAN setan yang menjadi obyek hutang dosa manusia, tetapi Allah. Sehingga ketika Kristus menebus dosa kita, Kristus membayarkan hutang dosa kita kepada Allah, karena ketika manusia berdosa, manusia berhutang kepada Allah (=tidak berjalan menurut kehendak dan kedaulatan-Nya). Demikian juga, kebangkitan Kristus adalah kebangkitan/kehidupan bagi Allah, karena Ia telah menang dan selesai menggenapkan rencana keselamatan Allah untuk seterusnya disempurnakan melalui karya Roh Kudus di dalam hati umat pilihan-Nya.
Adalah sangat konyol jika ada “pendeta”/“pemimpin gereja” yang melawan bahkan menghina pengorbanan Kristus dengan menyamakan Kristus dengan para pendiri agama lain. Terhadap bidat ini, kita harus mati-matian menolak mereka dan kembali kepada Kristus serta jangan lupa untuk mendoakan mereka agar mereka bertobat dari kesesatan mereka kepada Alkitab dan Kristus.
Setelah menguraikan dua ayat tentang kematian dan kebangkitan Kristus, Paulus langsung mengimplikasikannya di ayat 11, “Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.” Karena Kristus telah mati dan bangkit bagi Allah, maka kita pun harus mematikan dosa kita dan harus hidup bagi Allah. Apa bedanya kematian Kristus terhadap dosa dan kematian kita terhadap dosa? Di ayat 10 tadi sudah dijelaskan bahwa kematian Kristus terhadap dosa hanya terjadi sekali (satu kali) untuk selama-lamanya, sedangkan kematian kita berlangsung berkali-kali (artinya di dalam proses) menuju kepada kesempurnaan. Dengan kata lain, kematian Kristus memungkinkan kita berani dengan kuasa-Nya mematikan dosa-dosa kita. Selanjutnya, setelah mematikan dosa, kita harus hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Terjemahan KJV menambahkan kata our Lord setelah Kristus Yesus (sedangkan LAI tidak mencantumkannya). Mengapa kata our Lord begitu signifikan? Karena hidup bagi Kristus bukan hanya beriman di dalam Kristus sebagai Juruselamat dan Penebus dosa saja, tetapi juga beriman di dalam Kristus sebagai Tuhan/Raja yang memerintah hidup kita. Dengan kata lain, hidup bagi Kristus adalah hidup yang men-Tuhan-kan Kristus di dalam kehidupan sehari-hari demi kemuliaan Allah. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menyerahkan hidup kita untuk dikuasai sepenuhnya oleh Kristus sebagai Raja, Tuhan dan Pemilik hidup kita? Itulah tandanya kita manusia baru. Amin. Soli Deo Gloria.
|

4th August 2008
|
 |
AP - Aspiring Evangelist
|
|
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
|
|
Roma 6:5-11: IMPLIKASI PERBEDAAN ESENSIAL-3
Seri Eksposisi Surat Roma:
Manusia Lama Vs Manusia Baru-5
Implikasi Perbedaan Esensial-3:
Kehidupan yang Mati Vs Kematian yang Hidup-2
oleh: Denny Teguh Sutandio
Nats: Roma 6:5-11.
Setelah mempelajari tentang implikasi perbedaan manusia pertama dan kedua poin kedua yaitu kehidupan yang mati vs kematian yang hidup di pasal 6 ayat 1 s/d 4, kita akan meneruskan prinsip ini mulai ayat 5 sampai dengan ayat 11.
Apa arti dibaptiskan di dalam kematian-Nya dan memperoleh hidup baru di dalam kebangkitan-Nya? Di ayat 5, Paulus menjelaskannya, “Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” Ayat ini diterjemahkan dalam King James Version, “For if we have been planted together in the likeness of his death, we shall be also in the likeness of his resurrection:” Kata planted together dalam ayat ini berarti ditanamkan bersama atau united to (dipersatukan kepada). Dengan kata lain, dibaptiskan di dalam kematian-Nya berarti dipersatukan dalam kematian-Nya. Matthew Henry di dalam tafsirannya Matthew Henry’s Commentary on the Whole Bible memaparkan, “Planting is in order to life and fruitfulness: we are planted in the vineyard in a likeness to Christ, which likeness we should evidence in sanctification.” (=penanaman adalah agar supaya hidup dan berbuah: kita ditanam di dalam kebun anggur di dalam keserupaan dengan Kristus, yang keserupannya itu kita harus buktikan di dalam pengudusan.) Di sini, Matthew Henry mengaitkan konsep ditanam dengan tujuan ditanam yaitu agar hidup dan berbuah. Ditanam di dalam apa? Paulus menjelaskan bahwa kita yang termasuk umat pilihan-Nya ditanam di dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Ditanam di dalam kematian-Nya berarti kita ikut mati bersama Kristus. Dengan kata lain, karena Kristus sudah mati bagi kita, hendaklah kita pun harus mematikan seluruh dosa kita. Dosa-dosa itu termasuk di dalam perbuatan daging yang tercantum di dalam Galatia 5:19-21, yang meliputi, “percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.” Kelimabelas tindakan kedagingan ini (di dalam King James Version ada 17 tindakan) adalah tindakan-tindakan yang tidak diperkenan Allah. Selanjutnya, kita juga ditanam di dalam kebangkitan-Nya, artinya kita bukan hanya tidak berlaku hal-hal kedagingan saja, tetapi juga kita harus berinisiatif melakukan hal-hal yang memuliakan Allah.
Apa arti ditanam/menjadi satu di dalam kematian-Nya? Pada ayat 6-7, Paulus menjelaskan lebih dalam, “Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa.” Pernyataan “Karena kita tahu,” menunjukkan bahwa jemaat Roma sebenarnya sudah mendengar pengajaran ini, sehingga Paulus perlu mengulanginya lagi untuk mengingatkan jemaat Roma (dan tentu juga kita) dengan mengaitkannya dengan kematian kita terhadap dosa. Sebagai manusia baru, kita harus mematikan manusia lama kita. Kata “lama” pada manusia lama dalam bahasa Inggris adalah old diterjemahkan dari bahasa Yunani palaios berarti antik/kuno. Kata antik mengingatkan kita akan barang-barang antik yang sudah usang, demikian pula manusia lama seharusnya berarti manusia yang sudah usang yang harus diperbaharui total. Definisi inti dari ditanam/menjadi satu di dalam kematian-Nya (atau mematikan manusia lama kita), adalah ikut disalibkan. Disalibkan dalam bahasa Yunani sustauroō berarti ditusuk dengan sesuatu yang tajam. Demikian pula, kita ikut disalibkan berarti kita ikut ditusuk oleh salib Kristus. Ditusuk adalah sesuatu yang menyakitkan. Itulah gambaran kita menyalibkan dosa-dosa kita, yaitu menyakitkan. Ketika kita berani menyalibkan dosa kita, itu mungkin terasa sakit sekali, karena kita berani menekan bahkan mematikan keinginan daging kita yang berdosa, tetapi ada akibat/efek positif (yang terjadi bersamaan) yang Tuhan singkapkan bagi kita, yaitu:
Pertama, tubuh dosa kita kehilangan kuasanya. King James Version (KJV) menerjemahkannya destroyed artinya dihancurkan. Ketika kita berani menyalibkan dosa kita dengan “menusuk”nya (bukan arti harafiah), itu berarti kita sedang menhancurkan tubuh dosa kita. Ini tidak berarti kita menyayat tubuh jasmani kita seperti yang dilakukan oleh para bidat dan pemuja berhala yang mengajarkan askese (bertarak diri). Kata body di dalam KJV diterjemahkan dari bahasa Yunani bisa berarti budak (slave). Hal ini berarti kita berani menekan keinginan daging kita yang melawan Allah. Atau dengan kata lain kita berani tidak lagi menjadi budak dosa. Hal ini lah yang ditegaskan Allah melalui Paulus dengan memperingatkan kita bahwa kita tidak boleh lagi menghambakan diri terhadap dosa (atau “melayani dosa” di dalam terjemahan KJV).
Kedua, kita bebas dari dosa. Kata “bebas dari dosa” dalam KJV diterjemahkan dibebaskan dari dosa. Dalam bahasa Yunani dikaioō, pernyataan ini berarti kita dijadikan benar/adil (just) atau tidak bersalah (innocent). Ketika kita telah mematikan dosa kita, pada saat yang sama, kita telah dijadikan benar/dibebaskan dari dosa. Hati-hati menafsirkan bagian ini. Hal ini tidak berarti setelah kita berbuat baik melawan dosa, baru kita dibenarkan. Itu ajaran Arminian yang melawan prinsip penting Alkitab, yakni kedaulatan Allah. Hal ini berarti kita dapat mematikan dosa karena Kristus telah melakukannya bagi kita, sehingga tidak ada satu inci jasa baik yang manusia lakukan yang menjadi syarat dirinya dibenarkan oleh Allah (karena semua manusia berdosa dan mengurangi kemuliaan Allah—bandingkan Roma 3:23).
Setelah kita mematikan dosa, apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Paulus menjelaskannya di ayat 8, “Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia.” Jika kita telah mati dengan Kristus atau telah mematikan dosa, maka kita beriman juga bahwa kita akan hidup/bertahan bersama dengan Dia. Kata “hidup dengan” (KJV: live with) dalam ayat ini dalam bahasa Yunani bisa berarti co-survive yaitu terus hidup/bertahan. Dengan kata lain, kematian-Nya dan kematian kita terhadap dosa mengakibatkan kita bisa percaya dan memiliki daya tahan hidup di dalam dan bersama Kristus. Berarti kita memiliki hidup yang berkelimpahan di dalam Kristus (Yohanes 10:10b) meskipun kita harus menanggung aniaya dan derita demi nama-Nya. Inilah pengharapan orang Kristen yang termasuk anak-anak Allah, yaitu beriman di dalam kehidupan bersama Kristus selama-lamanya (meskipun tetap harus melewati kematian fisik). Tidak ada pengharapan di dalam agama atau filsafat apapun di sepanjang sejarah dunia yang lebih indah daripada pengharapan yang dijumpai di dalam Kristus, yaitu hidup bersama-sama di dalam Kristus selama-lamanya di Surga. Adalah sangat idiot bagi mereka termasuk banyak “hamba Tuhan”/“pendeta” yang tidak beriman di dalam pengharapan ini (tetapi ber“iman” di dalam pluralisme/social “gospel”). Dari mana kita mendapatkan kepastian hidup ini?
Kita mendapatkan kepastian ini karena kebangkitan Kristus, seperti dijelaskan Paulus di ayat 9-10, “Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah.” Kristus yang telah disalibkan, pada hari ketiga, Ia bangkit. Setelah Ia bangkit, Paulus mengungkapkan bahwa Ia tidak mati lagi, mengapa? Karena maut tidak berkuasa lagi (memerintah) atas Dia. Dengan kata lain, kebangkitan-Nya telah mematikan dan mengalahkan maut. Hal ini juga dijelaskan oleh Rasul Paulus di dalam 1 Korintus 15:56-57, “Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” Kemenangan di dalam kebangkitan-Nya menjamin kita juga menang mengalahkan kuasa dosa, iblis dan maut. Lalu, di ayat 10, Paulus mulai mengaitkan konsep kematian dan kebangkitan-Nya dengan periode waktu dan tujuannya, yaitu kematian dan kebangkitan-Nya terjadi hanya satu kali (tidak terulang) dan untuk selama-lamanya, serta bagi Allah. Ini berarti:
Pertama, kematian dan kebangkitan Kristus adalah satu-satunya peristiwa terpenting di sepanjang sejarah yang mutlak tidak boleh diulang oleh pribadi siapapun bahkan di dalam event kapanpun, karena kematian dan kebangkitan Kristus itu unik dan memiliki finalitas yang tak dijumpai di dalam agama apapun (bandingkan Ibrani 9:28). Mengutip pernyataan dari Pdt. Dr. Stephen Tong, semua pendiri agama mati, tetapi Kristus mati dan bangkit, itulah finalitas Kristus yang mutlak. Melawan ini, berarti melawan Allah dan tidak layak disebut Kristen sejati (apalagi disebut anak-anak Tuhan).
Kedua, kematian dan kebangkitan Kristus berlaku untuk selama-lamanya (melampaui ruang dan waktu). Dengan kata lain, sifat kematian dan kebangkitan-Nya adalah kekal, mengapa? Karena Kristus adalah Allah sekaligus manusia yang melampaui kesementaraan. Ini berarti kematian dan kebangkitan-Nya bukan hanya berlaku bagi orang-orang zaman modern tetapi juga zaman postmodern bahkan sampai selama-lamanya. Tidak ada jangka waktu berlaku di dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Puji Tuhan, ketika para pendiri agama dunia meninggal, kematian mereka tak berdampak apapun, tetapi kematian ditambah kebangkitan Kristus sangat berdampak penting bagi hidup umat pilihan Allah, mengapa? Karena kematian dan kebangkitan-Nya menggenapkan rencana keselamatan Allah bagi kita, sedangkan kematian para pendiri agama hanya kematian manusia berdosa yang tak berdampak apapun (khusus bagi keselamatan manusia).
Ketiga, kematian dan kebangkitan Kristus diperuntukkan bagi Allah. Kristus mati menebus dosa manusia BUKAN bagi setan, karena BUKAN setan yang menjadi obyek hutang dosa manusia, tetapi Allah. Sehingga ketika Kristus menebus dosa kita, Kristus membayarkan hutang dosa kita kepada Allah, karena ketika manusia berdosa, manusia berhutang kepada Allah (=tidak berjalan menurut kehendak dan kedaulatan-Nya). Demikian juga, kebangkitan Kristus adalah kebangkitan/kehidupan bagi Allah, karena Ia telah menang dan selesai menggenapkan rencana keselamatan Allah untuk seterusnya disempurnakan melalui karya Roh Kudus di dalam hati umat pilihan-Nya.
Adalah sangat konyol jika ada “pendeta”/“pemimpin gereja” yang melawan bahkan menghina pengorbanan Kristus dengan menyamakan Kristus dengan para pendiri agama lain. Terhadap bidat ini, kita harus mati-matian menolak mereka dan kembali kepada Kristus serta jangan lupa untuk mendoakan mereka agar mereka bertobat dari kesesatan mereka kepada Alkitab dan Kristus.
Setelah menguraikan dua ayat tentang kematian dan kebangkitan Kristus, Paulus langsung mengimplikasikannya di ayat 11, “Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.” Karena Kristus telah mati dan bangkit bagi Allah, maka kita pun harus mematikan dosa kita dan harus hidup bagi Allah. Apa bedanya kematian Kristus terhadap dosa dan kematian kita terhadap dosa? Di ayat 10 tadi sudah dijelaskan bahwa kematian Kristus terhadap dosa hanya terjadi sekali (satu kali) untuk selama-lamanya, sedangkan kematian kita berlangsung berkali-kali (artinya di dalam proses) menuju kepada kesempurnaan. Dengan kata lain, kematian Kristus memungkinkan kita berani dengan kuasa-Nya mematikan dosa-dosa kita. Selanjutnya, setelah mematikan dosa, kita harus hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Terjemahan KJV menambahkan kata our Lord setelah Kristus Yesus (sedangkan LAI tidak mencantumkannya). Mengapa kata our Lord begitu signifikan? Karena hidup bagi Kristus bukan hanya beriman di dalam Kristus sebagai Juruselamat dan Penebus dosa saja, tetapi juga beriman di dalam Kristus sebagai Tuhan/Raja yang memerintah hidup kita. Dengan kata lain, hidup bagi Kristus adalah hidup yang men-Tuhan-kan Kristus di dalam kehidupan sehari-hari demi kemuliaan Allah. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menyerahkan hidup kita untuk dikuasai sepenuhnya oleh Kristus sebagai Raja, Tuhan dan Pemilik hidup kita? Itulah tandanya kita manusia baru. Amin. Soli Deo Gloria.
|

4th August 2008
|
 |
AP - Aspiring Evangelist
|
|
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
|
|
Roma 6:5-11: IMPLIKASI PERBEDAAN ESENSIAL-3
Seri Eksposisi Surat Roma:
Manusia Lama Vs Manusia Baru-5
Implikasi Perbedaan Esensial-3:
Kehidupan yang Mati Vs Kematian yang Hidup-2
oleh: Denny Teguh Sutandio
Nats: Roma 6:5-11.
Setelah mempelajari tentang implikasi perbedaan manusia pertama dan kedua poin kedua yaitu kehidupan yang mati vs kematian yang hidup di pasal 6 ayat 1 s/d 4, kita akan meneruskan prinsip ini mulai ayat 5 sampai dengan ayat 11.
Apa arti dibaptiskan di dalam kematian-Nya dan memperoleh hidup baru di dalam kebangkitan-Nya? Di ayat 5, Paulus menjelaskannya, “Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” Ayat ini diterjemahkan dalam King James Version, “For if we have been planted together in the likeness of his death, we shall be also in the likeness of his resurrection:” Kata planted together dalam ayat ini berarti ditanamkan bersama atau united to (dipersatukan kepada). Dengan kata lain, dibaptiskan di dalam kematian-Nya berarti dipersatukan dalam kematian-Nya. Matthew Henry di dalam tafsirannya Matthew Henry’s Commentary on the Whole Bible memaparkan, “Planting is in order to life and fruitfulness: we are planted in the vineyard in a likeness to Christ, which likeness we should evidence in sanctification.” (=penanaman adalah agar supaya hidup dan berbuah: kita ditanam di dalam kebun anggur di dalam keserupaan dengan Kristus, yang keserupannya itu kita harus buktikan di dalam pengudusan.) Di sini, Matthew Henry mengaitkan konsep ditanam dengan tujuan ditanam yaitu agar hidup dan berbuah. Ditanam di dalam apa? Paulus menjelaskan bahwa kita yang termasuk umat pilihan-Nya ditanam di dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Ditanam di dalam kematian-Nya berarti kita ikut mati bersama Kristus. Dengan kata lain, karena Kristus sudah mati bagi kita, hendaklah kita pun harus mematikan seluruh dosa kita. Dosa-dosa itu termasuk di dalam perbuatan daging yang tercantum di dalam Galatia 5:19-21, yang meliputi, “percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.” Kelimabelas tindakan kedagingan ini (di dalam King James Version ada 17 tindakan) adalah tindakan-tindakan yang tidak diperkenan Allah. Selanjutnya, kita juga ditanam di dalam kebangkitan-Nya, artinya kita bukan hanya tidak berlaku hal-hal kedagingan saja, tetapi juga kita harus berinisiatif melakukan hal-hal yang memuliakan Allah.
Apa arti ditanam/menjadi satu di dalam kematian-Nya? Pada ayat 6-7, Paulus menjelaskan lebih dalam, “Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa.” Pernyataan “Karena kita tahu,” menunjukkan bahwa jemaat Roma sebenarnya sudah mendengar pengajaran ini, sehingga Paulus perlu mengulanginya lagi untuk mengingatkan jemaat Roma (dan tentu juga kita) dengan mengaitkannya dengan kematian kita terhadap dosa. Sebagai manusia baru, kita harus mematikan manusia lama kita. Kata “lama” pada manusia lama dalam bahasa Inggris adalah old diterjemahkan dari bahasa Yunani palaios berarti antik/kuno. Kata antik mengingatkan kita akan barang-barang antik yang sudah usang, demikian pula manusia lama seharusnya berarti manusia yang sudah usang yang harus diperbaharui total. Definisi inti dari ditanam/menjadi satu di dalam kematian-Nya (atau mematikan manusia lama kita), adalah ikut disalibkan. Disalibkan dalam bahasa Yunani sustauroō berarti ditusuk dengan sesuatu yang tajam. Demikian pula, kita ikut disalibkan berarti kita ikut ditusuk oleh salib Kristus. Ditusuk adalah sesuatu yang menyakitkan. Itulah gambaran kita menyalibkan dosa-dosa kita, yaitu menyakitkan. Ketika kita berani menyalibkan dosa kita, itu mungkin terasa sakit sekali, karena kita berani menekan bahkan mematikan keinginan daging kita yang berdosa, tetapi ada akibat/efek positif (yang terjadi bersamaan) yang Tuhan singkapkan bagi kita, yaitu:
Pertama, tubuh dosa kita kehilangan kuasanya. King James Version (KJV) menerjemahkannya destroyed artinya dihancurkan. Ketika kita berani menyalibkan dosa kita dengan “menusuk”nya (bukan arti harafiah), itu berarti kita sedang menhancurkan tubuh dosa kita. Ini tidak berarti kita menyayat tubuh jasmani kita seperti yang dilakukan oleh para bidat dan pemuja berhala yang mengajarkan askese (bertarak diri). Kata body di dalam KJV diterjemahkan dari bahasa Yunani bisa berarti budak (slave). Hal ini berarti kita berani menekan keinginan daging kita yang melawan Allah. Atau dengan kata lain kita berani tidak lagi menjadi budak dosa. Hal ini lah yang ditegaskan Allah melalui Paulus dengan memperingatkan kita bahwa kita tidak boleh lagi menghambakan diri terhadap dosa (atau “melayani dosa” di dalam terjemahan KJV).
Kedua, kita bebas dari dosa. Kata “bebas dari dosa” dalam KJV diterjemahkan dibebaskan dari dosa. Dalam bahasa Yunani dikaioō, pernyataan ini berarti kita dijadikan benar/adil (just) atau tidak bersalah (innocent). Ketika kita telah mematikan dosa kita, pada saat yang sama, kita telah dijadikan benar/dibebaskan dari dosa. Hati-hati menafsirkan bagian ini. Hal ini tidak berarti setelah kita berbuat baik melawan dosa, baru kita dibenarkan. Itu ajaran Arminian yang melawan prinsip penting Alkitab, yakni kedaulatan Allah. Hal ini berarti kita dapat mematikan dosa karena Kristus telah melakukannya bagi kita, sehingga tidak ada satu inci jasa baik yang manusia lakukan yang menjadi syarat dirinya dibenarkan oleh Allah (karena semua manusia berdosa dan mengurangi kemuliaan Allah—bandingkan Roma 3:23).
Setelah kita mematikan dosa, apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Paulus menjelaskannya di ayat 8, “Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia.” Jika kita telah mati dengan Kristus atau telah mematikan dosa, maka kita beriman juga bahwa kita akan hidup/bertahan bersama dengan Dia. Kata “hidup dengan” (KJV: live with) dalam ayat ini dalam bahasa Yunani bisa berarti co-survive yaitu terus hidup/bertahan. Dengan kata lain, kematian-Nya dan kematian kita terhadap dosa mengakibatkan kita bisa percaya dan memiliki daya tahan hidup di dalam dan bersama Kristus. Berarti kita memiliki hidup yang berkelimpahan di dalam Kristus (Yohanes 10:10b) meskipun kita harus menanggung aniaya dan derita demi nama-Nya. Inilah pengharapan orang Kristen yang termasuk anak-anak Allah, yaitu beriman di dalam kehidupan bersama Kristus selama-lamanya (meskipun tetap harus melewati kematian fisik). Tidak ada pengharapan di dalam agama atau filsafat apapun di sepanjang sejarah dunia yang lebih indah daripada pengharapan yang dijumpai di dalam Kristus, yaitu hidup bersama-sama di dalam Kristus selama-lamanya di Surga. Adalah sangat idiot bagi mereka termasuk banyak “hamba Tuhan”/“pendeta” yang tidak beriman di dalam pengharapan ini (tetapi ber“iman” di dalam pluralisme/social “gospel”). Dari mana kita mendapatkan kepastian hidup ini?
Kita mendapatkan kepastian ini karena kebangkitan Kristus, seperti dijelaskan Paulus di ayat 9-10, “Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah.” Kristus yang telah disalibkan, pada hari ketiga, Ia bangkit. Setelah Ia bangkit, Paulus mengungkapkan bahwa Ia tidak mati lagi, mengapa? Karena maut tidak berkuasa lagi (memerintah) atas Dia. Dengan kata lain, kebangkitan-Nya telah mematikan dan mengalahkan maut. Hal ini juga dijelaskan oleh Rasul Paulus di dalam 1 Korintus 15:56-57, “Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” Kemenangan di dalam kebangkitan-Nya menjamin kita juga menang mengalahkan kuasa dosa, iblis dan maut. Lalu, di ayat 10, Paulus mulai mengaitkan konsep kematian dan kebangkitan-Nya dengan periode waktu dan tujuannya, yaitu kematian dan kebangkitan-Nya terjadi hanya satu kali (tidak terulang) dan untuk selama-lamanya, serta bagi Allah. Ini berarti:
Pertama, kematian dan kebangkitan Kristus adalah satu-satunya peristiwa terpenting di sepanjang sejarah yang mutlak tidak boleh diulang oleh pribadi siapapun bahkan di dalam event kapanpun, karena kematian dan kebangkitan Kristus itu unik dan memiliki finalitas yang tak dijumpai di dalam agama apapun (bandingkan Ibrani 9:28). Mengutip pernyataan dari Pdt. Dr. Stephen Tong, semua pendiri agama mati, tetapi Kristus mati dan bangkit, itulah finalitas Kristus yang mutlak. Melawan ini, berarti melawan Allah dan tidak layak disebut Kristen sejati (apalagi disebut anak-anak Tuhan).
Kedua, kematian dan kebangkitan Kristus berlaku untuk selama-lamanya (melampaui ruang dan waktu). Dengan kata lain, sifat kematian dan kebangkitan-Nya adalah kekal, mengapa? Karena Kristus adalah Allah sekaligus manusia yang melampaui kesementaraan. Ini berarti kematian dan kebangkitan-Nya bukan hanya berlaku bagi orang-orang zaman modern tetapi juga zaman postmodern bahkan sampai selama-lamanya. Tidak ada jangka waktu berlaku di dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Puji Tuhan, ketika para pendiri agama dunia meninggal, kematian mereka tak berdampak apapun, tetapi kematian ditambah kebangkitan Kristus sangat berdampak penting bagi hidup umat pilihan Allah, mengapa? Karena kematian dan kebangkitan-Nya menggenapkan rencana keselamatan Allah bagi kita, sedangkan kematian para pendiri agama hanya kematian manusia berdosa yang tak berdampak apapun (khusus bagi keselamatan manusia).
Ketiga, kematian dan kebangkitan Kristus diperuntukkan bagi Allah. Kristus mati menebus dosa manusia BUKAN bagi setan, karena BUKAN setan yang menjadi obyek hutang dosa manusia, tetapi Allah. Sehingga ketika Kristus menebus dosa kita, Kristus membayarkan hutang dosa kita kepada Allah, karena ketika manusia berdosa, manusia berhutang kepada Allah (=tidak berjalan menurut kehendak dan kedaulatan-Nya). Demikian juga, kebangkitan Kristus adalah kebangkitan/kehidupan bagi Allah, karena Ia telah menang dan selesai menggenapkan rencana keselamatan Allah untuk seterusnya disempurnakan melalui karya Roh Kudus di dalam hati umat pilihan-Nya.
Adalah sangat konyol jika ada “pendeta”/“pemimpin gereja” yang melawan bahkan menghina pengorbanan Kristus dengan menyamakan Kristus dengan para pendiri agama lain. Terhadap bidat ini, kita harus mati-matian menolak mereka dan kembali kepada Kristus serta jangan lupa untuk mendoakan mereka agar mereka bertobat dari kesesatan mereka kepada Alkitab dan Kristus.
Setelah menguraikan dua ayat tentang kematian dan kebangkitan Kristus, Paulus langsung mengimplikasikannya di ayat 11, “Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.” Karena Kristus telah mati dan bangkit bagi Allah, maka kita pun harus mematikan dosa kita dan harus hidup bagi Allah. Apa bedanya kematian Kristus terhadap dosa dan kematian kita terhadap dosa? Di ayat 10 tadi sudah dijelaskan bahwa kematian Kristus terhadap dosa hanya terjadi sekali (satu kali) untuk selama-lamanya, sedangkan kematian kita berlangsung berkali-kali (artinya di dalam proses) menuju kepada kesempurnaan. Dengan kata lain, kematian Kristus memungkinkan kita berani dengan kuasa-Nya mematikan dosa-dosa kita. Selanjutnya, setelah mematikan dosa, kita harus hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Terjemahan KJV menambahkan kata our Lord setelah Kristus Yesus (sedangkan LAI tidak mencantumkannya). Mengapa kata our Lord begitu signifikan? Karena hidup bagi Kristus bukan hanya beriman di dalam Kristus sebagai Juruselamat dan Penebus dosa saja, tetapi juga beriman di dalam Kristus sebagai Tuhan/Raja yang memerintah hidup kita. Dengan kata lain, hidup bagi Kristus adalah hidup yang men-Tuhan-kan Kristus di dalam kehidupan sehari-hari demi kemuliaan Allah. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menyerahkan hidup kita untuk dikuasai sepenuhnya oleh Kristus sebagai Raja, Tuhan dan Pemilik hidup kita? Itulah tandanya kita manusia baru. Amin. Soli Deo Gloria.
|

4th August 2008
|
 |
AP - Aspiring Evangelist
|
|
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
|
|
Roma 6:5-11: IMPLIKASI PERBEDAAN ESENSIAL-3
Seri Eksposisi Surat Roma:
Manusia Lama Vs Manusia Baru-5
Implikasi Perbedaan Esensial-3:
Kehidupan yang Mati Vs Kematian yang Hidup-2
oleh: Denny Teguh Sutandio
Nats: Roma 6:5-11.
Setelah mempelajari tentang implikasi perbedaan manusia pertama dan kedua poin kedua yaitu kehidupan yang mati vs kematian yang hidup di pasal 6 ayat 1 s/d 4, kita akan meneruskan prinsip ini mulai ayat 5 sampai dengan ayat 11.
Apa arti dibaptiskan di dalam kematian-Nya dan memperoleh hidup baru di dalam kebangkitan-Nya? Di ayat 5, Paulus menjelaskannya, “Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” Ayat ini diterjemahkan dalam King James Version, “For if we have been planted together in the likeness of his death, we shall be also in the likeness of his resurrection:” Kata planted together dalam ayat ini berarti ditanamkan bersama atau united to (dipersatukan kepada). Dengan kata lain, dibaptiskan di dalam kematian-Nya berarti dipersatukan dalam kematian-Nya. Matthew Henry di dalam tafsirannya Matthew Henry’s Commentary on the Whole Bible memaparkan, “Planting is in order to life and fruitfulness: we are planted in the vineyard in a likeness to Christ, which likeness we should evidence in sanctification.” (=penanaman adalah agar supaya hidup dan berbuah: kita ditanam di dalam kebun anggur di dalam keserupaan dengan Kristus, yang keserupannya itu kita harus buktikan di dalam pengudusan.) Di sini, Matthew Henry mengaitkan konsep ditanam dengan tujuan ditanam yaitu agar hidup dan berbuah. Ditanam di dalam apa? Paulus menjelaskan bahwa kita yang termasuk umat pilihan-Nya ditanam di dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Ditanam di dalam kematian-Nya berarti kita ikut mati bersama Kristus. Dengan kata lain, karena Kristus sudah mati bagi kita, hendaklah kita pun harus mematikan seluruh dosa kita. Dosa-dosa itu termasuk di dalam perbuatan daging yang tercantum di dalam Galatia 5:19-21, yang meliputi, “percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.” Kelimabelas tindakan kedagingan ini (di dalam King James Version ada 17 tindakan) adalah tindakan-tindakan yang tidak diperkenan Allah. Selanjutnya, kita juga ditanam di dalam kebangkitan-Nya, artinya kita bukan hanya tidak berlaku hal-hal kedagingan saja, tetapi juga kita harus berinisiatif melakukan hal-hal yang memuliakan Allah.
Apa arti ditanam/menjadi satu di dalam kematian-Nya? Pada ayat 6-7, Paulus menjelaskan lebih dalam, “Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa.” Pernyataan “Karena kita tahu,” menunjukkan bahwa jemaat Roma sebenarnya sudah mendengar pengajaran ini, sehingga Paulus perlu mengulanginya lagi untuk mengingatkan jemaat Roma (dan tentu juga kita) dengan mengaitkannya dengan kematian kita terhadap dosa. Sebagai manusia baru, kita harus mematikan manusia lama kita. Kata “lama” pada manusia lama dalam bahasa Inggris adalah old diterjemahkan dari bahasa Yunani palaios berarti antik/kuno. Kata antik mengingatkan kita akan barang-barang antik yang sudah usang, demikian pula manusia lama seharusnya berarti manusia yang sudah usang yang harus diperbaharui total. Definisi inti dari ditanam/menjadi satu di dalam kematian-Nya (atau mematikan manusia lama kita), adalah ikut disalibkan. Disalibkan dalam bahasa Yunani sustauroō berarti ditusuk dengan sesuatu yang tajam. Demikian pula, kita ikut disalibkan berarti kita ikut ditusuk oleh salib Kristus. Ditusuk adalah sesuatu yang menyakitkan. Itulah gambaran kita menyalibkan dosa-dosa kita, yaitu menyakitkan. Ketika kita berani menyalibkan dosa kita, itu mungkin terasa sakit sekali, karena kita berani menekan bahkan mematikan keinginan daging kita yang berdosa, tetapi ada akibat/efek positif (yang terjadi bersamaan) yang Tuhan singkapkan bagi kita, yaitu:
Pertama, tubuh dosa kita kehilangan kuasanya. King James Version (KJV) menerjemahkannya destroyed artinya dihancurkan. Ketika kita berani menyalibkan dosa kita dengan “menusuk”nya (bukan arti harafiah), itu berarti kita sedang menhancurkan tubuh dosa kita. Ini tidak berarti kita menyayat tubuh jasmani kita seperti yang dilakukan oleh para bidat dan pemuja berhala yang mengajarkan askese (bertarak diri). Kata body di dalam KJV diterjemahkan dari bahasa Yunani bisa berarti budak (slave). Hal ini berarti kita berani menekan keinginan daging kita yang melawan Allah. Atau dengan kata lain kita berani tidak lagi menjadi budak dosa. Hal ini lah yang ditegaskan Allah melalui Paulus dengan memperingatkan kita bahwa kita tidak boleh lagi menghambakan diri terhadap dosa (atau “melayani dosa” di dalam terjemahan KJV).
Kedua, kita bebas dari dosa. Kata “bebas dari dosa” dalam KJV diterjemahkan dibebaskan dari dosa. Dalam bahasa Yunani dikaioō, pernyataan ini berarti kita dijadikan benar/adil (just) atau tidak bersalah (innocent). Ketika kita telah mematikan dosa kita, pada saat yang sama, kita telah dijadikan benar/dibebaskan dari dosa. Hati-hati menafsirkan bagian ini. Hal ini tidak berarti setelah kita berbuat baik melawan dosa, baru kita dibenarkan. Itu ajaran Arminian yang melawan prinsip penting Alkitab, yakni kedaulatan Allah. Hal ini berarti kita dapat mematikan dosa karena Kristus telah melakukannya bagi kita, sehingga tidak ada satu inci jasa baik yang manusia lakukan yang menjadi syarat dirinya dibenarkan oleh Allah (karena semua manusia berdosa dan mengurangi kemuliaan Allah—bandingkan Roma 3:23).
Setelah kita mematikan dosa, apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Paulus menjelaskannya di ayat 8, “Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia.” Jika kita telah mati dengan Kristus atau telah mematikan dosa, maka kita beriman juga bahwa kita akan hidup/bertahan bersama dengan Dia. Kata “hidup dengan” (KJV: live with) dalam ayat ini dalam bahasa Yunani bisa berarti co-survive yaitu terus hidup/bertahan. Dengan kata lain, kematian-Nya dan kematian kita terhadap dosa mengakibatkan kita bisa percaya dan memiliki daya tahan hidup di dalam dan bersama Kristus. Berarti kita memiliki hidup yang berkelimpahan di dalam Kristus (Yohanes 10:10b) meskipun kita harus menanggung aniaya dan derita demi nama-Nya. Inilah pengharapan orang Kristen yang termasuk anak-anak Allah, yaitu beriman di dalam kehidupan bersama Kristus selama-lamanya (meskipun tetap harus melewati kematian fisik). Tidak ada pengharapan di dalam agama atau filsafat apapun di sepanjang sejarah dunia yang lebih indah daripada pengharapan yang dijumpai di dalam Kristus, yaitu hidup bersama-sama di dalam Kristus selama-lamanya di Surga. Adalah sangat idiot bagi mereka termasuk banyak “hamba Tuhan”/“pendeta” yang tidak beriman di dalam pengharapan ini (tetapi ber“iman” di dalam pluralisme/social “gospel”). Dari mana kita mendapatkan kepastian hidup ini?
Kita mendapatkan kepastian ini karena kebangkitan Kristus, seperti dijelaskan Paulus di ayat 9-10, “Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah.” Kristus yang telah disalibkan, pada hari ketiga, Ia bangkit. Setelah Ia bangkit, Paulus mengungkapkan bahwa Ia tidak mati lagi, mengapa? Karena maut tidak berkuasa lagi (memerintah) atas Dia. Dengan kata lain, kebangkitan-Nya telah mematikan dan mengalahkan maut. Hal ini juga dijelaskan oleh Rasul Paulus di dalam 1 Korintus 15:56-57, “Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” Kemenangan di dalam kebangkitan-Nya menjamin kita juga menang mengalahkan kuasa dosa, iblis dan maut. Lalu, di ayat 10, Paulus mulai mengaitkan konsep kematian dan kebangkitan-Nya dengan periode waktu dan tujuannya, yaitu kematian dan kebangkitan-Nya terjadi hanya satu kali (tidak terulang) dan untuk selama-lamanya, serta bagi Allah. Ini berarti:
Pertama, kematian dan kebangkitan Kristus adalah satu-satunya peristiwa terpenting di sepanjang sejarah yang mutlak tidak boleh diulang oleh pribadi siapapun bahkan di dalam event kapanpun, karena kematian dan kebangkitan Kristus itu unik dan memiliki finalitas yang tak dijumpai di dalam agama apapun (bandingkan Ibrani 9:28). Mengutip pernyataan dari Pdt. Dr. Stephen Tong, semua pendiri agama mati, tetapi Kristus mati dan bangkit, itulah finalitas Kristus yang mutlak. Melawan ini, berarti melawan Allah dan tidak layak disebut Kristen sejati (apalagi disebut anak-anak Tuhan).
Kedua, kematian dan kebangkitan Kristus berlaku untuk selama-lamanya (melampaui ruang dan waktu). Dengan kata lain, sifat kematian dan kebangkitan-Nya adalah kekal, mengapa? Karena Kristus adalah Allah sekaligus manusia yang melampaui kesementaraan. Ini berarti kematian dan kebangkitan-Nya bukan hanya berlaku bagi orang-orang zaman modern tetapi juga zaman postmodern bahkan sampai selama-lamanya. Tidak ada jangka waktu berlaku di dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Puji Tuhan, ketika para pendiri agama dunia meninggal, kematian mereka tak berdampak apapun, tetapi kematian ditambah kebangkitan Kristus sangat berdampak penting bagi hidup umat pilihan Allah, mengapa? Karena kematian dan kebangkitan-Nya menggenapkan rencana keselamatan Allah bagi kita, sedangkan kematian para pendiri agama hanya kematian manusia berdosa yang tak berdampak apapun (khusus bagi keselamatan manusia).
Ketiga, kematian dan kebangkitan Kristus diperuntukkan bagi Allah. Kristus mati menebus dosa manusia BUKAN bagi setan, karena BUKAN setan yang menjadi obyek hutang dosa manusia, tetapi Allah. Sehingga ketika Kristus menebus dosa kita, Kristus membayarkan hutang dosa kita kepada Allah, karena ketika manusia berdosa, manusia berhutang kepada Allah (=tidak berjalan menurut kehendak dan kedaulatan-Nya). Demikian juga, kebangkitan Kristus adalah kebangkitan/kehidupan bagi Allah, karena Ia telah menang dan selesai menggenapkan rencana keselamatan Allah untuk seterusnya disempurnakan melalui karya Roh Kudus di dalam hati umat pilihan-Nya.
Adalah sangat konyol jika ada “pendeta”/“pemimpin gereja” yang melawan bahkan menghina pengorbanan Kristus dengan menyamakan Kristus dengan para pendiri agama lain. Terhadap bidat ini, kita harus mati-matian menolak mereka dan kembali kepada Kristus serta jangan lupa untuk mendoakan mereka agar mereka bertobat dari kesesatan mereka kepada Alkitab dan Kristus.
Setelah menguraikan dua ayat tentang kematian dan kebangkitan Kristus, Paulus langsung mengimplikasikannya di ayat 11, “Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.” Karena Kristus telah mati dan bangkit bagi Allah, maka kita pun harus mematikan dosa kita dan harus hidup bagi Allah. Apa bedanya kematian Kristus terhadap dosa dan kematian kita terhadap dosa? Di ayat 10 tadi sudah dijelaskan bahwa kematian Kristus terhadap dosa hanya terjadi sekali (satu kali) untuk selama-lamanya, sedangkan kematian kita berlangsung berkali-kali (artinya di dalam proses) menuju kepada kesempurnaan. Dengan kata lain, kematian Kristus memungkinkan kita berani dengan kuasa-Nya mematikan dosa-dosa kita. Selanjutnya, setelah mematikan dosa, kita harus hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Terjemahan KJV menambahkan kata our Lord setelah Kristus Yesus (sedangkan LAI tidak mencantumkannya). Mengapa kata our Lord begitu signifikan? Karena hidup bagi Kristus bukan hanya beriman di dalam Kristus sebagai Juruselamat dan Penebus dosa saja, tetapi juga beriman di dalam Kristus sebagai Tuhan/Raja yang memerintah hidup kita. Dengan kata lain, hidup bagi Kristus adalah hidup yang men-Tuhan-kan Kristus di dalam kehidupan sehari-hari demi kemuliaan Allah. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menyerahkan hidup kita untuk dikuasai sepenuhnya oleh Kristus sebagai Raja, Tuhan dan Pemilik hidup kita? Itulah tandanya kita manusia baru. Amin. Soli Deo Gloria.
|

11th August 2008
|
 |
AP - Aspiring Evangelist
|
|
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
|
|
Roma 6:12-14: IMPLIKASI PERBEDAAN ESENSIAL-4: Hidup bagi Allah
Seri Eksposisi Surat Roma:
Manusia Lama Vs Manusia Baru-6
Implikasi Perbedaan Esensial-4:
Hidup Bagi Allah (bukan bagi dosa)
oleh: Denny Teguh Sutandio
Nats: Roma 6:12-14.
Setelah mempelajari tentang implikasi perbedaan manusia pertama dan kedua poin kedua yaitu kehidupan yang mati vs kematian yang hidup di pasal 6 ayat 1 s/d 11, mulai ayat 12 s/d 14, Paulus mulai mengimplikasikan secara praktis di dalam hidup yang melawan dosa.
Setelah kita dibaptiskan di dalam kematian-Nya dan memperoleh hidup baru di dalam kebangkitan-Nya, kita tidak boleh lagi hidup di dalam dosa. Apa artinya? Ada dua arti.
Pertama, tidak lagi hidup di dalam dosa berarti hidup kita tidak ditundukkan di bawah dosa. Hal ini diajarkan Paulus di ayat 12, “Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.” Kata “berkuasa” dalam KJV diterjemahkan reign yang dalam bahasa Yunani berkaitan dengan kerajaan. Dengan kata lain, Paulus memakai metafora ketika ia mengajar bahwa dosa di sini sebagai tuan manusia ketika manusia masih menjadi hamba dosa. Ketika manusia masih menjadi hamba dosa, manusia itu tetap manusia lama yang menjadikan dosa sebagai tuannya. Kok bisa? Bukankah di abad postmodern ini kita banyak mendengar bahwa semua manusia yang beragama pasti masuk surga? Bukankah mereka juga mengajarkan bahwa semua agama itu ber“Tuhan”? Benarkah demikian? Kalau semua agama menyembah Allah, di Roma 3:10-11, Allah tak perlu mengatakan bahwa semua manusia berdosa dan tak ada yang mencari Allah. Di sini, kita melihat bahwa meskipun agama mengandung sedikit unsur baik, Alkitab tetap mengajar prinsip penting bahwa manusia sebelum menerima Kristus tetap adalah manusia lama yang mentuankan dosa (meskipun di bibir, mereka menyembah “Allah”). Ini membuktikan kelicikan dosa yang terselubung. Dosa jangan dimengerti secara fenomena, tetapi harus dimengerti secara esensi, yaitu meleset dari sasaran Allah (Yunani: hamartia). Kata inilah yang dipakai di dalam ayat ini. Sebagai manusia baru, kita dituntut Allah melalui Paulus untuk tidak mentuankan dosa. Artinya, kita tidak lagi tunduk di bawah pemerintahan dosa, meskipun kita tetap hidup di dalam tubuh yang fana. Pernyataan “tubuhmu yang fana” dalam ayat ini sungguh menarik. Mengapa? Karena tubuh yang fana menunjukkan adanya kelemahan di dalam tubuh jasmani manusia. Tetapi Paulus mengajar jemaat Roma (dan kita juga) untuk tidak menyerah kalah terhadap kedagingan kita, melainkan kita harus berani menolak dosa. Bagaimana caranya? Paulus menjelaskan bahwa kita bisa menolak dosa dengan tidak menuruti keinginan dosa. Sungguh menarik, Paulus mengaitkan konsep dosa dengan keinginannya (KJV: lust) yang termasuk bagian dari dosa. Konsep ini sebenarnya diambil dari Tuhan Yesus yang mengajarkan bahwa ketika kita melihat seorang wanita dan mengingininya, itu sudah dianggap berzinah/dosa. (Matius 5:28, “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.”) Di sini, konsep kekudusan yang Tuhan Yesus ajarkan melampaui apa yang Taurat ajarkan (Matius 5:27). “Melampaui” di sini tidak berarti Taurat tidak mengajarkannya, tetapi Tuhan Yesus memberikan arti yang sebenarnya dari Taurat, karena selama itu, Taurat sudah diselewengkan oleh orang-orang Farisi. Kembali, dosa bukan sekadar membunuh, mencuri, dll, tetapi dosa lebih mengarah ke dalam hati. Ketika hati dan motivasi kita tidak beres, di saat itulah kita berdosa. Mengapa? Karena Tuhan lebih menyelidiki hati kita, bukan penampilan kita. Tuhan tak pernah tertipu oleh penampilan luar kita yang mungkin sangat kelihatan alim/religius di mata orang lain! Tuhan lebih melihat hati kita, karena di situlah terpancar segala sesuatu. Sehingga, Paulus mengajarkan bahwa kita bisa menolak dosa dengan tidak menuruti keinginannya. Kata “menuruti” dalam bahasa Yunani hupakouō bisa berarti listen attentively (mendengar dengan penuh perhatian). Dengan kata lain, kita tidak menuruti keinginan dosa identik denga | |